Chapter

I’m With You [Chapter 10]

10

—Step By Step—

 

-Fei’s POV-

Aku dan Chansung melangkah di tengah kegelapan menuju pondok tua Saeryong-nim. Udara tidak terlalu dingin malam ini, mungkin karena musim panas yang akan segera tiba. Setelah 13 tahun berlalu, tidak ada yang berubah disekitar sini. Masih terlihat club tempat para PSK yang semakin berkembang. Juga di tempat ini bisa dengan mudah menemukan bandar narkoba. Aku dan Chansung dulu pernah hampir terjebak rayuan ahjussi itu untuk mencobanya, beruntung Saeryong-nim muncul dan memaki pria itu. Hahaha.. Aku hampir tertawa jika mengingatnya. Kenangan indah yang masih bisa kukenang bersama kenangan buruk yang selalu menghantuiku. Juga Chansung. Aku menoleh ke arah Chansung yang terlihat memperhatikan sekitar juga. “Kau merindukan daerah ini?”

Chansung memandangku dan mengangguk dengan senyuman simpul, “Ne, disini kita menghabiskan waktu bersama dan tidak mengingat apa pun.” Ucapnya.

Aku tersenyum dan mengangguk, “Kau ingat saat seorang PSK memberikan kita permen karena membantunya?”

“Ne.. Dia membuatku menyadari kalau PSK juga manusia..” Canda Chansung dan tertawa kecil.

Aku ikut tertawa kecil. “Hmm.. Aku ingin kenangan itu bergulir lagi..”

Chansung menatapku hangat dengan senyumannya, “Kita bisa membuat kenangan lagi..”

Aku merasa ucapan Chansung seperti sedang mengajakku melakukannya dan itu sangat menyenangkan. Bibirku membentuk senyuman ketika menatap ke dalam matanya.

Chansung kembali memandang ke depan sambil tertawa kecil, “Ayo cepat, aku lapar..” Ucapnya sambil menggandeng tanganku pergi.

-Fei’s POV end-

 

=Rumah Para Pencuri=

Joon duduk lesu di ruang tengah sambil menonton tv. Ia merasa sangat sepi tidak ada Fei disana. Ia mengangkat wajah ketika melihat Nickhun terlihat mengenakan pakaian rapi dan terlihat seperti akan pergi. “Nickhun, odiso?”

Nickhun memandang Joon, “Aku akan pergi ke suatu tempat..” jawabnya.

“Odiso?” tanya Joon penasaran.

“Sudah kubilang suatu tempat..” ucap Nickhun, lalu melangkah menuju pintu depan.

“Aissh.. jangan-jangan dia mau bertemu Fei..” ucap Joon sebal. Kepalanya kembali menoleh ketika mendengar seseorang berlalu, ternyata Jiyeon dengan pakaian rapinya. “Jiyeon-a, odiso?”

Jiyeon memandang Joon dan tersenyum lebar, “Aku ada kelas nail-art hari ini…” ucapnya dan memandang ke belakang, “Oppa! Ppaliwa..” panggilnya.

Joon memandang ke belakang Jiyeon melihat siapa yang di panggil Jiyeon. Tak lama muncul Seungho sambil menyandang tas kecilnya, “Oh.. Hyung, odiso?”

“Aku akan pergi melihat-lihat model elektronik baru, karena melewati tempat Jiyeon akan kursus. Aku akan sekalian mengantarkannya..” jawab Seungho.

“Ne? Ahh.. kalian punya kegiatan masing-masing..” ucap Joon sebal.

“Ya sudah, bye oppa..” ucap Jiyeon dan melangkah duluan.

Seungho memandang Joon aneh, “Carilah kesibukanmu dulu..” ucapnya, lalu menyusul Jiyeon.

Joon menunduk lesu, “Ahh.. menyebalkan..” gumamnya, lalu mengganti channel. Tak sampai satu jam kemudian muncul juga Narsha dengan pakaian formalnya, dahinya berkerut melihat gadis itu terlihat berpakaian sopan. “Noona, kenapa berpakaian seperti itu?”

Narsha mendengus kesal, “Mantan suamiku yang terkutuk itu meminta banding agar harta gono gini kami di selesaikan! Aissh! Sekarang sudah bangkrut baru mengejar-ngejarku!” ucapnya antara menjawab pertanyaan Joon dan berbicara pada dirinya sendiri, lalu melangkah cepat keluar rumah.

Joon memandang Narsha bingung, lalu memandang sekitar yang sepi. “Aissh.. kenapa hanya aku yang tidak melakukan apa pun?” gumamnya sebal dan garuk-garuk kepala. Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya, “Bagaimana jika aku mencari Fei? Hihihi.. pasti menyenangkan..” ucapnya sambil bangkit dan berjalan cepat ke kamarnya.

 

=Pondok Tua=

Karena sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama Saeryong, Fei dan Chansung memutuskan membantu wanita itu membersihkan pondok. Mulai dari mencuci semua kain jendela, seprai, sarung bantal hingga membersihkan isi pondok.

Chansung melirik kearah pintu dan melihat Fei sedang menjemur pakaian di halaman depan, bibirnya membentuk senyuman melihat gadis itu tampak ceria. Ia kembali memandang kotak-kotak di depannya dan mulai memilih kotak mana yang akan di singkirkan. Ia membuka kotak demi kotak. Disana ia menemukan pakaian lamanya bersama Fei juga anak-anak yang pernah tinggal disana, bahkan juga ada barang-barang bermain mereka dulu. Ia tertawa kecil dan beralih ke kotak lainnya. Di dalam kotak itu, ia menemukan sebuah kotak kaleng. Di permukaannya terukir Hwang Chansung. “Ini punyaku..” gumamnya, lalu bergerak duduk dan membuka kotak berdebu itu. Bibirnya membentuk senyuman melihat photo-photo lama yang tersimpan disana, “Wuaa.. aku tidak ingat menyimpan ini..” ucapnya bingung sambil melihat-lihat photo didalamnya.

Ia tertegun melihat photo keluarganya dulu. Ayah, ibu dan dua kakak wanitanya tersenyum ceria disana. Bibirnya membentuk senyuman sedih, “Sudah sangat lama..” gumamnya sendiri. Ia merindukan mereka. Setiap detik yang ia jalani, tak lepas dari ingatan keluarganya. “Miane eomma, seharusnya aku jadi olahragawan, tapi sekarang aku adalah pencuri..” ucapnya dan tertawa sedih. Ia beralih ke photo selanjutnya. Kali ini ia bisa tertawa lucu karena mengingat momen-momen yang terjadi di photo itu selama ia dan Fei tinggal di pondok itu. Photo itu berakhir di sebuah photo yang memperlihatkan ia duduk bersama Fei sambil tersenyum ceria ke kamera. Kenangan yang sangat indah. Kepalanya kembali terangkat dan memandang kearah Fei tadi, namun gadis itu tak terlihat. Dahinya berkerut sambil meletakkan kotak ke sebelahnya, lalu bangkit dan melangkah keluar. Dari depan pintu juga tak terlihat gadis itu ada disana. Kain-kain yang sudah di jemur bergerak tertiup angin. Perasaan cemas langsung menghampirinya karena tak melihat dimana Fei. “Noona!!” panggilnya sambil mencari, “Fei Noona!!” panggilnya lebih kencang. Jantugnya berdegup kencang karena panik. “FEI!!” serunya.

Fei muncul dari samping pondok dan memandang Chansung bingung, “Ne?”

Chansung mencari-cari dimana suara Fei datang, “Noona!” ucapnya lega begitu melihat gadis itu baik-baik saja, lalu melangkah cepat menghampiri gadis itu dan memeluknya erat.

Fei bingung dengan sikap Chansung, “Chansung-a, waekeure?” tanyanya sambil melepaskan pelukan pria itu dan memandangnya tak mengerti.

Chansung menghela nafas lega dan tersenyum, “Aniya, semenit yang lalu aku berpikir kau menghilang..”

Fei tersenyum lucu, “Aku hanya melihat-lihat ke samping, disana masih ada ayunan yang dulu sering kita gunakan. Ayo kesana..” ajaknya sambil menarik Chansung ke samping.

Chansung mengikuti langkah Fei ke samping pondok. Saat itu ia merasa d’javu melihat pohon besar yang menggantung ayunan yang biasa mereka mainkan dulu.

Fei mendorong Chansung duduk ke ayunan dan berdiri di belakang pria itu sambil mengayunnya pelan.

Chansung tertawa kecil sambil berpegangan dua sisi tali tambang di kanan dan kirinya, lalu memandang kebelakang untuk melihat senyuman manis Fei.

“Kau senang?” tanya Fei sambil terus mengayun.

“Ne..” ucap Chansung riang.

Fei senang suasana seperti ini masih bisa mereka rasakan.

Chansung memejamkan mata menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya, “Noona, bagaimana jika kita tidak kembali?”

Fei tertegun mendengar ucapan Chansung, “Wae?”

Chansung membuka matanya dan menghentikan gerakan ayunan, lalu memutar tali ayunan hingga bisa berhadapan dengan Fei. “Disini kita tidak perlu berpura-pura, hanya kau dan aku.”

Fei tersentuh mendengar ucapan Chansung, perlahan bibirnya membentuk senyuman dan memegang tali di atas kedua tangan pria itu sambil memandangnya. “Apa menurutmu jika tetap disini kita akan aman?”

“Sudah 13 tahun berlalu noona, juga sepertinya mereka sudah tidak akan bisa mencari kita lagi..” Ucap Chansung, ‘Karena mereka sudah mati..’ Lanjut batinnya.

Disisi lain, Fei tau tentang pembunuhan itu namun tak mengatakan apa pun agar Chansung tak merasa canggung. “Lalu, bagaimana dengan yang lainnya?”

Chansung menarik Fei ke pangkuannya dan membiarkan ayunan itu berputar ke posisinya semula.

“Kyaa..” Jerit Fei kaget, lalu tertawa lucu.

“Mereka tidak akan mencari kita jika mereka tau kita baik-baik saja kan..” Ucap Chansung, satu tangannya memeluk pinggang Fei dan satu lagi memegang tali.

Fei memandang kebelakang, “Menurutmu begitu?”

Chansung mengangguk, “Ne..”

Di tempat lain.

Nickhun berdiri di depan sebuah rumah bordir dengan wajah ragunya, ia menyadari tatapan para gadis yang berdiri disana. Tentu saja disini sudah tidak biasa jika ada seseorang yang mabuk dan masuk bersama gadis-gadis. Namun bukan itu tujuannya kemari, ia ingin menemui seseorang yang sangat berarti baginya. Ia menghela nafas dalam dan melangkah masuk. Ia sama sekali tidak menggubris para gadis yang berusaha menggodanya, ia hanya melangkah masuk dan naik ke lantai atas. Ia sempat berhenti menyaksikan pemandangan disana yang sangat tidak bermoral. ia memalingkan wajahnya dan kembali melangkah menuju sebuah ruangan. Tangannya terulur dan langsung membuka sebuah pintu.

Seorang wanita berusia pertengahan 40-an dan seorang pria yang terlihat tak jauh tua langsung menatap kearah pintu kaget. Wanita itu mendengus kesal dan bergerak bangkit dari sofa.

“Siapa dia?” tanya pria itu kesal.

“Kita lanjutkan lain kali, pergilah..” ucap wanita itu.

“Tapi kita kan baru mulai..” protes pria itu.

“Kubilang pergi!!” seru wanita itu.

Pria tadi mendengus kesal dan mengambil jasnya sambil bangkit.

Nickhun yang masih berdiri di pintu membungkuk sopan ketika pria itu berlalu, kemudian menutup pintu dan memandang wanita tadi.

Wanita itu menatap Nickhun kesal, “Mwo?! Kenapa kau datang lagi?!”

Nickhun menatap wanita itu sedih, namun bibirnya perlahan membentuk senyuman. “Aku hanya merindukanmu, eomma..” jawabnya.

Wanita yang tak lain adalah ibu Nickhun itu memalingkan wajahnya, “Kau sudah bertemu denganku, pergilah.” Ucapnya, lalu melangkah ke meja dan mengambil sebatang rokok.

Nickhun menghela nafas dalam dan melangkah mendekati ibunya, lalu mengambil batang rokok yang hendak di nyalakan ibunya.

Wanita itu menatap Nickhun kesal, “Apa maumu sebenarnya?”

Nickhun memandang kebawah dan kembali memasukkan batang rokok tadi ke bungkusnya di atas meja, lalu kembali memandang ibunya sambil mengeluarkan sebuah amplop besar dari balik jaketnya. “Aku ingin memberikan ini..” ucapnya.

Ibu Nickhun menatap amplop itu dan menatap putranya, “Apa aku pernah meminta uangmu? Aku bisa mendapatkan uangku sendiri! Bawa itu dan enyahlah dari hadapanku!!” ucapnya, lalu berbalik.

“Aku bisa memberikanmu uang yang banyak! Eomma bisa katakan apa yang kau inginkan, aku akan memenuhinya..” ucap Nickhun.

Ibu Nickhun tertawa sinis dan menatap putranya lucu, “Mworagu? Kau akan menjamin hidupku? Wae? Apa aku sudah terlihat seperti wanita tua yang menyulitkanmu?”

Nickhun menatap ibunya dalam, “Eomma, berhentilah.. Untuk apa kau menjual gadis-gadis itu? Kita bisa memulai hidup baru yang lebih baik..”

Ibu Nickhun memalingkan wajahnya, “Aku tidak ingin mendengar apa pun lagi, pergilah..”

Nickhun menghela nafas dalam dan meletakkan amplop tadi ke atas meja, “Aku pergi eomma..” ucapnya sambil membungkuk sopan, lalu berbalik pergi.

Begitu mendengar pintu di belakangnya tertutup, pertahanan ibu Nickhun runtuh. Air matanya langsung berjatuhan dan berbalik memandang pintu sedih, membayangkan Nickhun yang tadi berdiri disana. Matanya memandang amplop besar di meja dan mengambilnya, ini bukan yang pertama kalinya. Namun ia tetap merasa hina jika bertemu putra semata wayangnya.

Ditempat lainnya lagi.

“Annyeonghaseo..” ucap Jiyeon sambil membungkuk sopan sebelum meninggalkan kelas nail-artnya. Ia tersenyum ceria karena hari ini ia mendapat hari yang menyenangkan. Ia melangkah menuju kafe ice cream yang biasa ia datangi setelah kelasnya berakhir, Seungho berkata akan menjemputnya lagi nanti jadi ia hanya perlu menunggu disana dan memakan ice cream sabanyak-banyaknya. >o<

“Pergi!!”

Jiyeon berhenti melangkah dan memandang kearah orang yang berseru tadi. Ia tertegun melihat seorang wanita yang menggunakan celemek di depan sebuah rumah makan kecil berkacak pinggang di depan dua orang anak berbaju kumal dan menunduk ketakutan.

“Kumohon nyonya.. Adikku kelaparan sejak kemarin, kumohon berikanlah kami sedikit makananmu..” mohon seorang gadis yang lebih tua.

“Pergi! Kalian pengemis benar-benar menjijikkan!!” seru wanita itu, lalu berbalik masuk ke rumah makannya.

Anak perempuan itu memandang adiknya sedih dan menunduk menahan tangisnya.

Jiyeon terpaku memperhatikan anak-anak itu. Ia seperti melihat perjuangan keluarganya dulu ketika perusahaan ayahnya bangkrut dan mereka sekeluarga harus kelaparan karena tak punya apa pun lagi. Hatinya tak sanggup melihat kedua anak itu menangis menahan lapar. Ia melangkah pelan menghampiri dua anak perempuan itu dan menyamakan tingginya dengan mereka, “Annyeong.. Siapa nama kalian?”

“Namaku Park Injung, ini adikku Park Inyong..” jawab gadis kecil bernama Injung itu.

Jiyeon memegang tangan kedua gadis kecil itu sambil tersenyum hangat, “Kalian lapar kan? Khaja..”

Mata Injung dan Inyong langsung berbinar, “Eonni akan memberikan kami makanan?”

“Ne..” jawab Jiyeon riang.

“Jinja eonni?!” tanya Inyong.

“Ne, khaja…” Jiyeon berdiri dan menggandeng kedua anak kecil tadi menuju sebuah restauran masakan Korea yang termasuk mewah di daerah itu. Setelah itu, kedua anak itu meminta Jiyeon ikut ke rumah mereka agar mereka bisa memberitau ayah dan ibu mereka bahwa gadis itu telah membantu.

“Eonni, itu rumah kami..” ucap Injung sambil menunjuk ke arah sebuah rumah reyot di kawasan miskin di pinggir kota Seoul tak jauh dari tempatnya bertemu anak-anak tadi.

Jiyeon tertawa kecil melihat keceriaan anak-anak itu berlari menuju rumah mereka. Namun, tawanya menghilang ketika melihat keadaan rumah yang benar-benar tak terawat itu. Dan yang di maksud kedua anak itu orangtua mereka, hanya photo ayah dan ibu mereka.

“Eonni, ini ayah dan ibuku..” ucap Injung yang duduk sopan di depan photo ayah dan ibunya.

Jiyeon memandang kedua photo itu dan memandang Injung sedih, “Orangtuamu sudah tidak ada?”

Injung tersenyum lebar, “Eomma dan appa memang sudah meninggal eonni, tapi mereka akan terus disini menjaga kami..”

Mata Jiyeon mulai di penuhi air mendengar ucapan Injung, lalu memandang Inyong yang masih berusia 5 tahun bermain dengan boneka beruang yang sangat kumal.

Di saat itu..

Seungho mondar-mandir di depan kafe ice cream tempat dimana dia harus menjempur Jiyeon. Ia sudah menunggu setengah jam namun gadis itu tak kunjung muncul. “Kemana dia?” tanyanya sambil memandang jam tangannya. Lalu mengeluarkan ponsel dan menempelkannya ke telinga. “Jiyeon, odiga? Oppa sudah menunggumu sejak tadi..” ia diam sejenak dan mengerutkan dahi, “Apa maksudmu?” ia menoleh dan melihat Jiyeon berdiri di ujung sana bersama dua anak kecil.

Jiyeon menatap Seungho dari kejauhan, “Oppa, boleh aku merawat mereka?”

Seungho terkejut mendengar pertanyaan Jiyeon dan menatap gadis itu tak percaya, “Jiyeon-a?”

Pondok Saeryong.

Saeryong masuk ke dapur karena mencium aroma masakan, ia berhenti di ambang pintu karena melihat Fei dan Chansung yang sedang bercanda sambil menyiapkan makan malam. Bibirnya membentuk senyuman melihat kedua orang itu bisa jujur dengan perasaan mereka disana.

Fei memukul tangan Chansung yang kembali terulur untuk mengambil potongan daging yang sedang ia tata di piring, lalu menatap pria itu sebal sambil menahan senyumannya. “Tunggu sebentar lagi..”

“Noona, tidak perlu di hias. Nanti juga akan di makan kan..” ucap Chansung yang sudah kelaparan menunggu Fei menyelesaikan masakannya.

“Memasak itu seni Chansung..” ucap Fei sambil melanjutkan kegiatannya.

“Huffftt.. lalu kenapa kau menjadi pencuri bukannya koki noona?” ucap Chansung sebal.

Fei tersenyum sebal menatap Chansung, “Mworagu?”

“Aniya..” jawab Chansung sambil menggeleng.

“Apa yang bilang tadi?” tanya Fei sambil melepaskan sarung tangan plastik dari tangannya.

Chansung menahan tawa sambil bangkit dari duduknya sebelum Fei melakukan sesuatu padanya. “Aniya noona.. memangnya aku bilang apa?”

Fei mencubit pinggang Chansung, “Aku dengar apa yang kau katakan tadi..” ucapnya sambil tertawa dan terus mencubiti pria itu.

“Aw!! Aw!! Noona!!” seru Chansung menahan cubitan Fei.

Fei tertawa lucu melihat eskpresi Chansung.

Chansung menahan kedua tangan Fei sambil tertawa kecil, “Noona, sakit!”

“Sudah, aku akan menyelesaikan ini..” ucap Fei sambil menarik tangannya, namun Chansung tetap menahan kedua tangannya. “Wae?” tanyanya.

Chansung tersenyum lebar, memamerkan gigi-giginya yang rapi sambil meletakkan kedua tangan Fei kepundaknya, lalu memeluk pinggang langsing gadis itu.

Fei menahan tawanya, “Wae?” tanyanya lucu.

Chansung menggumamkan sebuah melodi lembut dan membuat gerakan pelan seperti berdansa.

Fei tertawa kecil dengan kelakuan Chansung, namun tetap mengikuti permainan pria itu. Pria itu menatapnya dalam hingga membuatnya nyaman dan tidak ingin berhenti.

Satu tangan Chansung naik mengelus rambut Fei sambil menatapnya dalam, lalu menarik gadis itu kepelukannya. Ia memejamkan mata untuk merasakan kehangatan tubuh gadis itu.

Fei memejamkan mata dan menempelkan pipinya ke dada Chansung.

Chansung membuka matanya dan menyadari Saeryong memperhatikan mereka sambil tersenyum, ia langsung melepas pelukannya dan menjaga jarak dari Fei.

Fei memandang Saeryong dan tersenyum malu, “Saeryong-nim, makan malam sudah siap..” ucapnya canggung.

Saeyeong tersenyum lucu dan melangkah menghampiri meja makan, “Hmm.. kurasa sudah saatnya kalian menikah..” candanya.

 

<<Back            Next>>

 

Advertisements

4 thoughts on “I’m With You [Chapter 10]

  1. Wah.. wah.. Fei ama Chansung disuruh nikah tuhh >< Truss, Jiyeon mau adopsi anak?? Apa boleh ama Seungho??
    Next yaa thor~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s