Cube

I’m So Lonely 2

lonely

 

Kehidupanku yang menyedihkan telah berakhir. Sekarang aku tidak lagi seorang diri. Ketika aku membuka mata di pagi hari, aku akan melihat seseorang yang akan langsung membuatku tersenyum. Jang Hyunseung.

Tanganku terulur ke wajah tenang Hyunseung yang masih terlelap untuk mengelus pipinya. Kulihat dahinya berkerut dan membuka matanya perlahan, “Selamat pagi oppa..” sapaku sambil tersenyum lebar.

Hyunseung tersenyum dan mengusap matanya beberapa saat, lalu kembali memandangku dengan kedua tangan mengelus rambutku. “Hmm.. aku senang melihat bidadari ketika terbangun..” ucapnya yang membuatku tersipu malu. Ia bergerak bangkit sedikit dan mengecup bibirku. Itu ciuman selamat pagi yang sudah seperti kebiasaan bagi kami sejak aku dan dia tinggal di apartemen yang ia beli setahun lalu.

“Ayo bersiap..” ucapku sambil bergerak bangkit.

Hyunseung bergerak bangkit sambil merenggangkan tubuhnya.

Seperti biasa juga, ketika aku masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan badan. Hyunseung akan membaca berkas-berkas kantornya yang bertumpuk. Setelah itu aku akan menyiapkan sarapan untuknya.

Saatnya Hyunseung pergi.

Aku mengantarkannya ke pintu dengan senyuman lebar di bibirku, “Semangat oppa..” ucapku.

Hyunseung tersenyum sambil memperbaiki dasinya, “Ne, aku akan pergi..” ucapnya, “Oh ya, hari ini kau akan pergi kursus itu kan?”

Aku mengangguk, “Ne, kelasku di mulai jam 2..” jawabku. Aku mengikuti kelas make over sejak pertengahan tahun lalu, sebentar lagi aku akan mengikuti tes untuk menjadi make up and hair stylist profesional. Bukankah itu keren? Semua ini berkat Hyunseung yang selalu mendukungku. Aku beruntung bertemu dengannya.

 

=4.30 pm=

Aku merapikan alat-alat make up yang kugunakan tadi setelah kelas berakhir. Lalu menyandang tasnya dan melangkah keluar dari tempat itu.

“Kim Hyuna-ssi..” Panggil seorang pria.

Aku berhenti dan menoleh, “Ne?”

Pria itu tersenyum dan membungkuk sopan, “Annyeonghaseo, namaku Yong Junhyung. Aku bekerja di Cube Agensi, aku manajer dari seorang aktris..”

Aku sempat tertegun dan langsung membungkuk sopan, “Oh, annyeonghaseo.. Ada yang bisa kubantu, tuan?”

Pria bernama Junhyung itu tertawa kecil, “Jangan memanggilku tuan..” Ucapnya, “Panggil saja Manajer Yong..” Ucapnya.

Aku tertawa malu, entah mengapa dia membuatku canggung. “Ne, annyeonghaseo manajer Yong.”

“Kim Hyuna-ssi, aku melihat bagaimana kau me-make up model tadi. Aku cukup terkesan melihat kemampuanmu..” Ucap Junhyung.

Aku tersipu mendengar pujiannya, atau itu sindiran? “Gamshamida.. Aku masih pemula, aku akan berusaha lebih baik lagi..”

Junhyung mengeluarkan sebuah kartu nama dan memberikannya padaku, “Ini, hubungi aku jika kau lulus menjadi make up artis profesional..” Ucapnya.

Aku menerima kartu nama itu dan memandang Junhyung bingung, “Ne?”

“Keurom, sampai jumpa Kim Hyuna-ssi..” Ucap Junhyung sambil mengangguk sopan dan berjalan pergi.

Aku membungkuk sopan sambil memperhatikannya pergi, lalu memandang kartu nama itu lagi. Paling tidak dia benar-benar memujiku tadi. Hihihi..

 

=Perusahaan Keluarga Jang=

“Jang Hyunseung-ssi, jika idemu kaku begitu bagaimana bisa perusahaanmu berkembang?” Tanya Nari, rekan kerja Hyunseung dan pemimpin di devisi kreatif.

Hyunseung memandang Nari kesal, “Jika kau punya yang lebih baik, kenapa kau tidak mengatakannya?”

Nari menghela nafas dalam dan mengambil buku agendanya, “Bayangkan resort baru itu berada di pinggir pantai. Ketika kau membuka jendela, kau akan tersenyum memandang betapa indahnya pemandangan diluar..” Ucapnya sambil menggambar sesuatu.

Hyunseung mengangguk mendengar ucapan Nari.

“Ini, seperti ini..” Ucap Nari sambil memperlihatkan buku agendanya.

Hyunseung tertegun melihat hasil gambaran Nari yang persis memperlihatkan apa yang tadi gadis itu katakan. “Wow..” Hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya.

Nari tersenyum penuh kemenangan, “Aku benar kan? Kau terlalu monoton, Jang Hyunseung-ssi.” Ucapnya sambil meletakkan buku ke meja.

Hyunseung tidak mengatakan apa pun karena jika di bandingkan dengan ide Nari memang idenya tak ada apa-apanya sama sekali.

“Jang Hyunseung-ssi, apa kau tidak pernah menonton drama? Atau pergi ke tempat indah bersama kekasihmu?” Tanya Nari heran.

Hyunseung menatap Nari aneh, “Kim Nari-ssi, aku pria sibuk. Bagaimana bisa melakukan itu?”

“Hmm.. Pantas saja, kau sangat kaku..” Ledek Nari, lalu tertawa.

Hyunseung tertawa kecil, “Kemanhe, sebelum aku berpikir untuk memberikan surat pemecatan padamu..” Candanya.

“Wuaaa.. Aku akan jadi orang pertama yang di pecat karena terlalu kreatif. Hahaha..” Tawa Nari.

Hyunseung tertawa mendengar ucapan Nari, “Keure, jika kau punya cara yang lebih baik. Aku akan mencobanya..”

“Ne, aku akan mempersiapkannya. Sediakan saja waktumu, Jang sajangnim..” Ucap Nari sambil membereskan barang-barangnya dan bangkit, “Aku permisi..” Ucapnya, lalu membungkuk sopan dan berjalan pergi.

Hyunseung mengambil berkas hasil rapat mereka barusan sambil menahan tawa.

 

=Apartemen=

Aku duduk di pinggir tempat tidur sambil memandangi kartu nama yang tadi di berikan pria yang ingin kupanggil Manajer Yong itu. ‘Setelah aku lulus? Hmm..’ Batinku bingung.

“Hyuna, kau melihat dimana berkas-berkasku?” Tanya Hyunseung yang sejak tadi mencari-cari sesuatu di meja.

“Ne? Berkas yang mana? Kau tidak membawa berkas apa pun oppa..” Ucapku sambil menyembunyikan kartu nama tadi.

Hyunseung berdiri tegap sambil garuk-garuk kepala, “Ahh.. Lalu dimana aku meletakkannya?” Gumamnya bingung.

Aku bangkit dan menghampirinya, “Apa oppa yakin sudah membawanya?”

Hyunseung memandangku bingung, “Entahlah, aku tidak yakin..” Ucapnya, lalu mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang.

Aku memperhatikannya menunggu panggilan terjawab.

Hyunseung memandangku dan tersenyum sambil mengelus pipiku dengan belakang jarinya. Membuatku tersenyum lebar. “Oh.. Ne.. Kim Nari-ssi..”

Aku tertegun Hyunseung menyebut nama seorang gadis.

“Apa aku melupakan berkas-berkasku?” Lanjut Hyunseung, sekarang tangannya melingkar di leherku. “Ne? Ahh.. Cesonghamida. Aku akan melihatnya besok. Ne, annyeonghaseo..” Ucapnya dan memutuskan telepon.

“Waeyo oppa?” Tanyaku ingin tau.

“Aku seharusnya mengambil berkas itu sebelum pulang di devisi kreatif, tapi aku lupa..” Jawab Hyunseung sambil menahan tawa.

Aku merengut sambil memeluk pinggangnya, “Itu karena kau terlalu lelah bekerja oppa..” Ucapku manja.

Hyunseung tersenyum lebar dan memegang kedua pipiku gemas, “Gwenchana, jika aku tidak membawa pekerjaanku pulang. Aku bisa menghabiskan waktu bersamamu..” Ucapnya, lalu memiringkan kepala untuk menciumku.

Aku tertawa di tengah ciuman itu.

Hyunseung melempar ponselnya ke tempat tidur dan mendekapku erat tanpa melepaskan bibirnya yang masih sibuk dengan bibirku. Namun aku langsung teringat sesuatu ketika ia mendorongku ke tempat tidur.

“Oppa.. Oppa!” Ucapku sambil menahan tubuhnya.

Hyunseung memandangku bingung, “Wae? Aku baru saja akan memulai..” Protesnya.

Aku tertawa kecil, “Mian, aku sedang datang bulan..” Ucapku malu.

Hyunseung menghela nafas kecewa, “Aissh.. Kenapa harus sekarang?”

Aku tertawa lucu sambil mencubit pipinya, “Itu berarti aku masih normal oppa.. Nanti jika kau menikahiku, tidak akan sulit membuatku hamil. Kau tau?” Candaku.

Wajah Hyunseung memerah mendengar ucapanku, “Kenapa kau membahas itu?” Ucapnya malu, lalu bergerak bangkit dan duduk di sebelahku.

Aku bergerak duduk sambil memandang Hyunseung yang langsung mengambil ponselnya lagi, “Oppa, tidak memanggil gadis panggilan kan?” Godaku.

Hyunseung menatapku aneh, “Micheoso?!”

Aku tertawa dan memeluk lehernya hingga jarak wajah kami sangat dekat sekarang, “Mian oppa..” Ucapku dengan suara lucu.

Hyunseung tersenyum dan mengelus rambutku, “Kenapa minta maaf? Memangnya aku hanya ingin itu?” Tanyanya sebal, “Kau ada disini saja sudah sangat menenangkanku.” Ucapnya sepenuh hati.

Aku tersenyum lebar dan memberi kecupan manis di bibirnya.

“Aigoo.. Jangan di teruskan, aku tidak bisa menahan diriku nanti..” Ucap Hyunseung sambil melepaskan pelukanku di lehernya.

Aku tertawa dan merangkak ke sisi tempat tidur, lalu masuk ke bawah selimut bersama Hyunseung.

“Selamat malam..” Ucap Hyunseung, lalu mematikan lampu dan tidur.

 

=Perusahaan Keluarga Jang=

“Oppa..” Sapa Geurim sambil melangkah masuk ke ruangan Hyunseung.

Hyunseung memandang ke suara gadis itu dan tersenyum, “Hei..”

Geurim meletakkan dua ice coffe ke meja Hyunseung, “Oppa sibuk?”

“Aniya.. Duduklah..” Ucap Hyunseung. Ia merasa senang adiknya datang berkunjung. “Bagaimana kondisi abuetji? Baik-baik saja?”

Geurim bergerak duduk dan mengambil satu gelas plastik ice coffe, “Ne, oppa. Appa jadi lebih ceria dan bersemangat..” Ucapnya.

Hyunseung tersenyum lega, “Lalu, bagaimana kuliahmu?”

“Sangat baik oppa.. Appa berkata akan mengijinkanku mengawasi perusahaan cabang di Gangnam..” Ucap Geurim bersemangat.

“Jinja? Hmm.. Bagus sekali..” Ucap Hyunseung senang, lalu meminum ice coffe-nya.

“Mmm.. Oppa, sebenarnya aku kemari bukan untuk membicarakan itu..” Ucap Geurim mengganti topik.

“Mwo?” Tanya Hyunseung ingin tau.

Geurim tersenyum, “Itu, ini tentang kekasihmu..”

Hyunseung tertegun, “Ne? Waeyo?”

“Kurasa appa ingin bertemu dengannya..” Ucap Geurim memberitau.

Hyunseung terdiam sejenak tak percaya, “Ne? Wae?” Tanyanya lebih serius.

“Aku tidak tau kenapa, tapi beberapa hari ini appa selalu saja membahas oppa yang tinggal bersama kekasihmu. Appa terus-terusan berkata ia khawatir kekasihmu akan hamil sebelum kalian menikah. Lalu aku bertanya kenapa appa berpikir begitu, sambil tertawa appa berkata kalau mungkin sudah saatnya appa memiliki cucu..” Cerita Geurim.

Hyunseung kembali terdiam, “Kau tidak mengarang cerita kan?”

“Keurom, aku serius oppa..” Ucap Geurim meyakinkan.

Hyunseung tersenyum lebar, “Keure!! Aku akan membawanya ke rumah!! Hahahaha…”

“Ide bagus oppa!! Appa pasti senang!” Ucap Geurim bersemangat.

 

=Apartemen=

Aku menatap Hyunseung kaget, “Ne?!”

Hyunseung tersenyum lebar dan menggenggam kedua tanganku, “Ne, aku akan memperkenalkanmu pada ayahku..”

Deg! Deg! Deg!

Jantungku berdegup sangat kencang, “O-oppa.. Kurasa.. Mmm.. Kurasa ini terlalu cepat..” Ucapku gugup.

Hyunseung tertawa kecil dan memegang kedua pipiku sambil menatapku lucu, “Kenapa kau gugup begitu? Sebelum menikah denganku, kau harus bertemu ayahku dulu kan?”

Ne, aku tau.. Tapi sekarang rasanya ada yang berputar-putar dalam perutku dan aku merasa mual. Aku menggigit bibir bawahku ragu, “Tapi oppa..”

“Sssh..” Hyunseung menutup mulutku dengan jarinya, “Aku harus mengenalkan gadisku pada ayahku kan?”

Oh Tuhan! Jantungku semakin berpacu dengan jam.

 

=Sebuah akhir pekan=

Aku semakin gugup ketika Hyunseung menghentikan mobil di depan rumah mewah keluarganya. Di tambah mini dress dan dandanan yang membuatku tampak glamor ini benar-benar tidak sepertiku.

Aku menahan langkahku ketika aku dan Hyunseung melangkah menuju pintu masuk, “O-oppa..” Panggilku sambil menarik tangannya.

Hyunseung memandangku bingung, “Wae?”

“Oppa, apa aku harus berdandan seperti ini? Aku jadi semakin gugup..” Ucapku. Keringat dingin berasa membasahi tubuhku.

Hyunseung tertawa kecil, “Keurom.. Kau terlihat sangat cantik. Khaja..” Ia menarik tanganku, tapi aku kembali menahannya.

“Oppa, aku merasa seperti akan fashion show. Jantungku berdegup kencang sekali..” Ucapku sambil memegang dada.

Hyunseung menatapku lucu, “Kau harus berdandan seperti ini, Hyuna. Ayahku bisa mengamuk jika kau berpakaian biasa. Sudahlah, tenang saja. Kau sangat sempurna..” Ucapnya. Tangannya dengan lembut menggenggam jemariku dan melangkah masuk.

Aku menghela nafas berkali-kali untuk menenangkan diri. Oh Tuhan! Begitu kakiku melangkah masuk ke rumah mewah itu, mataku tak bisa berkedip melihat betapa indahnya barang-barang disana. Lampu kristal tergantung di atas sana. Omo! Itu pajangan seharga ratusan dolar yang kulihat di majalah. Tiba-tiba aku merasa kecil di tengah-tengah barang mewah ini. Aku memandang Hyunseung yang terus menarikku. Dia datang ke tempatku yang sangat sederhana, membeli apartemen mewah untuk kami tinggali bersama, dan ternyata ia memiliki rumah seperti istana. Apa dia benar-benar waras membawaku kemari?

Geurim yang duduk di ruang tengah bersama seorang pria setengah baya langsung tersenyum dan bergerak bangkit begitu melihat kami muncul, “Oppa..”

Hyunseung berhenti dan membungkuk sopan, “Annyeonghaseo, abeutji..” Sapanya, lalu merangkulku, “Abeutji, perkenalkan.. Ini kekasihku, Kim Hyuna..”

Nafasku terasa sesak ketika Tuan Jang memandangku. “Annyeonghaseo, abeunim..” Sapaku sambil membungkuk sopan. “Annyeonghaseo, Geurim-ssi..” Sapaku lagi.

“Ne, eonni. Lama tak bertemu..” Ucap Geurim ramah.

Aku tersenyum mendengar keramahan Geurim, namun wajah Tuan Jang terlihat kaku. Eoteokhe?!

“Abeutji, katakan sesuatu. Ini calon menantumu..” Bujuk Geurim.

Aku menelan ludah menunggu reaksi ‘calon ayah mertua’ku.

“Senang bertemu denganmu agassi, silahkan duduk..” Ucap Tuan Jang.

“Ne..” Ucapku pelan, lalu bergerak duduk bersama Hyunseung.

“Eonni, kau terlihat sangat cantik..” Puji Geurim.

Aku tersipu, “Ne, gamshamida.. Kau juga selalu terlihat cantik, Geurim-ssi..”

“Agassi, namamu Kim Hyuna?” Tanya Tuan Jang yang membuat jantungku semakin berdebar.

“Ne, abeunim..” Jawabku.

“Hmm..” Tuan Jang mengangguk mengerti, aku menyadari matanya memperhatikan penampilanku.

“Abutji, aku sudah berhubungan dengan Hyuna lebih dari 2 tahun…” Ucap Hyunseung, aku tertegun dan memandangnya.

2 tahun? Bibirku bergerak membentuk senyuman menyadari ia menganggap hubungan tanpa status kami sebelumnya adalah hubungan kekasih.

“..Aku membawanya kemari hari ini agar abeutji mengenal siapa gadis yang spesial di hidupku..” Lanjut Hyunseung.

Geurim terlihat terpesona dengan karismatik kakaknya. Well, aku juga.. Hihihi..

Tuan Jang tertawa mendengar ucapan Hyunseung, namun itu tak terdengar seperti tertawa senang. “Bagaimana kau bertemu dengannya?”

Deg! Aku terpaku mendengar pertanyaan Tuan Jang dan memandang Hyunseung menunggu jawabannya.

Hyunseung tersenyum, “Kami bertemu di klub, saat itu dia dan aku sama-sama menghabiskan waktu disana dan tak sengaja bertemu..”

Rasa takutnya lenyap seketika. Dia memang pria yang luar biasa. Aku benar-benar merasa di cintai karena ucapannya.

Tuan Jang mengangguk mengerti dan memandangku, “Agassi, berapa usiamu?”

“Usiaku 23 tahun, abuenim..” Jawabku.

“Hmm.. Apa pekerjaanmu?” Tanya Tuan Jang lagi.

Sekarang rasa percaya diriku meningkat karena Hyunseung mendukungku penuh, aku tidak akan mengecewakannya. Bibirku membentuk senyuman lebar, “Sekarang aku masih trainee sebagai Make-up and hair stylist. Sebentar lagi aku akan lulus dan menjadi Make-up and hair stylist professional.” Jawabku. Kulihat Hyunseung tampak puas dengan jawabanku.

“Sebelumnya, apa yang kau lakukan? Kuliah? Atau kau bekerja?” Tanya Tuan Jang.

Deg! Tuan Jang kembali mematahkan mentalku. Apa yang harus kujawab? “Mmm.. Aku tidak berkuliah karena tidak ada biaya abeunim, jadi aku melakukan pekerjaan part time untuk mencukupi kehidupanku..”

Tuan Jang tersenyum dengan sudut bibirnya, namun pandangannya tampak hangat. Ada apa sebenarnya dengan pria ini?! “Berapa jumlah keluargamu, agassi?”

Senyumanku luntur perlahan, ini pertanyaan yang sangat berat. “Mmm.. Keluargaku..” Aku sangat sulit menjawabnya. Hyunseung mengulurkan tangan memegang tanganku, bermaksud dia akan menanganinya.

“Abeutji, Hyuna besar di panti asuhan. Dia tumbuh seorang diri hingga bertemu denganku..” Ucap Hyunseung membantuku.

Tuan Jang memandang Hyunseung, lalu kembali memandangku. “Jadi, sekarang putraku yang menjamin hidupmu?”

Pertanyaan ini sepertinya menjatuhkan harga diriku. Atau hanya perasaanku saja? “Ne?”

Tatapan Hyunseung berubah tajam pada ayahnya, “Abeutji..” Ucapnya tegas.

Tuan Jang tertawa kecil, “Cesongeo, aku memang sangat kaku.” Ucapnya, lalu memandang Hyunseung. “Jadi, kau akan menikahinya?”

Aku memandang Hyunseung, ia tampak kembali tersenyum.

“Aku akan menikahi Hyuna secepatnya..” Ucap Hyunseung langsung.

“Wuaa.. Cukhae oppa!” Ucap Geurim senang.

Tuan Jang tertawa lagi, “Aniya, tidak secepat ini. Kau bisa menikah setelah kau mencapai satu project besarmu.”

Hyunseung tampak kecewa, “Mwo? Ahhh.. Project itu akan selesai juga abeutji. Jadi biarkan aku menikah dulu, lalu menyelesaikannya..”

“Jika kau berhasil menyelesaikannya dengan baik, abeutji akan mengijikanmu berbulan madu selama 2 bulan..” Ucap Tuan Jang.

Hyunseung tertegun dan tersenyum lebar, “Ne? 2 bulan?! Abeutji serius?!”

“Keurom, pria harus menepati janjinya..” Ucap Tuan Jang, lalu memandangku. “Kau bisa menunggukan agassi?”

Aku tersenyum malu dan mengangguk pelan, “Ne, abeunim..”

 

=Perjalanan Pulang=

“Daebak! 2 bulan berbulan madu! Wuaaa.. Apa kau ingin berbulan madu di Eropa?” Tanya Hyunseung sambil mengendarai mobilnya.

Aku tertawa kecil karena dia terlihat sangat bersemangat, “Oppa, selesaikan projectmu secepatnya. Arasso?”

“Keurom! Aku akan menyelesaikannya sebelum akhir tahun ini.. Dengan begitu kita bisa menikah awal tahun nanti dan langsung pergi berlibur..” Ucap Hyunseung riang.

Aku senang dia sangat bersemangat karena akan menikah denganku. Ini yang selalu kuimpikan, ada seseorang yang menghargai keberadaanku lebih dari apa pun.

 

=Apartemen=

Aku mematikan shower dan menjangkau handuk baju, lalu memasangnya. Kemudian mengambil handuk lain untuk membalut rambutku. Setelah itu aku melangkah menghampiri wastafel untuk bercermin. Sekarang, ketika aku memandang wajahku, aku tidak merasa kesepian lagi. Bibirku akan membentuk senyuman karena sekarang aku memiliki seseorang disisiku. Aku melangkah keluar kamar mandi dan mengenakan pakaianku lagi.

Hyunseung berada di ruang tengah sambil menonton tv, jadi aku langsung kesana menghampirinya. Ia tersenyum dan mengulurkan satu tangannya agar aku duduk bersandar ke dadanya.

Aku bersandar manja dan tersenyum ketika ia merangkulku. Aku tak menyadari Hyunseung tidak lagi memperhatikan layar tv, melainkan bekas luka di lengan dan pahaku. Aku tertegun ia memegang tanganku dan memandangnya.

Ia memperhatikan bekas luka di lenganku dan terlihat sedih mengingat bagaimana aku mendapatkannya. Aku menutup luka itu dengan tanganku yang lain dan tersenyum padanya.

“Na gwenchanayo oppa..” Ucapku pelan.

Hyunseung diam sesaat, lalu memandangku sambil tersenyum. Tangannya berpindah ke pipiku dan menatap kedua mataku dalam, “Aku akan membuatmu lebih baik lagi..” Ucapnya, lalu menciumku lembut.

Aku tak bisa menahan tawaku mendengar ucapannya.

 

=Beberapa Hari Kemudian=

Aku menyandang tasku dan melangkah keluar dari tempat kursus. Aku berhenti di trotoar dan tersenyum memandang langit yang sangat cerah.

“Ehem..” Dehem seseorang,

Aku menoleh dan melihat seorang pria yang mengenakan kacamata hitam berdiri sambil memandangi sekitar.

Pria itu menoleh kearahku dan tersenyum, “Kau melupakanku, Kim Hyuna-ssi?”

Dahiku berkerut dia mengetahui namaku, “Nuguseyo?” Tanyaku pelan.

Pria itu tertawa kecil dan membuka kacamatanya, saat itu aku kembali ingat. Dia pria yang memintaku memanggilnya manajer Yong.

“Oh.. Annyeonghaseo..” Sapaku sambil membungkuk sopan.

Manajer Yong tersenyum, “Ne, Kim Hyuna-ssi. Kau sudah memikirkan tawaranku?”

“Ohh.. Ne, aku masih memikirkannya..” Jawabku.

“Kuharap kau benar-benar akan menghubungiku, aku tidak sabar bekerja sama denganmu..” Ucap Manajer Yong.

Aku tersipu dan menyelipkan rambutku ke belakang telinga, “Gamshamida..” Ucapku malu.

Ia memegang bahuku dan melangkah pergi.

Aku membungkuk sopan ketika ia berlalu dan memperhatikannya pergi. Apa aku memang sebaik itu ya? Hihihi.. Kakiku melangkah menuju halte bis untuk segera pulang.

Perusahaan Keluarga Jang.

Dahi Hyunseung berkerut melihat proposal yang disiapkan Nari, “Kim Nari-ssi, aku tau kau kreatif. Tapi kenapa kau membuat proposalmu menjadi penuh warna begini?”

Nari tertawa kecil dan melangkah ke sisi Hyunseung untuk melihat proposalnya, “Agar anda tidak bosan melihatnya, Jang sajangnim..” Ucapnya.

“Aku malah bingung harus memulainya dari mana..” Ucap Hyunseung sambil membolak-balik proposal di tangannya.

“Jangan berlebihan, baca saja dari pertama..” Ucap Nari sambil membalik proposal itu kembali ke depan.

Hyunseung menoleh kearah Nari, “Aku sudah…..” Ucapannya terputus ketika menyadari wajah gadis itu berada tepat di depannya.

Nari juga tertegun menyadari wajah Hyunseung sangat dekat dengan wajahnya. Mereka terpaku beberapa saat hingga ia memalingkan wajahnya sambil menjaga jarak.

Hyunseung kembali memandang ke depan sambil mengelus belakang kepalanya, “Ohh.. Aku akan membacanya, kau bisa kembali bekerja..” Ucapnya canggung.

“Ne, annyeonghaseo sajangnim..” Ucap Nari dan melangkah cepat menuju pintu.

Hyunseung menghela nafas dalam karena situasi canggung tadi, matanya diam-diam melirik Nari yang sudah menghilang dari balik pintu. Ia mengelus dahinya dan kembali membaca proposal itu.

Tak sampai satu jam ia telah tiba di halaman belakang, ia menemukan sebuah pesan khusus yang di tulis Nari untuknya.

To: Jang Sajangnim

Jangan bekerja terlalu lelah, perusahaan bergantung padamu. Fighting!!

Hyunseung tertawa kecil dan menutup proposal itu. “Keyomne(lucu)..” Gumamnya sendiri, lalu melanjutkan pekerjaannya.

 

=Apartemen=

Ini perasaanku saja atau sepertinya Hyunseung oppa jadi lebih sibuk dengan pekerjaannya ya? Dia selalu membaca berkasnya, membahas sesuatu dengan rekan kerjanya, juga terlihat frustasi sendiri. Seperti malam ini, ia masih berkutat dengan pekerjaannya padahal aku sudah berbaring di tempat tidur sejak setengah jam lalu.

Aku bergerak bangkit dan memandang ke arah meja kerjanya yang hanya di terangi lampu meja, “Oppa..”

“Hm?” Hyunseung memandangku, “Oh, kau belum tidur?”

Aku beringsut turun dari tempat tidur dan menghampirinya, lalu memeluk lehernya dari belakang. “Kenapa oppa belum tidur juga? Ini sudah hampir tengah malam..” Tanyaku.

“Ahhhh.. Aku masih harus menyelesaikan ini. Jadi besok aku bisa membahasnya dengan karyawanku..” Ucap Hyunseung sambil mengelus dahinya.

Aku menatapnya khawatir, “Oppa, jangan terlalu memforsir tenagamu. Jika kau sakit bagaimana?”

Hyunseung memandangku, “Aku ingin segera menyelesaikannya dan menikahimu, Kim Hyuna-ssi..”

Aku tertawa kecil dan mengelus pipinya, “Tapi aku tidak ingin kau sakit oppa.. Kerjakan dengan santai saja.. Ne?”

Hyunseung mengerutkan hidungnya, membuatku tertawa karena ekspresi lucunya. “Arasso..” Ucapnya sambil menutup berkas-berkas di meja kerjanya dan bangkit. “Ayo kita tidur..” Ia menggendongku dengan kedua tangan kekarnya dan membawaku ke tempat tidur.

Aku tertawa lucu melihat kemanisannya.

Hyunseung tersenyum dan membaringkanku perlahan ke tempat tidur, lalu ikut naik dan masuk ke bawah selimut bersamaku. “Good night..” Ucapnya dan mencium dahiku.

Aku percaya dia mencintaiku dan akan melakukan apa pun untukku. Tapi yang tidak kutau, manusia bisa berubah..

 

=Seminggu Kemudian=

Nari mengetuk pintu ruang kerja Hyunseung.

“Ne..” Jawab Hyunseung dari dalam.

Nari membuka pintu dan masuk, “Jang sajangnim, bagaimana proposal buatanku?” tanyanya sambil menghampiri pria itu.

Hyunseung menatap Nari aneh, “Entah kenapa aku merasa aneh ketika kau memanggilku sajangnim..” ucapnya menahan tawa.

Nari tertawa kecil, “Kau yang aneh..” ledeknya, “Jadi, bagaimana proposalku?”

“Duduklah..” ucap Hyunseung mempersilahkan.

Nari duduk di hadapan Hyunseung dan menunggu komentar pria itu.

“Proposalmu tidak buruk, tapi dari desain dan idemu.. Sepertinya harus dilakukan pengecekan ke resort langsung..” ucap Hyunseung sedikit bingung.

“Keurom.. Jika kau ingin mengubah sesuatu, kau harus melihatnya secara langsung..” ucap Nari membenarkan.

Hyunseung mengangguk setuju, “Hmm.. benar juga..” ucapnya sambil membuka proposal Nari lagi.

“Apa kau menyukai ideku tentang perubahan di beberapa sisi itu?” tanya Nari ingin tau.

“Ne, aku pernah memikirkannya. Tapi belum ada orang yang benar-benar mengangkat tentang hal itu..” ucap Hyunseung memberitau.

Nari tersenyum senang, “Berarti aku yang pertama. Yuhuu.. aku memang jenius..” ucapnya dan tertawa kecil.

Hyunseung menahan tawa sambil menatap Nari lucu, “Apa kau alien? Kau sangat aneh, agassi..” ucapnya.

Nari tertawa, “Sudah Jang sajangnim, anda lebih aneh karena menyukai ideku..” ucapnya.

Hyunseung memandang jam tangannya, “Oh, sudah hampir jam makan siang. Bagaimana jika kita pergi makan siang sambil membicarakan hal ini?”

Nari menatap Hyunseung curiga, “Ne? Kau mengajakku makan siang? Hmm.. ada apa ini?”

Hyunseung menatap Nari aneh, “Kau mau kutraktir atau tidak?” tanyanya sebal.

Nari tertawa lucu, “Keurom, kapan lagi aku di traktir direktur..” ucapnya.

Hyunseung tertawa mendengar ucapan Nari, “Ya sudah, ayo pergi..” ucapnya sambil bangkit.

 

=Apartemen=

Aku sangat senang karena aku bisa segera mengikuti ujian untuk menjadi Make-up and hair stylist professional. Kepalaku menoleh kearah Hyunseung yang sudah berkutat dengan pekerjaannya. Aku datang menghampirinya dan memeluk lehernya dari belakang, “Oppa…”

Hyunseung tersenyum dan memandangku, “Wae?”

“Oppa, aku akan segera mengikuti ujian untuk lulus kursus..” ucapku senang.

“Wuaaaa.. kapan itu?” tanya Hyunseung.

“Awal bulan depan.. Bukankah itu keren? Aku akan segera menjadi Make-up and hair stylist professional!” ucapku riang.

Hyunseung mengelus pipiku, “Tidurlah duluan, aku akan menyelesaikan ini sedikit lagi..” ucapnya.

Aku melepaskan pelukanku dan beranjak ke tempat tidur.

 

=Seusai jam Kantor=

“Jadi, kita akan pergi ke resort di pulau Jeju lusa?” tanya Nari sembari melangkah bersama Hyunseung menuju parkiran basement.

“Ne, aku sudah mengatur semuanya. Kau tidak keberatan kan?” tanya Hyunseung.

“Gwenchana, aku bisa sekalian berlibur kan disana..” ucap Nari senang. “Oke, sampai besok sajangnim..” ucapnya dan melangkah menuju mobilnya, tapi saat itu sebuah mobil keluar dari parkiran hingga hampir menyenggolnya.

Hyunseung terekejut dan langsung menarik Nari mundur. “Ya!!” seruku, tapi orang itu seperti tidak berada di sana dan hanya pergi begitu saja. “Aissh..” gumamnya kesal, lalu memandang Nari yang terlihat Shock. “Nari-ssi, gwenchanaseyo?”

Nari memandang Hyunseung sambil mengatur nafasnya, lalu mengangguk pelan. “Ne.. Gamshamida..”

“Ayo, lebih baik aku mengantarkanmu pulang..” ucap Hyunseung sambil merangkul Nari dan membawanya ke mobil.

Setengah jam kemudian.

Hyunseung menghentikan mobilnya di depan gedung apartemen Nari dan memandang gadis itu, “Kita sudah tiba..”

Nari menghela nafas dan memandang Hyunseung dengan senyuman tipisnya, “Gamshamida sajangnim..”

Hyunseung tersenyum, “Jangan sungkan, masuklah..” ucapnya.

Nari membungkuk sopan dan keluar dari mobil, namun baru selangkah meninggalkan mobil ia terhuyung hampir terjatuh. Dengan cepat Hyunseung keluar dari mobil dan menghampiri gadis itu.

“Kim Nari-ss, gwenchanaseyo? Ayo.. Sebaiknya aku mengantarkanmu juga..” ucap Hyunseung dan membantu Nari melangkah masuk.

Setibanya di apartemen Nari.

Hyunseung mengambilkan segelas air untuk Nari yang duduk tegang di sofa, gadis itu terlihat masih shock. Ia menghampiri gadis itu dan duduk di sisinya, “Ini, minumlah..” ucapnya sambil memberikan gelas air tadi.

Nari menerima gelas itu dan meminumnya, beberapa saat gadis itu terlihat berusaha menenangkan dirinya.

Hyunseung tidak bertanya apa pun agar Nari bisa menenangkan dirinya.

Akhirnya Nari memandang Hyunseung menyesal, “Cesonghamida, aku merepotkanmu seperti ini..”

“Gwenchana, aku juga tidak mungkin meninggalkanmu seperti ini..” ucap Hyunseung berbaik hati.

Nari tersenyum tipis, “Cesongeo Jang Hyunseung-ssi, aku punya trauma dengan kecelakaan mobil..” ucapnya memberitau.

“Hmm.. aku bisa melihatnya.” Ucap Hyunseung dengan nada bercanda.

Nari tertawa kecil dan suasana menjadi canggung sesaat. Ia mengelus belakang telinganya menghilangkan gugup dan melirik Hyunseung.

Hyunseung melirik Nari untuk memastikan gadis itu sudah baik-baik saja atau tidak, namun tatapan mereka malah bertemu dan membuat suasana terasa lebih aneh. Mereka terpaku beberapa saat hingga tanpa sadar tangannya terangkat dan memegang belakang kepala gadis itu, lalu memajukan wajahnya dan mencium sang gadis.

Nari memejamkan mata dan membalas ciuman Hyunseung.

 

=Malamnya=

Aku memandang jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 9 malam tapi Hyunseung belum juga pulang, “Waekeure? Tidak biasanya..” ucapku sambil mengambil ponsel dan menghubungi Hyunseung, namun pria itu tak mengangkat panggilannya.

Sementara itu.

Hyunseung terbangun dari tidurnya dan menjangkau ponselnya di meja, dengan mata setengah tertutup ia membaca siapa yang memanggil. Sedetik kemudian matanya terbuka lebar dan memandang kesebelahnya. DEG! Ia tertegun melihat seorang gadis berbaring di sebelahnya. Kim Nari.

“Hmm.. kenapa ribut sekali..” gumam Nari sambil begerak membelakangi Hyunseung.

Hyunseung kembali memandang layar ponselnya, namaku masih tertera disana. Rasa bersalah menjalar di hatinya menyadari ia seharusnya ada di rumah bersamaku. Begitu panggilan tak terjawab itu berakhir, ia segera bangkit dan mengenakan bajunya lagi.

Nari menyadari Hyunseung bergerak bangkit dan memandang pria itu bingung, “Hmm.. kau sudah akan pergi?”

Hyunseung tertegun mendengar pertanyaan Nari dan memandang gadis itu, ia tau seharusnya sekarang ia berkata bahwa semua ini hanya kesalahan dan meminta gadis itu melupakannya. Namun melihat wajah cantik itu, ia hanya terpaku.

Nari mengelus matanya dan memandang Hyunseung lagi, “Kenapa tidak tunggu pagi saja?”

Hyunseung diam beberapa saat memikirkan alasan yang akan ia katakan, “Mmm.. aku harus kembali ke rumah..”

Nari mengangguk mengerti dan tersenyum manis, “Apa ini berarti kita mempunyai hubungan khusus?”

Rasa bersalah kembali mendera Hyunseung karena pertanyaan Nari, namun ia tak bisa menutupi rasa senangnya mendengar itu. Bibirnya membentuk senyuman dan menghampiri gadis itu, “Kau ingin begitu?”

“Tergantung, jika kau ingin berhubungan dengan alien sepertiku..” canda Nari.

Hyunseung tertawa kecil dan mengelus rambut Nari, “Keure, sampai besok..”

Nari mengangguk, “Ne..” ucapnya.

Hyunseung bangkit dan mengambil jasnya, lalu melangkah keluar dari apartemen Nari. Selama mengendarai mobilnya kembali ke apartemennya sendiri, ia tak berhenti memikirkan apa yang sebenarnya telah terjadi.

Hyunseung tiba di apartemen kami sekitar pukul 11 malam, aku sampai tertidur di sofa karena menunggunya. Ia berhenti di ruang tengah memandangiku dengan rasa bersalahnya. Perlahan ia berlutut dan mengelus pipiku dengan belakang jarinya, “Hyuna-a.”

Aku terbangun dan langsung menyadari ia sudah pulang, “Hmm.. oppa…” ucapku sambil bergerak duduk.

“Kenapa kau tidur disini?” tanya Hyunseung.

“Aku menunggumu oppa, kau tidak memberi kabar dan tidak mengangkat panggilanku. Kupikir sesuatu terjadi padamu..” ucapku cemas.

Hyunseung tersenyum, “Miane, tadi ada rapat bersama karyawanku. Aku tidak bisa mengangkat panggilanmu..”

Aku menghela nafas lega dan memeluk lehernya, “Hmm.. tapi aku senang oppa sudah ada disini..”

Hyunseung tertegun mendengar ucapanku. Kedua tangannya terasa kaku untuk memeluk tubuhku. Ia merasa bersalah juga tidak tau mengapa ia melakukan hal itu. Kedua tangannya melepaskan pelukanku perlahan dan menatapku, “Tidurlah, aku akan mandi sebentar..” ucapnya pelan.

Aku mengangguk dan bangkit, juga melangkah ke kamar bersamanya.

Keesokan paginya.

“Oppa, mau kubuatkan sesuatu?” tanyaku ketika kami bersiap untuk kegiatan masing-masing pagi ini.

“Hm? Aniya, gwenchana, aku harus langsung berangkat ke kantor..” ucap Hyunseung pelan.

Aku memandangnya khawatir, “Oppa, sudah kubilang jangan terlalu memforsir tenagamu kan? Jika kau sakit bagaimana?”

Hyunseung tersenyum tipis, “Ne, arasso..” ucapnya pelan.

Aku kembali memandang cermin dan mengusapkan blash on ke pipiku sedikit lagi.

“Mmm.. Hyuna..” panggil Hyunseung.

Aku kembali memandangnya, “Ne?”

“Mmm.. besok aku harus pergi ke pulau Jeju untuk melihat resort. Hanya beberapa hari, apa tidak apa-apa?” tanya Hyunseung ragu.

“Hm? Oppa pergi sendiri?” tanyaku ingun tau.

“Aniya, aku akan pergi dengan rekan kerjaku. Ini kan perjalanan bisnis..” ucap Hyunseung.

“Ohh.. gwenchana, jangan mengkhawatirkanku. Aku justru mengkhawatirkanmu oppa…” ucapku menahan tawa.

Hyunseung mengangguk sambil menahan tawa, tapi kenapa terdengar aneh? Hmm.. aku hanya berusaha berpikir positif dengan berpikir dia mungkin lelah dengan pekerjaannya.

 

=Setelah kursus=

“Kim Hyuna-ssi..” ucap seseorang.

Aku menoleh dan tersenyum melihat manajer Yong, “Annyeonghaseo..” sapaku.

“Hmm.. aku mendengar tentang jadwal ujianmu. Semoga berhasil.” Ucapnya menyemangatiku.

Aku tersenyum malu, “Ne, gamshamida..”

Manajer Yong tertawa kecil, “Apa kau memang selalu kaku begini ya?”

Aku tertawa kecil, “Aniya, karena anda selalu muncul dan pergi begitu saja..”

Manajer Yong tertawa lucu, “Aku ini orang sibuk, jadi tidak bisa menyia-nyiakan waktu begitu saja..” candanya.

“Ne, arasso.. tapi anda sedang menyia-nyiakan waktu anda sekarang..” balasku.

“Wae? Kau tidak ingin mengobrol sebentar dengan orang yang akan menjadi rekan kerjamu?” tanya manajer Yong menahan tawa.

Ucapannya justru membuatku tertawa.

“Sudahlah.. aku akan mentraktirmu makan siang, khaja..” ajak manajer Yong.

 

=Keesokan Harinya=

Aku membantu Hyunseung membawa kopernya ke depan dan bersiap menyampaikan perpisahan. “Semoga penerbanganmu menyenangkan oppa..” ucapku sambil memeluk lehernya dan bergerak maju untuk mencium bibirnya, namun ia berpaling dan menyodorkan pipinya. Aku tertegun dengan sikapnya dan memandangnya bingung.

“Aku harus mengejar pesawatku, sampai jumpa beberapa hari lagi Hyuna..” ucap Hyunseung dan langsung membawa kopernya keluar meninggalkanku dengan kebingunganku atas sikapnya.

Dahiku berkerut melihat tingkah anehnya. Tapi aku tidak ingin memikirkan hal lain yang mengganggu pikiranku, karena dia akan kembali seperti semula lagi. Kuharap. Namun hingga malam ia tak kunjung menghubungiku, ketika aku mengirimkan pesan juga sama sekali tak di balas. Mungkin dia sibuk.

Namun yang sebenarnya terjadi…

Hyunseung memeluk pinggang Nari dan mendorong tubuh gadis itu ke dinding sambil berciuman panas dengannya. Ketika ia merasakan tangan gadis itu membuka kemejanya, ia menarik dirinya dan menahan tangan Nari.

Nari memandang Hyunseung bingung, “Hm? Waeyo?”

“Mmm.. kurasa aku akan langsung tidur saja..” ucap Hyunseung, lalu berbalik dan melangkah ke tempat tidur.

Nari tidak mengatakan apa pun dan ikut naik ke tempat tidur, “Kau pasti lelah karena pekerjaan kita, tidurlah..” ucapnya, lalu mencium pipi Hyunseung dan berbaring di sebelah pria itu.

Hyunseung menatap langit-langit tanpa ekspresi dan melirik Nari yang mulai terlelap, ‘Apa yang sebenarnya kulakukan?’ batinnya tak mengerti.

 

=Beberapa Hari Kemudian=

Oke! Dia sangat berlebihan!! Kenapa dia tidak menghubungiku sekali pun?! Aku sangat kesal dengan tingkah laku Hyunseung yang seperti ini. Aku mengambil ponsel dan menghubunginya, cukup lama hingga panggilan itu tersambung.

“Oh Hyuna-a..” sapa Hyunseung diseberang.

“Oppa! Apa yang kau lakukan?! Kenapa kau tidak menghubungiku sama sekali?!” seruku langsung.

“Mian, banyak yang harus kulakukan disini. Aku akan segera kembali, jadi jangan khawatir. Aku harus pergi..” dan telepon terputus begitu saja.

Aku terkejut dan menatap layar ponsel tak percaya, “Mwoya?!” seruku kesal.

 

=Hari Terakhir di Pulau Jeju=

Geurim yang mendengar Hyunseung ada di pulang Jeju bersama kekasihnya dari karyawan lain ikut menyusul untuk menjadi saksi bagaimana kisah cinta oppa yang sangat ia kagumi itu, namun begitu tiba di resort milik keluarganya, ia justru menelan kenyataan bahwa kekasih yang di maksud karyawan lain bukanlah Hyuna. Ia terpaku melihat Hyunseung merangkul seorang gadis dan terlihat sangat mesra bersama gadis itu.

Hyunseung menertawakan kelucuan sikap Nari barusan hingga ia menyadari Geurim berdiri di depannya. Tawanya spontan menghilang dan menatap adiknya tanpa berkedip.

Nari bingung melihat perubahan ekspresi Hyunseung dan memandang kedua orang itu bergantian, “Waeyo?”

“Oh.. Nari-a, Ini Jang Geurim.. Adikku..” ucap Hyunseung.

Nari langsung tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya, “Oh.. Geurim-ssi, aku sudah lama ingin bertemu denganmu. Perkenalkan, namaku Kim Nari..”

Geurim menatap tangan Nari dan menatap gadis itu jijik, lalu menatap kakaknya.

Nari bingung mendapat tatapan seperti itu dari Geurim.

“Hmm.. senang bertemu denganmu..” jawab Geurim malas sambil menyilang kedua tangan di dada dan langsung melangkah pergi.

Nari tertegun dengan sikap dingin Geurim.

Hyunseung menyadari sikap adiknya karena ia tidak bersama Hyuna, “Nari-ssi, kau pergi duluan. Aku akan menyusulmu..” ucapnya.

“Oh.. keure.. Berbicaralah dulu dengan adikmu..” ucap Nari dan melangkah duluan.

Hyunseung segera mengejar langkah Geurim, “Geurim-a.. tunggu..” panggilnya sambil menahan tangan adiknya.

Geurim berhenti dan menatap Hyunseung dingin.

“Aku bisa menjelaskannya, jebal..” pinta Hyunseung.

“Apa yang ingin kau jelaskan oppa? Kalau Hyuna eonni tidak tau tentang ini dan kau ingin aku merahasiakannya?” tanya Geurim langsung.

Mulut Hyunseung langsung terbungkam karena ucapan Geurim.

Geurim melepaskan tangan kakaknya dan memalingkan wajahnya, “Ternyata yang selama ini kupikirkan benar oppa..” ucapnya pelan, lalu memandang kakaknya. “Oppa tidak benar-benar mencintai Hyuna eonni. Oppa hanya merasa iba padanya..” ucapnya, lalu melangkah pergi.

Hyunseung tertegun memandangi adiknya pergi, “Aniya..” gumamnya pelan. Perasaannya sangat tak karuan. Hingga malam, ia tak bisa melepaskan masalah ini dari pikirannya. Ponselnya berbunyi ketika ia duduk di pinggir tempat tidur sambil memandangi balkon. Dan namaku muncul di layarnya. Ia menghela nafas dalam dan mengangkatnya, “Ne, Hyuna-a..”

“Oppa, kau sudah makan? Tiba-tiba aku merasa tidak nyaman..” ucapku yang berbaring di tempat tidur seorang diri.

“Ne, aku sudah makan tadi. Jangan khawatir. Aku akan segera kembali..” ucap Hyunseung menenangkanku.

Aku tidak tau mengapa aku merasa seperti ini, tapi aku merasa nada bicara Hyunseung seperti ia ingin segera mengakhiri pembicaraan kami. “Oppa, kita baik-baik saja kan?” tanyaku pelan.

Hyunseung tertegun, perasaannya terasa sangat berat mendengar pertanyaanku.

“Oppa?” panggilku karena dia tak kunjung menjawab.

“Ne, tentu saja..” jawab Hyunseung.

“Hyunseung-ssi, bisa ambilkan handuk?”

Hyunseung tertegun mendengar suara Nari, begitu juga denganku. Handuk? Gadis itu meminta handuk?

Aku seperti mendengar alarm perselingkuhan di seberang sana. Dadaku tiba-tiba terasa sesak dan bergerak duduk, “Oppa.. kau bersama siapa?”

Hyunseung tidak tau harus mengatakan apa. Ia hanya terpaku disana.

“Hyunseung-ssi..” panggil Nari lagi.

Bulir air mataku langsung berjatuhan begitu saja, “Oppa..”

“Kita bicarakan nanti setelah aku kembali..” ucap Hyunseung datar, lalu memutuskan telepon.

Aku tidak tau bagaimana menjelaskan perasaanku sekarang. Yang pasti, rasanya sangat sakit.

Sementara itu di pulau Jeju.

Nari keluar dari kamar mandi dengan handuk baju dan memandang Hyunseung yang baru saja selesai menelepon, “Hyunseung-ssi, kenapa kau tidak menjawabku?”

Hyunseung menurunkan telepon dari telinganya dan bergerak bangkit memandang Nari.

Nari bingung dengan eksresi Hyunseung, “Waeyo? Siapa yang tadi menghubungimu?”

Hyunseung menyadari semua kesalahannya, ia benar-benar menyesal. “Kekasihku..”

Nari tertegun, “Ne?”

“Cesonghamida Nari-ssi..” ucap Hyunseung, lalu melangkah menuju lemari dan langsung memasukkan baju-bajunya untuk kembali malam itu juga.

Nari terpaku di tempatnya mendengar ucapan Hyunseung dan memandang pria itu dengan tatapan terluka, “Kenapa kau tidak pernah mengatakannya?”

Hati Hyunseung terasa sakit karena ia telah melukai dua gadis yang spesial dihatinya. Ia memutuskan untuk tidak mengatakan apa pun dan terus melakukan kegiatannya. Setelah selesai, ia baru berhenti dan memandang Nari yang terlihat sangat terluka. “Cesonghamida..” ucapnya, lalu melangkah pergi.

 

=Apartemen=

Hidupku sudah berakhir.. itulah yang terpikir olehku ketika mengetahui semuanya. Bagaimana mungkin dia disana bersama seorang gadis sementara dia sudah merancang pernikahannya denganku? Apa aku tidak berarti sama sekali? Atau… aku memang tak pernah berarti? Aku tidak ingin merasa seperti itu, aku benar-benar tidak ingin kembali menjadi Hyuna yang menyedihkan yang tak punya siapa pun disisiku. Tapi, bagaimana jika aku memang di takdirkan tidak memiliki siapa pun disisiku?

Aku tak bisa memejamkan mataku sedetik pun sejak semalam. Aku sudah memerintahkan air mataku berhenti karena Hyunseung akan segera kembali dan menjelaskan bahwa apa yang kudengar hanya salah paham. Bahwa ia hanya mencintaiku dan tidak akan membuat keadaan seperti ini lagi. Tapi hatiku tak bisa membohongi diriku sendiri.

Kepalaku menoleh ketika mendengar pintu depan terbuka sekitar pukul 6 pagi, aku langsung berdiri ketika melihat Hyunseung masuk bersama kopernya. Ia berhenti disana dan memandangku. Tatapannya terlihat menyesal, aku tau dia pasti menyesal telah membuatku seperti ini. Tapi yang aku tidak tau, apa yang ia pikirkan untuk menyudahinya. “Kau sudah pulang?” tanyaku membuka suara.

Hyunseung menghela nafas dan mengangguk, “Ne.. Aku akan bersiap ke kantor..” ucapnya dan menarik kopernya ke kamar.

Aku ingin berseru, mengingatkannya kalau aku butuh penjelasan tentang suara gadis itu, tapi aku tidak sanggup. Aku tidak sanggup mendengar kenyataan bahwa dia tidak mencintaiku lagi. Bagaimana jika dia memang tidak mencintaiku lagi?

Aku membiarkan Hyunseung pergi bekerja tanpa mengatakan apa pun lagi. Aku juga harus mengikuti kursusku, jadi kurasa lebih baik seperti ini.

 

=Sorenya=

Aku melangkah keluar dari tempat kursus dengan perasaan hampa, aku tidak bisa berkonsentrasi dan guruku berkata aku tidak sebaik sebelumnya. Ahhh.. ini benar-benar tidak adil bagiku. Disaat yang lain bisa dengan mudah menyakitiku, mengapa aku tidak bisa menyakiti mereka?

“Kim Hyuna-ssi..” sapa seseorang, aku sudah tau. Manajer Yong.

“Ne, annyeonghaseo..” sapaku sambil membungkuk sopan, lalu kembali berjalan dengan wajah lesu.

Manajer Yong memandangku bingung, “Waeyo? Kau terlihat tidak bersemangat sejak tadi. Kau sakit?”

“Aniya, na gwenchana..” ucapku pelan.

“Hmm.. jadi wajah baik-baik saja-mu yang lesu seperti ini? Berarti wajah ceriamu biasanya kau sedang sakit?” tanya Manajer Yong.

Aku menatapnya sebal, namun kuakui leluconnya membuatku sedikit terhibur. “Manajer Yong, jangan katakan apa pun.. Aku tidak mood berbicara..” ucapku.

Manajer Yong tertawa kecil, “Keure, kalau begitu aku akan bernyanyi..” ia mulai melantunkan rap dengan lirik lucu hingga aku tidak bisa menahan tawaku.

“Manajer Yong!” ucapku sebal, namun tawaku tetap keluar. “Kau ini..” ucapku sambil memukul bahunya pelan.

Manajer Yong tertawa lucu, “Yang seperti ini baru namanya baik-baik saja..” ucapnya.

Aku tersenyum malu, “Kenapa kau selalu ada disini saat aku kursus, Manajer Yong?” sekarang aku dan dia sudah seperti teman, jadi aku mulai nyaman berbicara non-formal dengannya.

“Kan sudah kubilang, aku harus memperhatikan perkembanganmu. Dengan begitu aku tau seberapa besar kemampuanmu..” jawabnya.

“Tapi kan aku belum tentu memilih bekerja bersamamu..” candaku, lalu menjulurkan lidah.

Manajer Yong menatapku sebal, “Setelah aku datang setiap kali kau kursus hatimu belum luluh juga?”

Aku hanya tertawa mendengar ucapannya.

Sementara itu di sebuah kafe.

“Mwo?! Kau berselingkuh dengan rekan kantormu?” tanya Dujun dengan mata melotot pada Hyunseung.

Hyunseung menghela nafas dalam, “Aku tidak tau itu perselingkuhan atau tidak, tapi aku hanya merasa nyaman dengan gadis yang satunya..”

Satu alis Dujun terangkat mendengar ucapan Hyunseung, “Apa maksudmu ‘Hanya merasa nyaman’?” tanyanya aneh, “Hanya karena merasa nyaman kau tidur dengannya? Itu maksudmu?”

Hyunseung menatap Dujun kesal, “Kan sudah kubilang, aku tidur dengannya adalah sebuah kesalahan! Aku tidak pernah tidur dengannya lagi setelah itu! Setiap aku mulai terlena dan hampir melakukannya lagi, aku selalu teringat tentang Hyuna yang mungkin sedang menungguku dan khawatir padaku..”

Dujun menatap Hyunseung serius, lalu melipat kedua tangannya di dada. “Jang Hyunseung, aku sudah pernah berkata untuk tidak mempermainkannya meskipun dia hanya seorang pelayan bar kan?”

Hyunseung mulai terganggu dengan ucapan Dujun, “Apa maksudmu?! Aku tidak pernah mempermainkannya!”

“Sejak awal kau sudah mempermainkannya, Hyunseung. Kau memanfaatkannya demi kepentinganmu sendiri, juga membuatnya melakukan ini dan itu untukmu. Lalu kau merasa iba karena dia seorang diri dan sangat putus asa. Naahh.. aku baru saja menjelaskan teori tentang perasaanmu..” ucap Dujun panjang lebar.

Hyunseung tertegun mencerna ucapan Dujun, ‘Benarkah semua yang kurasakan hanya iba?’ batinnya ragu.

Dujun mengambil minumannya dan mengedarkan pandangan. Ia tertegun melihat seseorang yang sepertinya ia kenal, tak lama matanya membesar. “Oh! Itu kekasihmu!”

Hyunseung memandang Dujun bingung dan memandang kearah temannya itu memandang. Dahinya berkerut karena melihat seorang gadis yang memang menyerupaiku dari belakang. Hingga ia benar-benar yakin itu memang diriku. Bersama seorang pria. Tiba-tiba terasa seperti ada yang mendidih di dalam dadanya, ia langsung bangkit dan melangkah keluar dari kafe itu.

“Aku akan ke halte itu, sampai jumpa Manajer Yong..” ucapku sambil melambai dan melangkah pergi. Beberapa langkah kemudian aku di kejutkan suara orang di pukul dan terjerembab. Aku segera berbalik dan terkejut melihat Hyunseung berdiri disana sambil menatap manajer Yong yang terjerembab di trotoar. “Oppa!” seruku dan menghampirinya, “Oppa! Apa yang kau lakukan?!” tanyaku kaget.

Hyunseung menatapku, aku terpaku karena tatapannya terlihat sangat marah. Ia menarik tanganku pergi tanpa mempedulikan Manajer Yong yang masih bingung dengan kejadian tadi.

 

=Apartemen=

Hyunseung mendorongku ke tengah ruangan dan menatapku marah. Aku mengelus pergelangan tanganku sambil memandangnya tak mengerti.

“Karena itu kau selalu pergi ke kursus itu? Karena ada pria itu?!” Seru Hyunseung.

Aku tertegun mendengar seruannya. Dia marah karena aku bertemu Manajer Yong di trotoar?

Hyunseung terlihat sangat marah, matanya melotot seperti akan keluar dari rongganya. “Wae?!! Kenapa kau tak menjawabku?!!” Serunya sambil mencengkeram lenganku.

“Aaahhh!! Oppa! Sakit!!” Rintihku sambil berusaha melepaskan cengkeramannya. Aku kembali menatapnya tak mengerti, mengapa dia menuduhku seperti ini disaat dia yang melakukannya sendiri?

Hyunseung mencengkeram lenganku yang satu lagi. “Hyuna, siapa pria tadi?!” Tanyanya penuh penekanan dan terdengar sangat marah.

Hatiku sangat sakit mendengar pertanyaannya. Aku pernah mendengar, saat seseorang berselingkuh dari pasangannya, dia akan mencurigai pasangannya melakukan seperti apa yang ia lakukan. Kurasa sekarang aku mengerti. “Oppa, siapa gadis itu?” Tanyaku pelan.

Aku dapat melihat kemarahan dalam tatapan Hyunseung perlahan menghilang, berganti dengan wajah tanpa ekspresinya. Saat itu, aku berharap ia akan meminta maaf dan berkata ia bersalah.

Hyunseung memalingkan wajahnya dan melepaskan kedua lenganku.

Aku memperhatikan ekspresinya. Kenapa dia tidak menangis atau berlutut di kakiku? Wae?

Hyunseung kembali memandangku tanpa mengatakan apa pun.

Tatapannya kali ini seperti membenarkan semuanya. Hatiku sangat sakit!! Terlalu sakit untukku jelaskan sekarang. Bulir air mataku kembali berjatuhan, “Wae?” Hanya itu yang bisa kukatakan.

Hyunseung memandang kebawah beberapa saat dan kembali memandangku, “Karena manusia pasti akan berubah, Hyuna..” Ucapnya pelan. Kalimat itu tidak menggunakan kalimat kasar namun sangat menyakitkan bagiku.

“Berubah? Maksudmu perasaanmu terhadapku berubah, oppa?” Tanyaku tak percaya.

Hyunseung tak mengatakan apa pun dan langsung berjalan pergi.

Aku masih berdiri di tempatku dengan perasaan hancur berkeping-keping. Kali ini terasa jauh lebih sakit dari yang pernah kurasakan. Kenapa dia melakukan ini padaku? Kenapa dia membuatku merasa dicintai lalu mencampakkanku seperti ini? Kakiku melemah dan aku jatuh terduduk di lantai. Aku tidak bisa mengungkapkannya. Tidak hanya dadaku, seluruh tubuhku terasa sakit. Satu tanganku bergerak memegang dada dan menangis mengungkapkan perasaanku. Rasanya sebanyak apa pun air mataku tidak akan cukup untuk mengungkapkan rasa sakitku. Apa yang harus kulakukan lagi?

Air mataku terus mengalir hingga malam tiba. Sekarang aku berbaring di tempat tidur dengan tatapan kosong kedepan.

“Karena manusia pasti akan berubah, Hyuna..”

Hanya itu? Semudah itu? Lalu untuk apa rencana pernikahan itu? Bulan madu yang membuatnya sangat bersemangat? Kata-kata kalau dia akan membuatku merasa lebih baik? Semua itu bisa di patahkan dengan kenyataan kalau manusia pasti berubah? Kenapa aku tidak? Kenapa aku tetap menyedihkan? Wae? Apa aku bukan manusia?!!

Jika Hyunseung tidak mencintaiku lagi, untuk apa aku hidup? Wae? Agar bisa di kasihani lagi dan di hancurkan hingga aku mati karena penderitaanku? Apa salahku? Aku tidak tau berapa lama aku terjaga seperti ini, air mataku tak mengalir lagi namun aku masih tersedu. Semua manusia berubah. Dia bilang semua manusia berubah. Jadi, jika aku manusia, aku harus berubah juga kan? Aku harus berubah agar Hyunseung tidak perlu mengasihaniku lagi, benarkan?

Aku menghela nafas dalam, lalu bangkit dengan sisa tenagaku. Perasaan Hyunseung telah berubah padaku, jadi aku tak berhak apa pun disini. Mungkin aku tidak pernah berhak.

 

=Mobil Hyunseung=

Hyunseung tidak pergi kemana pun, ia hanya duduk di dalam mobilnya di parkiran apartemen untuk berpikir. “Aku mencintaimu Hyuna..” Gumamnya pelan. Lalu mengacak-acak rambutnya frustasi. Sebenarnya ia merasa sangat bersalah dan kesal pada dirinya sendiri karena apa yang telah ia lakukan dibelakangku. “Aisssh!!!” Serunya sambil memukul stir mobil. Ia tak bisa menenangkan dirinya tanpa berbicara padaku. Ia keluar dari mobil dan bergerak turun.

Ia masuk ke apartemen dan mendapati semua ruangan gelap. Ia menghela nafas dalam dan melangkah menuju kamar, tangannya terulur ke dinding dan menghidupkan lampu. Namun hanya kehampaan yang ia temukan. Ia tertegun tak menemukanku di tempat tidur, “Hyuna..” Panggilnya pelan, lalu memandang pintu kamar mandi. “Hyuna-a..” Panggilnya sambil menghampiri pintu kamar mandi dan membukanya, tetap tak ada siapa pun. Matanya membesar dan kembali ke tengah kamar sambil memandang sekitar panik, “Hyuna! Kim Hyuna!!” Panggilnya, namun tetap tak ada jawaban. Saat itu matanya menyadari tidak ada barang-barangku di meja, “Andwae..” Gumamnya dan berlari ke lemari untuk melihat baju-bajuku, tidak ada. Ia semakin panik. “Hyuna..” Gumamnya lagi dan berlari keluar dari apartemen.

Selama mengendarai mobil menuju tempat yang mungkin kutuju ia terus berusaha menghubungiku, namun aku tak menjawabnya. “Aissh!!” Serunya kesal dan menambah kecepatan mobilnya.

 

=Kamar Studio=

Klek..

Cahaya lampu menerangi ruangan kecil itu seiring kunyalakan saklar lampu. Disini, kamar studio yang telah menjadi rumahku selama bertahun-tahun sebelum aku bertemu Hyunseung. Mataku memperhatikan seluruh kamar yang tertutup kain. Aku menghela nafas dalam dan meletakkan tasku ke lantai, lalu mengunci pintu. Hal pertama yang kulakukan adalah menyingkirkan kain-kain berdebu itu, lalu membersihkan ruangan kecil itu agar bisa kutempati lagi. Namun, sekeras apa pun aku berusaha membuat diriku yakin semuanya baik-baik saja, aku semakin merasa sesak. Akhirnya bulir air mataku kembali berjatuhan dan kakiku tak sanggup menahan bobot tubuhku yang tak banyak. Untuk kesekian kalinya malam ini, aku menangis tersedu-sedu di lantai kamar studio lamaku sambil memegang dadaku yang terasa sangat sakit. Tidak, bukan hanya dadaku. Seluruh tubuhku. Dari ujung kepala hingga ujung kakiku. Apa yang harus kulakukan lagi? Aku benar-benar tak sanggup. Sekarang aku merasa seperti hidupku hanya penderitaan tiada akhir melebihi apa yang kurasakan sebelumnya. Paling tidak, dulu aku bisa menyelesaikannya dengan mati. Tapi sekarang? Jika aku mati apakah semuanya akan berakhir?

“Karena manusia pasti akan berubah, Hyuna..”

Ucapan menyakitkan Hyunseung kembali terngiang di telingaku. Semakin banyak pertanyaan yang muncul di kepalaku. Kenapa dunia sangat kejam padaku? Kenapa aku tidak mati disaat aku menginginkannya? Kenapa aku? Kenapa harus aku? Aku menoleh mendengar pegangan pintu terputar, tanpa membukanya aku sudah tau siapa yang datang.

Tok! Tok! Tok!!

“Hyuna! Kau di dalam?! Buka pintunya!!” Terdengar suara Hyunseung berseru diluar sambil menggedor pintu kamar studioku.

Aku memandangi pintu tanpa bergerak, tubuhku tak ingin bergerak.

“Hyuna!! Aku tau kau didalam!! Kumohon buka pintunya!!” Seru Hyunseung lagi.

Aku menghela nafas dalam sambil memandang ke bawah dan memeluk lututku.

Ketukan di pintu semakin lemah, “Jebal Hyuna, buka pintunya..” Mohon Hyunseung lebih memelas.

Aku memandang tasku yang tergeletak di lantai, lalu mengambil ponselku didalamnya. Aku tidak terkejut menemukan banyak panggilan tak terjawab yang semuanya dari Hyunseung. Aku menghela nafas dalam dan memanggil nomornya, lalu menempelkan ponsel ke telinga.

Di depan pintu, Hyunseung mendengar ponselnya berbunyi. Lalu mengeluarkannya dan melihat siapa yang memanggil, ia tertegun melihat namaku dan langsung menjawabnya. “Hyuna! Odiga?! Kau ada di kamar studiomu kan?!”

Aku diam sejenak sambil mendengarkan suaranya.

“Hyuna..” Panggil Hyunseung lagi.

“Ne, oppa..” Jawabku pelan.

Terdengar helaan lega dari Hyunseung, “Hyuna buka pintunya, aku harus berbicara padamu..”

Aku menghela nafas dalam sambil memandang langit-langit kamarku, “Gwenchana oppa, aku mengerti..”

Hyunseung tertegun, “Apa maksudmu?”

Bibirku membentuk senyuman sedih dengan bulir air mata kembali berjatuhan, “Oppa benar, semua manusia pasti berubah..”

“A-ani.. Aniya! Aku tidak bersungguh-sungguh Hyuna! Buka pintunya dulu, kita harus berbicara..” Ucap Hyunseung berusaha menjelaskan.

“Aniya oppa, oppa tidak perlu mencemaskanku lagi. Aku tidak akan kembali menjadi Hyuna yang menyedihkan.. Aku akan menjalani hidupku dengan baik..” Ucapku pelan.

Hyunseung merasa hatinya remuk karena mengetahui aku telah terluka.

“Aku sangat berterima kasih padamu karena kau telah mengajariku apa arti hidup. Bahwa aku masih bisa memiliki seseorang yang ada untukku. Gumawoyo oppa.. Aku beruntung telah mengenalmu..” Ucapku sambil menahan tangisku yang terus akan meledak.

“Ani.. Tidak seperti itu Hyuna.. Miane, aku tidak akan berubah.. Maafkan aku..” Mohon Hyunseung sepenuh hati.

Aku memejamkan mataku erat menahan gejolak di dadaku yang semakin sakit, “Kemanhe oppa..” Pintaku dengan nada terluka.

“Hyuna…” Ucap Hyunseung sedih.

Mataku kembali terbuka, “Jinja.. Gwenchana oppa..”

“Tidak, ini tidak baik-baik saja! Aku tidak mau!” Tegas Hyunseung, lalu memukul pintu. “Buka pintunya Hyuna!!” Serunya.

“Selamat malam..” Ucapku dan memutuskan telepon.

“Hyuna!! Kim Hyuna!!” Seru Hyunseung, lalu memandang layar ponsel tak percaya dan kembali memandang pintu. “HYUNA!! BUKA PINTUNYA!!!” Teriaknya sambil berusaha mendobrak pintu itu.

“Ya!! Kau tidak tau pukul berapa sekarang?!!!!!” Seru orang yang tinggal di sebelah kamar studioku.

Hyunseung berhenti dan hanya berdiam diri di tempatnya. Tak lama ia kembali mengetuk perlahan, “Hyuna, kumohon.. Buka pintunya..” Pintanya pelan. Namun jawaban yang ia terima adalah lampu dari dalam yang mati. Ia memejamkan mata dan menempelkan dahinya ke permukaan pintu, “Hyuna..” Panggilnya, tetap tak ada jawaban. Perlahan ia berbalik menyandarkan punggungnya ke pintu, lalu duduk bersandar disana.

Sebenarnya aku juga duduk di balik pintu. Aku tau dia tidak akan pergi, tapi aku tak bisa membuatnya terjebak bersama gadis sepertiku. Dia pantas mendapatkan yang lebih baik.

7 a.m

Aku keluar dari kamar studioku dengan pakaian rapi untuk pergi mengurus sisa kepindahanku kemari, namun pemandangan yang berbeda langsung menyambutku. Hyunseung masih duduk bersandar di depan kamar Studioku dan tertidur. Aku menatapnya sedih, lalu mengeluarkan secarik kertas dan menulis sesuatu disana. Dengan hati-hati aku meletakkannya ke atas pangkuan pria itu dan berjalan pergi, kurasa akan lebih baik jika dia tidak ada di apartemenya.

Tak berapa lama, Hyunseung terbangun dari tidurnya dan merasakan pundaknya terasa sakit, “Aahhh..” rintihnya sambil mengelus pundak, lalu bergerak duduk lurus sambil memandang sekitar. Kemudian memandang pintu kamarku, “Dia belum keluar?” gumamnya, namun saat bergerak bangkit ia menemukan secarik kertas yang terjatuh dari pangkuannya. “Hm?” ia mengambil kertas itu dan membaca pesannya.

Oppa, aku akan mengambil sisa barangku. Gumawo..

Kim Hyuna

Mata Hyunseung melotot, dengan cepat ia bangkit dan setengah berlari keluar dari gedung kamar studioku.

 

=Apartemen Hyunseung=

Aku mengambil barang-barangku yang tersisa. Seperti sikat gigi, pakaian dan beberapa barang yang di berikan Hyunseung padaku. Ketika aku melangkah menuju pintu dengan kotak berisi barang-barangku, pintu terbuka dan masuk Hyunseung dengan nafas terengah-engah.

“Hyuna!” serunya dan langsung bergerak maju untuk memelukku, namun aku langsung menunduk dan mundur selangkah. Ia tertegun karena sikapku itu, “Hyuna?”

Aku memandangnya sedih, lalu tersenyum tipis. “Aku akan pergi sekarang, gamshamida..” ucapku sambil membungkuk sopan dan melangkah ke pintu.

Hyunseung terdiam di tempat ketika aku berlalu di sebelahnya dengan wajah shock, aku tau ia pasti terluka saat ini. Mungkin kami merasakan luka yang sama, tapi dia bisa menyembuhkannya seiring berjalannya waktu. Namun aku, mungkin membutuhkan waktu seumur hidup untuk melupakan sosoknya dan menyembuhkan luka hatiku sendiri.

Aku berpikir, ini adalah akhir hubungan kami. Akhir dari semua kebahagiaanku. Akhir dari rasa amanku. Ini berarti aku harus berjuang sendiri dan kembali melindungi diriku sendiri. Paling tidak, aku pernah merasakan kebaikan hatimu, Jang Hyunseung..

 

=Setelah hari itu=

Sejak pertemuan kami hari itu, Hyunseung tidak lagi datang mencariku. Ia juga tidak menghubungiku. Namun ia merasa hampa. Semua yang ia lakukan terasa janggal.

Hyunseung duduk termenung di meja kerjanya sambil membolak-balik proposal milik Nari, ia belum berbicara dengan gadis itu sejak meninggalkannya di pulau Jeju waktu itu.

Tok! Tok! Tok!

Hyunseung mengangkat wajahnya memandang pintu, “Masuk…”

Pintu terbuka, lalu masuk Nari dengan kepala tertunduk dan kembali menutup pintu. Ia memandang Hyunseung ragu, lalu melangkah menghampiri meja pria itu. “Annyeonghaeo, sajangnim..” sapanya sambil membungkuk sopan.

“Duduklah, ada yang ingin kubicarakan..” ucap Hyunseung, suasana disana terasa sangat canggung.

Nari mengangguk dan bergerak duduk di hadapan Hyunseung.

Hyunseung bingung bagaimana memulai permbicaraan mereka, “Mm.. Nari-ssi..” ucapnya pelan, terdengar ragu untuk berbicara.

“Katakan saja, aku akan mendengarnya..” ucap Nari tanpa ragu.

Hyunseung menghela nafas dalam dan mengelus telapak tangannya gugup, “Maafkan aku atas semua yang terjadi. Aku telah melakukan kesalahan dengan berhubungan denganmu, semua ini salahku. Kau bisa menyalahkanku sepuas hatimu..”

Nari diam sejenak mendengar ucapan Hyunseung, “Apa kekasihmu tau tentang ini?”

Hyunseung memandang ke bawah sedih, “Ne..”

“Lalu?” tanya Nari ingin tau.

“Dia meninggalkanku..” ucap Hyunseung pelan.

Nari merasa tidak nyaman dengan keteranga Hyunseung, namun ia tak bisa membohongi perasaannya sendiri. “Lalu, apa kita bisa mencoba hubungan ini?” tanyanya.

Hyunseung tertegun dan menatap Nari tak peraya.

“Bukankah dia sudah meninggalkanmu? Aku ada disini Hyunseung-ssi, aku bisa menggantikannya di sisimu..” ucap Nari yakin.

Hyunseung terlihat bingung dan tak menemukan kalimat apa pun untuk di ucapkan.

“Apa kita bisa mencobanya?” tanya Nari lagi.

Hyunseung tidak tau apa yang ia rasakan sekarang, namun ia merasa tidak ada salahnya jika mencoba.

 

=Sebuah Jalanan Seoul=

Aku melingkari sebuah lowongan pekerjaan di koran yang mencari make-up and hair stylist magang di sebuah agensi. Aku akan mencoba pekerjaan ini. Aku sudah berjanji tidak akan menjadi Kim Hyuna yang menyedihkan, jadi aku harus berjuang sendiri seperti dulu. Namun apa yang kuterima tidak menyenangkan.

“Nona, ini pekerjaan serius walaupun kami mencari pekerja magang. Kau tidak mempunyai sertifikat tapi ingin mencobanya, ini sangat lucu..” ucap wanita berwajah jutek yang sepertinya berusia awal 30-an.

Aku menunduk menyesal dan membungkuk sopam, “Ne, gamshamida..” ucapku pelan, lalu berbalik dan melangkah pergi. Aku memandang ke pintu luar lesu, ‘Sepertinya aku harus mencari pekerjaan sebagai pelayan kafe atau bar lagi..’ batinku sedih.

Seseorang yang melewatiku berhenti dan memandang kebelakang, ia membuka kacamatanya dan memperhatikan beberapa saat, lalu tersenyum. “Kim Hyuna-ssi..”

Aku berhenti karena mendengar seseorang memanggil namaku, lalu berbalik. Aku tertegun melihat Manajer Yong.

Pria itu menghampiriku sambil tersenyum, “Kim Hyuna-ssi, apa yang kau lakukan disini?”

“Ne? Ohh.. aku berpikir untuk melamar disini..” ucapku, lalu menunjuk lowongan yang kulingkari tadi.

Manajer Yong membaca lowongan itu dan tertawa kecil, “Kau benar-benar mencobanya?” tanyanya.

Aku memandangnya bingung, “Ne, wae?”

“Kim Hyuna-ssi, ini hanya untuk pemula.. Ayo, ikut aku..” Manajer Yong menarikku kembali masuk dan langsung menuju sebuah ruangan.

Aku bingung dia membawaku ke sebuah ruangan ganti. Orang-orang yang ada disana langsung membungkuk sopan ketika kami masuk. Aku juga spontan membungkuk sopan pada mereka meskipun tetap bingung apa yang terjadi.

Manajer Yong menarikku menghampiri seorang gadis yang duduk di depan cermin sambil mempercantik kukunya, “Nam Jihyun, ini Kim Hyuna..”

“Annyeonghaseo..” sapaku sambil membungkuk sopan.

Gadis bernama Nam Jihyun itu memandang kearahku, lalu mengerutkan dahi dan memperhatikan diriku dari atas kebawah dengan tatapan aneh. Kemudian memandang manajer Yong, “Nugu?”

“Kim Hyuna..” jawab Manajer Yong.

“Aku tau namanya, oppa.. kenapa kau membawanya kemari?” tanya Jihyun sebal.

Manajer Yong merangkulku, “Dia make up artismu yang baru..” ucapnya.

Aku terkejut dan menatap Manajer Yong kaget, “Ne?”

Jihyun juga menatap manajer Yong kaget, “Mwo?!”

“M-Manajer Yong?” ucapku tak percaya.

Manajer Yong tersenyum, “Sudah, lihat saja apa yang bisa dia lakukan untuk membuatmu terlihat cantik..” ucapnya, lalu memandangku. “Silahkan, Make up artis, Kim Hyuna..”

Aku memandang Jihyun yang masih terlihat tak percaya dan kembali pada Manajer Yong, “Ne? Kau serius?”

Manajer Yong mengambil tas make up Jihyun didekat kaki gadis itu dan meletakkannya di atas meja, “Ini, silahkan lakukan..” ucapnya, lalu melangkah ke sofa dan duduk disana.

Aku terpaku beberapa saat bingung, lalu memandang Jihyun yang memutar bola matanya kesal dan melipat tangan didada.

Jihyun menatap pantulanku di cermin, “Ya, kau hanya akan berdiri disana?” tanyanya kesal.

“Ne? Oh.. ne.. Cesonghamida..” ucapku sambil membuka tas make upnya. Wow! Dia membawa semua barang yang kusukai. Warna, jenisnya, bahkan ada beberapa pernak-pernik yang akan kukenakan pada modelku. Apa ini takdir atau sesuatu? Aku memandang ke pantulan cermin dan melihat Manajer Yong tersenyum padaku, lalu mengisyaratkan dengan mulutnya kalau aku yang terbaik. Aku tersenyum dan memandang tas make up tadi penuh percaya diri, lalu memandang Jihyun. “Nam Jihyun-ssi, kau ingin menggunakan konsep apa saat ini?”

Jihyun berpikir sejenak, “Mmm.. cute.. Tapi tidak kekanak-kanakkan. Juga tetap cantik. Dan terpenting, jangan sampai pria merasa aku gadis kecil..” ucapnya.

Aku mengangguk mengerti. Lalu mengeluarkan apa yang kubutuhkan. Setelah pelatihan beberapa bulan, aku sudah bisa melakukannya dengan baik.

Manajer Yong memperhatikan caraku merias wajah Jihyun sambil tersenyum, kurasa karena ini dia memilihku. Selera gadis ini sama sepertiku.

Setengah jam kemudian.

Aku memberikan serbuk gemerlapan di bawah mata Jihyun sebagai sentuhan terakhir dan memperhatikan wajahnya, “Selesai..”

Jihyun sejak aku mulai merias wajahnya masih terlihat sebal, aku agak khawatir menunggu reaksinya. Ia memandang pantulan wajahnya di cermin.

Deg! Jantungku berdegup kencang melihat ekspresinya, ia tampak terpaku dan memandang kedua sisi wajahnya.

Jihyun memegang dagunya dan memperhatikan bagaimana wajahnya sekarang terlihat.

Manajer Yong bangkit dan berjalan ke belakang Jihyun, “Jadi, bagaimana menurutmu?”

Jihyun melirikku, lalu mengambil ponselnya di atas meja, “Tidak buruk, aku suka dia..” jawabnya tanpa memandangku.

Aku tertegun mendengar jawaban Jihyun dan memandang Manajer Yong yang tampak tersenyum padaku, lalu menjabat tanganku.

“Selamat bergabung Kim Hyuna-ssi..” ucapnya.

“Ne? Aku diterima?” tanyaku tak percaya bercampur bingung.

“Keurom.. kenapa kau terkejut begitu?” Tanya Manajer Yong lucu.

“Tapi tadi mereka bilang aku tidak masuk kriteria..” jawabku bingung.

Manajer Yong tertawa kecil, “Mereka mencari make up artis magang untuk artis-artis baru juga untuk meringankan pekerjaan mereka, kau tidak akan bekerja untuk disana. Tapi bekerja untuk aktrisku, Nam Jihyun..” ucapnya sambil memegang bahu Jihyun.

Aku menatap Jihyun tak percaya, ‘Dia seorang aktris?! Jinja? Apa aku ketinggalan sebagian besar perkembangan Halyu sekarang ya?!’ batinku.

“Wae? Kau tidak mau?” tanya Manajer Yong ragu.

“Ne? Ani.. bukan begitu, kau bilang setelah aku lulus kursusku aku bisa menghubungimu. Tapi aku kan belum lulus..” ucapku menjelaskan.

“Kau bisa menyelesaikannya setelah bergabung bersama kami..” ucap Manajer Yong.

Aku menatap Manajer Yong tak percaya, perlahan bibirku membentuk senyuman dan mengangguk. “Ne, gamshamida..” ucapku.

Jihyun memandangku, “Nona Kim, aku ada pemotretan pukul 2 nanti. Aku ingin konsep girly..”

Aku mengangguk mengerti, “Ne, Jihyun-ssi..” ucapku sambil menahan senyuman.

 

=Kehidupan Hyunseung=

Hyunseung membuka matanya perlahan karena sinar matahari mengganggu tidurnya, ia mengerang pelan sambil bergerak bangkit dan merenggangkan tubuhnya. “Hyuna..” panggilnya sambil mengelus matanya, namun karena tak ada jawaban ia memandang sekitar bingung hingga ia menyadari aku sudah tidak tinggal disana lagi. Hatinya yang terasa baik-baik saja kembali remuk karena aku sudah tidak ada lagi saat ia membuka matanya juga saat ia memejamkannya lagi. Perlahan ia menyibak selimut dan turun dari tempat tidur.

Selesai mandi, ia menghampiri wastafel sambil memperhatikan wajahnya. Lalu membuka lemari diatas wastafel untuk mengambil sesuatu, namun saat itu ia langsung terpaku karena melihat tatto di dada kirinya. Sekali lagi, hatinya remuk karena aku hanya tinggal cerita disana.

Perusahaan Keluarga Jang.

Hyunseung duduk di ruangannya menyelesaikan pekerjaannya, ia melirik jam tangannya, “Oh.. hampir pukul 4..” ucapnya dan mengambil ponsel. Namun, sebelum ia memanggil nomorku, ia langsung berhenti. Baru saja, ia ingin bertanya apakah aku ingin makan malam bersamanya setelah dari kursus. Rasa remuk itu kembali menghampirinya dan ia tak bisa memungkiri perasaannya.

Nari yang berniat bermalam di apartemen Hyunseung keluar dari kamar dengan baju tidur sexy dan sengaja berlalu di depan pria itu yang sedang menonton tv. Namun pria itu tak memberikan reaksi apa pun. Ia berdiri di hadapan pria itu untuk menarik perhatianya, ternyata pria itu tidak memperhatikan tv melainkan sedang tenggelam dengan pemikirannya sendiri. Ia cemberut dan bergerak duduk di sebelah pria itu.

Hyunseung tersadar dari lamunannya dan memandang Nari, “Oh.. kau sudah selesai?”

Nari menatap Hyunseung sebal, “Waeyo? Kau terlihat tidak senang aku disini..”

“Ani, bukan begitu. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu..” ucap Hyunseung memberi alasan.

Nari awalnya masih terlihat sebal, namun tak lama tersenyum menggoda. “Apa kau lelah? Inginku hibur?” tanganya mengelus dada bidang Hyunseung.

Hyunseung menahan tawa mendengar pertanyaan gadis itu dan memegang tangan kiri yang ada didadanya. Saat itu, ketika memandang ke lengan mulus sang gadis, ia tertegun mengingat aku memiliki bekas luka yang terlihat seperti tatto. Ia memandang dada kirinya yang tertutup baju kaus. Saat itu ia merasa telah melakukan sesuatu yang salah.

Nari memandang Hyunseung bingung, “Hyunseung-ssi?” panggilnya, ia terkejut bulir air berjatuhan dari mata pria di depannya, “Hyunseung-ssi, waekeure?” tanyanya sambil memegang kedua pipi pria itu.

Hyunseung memandang Nari menyesal dengan mata memerah, “Ceseongeo, Nari-ssi.. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan seperti ini..”

Nari tertegun, “Ne?”

Hyunseung menarik kerah kausnya turun dan memperlihatkan tatto yang tertera disana, “Aku sudah menorehkan namanya disini, aku tidak akan bisa melupakannya..”

Nari memandang nama Hyuna di dada kiri Hyunseung dengan mata mulai penuh dengan air, lalu kembali memandang pria itu. Bulir air berjatuhan mewakili perasaannya. Tanpa mengatakan sesuatu ia langsung bangkit dan masuk ke kamar untuk mengganti pakaiannya.

 

=Keesokan Harinya=

Aku keluar dari tempat kursus sambil memandang jam tanganku, satu jam lagi aku sudah harus tiba di tempat wawancara Jihyun. Mungkin aku bisa makan dulu. Baru melangkah menuju kafe yang ingin kutuju, aku berhenti melihat siapa yang berdiri disana.

Hyunseung memandangku dengan tatapan menyesalnya, “Hyuna, apa tidak ada kesempatan kedua untukku?”

Hatiku kembali bimbang, aku merasa tidak berdaya melihat ekspresinya. Tapi aku tidak boleh menyerah, aku harus melepaskannya. “Mian oppa, aku tidak bisa..”

Hyunseung tampak terluka karena ucapanku, “Hyuna..”

Aku menunduk sedih dan langsung melangkah pergi. Aku tidak ingin makan lagi, aku langsung menghentikan sebuah taxi dan masuk. Disana, disaat aku melarikan diri dari pria yang kucintai. Bulir air mataku berjatuhan begitu saja. Suara-suara di kepalaku kembali bermunculan. ‘Kenapa aku tidak memberikannya kesempatan kedua? Dia sudah sangat menyesal hingga datang kemari untuk menemuiku.’ Dan jawaban dari dalam diriku akan kembali membungkam suara-suara itu. ‘Apa aku harus terluka lagi saat Hyunseung kembali merasa perubahan perasaannya?’ cukup, tak ada suara lagi. Yang tersisa rasa sakit dihatiku, sangat sakit!

 

=Seminggu Kemudian=

Hyunseung duduk di ruangannya sambil mengacak-acak rambutnya frustasi, ia tak bisa berkonsentrasi dan tidak ada pekerjaan yang ia selesaikan. Pikirannya hanya di penuhi oleh diriku. Apa pun yang ia lakukan, dunianya terasa berhenti karena aku tidak ada lagi disisinya. Ia berpikir sejenak, “Bagaimana caraku membuktikan semuanya, Hyuna?” gumamnya. Sebuah ide muncul di keplanya, bibirnya membentuk senyuman dan langsung mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang.

“Ne, Hyunseung..” sapa Dujun di seberang.

Hyunseung tersenyum lebar, “Dujun, aku akan kembali menjadi seniman..”

Hening sejenak, “Mwo?”

“Sampai jumpa..” ucap Hyunseung ceria dan memutuskan telepon, lalu bangkit dengan barang-barangnya. Wajahnya dihiasi senyuman cerah.

“Anda akan pergi, sajangnim?” Tanya sekretaris Hyunseung.

Hyunseung berhenti dan tersenyum pada sekretarisnya, “Sekretaris Ham, ini adalah hari terakhir aku menjadi direktur. Terima kasih bantuanmu selama ini..” ucapnya, lalu melangkah riang pergi. Namun sebelum menuju pintu depan, ia teringat Nari dan memutuskan untuk menemui gadis itu dulu.

Nari yang sedang berjalan di lorong tertegun melihat Hyunseung berjalan dari arah berlawanan dengannya, ia menunduk dan membungkuk sopan.

Hyunseung tersenyum hangat, “Kim Nari-ssi..”

Nari memandang Hyunseung sekilas dan kembali menunduk, “Ne, sajangnim..”

“Cesongeo, aku sudah membuat semuanya kacau. Pertemanan kita juga hilang begitu saja akibat keegoisanku.” Ucap Hyunseung menyesal.

Nari memandang Hyunseung tak mengerti.

Hyunseung kembali tersenyum dan memegang tangan Nari, “Kau akan mendapatkan pria yang lebih baik dan mengerti dirimu.” Ucapnya, lalu membungkuk sopan dan berbalik pergi.

Nari mengerutkan dahi memperhatikan Hyunseung pergi.

 

=Rumah Keluarga Jang=

Hyunseung menghampiri Tuan Jang dan Geurim yang duduk di bangku taman dengan senyuman manisnya, “Annyeonghaseo abeutji..” sapanya sambil membungkuk sopan.

Tuan Jang memandang Hyunseung bingung, “Kenapa kau datang di jam bekerja seperti ini?”

Geurim terlihat masih kesal karena kelakuan kakaknya dan meletakkan cangkir di tangannya, “Aku akan masuk..” ucapnya sambil bangkit.

“Aniya..” ucap Hyunseung, membuat adiknya berhenti dan memandangnya bingung karena ia terus tersenyum cerah seperti itu, “Aku akan menyampaikan sesuatu..”

“Mwo?” Tanya Tuan Jang ingin tau.

Hyunseung memandang ayahnya masih dengan senyumannya dan tidak ragu sedikit pun, “Abeutji, hari ini aku menyampaikan pengunduran diriku..”

Tuan Jang and Geurim tertegun dan menatap Hyunseung tak percaya.

“Hyunseung, apa-apaan kau?!” Tanya Tuan Jang kesal.

“Oppa, kenapa kau memutuskan sepihak seperti ini?” Tanya Geurim tak mengerti.

“Apa pun yang abeutji katakan, aku tidak akan mengubah keputusanku..” ucap Hyunseung, lalu membuka jas yang ia kenakan dan meletakkannya di meja. Kemudian mengeluarkan dompet dan mengeluarkan semua uang tunai dan kartu kreditnya, juga meletakkannya di atas meja. Tidak lupa dengan kunci mobilnya. “Aku mengembalikan semua fasilitas yang kau berikan abeutji..” ucapnya tanpa beban, lalu membungkuk sopan dan melangkah pergi.

“Ya!! Jang Hyunseung!!” seru Tuan Jang marah.

“Gwenchana appa, aku akan berbicara dengan oppa..” ucap Geurim menenangkan ayahnya, lalu bangkit dan mengejar Hyunseung. “Oppa..” panggilnya sambil melangkah cepat dan menarik lengan kakaknya.

Hyunseung berhenti dan memandang adiknya, “Ne..”

“Oppa, waekeure? Appa sudah mulai tenang dengan keputusanmu meneruskan perusahaan dan kenapa oppa seperti ini lagi?” Tanya Geurim tak mengeti.

Hyunseung tersenyum dan membelai rambut adiknya, “Aku tidak cocok duduk di kantor mewah itu, kau yang cocok..”

Geurim mengerutkan dahinya, “Oppa! Ini tidak lucu!”

Hyunseung memegang kedua bahu adiknya dan menatap gadis itu dalam, “Aku tau kau bisa menangani perusahan appa, kau yang lebih pantas dari padaku.. Jadi, aku mempercayakan posisiku untukmu..”

“Oppa, appa…”

“Sshh! Jangan katakan apa pun tentang appa!” potong Hyunseung, lalu kembali tersenyum. “Jika appa tidak percaya, buktikan padanya. Kau gadis tangguh yang luar biasa.”

Geurim menatap Hyunseung tak mengerti, “Tapi kenapa oppa? Hidupmu harus berjalan seperti ini, kenapa kau mengubahnya?”

Hyunseung menggeleng, “Ani.. Hidupku ada di tempat lain.. Hidupku adalah Kim Hyuna..” ucapnya.

“Apa maksudmu?” Tanya Geurim.

“Miane, oppa sempat mengecewakanmu..” ucap Hyunseung menyesal, “Oppa telah kehilangan Hyuna, jadi aku harus mendapatkan lagi.. Kau mengertikan?”

Geurim tertegun mendengar ucapan Hyunseung, “Oppa..”

Hyunseung tersenyum hangat, “Keure, oppa percaya padamu.”

Geurim tersenyum dan mengangguk, “Ne, oppa..”

Hyunseung memeluk adiknya erat beberapa saat, lalu melepaskannya lagi dan mengelus rambut gadis itu. “Oke, oppa harus mendapatkan Hyuna lagi. see you..” ucapnya sambil melangkah mundur dan berbalik.

“Oh.. oppa, cangkaeuman..” panggil Geurim.

Hyunseung berhenti dan memandang adiknya. Ia bingung melihat gadis itu menghampirinya sambil mengeluarkan dompet, lalu memberikannya uang tunai.

“Oppa, paling tidak kau harus memiliki uang untuk naik taxi dan makan malam ini..” ucap Geurim sambil memberikan uang tadi ke tangan Hyunseung.

Hyunseung tertawa kecil dan mengangguk, “Gumawo..” ucapnya, lalu melangkah pergi.

 

 

=Setahun Kemudian=

Saat ini, aku tidak lagi ada di dunia karena takdir. Tapi karena aku harus menjalani hidupku dengan bahagia. Sekarang aku bukan lagi gadis biasa yang tidak di kenal, sekarang aku adalah make up artis terkenal yang telah mengeluarkan buku panduan make up-ku sendiri.

“Nona Kim! Ada sesuatu untukmu..” panggil seorang pegawaiku. Ne, aku sudah memiliki sebuah salon atas namaku sendiri sejak Jihyun menjadi bintang besar di Korea dan Holliwood. Meskipun sedih tidak bisa menjadi make up artisnya lagi, aku senang dia bisa terus berkarir dan menjadi semakin tenar di Amerika.

Aku yang sedang memeriksa keadaan alat make up memandang kearah karyawanku itu, “Mwo?”

Karyawan itu menghampiriku, “Ini, ada undangan pameran untukmu..”

Aku mengerutkan dahi, “Ne? pameran? Maksudmu fashion show?” tanyaku memastikan sambil menerima undangan tadi.

“Aniya nona Kim, benar-benar undangan pameran..” ucap karyawanku meyakinkan. Ia membungkuk sopan dan melangkah pergi.

Aku memperhatikan undangan itu dan membuka bungkusnya, lalu melihat pameran apa itu. “Pameran seni.. kenapa aku diundang keacara seperti ini?” gumamku tak mengerti. Apa aku harus pergi? Atau tidak? Tapi aku sudah di undang..

 

=Hari Pameran=

Seorang pria memberikanku sebuah buku panduan begitu aku melangkah masuk. Aku mengambilnya dan melihat-lihat apa saja yang ada disana. Disisi kiri gedung bagian pameran lukisan, kurasa aku akan kesana dulu. Hmm.. aku tidak terlalu mengerti tentang lukisan, tapi lukisan disini memang mengesankan. Sebenarnya aku juga termasuk seniman, jika pelukis menorehkan kuas di kanvas, aku menorehkan kuas ke wajah seseorang. Hehehe..

Oke, setelah puas melihat lukisan-lukisan disana. Aku menuju sisi lain ruangan yang memajang seni pahat seperti patung. Juga ada pajangan seperti lukisan namun di ukir menggunakan kayu. Wow.. ini benar-benar karya seni. Pasti orang yang membuatnya memiliki tangan dewa. Hihihi.. aku melangkah sambil memperhatikan karya seni yang ada disana, hingga aku menyadari ada sebuah patung pahatan besar yang menyerupai seorang perempuan di tengah ruangan. Wuaaa.. ini benar-benar keren.. Aku melangkah kesana untuk memperhatikan lebih dekat. Pahatannya benar-benar terlihat nyata, lekuk tubuhnya, bentuk wajah, rambut panjangnya, dan sesuatu di lengan dan pahanya. Tunggu! Apa itu?

Mataku menyipit dan melangkah lebih maju lagi untuk melihat apa yang tertera di bagian lengan kiri dan paha kiri patung wanita itu. ‘Kim Hyuna? Benarkah? KIM HYUNA?!! Bagaimana mungkin?’ batinnku sambil memandang bekas luka di lengan kiriku, kemudian kembali memandang pahatan itu. sebentar, apa patung ini aku? Siapa yang membuatnya seindah ini?

“Kau sudah melihat kembaranmu?”

Aku tertegun mendengar suara itu, perlahan aku berbalik dan melihat Hyunseung berdiri disana sambil tersenyum.

“Bagaimana menurutmu?” Tanya Hyunseung sambil melirik patung pahatannya.

Aku memandang patung itu dan kembali memanang Hyunseung, “Oppa, kau membuatnya?”

Hyunseung mengangguk dan tersenyum manis, “Othe?”

“Tapi, bagaimana kau bisa membuatnya? Kau kan melanjutkan perusahaan ayahmu..” ucapku tak mengerti.

“Berkat kau, aku berubah pikiran dan tetap teguh pada impianku. Menjadi seniman pahat, seperti yang sering kuceritakan padamu dulu..” jawab Hyunseung.

“Ne? lalu, perusahaan ayahmu?” tanyaku tak percaya.

“Jangan khawatir, adikku yang memegangnya sekarang..” jawab Hyunseung santai, lalu memandang pahatannya itu sambil tersenyum.

Aku menghela nafas dalam dan kembali memandang patung itu, Hyunseung melangkah ke sisiku untuk melihat lebih dekat.

“Selama setahun aku terus berusaha menyempurnakannya.. Tapi tetap tak terlihat seperti aslinya..” ucap Hyunseung terdengar kecewa.

Aku memandangnya dan memperhatikan patung itu, sebenarnya itu sangat mirip. “Mmmm.. gwenchana oppa, sekilas sudah terlihat sepertiku..” ucapku membesarkan hatinya.

Hyunseung menoleh kearahku, “Maksudku, aku tidak akan pernah bisa membuat pahatan yang bisa menggantikanmu Hyuna..”

Aku tertegun dan memandangnya.

Hyunseung kembali tersenyum, “Aku pernah berkata kau adalah karya seni terindah yang Tuhan ciptakan untukku kan?”

Tiba-tiba wajahku terasa panas dan mataku mulai di penuhi air, aku memalingkan wajahku agar dia tak menyadarinya.

“Hyuna..” Hyunseung mengulurkan tangannya untuk memegang tanganku, tapi aku menepisnya.

“Mian oppa, aku harus pergi..” ucapku dan langsung melangkah pergi.

Hyunseung tertegun dan langsung mengikutiku, “Kim Hyuna..” panggilnya, namun aku benar-benar tak bisa bertemu dengannya saat ini. Aku harus pergi. Dia tetap mengejarku hingga kami keluar dari kawasan pameran dan langkahku terhenti karena ia berhasil menarik tanganku. Ia membuatku berhadapan dengannya namun aku terlalu takut memandang wajahnya. “Jebal, jangan tinggalkan aku lagi Hyuna..” pintanya sepenuh hati.

Aku menatapnya tak mengerti, “Oppa, semuanya sudah berlalu.. Lupakan semuanya. Kau bisa memulai hidupmu lagi, temukan gadis lain yang lebih pantas. Kenapa kau seperti ini?!”

Hyunseung diam menatap kedua mataku, “Setelah bulan ini, masih ada bulan yang lainnya. Tahun lainnya. Senyuman lainnya. Air mata juga musim yang lainnya. Tapi tidak ada kau yang lainnya, Hyuna..” ucapnya sepenuh hati hingga menusuk ke hatiku. “Kau hanya satu, Kim Hyuna. Bagaimana aku bisa mencintai gadis lain saat hatiku sudah tertuju padamu?”

Tes..

Sebulir air jatuh ke pipiku menatap kedalam matanya. Aku segera menunduk sambil menarik tanganku, “Kemanhe oppa, aku tidak seperti gadis lainnya yang berasal dari keluarga berada. Aku hanya gadis beruntung yang mendapat kebaikan hatimu..”

“Ne, kau benar.. Kau hanya gadis beruntung. Karena itu aku menunggu hingga kau merasa pantas bersamaku, Nona Kim..” ucap Hyunseung pelan.

Aku tertegun ia memanggilku dengan nama itu dan memandangnya tak mengerti.

Bibir Hyunseung membentuk senyuman bangga, “Kau sudah bekerja dengan keras untuk menjadi seorang make up artis yang terkenal Hyuna, aku selalu mengikuti perkembanganmu dan mendoakanmu dari jauh. Aku ingin kau berada di puncak karirmu dan sekarang aku yang berada di bawahmu, apakah itu belum cukup?”

Aku benar-benar tak mengerti, apa yang di bicarakan Hyunseung? Dia apa?

Hyunseung memegang kedua pipiku dan menatap mataku dalam, “Aku tidak butuh seseorang yang sempurna, aku ingin seseorang yang membuatku merasa sempurna karena dia ada disisiku. Kau membuatku merasa seperti itu, Hyuna..”

Bulir air mataku kembali berjatuhan mendengar ucapannya, “Oppa..”

Hyunseung tersenyum, lalu melepaskan kedua tangannya dari pipiku dan mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Aku terkejut melihatnya berlutut di depanku sambil menyodorkan sebuah kotak berisi cincin.

“Oppa, apa yang kau lakukan?” tanyaku karena orang-orang mulai memandang kami.

“Kim Hyuna-ssi, would you marry me?” Tanya Hyunseung lantang.

Aku terpaku mendengar pertanyaannya, dia sedang melamarku?

“Aku tidak ingin lagi memahat sebongkah kayu agar terlihat sepertimu, tapi aku ingin dirimu seutuhnya. Aku menyadari kesalahanku dimasa lalu dan aku telah memperbaiki diriku selama setahun ini. Mungkin seharusnya aku menyerah saat kau memintaku berhenti, tapi aku tidak bisa. Aku telah memberikan diriku padamu, sekarang kau bisa memutuskan untuk mematahkanku atau menjadikanku pria yang paling beruntung di dunia ini..” ucap Hyunseung masih dengan posisi itu.

Hatiku tersentuh dan terasa berbunga-bunga karena ucapannya. Dia benar-benar… air mataku terus mengalir tapi aku tidak bisa menahan senyumanku. Dia memang Jang Hyunseung, pria yang membuatku merasa diinginkan, merasa dicintai dan sangat takut untuk berjalan sendiri. Aku mengulurkan tangan kiriku untuk dipasangkan cincin sambil tersenyum, “Kau adalah pria paling beruntung sekarang..” ucapku.

Hyunseung tersenyum lebar dan memasangkan cincin tadi ke jariku, terdengar tepuk tangan dan gumaman kagum dari orang sekitar kami. Namun kami terlalu sibuk dengan dunia kami saat ini. Ia bangkit dan langsung memelukku erat. “Saranghae Hyuna..” bisiknya di telingaku.

Air mataku kembali berjatuhan mendengar ucapan lembut itu, “Saranghae, Jang Hyunseung..” balasku.

 

=Sebuah Hotel=

“Oppa… ppaliwa!” panggilku dari pintu hotel dengan dress selutut dan topi jeramiku.

Hyunseung melangkah menghampiriku dengan wajah cemberutnya, “Wae? Lebih baik kita menghabiskan waktu di hotel..” protesnya.

Aku tertawa kecil sambil menggenggam tangannya, “Oppa, waktu kita di Paris hanya beberapa hari. Kita harus mengunjungi tempat-tempat indahnya. Khaja..” aku langsung menariknya keluar meskipun ia tetap cemberut tidak mau pergi.

Di sebuah tempat bersejarah yang memiliki pemandangan indah.

“Wuaaaa.. liat itu!” ucapku terkesima, namun tidak ada yang menjawabnya. Aku menoleh kesisiku. Tidak ada Hyunseung, “Hm? Dimana dia?” gumamku sambil mengedarkan pandanganku. Dahiku berkerut melihat pria itu sedang berbincang dengan seorang gadis bule dan terlihat tertawa kecil, “Aissh.. tadi ia cemberut dan tertawa bersama gadis itu? aissh..” aku melangkah menghampiri pria itu dengan kedua tangan terlipat di dadanya.

Hyunseung yang sedang tertawa terdiam ketika melihatku dan menunduk canggung, lalu berbicara dengan gadis tadi dalam bahasa Perancis. Gadis itu memandangku dan mengangguk sambil tersenyum, lalu mengatakan sesuatu dalam bahasa Perancis juga dan pergi.

Aku menatap Hyunseung kesal, “Kau tidak berubah juga? Ini bulan madu kita oppa..”

Hyunseung tertawa kecil, “Arayo, karena itu aku bertanya dimana tempat yang romantic untuk pengantin baru..”

Aku tidak bisa mempercayainya begitu saja, “Jangan berkelit, dia terlihat tertarik padamu. Ahh.. sudahlah, lebih baik kembali..” ucapku sambil melangkah pergi.

Hyunseung tertawa kecil lagi dan mengukutiku, “Aku benar Hyuna, dia berkata untuk pengantin baru sebaiknya tetap di hotel dan pulang dengan kabar baik.”

Langkahku terhenti dan menatapnya dengan wajah memerah, “Mworagu? Jangan mengarang oppa!”

Hyunseung berhenti di depanku dan memegang kedua bahuku, “Keure, yang terakhir tadi aku mengarang..” ucapnya jujur, “Gadis tadi memberitauku kalau kau sangat cantik…”

Aku kembali cemberut, “Jangan bercanda!”

“Ne.. ne.. aku hanya iseng bertanya namanya..” jawab Hyunseung jujur.

Aku menatapnya kesal, lalu menjewer telinganya kembali ke hotel. “Dasar pria tak bisa di percaya..” ucapku sendiri.

“Aw! Aw! Hyuna! Ya!!” rintih Hyunseung kesakitan, tapi aku tak peduli dan terus menyeretnya.

===The End==

Advertisements

14 thoughts on “I’m So Lonely 2

  1. Akhirnya ada ff 2hyun lagi 🙂
    Hyunseung tega banget, pake selingkuh segala…
    Kasian hyuna nya..
    Aku kira akhirnya sad end untuk 2hyun, hyunseung – nari dan hyuna – junhyung..
    Tapi, untung aja Happy end untuk 2hyun 🙂
    Di tunggu ff 2hyun yang lain 🙂

  2. Aahhh.. akhirnya FF nya keluar!! lalalala~~ xD
    Seperti fanfic2 sebelumnya, fanfic kak hanna emg gk pernah ngecewain!!
    Sedih waktu tau Seung nyakitin Hyuna lagi 😦
    tapi untung Seung bisa berubah dan sadar lagi 😀 terharu waktu Hyunseung ngelamar Hyuna di depan org banyak :3
    Ending nya lucu deh, wkwkwk xD

  3. Wuuuuaaaaaahhhhh….
    Akhrnya da ff 2hyun lg 😀 squel i’m so lonely keerrrrreeeeennnnn…
    Hyunseung tega slingkuh ma nari tp untung nya pet sdar n insyaf..
    Hehehe..
    Ending nya lucu..
    Di tggu ff 2hyun ya lain 😀
    author daaeeebbbbaaaakkkkkk

  4. Bru kali ini aq bsaa sebel am my bebs seungie , rasa.a tuh pengen buang dya ke jurang , hahahahaha
    tega bgt selingkuh dr hyuna , ckckc cw nya jg kecentilan bgt seh , aishh ksel bgt kl denger nama nari , kkkkk
    ahh seperti biasa ff mu slalu bikin mewek hanna 😥
    apalgy pas seungie blng , semua orang bsaa berubah hyuna , aish rasa.a tuh pgen jambak rambut tuh cwe :/
    aq bener setuju deh am smua perkataan dujun ke seungie (y)
    aish ade ipar gw knp gg jambak rambut tuh cw aja seh , geurim kn terlalu baik , aishh kesell sampe ke ubun” -_-
    hyuna hrus nya jgn langsung diterima lamaran.a biarkan seung ngejar” sampe nanggis darah bru terima deh , hahhha
    tp ending nya bikin gemes , dasar bebep gw genit #jitakseungie :p
    yang penting happy ending bwt 2hyun 😀
    aigoo aigoo coment apa curhat , hahhahahaha
    oke maaf kl coment ku terlalu frontal , kkkkkk xD

  5. Hatiku sangat sakit mendengar
    pertanyaannya. Aku pernah
    mendengar, saat seseorang
    berselingkuh dari pasangannya, dia
    akan mencurigai pasangannya
    melakukan seperti apa yang ia
    lakukan. Kurasa sekarang aku
    mengerti. “Oppa, siapa gadis itu?”
    Tanyaku pelan.

    itu bagian menyedihkan…
    tp Akhirnyaaaaa….

    happy ending..
    wuaaahh good job thor

  6. Wuahhhh ada ff 2hyun baru ^_^
    Pertama tama bacanya ngerasa kesal sama hyunseung -_- karena selingkuh
    Kacian uri hyuna heheheh
    untungnya hyunseung bisa sadar kalau dia itu mencintai hyuna 🙂 yessss happy ending^_^
    Ditunggu next ff 2hyun again^_^
    DAEBAK BUAT THORRR^^

  7. Hannaaa ff kamu emang juara deh, paling bisa bikin aku nangis ㅠㅠㅠㅠㅠㅠ tapi tetep ada comedy sama romance nya ♥♥♥ keep writing yaa~~!

  8. Annyeong! Wahhhh author sumpahh ini ff yang terbaik dehh. Gara-gara baca ff buatan author, jadi ikut-ikutan nangis dah, hahahahahaha. Buat yang banyak ya thor ff 2hyun nya!!!!! Okeokeoke;)) , Fightingg buat author!!!!

  9. Annyeong Eonni! Saya disini new reader’s , numpang baca FF disini ya Eonni, keep writing FF 2Hyun Eonni! Terima kasih😊😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s