Chapter

I’m With You [Chapter 8]

8

—My Feeling For You—

 

Setelah berbelanja mereka memutuskan untuk makan dulu sebelum pulang. Disini, suasanya tidak begitu nyaman.

Fei duduk di antara Narsha dan Chansung, sementara Jiyeon dan Joon di depannya.

“Fei.. Makan yang banyak, kau kan baru sembuh..” Ucap Joon sambil memberikan potongan daging di piringnya ke piring Fei.

Fei tersenyum, “Gumawo..”

Chansung melirik Fei sebal dan memasukkan makanan ke mulutnya.

“Ya.. Kita kan tidak ada misi selama proses penyelidikan ini. Apa yang akan kita lakukan?” Tanya Narsha.

Jiyeon memandang Narsha sambil mengunyah, lalu menelannya dengan cepat. “Eonni, apa aku boleh ikut pelatihan nail art?” Tanyanya dengan mata berbinar.

“Nail art? Hmm.. Keure..” Ucap Narsha setuju.

“Yeaaay..” Ucap Jiyeon girang.

Narsha memandang Fei dan Chansung, “Lalu kalian?”

“Mmm.. Aku belum memikirkannya..” Ucap Fei.

“Aku juga..” Jawab Chansung.

“Noona, Fei akan menghabiskan waktu bersamaku. Kenapa bertanya lagi?” Tanya Joon sebal.

Semuanya memandang Joon aneh.

Fei tertawa kecil, “Aku tidak ada waktu untukmu..” Candanya.

Joon cemberut, “Waeee… Chansung pasti menghabiskan waktu bersama Jiyeon, kau tidak bosan sendirian?”

Jiyeon, Chansung dan Fei tertegun mendengar ucapan Joon.

“Hyung!” hardik Chansung kesal.

“Oppa! Aku kan sudah bilang akan ikut pelatihan nail art!” ucap Jiyeon sebal.

Joon memandang Jiyeon heran, “Wae? Setelah itukan kalian bisa saling bertemu.. Seperti tadi malam..”

Ketiga orang tadi kembali tertegun akibat ucapan menusuk Joon.

Narsha memandang Joon bingung, “Tadi malam? Apa yang terjadi tadi malam?”

“Tidak terjadi apa pun eonni! Jangan percaya Joon oppa!” ucap Jiyeon sebal.

“Hyung kemanhe! Kau membuatku muak!” ucap Chansung kesal.

Joon tertawa geli.

“Apa sih? Beritau aku..” ucap Narsha sebal.

“Noona, semalam aku melihat Chansung masuk ke kamar Jiyeon.” Ucap Joon.

Mata Narsha membesar dan menatap Jiyeon dan Chansung tak percaya, “Omo! Kalian sudah sejauh itu?”

“Aniya eonni!” ucap Jiyeon sebal.

“Aissh.. hyung! Kau benar-benar!” ucap Chansung kesal, ia tertegun melihat Fei bangkit.

“Aku ke toilet dulu..” ucap Fei sambil melangkah pergi.

“Oppa! Lihat kan?!” ucap Jiyeon kesal pada Joon.

Narsha memandang Fei yang pergi, lalu memandang Chansung. “Apa dia tidak suka dengan hubunganmu dan Jiyeon?”

Chansung menghela nafas dalam dan bergerak bangkit, lalu mengikuti Fei tanpa menjawab.

“Hm? Ada apa dengan mereka?” Tanya Joon tak mengerti.

“Aissh.. kau masih bertanya oppa?!” Tanya Jiyeon kesal.

Sementara itu.

Fei berdiri di depan wastafel sambil memandangi pantulan wajahnya, “Kenapa kau merasa seperti ini?” gumamnya tak mengerti, lalu menghidupkan kran dan mencuci tangannya. setelah itu ia mengeringkan tangan di mesin otomatis yang tertempel di dinding, lalu keluar. Namun begitu pintu terbuka, ia tertegun melihat Chansung berdiri didepannya. “Chansung, apa yang kau lakukan? Ini toilet wanita..”

“Ada orang didalam?” Tanya Chansung.

“Hm? Ani..” jawab Fei. Ia terkejut tiba-tiba Chansung mendorongnya masuk ke toilet, “Chansung?!”

Chansung menutup pintu dan menguncinya, lalu berbalik menatap Fei. “Noona, apa kau memiliki hubungan dengan Joon hyung?” tanyanya serius.

“Mwo? Tentu saja tidak! Kenapa kau terus menanyakan…..hmmpp!!!” Mata Fei melotot menyadari Chansung menciumnya.

Satu tangan Chansung menahan tangan Fei yang berusaha mendorongnya, satu lagi menahan belakang kepala gadis itu agar tak bergerak.

“HMM!! Hmmmpp!!” protes Fei sambil berontak, hingga akhirnya ia berhasil mendorong pria itu untuk melepaskan ciuman mereka. Spontan tangannya melayang menampar pria itu dengan keras.

PLAKK!!

Wajah Chansung menghadap ke satu sisi akibat tamparan itu dan berdiam diri mengingat apa yang baru saja terjadi.

Fei menatap Chansung shock bercampur tak percaya, “Apa yang kau lakukan Hwang Chansung!!!” teriaknya, karena emosi yang terlalu memuncak bulir air berjatuhan begitu saja dari matanya.

Chansung memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan gadis yang lebih tua itu, lalu memandang Fei dengan wajah tanpa ekspresi. “Kau tau? rasa tamparanmu tidak sebanding dengan apa yang kurasakan saat Joon menyentuhmu, Wang Feifei..” ucapnya dingin, lalu berbalik menghampiri pintu, membukanya dan langsung keluar.

Fei tertegun Chansung menyebut nama aslinya setelah sekian lama, “Chansung..” panggilnya dengan suara tercekat karena terlalu shock, “Chansung..” panggilnya lebih keras sambil mengikuti pria itu. Ketika ia keluar dari lorong menuju toilet, ia tidak melihat Chansung dimana pun.

Dari tempat duduk, Joon melihat Fei keluar dan menyadari gadis itu terlihat panic, “Fei!!” panggilnya.

Fei memandang kearah suara Joon dan menyadari mereka yang ada disana memandang kearahnya, tapi tidak ada Chansung. Ia menyeka sisa air matanya dan menghampiri mereka, “Mana Chansung?”

“Ne? Tadi Chansung oppa pergi begitu saja eonni..” ucap Jiyeon bingung.

Fei memandang kearah pintu keluar kafe, tapi tak terlihat lagi Chansung disana.

“Fei, ada apa? Sepertinya kalian terlihat tidak akur akhir-akhir ini..” ucap Narsha khawatir.

Fei menghela nafas dalam dan bergerak duduk di tempatnya, “Kami hanya berbeda pendapat saja eonni..” jawabnya pelan.

“Jinja? Apa masalah kalian besar? Kau terlihat sehabis menangis.” Ucap Joon sambil memperhatikan wajah Fei.

“Gwenchana..” jawab Fei dan memandang ke makanan di hadapannya.

 

=Markas para Pencuri=

Fei masuk ke rumah bersama yang lain dan bertemu Seungho di ruang tengah.

“Oh.. kalian sudah pulang..” sapa Seungho.

“Ne, kami akan langsung membereskan ini..” ucap Narsha dan melangkah bersama yang lain menuju dapur dengan tas-tas belanjaan mereka.

Fei membiarkan yang lain melangkah duluan agar ia bisa berbicara bersama Seungho, “Oppa, apakah Chansung sudah kembali?”

“Chansung? Sudah.. sepertinya ia duduk di atap lagi.. Wae?” Tanya Seungho.

“Aniya..” jawab Fei sambil tersenyum, “Aku akan menyusun ini..” ucapnya dan melangkah menuju dapur. Hatinya lega ternyata pria itu tidak pergi ke tempat lain. Begitu ia tiba di dapur yang lain mulai menyusun barang di kulkas, lemari penyimpanan, juga di lemari cabinet. “Aku akan menyusun ini..” ucapnya sambil meletakkan tas belanjaan yang ia bawa ke meja dapur dan mulai mengeluarkannya satu persatu.

“Heihoo.. kalian sudah kembali..” ucap Nickhun begitu melihat teman-temannya di dapur sedang menyusun barang-barang.

“Hei..” sapa Narsha.

“Kalian sudah mendengar berita terbaru hari ini?” Tanya Nickhun sambil ikut membantu menyusun.

“Berita apa? Apa harga brand luar naik lagi?” Tanya Narsha panic.

Semuanya menatap Narsha aneh.

“Pastinya bukan itu noona..” ucap Nickhun sebal.

Narsha menghela nafas lega, “Syukurlah..” ucapnya sambil kembali melanjutkan kegiatannya.

“Lalu apa beritanya?” Tanya Fei ingin tau.

“Itu, psikolog yang memiliki piala di temukan mati di bunuh tadi pagi..” Jawab Nickhun.

Semuanya tertegun dan menatap Nickhun kaget, “Mwo?!”

Nickhun mengangguk, “Ne.. Dia di bunuh dengan sangat sadis sekali dengan senjata tajam. Di perkirakan sebuah pisau. Jantungnya tertusuk beberapa kali, juga isi perutnya sampai keluar semua..” ucapnya.

Mendadak wajah Jiyeon berubah pucat pasi mendengar keterangan Nickhun.

Sementara Fei, entah mengapa ia merasa senang mendengar pembunuhan sadis itu. mengingat bagaimana pria itu membunuh keluarganya dan Chansung dulu, ia tak terkejut jika pria itu mati seperti itu. bibirnya membentuk senyuman tipis dan melanjutkan pekerjaannya lagi.

“Wajar sih jika banyak yang dendam padanya, dia kan penjahat busuk..” ucap Narsha santai.

Jiyeon menelan ludah dan merasa sangat gugup, “Mmm.. aku ingin ke toilet..” ucapnya dan melangkah pergi.

“Well, kurasa dia bukan orang yang perlu di pertahankan di dunia..” ucap Joon cuek.

Fei yang sudah berbaring di tempat tidurnya melirik ke arah sofa yang masih kosong, Chansung tidak kunjung masuk ke kamar untuk tidur. Hal itu membuatnya khawatir, ‘Apa dia masih marah padaku?’ batinnya khawatir. Ketika ia hendak bangkit, ia berhenti. Sebenarnya ia belum siap untuk melihat keluar lagi. ia takut menemukan Chansung ada di kamar Jiyeon dan mungkin sedang melakukan sesuatu yang hanya mereka ketahui. Ia takut kenyataan itu membuatnya terluka tanpa sebab lagi. tangannya kembali menarik selimut dan membalik tubuhnya membelakangi sofa.

6 a.m

Fei terbangun seperti biasa, lalu bergerak bangkit sambil merenggangkan tubuhnya. Ia terpaku melihat Chansung ada di sofa dan tertidur pulas. Ia mengerutkan dahi, ‘Jika dia tidur di kamar jiyeon kenapa kembali kemari?’ batinnya bingung. Tangannya menyibak selimut dan melangkah keluar. Seperti biasa juga, ia akan memperbaiki selimut yang menutupi tubuh pria itu sebelum keluar. Namun kali ini, ia melihat selimut terdapat noda berwarna merah gelap. Tangannya langsung bergerak menyingkap selimut yang menutupi tubuh pria itu untuk melihat asal noda tersebut, matanya membesar melihat luka menganga di lengan kiri pria itu. “Oh! Chansung!!” panggilnya sambil memegang kedua pipi pria itu dan menepuknya pelan, memastikan apakah pria itu masih hidup atau tidak. “Chansung!! Bangun!!” ucapnya panic. Namun pria itu tak kunjung bangun, bulir air matanya berjatuhan karena panic, “Chansung!! Ya!! Hwang Chansung!!” serunya sambil mengguncang tubuh pria itu.

Chansung tersentak dari tidurnya dan menatap Fei kaget, “Mwoya noona?!” tanyanya kesal.

Fei terduduk lemas di lantai melihat Chansung hanya tertidur, bulir air matanya mengalir deras karena rasa panic yang masih menderanya.

Chansung memandang Fei bingung, “Noona waekeure?”

“Hwang Chansung! Kenapa kau tidur dengan luka seperti itu?! kupikir kau mati!!” teriak Fei.

Dahi Chansung berkerut, lalu memandang lengannya yang terasa nyeri.

Brakkk!! Pintu terbuka dan muncul penghuni rumah lainnya.

“Ya! Kenapa kalian berteriak pagi-pagi seperti ini?!” Tanya Seungho.

Fei memalingkan wajahnya sambil menyeka air mata dan bergerak bangkit, lalu melangkah keluar kamar menerobos orang-orang yang ingin tau apa yang terjadi.

Chansung bergerak duduk sambil memperhatikan Fei, “Ya! Hwang Fei!!” serunya memanggil, namun gadis itu terus pergi.

“Waekeure? Ada apa dengan kalian?” Tanya Narsha bingung.

Chansung memandang luka di tangannya, “Karena aku tidur seperti ini..”

“Omo! Ada apa denganmu?!” Tanya Narsha sambil menghampiri Chansung.

“Aku tidak tau lenganku terluka.. Pasti karena kawat di atap..” jawab Chansung.

“Omo.. itu sepertinya dalam sekali..” ucap Nickhun berkomentar.

“Jiyeon, ambil kotak P3K.” ucap Seungho.

“Ne..” jawab Jiyeon dan langsung melangkah pergi.

“Joon, panggil Fei. Dia yang biasa menjahit luka seperti ini..” ucap Seungho.

“Ne? hyung, dia baru saja bertengkar dengan Chansung.” Ucap Joon heran.

“Lalu kau yang akan melakukannya?” Tanya Seungho sebal.

“Aissh.. ne, aku akan memanggilnya..” jawab Joon cemberut sambil beranjak pergi.

Narsha memperhatikan luka Chansung dan memandang pria itu aneh, “Kau tidak tau kau terluka sedalam ini dan tidur begitu saja?”

“Ne..” jawab Chansung santai.

“Kau benar-benar..” ucap Narsha tak percaya.

……………………………………………………………………………

“Ahh..” rintih Chansung tertahan ketika Fei menancapkan jarum ke kulitnya, namun ia tak berani complain untuk memberitau gadis itu kalau bius yang digunakan belum bekerja seutuhnya.

Fei menjahit luka di lengan Chansung tanpa eskpresi dan hanya memandang luka di depannya.

Chansung hanya bisa menghela nafas dalam dan memandang Fei, “Noona..”

“Hmm..” gumam Fei tanpa mengalihkan pandangannya.

“Noona..” panggil Chansung lagi.

Fei memandang Chansung karena pria itu mengganggu konsentrasinya.

“BIsakah kau menunggu hingga biusnya bekerja?” Tanya Chansung menahan sakit.

Fei tertegun dan menatap luka yang sudah terjahit seperempat, lalu menatap Chansung kaget. “Mwo?! Kenapa kau tidak memberitauku?!”

Chansung memalingkan wajahnya sambil mengelus lengannya di atas lukanya untuk mengurangi sakit.

“Ohh.. eoteokhe..” ucap Fei panic. Setelah beberapa saat ia menyentuh permukaan luka tadi, “Apa masih sakit?”

Chansung menggeleng pelan, “Aniya..”

Fei menghela nafas lega dan kembali melanjutkan menjahit luka pria itu dengan hati-hati. “Apa kawat bisa membuat luka seperti ini?” tanyanya terdengar ragu.

Chansung memandang Fei kesal, “Jadi, jika aku mengatakan semalam aku dan Jiyeon bertengkar lalu dia melukai lenganku. Apa kau akan percaya?”

Fei memandang Chansung aneh, “Apa aku akan percaya Jiyeon akan melakukanya?” tanyanya sebal.

“Lalu, jawaban apa lagi yang ingin kau dengar? Bahwa aku menusuknya sendiri sebelum tidur? Itu?” Tanya Chansung menantang.

Fei memutar bola matanya kesal dan memfokuskan dirinya menjahit luka Chansung, setelah itu memutuskan benang dan memasangkan penutup luka. “Jangan menggerakkan lenganmu terlalu cepat, lukanya masih basah dan bisa robek lagi jika kau melanggar..” ucapnya sambil mengumpulkan peralatan medis yang mereka punya dan melepaskan sarung tangan karet dai tangannya.

Chansung memandang luka di tangannya dan memandang Fei yang menutup kotak P3K dan bergerak bangkit. Ia mengulurkan tangannya yang lain menahan tangan gadis itu.

Fei berhenti dan memandang Chansung.

Chansung memandang Fei, “Noona, kau tidak perlu khawatir lagi. mereka tidak mungkin menemukan kita..” ucapnya pelan.

Fei mengerutkan dahinya bingung, “Apa yang kau bicarakan?”

Chansung tersenyum, “Aniya.. Aku akan beristirahat sebentar..” ucapnya.

Fei mengangguk dan melangkah keluar. Sebelum menutup pintu ia memandang ke belakang dan melihat Chansung berbaring di sofa. Ia menghela nafas dalam dan melangkah keluar.

“Eonni, bagaimana Chansung oppa?” Tanya Jiyeon ketika melihat Fei bergabung dengan mereka di meja makan.

“Dia baik-baik saja, hanya luka luar..” jawab Fei.

“Fei, tadi pagi kenapa kau berteriak? Kupikir terjadi sesuatu..” ucap Nikchun heran.

Fei malu sendiri mengingat kejadian tadi pagi. Bibirnya bergerak menahan senyuman, “Aniya, aku terkejut melihat Chansung berdarah dan berusaha membangunkannya. Tapi dia tidak langsung terbangun dan membuatku panic, kupikir dia mati..” jawabnya pelan.

“Hmm.. kau dan Chansung itu kan sama, kalian tidak gampang mati. jadi tidak perlu khawatir padanya..” ucap Joon menghibur.

“Sudah, habiskan saja makananmu..” ucap Seungho yang muak dengan Joon yang terus mengoceh.

Jiyeon tertawa melihat wajah cemberut Joon.

“Oh iya, lalu bagaimana dengan calon pembeli itu? kapan dia akan tiba?” Tanya Narsha ingin tau.

“Ne.. sekarang dia sudah dalam perjalanan. Kurasa besok atau lusa mereka akan menghubungi kita..” Jawab Seungho.

“Oh ya, aku kemarin membaca di berita. Ternyata tiara yang kita curi itu juga barang curian, hmm.. pantas saja ada yang menginginkannya juga..” ucap Nikchun.

“Sudahlah.. yang terpenting kan kita mendapatkannya. Tinggal menunggu uang kita datang dan kita bersenang-senang..” ucap Joon bersemangat.

“Kalian tau, kemarin aku memeriksa piala dan tiara itu. kupikir ada ukiran china-nya, tapi aku tidak tau apa bacaannya..” ucap Seungho memberitau teman-temannya.

Fei tertegun dan memandang Seungho.

“Apa kita perlu tau apa artinya? Maksudku, jika ternyata itu lebih berharga dari yang kita pikirkan, kita bisa menjualnya dengan harga lebih tinggi kan?” usul Nickhun.

“Benar.. Mungkin saja kan jika kedua benda itu bisa di jual terpisah dan menghasilan uang yang lebih besar..” ucap Nasha sependapat.

Seungho tampak berpikir, “Mmm.. kalian benar juga..” ucapnya pelan.

“Tapi, jika orang yang ingin membeli itu merasa kedua benda itu sangat penting kenapa kita menjualnya pada orang lain?” Tanya Fei mengeluarkan pendapatnya, mambuat teman-temannya yang lain memandangnya bingung.

“Kenapa kau berpikiran begitu?” Tanya Narsha bingung.

“Mmm.. karena dia meminta kita menemukan dua benda itu..” jawab Fei.

“Tapi bisa saja karena dia ingin memanfaatkan jasa kita kan?” Ucap Nickhun, lalumemandang Seungho. “Hyung, aku punya kenalan yang juga mencari piala itu. Dia berani membayar seharga yang di berikan orang yang ingin kedua benda itu..”

Seungho menatap Nickhun tak percaya, “Mwo? Kau serius?”

“Wuaaa.. Daebak! Satu benda saja sebesar itu, bagaimana jika kita mendapat dua harga yang sama untuk dua benda itu. Kan keuntungannya lebih besar..” Ucap Narsha bersemangat.

“Keren! Coba hubungi mereka!” Ucap Joon pada Nickhun.

“Ne? Lalu bagaimana dengan orang yang sudah memesannya?” Tanya Fei.

“Aku akan membuat kesepakatan dengan mereka.Jika besok belum ada kepastian, kita jual pada orang lain..” Jawab Seungho.

“Ide bagus!” ucap Narsha senang.

Fei memandang teman-temannya tanpa mengatakan apa pun.

 

<<Back           Next>>

Advertisements

4 thoughts on “I’m With You [Chapter 8]

  1. Itu tangan chansung bener kena kawat?? teruss kenapa chansung bilang “mereka” gak mungkin nemuin fei ama dia lagi??
    next~~

  2. itu psikolog mati terbunuh jangan2 chansung pelakunya dan jiyeon yg membantunya secara wajah jiyeon yg tiba2 pucat saat mendengar berita itu dan luka yg chansung derita next

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s