Chapter

I’m With You [Chapter 7]

7

This is what I Feel—

 

Chansung membuka pintu kamar dan memandang kedalam, ia jadi gugup untuk bertemu Fei. “Noona?”

Fei yang duduk di pinggir tempat tidur memandang Chansung, lalu memandang ke bawah ketika pria itu melangkah masuk.

Chansung duduk di sofa berhadpan dengan Fei, “Noona, tentang video itu…” ia terdiam melihat tatapan gadis itu padanya.

“Tidak perlu mengatakan apa pun, tidak semua hal yang kau lakukan harus kuketahui. Gwenchana, kau sudah dewasa sekarang untuk melakukan apa yang ingin kau lakukan..” ucap Fei.

Chansung tertegun mendengar ucapan Fei, “Noona..”

Fei tersenyum tipis, “Makanlah dulu, aku membuatkan sup kesukaanmu.” Ucapnya.

“Noona, bukan itu yang akan kukatakan.. Aku…”

“Chansung..” potong Fei. “Tidak perlu canggung padaku, kita tetap melindungi apa pun yang terjadi kan?” ucapnya pelan, lalu tersenyum.

Entah mengapa, Chansung merasa terluka mendengar ucapan Fei. Ia tidak berharap akan mendengar itu.

Keesokan Harinya.

“Jadi kau berhubungan dengan Jiyeon?” Tanya Seungho.

Chansung memutar bola matanya kesal, “Aniya hyung.. Aku bahkan tidak pernah berdekatan dengannya..”

Seungho tertawa kecil dan memukul bahu Chansung pelan, “Ya.. kenapa kau malu? Kami semua sudah melihat buktinya..”

Chansung mendengus kesal dan bangkit, lalu melangkah pergi meninggalkan Seungho yang tertawa lucu. Ia naik ke atap rumah mereka dan duduk disana seorang diri sambil memperhatikan langit yang sudah memancarkan cahaya oren indah menandakan petang sudah menjelang.

Jiyeon yang merasa bersalah pada Chansung mengikuti pria itu ke atap. Ia membuka pintu menuju atap yang harus di dorong dari bawah dan melihat pria itu duduk seorang diri disana, “Oppa..”

Chansung mendengar panggilan Jiyeon dan memandang kearah pintu kecil itu.

“Oppa, apa aku mengganggu?” tanya Jiyeon.

Chansung menghela nafas dalam dan menggeleng, “Aniya, kemarilah..” panggilnya.

Jiyeon bergerak naik dan melangkah menghampiri Chansung, lalu duduk di sebelah pria itu. Keadaan menjadi canggung sejak Joon menyebarkan video salah paham pada seluruh orang di rumah, “Mmm.. mian oppa.”

Chansung memandang Jiyeon sejenak, “Tidak perlu.. Joon hyung yang memulainya..” ucapnya, lalu kembali memandang langit.

Jiyeon tersenyum mendengar ucapan Chansung, “Ne.. Joon oppa penyebabnya..” ucapnya menimpali.

Chansung tersenyum tipis, namun hatinya tidak benar-benar tersenyum.

Jiyeon memperhatikan ekspresi Chansung, “Waeyo oppa? Masih memikirkan tentang video palsu itu?”

“Aniya, aku memikirkan yang lain..” jawab Chansung tanpa memalingkan wajahnya dari langit.

“Mwo?” tanya Jiyeon ingin tau.

Chansung diam sejenak, lalu memandang Jiyeon. “Jiyeon, bisakah kau merahasiakan apa yang kita cari semalam dari Fei noona dan yang lain?”

Jiyeon memandang Chansung bingung, “Wae?”

Chansung memandang kebawah sedih, “Orang itu, adalah orang yang membunuh keluargaku dan Fei noona..” jawabnya pelan.

Mata Jiyeon melotot dan mulut terbuka kaget, “M-mwo?!”

Chansung kembali memandang Jiyeon, “Aku tidak ingin Fei noona mengetahui ini dan menjadi ketakutan, karena itu.. Tolong rahasiakan ini. Hanya kau dan aku yang mengetahuinya.”

Jiyeon tampak shock dan mengangguk mengerti, “Ne, oppa..”

Chansung tersenyum, “Gumawoyo..” ucapnya dan kembali memandang langit. Matahari semakin turun seiring berjalannya waktu, hingga ia mendapat sebuah ide. Kepalanya menoleh lagi pada Jiyeon, “Jiyeon, kau mau membantuku?”

Jiyeon terlihat bingung, “Bantu apa oppa?”

 

=Beberapa Hari Kemudian=

Fei melangkah menghampiri Seungho yang terlihat kesal memandangi layar ponselnya, “Oppa, waekeure?”

Seungho menghela nafas dalam dan memandang Fei, “Kita harus menunggu hingga orang yang menginginkan benda itu tiba di Korea. Dia ingin memastikannya sendiri..” ucapnya.

“Ne? Berapa lama kita harus menunggu?” tanya Fei ingin tau.

“Seminggu atau dua minggu, bisa juga lebih.. Arrrhh.. kita tidak bisa melakukan misi selama polisi masih melakukan penyelidikan..” ucap Seungho kesal.

“Hmm.. begitu.. keure, kurasa kita memang perlu berlibur..” ucap Fei sambil tersenyum.

Seungho tertawa kecil, “Ne, kau benar..”

“Aku akan menyiapkan makan malam..” ucap Fei sambil bangkit dan melangkah menuju dapur, saat itu ia tak sengaja mendengar dua orang berkomunikasi dengan berbisik. Ia berhenti dan memandang ke sebuah pintu, lalu membukanya.

Chansung dan Jiyeon yang sedang membicarakan sesuatu tertegun melihat pintu terbuka dan spontan memandang Fei kaget.

Fei tertegun melihat kedua orang itu disana bingung, “Sedang apa kalian disini?”

“Ne? Oh.. a-aniya.. kami tidak sedang apa-apa..” jawab Jiyeon gugup, sementara Chansung diam menatap Fei.

Fei memandang Chansung, lalu kembali memandang Jiyeon sambil tersenyum. “Mian, aku lupa tentang kalian.. Lanjutkan saja..” ucapnya sambil kembali menutup pintu dan melangkah menuju dapur.

Jiyeon memandang pintu bingung dan memandang Chansung yang terlihat tidak memperlihatkan ekspresi apa pun. “Oppa, apa tidak apa-apa seperti ini?”

Chansung memandang Jiyeon dan tersenyum tipis, “Gwenchana..” jawabnya. “Keure, ayo keluar..” ucapnya dan keluar duluan.

Makan malam.

“Hm? Kenapa ini rasanya agak tawar ya?” tanya Nickhun ketika memakan masakan Fei bersama yang lainnya.

Fei tertegun memandang Nickhun kaget, “Ne? Jinja?”

“Hmm.. ne, eonni. Rasanya sangat tawar..” ucap Jiyeon membenarkan.

Fei terlihat bingung sendiri.

“Waeyo Fei? Tidak biasanya kau memasak seperti ini..” ucap Narsha bingung.

“Ooh.. cesonghamida, aku tidak tau kenapa bisa seperti ini. Apa ingin kubuatkan yang lain?” tanya Fei.

“Aniya.. Gwenchana..” ucap Joon cepat, lalu memandang yang lainnya sebal. “Kenapa cerewet sekali hanya karena garam? Tambahkan saja sendiri..” ucapnya.

Chansung memandang Fei yang terlihat seperti biasa di matanya, lalu kembali memandang makanannya.

Kamar Fei dan Chansung.

Chansung yang sudah berbaring di tempat sofa melirik ke arah Fei yang tidur membelakanginya. Perlahan ia bangkit sambil menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, lalu menghampiri tempat tidur untuk memastikan gadis itu tidur atau tidak. Setelah yakin ia langsung melangkah menuju pintu.

Fei membuka matanya ketika mendengar suara pintu terbuka dan tertutup dengan sangat pelan. Ia berbalik dan memandang kearah sofa, kosong. Lalu memandang ke pintu. Dahinya berkerut dan menyibak selimutnya sambil menurunkan kakinya ke lantai, kemudian mengendap-endap menghampiri pintu dan membukanya. Sebelum keluar ia mengintip keluar terlebih dulu, namun tak melihat siapa pun di tengah kegelapan itu. Ia membuka pintu lebih lebar dan memandang keluar, dahinya berkerut melihat pintu kamar Jiyeon terbuka dan keluar Chansung. Ia segera kembali masuk dan menutup pintu tanpa menimbulkan suara. Ia tak beranjak dari tempatnya, ia masih berdiri menghadap pintu. Ia tidak tau mengapa, hatinya terasa sangat sakit. Ia tidak bisa menerima jika Chansung memiliki hubungan dengan Jiyeon. Ia berbalik dan melangkah menghampiri tempat tidur.

Ia berbaring di tempat tidur dengan selimut menutupi tubuhnya, namun matanya tak bisa terpejam karena Chansung tak kunjung kembali. Ia berusaha tidak memikirkannya dan memutar tubuhnya membelakangi sofa tempat dimana Chansung biasanya tidur.

6 a.m

Fei terbangun dari tidur dan membuka matanya perlahan, “Hmm..” gumamnya sambil merenggangkan tubuh dan bergerak duduk. Ia memijat pundaknya yang terasa pegal karena terjaga hampir sepanjang malam. Kepalanya menoleh ke arah Chansung dan melihat pria itu tidur pulas di sofa. Ia menghela nafas lega karena pria itu ada disana, juga terasa berat di hatinya mengingat pria yang sudah seperti adiknya itu memiliki hubungan spesial dengan Jiyeon. Perlahan tangannya menyibak selimut dan turun dari tempat tidur, sembari melangkah ke pintu ia menghampiri sofa dulu untuk memperbaiki posisi selimut Chansung dan berjalan keluar.

“Hei..” Sapa Joon begitu melihat Fei keluar kamar.

Fei memandang Joon dan tersenyum tipis karena rasa kantuk yang masih menggelayut di matanya, “Pagi Joon..” Sapanya pelan dan melangkah menuju kamar mandi.

Joon melangkah riang mengikuti Fei, “Fei.. Hari ini kau tidak ada rencana kan? Bagaimana jika pergi denganku?”

“Hm? Kemana?” Tanya Fei dan masuk ke kamar mandi.

Joon bersadar di dinding di sebelah pintu kamar mandi, “Kemana saja.. Yang penting kita pergi..”

Terdengar suara air dari dalam, “Aku tidak mood.. Lain kali saja..” Jawab Fei.

Joon cemberut, “Ahh.. Wae? Sekali ini saja.. Ayolah..” Bujuknya.

Bunyi air mati dan keluar Fei sambil mengusap wajahnya dengan handuk kecil, lalu memandang Joon. “Hari apa ini?”

“Hari Sabtu, polisi tidak terlalu sibuk dan kurasa pasti menyenangkan..” Ucap Joon bersemangat.

“Ya.. Ini kan hari berbelanja, bagaimana mungkin aku pergi denganmu. Kecuali kau ingin menemaniku dan Narsha eonni?” Tanya Fei.

“Ne?” Ucap Joon tak percaya.

 

=Mobil Menuju Pusat Perbelanjaan=

Joon cemberut karena ia yang harus menyetir dengan Narsha yang duduk di sebelahnya, sementara Fei duduk di belakang. “Kenapa aku yang menyetir sih?” Protesnya sambil mengendarai mobil.

Narsha menatap Joon aneh, “Kan kau yang ingin ikut, jadi kau yang mengendarai..”

“Aissh.. Lalu kenapa Chansung bisa melanjutkan tidurnya di belakang?!” Tanya Joon kesal.

Di kursi belakang.

Fei duduk di sisi kiri dengan Chansung di sebelahnya yang menyandarkan kepala ke bahunya. Di sebelah pria itu juga ada Jiyeon.

“Aissh.. Oppa! Sudah kendarai saja mobilnya!” Ucap Jiyeon kesal.

Chansung yang tidur di bahu Fei menghela nafas dalam dan memeluk lengan gadis itu untuk memperbaiki posisi tidurnya.

Fei memandang Chansung bingung, “Hmm.. Jika masih mengantuk kenapa dia ikut?”

“Keurom.. Dia kan ingin bersama Jiyeon..” Ejek Joon pada Jiyeon.

Fei tertegun dan memandang Jiyeon.

“Aissh! Oppa!!” Seru Jiyeon sebal.

“Wae? Kau iri? Karena itu kan kau memaksa ikut? Agar bisa bersama Fei?” Tanya Narsha yang langsung membuat wajah Joon merah padam.

“Ne! Wae?! Aku sangat menyukai Fei! Wae noona?!” Tanya Joon kesal.

Semua orang di mobil tertawa mendengar ucapan Joon, kecuali Chansung yang masih tenggelam di dunia mimpi.

Setibanya di Pusat Perbelanjaan.

“Eonni, aku akan mencari sayuran di sebelah saja..” Ucap Fei sambil mendorong troli ke arah sayuran.

“Eonni ikuuut..” Ucap Jiyeon sambil mengikuti Fei bersama Chansung.

“Nadooo…” Ucap Joon, tapi Narsha menarik kerah bajunya dari belakang. Ia berhenti dan menatap gadis itu sebal, “Ahhh.. Wae noona?”

“Yang lain sudah mengikuti Fei, kau ikut aku..” Ucap Narsha sambil menarik Joon.

“Aaaaaahh… Noonaa..” Rengek Joon sebal.

“Oke, sayur apa yang kita butuhkan?” Tanya Jiyeon sambil memandang sekitar.

Fei memandang sekitar, “Mmm.. Ini.. Ini.. Dan ini..” Ucapnya sambil mengambil beberapa macam sayuran dan meletakkannya ke dalam troli yang sekarang di dorong Chansung.

“Apa aku boleh memilih juga?” Tanya Jiyeon.

Fei mengangguk, “Keurom, ambil yang kau mau..”

“Yeaaay…” Jiyeon langsung menghampiri sayuran dalam kemasan dan mulai memilih antara corn-baby dan kapri.

Fei kembali melihat-lihat sambil melangkah kecil.

Chansung mengikuti Fei dengan bersama trolinya, “Noona..”

Fei memandang Chansung, “Ne?”

“Mmm.. Apa kau mulai tertarik pada Joon hyung?” Tanya Chansung ingin tau.

Fei tampak bingung, “Kenapa kau menanyakannya?”

Chansung menatap kedua mata Fei untuk melihat gadis itu gugup atau tidak, “Aku hanya ingin tau..”

Fei sama sekali tidak merasa gugup dan tetap membalas tatapan Chansung, “Wae? Apa kami terlihat mencurigakan?” nada bicaranya terdengar tidak senang.

“Noona, jawab saja iya atau tidak..” Ucap Chansung terdengar kesal.

Fei memutuskan kontak mata mereka dan kembali melangkah pelan sambil melihat-lihat sayuran, “Apa kau merasa aku akan menerima Joon yang menyukaiku setelah kau menerima Jiyeon yang menyukaimu?” Tanyanya pelan.

Chansung merasa terganggu dengan pertanyaan Fei dan langsung menarik tangan gadis itu untuk berhenti dan memandangnya, “Noona, kau tidak menjawab pertanyaanku sama sekali. Iya atau tidak?!” Tegasnya.

Fei menatap Chansung tak mengerti, “Chansung, aku tidak ingin bertengkar denganmu disini..” Ucapnya sambil melepaskan tangan pria itu, namun pria itu tetap mencengkeram tangannya. “Chansung!” Serunya tertahan sambil menarik tangannya lagi, tapi ketika ia menatap ke dalam mata pria itu, ia tertegun melihat pria itu terlihat marah.

Chansung diam menatap Fei marah. Mereka terdiam beberapa saat sambil saling menatap hingga Jiyeon datang membuyarkan keseriusan mereka.

“Eonni.. Aku ingin ini semua..” Ucap Jiyeon sambil memasukkan sayur kemasan yang ia ambil ke trolli.

Fei memutuskan kontak mata mereka dan melepaskan tangan Chansung dari tangannya.

Chansung juga memandang ke bawah dan menarik tangannya lagi.

Jiyeon memandang Chansung dan Fei bingung, “Waeyo?” Ucapnya curiga.

Fei memandang Jiyeon sambil tersenyum, “Aniya, hanya pertengkaran kakak adik, khaja.. Kita cari yang lain..” Ucapnya sambil merangkul gadis itu kembali berjalan.

 

 

<<Back           Next>>

Advertisements

6 thoughts on “I’m With You [Chapter 7]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s