Chapter

I’m With You [Chapter 6]

6

Look At Me

 

“Ahhh.. Eoteokhe? Fei eonni dan Chansung oppa sudah berhari-hari tak kembali! Eoteokhe eonni?” Tanya Jiyeon yang mulai menangis pada Narsha yang juga terlihat kalut.

Narsha memandang Seungho yang berdiri di tengah ruangan sambil memegang dahinya risau, “Ya, Seungho.. Apa yang harus kita lakukan sekarang? Bukankah kita harus mencari mereka?”

Seungho memandang Narsha, “Polisi sedang melakukan pencarian Tiara itu, kita harus menunggu situasi tenang dulu..”

“Hyung.. Bagaimana jika Fei ternyata sudah mati?” Tanya Nickhun.

Joon menatap Nickhun kesal, “Ya! Tutup mulutmu! Berapa kali harus kukatakan?! Fei bukan gadis yang bisa mati begitu saja!!”

Nickhun menatap Joon marah, “Berhenti Joon! Aku tau kau menyukai Fei! Karena itu kau selalu berusaha menentangnya! Kau hanya tidak ingin jika hal itu benar-benar terjadi kan?!!” Serunya.

Joon terdiam mendengar ucapan Nickhun dan bertatapan tajam dengan pria itu.

“Ya.. Sudah hentikan! Kalian membuat suasanya semakin rumit!!” Tegas Seungho.

Brakk!! Semuanya terkejut mendengar pintu terbuka dan berdiri menatapnya horor.

“Oh! Chansung oppa!!” seru Jiyeon tak percaya ketika melihat Chansung memapah Fei masuk.

“Chansung!! Fei!!” seru Narsha lega.

“Apa yang terjadi? Bagaimana keadaanmu Fei?” tanya Joon sambil menghampiri kedua orang itu.

Chansung berhenti di depan teman-temannya, “Cesongeo, seharusnya aku memberitau kalian dimana kami. Tapi aku sangat bingung dan memilih berdiam diri hingga keadaan tenang..”

Satu tangan Fei berada di pundak Chansung, yang satunya di tulang rusuknya yang masih terasa ngilu. “Cesonghamida..” ucapnya menyesal.

“Yang terpenting kalian sudah kembali, istirahatlah dulu..” ucap Seungho.

“Ne..” jawab Chansung dan membawa Fei ke kamar, “Hati-hati noona..” ucapnya.

Joon dan Jiyeon mengikuti kedua orang itu ke kamar.

Jiyeon masuk terlebih dulu dan menyibak selimut di tempat tidur Fei, “Ayo eonni, pelan-pelan..” ucapnya sambil membantu gadis itu duduk.

Chansung mendudukkan Fei di pinggir tempat tidur perlahan.

“Ahhh..” rintih Fei ketika bergerak duduk, lalu Jiyeon membantunya berbaring.

“Fei, apa kau terluka parah? Kenapa kau nekat memotog tali itu?!” tanya Joon tak mengerti bercampur marah.

Fei memandang Joon menyesal, “Aku tidak apa-apa Joon, hanya retak tulang rusuk. Tubuhku akan segera pulih..”

Joon menatap Fei dalam dan menggenggam tangan gadis itu, “Maaf, aku meninggalkanm dan Chansung saat itu..”

“Gwenchana, jangan memikirkannya lagi..”ucap Fei sambil tersenyum tipis.

Chansung menatap tangan Joon yang menggenggam tangan Fei kesal, terasa seperti ia ingin mematahkan tangan pria itu.

Jiyeon menyadari kedua tangan Chansung di perban, “Omo! Oppa! Ada apa dengan tanganmu?” tanyanya sambil memegang tangan pria itu.

Chansung menarik tangannya, “Aniya, hanya sedikit terluka akibat misi kita. Masuklah ke kamarmu, ini sudah larut..” ucapnya.

Jiyeon terseyum, “Ne, oppa..” ucapnya dan memandang Fei, “Eonni, istirahatlah dan segera pulih..”

Fei tersenyum dan mengangguk, “Ne..”

“Oppa, ayo keluar..” ajak Jiyeon sambil menarik Joon bangkit.

“Kau saja duluan, aku masih ingin disini..” ucap Joon sebal.

“Hyung, kau harus membiarkan Fei noona beristirahat..” ucap Chansung sambil menarik Joon juga dan mendorongnya keluar.

“Aissh.. kalian benar-benar bersekongkol!” ucap Joon kesal pada Jiyeon dan Chansung.

Chansung menutup pintu dan kembali menghampiri Fei dan duduk di lantai di sebelah tempat tidur.

Fei tersenyum melihat Chansung menatapnya dalam, “Tidurlah.. kau juga lelah.”

Chansung tersenyum sambil mengelus rambut Fei, “Ne.. Selamat malam..”

“Selamat malam..” ucap Fei.

Chansung bergerak bangkit dan berpindah ke sofa.

 

 

=Beberapa Hari Kemudian=

“Kami sudah mendapatkan Tiara dan Pialanya..” ucap Seungho di ruangannya ketika Fei berlalu.

Fei berhenti dan mendengarkan, satu tangannya memegang tulang rusuknya yang masih terasa nyeri jika bergerak terlalu cepat.

“Hmm.. baik, kita bertemu besok malam untuk membicarakan harganya..” ucap Seungho, “Keure, pastikan harga yang kalian berikan cocok untuk dua benda ini..” ucapnya lagi dan memutuskan telepon.

Fei menyadari dirinya tidak bisa terus berdiam diri disana dan segera melangkah pergi. Ia kembali teringat photo yang ia lihat saat mencuri piala waktu itu. Ia melirik kanan dan kiri, lalu melangkah pelan menuju ruang penyimpanan hasil curian mereka. Sekali lagi, ia melirik ke kanan dan kiri sebelum membuka pintu dan melangkah masuk. Tidak lupa ia kembali menutup pintu dan mencari piala dan Tiara itu. Tidak sulit mencarinya karena kedua benda itu di simpan di lemari berpintu transparan. Tangannya terulur dan membuka pintu, lalu mengambil Tiara dan memperhatikan setiap sudutnya. Dahinya berkerut karena seperti melihat ada pahatan kecil di bagian dalam tiara itu. Matanya menyipit untuk memfokuskan matanya pada tulisan yang terlihat tidak seperti hangul Korea itu. Setelah beberapa saat ia baru menyadari itu adalah tulisan mandarin kuno yang berarti Putri Ling. Ia berpikir sejenak, “Putri Ling?” gumamnya, lalu memandang piala sambil kembali meletakkan Tiara tadi dan mengambilnya untuk melihat apakah ada sesuatu yang bisa ia temukan disana. Ia memeriksa setiap sisi piala emas yang cukup berat itu hingga menemukan sesuatu di bagian pinggiran bawah piala. Ia sempat tertegun beberapa saat membaca tulisan dalam mandarin itu, Wang Leehom. Matanya membesar dan mengembalikan piala itu lagi sambil menggeleng cepat. Ia kembali menutup lemari itu dan segera keluar dari ruangan itu.

Chansung yang sedang duduk dikamar sambil membaca sebuah majalah menoleh ketika mendengar pintu terbuka dan melihat Fei masuk, “Noona, dari mana?’ tanyanya sambil kembali membaca majalah. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres ketika Fei duduk di sebelahnya denga tergesa-gesa dan memandang gadis itu, “Noona, waekeure?” tanyanya sambil menutup majalah di tangannya karena menyadari wajah tegang Fei.

Fei menatap Chansung cemas, “Chansung-a, piala itu…” ucapnya terputus karena terlalu shock.

Chansung memandang Fei bingung, “Wae? Ada apa dengan piala itu?”

Fei memegang tangan Chansung, “Aku menemukan ukiran tulisan mandarin disana, dan itu adalah nama ayahku..” ucapnya pelan.

Chansung tertegun, “Ne? Kau memeriksanya?”

Fei mengangguk cepat, “Ne..”

Chansung tak percaya tebakannya tentang piala itu benar, “Jadi, itu memang milik keluiargamu? Tiara itu juga?”

Fei menggeleng, “Aku tidak tau, disana terukir tulisan mandarin kuno, Putri Ling.. Aku tidak tau siapa dia..”

Chansung mengerutkan dahinya menatap Fei, “Noona, apa menurutmu pemilik benda-benda itu ada hubungannya dengan pembunuh keluarga kita?” tanyanya setengah berbisik.

Fei tertegun mendengar pertanyaan Chansung, “A-ani..” jawabnya pelan, ia tidak ingin Chansung mengetahui tentang psikiater anak yang memiliki piala itu.

Chansung menghela nafas dalam dan berpikir sejenak, “Lalu, apa mungkin Linda Wang ada hubungannya denganmu? Kalian memiliki nama keluarga yang sama.”

Fei berpikir sejenak, “Aku tidak tau..” jawabnya.

Chansung diam sejenak dan memegang tangan Fei, “Sudah, jangan pikirkan tentang ini. Lebih baik kita membiarkan masa lalu pergi dan menjalani masa depan dengan tenang, benarkan?”

Fei merasa tenang mendengar ucapan Chansung dan tersenyum sambil mengangguk, “Ne..”

Chansung tersenyum dan membelai rambut Fei lembut. Tapi meskipun mengatakan itu, ia tidak berpikir seperti itu.

 

=Kamar Jiyeon=

Jiyeon tersenyum lebar sambil menyandarkan punggungnya ke dada bidang Chansung yang duduk bersandar di tempat tidurnya. Ia sedang mencari sesuatu melalui laptopnya.

Chansung terpaksa mengikuti keinginan Jiyeon agar ia bisa mendapatkan informasi tentang orang-orang yang memiliki dua benda yang telah mereka curi itu.

“Nahhh.. ini orang yang mempunyai piala itu oppa..” ucap Jiyeon sambil membuka sebuah laman dan memperlihatkannya pada Chansung.

Chansung memandang layar dan mulai membaca, “Mmm.. seorang psikiater anak sukses?”

“Hufft… percuma sukses kalau dia malah memanfaatkan anak-anak itu untuk kepuasannya sendiri. Menjijikkan..” gerutu Jiyeon kesal.

Chansung melirik Jiyeon lucu dan tertawa kecil, “Hmm.. pantas saja Narsha noona sangat menyukaimu..” candanya.

Jiyeon tertawa kecil.

Chansung membaca berita tentang psikiater Kim itu hingga sebuah potongan koran terlihat, dahinya berkerut melihat photo yang ada disana.

“Hmm.. ini seperti yang ada di ruang kerja pria itu..” ucap Jiyeon, “Hmm.. ternyata benar dia lulusan terbaik di masanya, sampai masuk koran segala..” ucapnya sebal.

Chansung memperhatikan pria di photo itu, “Ini dia saat muda?” tanyanya.

“Hm?” Jiyeon memperhatikan berita yang ada di Koran itu, “Ne, oppa.. Berita ini di terbitkan sekitar 20 tahun lalu..”

Chansung diam sejenak sambil berpikir, ’20 tahun lalu?’ batinnya.

“Hmmm.. dan beberapa tahun kemudian dia dikabarkan melakukan pelecehan pada seorang pasiennya yang saat itu masih berusia 14 tahun..” lanjut Jiyeon menjelaskan apa yang ia baca.

Chansung tertegun, “Ne? siapa korbannya?”

“Disini tidak di sebutkan, tapi mereka bilang dari keluarga china yang tinggal di Korea..” jawab Jiyeon.

Chansung menatap Jiyeon kaget, “Mwo? China?”

Jiyeon memandang Chansung bingung, “Ne, Waeyo oppa?”

“Apa demi menutupi kejahatannya dia membunuh dan mencuri barang keluarga korbannya?” Tanya Chansung dingin.

Jiyeon mengerutkan dahi, “Apa maksudmu oppa?”

Chansung tersadar dan memalingkan wajahnya kembali memandang computer, “Oh.. ani.. aniya..” jawabnya.

Sementara itu.

“Fei, tubuhmu sudah pulih?” Tanya Nickhun sambil memperhatikan Fei yang sedang memasak di dapur.

Fei tersenyum, “Gwenchana, jika tidak melakukan gerakan cepat aku tidak akan apa-apa..”

Nickhun mengangguk sambil tersenyum, “Keure, aku akan menemanimu. Jadi jika kau butuh bantuan aku akan membantu..” candanya.

Fei tertawa kecil dan memasukkan sedikit garam ke supnya.

“Ya.. ya.. lihat apa yang kudapatkan!!” ucap Joon dengan wajah riangnya menghampiri Nickhun, “Lihat ini!!” ucapnya bersemangat sambil memperlihatkan layar ponselnya pada temannya itu.

Nickhun memandang layar ponsel Joon dan membesarkan matanya, “Wuaa!! Daebak!” ucapnya dengan mata membesar.

Fei memandang teman-temannya bingung, “Kalian melihat apa sih?” tanyanya penasaran, namun ia tidak bisa meninggalkan masakannya.

Nickhun tertawa dan memandang Joon, “Kapan kau merekam ini?”

“Baru saja.. Mereka masih berdua di kamar ketika aku pergi..” ucap Joon.

“Jinja? Ahh.. aku tidak tau mereka yang akan melakukannya di rumah.. Hahaha…” tawa Nickhun sambil kembali memandang layar ponsel Joon.

“Ya! Aku juga ingin lihat! Apa itu?!” Tanya Fei yang mulai penasaran.

Joon tertawa dan beranjak ke sisi Fei, “Sekarang aku tenang setelah tau tentang ini..” ucapnya sambil memperlihatkan layar ponselnya pada gadis itu.

Fei memperhatikan layar yang memperlihatkan sebuah video. Ia tertegun melihat dua orang yang terlihat sangat mesra di tempat tidur. Matanya membesar ketika kedua orang itu terlihat seperti sedang berciuman dari posisi merekam yang dari sisi belakang.

“Apa kau tau mereka berkencan?” Tanya Joon dengan mata berbinar.

Fei tidak bisa mengatakan apa pun. Ia hanya bisa terpaku melihat video berdurasi 1 menit itu.

Joon memandang Fei bingung, “Fei?”

Chansung melangkah masuk ke dapur bersama Jiyeon, “Noona, apa makan malam? aku lapar..” ucapnya sambil duduk di sebelah Nickhun.

“Wuaaa.. kalian ternyata sangat tak terduga..” ucap Nickhun tak percaya dengan senyuman kagumnya.

Dahi Chansung berkerut memandang Nickhun, “Mwo?”

Jiyeon memandang Nickhun bingung, “Apa maksudmu oppa?”

“Huuuu.. dasar, kalian masih mau mengelak ha?” Tanya Joon sambil menghampiri kedua anak itu. mereka juga memandangnya tak mengerti, “Aku punya buktinya..” ucapnya sambil memperlihatkan ponselnya.

Chansung memperhatikan video itu, matanya membesar dan mentap Joon kaget. “Hyung! Kau menguping kami?!”

“Oppa!” seru Jiyeon sebal.

“Omo.. sejak kapan kalian mulai berhubungan? Sampai berduaan di kamar begitu..” ucap Nickhun tak percaya.

“Aissh.. ini tidak seperti yang terlihat! Hyung! Jangan membuat berita palsu begitu!” ucap Chansung kesal.

“Hahaha.. kenapa kalian masih mengelak sih? Sudah mengaku saja..” ucap Joon.

Wajah Jiyeon memerah malu melihat posisi mereka memang terlihat seperti sedang berciuman dari posisi Joon mengambil video, “Oppa! Jangan menyebarkannya begitu! Aku malu!!”

Chansung memandang Jiyeon aneh, “Menyebarkan apa?” tanyanya sebal, lalu memandang Fei. Ia tertegun melihat gadis itu menyelesaikan masakannya tanpa mengatakan apa pun

Fei mematikan kompor dan meletakkan sendok masakannya, “Aku akan beristirahat sebentark ke kamar..” ucapnya dengan wajah menunduk dan langsung melangkah pergi.

Chansung menyadari Fei tidak terlihat seperti biasa.

“Hmm.. sudah kubilangkan jangan terlalu lelah..” ucap Nickhun sebal.

Joon memperhatikan Fei pergi bingung, “Dia belum benar-benar sembuh tapi sudah memaksakan diri..” gumamnya, lalu kembali memandang Chansung dan Jiyeon dengan senyuman jahilnya. “Sejak kapan kalian mulai bersama?”

Jiyeon tersipu malu, “Oppa, kemanhera..” ucapnya.

Chansung berdiri dan menatap Jiyeon kesal, “Jika kau ingin membuatnya berhenti, jangan tersipu seperti itu.” ucapnya dingin, lalu melangkah pergi.

Jiyeon memandang Chansung bingung, “Oppa..” panggilnya, tapi tak di gubris oleh pria itu. kemudian menatap Joon sebal, “Oppa! Chansung oppa jadi marah padaku kan!” protesnya.

 

<<Back           Next>>

Advertisements

6 thoughts on “I’m With You [Chapter 6]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s