Chapter

I’m With You [Chapter 5]

5

I’m Falling Down

 

Joon menghampiri Chansung dan memandang ke bawah, “Sial! Hyung, Fei terjatuh!” Ucapnya.

“Mwo?!!” Seru Seungho kaget, “Segera keluar!! Polisi sudah bergerak masuk. Sepertinya mereka mendapat sinyal pencurian!!”

“Ne hyung..” Ucap Joon. Ia langsung terpaku mendengar alarm yang tiba-tiba berbunyi nyaring memenuhi semua ruangan.

Chansung langsung berlari menuju tangga.

“Ya!! Chansung!!” Seru Joon, “Aissh..” Ia segera memasukkan barang-barang ke tas beserta tas berisi Tiara, lalu berlari menuju tangga.

Chansung berlari menghampiri Fei dan berlutut di sebelah gadis itu, “Noona.. Fei noona!” Panggilnya sambil menarik gadis itu ke lengannya.

Fei mengerutkan dahi dengan nafas berat, “Hmmmhh…” Gumamnya menahan sakit.

Chansung menatap Fei tak percaya, “Noona…” Ucapnya pelan. Ia terkejut tiba-tiba lampu mulai hidup. “Aissh…” Ia segera berbalik dan menggendong Fei di punggungnya dan berlari pergi.

 

=Rumah Para Pencuri=

Narsha, Seungho dan Jiyeon duduk di ruang tengah dengan wajah gusar.

“Mereka berkata Fei terjatuh, apa dia baik-baik saja?” Tanya Narsha khawatir.

Seungho memandang Narsha dan kembali memandang ke bawah gusar.

Jiyeon menggigit bibir bawahnya gusar, “Eoteokhe oppa? Aku sangat takut..” Ucapnya pelan.

Klek..

Semuanya menatap ke arah pintu yang terbuka sambil bergerak bangkit dan melihat Nickhun masuk bersama Joon.

Seungho menghampiri kedua orang itu, “Ya.. Bagaimana dengan Fei?” Tanyanya.

Nickhun terdiam dan memandang Joon yang menunduk.

Jiyeon memandang kebelakang Joon tapi tak menemukan Chansung, “Oppa, dimana Chansung oppa dan Fei eonni?”

Joon mengangkat wajahnya memandang yang lain, “Aku… Aku tidak tau..” Jawabnya sambil menunduk lagi.

Narsha menatap Joon tak percaya, “Kau meninggalkan mereka?!!”

Seungho menatap Joon marah dan menarik kerah baju pria itu, “Sejak kapan kau jadi pengecut dan menyelematkan dirimu sendiri?!!” Serunya.

Joon memejamkan mata ketika Seungho berseru di depan wajahnya, namun tak mengatakan apa pun.

“Joon! Bagaimana mungkin kau meninggalkan mereka?!” Tanya Narsha marah.

“Aku panik..” Ucap Joon pelan, “Fei sengaja memotong tali agar aku dan Chansung bisa pergi, lalu Chansung berlari pergi begitu saja. Karena itu aku langsung pergi..” Ucapnya menyesal.

Jiyeon tertegun, “Oppa, bagaimana Fei eonni bisa terjatuh?”

“Tiba-tiba tali yang mengikatnya putus, aku dan Chansung berhasil menariknya ke atas tapi dia terpeleset dan kembali terjatuh. Chansung berusaha menariknya tapi sangat sulit. Hingga Fei memutuskan memotong tali karena polisi sudah tiba..” Jelas Joon pelan.

“Lalu, bagaimana mereka sekarang?! Dimana mereka?!” Tanya Seungho.

Joon menunduk menyesal dan menggeleng pelan.

“Neo!!” Seungho hampir menerjang Joon jika Nickhun tidak menghalanginya.

“Hyung! Jangan seperti ini!! Aku yakin Chansung berhasil membawa Fei pergi! Kita tunggu mereka kembali dulu..” Ucap Nickhun menenangkan.

Seungho melangkah mundur sambil mengacak-acak rambutnya, “Aissh!!”

Nickhun memandang Joon, “Apa kau membawa Tiaranya?”

Joon mengambil tas Tiara tadi dari tasnya dan mengeluarkan isinya, “Ne..” Jawabnya.

“Itu tidak penting sekarang!! Bagaimana dengan Chansung dan Fei?!” Seru Narsha kesal.

 

=Di Suatu Tempat=

Chansung terus melangkah cepat di tengah kegelapan. Ia benar-benar takut sesuatu terjadi pada Fei. Tidak ada tempat lain yang terpikir olehnya selain sebuah pondok tua di sisi gelap kota Seoul. Dimana anak jalanan tinggal dan berinteraksi satu sama lain. Dulu, 13 tahun lalu disanalah mereka mulai berjuang hidup. Ia mendorong tubuh Fei yang melorot dari punggungnya dan kembali melangkah cepat.

“Saeryong-nim!! Saeryong-nim!!” Panggil Chansung sambil menghampiri sebuah pondok. “Saeryong-nim!!” Panggilnya panik.

Pintu terbuka dan mengintip seorang wanita berusia 40 tahunan. Matanya membesar melihat Chansung berdiri di depan pintu dengan wajah shock dan mata memerah menahan air mata. “Chansung?” Ucapnya tak percaya sambil membuka pintu lebih lebar.

Chansung langsung melangkah masuk, “Saeryong-nim.. Kumohon tolong aku.. Fei noona terluka parah!!” Ucapnya panik.

Wanita bernama Saeryong itu menatap Fei yang terkulai lemah di punggung Chansung, “Omona! Ayo bawa dia kemari..” Ucapnya sambil memimpin jalan ke sebuah ruangan dengan tempat tidur. “Chansung, baringkan dia disini..” Ucapnya.

Chansung menurunkan Fei dengan hati-hati ke tempat tidur dan menatap gadis itu cemas.

Saeryong langsung mengambil alat medisnya di dalam laci dan menghampiri tempat tidur. Ia mengambil sebuah senter kecil dan memeriksa bawah mata Fei, “Apa yang terjadi padanya?”

“Dia terjatuh dari ketinggian… Mmm.. Kurasa 3 atau 4 meter..” Jawab Chansung.

“Hmm.. Sepertinya dia mendapat benturan keras..” Ucap Saeryong dan mendekatkan wajahnya ke telinga Fei, “Fei.. Kau bisa mendengarku?”

Chansung menatap Fei serius, “Noona..” Panggilnya.

“Fei..” Panggil Saeryong sambil mengelus kepala Fei.

Dahi Fei berkerut, “Hmmm…” Gumamnya lemah.

Saeryong menatap Fei, “Fei.. Fei..” Panggilnya lagi.

“Hmmm..” Gumam Fei dan membuka matanya perlahan.

Chansung tersenyum lega melihat Fei membuka matanya.

Saeryong tersenyum pada Fei, “Fei, kau mengenalku?”

Fei memandang Saeryong dan berusaha memfokuskan pandangannya, “Saeryong-nim?” Ucapnya lemah.

“Ne, ini aku. Apa kau merasa sakit di suatu tempat?” Tanya Saeryong.

“Seluruh tubuhku terasa sakit..” Ucap Fei dengan dahi berkerut.

Saeryong memegang perut Fei dan menekannya perlahan, “Apakah sakit?”

Fei menggeleng pelan.

Saeryong menggeser tangannya dan menekan pelan lagi. Tetap tak terasa sakit. Tangannya bergerak naik sedikit ke tulang rusuk Fei.

“Ahh!!” Rintih Fei sakit ketika Saeryong menekan rusuk kanannya.

“Oh.. Noona..” Ucap Chansung khawatir.

“Omona.. Sepertinya tulang rusuknya retak.” Ucap Saeryong memprediksi. Lalu memandang Chansung, “Chansung, tunggu diluar sebentar. Aku akan mengobatinya..”

Chansung memandang Saeryong, “Tak bisakah aku membantu?”

Saeryong menatap Chansung sedih, “Aku tau kau khawatir, tapi kau tenang saja. Aku akan mengobatinya sebentar..” Ucapnya.

Chansung tertegun dan memandang Fei yang menatapnya, “Noona, aku menunggu diluar..” Ucapnya.

Fei tersenyum lemah. Memberitau Chansung jika ia baik-baik saja, walau sebenarnya tidak.

Chansung bergerak mundur dan keluar dari ruangan itu. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding dan bergerak duduk ke lantai. Saat itu ia baru mengingat rasa ngeri di kedua tangannya yang masih tertutup sarung tangan. Perlahan ia melepaskan sarung tangannya, “Aarrrhh..” Erangnya pelan karena rasa nyeri itu terasa semakin parah. Kedua tangannya tampak membiru dan memerah karena darah. Ia menghela nafas dalam dan menahan rasa sakitnya sambil memikirkan keadaan Fei.

“Aaahhk!!” Jerit Fei dari dalam ruangan.

Chansung tertegun dan memandang ke pintu.

“Aaaahhkkk!!!!” Jerit Fei lagi, terdengar sangat kesakitan dan terdengar gadis itu menangis.

Chansung memejamkan matanya erat mendengar jerit kesakitan Fei. Seperti tubuhnya ikut merasakan apa yang gadis itu rasakan. Setelah beberapa saat, keadaan kembali hening, ia membuka mata dan menoleh ketika mendengar pintu terbuka. Lalu berdiri ketika melihat Saeryong muncul, “Saeryong-nim.. Bagaimana dengannya?”

Saeryong tersenyum, “Aku memberinya obat penenang, ini akan mengurangi rasa sakitnya sementara waktu. Biarkan dia tidur beberapa saat..”

Chansung menghela nafas lega dan mengangguk, “Ne..”

Saeryong menyadari kedua tangan Chansung terluka dan langsung memegangnya, “Omo! Kenapa kau tidak memberitauku tentang ini?” Tanyanya panik.

“Ahh..” Rintih Chansung ketika Saeryong menyentuh tangannya.

“Ayo.. Kita harus mengobatinya..” Ucap Saeryong sambil menarik Chansung.

 

=Keesokan Paginya=

5 anggota lain duduk di depan tv menyaksikan berita tentang pencurian yang terjadi di museum kota semalam. Mereka menatap layar serius menunggu jika ada pemberitaan tentang penangkapan Chansung atau pun Fei. Mereka langsung menghela nafas lega ketika berita berakhir tanpa menyebutkan siapa pelakunya.

“Fiuuuh.. Berarti mereka tidak tertangkap..” Ucap Narsha lega.

“Lalu, dimana mereka sekarang? Mungkin Fei eonni terluka dan Chansung oppa membawanya ke suatu tempat..” Ucap Jiyeon khawatir.

Yang lain saling berpandangan.

“Aku yakin mereka sudah berada di tempat yang aman sekarang, kita harus menunggu kabar dari mereka..” Ucap Seungho.

“Tapi….” Ucap Joon sambil memandang teman-temannya bergantian, “Bagaimana jika ternyata Fei tak selamat dan Chansung pergi?”

Semuanya tertegun mendengar ucapan Joon.

“Kenapa kau berkata seperti itu?! Fei gadis yang kuat, apa menurutmu dia akan mati begitu saja?!” Tanya Nickhun marah.

Joon memandang ke bawah sedih, “Fei terjatuh cukup keras dan dari ketinggian satu lantai. Aku tidak tau apa dia selamat atau tidak..” Ucapnya.

“Ya! Jangan katakan apa pun hingga kita melihat jasadnya langsung! Kau mengerti?!!” Seru Narsha.

“Dengar semuanya..” Ucap Seungho, “Kita tunggu kabar dari Chansung hingga besok, jika tidak juga ada kabar, kita cari mereka..”

Semuanya mengangguk setuju, “Ne..”

 

=Pondok Tua=

Saeryong membuka pintu dan memandang ke dalam, ia menatap Chansung sedih karena pria itu terus duduk di sisi Fei hingga pagi. Ia masuk dan melangkah menghampiri pria itu, “Chansung-a, istirahatlah dulu..” Ucapnya sambil duduk di depan pria itu disebelah tempat tidur.

Chansung memandang Saeryong dan menggeleng pelan, “Aku tidak bisa tidur..”

Saeryong menatap Chansung sedih dan mengelus kepalanya, “Gwenchana, Fei baik-baik saja.” Ucapnya.

Chansung tersenyum tipis, “Terima kasih sudah mengatakannya..”

Saeryong memegang tangan Chansung yang di perban, “Dia akan baik-baik saja. Karena itu kau harus menjaga kesehatanmu demi menjaganya.”

Chansung diam sejenak dan memandang Fei, lalu mengangguk mengerti.

“Tidurlah dulu.. Pikirkan ketika kau terbangun Fei sudah baik-baik saja dan kalian bisa kembali bersama..” Ucap Saeryong sambil tersenyum.

Chansung menghela nafas dalam dan bergerak bangkit, lalu melangkah ke sofa tua di sisi lain ruangan kecil itu. Perlahan ia berbaring dan memejamkan matanya.

Saeryong senang Chansung menuruti ucapannya, ia memandang Fei dan menyelimuti gadis itu. Ia duduk disana hingga hampir satu jam. Ia tertegun ketika gadis itu membuka matanya, “Fei?”

Fei memandang Saeryong lemah, “Saeryong-nim..”

Saeryong tersenyum dan memegang tangan Fei, “Gwenchana, kau ada di tempat aman.. Kau dan Chansung aman disini..”

Fei menghela nafas dalam dan menatap Saeryong dengan mata memerah menahan air mata, “Saeryong-nim, aku tidak akan mati kan karena luka ini?”

Saeryong tertegun, “Ne? Keurom, kau akan segera pulih. Jangan khawatir..” Ucapnya sambil mengelus punggung tangan Fei.

Fei menggigit bibir bawahnya menahan tangis, namun bulir air tetap berjatuhan dari matanya mengingat apa yang diucapkan Chansung semalam.

=Flashback=

-Fei’s POV-

Aku tidak tau bagaimana mendeskripsikan tubuhku saat ini. Aku bahkan tak bisa menangis karena tubuhku tak terhubung lagi dengan pikiranku. Aku mendengar semuanya, merasakan semuanya, tapi tidak bisa mengungkapkannya. Saat ini tubuhku terkulai lemah di punggung Chansung. Aku bisa merasakan ketakutannya. Aku ingin memberitaunya kalau aku baik-baik saja, tapi aku tidak bisa mengatakan apa pun.

“Noona, bertahanlah.. Aku tidak akan membiarkanmu seperti ini..” Ucapnya sambil terus melangkah.

‘Ne, na arayo Chansung-a..’ Batinku.

“Kumohon jangan tinggalkan aku..” Ucapnya dengan suara bergetar.

‘Aniya.. Aku tidak akan meninggalkanmu, tidak secepat ini..’ Batinku, hatiku menangis memikirkan kemungkinan jika aku mati malam ini. Bagaimana jika aku mati malam ini Chansung?

“Noona, kau sudah berjanji tidak akan meninggalkanku..” Ucapnya lagi, aku bisa menebak ia akan menangis kapan saja sekarang.

‘Miane, Chansung-a.. Aku tidak akan meninggalkanmu, tidak akan pernah..’ Tangis batinku.

-Fei’s POV end-

=Flashback End=

“Aku takut jika aku benar-benar mati Saeryong-nim..” Ucap Fei pelan. “Aku harus bersama Chansung selamanya, tapi jika aku mati.. Bagaimana dengannya?”

Mata Saeryong mulai berkaca-kaca mendengar ucapan Fei. Ia tau bagaimana masa yang telah di lewati kedua anak itu hingga sekarang, jadi ia bisa merasakan apa yang Fei rasakan. Ia tersenyum dan menggeleng pelan, “Aniya, kau akan baik-baik saja.. Kau dan Chansung akan tetap bersama..” Ucapnya menenangkan.

Fei menghela nafas dalam dan mengangguk.

Saeryong mengelus kepala Fei dan menatapnya hangat, “Jangan pikirkan hal itu lagi. Pikirkan saja kesembuhanmu dan Chansung, arasso?”

“Ne, Saeryong-nim..” Ucap Fei pelan.

Fei berbaring di tempat tidur sambil berpegangan tangan dengan Chansung yang duduk di sebelah tempat tidur. Ia dan pria itu bertatapan dalam, “Neo gwenchana?”

Chansung tersenyum, “Na gwenchana.. Seharusnya aku yang menanyakannya padamu..”

Fei tersenyum, “Aku baik-baik saja selama kau baik-baik saja..”

Chansung tertawa kecil dan membelai rambut Fei, lalu menatap kedua mata gadis itu serius. “Jangan! Pernah! Dan jangan!! Berpikir!! Untuk melakukan hal seperti kemarin!!” Tegasnya, ia memberikan penekanan di setiap kata untuk memberitau Fei ia benar-benar serius.

Fei tersenyum lebar, “Ne, arasso..”

Chansung kembali tersenyum dan menempelkan tangan Fei ke pipinya.

Saeryong muncul di pintu dan tersenyum melihat kedua orang itu. Ia melangkah masuk dan menghampiri mereka, “Kalian sudah merasa lebih baik?”

Chansung dan Fei tersenyum melihat Saeryong, “Ne, Saeryong-nim..”

Saeryong duduk di sebelah Chansung dengan senyuman lebarnya, “Aku senang melihat kalian baik-baik saja..”

“Gumawoyo, Saeryong-nim. Kami sangat berhutang budi padamu..” Ucap Chansung tulus.

Saeryong tertawa kecil, “Hutang budi apa, justru aku yang sangat bersyukur memiliki kalian..”

Fei tertawa kecil, “Oh.. Saeryong-nim, sepertinya aku tidak mendengar suara anak-anak seperti biasa. Apa mereka sedang pergi?”

Ekspresi Saeryong berubah perlahan dan terlihat sedih, “Mmm.. Sudah tidak ada anak-anak lagi disini..”

“Ne? Wae?” Tanya Chansung.

Saeryong menghela nafas dalam dan memandang ke bawah sedih, “Setahun setelah kalian pergi, ada seorang pria datang mencari kalian..”

Chansung dan Fei tertegun, “Ne?”

Saeryong memandang kedua anak itu bergantian, “Aku bersyukur kalian telah pergi, jika tidak kalian pasti celaka..”

“Apa yang mereka inginkan, Saeryong-nim?” Tanya Fei tak mengerti.

Saeryong memandang Fei, “Mereka menginginkanmu..”

Fei tertegun, “Aku?”

“Apa yang mereka inginkan? Apa maksudmu mereka menginginkan Fei noona?” Tanya Chansung tak mengerti.

“Aku juga tidak mengerti. Tapi mereka tau kau putri dari keluarga China bermarga Wang..” Jawab Saeryong.

Fei menatap Saeryong tak mengerti, “Tapi kenapa? Apa mereka….” Ia diam sejenak, “..mereka orang yang membunuh keluargaku dan Chansung?”

Saeryong terlihat sedih, “Aku tidak tau, tapi mereka mengenalmu.. Mereka berkata jika aku berusaha melindungimu, mereka akan membunuhku..”

Mata Chansung dan Fei membesar, “Mwo?!”

“Karena itu mereka membawa anak-anak jalanan disini, aku tidak mengerti mengapa mereka sangat kejam.” Ucap Saeryong dengan bulir air mata berjatuhan.

Chansung merangkul Saeryong, “Apa mereka melukaimu?”

Saeryong memandang Chansung dan menggeleng, “Aniya, mereka hanya menggertak. Syukurlah mereka tidak menemukanmu hingga sekarang..” Ucapnya lega.

“Saeryong-nim, apa yang mereka inginkan dariku?” Tanya Fei tak mengerti.

Saeryong memandang Fei, lalu memandang Chansung.

Chansung menatap Saeryong tak percaya, “Saeryong-nim, mereka…..”

Saeryong mengangguk dan memandang Fei yang tampak panik, “Mereka membicarakan tentang keluargamu. Bahwa mereka harus menemukanmu untuk mendapatkan sesuatu yang turun menurun dari keluargamu..”

Dahi Fei berkerut, “Ne?”

Chansung memandang Fei bingung, “Apa itu?”

“Mmm.. Aku mendengar pembicaraan mereka, sepertinya sesuatu yang terbuat dari emas..” Ucap Saeryong memberitau.

Chansung tertegun dan menatap Saeryong kaget, “Mwo?”

“Ne.. Katanya lambang kemenangan atau apalah.. Aku tidak mengerti..” Ucap Saeryong dan memandang Fei, “Kau tau tentang benda itu?”

Fei tampak berpikir dan terlihat bingung, “Aku tidak tau..”

“Piala..” Ucap Chansung pelan.

Fei dan Saeryong memandang Chansung bingung, “Ne?”

Chansung memandang Saeryong dan Fei bergantian, “Noona, aku pernah berkata kalau aku merasa pernah melihat piala yang kita curi itu kan? Kurasa aku melihatnya di rumahmu 13 tahun lalu..”

Dahi Fei berkerut, “Mwo?”

“Omo.. Omo.. Kalian sudah mendapatkannya?” Tanya Saeryong kaget.

“Kurasa sudah, Saeryong-nim..” Ucap Chansung.

“Aniya.. Itu tidak mungkin, tidak mungkin! Benarkan Chansung?” Tanya Fei panik.

Chansung tertegun melihat Fei terlihat ketakutan.

“Chansung…” Ucap Fei dengan suara bergetar menahan tangis.

Chansung menggenggam tangan Fei dan mengangguk pelan, “Keurom, itu tidak mungkin..” Ucapnya.

Fei menghela nafas lega dan kembali tenang setelah mendengar ucapan Chansung, meskipun mereka berdua tau ucapan pria itu hanya untuk menenangkannya.

Saeryong menatap kedua anak itu khawatir, “Dengarkan aku..” Ucapnya, membuat mereka memandangnya. “Apa pun yang terjadi setelah ini, jangan pernah katakan apa pun tentang masa lalu kalian pada siapa pun..” Ucapnya mengingatkan.

Chansung dan Fei menatap Saeryong penuh haru, wanita itu selalu menjaga dan menyayangi mereka.

Saeryung memegang tangan Chansung dan Fei yang saling berpegangan, “Aku tidak ingin kehilangan anak-anakku lagi..”

Chansung dan Fei mengangguk dengan mata berkaca-kaca, “Ne, Saeryong-nim..”

 

=Beberapa Hari Kemudian=

Chansung duduk di sebelah tempat tidur Fei sambil menatap gadis itu lembut.

“Chansung, kita tidak bisa terus disini..” Ucap Fei pelan.

Chansung memandang Fei bingung, “Wae? Aku merasa nyaman disini.. Aku tau kau juga..”

“Ne, kau benar.. Tapi aku tidak ingin sesuatu terjadi pada Saeryong-nim.. Bagaimana jika mereka kembali ketika mendengar kita disini?” Tanya Fei khawatir.

Chansung menghela nafas dalam dan mengangguk mengerti, “Ne, aku mengerti.. Besok kita akan kembali..”

“Ani.. Jangan besok. Malam ini saja..” Pinta Fei.

Chansung tersenyum lucu dan mengangguk, “Arasso, noona..”

Fei tersenyum.

 

<<Back           Next>>

 

Advertisements

6 thoughts on “I’m With You [Chapter 5]

  1. Next aja 😦 soalnya perasaan tdi aku udh coment panjang lebar ehhhh gak ada pula bikin pegal tangan aja 😦
    Fighting aja buat eonni ffmu selalu jjang^_^ ya meskipun castnya gak terlalu aku suka ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s