Chapter

I’m With You [Chapter 4]

4

I Don’t Know What To Do

 

Nickhun memandang ke kamar mandi karena Fei sudah sangat lama berada disana. Anggota mereka yang lain juga sudah meninggalkan tempat masing-masing untuk kembali ke rumah.

“Apa biasanya selalu lama seperti ini, Nickhun-ssi?” tanya Dokter Oh bingung.

“Aku akan memeriksanya..” ucap Nickhun, lalu bangkit dan menghampiri pintu kamar mandi.

Sementara di dalam.

Fei sudah mengenakan dressnya dan melepaskan ikatan rambutnya. Namun ia tak langsung mengenakan high heelsnya dan hanya duduk termenung di kloset. ‘Benarkah dia salah satu dari mereka?’ batinnya. Ia terkejut mendengar ketukan di pintu dan spontan memandangnya.

“Yobo, waekeure?” tanya Nickhun.

“Ani! Aku keluar sekarang..” ucap Fei sambil bangkit dan memasang high heelsnya, lalu mematikan kran air dan melangkah keluar.

Selama perjalanan kembali, Fei tetap tidak bisa melupakan photo di koran tadi.

Nickhun memandang Fei bingung, “Fei, ada apa?”

Fei tertegun dan memandang Nickhun, “Ne? Oh.. aniya.. aku hanya lelah..” jawabnya sambil tersenyum.

Nickhun mengerutkan dahi. “Kau yakin? Kau terlihat tegang setelah keluar dari kamar mandi..” ucapnya.

Fei menghela nafas dalam, “Ani, aku hanya tidak berhati-hati saat turun tadi dan pergelangan kakiku terasa sedikit nyeri..”

“Oh begitu.. Kau mau kita berhenti di klinik?” tanya Nickhun.

“Aniya, gwenchana.. Aku hanya perlu mengompresnya dengan batu es..” ucap Fei sambil tersenyum.

Nickhun mengangguk mengerti, “Keure..” ucapnya.

 

=Ruang Tengah=

“Ini pasti sangat mahal..” ucap Jiyeon sambil memperhatikan piala emas yang di letakkan di atas meja.

“Aku penasaran siapa yang menginginkan piala seperti ini..” ucap Nickhun.

“Hmm.. menurutmu, berapa uang yang akan kita dapatkan setelah menjual ini?” tanya Narsha dengan mata berbinar membayangkan berapa uang yang akan mereka dapatkan.

Chansung memperhatikan piala itu, “Sepertinya aku pernah melihat yang seperti ini sebelumnya..” ucapnya.

Joon memandang Chansung, “Jinja? Dimana?”

Kepala Chansung berat ke satu sisi sambil memperhatikan piala itu, “Aku tidak begitu yakin, tapi sepertinya pernah..”

“Tentu saja. Kita kan membuat tiruannya beberapa waktu lalu..” ucap Nickhun heran.

Chansung tersenyum, “Mungkin juga..”

Jiyeon menyadari sejak tadi Fei hanya terdiam duduk di antara yang lain, “Eonni, waekeure?” tanyanya.

Semuanya memandang Fei.

“Hm?” Fei bingung tiba-tiba menjadi sorotan, “Oh.. aniya.. aku hanya merasa lelah..” jawabnya sambil tersenyum tipis.

“Lelah atau kau sedang memikirkan bayaran kita?” canda Narsha.

Fei tertawa kecil mendengar lelucon Narsha.

“Noona, jangan samakan semua orang sepertimu.” Ucap Joon sebal.

Seungho muncul dan duduk diantara teman-temannya.

“Bagaimna? Kau sudah menghubungi orang yang ingin membeli piala ini?” tanya Narsha ingin tau.

“Ne.. Yang menghubungi kita itu orang Korea, tapi pembeli sebenarnya kolektor dari China yang sekarang tinggal di Inggris..” jelas Seungho.

“Wuaaa.. kita akan di bayar menggunakan dollar?” tanya Jiyeon tak percaya.

“Ne.. mereka bilang sekitar 500 juta dollar..” jawab Seungho dengan senyuman puas.

“Mwo?!! Wuhuuuuu!!!” sorak yang lain girang.

“Wuaaaa! Kita bisa membeli mansion dan tinggal seperti James Bond!!” seru Joon kegirangan.

“Atau kita bisa membeli kapal pesiar dan berlibur…” ucap Jiyeon sambil membayangkannya. Lalu Nickhun, Narsha dan Chansung mulai berandai-andai juga.

Fei juga merasa senang, namun ia tidak seperti yang lainnya. “China? Siapa?”

“Umm…” Seungho berusaha mengingat, “Jika tidak salah Linda Wang..” ucapnya tidak yakin.

Fei tertegun, “Ne?”

Chansung terdiam menatap Seungho beberapa saat, “Wang?”

Seungho mengangguk, “Ne, wae?”

“Ne? Ohh.. ani.. hanya terdengar seperti namaku. Hwang..” canda Chansung dan kembali sibuk bersama yang lain.

Fei tertegun sambil memikirkan nama pembeli itu, ‘Wang?’ batinnya.

“Kapan mereka akan mengirimkan uangnya?” tanya Narsha.

“Aku akan bertemu dengan orang yang menghubungiku itu lusa memperlihatkan bukti kita telah mendapatkannya. Setelah itu baru kita mendapatkan uangnya..” ucap Seungho menjelaskan.

“Hmm.. aku tidak sabarrr..” ucap Jiyeon senang.

 

=Malamnya=

Chansung melangkah masuk ke kamar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, ia berhenti mengeringkan rambut ketika melihat Fei duduk di sofa dengan wajah risau. Ia menghela nafas dalam dan duduk di sebelah gadis itu sambil memandanginya.

Fei memandang Chansung, “Apa kita memikirkan hal yang sama?” tanyanya.

“Jika kau memikirkan piala itu..” jawab Chansung.

Fei diam sejenak untuk berpikir, “Apa menurutmu ini hanya kebetulan?”

“Mmm.. mungkin..” jawab Chansung.

Fei menggigit bibir bawahnya ragu, “Ini tidak ada hubungannya dengan mereka kan?” tanyanya cemas.

Chansung dapat merasakan ketakutan Fei, lalu dengan lembut menarik gadis itu ke pelukannya. “Aku tau ada kebetulan, tapi untuk hal ini pastinya bukan..” ucapnya menenangkan.

Fei memejamkan matanya dan berusaha menenangkan diri dipelukan Chansung.

Chansung melepaskan pelukannya dan memandang Fei, “Noona, selama kita bersama-sama. Semuanya akan baik-baik saja, keutji?”

Fei tersenyum dan mengangguk, “Ne..”

 

=Hari Pertemuan=

“Aissshh!!!” Seru Seungho dan membanting dirinya ke sofa.

Chansung langsung tersadar dari lamunannya dan memandang Seungho bingung, “Sudah kembali hyung? Bagaimana tadi?”

Seungho menghela nafas kesal, “Mereka baru akan membayar kita jika kita sudah mendapatkan semua barangnya..” Ucapnya.

Dahi Chansung berkerut, “Apa maksudmu semua barangnya?”

“Hyung, ada apa lagi?” Tanya Nickhun yang baru muncul dan duduk di sofa.

“Di dalam piala itu seharusnya ada sebuah kristal. Tapi kita tidak menemukannya di dalam piala itu..” Ucap Seungho kesal.

“Mwo?! Jadi kita harus mencari kristalnya juga?!” Tanya Nickhun tak percaya.

“Ne! Jika tidak mereka tidak akan membayar kita..” Jawab Seungho.

Chansung dan Nickhun langsung lunglai ke sandaran sofa.

Setelah mengetahui itu. Para pencuri itu sibuk mencari kristal yang seharusnya ada di dalam piala itu. Tapi mereka saja tidak tau bagaimana bentuknya.

“Ahhh.. Ini benar-benar gila! Bagaimana kita menemukan benda yang tidak kita ketahui bentuknya?” Tanya Joon frustasi.

Fei berpikir sejenak sambil memikirkan piala emas itu, “Mmm.. Jika melihat bentuk piala itu, kristal yang seharusnya ada di dalamnya mungkin saja bukan bongkahan biasa. Mungkin sudah berbentuk sesuatu kan..” Ucapnya.

“Mungkin juga, karena ini berbentuk piala. Mungkin saja isinya kalung, atau butiran-butiran begitu kan..” Ucap Seungho membenarkan.

Jiyeon yang sejak tadi mencari informasi di Internet akhirnya menemukan sesuatu. Wajahnya terlihat ragu dan memandang Seungho, “Oppa, mungkinkan isinya sebuah Tiara?”

Semuanya memandang Jiyeon dengan dahi berkerut, “Tiara?”

Jiyeon memperlihatkan layar laptop pada teman-temannya. Semuanya langsung memperhatikan gambar Tiara indah dengan kristal yang menghiasi disetiap lengkungannya.

“Wow.. Keren sekali..” Ucap Narsha kagum.

“Tidak di ketahui asalnya, tapi berdasarkan penyelidikan kristal di Tiara pernah di kenakan putri kaisar dari jaman Qing. Saat itu China masih menjadi satu negara besar…” Ucap Joon membaca keterangannya.

Semua saling berpandangan dan tersenyum, “Bisa saja kan?” Tanya Narsha.

“Ne.. Pasti!! Dimana lokasinya?!” Tanya Chansung kembali bersemangat.

“Museum kota..” Jawab Jiyeon.

Semuanya tertegun, “Museum kota?”

 

=Museum Kota=

Narsha melangkah sambil memperhatikan benda-benda yang di pajang dan berhenti di depan sebuah meja yang di tutupi kotak kaca. Disana, Tiara dengan kristal indah di pajang. Ia memandang ke kanan, tampak Jiyeon yang mengemut lollipop sambil memperhatikan sebuah lukisan. Lalu memandang ke lantai dua, tampak Chansung bersandar di pinggirnya sambil bermain dengan ponsel. Ia memutar tubuhnya ke kanan dan berjalan pergi.

Di depan museum.

Narsha melangkah menuju parkiran dan masuk ke mobil.

Seungho dan Fei yang menunggu di mobil memandang Narsha penasaran. “Bagaimana?”

Narsha menghela nafas dalam, “Ini sangat sulit. Dimana-mana ada cctv. Penjagaan saat malam. Dan letaknya juga sangat beresiko..”

Seungho memukul stir mobilnya kesal, “Arrgh.. Kita tidak akan berhasil..” Ucapnya. Tak lama ponselnya berbunyi, ia memandang layar dan mengangkatnya. “Ne, Joon..”

“Hyung.. Aku menemukan cara..” Ucap Joon yang masih di dalam museum bersama yang lain.

Seungho diam sejenak dan memandang dua gadis disana sambil mendengarkan Joon.

Narsha dan Fei menatap Seungho penasaran.

“Mwo? Mwo? Apa katanya?” Tanya Narsha ingin tau.

Seungho tersenyum mendengar ucapan Joon di telepon, “Keure, kita lakukan malam ini..” Ucapnya dan memutuskan telepon.

“Apa katanya?!” Tanya Narsha yang sangat penasaran.

“Kita akan beraksi malam ini..” Ucap Seungho penuh keyakinan.

“Ne? Apa kita tidak perlu membicarakannya lagi?” Tanya Fei.

“Tenang saja, semuanya sudah seperti rencanaku..” Ucap Seungho, “Beritau yang lain untuk kembali.

 

=1.45 am=

Karena museum kota tempat yang sangat penting, tentu saja menggunakan sistem keamanan yang tinggi. Namun Joon memiliki strategi lain untuk masuk. Melalui saluran air.

Joon, Chansung, Fei dan Jiyeon merangkak di saluran air di bawah tanah menuju museum. Sementara Seungho, Nickhun dan Narsha menunggu di dua mobil berbeda.

“Oppa, ini menjijikkan! Kenapa kita harus lewat sini sih?!” Tanya Jiyeon kesal.

“Kalau begitu lewat depan saja jika kau bisa tembus pandang..” Ucap Joon sebal.

“Hentikan.. Fokus pada misi kita..” Ucap Chansung.

Sementara itu di mobil.

“Kenapa mereka malah berdebat?” Gerutu Seungho yang mendengar semuanya melalui earphone.

“Wae? Pasti Jiyeon kan?” Tebak Narsha.

“Ne..” Jawab Seungho.

Narsha tertawa kecil, “Sudah kubilang seharusnya Nickhun saja, kenapa kau menyuruh Jiyeon?”

Seungho menatap Narsha sebal, “Tubuh Nickhun tak seringan Jiyeon. Tentu saja Jiyeon yang lebih bisa diandalkan..” Ucapnya.

“Ne.. Baiklah..” Ucap Narsha dan tertawa kecil, lalu mengedarkan pandangannya.

“Hyung, mobil patroli berhenti di dekat mobilku..” Ucap lapor Nickhun di telinga Seungho.

Seungho tertegun, “Mwo? Sial.. Berpura2 kau melakukan sesuatu dan pergi..”

“Arasso..” Jawab Nickhun.

Narsha memandang Seungho bingung, “Wae?”

“Mobil Nickhun di datangi mobil patroli, kita harus mencari tempat lain..” Ucap Seungho sambil menghidupkan mesin dan mengendarai mobil pergi.

Sementara itu.

“Jiyeon, lakukan tugasmu. Kami akan mengambil posisi diatas..” Ucap Joon setengah berbisik begitu mereka tiba di museum.

Jiyeon mengangguk dan mengendap-endap pergi ke arah lain sambil memasang penutup wajahnya.

“Ayo..” Ajak Joon dan melangkah cepat menuju tangga menuju lantai dua.

“Hyung, kenapa di lantai dua? Dari lantai satu juga bisa kan mengambilnya..” Bisik Chansung bingung.

“Jika dari lantai satu, kita bisa dengan mudah tertangkap..” Ucap Joon.

“Pasang penutup wajah kalian..” Ucap Fei yang sudah mengenakan penutup wajahnya.

Sembari berlari ke lantai atas, kedua pria itu mengenakan penutup wajahnya.

Di lantai dasar.

Jiyeon berhenti depan pintu ruang kontrol penjaga, lalu mengeluarkan sebuah botol spray yang telah di rancang menjadi gas obat tidur. Ini penemuan hebat Nickhun yang berhasil membuat mereka semua tertidur akibat uji cobanya. Ia membuka pintu perlahan dan mengintip ke dalam. Terdengar ada dua suara pria di dalam, itu berarti ada seorag lagi yang sedang patroli. Dengan cepat ia melempar botol spray tadi dan menutup pintu. Juga menahannya agar tidak ada yang bisa keluar. Setelah beberapa saat, ia bergegas pergi dari sana untuk mencari seorang penjaga lagi.

Di lantai dua.

Chansung mengeluarkan alat-alat yang mereka perlukan, termasuk mesin penarik tali.

Fei memasang dua pengait tali ke tubuhnya sambil mendengarkan Joon yang menjelaskan apa yang harus ia lakukan.

“Kau harus berhati-hati karena di bawah ada pendeteksi pencuri. Jika kau mengenai sensor alat pendeteksi itu, alarm akan berbunyi dan otomatis berhubungan dengan kantor polisi.. Arasso?” Tanya Joon.

Fei mengangguk, “Ne, arasso..” Jawabnya.

“Noona, jangan terburu-buru. Pastikan saja kau merasa nyaman dan langsung beritau aku jika kau sudah mendapatkannya..” Ucap Chansung.

Fei mengangguk mengerti lagi.

“Ayo beraksi..” Ucap Joon.

Chansung menekan tombol pengendur tali dan memperhatikan Fei memanjat pembatas lantai dua.

Fei turun dengan berjalan di permukaan dinding dengan bantuan tali. “Perlahan Chansung..” Bisiknya.

Chansung memperlambat putaran mesin di sebelahnya, “Ne..”

“Stop..” Ucap Fei dan tali berhenti tepat diatas Tiara indah yang di tutup oleh kotak kaca, membuat tubuhnya melayang di udara. Ia membalik tubuhnya dan mengambil sebuah pisau khusus dengan mata berlian untuk memotong kaca. Hati-hati ia membuat lingkaran di atas permukaan kaca itu, lalu memukulnya pelan hingga bekas bulatan tadi jatuh ke dalam. “Oke..” Gumamnya sambil berhati-hati mengambil Tiara tadi. Bibirnya membentuk senyuman lebar ketika Tiara itu sudah berada di tangannya. “Aku mendapatkannya..” Ucapnya sambil kembali membalik tubuhnya, lalu memasukkan Tiara tadi ke tas parasut kecil yang tergantung di pinggangnya. Tubuhnya bergerak naik.

Chansung menoleh ke mesin di sebelahnya karena terdengar aneh.

TAAKKKK!!!

Mata Chansung melotot melihat tali yang di tarik mesin itu tiba-tiba putus dan spontan ia dan Joon langsung menahannya hingga tubuhnya sempat terseret.

Fei terkejut tiba-tiba tubuhnya kembali turun dengan kecepatan tinggi, lalu terhentak berhenti dan melayang membentuk dinding. “Ahhh!!” Rintihnya pelan.

Nafas Joon dan Chansung terengah-engah karena shock dengan kejadian yang baru saja terjadi.

“Ya.. Ada apa dengan kalian?” Bisik Fei kesal.

“Mian, noona.. Talinya tiba-tiba putus. Kami akan menarikmu perlahan..” Ucap Chansung.

“Apa yang terjadi? Kalian sudah mendapatkan Tiara-nya?” Tanya Seungho di telinga Joon.

“Terjadi sesuatu hyung, kami akan segera keluar..” Ucap Joon sambil mulai menarik tali tadi bersama Chansung.

Fei berhasil tiba di lantai dua dan memanjat pagar pembatas. “Ini…” Ucapnya sambil melempar tas berisi Tiara tadi sambil memanjat naik.

Chansung membantu Fei turun, namun karena sebelumnya mereka merangkak di saluran air, sepatu Fei tidak berpijak pas di pinggir pagar pembatas itu dan membuat sang gadis melayang jatuh. “Noona!!!” Teriaknya sambil menarik tali yang menggantung gadis itu, bahkan ia hampir terjungkal juga dari lantai dua.

“Aissh!! Kenapa kau ceroboh sekali?!” Tanya Joon sambil menarik pinggang Chansung kebelakang.

Fei shock tubuhnya kembali tergantung di udara. Jantungnya berdegup kencang dan memandang ke bawah. Jaraknya dan lantai masih cukup jauh, lalu memandang ke atas.

“Noona, jangan takut. Aku akan menarikmu..” Ucap Chansung sambil mengaitkan tali tadi ke tangannya. Namun begitu dia ingin menarik dirinya, tubuhnya malah semakin tertarik kedepan.

“Ya!! Jangan banyak bergerak dulu!!” Seru Joon sambil menarik pinggang Chansung. “Aku akan menarikmu perlahan..” Ucapnya dan berusaha bergerak mundur. Namun karena sekarang hanya pria muda itu yang memegang tali, daya tarik akibat tubuh Fei semakin besar.

Chansung memejamkan matanya menahan sakit di kedua tangannya akibat terlilit tali. Sekarang kakinya tak berpijak ke lantai dan hanya Joon yang menahannya tetap di lantai atas.

Fei memegang tali itu dan berusaha menenangkan pikirannya.

Tes…

Fei tertegun merasakan sesuatu menetes ke pipinya. Tangannya menyentuh cairan itu dan matanya membesar melihat itu adalah darah dan menatap ke atas.

“Aarrrghh!!” Erang Chansung sambil tetap menahan tali di tangannya yang mulai berdarah akibat lilitan tali yang terlalu kuat. Jika ia terus membiarkannya, tali itu bisa menghancurkan tangannya atau membuatnya kehilangan tangan. Tapi ia tak peduli.

“Jiyeon! Jiyeon dimana kau! Aku butuh bantuanmu!” Seru Joon.

“Oppa, aku melihat polisi di depan museum..” Terdengar suara Jiyeon dari suatu tempat.

Semuanya tertegun mendengar ucapan Jiyeon. Terutama Fei yang masih berada di awang-awang.

“Hyung! Cepat tarik!!” Seru Chansung.

Fei memandang ke bawah, lalu memandang ke atas. “Ya.. Tiara itu ada pada kalian, bawa itu sebelum polisi tiba..” Ucapnya pelan, lalu mengambil pisau di pinggangnya.

Mata Chansung melotot, “Noona!! Jangan berpikir untuk melakukannya!!” Serunya.

“Pabo!! Fei! Jangan katakan apa pun!!” Seru Joon.

Fei memandang Chansung dan tersenyum, lalu memotong tali yang mengikat tubuhnya.

“Noona!!!” Teriak Chansung. Begitu tali itu terputus, tubuhnya dan Joon terlempar ke belakang.

“Aaarrh!!!” Teriak Joon menahan sakit.

“Ya!! Apa yang terjadi?! Kenapa kalian berteriak?!!”Seru Seungho panik.

Chansung mengerang karena kedua tangannya terasa perih di balik sarung tangan yang ia kenakan. Namun ia tak bisa berdiam diri, dengan cepat ia bangkit dan memandang ke bawah. Ia terpaku melihat Fei terbaring di lantai tak bergerak. Tangannya langsung memegang earphone, “Noona…” Panggilnya, “Noona!!!” Teriaknya.

<<Back           Next>>

Advertisements

7 thoughts on “I’m With You [Chapter 4]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s