Chapter

I’m With You [Chapter 3]

3

—That Person—

“Wuhuuuu!!! Kita berhasil!!!” sorak Joon sambil menuang isi tas bawaan mereka ke meja hingga uangnya berjatuhan bersama beberapa berlian dan amplop besar berwarna coklat.
“Wuhuuu!!” sorak yang lain sambil mengambil uang dan menatapnya girang.
“Wow!! Kita dapat berlian asli!” ucap Seungho girang sambil mengambil berlian-berlian tadi.
“Hahahaha.. pria tua itu pasti langsung menangisi hartanya yang hilang..” tawa Jiyeon girang.
“Fei, kau mengambil semua yang ada di brankas?” Tanya Nickhun sambil menghitung uang di tangannya.
“Ne, aku tidak percaya dia membawa uang sebanyak ini saat ada Bank di mana-mana..” ucap Fei dan tertawa.
Chansung mengambil sebuah kalung berlian dan memandanginya, “Bisa aku menyimpan ini?” Tanyanya.
“Ne? wuaa.. kau pandai sekali memilih yang paling bagus. Ne, simpanlah.. Beberapa tahun lagi kau bisa mendapat miliayan dolar karena itu..” ucap Narsha dan memandangi cincin berlian di jarinya lagi.
Chansung mengangguk dan memasukkannya ke saku celana.
Jiyeon mengambil amplop coklat tadi dan melihat apa isinya, “Hm? Ini apa?” tanyanya.
Seungho mengambil berkas didalam amplop dan membacanya sebentar, matanya melotot setelah tau apa isinya, “Wuaaaah!!! Dia kaya sekali..” ucapnya tak percaya.
“Ne? jinja? Itu daftar asetnya?” Tanya Narsha tak percaya.
“Ne.. lihat ini..” ucap Seungho sambil memperlihatkan apa yang ia maksud pada teman-temannya, “Dia punya sebuah mansion di pulau Jeju, sebuah kapal pesiar mewah, kumpulan mobil-mobil mewah antic…” ucapnya tak percaya.
“Wuaaa… dia benar-benar.. Menolak bayar pajak tapi memiliki semua ini?!” Tanya Narsha tak percaya.
“Hummm.. dasar tua Bangka.. Aishh.. jika tau tentang ini lebih baik kita curi kapal pesiarnya saja..” ucap Jiyeon cemberut.
“Oke.. Kita nikmati uang ini beberapa saat, lalu mulai dengan misi selanjutnya..” ucap Seungho.
“Ne..” jawab yang lain.
Masing-masing membawa bagian mereka dan beranjak ke kamar untuk beristirahat.

=Kamar Fei dan Chansung=
Chansung masuk ke kamar setelah membersihkan diri dan langsung menuju sofa dan duduk disana.
Fei yang sudah berbaring di tempat tidur kembali duduk sambil memandan Chansung, “Chansung-a, kau ada rencana? Shopping? Traveling?” Tanyanya.
Chansung berpikir sejenak, “Mmm.. Aku belum memikirkannya noona, bagaimana denganmu?”
Fei tersenyum sambil membayangkan sesuatu, “Aku berpikir untuk pergi ke sebuah tempat yang menyenangkan.. Dimana aku tidak perlu memikirkan apa pun selain bersenang-senang..”
Chansung tersenyum, “Jika begitu aku akan ikut kemana pun kau pergi..”
Fei kembali memandang Chansung sambil tersenyum manis, “Ayo tidur, sudah malam..” Ucapnya, kemudian menarik selimut menutupi dirinya sambil berbaring.
Chansung berbaring dan menyelimuti dirinya. Kepalanya menoleh ke arah Fei sambil tetap memandangi gadis itu yang mematikan lampu di meja dan juga berbaring sambil memandanginya.
Fei tersenyum hangat dan mengulurkan tangannya kearah Chansung.
Chansung membalas uluran tangan Fei dan saling berpegangan dengan gadis itu. “Selamat tidur, noona..” Ucapnya.
“Ne, selamat tidur..” Balas Fei dan memejamkan matanya.

=Beberapa Hari Kemudian=
Ketujuh anggota pencuri itu duduk di ruang tengah sambil mempersiapkan peralatan mereka untuk misi selanjutnya.
“Aku heran kenapa kita tidak menggunakan pistol.. Kan keren oppa..” Ucap Jiyeon sambil mengikat tali pengaman.
Seungho melirik Jiyeon lucu, “Jika kita menggunakan pistol, kita akan membunuh seseorang. Itu bukan cara kita..”
“Lalu, kalau kita yang terbunuh?” Tanya Jiyeon.
“Berarti kau tamat!” Ucap Joon.
Jiyeon cemberut karena jawaban Joon, “Aissh.. Oppa..”
“Jiyeon, kita menggunakan strategi dan kesexian..” Ucap Narsha sambil berpose sexy.
Semuanya tertawa karena tingkah Narsha.
“Noona, jika semua pencuri sepertimu. Pria bejat akan terperangkap semua..” Ucap Nickhun.
Fei dan Chansung hanya tertawa kecil sambil memasang tali pengaman tubuh.
Joon memperhatikan kedua orang itu penasaran, “Aku penasaran dengan kalian berdua..”
Semuanya memandang Fei dan Chansung, sedangkan kedua orang itu tampak bingung.
“Ne? Wae?” Tanya Fei.
Joon menyipitkan mata menatap kedua orang itu curiga, “Kalian terlihat tidak seperti noona dan dongsaeng..”
Fei dan Chansung tertegun, “Mwo?”
Nickhun memandang Joon heran, “Apa yang kau katakan? Jangan konyol..”
“Ani..” Ucap Joon pada teman-temannya yang lain, “Apa kalian tidak melihat kalau Chansung terlihat lebih tua dari Fei? Sepertinya mereka itu Oppa dan dongsaeng..” Ucapnya.
Semuanya menahan tawa atas kekonyolan ucapan Joon.
Fei dan Chansung menghela nafas lega dan tertawa kecil.
“Hyung, aku lebih muda 3 tahun. Apa tidak terlihat aku lebih cute?” Tanya Chansung sambil berakting cute dengan mengembungkan pipinya.
“Ieeeew!! Hentikan itu!!” Seru Joon jijik.
“Oppa!! Neomu keyowa..” Seru Jiyeon gemas.
“Aku justru penasaran tentang hal lain..” Ucap Seungho yang membuat semuanya kembali tegang.
“Penasaran tentang apa oppa?” Tanya Fei hati-hati.
“Mmm.. Maksudku, kalian terlihat… Errrr.. Sedikit berbeda dari kakak adik biasanya..” Ucap Seungho ragu.
“Ya.. Jika kau pernah mengalami apa yang telah mereka alami, kau pasti akan melakukan itu pada saudaramu..” Ucap Narsha membela.
Fei dan Chansung hanya tersenyum dan kembali melanjutkan pekerjaan mereka.
Malamnya.
Chansung yang sudah memejamkan mata di sofanya kembali membuka mata karena merasa Fei masih terjaga. Dan perasaannya benar, gadis itu berbaring sambil memandang langit-langit. Terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. “Noona, kau belum tidur?”
Fei menoleh ke arah Chansung, “Ohh.. Kau juga?”
Chansung bergerak bangkit dan menghampiri tempat tidur, lalu duduk di pinggirnya. “Apa yang kau pikirkan noona?”
Fei bergerak duduk dan menyandarkan punggungnya, “Mmm.. Aku hanya memikirkan ucapan Seungho oppa tadi..”
“Tentang kita yang terlihat berbeda?” Tanya Chansung.
Fei menghela nafas dalam dan mengangguk, “Ne..”
Chansung menatap Fei dan mengulurkan tangannya ke pipi gadis itu, “Mereka bisa berprasangka. Tapi itu tidak akan mengubah apa pun. Benar kan?”
“Aku tau.. Tapi….. Sampai kapan mereka berpikir kita bersaudara?” Tanya Fei pelan.
Chansung berpikir sejenak, “Entahlah.. Tapi aku merasa belum aman untuk kita mengungkap semuanya sekarang..”
Fei menatap kedua mata Chansung dalam.
Chansung memajukan wajahnya agar bisa menatap kedua mata Fei lebih jelas, “Kita sudah berjanji untuk saling menjaga satu sama lain, apa pun yang terjadi kita akan terus bersama. Arasso?”
Fei mengangguk pelan, “Arasso..”
Chansung tersenyum sambil merapikan poni Fei, “Nahh.. Tidurlah..” Ucapnya, lalu kembali ke sofa.
Fei tersenyum memandang Chansung dan kembali berbaring.

=Sebuah Gedung Perkantoran=
Seperti biasa, anggota pencuri ini datang dengan tiga mobil berbeda. Kali ini Jiyeon bersama Narsha, Nickhun bersama Fei dan Seungho, Joon dan Chansung datang bersama.
Tim pertama tiba dan memarkirkan mobil di depan gedung. Nickhun dan Fei akan mendatangi kantor di sebelah kantor target mereka, yaitu mendatangi seorang penasehat rumah tangga dan tentu mereka akan menjadi pasangan tidak harmonis yang akan berkonsultasi.
Nickhun dan Fei menghampiri meja informasi.
“Maaf, kami sudah membuat janji bersama Dokter Oh Sojin, bisa kau memberitau dimana lantainya?” tanya Nickhun sambil tersenyum.
Gadis di meja informasi itu tersipu melihat Nickhun tersenyum.
Fei menatap Nickhun kesal dengan kedua tangan terlipat di dada, “Kau menggoda gadis lagi? Ya!”
Gadis tadi tertegun dan menunduk canggung.
Nickhun memandang Fei menyesal, “Aniya, aku hanya bertanya..”
“Aissh!” seru Fei pada Nickhun dan menatap gadis tadi, “Dimana lantainya?!”
“Di… Di lantai dua nona..” ucap gadis tadi tanpa mengangkat wajah.
Fei langsung melangkah menuju lift.
“Cesongeo, istriku punya masalah dengan emosinya..” ucap Nickhun menyesal.
“Ya!!” panggil Fei kesal karena Nickhun masih berdiri disana.
“Ne.. ne.. aku datang..” ucap Nickhun sambil menghampiri Fei dan masuk ke lift.
Tim kedua.
Narsha mengenakan pakaian elegan layaknya seorang nyonya bangsawan dengan Jiyeon yang mengenakan baju SMP lengkap dengan tas dan perlakuan manjanya. Misi mereka kali ini adalah mencuri benda berharga yang di pajang oleh psikolog anak yang tak di ketahui dunia sebagai pelaku pelecehan terhadap anak di bawah umur juga pemerasan terhadap keluarga yang menjadi korban.
“Eomma.. shiro! Aku mau pulang!!” rengek Jiyeon sambil menarik tangannya.
Narsha menarik Jiyeon menuju lift, “Dengarkan eomma! Ikut saja kali ini..” ucapnya sebal, lalu menunggu lift.
Tim ketiga.
Mereka menyamar sebagai petugas pembersih AC dan mengenakan seragam lengkap beserta topi. Mereka memarkirkan mobil di belakang gedung dan masuk melalui pintu belakang dengan peralatan mereka.
Seorang penjaga yang ada di sana memandang ketiga pria itu bingung, “Ada apa kalian kemari?”
Seungho memandang pria itu, “Kami dipanggil karena ada saluran AC yang rusak..”
“Sebentar..” ucap pria itu dan berbicara pada walky talky-nya, “Apakah saluran AC kita ada yang rusak?”
“Zzzkkk.. ne! Apa petugasnya datang?” tanya seorang pria di seberang.
“Ne.. Mereka sudah tiba..” jawab penjaga tadi.
“Bagus.. Suruh mereka masuk..” ucap pria tadi.
“Baik, kalian bisa masuk..” ucap petugas tadi pada Seungho.
Seungho membungkuk sopan dan melangkah masuk bersama Joon dan Chansung tanpa mengatakan apa pun lagi.
Tim Satu.
“Apa yang sering membuat kalian bertengkar?” tanya Dokter Oh pada Fei dan Nickhun yang duduk di depannya.
“Mmm.. istriku selalu cemburu apa pun yang kulakukan..” jawab Nickhun pelan.
Fei menatap Nickhun kesal, “Mwo?! Aku?! Ya! Kau yang selalu tersenyum pada gadis-gadis lain!”
Dokter Oh tersenyum tipis, “Nyonya, jangan selalu membalasnya dengan emosi. Pelankan suaramu dan bicara baik-baik…” ucap Dokter Oh berusaha menenangkan.
Tim Dua.
“Dokter, putriku ini selalu ketakutan dan cengeng. Aku tidak mengerti mengapa dia bisa seperti ini. Aku khawatir sekali pada masa depannya..” ucap Narsha sambil merangkul Jiyeon dan menahan tangis.
Dokter Kim Minjun tersenyum tipis dan memandang Jiyeon yang terlihat memandang sekitarnya ngeri, “Jiyeon-a, waekeure?” tanyanya pelan.
Jiyeon memandang dokter Kim dan menunduk takut, “A-animida..”
“Jiyeon-a, gwenchana.. Berbicaralah pada dokter Kim, dia akan membantumu..” ucap Narsha sambil membelai rambut Jiyeon.
Jiyeon memandang Narsha, saat itu matanya melihat sebuah pajangan di bufet. Sebuah piala dalam kotak kaca berwarna emas. Itu terbuat dari emas murni dan sudah ada beberapa kolektor dunia yang berani bayar mahal untuk orang yang mendapatkannya. Ia kembali menunduk dan meremas jam tangannya ketakutan, sebenarnya untuk menekan tombol yang akan memberi sinyal pada yang lainnya.
Tim Tiga.
Tit!
Seungho, Joon dan Chansung yang sudah berada di tangga darurat menuju atap berhenti sejenak untuk memandang jam tangan mereka dan saling berpandangan.
“Jiyeon sudah melihatnya, ayo bergegas..” ucap Seungho dan mempercepat langkah kakinya.
Begitu tiba di atap, mereka langsung menghampiri satu sisi dan mengeluarkan alat-alat mereka di dalam tas. Salah satunya kabel beserta penarik otomatisnya.
Chansung mengeluarkan pengait dan memasangkannya ke ujung kabel, lalu memandang Seungho dan mengangguk.
Seungho memandang jam tangannya dan menekan tombol disana menandakan mereka siap.
“Oke, turunkan kabelnya..” ucap Joon pada Chansung.
Chansung menurunkan ujung kabel dan menekan tombol di mesin untuk mengulurkannya kebawah perlahan.
Di ruang Dokter Oh.
Nickhun memandang jam tangannya karena berbunyi.
Fei menatap Nickhun tak percaya, “Oh! Kau sudah memiliki janji dengan gadis lain lagi ha?!”
Nikchun terkejut, “Aniya.. Jeongmal aniya!”
“Sudahlah.. aku ingin ke toilet..” ucap Fei sambil bangkit, “Dokter, aku ingin menenangkan diriku sebentar. Bisa aku menggunakan toiletmu?”
“Tentu nyonya Hwang.. Di sebelah sana..” ucap Dokter Oh sambil menunjuk toilet.
Fei mengangguk dan melangkah menuju kamar mandi.
Nickhun menunduk sedih hingga mendengar pintu kamar mandi tertutup.
Dokter Oh menatap Nickhun iba, “Pasti ini sangat berat, tapi dengan kekuatan cinta kalian pasti akan lebih baik..”
Nikchun memandang Dokter Oh, “Ne, dokter.. Aku tau sebenarnya ia sangat rapuh. Ia selalu akan menenangkan dirinya jika kami bertengkar. Mungkin anda berpikir ia hanya berada di sana dan diam, tapi sebenarnya ia selalu menangis karena merasa aku telah menyakitinya.” Ucapnya, lalu memegang tangan Dokter Oh. “Aku tidak mungkin menyakiti wanita yang kuncintai, anda mengertikan Dokter?”
Dokter Oh menatap Nickhun dengan mata berkaca-kaca dan mengangguk mengerti, “Tentu saja, tuan. Biarkan istrimu menenangkan dirinya terlebih dulu.”
Sementara di kamar mandi.
Fei mengunci pintu dan menghampiri wastafel, lalu menghidupkan airnya. Setelah itu dengan cepat ia meletakkan tasnya di atas kloset dan membukanya untuk menemukan ikat rambut. Ia melepas sepatu high heelsnya sembari mengikat rambut panjangnya. Lalu menarik resleting dress selututnya turun dan melepaskan baju itu. Di balik dress itu ia mengenakan pakaian serba hitam ketat dan stoking senada. Ia memajat kloset dan membuka lubang ventilasi dengan hati-hati. Beruntung karena tubuh langsingnya ia bisa masuk ke semua lubang ventilasi yang mereka temui.
Di ruangan Dokter Kim.
Tit…
Narsha memandang Dokter Kim dengan mata memelas, “Dokter Kim, bisakah aku berbicara berdua denganmu sebentar? Aku benar-benar hanya bisa mengandalkanmu, dokter..” ucapnya.
Dokter Kim diam sejenak, “Mmm.. ini..”
“Berapa pun biaya yang kau minta, dokter. Aku hanya ingin putriku sembuh..” ucap Narsha memohon.
Dokter Kim terdiam sesaat, lalu tersenyum. “Keure, ayo kita ke ruang file sebentar..” ucapnya sembari bangkit dan memimpin jalan.
Narsha bangkit dan berjalan mengikuti Dokter Kim, sebelum menutup pintu, ia sempat memandang Jiyeon dan memberi isyarat untuk cepat.
Begitu kedua orang itu menghilang, Jiyeon segera bangkit dan membuka tasnya. Lalu mengeluarkan piala tiruan yang tentunya palsu dengan bentuk menyerupai aslinya yang terbungkus tas parasut berwarna hitam.
Pintu kamar mandi terbuka dan muncul Fei, “Cepat..” ucapnya setengah berbisik dan berjalan cepat menuju jendela.
Jiyeon melangkah menghampiri meja tempat pajangan tadi. Sebelum membuka kotak kaca itu ia mengenakan sarung tangan karet agar tidak meninggalkan jejak. Lalu dengan hati-hati ia membuka tutup kotak dan mengeluarkan pialas asli yang cukup berat itu. “Uuuh.. ternyata lebih berat dari yang kupikirkan..” gumamnya sambil meletakkannya ke meja.
Fei membuka jendela dan melihat ke atas. Terlihat sebuah kabel beserta pengait bergerak turun. Ia segera mengambilnya, “Oke, aku dapat..” ucapnya sambil memegang telinga.
Jiyeon sudah meletakkan piala palsu yang tidak berat sama sekali dan menutup kotak kaca tadi, lalu memasukkan yang asli ke tas parasut dan berlari kecil menghampiri Fei.
Fei mengambil tas tadi dan mengaitkannya ke kabel tadi, “Kami berhasil.. tarik barangnya..” ucapnya.
Diatas atap. Chansung mendengar ucapan Fei dan segera menekan tombol untuk menarik kabel tadi.
“Kita berhasil..” bisik Jiyeon senang pada Fei.
“Aku kembali..” ucap Fei sambil melangkah kembali ke kamar mandi. Saat itu langkahnya terhenti karena melihat sebuah potongan artikel koran yang terpajang di dinding menggunakan bingkai. Dahinya berkerut melihat photo pria muda yang ada disana. Dari tahunnya, itu berita itu di buat sekitar 10 tahun lalu. Ia tiba-tiba tersentak mengingat apa yang terjadi 13 tahun lalu padanya dan Chansung. Pria yang ada photo itu terlihat sangat mirip dengan pria yang membuat hidup mereka seperti ini.
Jiyeon memandang Fei bingung, ia terkejut mendengar pintu ruang file terbuka. Dengan cepat ia melangkah ke kamar mandi sambil mendorong Fei masuk.
Fei tersadar dan memandang Jiyeon kaget.
Narsha bingung melihat Jiyeon masuk ke kamar mandi terburu-buru, “Jiyeon-a, waekeure?” tanynya sambil menghampiri pintu kamar mandi.
“Sebentar eomma..” ucap Jiyeon sambil menghidupkan keran wastafel dan memandang Fei, lalu memberi isyarat agar gadis itu segera pergi.
Fei segera memanjat kloset dan naik ke lubang ventilasi lagi.

 

<<Back             Next>>

Advertisements

7 thoughts on “I’m With You [Chapter 3]

  1. Wahh.. jadi penasaran ama apa yg menimpa fei ama chansung… terus kalo misalnya fei ama chansung gak bersaudara, knp mereka gak bilang ama yg lain??
    hmm.. next~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s