Uncategorized

I’m With You [Chapter 2]

 

2

Mission

=Sebuah hotel mewah=

Seungho dan Narsha berjalan di antara tamu undangan dengan pakaian glamor dan berbaur.

Seungho mengambil sebuah gelas wine dan memandang sekitar mencari target mereka, matanya menangkap sesosok pria berwibawa yang sedang berbicara dengan beberapa pria. “Aku melihat target kita..” ucapnya.

Narsha memandang kearah pria itu, “Hmm.. pria tua lagi..” ucapnya bosan.

Seungho memandang Narsha lucu, “Biasanya di usia tua kau tidak menyadari kesalahanmu..” ucapnya, lalu menekan sebuah tombol di jam tangannya.

Di tempat lain.

Tit!!

Fei, Nickhun, Joon, Chansung dan Jiyeon berada di sebuah ruangan di basement hotel serentak memandang jam tangan mereka yang berbunyi, menandakan Seungho sudah meminta mereka bergerak.

“Oke, kita bergerak..” ucap Joon.

Saat itu, Joon, Chansung dan Fei mengenakan pakaian serba hitam sedangkan Jiyeon mengenakan pakaian pelayan dan Nickhun seperti tamu biasa. Yang lain segera memasang sebelah earphone dan bergerak bangkit.

Jiyeon dan Nickhun langsung keluar dari ruangan itu, sementara tiga yang lainnya memanjat naik ke lubang udara di langit-langit.

Kembali ke ball-room.

“Ayo..” bisik Seungho pada Narsha dan melangkah menuju pria tua itu.

Narsha mengikuti Seungho dengan senyumannya, namun matanya membesar dan langsung menahan pria itu ketika menyadari ada seseorang yang ia kenal. “Omo! Kenapa dia disana?”

Seungho memandang Narsha bingung, “Wae?”

“Aissh.. Ya.. pria yang mengenakan dasi biru itu mantan suamiku..” ucap Narsha pada Seungho.

Seungho tertegun dan memandang pria yang dimaksud Narsha, “Oh.. dia, tapi kita harus kesana..”

“Begini saja, ubah ceritanya. Nanti perkenalkan aku sebagai tunanganmu. Arasso?” tanya Narsha.

Seungho diam sejenak dan menahan tawa, “Keure, ayo..” ucapnya sambil memberikan lingkar tangannya pada Narsha.

Narsha memeluk lengan Seungho dan melangkah bersama pria itu.

Mantan suami Narsha, Seo Jisub yang sedang mengobrol dengan target mereka, Jung Baekjo tertegun melihat gadis itu disana dan menggandeng seorang pria.

“Annyeonghaseo, Jung sajangnim..” sapa Seungho sopan.

Baekjo memandang Seungho, “Ohh.. ne, annyeonghaseo Yoo sajangnim..”

Seungho tersenyum lebar, “Ini sebuah kehormatan anda mengundang saya ke acara semegah ini. Padahal saya hanya memliki perusahaan kecil..”

“Aigoo.. perusahaan kecil apa.. Kau kan pengusaha berlian, itu tidak bisa dikatakan kecil, Yoo sajangnim..” ucap Baekjo sambil tertawa kecil dan memandang Narsha. “Dan, siapa wanita cantik ini?”

Narsha tersipu malu di bilang cantik.

“Ini tunanganku, Jung sajangnim..” ucap Seungho sambil mengelus tangan Narsha yang memeluk lengannya.

Narsha tersenyum manis, “Annyeonghaseo, Jung sajangnim. Perkenalkan, namaku Narsha Kim. Tunanganku selalu menceritakan bagaimana berkarismanya anda selama dalam perjalanan, aku jadi penasaran untuk bertemu anda..” ucapnya.

Jung sajangning tertawa kecil, “Aigoo.. tunanganmu hanya mengada-ada saja..”

Seungho memandang Jisub yang menatap Narsha tanpa ekspresi, “Ada apa tuan? Kenapa anda menatap tunanganku seperti itu?”

Narsha memandang Jisub dan mendekat ke Seungho, “Dia Seo Jisub..” bisiknya.

Seungho tertegun memandang Narsha dan kembali memandang Jisub, “Oh.. Seo Jisub-ssi..”

“Hm? Kalian sudah saling mengenal?” tanya Baekjo.

Seungho memandang Baekjo sambil tersenyum tipis, “Ne, sajangnim.. Seo Jisub-ssi ini mantan suami tunanganku..”

“Ne?” ucap Baekjo kaget dan menatap Jisub tak percaya.

Seungho memandang Jisub, “Berhubung kita bertemu secara langsung, tolong berhenti menghubungi tunanganku lagi. Harta gono gini apa yang kau maksud? Semua yang ia punya sekarang aku memberikannya..” ucapnya dan tersenyum sinis, “Apa sekarang kau sudah jatuh miskin Seo Jisub-ssi?”

Jisub tertegun dan terlihat panik.

“Ne? Jadi rumor itu benar?” tanya Baekjo tak percaya.

“A-aniya, sajangnim.. tentu saja tidak..” jawab Jisub cepat.

“Keurom, kami permisi..” ucap Seungho melangkah bersama Narsha. Begitu berbalik mereka langsung tersenyum puas.

Narsha memegang telinganya yang tertutup rambut, “Saatnya beraksi..” ucapnya pelan.

Di pos satu.

Fei, Chansung dan Joon sudah bersiap di persimpangan pipa udara terbesar dengan alat-alat mereka.

“Oke, ayo mulai..” ucap Joon.

Chansung mengaitkan ujung tali elastis ke pinggangnya, lalu menahan dirinya di atas sebuah pipa angin menuju bawah.

Fei mengaitkan ujung yang lainnya ke tubuhnya, lalu bersiap menuruni pipa udara itu.

“Seharusnya kita masuk dari atap, dengan begitu kita bisa menggunakan mesin penarik..” gumam Joon kesal sambil mengaktifkan alat pelacak di tubuh Fei.

“Lalu kita akan ketahuan karena ada CCTv dimana-mana..” ucap Chansung sambil memandang Joon aneh.

Fei tertawa kecil, “Sudahlah.. aku turun..” ucapnya.

“Kemari..” ucap Chansung sambil menarik tali hingga Fei tertarik ke arahnya.

“Ya..” ucap Fei sambil memukul bahu Chansung pelan.

Chansung tertawa kecil.

Fei memegang kedua bahu Chansung, lalu memasukkan kakinya ke pipa di bawah.

“Ini tidak terlalu jauh, juga gunakan senter jika disana gelap..” ucap Chansung sambil melilit tali ke tangannya yang menggunakan sarung tangan agar bisa menahan ketika Fei turun.

“Aku mengerti..” ucap Fei, lalu mulai turun sambil berpegangan ke sisi kiri dan kanannya.

Chansung menurunkan tali perlahan-lahan.

Fei menuruni pipa itu dengan hati-hati hingga tiba di lorong pipa selanjutnya, “Oke, aku tiba..” ucapnya sambil memandang sekitar.

Joon memperhatikan layar ipadnya, “Pergi ke sisi kananmu. Di lubang ventilasi udara kedua, kamar mandi di kamar si tua bangka itu menginap..” ucapnya sambil melihat lingkar merah yang menandakan Fei tadi mulai bergerak.

Fei merangkak menyusuri lubang pipa itu sambil memperhatikan lubang ventilasi. “Chansung, kendorkan talinya lagi..”

“Arasso..” ucap Chansung dan mengulurkan tali lagi.

Fei berhenti di lubang ventilasi kedua yang ia temui dan mengintip kedalam, “Kurasa aku sudah menemukannya..” ucapnya.

“Keure, cepat lakukan tugasmu. Acara itu berakhir setengah jam lagi..” ucap Joon.

“Arasso..” ucap Fei. Lalu mendorong penutup ventilasi tadi dengan hati-hati dan tetap menahannya agar tidak terjatuh kebawah. Setelah berhasil, ia meletakkan penutup itu di sisi kirinya dan turun kebawah. Satu kakinya terulur dan menginjak kloset, lalu turun ke lantai. “Oke aku sudah masuk..” ucapnya sambil melepaskan pengait tali dari pinggangnya dan melangkah keluar dari kamar mandi sambil memperhatikan ke kanan dan kiri memastikan tidak ada siapa pun disana. “Dia tidak mengajak siapa pun kan?” bisiknya sambil mengendap-endap.

“Setauku tidak.. Percepat saja gerakanmu…” ucap Joon.

“Aku akan mulai mencarinya..” ucap Fei sambil mulai menyusuri kamar mewah itu untuk mencari brangkas atau sesuatu yang mencurigakan.

Di tempat lain.

Seungho tertegun melihat Baekjo melangkah menuju pintu keluar, “Target bergerak..” ucapnya.

Didalam kamar.

Fei tertegun, “Ne? Kemana arahnya?”

“Sepertinya ia akan kembali ke kamar.. Cepat!” bisik Seungho.

Narsha memegang telinganya, “Jiyeon, Nickhun..”

“Noona, cepat!” bisik Chansung.

“Arasso..” ucap Fei dan membuka lemari untuk mencari apa pun yang menurutnya berharga. Saat itu matanya menemukan sebuah brankas di bawah pakaian gantung, “Aku menemukannya, ulur waktu!” ucapnya sambil berusaha menebak kode brankas itu.

Baekjo keluar dari ball room dan melangkah menuju lift, setelah menunggu beberapa saat ia melangkah masuk.

Nickhun dan Jiyeon terlambat menghalangi Baekjo di lantai itu.

“Aissh.. ayo..” ucap Nickhun sambil menarik Jiyeon menuju tangga darurat dan berlari ke atas. Meskipun tujuan mereka lantai 3, mereka tidak ada pilihan lain selain terus berlari. Ketika keluar dari pintu darurat, mereka melihat Baekjo sudah keluar dan melangkah menuju kamarnya.

“Aissh.. itu dia..” gumam Nickhun yang mulai panik.

Jiyeon mendapat sebuah ide dan memandang Nickhun, “Oppa, tampar aku…”

Nickhun terkejut mendengar ucapan Jiyeon, “Mwo?”

“Cepat!” ucap Jiyeon.

Nickhun melirik Baekjo yang sudah mulai dekat dan memandang Jiyeon. Tidak ada pilihan lain, ia mengangkat tangannya dan menampar gadis muda itu.

PLAKK!!

Baekjo yang sudah tiba di depan pintu kamarnya dan hendak membuka pintu terkejut mendengar bunyi tamparan itu.

“Cesonghamida, tuan..” ucap Jiyeon sambil memegang pipi dengan kepala tertunduk dan mulai menangis menyesal.

“Aku sudah berkata untuk tidak masuk ke kamarku tanpa ijinku kan?! Hotel macam apa ini?!” seru Nickhun pada Jiyeon.

“Cesonghamida, aku tidak akan melakukannya lagi..” ucap Jiyeon.

Baekjo merasa ada sesuatu yang tidak benar dan melangkah mendekati orang itu, “Maaf, kenapa anda sampai menamparnya?” tanyanya tidak senang.

Nickhun memandang Baekjo dengan wajah marahnya, “Aku sudah berkata pada pihak hotel untuk tidak masuk atau pun membersihkan kamarku saat aku tidak ada. Tapi gadis ini tetap masuk dan membereskan barang-barangku! Akibatnya aku tidak bisa menemukan material kecil yang kugunakan untuk membuat miniatur!!”

Baekjo memandang Jiyeon yang menangis menyesal sambil memegang pipi, lalu memandang Nickhun, “Tapi memukul seorang wanita tetap bukan hal baik tuan.. Begini saja, jika benda itu memang penting. Berikan saja listnya padaku, aku akan menggantinya..” ucapnya.

Jiyeon menatap Baekjo tak percaya, “Tuan?”

Baekjo tersenyum pada Jiyeon dan memegang bahunya, “Gwenchana, aku selalu puas dengan pelayanan hotel ini. Aku tau kau dan yang lain sudah melakukan tugasmu dengan benar. Aku akan membantumu..”

Jiyeon langsung membungkuk sopan berkali-kali, “Gamshamida.. gamshamida Tuan..”

Sementara itu.

Klek!

Fei tersenyum lebar melihat pintu brankas itu terbuka, “Yes!” ucapnya pelan dan membuka lebar pintunya. Matanya membesar melihat tumpukan uang dan berlian, juga ada surat-surat.

“Fei cepat!” seru Joon di telinga Fei.

“Arasso..” ucap Fei sambil mengeluarkan tas yang terbuat dari kain berbahan parasut yang bisa di lipat kecil dan ia selipkan di balik pinggang celana ketatnya, lalu dengan cepat ia memasukkan semua barang yang ada di dalam brankas. Begitu ia menutup pintu, ia tertegun mendengar pintu depan terbuka, “Sial!” gumamnya sambil bangkit dan menutup pintu lemari. Lalu segera berlari ke kamar mandi tanpa bunyi apa pun.

Pintu terbuka lebar, masuk Baekjo sambil merangkul Jiyeon yang masih menangis karena kejadian tadi. “Jangan menangis lagi, kau tidak akan mendapat surat pemecatan..”

“Ne, gamshamida Tuan.. Aku tidak tau bagaimana cara membalas kebaikanmu Tuan…” ucap Jiyeon pelan.

Baekjo terkekeh dan membawa Jiyeon ke tengah ruangan, “Jangan di pikirkan, aku memang harus membantu gadis manis sepertimu..” ucapnya. “Duduklah dulu.. Aku akan mengambilkan es batu untuk pipimu..” ucapnya sambil menghampiri kulkas.

“Ne, Tuan..” ucap Jiyeon dan bergerak duduk ke sudut tempat tidur. Sebenarnya ia sudah tau apa yang di pikirkan pria itu membawanya kesana, namun ia harus mengulur waktu.

Di kamar mandi, Fei naik ke atas kloset dan memasukkan tas tadi ke lubang ventilasi. Lalu memasang pengait tali tadi sambil mengintip ke pintu kamar mandi. “Chansung, tarik aku..” bisiknya.

Chansung langsung bergerak mundur sambil menarik tali yang terikat pada Fei.

Fei merasa tali di pinggangnya tertarik dan langsung meloncat naik tanpa menimbulkan bunyi, lalu memanjat naik ke pipa hingga seluruh tubuhnya kembali berada di benda itu. “Oke, aku sudah aman..” bisiknya sambil kembali menutup lubang ventilasi. Ia menyandang tas tadi di punggungnya dan merangkak kembali dengan bantuan tali yang ditarik Chansung perlahan.

Seungho dan Narsha saling tersenyum mendengar pemberitauan Fei.

“Oke, misi selesai.. Kita pergi sekarang..” ucap Seungho, lalu langsung menuju pintu keluar bersama Narsha.

Jiyeon memegang telinganya yang tertutup rambut, lalu tersenyum pada Baekjo yang kembali menghampirinya bersama dua minuman dingin.

“Ini, tenangkan dirimu dulu..” ucap Baekjo sambil memberikan satu gelas pada Jiyeon.

Jiyeon menerimanya sambil mengangguk sopan, “Gamshamida, Tuan..”

Baekjo bergerak duduk di sebelah Jiyeon dan meneguk air di gelasnya.

Jiyeon berlaku seperti ia akan meminum air di gelas, namun ia berhenti karena merasakan getaran di ponselnya. “Cesonghamida..” ucapnya sambil mengeluarkan ponselnya dan melihat layar. “Sebentar Tuan, aku akan mengangkat panggilan ini dulu…”

“Ne? Kenapa tidak minum dulu? Kau terlihat shock karena masalah tadi..” ucap Baekjo membujuk.

Jiyeon tersenyum, “Gwenchana Tuan, aku hanya akan menjawabnya dan kembali untuk bersamamu..” ucapnya pelan.

Baekjo tersenyum mendengar ucapan Jiyeon dan mengelus rambut gadis itu lembut, “Keure..”

Jiyeon bangkit dan melangkah keluar sambil berpura-pura mengangkat telepon. Begitu keluar dari kamar hotel, ia memutar bola matanya sambil menatap pintu jijik. “Pria tua..” gumamnya kesal dan langsung melangkah membawa gelas tadi. Ia tidak mungkin meninggalkan sidik jarinya di sana.

Chansung melihat Fei memanjat naik dan menarik lebih kencang.

Joon mengulurkan tangan dan menarik Fei keluar dari lubang itu.

“Fiuhh..” ucap Fei lega sambil membuka tas tadi dan memberikannya pada Joon.

“Ayo..” ucap Joon sambil menyandang tas tadi ketika Fei dan Chansung melepaskan tali pengait. Kemudian mereka merangkak keluar dari tempat itu.

Narsha dan Seungho menuju parkiran di depan hotel untuk pergi dari tempat itu sebelum……

Telepon di meja informasi berbunyi ketika mereka berlalu, seorang gadis mengangkatnya dan mengucapkan salam khas untuk hotel itu.

“Ne? Seseorang mencuri di kamar anda Tuan?” tanya gadis itu tak percaya.

Narsha dan Seungho tertegun saling berpandangan.

“Ne, Tuan.. Saya akan menghubungi pihak berwajib..” ucap gadis itu dan memutuskan telepon untuk menghubungi polisi.

Seungho dan Narsha melangkah lebih cepat sebelum di curigai siapa pun. “Mereka sudah mencium pencuriannya.. Cepat pergi..” ucap Seungho sambil menekan kunci mobil otomatis dan masuk bersama Narsha.

Di basement.

Joon menendang penutup lubang pipa udara dan meloncat turun, di lanjutkan oleh Chansung yang langsung menunggu Fei untuk turun. Begitu kaki gadis itu terjuntai kebawah, ia langsung memeganginya agar turun tanpa cedera.

Fei meluncur turun dan sempat tertegun ia langsung berhadapan dengan Chansung dengan jarak yang cukup dekat.

“Ayo..” ucap Joon sambil keluar dari ruangan itu, membuat Chansung dan Fei menjaga jarak dan segera keluar.

Mereka sengaja memarkirkan mobil di dekat ruangan kecil itu agar tidak terlalu mencolok ketika mereka berjalan. Joon melepaskan tas dan melemparnya ke kursi belakang. Chansung naik ke sebelahnya dan Fei naik ke kursi belakang.

“Nickhun.. Kalian sudah keluar?” Tanya Fei sambil memegang earphone di telinganya.

Di luar kawasan hotel.

Nickhun mengendarai mobilnya memutari hotel itu dengan tenang, “Ne, sekarang aku sedang menjemput Jiyeon di sisi lain hotel..” jawabnya.

Menuju gerbang keluar hotel.

Seungho menghentikan mobilnya di belakang sebuah mobil yang sedang di periksa beberapa pihak pengaman hotel. “Sial.. Mereka cepat sekali..” ucapnya. Lalu memegang telinga, “Joon, ada pemeriksaan di gerbang keluar. Buat kamuflase..” ucapnya.

Kembali ke area parker basement.

Fei, Chansung dan Joon saling berpandangan bingung.

“Bagaimana ini? Mereka pasti mengetahui tentang tas ini..” ucap Chansung.

“Aissh.. kenapa pria tua itu harus kembali ke kamarnya?!” ucap Joon kesal.

Fei memandang tas itu dan tiba-tiba mendapat ide, “Aku punya ide..” ucapnya.

Kembali ke gerbang keluar.

Tok! Tok! Tok! Seorang petugas keamanan mengetuk jendela mobil Seungho.

Seungho menurunkan kaca jendelanya sambil tersenyum, “Ne, ada yang bisa kubantu pak?”

“Maaf Tuan, baru saja terjadi pencurian di salah satu kamar tamu kami. Kami harus memeriksa orang-orang yang keluar dari hotel ini..” ucap petugas itu.

“Ne?” ucap Seungho kaget.

“Omo.. pencuri? Di hotel seperti ini? Ohh.. mengerikan sekali..” ucap Narsha tak percaya.

“Benar Tuan, karena itu kami mohon kerja sama anda agar kami bisa memeriksa mobil anda..” ucap petugas itu sopan.

“Keure..” ucap Seungho sambil mematikan mesin dan membuka sabuk pengamannya.

Narsha membuka sabuk pengaman dan keluar dari mobil, lalu menghampiri Seungho.

Seungho membiarkan seorang petugas lain memeriksa dirinya, juga di balik jasnya.

“Maaf nona, kami juga harus memeriksa anda..” ucap seorang petugas pada Narsha.

Narsha menatap petugas itu aneh, “Apa maksudmu? Kau akan meraba tubuhku dengan pakaian seperti ini?!” tanyanya dengan nada tinggi. Karena saat itu ia mengenakan dress ketat berwarna merah marun.

“A-aniya.. bukan seperti itu. tapi ini sudah peraturannya..” ucap petugas itu memberi alasan.

“Jika kau berani menyentuhku, aku akan melaporkanmu atas tindakan pelecehan!” ucap Narsha mengancam.

“Tapi…”

Seungho memegang bahu pria tadi, “Maaf, aku tau itu peraturannya. Tapi tunanganku mengenakan pakaian yang ketat. Apakah dia bisa menyembunyikan sesuatu disana?”

Petugas tadi memandang tubuh Narsha memastikan ada tempat untuk menyembunyikan sesuatu atau tidak.

Narsha langsung menutup dadanya dan berlindung di belakang Seungho, “Cagiya! Lihat apa yang dia lakukan!!”

Seungho maju dan menarik kerah baju petugas itu, “Ya! Kau pikir apa yang kau lakukan?!” serunya marah.

“Oh.. oh.. cesonghamida..” ucap Petugas tadi menyesal.

Petugas lain yang memeriksa mobil langsung menghampiri Seungho dan petugas tadi. “Tuan.. cesonghamida..” ucap seorangnya sambil memisahkan mereka.

Seungho bergerak mundur sambil menatap petugas tadi, “Kau tidak tau siapa aku?! Berani sekali kau melakukan ini pada tunanganku!”

“Cagiya, telepon sepupumu itu. masa mereka melakukan ini padaku..” ucap Narsha sebal.

Din! Din!

Semuanya tertegun dan memandang ke mobil belakang.

“Cokiyo.. Apa kalian masih lama? Ada yang akan melahirkan disini!” seru Chansung dari jendela supir.

“Periksa mobil itu, aku akan mengurus yang ini..” ucap petugas tadi pada temannya dan kembali memandang Seungho, “Mohon maafkan kami tuan.. Ini tidak akan terjadi lagi.. Anda bisa pergi..” ucapnya sambil membungkuk sopan.

“Ayo kita pergi..” ucap Seungho sambil merangkul Narsha kembali ke mobil.

Petugas lain menghampiri mobil di belakang. “Maaf, kami harus memeriksa setiap mobil yang keluar, telah terjadi….”

“Arrrrgh!!! “ teriak Fei sambil memegangi perutnya yang membuncit.

“Maaf tuan, kami harus segera ke rumah sakit. Dia akan segera melahirkan..” ucap Chansung cepat.

“Ne? tapi…”

“Arrrghhh.. Lee Joon!!!” seru Fei sambil menjambak rambut Joon yang duduk disebelahnya.

“Ahhh.. ne.. ne.. yobo-a, kita akan segera ke rumah sakit.. Tarik nafasmu.. tarik nafas dulu.. Arrrghh!!” teriak Joon karena Fei kembali menjambak rambutnya.

Petugas lain menghampiri mobil mereka setelah Seungho dan Narsha pergi.

“Ada apa?” Tanya petugas lain.

“Kalian tidak lihat?! Istriku akan melahirkan!! Cepat menyingkir!!!” seru Joon.

Fei mengatur nafasnya seperti akan melahirkan dan kembali menjambak rambut Joon, “Kyaaaa!!! Lee Joon!!!” teriaknya histeris.

Para petugas tadi berpandangan bingung. Tidak mungkin mereka mengulur waktu orang yang akan melahirkan.

 

<<Back           Next>>

Advertisements

7 thoughts on “I’m With You [Chapter 2]

  1. Wahhhhh mantan suaminya narsha eonni so jisub wkwkwkwkwkwk
    hahahhah kocak benar mereka hehehehe
    itu sakit gak ya yg jiyeon ditampar ???? Benarkh namparnya kuat2 smpai bapak tua itu mengira jiyeon bnr2 kesakitan atau jiyeon yg pandai akting PENASRAN^^^^^^^
    NEXT^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s