Chapter · Cube

One Fun Day [Chapter 9]

9

—Clear Day, Cloudy Day—

Yoseop berdiri di depan bioskop dengan kedua tangan di saku dan kepala tertunduk. Ia sedang merangkai kata-kata apa yang akan ia ucapankan pada Soyou. Ia tidak ingin gadis itu terluka, juga tidak ingin hubungan mereka berakhir.

Soyou melihat Yoseop dari kejauhan dan mengendap-endap mendekatinya, setelah cukup dekat ia langsung mengejutkan pria itu. “Yoseop-a!”

Yoseop tersentak dan memandang Soyou kaget, “Oh! kau mengejutkanku..”

Soyou tertawa lucu melihat respon Yoseop, “Kenapa kau melamun? Apa aku terlalu lama?”

Yoseop tertawa kecil, “Aniya.. khaja kita masuk..” ucapnya sambil merangkul Soyou masuk.

Kali ini mereka memilih film drama romantic, meskipun Soyou berkata tidak terlalu menyukainya, karena rata-rata sepasang kekasih pergi ke bioskop untuk menonton film itu, ia jadi ingin juga menontonnya bersama Yoseop.

Yoseop memandang layar sedih, perasaannya tidak bisa ditutupi dengan rasa bahagia saat bersama Soyou. Matanya melirik gadis yang menyandarkan kepala ke bahunya, juga saling menggenggam tangan dengan tangannya. Ia ingin hubungan mereka terus berjalan apa pun yang terjadi, tapi kenyataan tetaplah kenyataan.

 

=Rumah Soyou=

Soyou berhenti di depan rumahnya dan berbalik memandang Yoseop, “Aku bisa belajar satu jam sebelum tidur, kenapa kembali cepat sekali?”

Yoseop tersenyum, “Aku tidak ingin kau jadi selalu pulang malam jika pergi bersamaku..” ucapnya.

Soyou tersenyum, “Keure, aku akan masuk.. Sampai besok..” ucapnya dan berbalik.

“Soyou-a..” panggil Yoseop.

Soyou berhenti dan kembali memandang Yoseop, “Ne?”

Yoseop menatap Soyou dan mengumpulkan semua keberaniannya untuk berbicara.

Soyou memandang Yoseop lucu, “Wae?”

“Soyou, kau tau keluargaku sering berpindah-pindah karena pekerjaan ayahku kan?” Tanya Yoseop akhirnya.

Soyou mengangguk, “Ne, kau pernah menceritakannya..”

Yoseop menghela nafas dalam, “Keluargaku akan pindah lagi setelah ujian ini..” ucapnya pelan.

Soyou terdiam beberapa saat, “Keluargamu?”

Yoseop mengalihkan tatapannya dari mata Soyou, “Ne..” jawabnya, “Aku dan keluargaku..”

Soyou tertegun, “Ne?”

Yoseop memandang Soyou menyesal, “Aku ingin menyampaikannya lebih cepat tapi aku tidak bisa, maafkan aku..”

Soyou memandang kebawah, ia terlihat shock dengan berita itu. “Apa sebelum kau mendekatiku, kau sudah tau tentang ini?”

Yoseop menunduk menyesal, “Ne..” jawabnya berat.

Soyou menatap Yoseop dengan mata memerah menahan air, “Lalu kenapa kau melakukannya jika kau tau kau akan pergi?”

Yoseop mengangkat wajahnya memandang Soyou penuh sesal, “Karena aku sangat menyukaimu. Aku tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya… Aku berusaha agar aku bisa tetap disini tapi aku tidak bisa..”

Soyou memalingkan wajahnya, namun Yoseop bisa melihat bulir air berjatuhan dari mata indahnya.

“Aku tidak pernah berniat menyakitimu, aku mencintaimu Soyou..” ucap Yoseop pelan.

“Jangan katakan apa pun lagi!” ucap Soyou tanpa memandang Yoseop, “Jangan pernah berbicara denganku lagi!” tegasnya, lalu berbalik dan berlari masuk.

Yoseop sangat sedih mereka harus berakhir seperti ini.

Sejak hari itu, Yoseop dan Soyou tidak pernah berbicara lagi. bahkan tidak pernah saling bertatapan lagi.

 

=Sekolah=

Gikwang memandang Yoseop yang sejak tadi memandang kearah Soyou sedih, “Ya.. ada apa dengan kalian? Kalian bertengkar?”

Yoseop memandang Gikwang dan tersenyum sedih, “Aku akan pindah ke Jepang setelah ujian ini..”

Gikwang tertegun, “Ne?”

Yoseop mengangguk, “Aku akan pergi.”

Gikwang diam sejenak, “Apa kau harus pergi?”

Yoseop tersenyum sedih lagi dan mengangguk.

Gikwang tampak sedih, namun tetap memaksakan dirinya untuk tersenyum, “Pasti kalian putus karena ini kan?”

Yoseop menunduk dan mengangguk kecil.

Gikwang menepuk bahu Yoseop, “Jangan begitu, kau kan laki-laki.. Patah hati itu milik wanita..”

Yoseop tertawa kecil dan memandang Soyou lagi.

Taman belakang.

“Ne? jadi dia akan pergi?” Tanya Hyorin setelah mendengar cerita Soyou tentang mengapa mereka tidak bersama lagi.

Soyou mengangguk, “Ne..”

Hyorin menatap Soyou sedih dan merangkul temannya itu, “Hubungan kalian kan tetap bisa di lanjutkan meskipun dia pindah..”

Soyou berusaha menahan air mata yang hampir membasahi pipinya, “Aku tidak ingin membahasnya lagi Hyorin.” Ucapnya.

Hyorin menghela nafas dalam dan mengangguk mengerti, “Keure..”

 

=Hari Ujian=

“Jadi, kapan kau akan pergi?” Tanya Gikwang saat ia dan Yoseop melangkah di lorong setelah menjalani ujian hari pertama.

“Mmm.. sehari setelah ujian terakhir..” jawab Yoseop.

“Ne? lalu, apa kau tidak melihat rapormu dulu?” Tanya Gikwang bingung.

“Ayahku sudah mengaturnya agar nanti raporku dan adikku akan di kirim melalui pos..” jawab Yoseop.

Gikwang mengangguk mengerti, “Hmm.. begitu..” ucapnya pelan, “Pasti sangat sepi tidak ada kau..”

Yoseop tertawa kecil, “Aku juga pasti sepi tidak ada kau..” ucapnya, ketika ia menoleh, matanya melihat Soyou yang berjalan bersama Hyorin. Hatinya kembali terasa remuk mengingat ia sudah tidak bersama gadis itu lagi.

Keesokan Harinya.

Soyou duduk di tempatnya menunggu pergantian mata ujian. Ia mengeluarkan ponselnya dan melihat pantulan ke belakang, kearah Yoseop duduk. Pria itu terlihat sedih, ketika pria itu memandang kearahnya ia segera menutup ponselnya. Ia juga tidak ingin mereka berakhir seperti ini, namun sangat sulit untuk menghadapinya.

 

=Hari Terakhir Ujian=

Hyorin tersenyum melihat Soyou berdiri depan sekolah, “So…” ia tak sempat menyelesaikan ucapannya karena temannya itu sudah melangkah. “Hm? Kemana dia?” gumamnya bingung dan mengikuti temannya itu. dahinya berkerut melihat Soyou pergi ke taman belakang. “Soyou-a..”

Soyou memandang ke belakang, “Hyorin-a..”

Hyorin tertegun melihat temannya itu menangis, “Soyou-a, waekeure?” tanyanya sambil menghampiri temannya itu.

Soyou memandang kebawah sedih, “Setelah ujian ini Yoseop akan pergi..”

Hyorin tak percaya Soyou menangis karena Yoseop, “Soyou-a..” ucapnya sedih.

Soyou bergerak mundur dan duduk sambil menyeka air matanya yang terus mengalir.

Yoseop melangkah masuk ke kelas untuk menjalani ujian terakhir, perasaannya tak karuan karena itu berarti ia akan segera berpisah dari Soyou.

“Yoseop-a..” panggil Hyorin.

Yoseop berhenti dan memandang Hyorin, “Ne?”

“Ikut aku..” ucap Hyorin, lalu melangkah keluar dari kelas.

Yoseop mengerutkan dahi dan mengikuti Hyorin ke lorong sepi, “Waekeure?”

Hyorin berbalik dan menatap Yoseop serius, “Yoseop-a, apa kau benar-benar akan pergi?”

Yoseop menghela nafas dalam dan mengangguk berat, “Ne..” Jawabnya, “Apa Soyou mengatakan sesuatu?”

“Dia sangat sedih karena kau akan pergi. Apa kalian harus putus? Maksudku, kalian kan masih tetap berhubungan walaupun jauh. Sudah ada internet, telepon, juga video call.. Kenapa kalian harus putus?” Tanya Hyorin kecewa.

Yoseop memandang ke bawah sedih, “Aku juga tidak ingin seperti ini, tapi aku tidak ingin membuat Soyou sedih jika aku pergi..”

“Pabo ya! Dalam hubungan itu yang penting kepercayaan dan kesetiaan, jika sejak awal kau tidak memiliki itu kenapa membuatnya menyukaimu?!!” Ucap Hyorin kesal dan melangkah cepat kembali ke kelas.

Yoseop memandangi Hyorin pergi, lalu memandang ke bawah sedih.

Selama ujian berlangsung, Yoseop tak bisa berkonsenterasi karena terus memikirkan Soyou. Matanya tak ingin melepaskan bayangan gadis paling cantik disana. ‘Dalam hubungan itu yang penting kepercayaan dan kesetiaan..’ Batinnya mengingat ucapan Hyorin tadi dan berpikir sesaat. Tak lama ia mendapat sebuah ide. Ia tersenyum dan langsung mengisi kertas jawabannya.

Sepulang sekolah.

“Kang Soyou.. Kang Soyou…” Panggil Yoseop sambil berlari menghampiri Soyou yang sudah jauh meninggalkan sekolah.

Soyou tertegun mendengar suara Yoseop memanggilnya, ia tidak ingin berhenti namun tubuhnya berhenti sendiri untuk menunggu pria itu.

Yoseop berhenti di depan Soyou dan menatapnya, “Soyou-a, kau mau berjanji satu hal padaku?” Tanyanya langsung.

Soyou menatap Yoseop tak mengerti, “Apa maksudmu?”

Yoseop memegang kedua tangan Soyou dan menatapnya dalam, “Soyou, dalam sebuah hubungan memerlukan kesetiaan dan kepercayaan. Jika kau merasa bisa memberikannya padaku, datang besok pukul 3 ke rumahku. Aku akan pergi jam 3.. Datanglah jika kau tidak ingin hubungan kita berakhir seperti ini..” Mohonnya.

Soyou terdiam dan memandang kebawah bingung.

“Jebal Soyou-a, kuharap kau datang..” Ucap Yoseop meminta.

Soyou memandang Yoseop, “Aku akan memikirkannya.”

Yoseop tersenyum, “Aku menunggumu..”

 

=Kamar Soyou=

Soyou duduk di tempat tidur sambil memandangi layar ponselnya, mengingat bagaimana senyuman Yoseop ketika itu. Ia menghela nafas dalam dan mengangkat wajahnya memandang cermin. Dari sana ia bisa melihat pantulan sketsa Yoseop yang ia pajang di dinding. Bulir air matanya mengalir begitu saja mengingat besok Yoseop akan pergi.

 

=Rumah Keluarga Yang=

Yoseop berdiri di depan pagar sambil memandang ke kanan dan kiri, lalu memandang jam tangannya.

“Oppa, eomma memanggilmu..” Panggil Naeun dari pintu.

Yoseop memandang ke belakang dan kembali memandang sekitar, lalu memandang jam tangan.

Tak lama ayah dan ibu Yoseop beserta Naeun keluar dari rumah dengan barang terakhir. Barang-barang mereka yang lain sudah dikirim tadi pagi.

“Yoseop-a..” Panggil ibu Yoseop.

Yoseop memandang ke arah keluarganya yang sudah masuk ke mobil. Lalu memandang sekitar sekali lagi, tidak terlihat sosok Soyou. Ia menghela nafas dalam dan berbalik menuju mobil.

Naeun memandang Yoseop bingung ketika kakaknya masuk ke mobil, “Waeyo oppa?”

“Aniya..” Jawab Yoseop sambil mengeluarkan earphone dan mencolokkannya ke ponsel, lalu memasang benda itu ke telinganya untuk mendengarkan musik. Sekarang pendengarannya tersumbat dengan musik mellow sesuai seperti yang ia rasakan kini. Ia bersandar dan memandang ke jendela. Mobil bergerak mundur dan perlahan maju meninggalkan kawasan rumah.

Naeun yang sedang bermain dengan ponselnya tertegun karena merasa mendengar sesuatu, lalu memandang ke jendela belakang. Dahinya berkerut dan menyipitkan matanya karena melihat seseorang mengejar mobil. “Oh!! Oppa!! Oppa!!” Panggilnya sambil mengguncang tubuh Yoseop.

Yoseop memandang Naeun dengan dahi berkerut sambil melepas satu earphone di telinganya, “Wae?”

“Soyou sanbae!” Ucap Naeun sambil menunjuk ke belakang.

Yoseop tertegun dan memandang ke belakang, matanya membesar melihat Soyou berhenti berlari dengan nafas terengah-engah. “Abeutji! Hentikan mobilnya!!” Serunya pada sang ayah.

Ayah Yoseop menghentikan mobil dan memandang ke belakang bingung, “Waeyo..”

“Sebentar abeutji..” Ucap Yoseop sambil membuka pintu dan keluar.

Soyou yang hampir putus asa karena berpikir tak sempat bertemu Yoseop merasa energinya yang terkuras karena berlari tadi terisi lagi ketika mobil itu berhenti. Apalagi melihat pria itu keluar.

“Kang Soyou!” Panggil Yoseop dan berlari kecil menghampiri Soyou.

Soyou berlari kearah Yoseop hingga mereka bertemu.

Yoseop tersenyum lebar melihat Soyou muncul, “Kau benar-benar datang..”

Mata Soyou mulai berkaca-kaca menatap kedua mata Yoseop, “Jika aku percaya dan setia padamu, apa kau juga akan melakukan hal yang sama?” Tanyanya.

Yoseop juga merasa kedua matanya berkaca-kaca mendengar pertanyaan Soyou, “Keurom, aku akan menjaga kepercayaanmu dan setia padamu..”

Bibir Soyou membentuk senyuman dengan bulir air mata yang mulai berjatuhan.

Yoseop tertawa kecil melihat Soyou menangis dan menyeka air mata gadis itu, “Uljima..” Ucapnya lembut.

Soyoy merasa bahagia mendengar janji Yoseop, namun sangat sedih karena mereka akan berpisah jarak. Air matanya tak bisa terbendung lagi dan langsung memeluk leher pria itu sambil menangis. “Kau harus tetap memberikan kabar padaku.. Kau mengerti?”

Yoseop memejamkan matanya merasakan dekapannya pada Soyou, “Ne..” Aku akan terus menghubungimu..”

Soyou melepaskan pelukannya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tasnya, lalu memberikannya pada Yoseop sambil menyeka air matanya. “Ini..”

Yoseop menerima kotak itu dan membukanya, ia tertawa melihat kumpulan photo Soyou yang terlihat cantik dan menggemaskan disana.

“Jika kau melihat gadis cantik di Jepang, kau harus langsung memandang photo-photoku. Juga ketika kau mulai tertarik dengan gadis lain, kau harus mengingatku dengan memandangi photoku sepanjang malam. Araso?!” Tegas Soyou.

Yoseop tersenyum memandang Soyou, “Ne..” Ucapnya.

Soyou tersenyum manis, “Kau harus berpikir senyumanku yang paling manis. Kau mengertikan?”

Yoseop tertawa kecil dan membelai rambut Soyou, “Araso.. Kau yang paling cantik, manis dan akan selalu begitu..”

Soyou tersenyum malu.

Yoseop teringat sesuatu dan mengeluarkan earphone yang ia masukkan ke saku tadi. Lalu memasangkannya ke telinga Soyou.

Soyou memandang earphone berwarna putih itu bingung, “Wae?”

“Saat kau mulai di goda pria lain, tutup telingamu dengan ini dan hidupkan musik sekeras mungkin. Jadi kau tidak akan mendengar mereka..” Ucap Yoseop.

Soyou tersenyum lucu dan mengangguk. “Araso..”

Yoseop tersenyum dan menyelipkan rambut Soyou kebelakang telinga gadis itu, “Kau gadis tercantik yang sangat sulit kudapatkan, jadi jangan berikan hatimu pada siapa pun karena itu milikku..”

Soyou mengangguk lagi dengan senyum ceria, “Ne, aku tau..”

Yoseop menghela nafas dalam dan melihat mobil keluarganya, lalu kembali memandang Soyou. “Kurasa aku harus pergi sekarang..”

Soyou terlihat sedih, namun ia kembali tersenyum. “Cepat pergilah, mereka pasti menunggu..”

“Aku akan merindukanmu..” Ucap Yoseop pelan.

“Ne, nadoo..” Ucap Soyou sambil merengut lucu, lalu tertawa kecil.

Yoseop tidak ingin beranjak, tapi ia tak bisa berlama-lama. Ia memegang belakang kepala Soyou dan bergerak maju untuk mencium dahi gadis itu.

Soyou memejamkan matanya merasakan kecupan penuh cinta itu. Begitu Yoseop melepaskan kepalanya, ia kembali membuka mata dan saling bertatapan dengan pria itu sambil tersenyum.

“Jika kau merindukanku, jangan menangis seorang diri. Tapi ingatlah aku akan kembali untukmu dan tersenyumlah mengingat aku akan segera hadir di depanmu..” Ucap Yoseop.

Soyou mengangguk, “Ne.. Araso..”

Yoseop tersenyum dan bergerak mundur, “Aku pergi..”

Soyou melambai dengan senyuman cerianya.

Yoseop kembali ke mobil, sebelum masuk ia sempat memandang Soyou dan melambai.

Soyou melambai dengan ceria dengan kedua tangannya.

Yoseop akhirnya bisa kembali masuk ke mobil dengan perasaan lega.

Ayah dan ibu Yoseop memandang putra mereka dengan senyuman lebar.

“Hmmm.. Jadi dia kekasihmu?” Tanya ibu Yoseop ketika suaminya kembali mengendarai mobil pergi dengan senyuman diwajahnya.

Yoseop tersenyum malu, “Ne, eomma..”

“Oppa, kau berbaikan dengan Soyou sanbae?” Tanya Naeun senang.

Yoseop memandang adiknya dan mengangguk, “Ne..”

“Wuaaa.. Kalian sangat romantis..” Ucap Naeun iri.

 

=Bis=

Soyou duduk di dekat jendela sambil memandang keluar. Perasaannya terasa hampa. Ia melipat kedua tangannya di sandaran kursi di depannya dan menyandarkan kepalanya kesana. Ia tak tau kapan bisa bertemu Yoseop lagi. Tak lama ia teringat earphone yang di berikan pria itu tadi. Ia mengambil earphone tadi dan memasangnya, lalu memasangkannya ke ponsel. Musik ceria yang berlirik manis tentang kisah cinta itu membuat senyumnya mengembang. Perjuangan Yoseop seperti terulang lagi di benaknya dan membuat senyumannya semakin lebar. “Aku percaya padamu, Yang Yoseop..” Gumamnya sambil memandang langit.

 

=Pesawat menuju Jepang=

Yoseop memandang Naeun yang sudah terlelap karena perjalanan melelahkan mereka. Ia memperbaiki posisi boneka empuk yang dijadikan adiknya bantal, lalu kembali duduk lurus. Ia teringat kotak yang diberikan Soyou tadi. Ia mengambil kotak tadi dari tasnya dan membuka tutup kotak tadi, lalu mengambil photo-photo tadi. Bibirnya berbentuk senyuman melihat betapa manisnya Soyou. Ia tertegun melihat gadis itu berpose di sebelah sketsa yang di bingkai di dinding, “Oh.. Ini sketsaku..” Ucapnya, lalu melihat photo selanjutnya. Ia sempat tertegun melihat Soyou berpose dengan tangan membentuk V dan sekotak coklat. “Jadi benar dia? Dia yang memberikannya?” Gumamnya tak percaya. Lalu tersenyum lebar dan kembali memandang photo paling atas. “Neomu yeppeuta..” Gumamnya sambil mengelus pipi Soyou di photo itu.

 

 

<<Back           Next>>

Advertisements

2 thoughts on “One Fun Day [Chapter 9]

  1. Uuuhh untung Soyou ngertiin Yoseob, walaupun awalnya enggak.. hihihi
    Mau nangis pas perpisahan nya Yoseob ama Soyou.. 😦
    next~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s