Chapter · Cube

One Fun Day [Chapter 6]

6

—Soyou200% Love—

Guru Kim tersenyum memandang seluruh kelas dengan hasil ulangan di tangannya. senyumannya membuat beberapa orang gugup. “Hasil ulangan kemarin tidak terlalu buruk. Aku bangga pada kalian..” ucapnya.

“Omo.. Aku gugup sekali..” Ucap Hyorin sambil memegang dadanya.

“Tenang saja..” Ucapku pada Hyorin, lalu memandang Guru Kim menunggu pengumuman siapa yang terbaik.

Guru Kim memandang kumpulan kertas di tangannya, “Aku akan mulai membagikannya..” ucapnya. “Kali ini ada dua orang yang mendapatkan nilai bagus, semoga akan terus bertambah lain kali..” ucapnya.

“Dua? Siapa lagi?” Tanya Hyorin padaku.

Aku menggeleng tanda tak tau.

“Keure, seperti biasa. Kang Soyou mendapat nilai yang lebih tinggi..” ucap Guru Kim sambil mengambil hasil ulanganku.

Soyou tersenyum senang dan bergerak bangkit, lalu melangkah menghampiri meja guru.

Guru Kim tersenyum sambil memberikan hasil ulanganku, “Ini, kau hanya sedikit kurang teliti ketika menjabarkan rumus soal nomor 3.. A-..”

Aku mengangguk mengerti, “Ne, sonsangnim.. Gamshamida..” ucapku dan kembali duduk.

“Hmm.. Kau selalu menjadi yang terbaik..” Ucap Hyorin iri.

“Kau juga bisa jika terus belajar..” Ucapku menyemangatinya.

“Keurom..” Ucap Hyorin, “Siapa yang seorang lagi ya?” Ucapnya penasaran.

“Dan.. seorang lagi.” ucap Guru Kim sambil mengambil sebuah hasil ulangan lainnya, “Mendapat nilai sempurna mengalahkan Kang Soyou..”

Aku tertegun dan menatap Guru Kim tak percaya. Aku pintar, aku tau itu. Tapi aku benar-benar tidak suka ada orang yang mengungguliku karena aku sudah berusaha keras!!

Hyorin menatapku tak percaya dan memandang Guru Kim, “Siapa sam?”

“Yang Yoseop. A+..” ucap Guru Kim dengan senyuman ke arah belakang.

Tunggu! Siapa?! Guru Kim menyebut Yang Yoseop?! Spontan aku menatap kearah pria itu. Aku kesal sekali ia bisa mengungguliku seperti ini. Dia mendapat nilai sempurna?! Wae?!! Kudengar ia bahkan tidak belajar untuk ulangan itu.

Yoseop tampak bingung dengan pengumuman itu. Lalu memandang ke arahku. Aku tau ia pasti bergidik karena tatapanku.

“Yoseop, ambil kertas ulanganmu..” ucap Guru Kim.

Aku memalingkan wajahku dan memandang hasil ulanganku lagi. Kenapa aku bisa salah? Bukankah aku menguasai semuanya?

“Kudengar ayahmu Profesor Fisika, pantas saja kau pintar seperti dia..” ucap Guru Kim kagum.

“Pantas saja, ayahnya profesor Fisika..” Ucap Hyorin kagum.

Rasa kesalku meningkat. Satu tanganku terkepal dan satunya lagi memegang kertas hasil ulanganku. Apa karena aku bukan anak profesor?! Aku bisa sebodoh ini tidak teliti dengan jawabanku?!!

Aku benar-benar kesal karena Yoseop memiliki otak cerdas itu karena DNA yang di turunkan dari ayahnya. Sementara aku harus belajar siang dan malam hingga menguasai semuanya. Ketika istirahat aku merasa harus membuat perhitungan dengannya. Ani, aku ingin membuktikan ia benar-benar pintar atau hanya kebetulan.

Aku keluar kelas dan melihat Yoseop berjalan bersama Gikwang.“Yang Yoseop!” Seruku.

Yoseop berhenti dan berbalik memandangku. Apalagi ketika aku melangkah cepat menghampirinya, ia langsung tersenyum lebar seperti akan di datangi seorang putri.

Aku berhenti tepat di depannya.“Kau menyontek saat ulangan?!” tanyaku.

Senyuman Yoseop menghilang, “Ne? ani.. aku tidak pernah menyontek..” jawabnya sambil menggeleng.

Aku menyebutkan sebuah rumus kimia yang sangat sulit, bahkan aku butuh waktu seminggu memecahkannya. “Cepat jabarkan!” Perintahku.

Yoseop tampak bingung.Lalu menjabarkan rumus tadi dengan nada ragu. “..jika tidak salah..” ucapnya di akhir kalimat.

“Wuaaa.. kau bisa menjabarkannya tanpa menulisnya?” Ucap Gikwang tak percaya.

Aku benar-benar marah! Dia bisa menjabarkannya dengan mudah! Tapi aku sangat sulit menjabarkannya! Aisssh!! Aku berbalik dan langsung melangkah pergi.

“Kang Soyou..” panggil Yoseop, tapi aku tak berhenti. “Kang Soyou.” Panggilnya lagi.

 

=Kamar Soyou=

Begitu tiba di rumah aku langsung mempelajari rumus-rumus yang masuk ke ulangan minggu lalu. Namun air mataku mengalir begitu saja mengingat aku harus belajar siang dan malam untuk menjadi pintar tapi ada orang yang bisa dengan mudah menjadi pintar.

Eomma masuk ke kamarku karena aku tak kunjung keluar untuk makan malam, “Soyou-a..” Panggil eomma.

“Aku masih belajar eomma..” Jawabku sambil terus menjabarkan rumus.

Eomma selalu mengerti bagaimana perasaanku. Ia menghela nafas dalam dan menghampiriku. “Waekeure? Kenapa kau menangis?”

Tanganku yang menuliskan rumus berhenti, lalu memandang eomma. “Eomma, kenapa Tuhan tidak adil? Aku sudah belajar keras tapi aku hanya mendapat A-, tapi anak itu bahkan tidak belajar dan mendapat A+ dengan mudah..”

Eomma diam sejenak menatapku, lalu tersenyum dan menyeka air mataku. “Aniya, Tuhan bukannya tidak adil sayang. Semua orang memiliki caranya sendiri untuk belajar. Temanmu itu pasti pernah membaca atau mempelajari rumus itu, dan mungkin saja daya ingatnya lebih baik daripadamu. Hanya itu sayang..” Ucapnya lembut.

“Tapi aku benar-benar sudah belajar eomma..” Ucapku masih kesal.

“Ne.. Eomma tau kau belajar keras. Kau putri eomma yang sangat luar biasa..” Ucap eomma, “Tapi kau tidak bisa selalu menjadi nomor satu karena dunia ini berputar, Soyou.. Kau mengerti?”

Aku diam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Ne, eomma. Kali ini aku akan belajar lebih keras lagi. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menjatuhkanku lagi..” Ucapku bertekad.

Eomma tersenyum lebar, “Itu baru putri eomma..”

Aku tersenyum dan memeluk eomma, “Gumawoyo eomma..” Ucapku sepenuh hati. Aku beruntung memiliki ibu sepertinya.

Aku benar-benar belajar giat. Aku tidak akan membuang waktu sedetik pun. Aku tidak peduli Yoseop terus mendekatiku. Berkata ia menyesal dan memintaku memaafkannya. Memangnya dia salah apa? Ahh.. Aku makin kesal padanya.. \(`⌂´)/

 

=Tiga Minggu Kemudian=

“Kang Soyou, A+..” ucap Guru Kim mengumumkan hasil ulangan kami minggu lalu sambil tersenyum lebar padaku.

Aku sangat senang mengetahuinya, lalu bangkit dan melangkah menghampiri meja guru. Aku melihat hasil ulanganku yang mendapat nilai sempurna. Kali ini aku benar-benar yang terbaik!!

“Daebak! Kau memang yang terbaik..” Ucap Hyorin ketika aku kembali duduk.

“Yang Yoseop..” Ucap Guru Kim.

Aku tertegun dan memandang Guru Kim, aku ingin tau bagaimana hasil ulangannya. Jangan-jangan kami berimbang. Aisssh..

Guru Kim tersenyum tipis, “Sepertinya kau tidak mengerti tentang rumus yang baru kita pelajari..”

Aku mengerutkan dahi, ‘Yoseop tidak mengerti?’ Batinku tak percaya dan memandang kearahnya.

“Hehehe.. aku akan belajar lagi sam..” ucap Yoseop malu sambil mengelus belakang kepala.

“B+..” ucap Guru Kim.

‘Mwo? B+?! Wae?! Rumus ini bahkan tidak sulit sama sekali..’ Batinku tak habis pikir. Aku juga melihat dia membantu Gikwang mengerjakan latihannya sebelum kami ulangan. Ada apa dengannya?

“Kang Soyou..”

Aku memandang Yoseop.

Yoseop tersenyum manis, “Cukhae..” ucapnya, lalu malngkah kembali duduk.

“Omo.. Dia menyelamatimu.. Dia benar-benar gentle kan?” Ucap Hyorin kagum.

‘Aniya! Aniya! Ini tidak benar! Kenapa dia melakukannya? Dia pasti sengaja!’ Batinku tak percaya.

Siang itu, aku melangkah menuju taman belakang bersama buku ensklopediaku sambil terus berpikir. Aku yakin Yoseop sengaja. Tidak mungkin ia tidak tau rumus semudah itu kan? Aku menghela nafas dalam dan menuju tempat yang sering kudatangi beberapa waktu ini. Tempat ini sejuk dan bisa berkonsentrasi belajar. Aku duduk dan membuka bukuku, lalu mulai belajar dengan tenang. Seperti biasa, jika sudah membaca buku aku akan tenggelam didalamnya dan tidak menyadari apa pun di sekitarku.

“Soyou-a..” Aku seperti mendengar seseorang memanggil namaku, tapi aku masih berada di dunia bacaku. “Kang Soyou..”Terdengar panggilan itu lagi. “Yeppo yeoja..”

Deg! Aku tertegun mendengar panggilan terakhir. Dia memanggilku gadis cantik? Siapa itu? Aku benar-benar keluar dari duniaku ketika mendengar kalimat itu. Dan aku merasa ada seseorang yang duduk disebelahku. Aku sudah tak bisa berkonsentrasi lagi, tapi jika aku menoleh pasti aku akan sangat malu.

“Kau baca apa sih?” tanya orang itu. Omo! Yoseop!!

Tubuhku terpaku menyadari Yoseop yang duduk disebelahku. Lalu terlihat tangannya melambai-lambai di depan wajahku. Aku tidak bergeming. Sebenarnya, aku tidak bisa menggerakkan tubuhku karena terlalu gugup. Aku terkejut ketika Yoseop tiba-tiba menarik buku ditanganku dan membawanya kabur.“Ya!” Seruku.

Yoseop tertawa kecil dan membuka buku itu.

Aku tertegun melihatnya tertawa. Oh Tuhan.. Kenapa dia terlihat imut sekali? Mataku melotot melihatnya merobek satu halaman.“YA!!” teriakku dan berlari menghampirinya, lalu merebut bukuku lagi sambil melihat halaman yang ia sobek.

Yoseop memperlihatkan halaman di kertas yang ia pegang sambil tersenyum lebar, “Lihat, 11 terdiri dari dua angka 1. Ini seperti kau dan aku yang ada disini..” ucapnya.

Aku diam sejenak dan mengerutkan dahinya, lalu berbalik. Aku menggigit bibir bawahku menahan senyum sambil melangkah ke tempatku tadi. Apa dia benar-benar serius dengan perasaannya? Ini sudah lebih dari 3 bulan kan.

Yoseop kembali melangkah kearahku.

“Jaga jarak 5 meter dariku..” ucapku tanpa mengalihkan pandangan dari buku.

Yoseop berhenti melangkah, “Ne..” jawabnya pelan. Lalu naik ke batu tak jauh di belakangku.

Aku kembali membaca. Tak lama terdengar seperti ada suara perang yang buat dari mulut. ‘Hm? Apa yang dia lakukan?’ Batinku.Lalu sebuah pesawat kertas terbang di udara. Aku melirik peswat itu dan tersenyum, ternyata dia memainkan pesawat itu. Pasti sangat menggemaskan.

 

=14 Februari=

Ini hari Valentine!! Semua gadis pasti menyiapkan coklat untuk pria yang mereka sukai. Aku tersenyum melihat kotak kecil berisi coklat yang kubuat semalam, lalu memandang sketsa di dinding kamarku. Aku tersenyum malu dan mengulurkan kotak itu kearah lukisan tadi, berkhayal kalau aku sedang memberikannya pada Yoseop. Ahh!! Pipiku terbakar!! Tapi aku ingin segera memberikannya. Aku memasukkan coklat tadi ke tasdan langsung melangkah riang keluar kamar.

Begitu masuk ke kelas, aku berhenti ketika melihat semua teman perempuan disana asik membicarakan pria yang akan mereka berikan coklat. Mendadak aku merasa malu sendiri dan segera duduk di tempatku tanpa mengatakan apa pun.

“Soyou-a, apa kau akan memberikan coklat untuk seseorang?” Tanya Hyorin dengan senyuman di wajahnya.

“Ne? A-aniya..” Jawabku sambil menggeleng dan membuka bukuku. Aissh.. Kenapa mereka semua harus membicarakannya di kelas? Tak lama Yoseop muncul, aku tetap memandang bukuku dan berlaku seperti aku tidak melihatnya. Setelah ia berlalu aku melirik kearahnya dan mengerang kesal dalam hati karena aku tidak mungkin memberikan coklat ini di depan semua orang.

“Wuaa! Kau juga dapat? Dari siapa?” Seru Gikwang.

Aku tertegun, ‘Mwo? Siapa?!’ Batinnku.

Hyorin memandang kearah Gikwang, “Ohh.. Yoseop mendapat coklat juga..” Ucapnya tak percaya.

Aku terpaku. Dia mendapat coklat? Dari siapa? Aissshh!! Gadis itu ingin cari gara-gara denganku?!

 

=15 Februari=

“Hummm.. Aku masih penasaran siapa yang memberikan coklat itu pada Yoseop..” Ucap Hyorin penasaran.

Aku memandangnya, “Memangnya kau tidak mendengar apa pun?”

“Ani.. Gikwang tidak mau memberitauku..” Ucap Hyorin.

“Hmmm..” Gumamku sambil mengangguk mengerti. ‘Andwae! Yoseop kan hanya menyukaiku, tidak ada yang boleh menyukainya juga!’ Batinku kesal.

 

=16 Februari=

Aku datang sangat pagi agar tidak ada yang melihatku. Setelah meletakkan tasku di meja, aku mengeluarkan kotak coklat yang kubuat waktu itu dan menghampiri meja Yoseop sambil memandang ke sekitar memastikan tidak ada yang melihat. Lalu meletakkannya di meja dan segera kembali ke mejaku. Aku sangat gugup. ‘Bagaimana jika dia tau itu dariku? Bagaimana jika dia tidak suka?’ Batinku panik. Aku melirik coklat tadi dan hendak bangkit untuk mengambilnya lagi, tapi seseorang masuk. Aku terkejut dan berpura-pura membaca buku.

“Annyeong..” sapa orang itu.

DEG!!! Yo.. Yoseop?!! Andwae!! Kenapa dia harus datang sepagi ini?! Aku sangat tegang bahkan untuk menjawab sapaannya. Well, aku tidak pernah menjawabnya. Aku memejamkan mata ketika ia melangkah ke tempatnya. ‘Ahhh.. Eoteokhe?’ Batinku panik.

“Coklat?” Terdengar suara bingung Yoseop.

Aku terkejut dengan mulut sedikit terbuka. Aku tidak bisa kabur lagi.

“Kang Soyou, apa kau memberiku ini?” tanyanya riang.

Aku menelan ludah dan menoleh memandangnya,“Apa kau gila?” ucapku, kurasa itu kalimat paling tepat saat ini!

“Oh..cesonghamida..” ucap Yoseop menyesal.

Aku bangkit dan melangkah keluar kelas. ‘Ahhh.. Kenapa aku berkata seperti itu?’ Batinku sebal.

Di jam terakhir sekolah.Guru meminta kami semua membersihkan kelas bersama. Aku memilih untuk membersihkan meja-meja bersama yang lainnya. Aku tau Yoseop melirik kearahku, berarti dia tidak memikirkan gadis yang memberikannya coklat itu. Hihihi.. Aku memandangember air yang sudah menghitam akibat kotoran di meja, “Hmm.. aku akan menggantinya dulu..” ucapku pada yang lain, lalu mengangkat ember itu.Beberapa langkah, Yoseop langsung menghampiriku sambil memegang ember itu.

“Aku akan membawakannya..” ucapnya sambil tersenyum lebar padaku.

Aku memandangnya, “Gwenchana, aku bisa membawanya..” ucapku sambil mendorong tangannya.

“Gwenchana, aku akan membawanya. Ini berat..” bujuk Yoseop berkeras.

“Tidak perlu, aku bisa membawanya sendiri..” ucapku tegas.

“Aniya, nanti tanganmu kotor..” ucapnya lagi. kami mulai saling tarik menarik ember itu hingga ember berisi air kotor itu terbang dan mengotori kain hordeng di jendela kelas. Yoseop dan aku terpaku melihat kain hordeng berwarna kuning gading yang sudah berubah menjadi hitam.

 

=Halaman Belakang=

Aku dan Yoseop di hukum untuk mencuci semua hordeng di kelas karena kecerobohan kami. Dia memasukkan kain-kain hordeng itu ke dalam sebuah baskom besar dan mengisinya dengan air dari selang.

Aku menyilangkan kedua tangan di dada dan menatapnya kesal, “Ini bukan salahku, aku tidak mau mengerjakannya..” ucapku sebal, lalu bergerak duduk di bangku panjang.

Yoseop tampak menghela nafas dalam dan memandangnya, “Arasso..” ucapnya pelan dan kembali memandang baskom.

Dia mengalah? Hmm.. Ia memang gentle.. Hihihi..

Aku memperhatikan Yoseop mematikan air dan berjongkok di dekat baskom. Dahiku berkerut melihatnya mengambil detergen dengan ujung jari dan menaburnya seperti penyedap masakan. Terus begitu.“Ya! Kau tidak sedang masak.. Kenapa melakukannya seperti itu?” Tanyaku.

Yoseop memandangku bingung, “Aku tidak tau caranya..”

Aku menghela nafas dalam dan bangkit, lalu menghampirinya. Ia berjongkok di sebelahnya dan mengambil bungkus detergen tadi, “Tuang ke telapak tanganmu seperti ini..” ucapku sambil menampung detergen dengan telapak tanganku dan memasukkannya ke air. Lalu memberikan bungkus detergen lagi pada Yoseop.

Yoseop melakukan hal yang lakukan tadi dan memasukkannya ke dalam air, lalu memandangku. “Lalu?”

Aku memutar bola mataku kesal, ternyata ia tak gentle seperti yang kupikirkan. lalu berdiri. “Ya sudah, aku saja yang melakukannya.” Ucapku sambil membuka sepatu dan kaus kaki, lalu masuk ke ember besar itu dan menginjak-injaknya. Aku sengaja membelakanginya agar dia tak melihat bagaimana wajahku saat ini. Aku terkejut dia juga ikut masuk, “Ya!”

“Jangan banyak bergerak, nanti kau terjatuh..” ucap Yoseop sambil memegang kedua lenganku dari belakang.

Aku tertegun merasakan kedua tangannya di lenganku. Jantungku kembali berdegup kencang. Entah mengapa aku merasa senang dengan keadaan ini. Aku berusaha keras menahan bibirku untuk tidak tersenyum. Situasi disana sangat hening hingga ia menyebut namaku.

“Kang Soyou..”

Aku menoleh sedikit kebelakang namun tidak sampai memandangnya, “Hmm..” gumamku menjawab panggilannya.

“Minggu ini…” ia menggantung ucapannya sendiri hingga membuatku penasaran setengah mati. “..kau mau pergi menonton denganku?”

Aku terpaku mendengar ucapannya. Dia baru saja mengajakku berkencan? Kepalaku menoleh penuh agar bisa memandang wajahnya. Ia terlihat gugup namun sangat serius dengan apa yang ia katakan..

 

 

<<Back           Next>>

Advertisements

3 thoughts on “One Fun Day [Chapter 6]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s