Chapter · Cube

One Fun Day [Chapter 5]

5

—Soyou In Love—

Jantungku masih berdegup kencang hingga pulang, mengingat ia ada di belakang dan memperhatikanku membuatku gugup. Ahhh.. ada apa denganku sebenarnya? Aku melangkah seorang diri keluar dari kelas agar tidak perlu mendengar olokan Hyorin tentang hari ini.

“Soyou sanbae..” panggil seseorang.

Aku berhenti dan menoleh, bibirku membentuk senyuman melihat Naeun. “Oh, Naeun-a..”

Naeun tersenyum dan membungkuk sopan, “Annyeonghaseo, sanbae..”

“Ne, waekeure?” tanyaku ramah.

“Sanbae, terima kasih sudah mengajariku melukis. Guru Min berkata kemampuanku berkembang pesat..” ucap Naeun senang.

“Tidak perlu berterima kasih.. Aku memang harus membantu pemula..” ucapku berusaha tidak terlihat sombong. “Keurom, aku pergi..” ucapku.

Naeun membungkuk sopan, “Annyeongigaseyo..” ucapnya.

Aku melangkah dengan senyuman di wajahku. Ini pertama kalinya ada junior yang memperlakukanku dengan sangat baik seperti ini. Hmm.. berarti aku sudah menjadi senior yang baik kan? Hihihi..

 

=Kelas=

Aku menghela nafas dalam karena bosan. Ternyata aku tidak terlalu menyukai buku hingga merasa sangat bosan sekarang. Aku mengeluarkan ponselku dan melihat apakah ada pesan disana. Tapi tidak ada apa pun. Fuuuuhh.. mungkin aku memang membutuhkan kekasih yang akan mengirimiku pesan setiap saat. Aku memandangi wallpaper ponselku yang memajang wajahku sendiri hingga lampunya mati dan terkunci otomatis. Saat itu, secara tak sengaja aku melihat pantulan di layar ponselku. Awalnya aku bingung melihat pantulan itu karena tidak begitu jelas, tapi setelah kuperhatikan lagi, ternyata Yoseop memandang kearahku sambil menopang dagu tersenyum manis. Jantungku kembali berdebar dan menutup ponselku diatas meja. Aku tidak menyukainya. Tapi kenapa aku merasa seperti ini? Entah kenapa kegugupan mulai menyelimutiku. Tanganku spontan bergerak menyibak rambut dan menunduk menahan senyumanku.

Semuanya langsung duduk di tempatnya masing-masing ketika guru Kim masuk, “Selamat Pagi semuanya..” sapanya sambil melangkah menuju meja guru.

“Pagi sam..” sapa seluruh murid termasuk aku.

Guru Kim tersenyum pada kami, “Simpan buku kalian, kita ulangan..” ucapnya yang langsung di sambut helaan kaget dari para murid.

Aku tertegun menatap Guru Kim, ‘Mwo? Ulangan?’ batinku.

“Sam.. Kenapa mendadak sekali?” terdengar suara Gikwang dari belakang

“Agar aku bisa mengetahui siapa yang belajar dan tidak.. Cepat, waktu bersiap hanya 5 menit..” ucap guru Kim sambil tersenyum.

Aku menghela nafas dalam untuk menenangkan diriku, lau memasukkan buku-bukuku ke dalam tas dan mempersiapkan diriku untuk ulangan.

“Ahh.. eoteokhe? Aku tidak belajar semalam..” ucap Hyorin khawatir.

Aku memandang Hyorin, “Gwenchana, kau pasti bisa mengerjakannya..” ucapku sambil tersenyum.

Guru Kim berjalan berkeliling kelas membagikan kertas soal, terdengar lagi helaan kaget ketika mereka melihat soalnya.

Aku melihat soalnya satu persatu. Well, aku sudah mempelajari semuanya. Aku yakin aku bisa mengerjakannya. Tanganku mengambil pena dan mulai mengerjakannya.

Riiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing..

Begitu bel berbunyi, aku meletakkan pena di tanganku dan memeriksa apakah aku sudah menulis nama dan kelasku sekali lagi. lalu bangkit dan melangkah ke meja guru.

“Oke.. waktunya habis..” ucap Guru Kim, lalu tersenyum padaku yang menyodorkan kertas hasil ulanganku, “Selalu pertama seperti biasa Soyou..” pujinya.

Aku tersenyum tipis dan kembali ke tempat dudukku. Ketika aku memasukkan peralatan tulisku ke tempat pensil, mataku melihat Yoseop menghampiri meja guru untuk memberikan kertas ulangannya.

“Bagaimana ulangan pertamamu, anak baru?” Tanya Guru Kim.

Yoseop tersenyum malu sambil mengelus belakang kepalanya, kenapa itu terlihat cute di mataku? “Hehehe.. sangat sulit sam..” jawabnya

Guru Kim tertawa kecil, “Kau akan segera terbiasa..”

Jam istirahat tiba.

“Soyou-a, kau mau ke kafetaria bersamaku?” Tanya Hyorin.

“Ani, aku akan melukis di tempat biasa..” jawabku sambil membereskan sisa bukuku.

“Oh.. keure, sampai nanti..” ucap Hyorin dan pergi bersama yang lain ke kafetaria.

Aku bangkit dan melangkah keluar dari kelas. Pertama aku pergi ke ruang seni lukis untuk mengambil kanvas dan peralatan lukisku, lalu membawanya ke taman belakang. Dengan hati-hati aku mendirikan kaki kanvas dan meletakkannya disana, kemudian duduk dan mulai mencari objek yang bagus untuk kulukis. Mataku terpaku ke langit yang terlihat sangat indah dan menenangkan. Bibirku membentuk senyuman dan mulai mengeluarkan cat berbentuk pasta ke papan cat. Aku membuatnya dengan lembut. menorehkan catnya perlahan. Mataku sesekali melirik langit dan kembali memandang kanvasku. Hanya keheningan yang ada di sekitarku. Tidak tau berapa lama, aku merasakan seseorang di sebelahku.

“Wuaa.. lukisanmu sangat keren..”

Aku tertegun mendengar suara Yoseop, namun aku tetap berusaha berkonsenterasi pada lukisanku. Sebenarnya, jantungku berdegup kencang hanya karena mendengar suaranya. Keringat dingin mengalir dari dahiku karena dia memperhatikan wajahku.

“Mmm.. Kang Soyou, aku anak baru. Apa tidak ada yang ingin tanyakan padaku?” tanya Yoseop.

Aku mengambil warna biru tua dan kembali melukis kanvas berukuran sedang yang berdiri dihadapanku. Tetap berusaha serius dengan lukisanku tanpa mempedulikan degup jantungku yang terus meningkat.

“Tidak ada?” tanya Yoseop lagi, kuakui dia tak mudah menyerah.

Aku berusaha memikirkan cara bagaimana ia bisa pergi sebelum ia menyadari wajahku berubah merah atau jangan-jangan ia bisa mendengar detak jantungku yang berdetak sangat keras. “Bisakah kau pergi?” Tanyaku datar.

“Ne? keure.. aku akan membiarkanmu melukis..” ucap Yoseop riang, lalu bangkit dan berjalan riang meninggalkanku.

Aku tertegun dan memandang ke arah Yoseop bingung. Ia terdengar ceria dan pergi begitu saja? Ada apa dengannya? Aku segera memalingkan wajah kembali memandang kanvas dan berpura-pura serius ketika Yoseop berhenti. Ia juga berbalik dan kembali menghampiriku.

“Sampai di kelas, Kang Soyou..” ucap Yoseop ceria.

Wajahku terasa panas. Seperti ada yang mendidih di wajahku. Jika aku menjawab, suaraku akan bergetar karena gugup. Juga jika aku memandangnya ia akan melihat wajahku yang memerah.

Yoseop terlihat kecewa dan berbalik pergi.

Mataku bergerak memandangnya, memperhatikannya pergi itu. Aku tidak tau apa yang terjadi padaku. Melihatnya seperti itu karenaku membuatku merasa tidak nyaman. Aku… Aku merasa bersalah?

 

=Kelas Lukis=

“Sanbae, pensil dan kuas di letakkan sejajar kan?” Tanya Naeun yang duduk di belakangku.

Aku memandang ke belakang dan tersenyum sambil mengangguk, “Ne, jangan lupa cat warnanya di susun sesuai gradasi agar kau mudah menemukannya.

Naeun mengangguk mengerti, “Ne, sanbae..” Ucapnya dan mulai menyusun cat warna di depannya.

Aku suka semangatnya. Dia terlihat sepertiku dulu. Hahaha.. Tapi aku tidak menggemaskan seperti itu tentunya. Aku memandang ke depan ketika melihat Guru Min masuk, dahiku berkerut melihat Yoseop. Kenapa dia ada disini?

“Anak-anak, Yang Yoseop dari kelas 2b akan ikut kelas kita mulai hari ini.” Ucap Guru Min memberitau.

‘Mwo? Dia akan masuk kelas ini? Aissh.. Wae?’ Batinku sambil memalingkan wajah.

“Annyeonghaseo.. Senang bertemu dengan kalian..” ucap Yoseop, lalu melangkah ke belakang.

‘Ahhh.. Kenapa dia duduk di belakang? Membuatku canggung saja..’ Batinku sebal. Aku mulai merasa was-was dan takut apa yang kulakukan dinilai buruk olehnya. Tunggu, aku barusan berpikir apa?

“Mmm.. beberapa dari kalian masih pemula, jadi untuk hari ini kita mulai dengan pensil.” Ucap guru Min memberi instruksi.

Aku mengulurkan tangan ke barisan pensil pembuat sketsaku. Aku diam sejenak melihat ada beberapa disana, apa Yoseop tau yang mana yang akan digunakan? Tiba-tiba aku terpikirkan itu. Tapi.. Ahhh!! Kenapa aku memikirkannya?

“Oppa, yang ini..”

Aku tertegun mendengar suara Naeun, ‘Siapa yang dia panggil oppa?’ Batinku, kepalaku menoleh sedikit kebelakang dan mengerutkan dahi sambil kembali memandang kanvasku. ‘Naeun memanggilnya oppa? Apa mereka dekat ya?’ Batinku penasaran sambil mengangkat pensilku.

“Kalian bisa memikirkan apa pun yang membuat kalian bahagia, lalu torehkan di kanvas kosong kalian.. Ini akan menjadi sketsa awalnya..” ucap Guru Min lagi.

Aku memandang Guru Min, ‘Bahagia?’ Batinku dan memandang kanvas putih bersih di depanku. Aku membayangkan sesuatu yang membuatku bahagia disana.

Tanganku terulur dan menorehkan pensil ke kanvasnya. Bibirku membentuk senyuman membayangkan hamparan hijau yang di penuhi bunga indah. Angin membuat mereka bergoyang seirama. Disana aku berdiri memandangi mereka. lalu di bukit di seberang sana, Yoseop tersenyum lebar sambil melambai padaku. Senyumanku semakin lebar. Namun mendadak semua lamunanku buyar ketika aku sadar aku membuat sesosok orang di bukit yang terlihat di sketsaku. ‘Mwo? Apa yang kubuat?’ Batinku kesal dan langsung memanipulasi gambar itu menjadi sebuah bentuk bunga.

“Waeyo, sam?”

Aku mendengar suara Yoseop terdengar gugup, pasti Guru Min sedang melihat hasil sketsanya.

“Apa kau pernah membuat sketsa sebelumnya?” Tanya Guru Min.

Aku tidak tau kenapa, tapi aku memasang telinga untuk mendengarkannya. Aku berusaha mempertajam pendengaranku dan menunggu jawaban Yoseop.

“Ini yang pertama kali sam.. Apa seburuk itu?” Tanya Yoseop.

“Aniya, kau membuatnya dengan baik, hanya saja masih terlihat berantakan..” ucap Guru Min.

“Ne? oh.. saya akan memperbaikinya lagi, sam..” ucap Yoseop.

“Di sekitar sini harus di berikan bayangan, juga….”

Aku terpaku Guru Min tiba-tiba berhenti berbicara. ‘Waeyo sam? Apa sketsanya seburuk itu?’ Batinku ingin tau.

“Itu yang pertama muncul di kepalaku, sam.” Yoseop terdengar malu-malu.

Guru Min menahan tawa, “Lanjutkan saja..”

Aku kembali serius pada sketsaku ketika mendengar langkah Guru Min. Memangnya apa sih yang Yoseop buat? Kenapa Guru Min sampai tertegun begitu?

20 menit setelah kelas selesai.

Aku membuka pintu dan mengintip kedalam, tidak ada siapa pun. Aku masuk dan kembali menutup pintu, perlahan-lahan aku melangkah menghampiri kanvas yang tadi di gunakan Yoseop. Ketika melihatnya, aku merasa ini agak aneh. Pantas saja Guru Min sampai tertegun. Ini benar-benar berantakan. Garis sketsanya kasar sekali. Tapi tunggu, sepertinya aku pernah melihat tempat seperti ini.. Aku mengerutkan dahi sambil berusaha mengingat, ketika itu aku tertegun memandang ke tempat aku duduk tadi. Lalu kembali memandang kanvas. Tiba-tiba sketsa kasar tadi terlihat sangat jelas. Dia membuat sketsaku dari belakang. Kenapa dia membuatku? Apa dia bahagia ketika melihatku? Pertanyaan itu membuatku tersenyum malu dan merasa senang tanpa sebab.

 

=Kamar Soyou=

Aku keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutku dengan handuk kecil. Aku melangkah ke depan cermin dan memperhatikan wajahku beberapa saat. Saat itu aku melihat pantulan bingkai yang tergantung di dinding kamarku di cermin. Bibirku membentuk senyuman dan berbalik memandang ke belakang. Itu sketsa yang Yoseop buat. Aku memajangnya disana. Hihihi..

 

<<Back           Next>>

Advertisements

2 thoughts on “One Fun Day [Chapter 5]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s