Chapter · Cube

One Fun Day [Chapter 4]

4

—Soyou’s Day 1—

Aku melangkah menuju sekolah seperti biasa. Udara pagi yang menyegarkan membuatku selalu bersemangat. Aku mengedarkan pandanganku mencari Hyorin yang biasanya juga berangkat jam segini, tapi tidak terlihat. Sepertinya dia belum datang. Aku masuk ke gedung sekolah dan mulai mencarinya, aneh.. dia tidak pernah tidak terlihat di mana pun.

“Soyou-a..”

Aku menoleh dan melihat Hyorin di ujung lorong sana melambai memanggilku. Aku tersenyum dan melambai padanya, lalu melangkah kearahnya. Aku melewati seorang pria aneh. Ia tersenyum lebar dan melambai sendiri. ada apa dengannya? “Kau baru tiba? Aku mencarimu kemana-mana..”

“Mian, tadi aku harus mengantar adikku dulu..” ucap Hyorin setengah tertawa, “Khaja..” ajaknya.

Aku melangkah bersama Hyorin kearah berlawanan dengan pria tadi, sejujurnya aku penasaran kenapa pria itu berlaku aneh. Kepalaku menoleh ke belakang dan melihat pria itu masih tersenyum sendiri. aku hampir tertawa melihatnya.

Bel tanda jam pelajaran akan dimulai berbunyi. Aku dan Hyorin sudah duduk di kelas menunggu guru masuk. Seperti biasa, aku akan membaca buku ensiklopedia dari perpustakaan yang kupinjam minggu lalu. Ini bacaan berat, namun aku menyukainya.

“Soyou-a, kudengar ada anak baru yang akan masuk ke kelas kita..” ucap Hyorin memberitauku.

Aku memandangnya, “Darimana kau tau?”

“Tadi aku mendengarnya dari Kim sam..” jawab Hyorin, “Oh.. itu dia..”

Aku memandang ke pintu, dimana Guru Kim masuk bersama seorang pria berwajah imut yang terlihat sangat gugup. Tunggu.. ini pria aneh tadi. Hmm.. dia anak barunya. Aku kembali membaca bukuku dengan tenang.

“Jangan malu, mereka akan menjadi teman-temanmu. Ayo perkenalkan dirimu..” Kudengar suara Guru Kim dari depan, aku mengerti pasti sulit menjadi anak baru.

“Oh.. Ne.. Annyeonghaseo, Yang Yoseop imnida..” Ucap pria itu lantang, “Senang bertemu kalian..”

“Wuaa.. Semangatmu benar-benar bagus..” Ucap Kim sam, “Kau bisa duduk di kursi kosong itu..”

Pria itu melangkah ke belakang. Setelah beberapa saat pelajaran di mulai. Kepalaku menoleh kebelakang dan melihat pria itu sedang berbicara dengan Gikwang, lalu kembali memperhatikan Guru Kim menjelaskan tentang rumus kimia.

Hyorin mendekat padaku, “Soyou-a, dia imutkan?”

Aku memandang Hyorin bingung, “Nugu?”

“Itu.. si anak baru.” Ucap Hyorin.

“Hm? Menurutku biasa saja..” ucapku bingung.

“Aissh.. kau ini..” ucap Hyorin sebal.

 

=Istirahat=

Aku duduk di depan kanvas untuk menyelesaikan lukisanku. Aku mengikuti kelas lukis sejak tahun pertamaku disini. Aku bisa dengan percaya diri mengatakan kemampuanku cukup baik sekarang.

“Annyeonghaseo sanbae..” sapa beberapa adik kelas yang masuk kesana.

Aku menoleh dan tersenyum karena mengenal mereka. Mereka juga anggota kelas seni, “Ne, annyeonghaseo..” sapaku balik.

“Sanbae, perkenalkan.. Ini anak baru di kelas kami, dia juga akan masuk ke kelas seni..” ucap Eunji sambil memegang bahu seorang gadis cantik di sebelahnya.

Gadis itu membungkuk sopan, “Annyeonghaseyo, sanbae.. Namaku Yang Naeun, senang bertemu denganmu..”

Aku tersenyum melihat kesopanannya, “Ne, aku juga. Semoga kau senang di kelas seni..”

Gadis bernama Naeun itu tersenyum dan mengangguk, “Ne, sanbae..”

 

=Keesokan Harinya=

Aku selalu menjadi orang pertama yang datang ke kelas. Tapi pagi ini perutku terasa aneh. Aku memegang perutku dan bergerak bangkit, lalu melangkah cepat menuju pintu. Tapi ternyata ada seseorang yang saat itu hendak masuk.

“Oh!!” serunya kaget.

‘Aissh! Kenapa harus di saat seperti ini sih?!’ batinku kesal sambil menatapnya kesal dan menghela nafas dalam, lalu melangkah ke sisi kirinya.

“Cesonghamida..” Ucap pria bernama Yoseop itu ketika aku berlalu.

Aku tidak mengatakan apa pun dan hanya pergi. saat ini aku benar-benar harus ke toilet!

“Neomu yepeuta..”

Langkah kakiku terhenti mendengar gumaman itu dan berbalik perlahan, tapi Yoseop sudah tidak ada disana. Dahiku berkerut. Apa aku salah dengar ya? Aku kembali melangkah cepat menuju toilet untuk menyelamatkan diriku.

“Soyou-a.. kau merasa tidak si anak baru itu sering memandangimu?” Tanya Hyorin saat kami makan siang.

Aku memandangnya bingung, “Jinja? Aku tidak tau..” jawabku.

“Masa kau tidak tau? padahal dia menatapmu sampai melotot begitu..” ucap Hyorin bingung.

Aku menggeleng dan mengangkat bahu.

“Jangan-jangan dia menyukaimu..” ucap Hyorin dengan senyuman jahilnya.

Aku tertegun mendengar ucapan Hyorin. Kedua pipiku terasa panas. Ini bukan karena aku menyukai anak itu, tapi ketika mendengar ada seseorang yang menyukaimu selalu menyenangkan. Aku tertawa kecil mendengar ucapan temanku ini, “Kau ini selalu berlebihan..”

“Kenapa berlebihan? Bisa saja kan?” ucap Hyorin sebal, “Tapi jika dia benar-benar menyukaimu, apa kau akan membalas perasaannya?”

Dahiku berkerut mendengar pertanyaan itu, “Mwo? Mmm.. bagaimana ya? Aku masih belum memikirkan memiliki hubungan dengan seseorang..”

“Aissh.. kenapa kau hanya memikirkan pelajaran saja? Santai sedikitlah..” ucap Hyorin sebal.

Aku tertawa kecil, “Jika aku santai sedikit, nilai-nilaiku akan turun.. Sudahlah.. Aku tidak mau memikirkan itu dulu..” ucapku menutup pembicaraan kami.

 

=Sepulang Sekolah=

Aku tidak tau kenapa, tapi ucapan Hyorin tadi mempengaruhiku. Benarkah anak baru itu menyukaiku? Ahh.. ini tidak bisa dibiarkan. Begitu bel berbunyi, aku segera memasukkan barang-barangku ke dalam tas dan bangkit bersama tasku. Lalu melangkah keluar. Aku menoleh sedikit ke belakang dan menyadari Yoseop melihatku pergi dan bergegas memasukkan barang-barangnya ke tas. Ketika melangkah meninggalkan kelas aku bisa mendengar langkah cepat seseorang mengikutiku, lalu tiba disebelahku.

“Kang Soyou..” Sapa Yoseop sambil menyamakan langkah kami.

Aku memandangnya sekilas dan kembali melangkah seperti tidak ada dia disebelahku. Aku hanya ingin memastikan itu benar dia atau tidak. Sial! Kenapa jantungku berdegup kencang seperti ini?! Aissh.. memalukan! Meskipun aku mempercepat langkahku, ia tetap mengikutiku.

“Kang Soyou, kau tau namaku kan?” Tanyanya.

‘Jangan ikuti aku!’ batinku kesal tanpa menjawab.

“Yang Yoseop.. Tau kan?” Tanyanya lagi sambil terus melangkah.

Aku berusaha keras untuk tidak mempedulikannya.

Bruk!!

Aku tertegun dan memandang kebelakang. Aku hampir tertawa melihatnya menabrak tembok dan langsung melangkah pergi lagi. sebenarnya dia sangat lucu, tapi aku tidak ingin berbaik hati padanya. Bisa saja kan dia mendekatiku hanya karena merasa aku berbeda dan ingin membuatku takluk padanya, lalu setelah dia berhasil dia akan mencari yang lain lagi. aissh.. aku harus berhenti menonton drama. (-___-“)

 

=Beberapa Saat Kemudian=

Hyorin memandang kebelakang dan memandangku, “Ya.. anak baru itu memandangimu sambil tersenyum..”

Aku memandang Hyorin, “Lalu?”

“Pandang kebelakang dan balas tersenyum..” ucap Hyorin memberi intstruksi.

Wajahku terasa panas mendengar ucapannya dan kembali memandang bukuku, “Apa yang kau bicarakan, untuk apa aku melakukannya?” tanyaku menutupi rasa malu.

“Wae.. bukankah kau belum pernah berpacaran sebelumnya? Kupikir dia sangat manis..” ucap Hyorin.

“Hyorin, aku sudah sering bertemu pria seperti itu. paling sebentar lagi jika aku tidak juga mempedulikannya, dia akan berhenti..” ucapku yakin.

“Kau yakin? Tapi sepertinya dia serius lho..” ucap Hyorin berusaha meyakinkanku.

Aku menghela nafas dalam kembali memandang bukuku.

 

=Perpustakaan=

Aku sudah duduk disini sekitar 1 jam, begitu juga dengan Yoseop yang duduk di meja seberang. Aku tidak tau mengapa, tapi sepertinya ia ingin menarik perhatianku.Ia melambai-lambai hingga hampir 20 menit. Tak lama ia menurunkan tangannya. mataku bergerak melirik kearahnya dan menahan senyum melihat ia mengelus bahunya yang pegal. Lalu kembali membaca bukuku.

Saat sudah serius membaca seperti ini, aku bisa lupa segalanya. Bahkan terkadang ibuku harus mencubit tanganku dulu hingga aku keluar dari duniaku. Samar-samar aku mendengar seseorang berdehem. Lalu seseorang bergumam membicarakan isi buku. Tanpa melihat siapa itu aku sudah bisa menebak itu adalah Yoseop. Dia memang berusaha keras. Mataku melirik ke arahnya ketika ia mulai tertawa sendiri, aku kembali memandang bukuku sambil menahan senyuman karena ia jelas sekali berpura-pura tertawa. Memangnya apa yang lucu di buku Geologi? Dia benar-benar..

Sekali lagi aku tenggelam dengan bacaanku. Sebuah kalimat membuatku bingung, ‘Ini apa artinya ya?’ batinku. Sepertinya aku harus mengambil buku lain. Aku bangkit dan berbalik untuk mengambil buku di rak. Aku tidak sadar siapa yang ada disebelahku hingga orang itu membantuku yang bersusah payah mengambil buku di rak atas. Aku terkejut tiba-tiba ada sebuah tangan yang terulur dan menoleh. Saat ini. Pertama kalinya aku menatap langsung kedalam mata seorang pria.

Ia tersenyum padaku, “Buku yang ini?” Tanyanya

Bukk!!!!

Aku terekjut sesuatu mengenai kepalaku, aku langsung memegang kepalaku sambil mengelusnya mengurangi sakit. “Aww…”

“Ahhh..” rintihnya sambil memegang kepala, tapi begitu menyadari aku juga kesakitan, ia langsung seperti melupakan sakit di kepalanya. “Ooh.. Cesongeo, apa kau terluka?” Tanyanya panic.

Aku menatapnya kesal, lalu berbalik pergi dan berjalan pergi sambil memegangi kepalaku. Namun satu tanganku yang lain memegang dadaku yang berdebar kencang. ‘Sial! Kenapa jantung berdebar seperti ini?!’ batinku kesal.

 

<<Back           Next>>

Advertisements

2 thoughts on “One Fun Day [Chapter 4]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s