Chapter · Cube

One Fun Day [Chapter 3]

3

—Yoseop 200% Love—

Guru Kim tersenyum memandang seluruh kelas dengan hasil ulangan di tangannya. senyumannya membuat beberapa orang gugup. “Hasil ulangan kemarin tidak terlalu buruk. Aku bangga pada kalian..” ucapnya.

“Ahh… pasti aku yang paling rendah..” gumam Gikwang lesu.

Aku memandang Guru Kim serius, kuharap Soyou tetap yang terbaik. Hahaha…

Guru Kim memandang kumpulan kertas di tangannya, “Aku akan mulai membagikannya..” ucapnya. “Kali ini ada dua orang yang mendapatkan nilai bagus, semoga akan terus bertambah lain kali..” ucapnya.

Aku tersenyum memandang Soyou.Pasti dia salah satunya, tidak masalah bagiku.

“Keure, seperti biasa. Kang Soyou mendapat nilai yang lebih tinggi..” ucap Guru Kim sambil mengambil hasil ulangan Soyou.

Soyou tersenyum dan bergerak bangkit, lalu melangkah menghampiri meja guru.

Guru Kim tersenyum sambil memberikan hasil ulangan itu, “Ini, kau hanya sedikit kurang teliti ketika menjabarkan rumus soal nomor 3.. A-..”

Soyou mengangguk, “Ne, sonsangnim.. Gamshamida..” ucapnya dan kembali duduk.

“Wuaa.. dia pintar sekali..” gumam anak-anak disekitarku.

Entah kenapa aku merasa sangat bangga padanya. Ia bisa mendapat A- di ulangan mendadak, itu suatu anugrah yang luar biasa.

“Dan.. seorang lagi.” ucap Guru Kim sambil mengambil sebuah hasil ulangan lainnya, “Mendapat nilai sempurna mengalahkan Kang Soyou..”

Semuanya terpaku dan menatap kedepan kaget. Begitu juga aku, siapa yang bisa mengalahkan Soyou-ku?! Aku menolah kearah Soyou dan melihat ia tampak terkejut.

“Siapa sam?” Tanya teman sebangku Soyou.

Aku tertegun melihat Guru Kim tersenyum kearahku.

“Yang Yoseop. A+..” ucap Guru Kim.

Aku terpaku mendengar pengumuman itu, apalagi sekarang seluruh kelas menatapku tak percaya.

“Ya.. kau bilang kau tidak belajar..” ucap Gikwang tak percaya.

Aku memandangnya bingung, “Memang tidak..” ucapku. Lalu menoleh kearah Soyou dan terkejut mendapat tatapan tajam darinya.

“Yoseop, ambil kertas ulanganmu..” ucap Guru Kim.

Aku bergerak bangkit dan melangkah ke depan, aku langsung memandang kertas ulanganku bingung. Aku merasa hanya mengerjakannya begitu saja tapi ternyata benar semua? Apa aku sepintar itu?

“Kudengar ayahmu Profesor Fisika, pantas saja kau pintar seperti dia..” ucap Guru Kim kagum.

Aku tersenyum canggung dan berbalik ke tempat dudukku sambil memandangi hasil ulanganku lagi.

“Daebak! Ayahmu Profesor Fisika?!” Tanya Gikwang ketika aku kembali duduk.

“Ne.. tapi aku tidak tau aku sepintar ini..” jawabku bingung.

Gikwang mengambil kertas ulanganku dan membolak-baliknya tak percaya. Tiba-tiba aku merasa cemas dan memandang kearah Soyou. Dia memandangi kertas ulangannya. Ahh.. dia pasti kesal padaku. Aissh.. kenapa aku tidak mengosongkan satu soal saja ya?

Hingga istirahat aku tidak bisa tenang.

“Sudahlah.. bukan salahmu jika Soyou mendapat A-..” ucap Gikwang menghiburku ketika kami melangkah menuju kafetaria.

Aku menghela nafas dalam dan menunduk lesu, “Ahh.. sekarang dia pasti kesal padaku..” ucapku frustasi.

“Yang Yoseop!”

Aku berhenti dan berbalik kebelakang, aku tertegun melihat Soyou berdiri disana menatapku kesal. Melihatnya melangkah kearahku membuat jantungku berdebar kencang dan tersenyum lebar. Seperti ada efek angin yang menerbangkan rambutnya dan semuanya berpusat padanya.

Soyou berhenti didepanku dengan tatapan mematikannya, “Kau menyontek saat ulangan?!” tanyanya.

Senyumanku menghilang, “Ne? ani.. aku tidak pernah menyontek..” jawabku sambil menggeleng cepat.

Soyou menyebutkan sebuah rumus kimia yang sangat sulit, “Cepat jabarkan!”

Aku bingung sesaat, lalu menjabarkan rumus itu dengan hati-hati karena ia terlihat seperti akan memakanku. “..jika tidak salah..” ucapku di akhir kalimat.

Gikwang menatapku tak percaya, “Wuaaa.. kau bisa menjabarkannya tanpa menulisnya?”

Aku tidak sempat menjawab Gikwang karena wajah Soyou terlihat memerah menahan marah, lalu berbalik dan pergi begitu saja. “Kang Soyou..” panggilku tak mengerti. “Kang Soyou.” Panggilku lagi sambil mengikutinya.

Gikwang menarik tanganku, “Ya.. kau gila? Bagaimana jika dia tambah kesal padamu?”

Aku memandang Gikwang dan kembali memandang Soyou yang terus pergi. ahh.. apa yang harus kulakukan?

Sejak hari itu, aku terus berusaha mendekati Soyou. Terus berbicara dan menggodanya, tapi ia tak pernah memandangku. Dia benar-benar membenciku. Karena aku mendapat nilai lebih tinggi? Ahh.. dia membuatku gila. Sungguh!

 

=Tiga Minggu Kemudian=

“Kang Soyou, A+..” ucap Guru Kim mengumumkan hasil ulangan kami minggu lalu.

Dengan senyuman cerah Soyou bangkit dan mengambil hasil ulangannya.

Aku senang melihatnya tersenyum seperti itu. meskipun bukan padaku, ia tetap terlihat cantik.

Guru Kim memandangku, senyumannya terlihat tidak secerah ketika mengumumkan hasil ulangan Soyou. “Yang Yoseop..” ucapnya pelan, “Sepertinya kau tidak mengerti tentang rumus yang baru kita pelajari..”

Aku tersenyum malu sambil mengelus belakang kepalaku, “Hehehe.. aku akan belajar lagi sam..” ucapku.

“B+..” ucap Guru Kim.

Aku bangkit dan mengambil hasil ulanganku. Meskipun hanya mendapat B+, aku sangat senang! Hahaha.. aku berhenti sejenak dan memandang Soyou yang terlihat tidak seceria tadi. “Kang Soyou, cukae..” ucapku dan kembali duduk.

 

=Kafetaria=

“Ya.. apa kau sengaja tidak menjawab dengan benar saat ulangan minggu lalu? Kulihat kau sangat santai mengerjakannya..” ucap Gikwang saat kami makan siang.

Aku tertawa kecil, “Aniya, waeyo?”

Gikwang menatapku serius, “Kau mengajariku tentang rumus ini sebelum kita ulangan..”

Tawaku hilang perlahan dan memandang kebawah, “Mmm.. tidak juga. Soalnya memang sulit..”

Gikwang menatapku sebal, “Ya.. kau sengaja mengalah pada Soyou kan?”

Aku tertawa sedih, “Aku tidak mengerti mengapa aku melakukan ini..” ucapku pelan, lalu memandang Gikwang. “Tapi yang kutau, saat kau lebih mendahulukan orang lain dari pada dirimu sendiri, itu berarti kau tulus mencintainya. Keutjo? Hahaha…”

Gikwang memandangku bingung, lalu kembali makan lagi.

Aku memang mengalah, aku sengaja tidak mengisinya dengan benar agar Soyou bisa kembali menjadi nomor satu. Gwenchana, apa artinya nilai dan masa depan bagus jika orang yang kukasihi tidak tersenyum karenaku? Kurasa aku benar-benar jatuh cinta. Pada gadis yang sangat cantik dimataku. Kang Soyou..

Siang itu, disaat Gikwang mengikuti kelas Basket, aku berjalan-jalan ke taman belakang sekolah yang belum sempat kusinggahi selama hampir 3 bulan aku disini. Aku tersenyum merasakan udara sejuk dari pepohonan disana. Kedua tanganku terentang dan merenggangkan tubuhku. Dan kembali, antenna cupid-ku berdiri begitu melihat Soyou duduk seorang diri disana sambil membaca buku. Aku terpaku sesaat melihatnya ada disana, pantas saja ketika aku mencarinya ke perpustakaan ia tidak pernah terlihat. Ternyata dia disini? Tuhan benar-benar merestuiku mengejarnya. Bibirku membentuk senyuman dan melangkah riang menghampirinya, “Wuaaaa… segar sekali disini..” ucapku sambil duduk tak jauh darinya. Setelah menunggu beberapa saat ia tak mengatakan apa pun, kepalaku menoleh kearahnya dan melihat ia yang masih membaca. Dengan rambut panjang bergelombang dan kulit putih itu, ia terlihat seperti putri. Yang akan segera menjadi Ratu di hatiku. Wahahahaha.. “Soyou-a..” panggilku, ia tak bergeming, “Kang Soyou..” panggilku, ia tetap tak menjawab. “Yeppo yeoja..” godaku, tetap saja tidak mengatakan apa pun. Aku cemberut dan memandang sekitar sebal. Namun aku tidak berhenti begitu saja. Perlahan tapi pasti aku menggeser dudukku hingga tiba di sebelahnya, “Kau baca apa sih?” tanyaku sambil ikut membaca buku di tangannya. lalu melirik wajahnya yang masih terlihat serius,tanganku melambai di depan wajahnya. Dia tetap tak bergeming. Dahiku berkerut dan melambaikan tangan ke depan wajahku sendiri bingung. Tak habis ide, aku mengambil bukunya dan membawanya kabur.

Soyou terkejut dan menatapku, “Ya!”

Aku tertawa kecil dan membuka halaman 11, lalu merobeknya.

“YA!!” teriak Soyou dan berlari menghampiriku, lalu merebut bukunya lagi.

Aku tersenyum lebar dan memperlihatkan halaman di kertas yang kupegang padanya, “Lihat, 11 terdiri dari dua angka 1. Ini seperti kau dan aku yang ada disini..” ucapku.

Soyou mengerutkan dahinya, lalu berbalik dan kembali ke tempatnya tadi.

Aku benar-benar tak habis pikir, kenapa dia terus mengacuhkanku selama 3 bulan? Apa aku harus menunggu sampai setahun dulu ya? Dia benar-benar membuatku gila. Aku juga kembali melangkah menghampirinya.

“Jaga jarak 5 meter dariku..” ucap Soyou tanpa mengalihkan pandangannya dari buku.

Aku berhenti melangkah, “Ne..” jawabku pelan. Lalu naik ke batu tak jauh di belakang Soyou. Aku kembali memandangi rambut indahnya dari belakang. Aku melipat halaman kertas tadi menjadi pesawat dan memainkannya seperti itu adalah pesawat tempur dengan efek peperangan dari mulutku. Mataku melirik kearah Soyou, ia terlihat tidak tertarik, aku menghela nafas dalam dan menerbangkan pesawat itu ke udara.

 

=14 Februari=

Aku melangkah masuk ke kelasku dan mengedarkan pandanganku, para gadis terlihat memegang coklat yang akan di berikan pada pria yang mereka sukai. Dan mataku berhenti pada sesosok gadis yang membaca buku dengan tenang. Kang Soyou. Ia tidak terlihat seperti ikut merayakan hari kasih sayang ini. Well, sebenarnya hari kasih sayang itu setiap hari. Bukan hanya hari ini. Aku melangkah ke tempat dudukku dan tertegun melihat di meja Gikwang banyak coklat-coklat bertumpukan, “Wuaa.. dari mana ini?”

Gikwang yang sedang menyusun coklat-coklat itu menjadi pyramid tersenyum cool, “Adik kelas yang memberikannya.. Aku sangat popular kan? Hahaha..” tawanya senang.

Aissh.. aku sangat iri padanya. Aku bahkan tidak di berikan satu dari gadis mana pun. Apa aku tidak popular ya? Aku bergerak duduk di tempatku dan meletakkan tas di atas meja, kemudian membukanya untuk mengeluarkan bukuku. Aku tertegun ketika menemukan sebuah coklat yang di berikan pita didalam tasku, aku mengeluarkannya dan menemukan sebuah catatan kecil berbentuk hati.

Oppa, aku menyayangimu..

Yang Naen..

Bibirku membentuk senyuman menemukan pesan itu, lalu memandang batang coklat tadi. Meskipun dari adikku, ini sangat special. Mana ada adik lain yang memberikan oppanya coklat di hari valentine. Aku pasti sangat beruntung. Hahaha..

Gikwang berbalik dan tertegun melihat coklat di tanganku, “Wuaa! Kau juga dapat? Dari siapa?” tanyanya sambil melihat cacatan berbentuk hati tadi.

Aku terkejut Gikwang mengatakannya dengan lantang, beberapa orang memandang kearahku dan menatapku penasaran. ‘Aissh.. bagaimana jika Soyou mendengarnya?’ batinku khawatir.

“Yang Naeun? Siapa ini?” Tanya Gikwang bingung.

“Adikku..” jawabku sambil mengambil catatan tadi, “Dasar kau ini..” ucapku sebal.

Jam istirahat.

Aku menghampiri Naeun di kelasnya untuk membalas pemberiannya tadi. Sebenarnya aku juga menyediakan sesuatu untuk adikku, sebuah gelang. Ia memang menyukai gelang.

“Oppa..” sapanya ketika melihatku.

Aku tersenyum dan menunjukkan catatan yang ia buat tadi, “Gumawo..” ucapku.

Naeun tersenyum lebar.

Aku mengeluarkan tanganku dari saku celana dan menunjukkan sebuah gelang dengan inisial N disana. “Untukmu..”

“Omo.. yeppeuta..” ucap Naeun senang.

“Kemari, oppa akan memasangkannya…” aku memasangkannya ke tangan Naeun dan memperhatikan pergelangan tangan gadis itu.

“Gumawoyo oppa..” ucap Naeun manja, lalu memeluk lenganku. “Bagaimana jika kita makan di kafetaria bersama?”

“Keure, khaja..” ajakku sambil melangkah bersamanya.

Banyak teman-temannya yang menatap kami tak percaya. Aku tau apa yang mereka pikirkan. Aku dan Naeun memang tidak mirip, jadi orang-orang berpikir kami seperti sepasang kekasih jika bersama.

“Ini oppa-ku..” ucap Naeun ketika melewati temannya, “Ini oppa-ku..” ucapnya lagi ketika melewati senior. “Ini oppa-ku..” ucapnya pada senior lain.

Aku tertawa karena merasa seperti tidak ingin orang salah sangka tapi tetap memeluk lenganku seperti ini.

 

=16 Februari=

Aku masuk ke kelas dan menemukan baru ada Soyou disana sambil membaca bukunya dengan tenang. Aku tersenyum memandangnya, “Annyeong..” sapaku, namun seperti biasa ia tidak menjawab saapanku. Gwenchana, aku sudah terbiasa. Aku melangkah riang menuju bangkuku, langkahku terhenti melihat sebuah kotak kecil diatas meja. Aku menghampirinya perlahan dan melihat apa itu. dahiku berkerut melihat coklat di dalam plastic transparan itu. “Coklat?” gumamku bingung sambil mengambil kotak itu, dan ternyata ada kertas di bawahnya.

Untuk Yang Yoseop

Untukku..

Aku langsung memandang Soyou dengan senyuman lebar, “Kang Soyou, apa kau memberiku ini?” tanyaku riang.

Soyou menoleh memandangku, ini pertama kalinya! “Apa kau gila?” ucapnya pelan.

Senyumanku memudar, “Oh..cesonghamida..” ucapku menyesal.

Soyou bangkit dan melangkah keluar kelas.

Aku memandangi coklat itu bingung, “Siapa yang memberikannya?”

Hingga siang aku masih memikirkan siapa yang memberikan coklat ini. Naeun? Dia kan sudah memberikannya waktu itu. Soyou? Aniya.. aku pasti benar-benar gila berpikir seperti itu.. >,<

Di jam terakhir sekolah, guru meminta kami semua membersihkan kelas bersama. Aku dan Gikwang memilih untuk membersihkan jendela. Di dekat pintu. Meskipun begitu, mataku melirik ke arah Soyou yang sedang mengelap meja bersama beberapa gadis lain. Apa pun yang ia lakukan, ia tetap terlihat cantik. ^_^

Soyou memandang ember air yang sudah menghitam akibat kotoran di meja, “Hmm.. aku akan menggantinya dulu..” ucapnya, lalu mengangkat ember itu.

Ia terlihat keberatan, jadi aku langsung menghampirinya. “Aku akan membawakannya..” ucapku sambil tersenyum lebar dan memegang pegangan ember di tangannya.

Soyou memandangku, “Gwenchana, aku bisa membawanya..” ucapnya sambil mendorong tanganku.

“Gwenchana, aku akan membawanya. Ini berat..” bujukku berkeras.

“Tidak perlu, aku bisa membawanya sendiri..” ucap Soyou tegas.

“Aniya, nanti tanganmu kotor..” ucapku lagi. kami mulai saling tarik menarik ember itu hingga ember berisi air kotor itu terbang dan mengotori kain hordeng di jendela kelas. Aku dan Soyou terpaku melihat kain hordeng berwarna kuning gading yang sudah berubah menjadi hitam.

 

=Halaman Belakang=

Aku dan Soyou di hukum untuk mencuci semua hordeng di kelas karena kecerobohan kami. Aku memasukkan kain-kain hordeng itu ke dalam sebuah baskom besar dan mengisinya dengan air dari selang.

Soyou menyilangkan kedua tangan di dada dan menatapku kesal, “Ini bukan salahku, aku tidak mau mengerjakannya..” ucapnya sebal, lalu bergerak duduk di bangku panjang.

Aku menghela nafas dalam memandangnya, “Arasso..” ucapku pelan. Setelah semua kain terendam, aku mengambil detergen dan mengambilnya dengan ujung jariku, lalu menaburkannya ke dalam baskom. Lalu kulakukan beberapa kali.

“Ya! Kau tidak senang masak.. Kenapa melakukannya seperti itu?” Tanya Soyou kesal.

Aku memandang Soyou bingung, “Aku tidak tau caranya..”

Soyou menghela nafas dalam dan bangkit, lalu menghampiriku. Ia berjongkok di sebelahku dan mengambil bungkus detergen tadi, “Tuang ke telapak tanganmu seperti ini..” ucapnya sambil menampung detergen dengan telapak tangannya dan memasukkannya ke air. Lalu memberikan bungkus detergen lagi padaku.

Aku melakukan hal yang lakukan tadi dan memasukkannya ke dalam air, lalu memandangnya. “Lalu?”

Soyou memutar bola matanya kesal, lalu berdiri. “Ya sudah, aku saja yang melakukannya.” Ucapnya sambil membuka sepatu dan kaus kakinya, lalu masuk ke ember besar itu.

Aku tertegun melihatnya menginjak-injak kain hordeng itu, “Ohh.. begitu..” aku mulai melepaskan sepatu dan kaus kakiku, lalu menggulung kaki celanaku keatas dan ikut masuk ke ember.

Soyou yang berdiri membelakangiku terkejut ketika aku masuk, “Ya..” protesnya.

“Jangan banyak bergerak, nanti kau terjatuh..” ucapku sambil memegang kedua lengannya dari belakang. Ia berhenti bergerak dan terus menginjak-injak kain di bawah sana hingga busanya mulai melimpah. Setelah beberapa saat aku baru menyadari aku masih memegang kedua lengannya, dan dia berada tepat di depanku!! Parfumnya tercium dari jarakku ini. Jantungku berdegup kencang. Kurasa ini adalah kesempatan emas. Kejadian seperti ini tidak mungkin terjadi lagi. jadi aku mengumpulkan semua keberanianku dan berbicara, “Kang Soyou..”

Soyou menoleh sedikit kebelakang namun tidak sampai memandangku, “Hmm..” gumamnya menjawab panggilanku.

“Minggu ini…” aku menelan ludah sejenak, “..kau mau pergi menonton denganku?” oke! Aku mengatakannya!! Aku mengatakannya!! Aarrghh!!! Kenapa aku mengatakannya?!!

Soyou diam sejenak, lalu menoleh penuh untuk memandangku.

Aku tidak tau apa yang akan terjadi, yang kutau saat ini tatapan kami bertemu satu sama lain..

 

<<Back           Next>>

 

Advertisements

3 thoughts on “One Fun Day [Chapter 3]

  1. Hmm… kayaknya yg ngasih coklatnya emg Soyou deh *sok tau wkwkwk
    Ayo Soyou! terima ajakan Yoseob!!
    next author~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s