Chapter · Cube

One Fun Day [Chapter 2]

2

—Yoseop In Love—

“Kau apa? Mmpphh. .bwahahahha..” Gikwang tertawa mendengar ceritaku ketika kami berjalan keluar dari kelas.

Aku cemberut sambil menatap Gikwang kesal, lalu memandang kedepan dan menendang lantai kesal.

Gikwang berusaha menahan tawanya, “Ya.. belum apa-apa kau sudah membuatnya kesal.. Bagaimana kau bisa membuatnya menyukaimu?”

“Sudah diam! Aku juga baru mulai.. Sampai besok..” ucapku dan melangkah duluan, aku akan menjadi olokan sepanjang jalan jika pulang bersamanya. Aku menghela nafas dalam sepanjang jalan mengingat aku telah berbuat hal bodoh di depan Soyou. Aissh… aku menghentak kakiku geram, orang-orang di sekitar memandangku aneh. Tapi aku tidak peduli. Kalian tidak tau kan rasanya jatuh cinta?!

Aku mengangkat wajah dan melihat Naeun sedang berbicara dengan seseorang tak jauh di depanku, awalnya aku tidak begitu peduli hingga aku menyadari gadis yang berbicara dengan adikku adalah Soyou! Aku tertegun dan langsung bersembunyi di balik pohon cemara yang tumbuh di halaman, lalu mengintip kedua gadis itu mengobrol. Mereka terlihat akrab, bahkan mereka saling tertawa dan berakhir dengan adikku membungkuk sopan ketika Soyou melangkah pergi.ini mencurigakan. Aku langsung berlari kecil menghampiri Naeun ketika Soyou sudah melangkah cukup jauh, “Naeun-a..” panggilku begitu tiba di sebelahnya.

Naeun memandangku kaget, “Waeyo oppa? Kau mengejutkanku..”

“Kau mengenal Kang Soyou?” tanyaku langsung.

Naeun terlihat bingung, “Ne? Soyou sanbae? Ne..”

“Jinja? Bagaimana bisa?” Tanyaku ingin tau.

“Soyou sanbae juga ikut kelas lukis…” jawab Naeun.

Aku terpaku mendengar jawabannya, ‘Soyou di kelas lukis?’ batinku.

“Soyou sanbae sering menbantuku oppa, dia mengajariku caranya melukis.” Cerita Naeun sambil mempraktekkan bagaimana posisi tangannya ketika melukis.

Ting! Sebuah ide langsung muncul di kepalaku, “Naeun-a, aku juga akan masuk kelas lukis..” ucapku langsung.

Naeun terdiam dan memandangku bingung, “Ne?”

Aku tersenyum lebar dan memegang tangannya, “Khaja, sebelum guru seni pulang..” ucapku sambil menarik tangannya kembali ke sekolah.

 

=Kelas=

“Mwo? Kau ikut kelas lukis?” Tanya Gikwang tak percaya.

Aku tersenyum lebar dan mengangguk, “Ne.. Kerenkan?”

Gikwang menatapku bingung, “Ya.. rata-rata pria di sekolah kita akan memilih olahraga sebagai extrakurikuller, ada apa denganmu?”

“Biarkan saja, yang penting aku bisa bersama Soyou lebih lama..” jawabku riang dan memandang kearah Soyou yang duduk membelakangiku disana.

Gikwang menatapku tak percaya, “Oh my god! Kau benar-benar terkena virus cinta..” ucapnya aneh.

Aku menopang daguku dengan tangan dan tersenyum lebar seperti orang bodoh kearah Soyou yang mungkin tak menyadari aku memandanginya. Hatiku terkena gelombang cinta ketika dia menyibak rambutnya, aku langsung bersandar ke kursiku sambil memegang dadaku yang terasa di tumbuhi ribuan bunga.

Gikwang geleng-geleng kepala dan kembali memandang ke depan.

Semuanya langsung duduk di tempatnya masing-masing ketika guru Kim masuk, “Selamat Pagi semuanya..” sapanya sambil melangkah menuju meja guru.

“Pagi sam..” sapa seluruh murid termasuk aku.

Guru Kim tersenyum pada kami, “Simpan buku kalian, kita ulangan..” ucapnya yang langsung di sambut helaan kaget dari para murid, kecuali aku.

Aku mengangguk sendiri dan memasukkan bukuku lagi ketas.

Gikwang mengangkat tangan, “Sam.. Kenapa mendadak sekali?”

“Agar aku bisa mengetahui siapa yang belajar dan tidak.. Cepat, waktu bersiap hanya 5 menit..” ucap guru Kim sambil tersenyum.

“Aissh.. menyebalkan..” gumam Gikwang dan memandangku, “Ya.. kau belajar semalam?”

“Naega? Ani, aku memikirkan Soyou sepanjang malam..” jawabku sambil memandang kearah rambut indah Soyou dari belakang.

“Aissh.. dasar kau ini..” ucap Gikwang sebal sambil kembali memandang ke depan.

Guru Kim berjalan berkeliling kelas membagikan kertas soal, terdengar lagi helaan kaget ketika mereka melihat soalnya. Sejujurnya, mata pelajaran Guru Kim, Kimia, tidak begitu sulit bagiku. Walaupun tidak belajar semalam, aku yakin bisa mendapat paling tidak B untuk soal ini.

Aku langsung menulis namaku di kertas jawaban dan mulai mengerjakannya. Hmm.. sepertinya Guru Kim memang ingin menjebak kami. Ohya, apa Soyou bisa mengerjakannya ya? Tiba-tiba aku memikirkan Soyou dan memandang kearahnya. Aku lega melihatnya mengerjakan dengan tenang. Itu berarti ia belajar semalam. Dengan perasaan riang aku kembali mengerjakannya.

Riiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiing..

Aku terkejut mendengar suara bel. Omo! Sudah dua jam?! Aissh.. aku masih belum selesai!! Dengan cepat aku menjabarkan sebuah rumus di soal terakhir.

“Oke.. waktunya habis..” ucap Guru Kim.

Aku menghela nafas lega karena berhasil menyelesaikannya tepat waktu, ketika aku mengangkat wajahnya, sebuah senyuman langsung terbentuk ketika melihat Soyou orang pertama yang berdiri dan mengantarkan hasil ulangannya.

Guru Kim tersenyum pada Soyou, “Selalu pertama seperti biasa Soyou..” pujinya.

Soyou tersenyum tipis dan kembali ke tempat duduknya.

Aku melihat yang lain mulai berdiri dan mengantarkan hasil ulangan mereka, aku ikut berdiri dan mengantarkan hasil ulanganku.

“Bagaimana ulangan pertamamu, anak baru?” Tanya Guru Kim padaku.

Aku tersenyum malu sambil mengelus belakang kepalaku, “Hehehe.. sangat sulit sam..” jawabku jujur.

Guru Kim tertawa kecil, “Kau akan segera terbiasa..”

Saat jam istirahat, aku dan Gikwang berjalan di sekitar sekolah sambil mendengarkannya menggerutu tentang ulangan tadi.

“Aissh.. jika aku dapat F lagi aku pasti akan dihukum habis-habisan!” ucap Gikwang frustasi.

“Apa kau sama sekali tidak bisa mengerjakannya tadi?” tanyaku ingin tau.

“Bagaimana bisa? Soalnya sangat sulit..” ucap Gikwang sebal.

“Hmm.. benar sih soalnya sulit.” Ucapku. Tiba-tiba ingatan ketika Soyou mengerjakannya dengan baik tadi membuatku tersenyum senang, “Tapi sepertinya Soyou bisa mengerjakannya dengan baik..” ucapku.

Gikwang menatapku aneh, “Ya.. pikirkan dirimu dulu, kenapa malah memikirkan dia?”

Aku tertawa kecil, “Jika aku tidak mendapat nilai bagus kurasa wajar, aku tidak belajar sebelumnya..” ucapku santai.

Gikwang menatapku lucu dan tertawa, “Andai aku bertemu denganmu sejak dulu..” ucapnya dan merangkulku sambil terus berjalan.

Aku tertawa kecil mendengar ucapannya, ‘Dan andai aku bertemu denganmu sejak dulu..’ batinnku mengingat tidak ada teman yang seperti Gikwang di sekolah-sekolahku sebelumnya. Antenna cupidku langsung berdiri begitu melihat Soyou duduk seorang diri di taman belakang sambil melukis, “Oh.. itu Soyou..” ucapku sambil berhenti.

Gikwang berhenti dan ikut memandang kearah Soyou, “Ya.. kau masih ingin mendekatinya?”

Aku memandang Gikwang bingung, “Keurom.. kan aku sudah bilang sejak awal..”

“Hmm.. ya sudah, dekati dia sana..” ucap Gikwang sambil mendorongku agar menghampiri Soyou.

Aku tersenyum malu dan melangkah riang kearah Soyou. Ia terlihat serius seperti biasa. Jadi aku tidak ingin merusak konsentrasinya. Aku duduk di bangku panjang di sebelah yang ia duduki. Suasana sangat canggung. Aku memandang langit dan tersenyum melihat betapa cerahnya hari ini, “Hmm.. cerah sekali..” ucapku, tapi tidak ada jawaban dari Soyou. Aku melirik kearahnya, ia terlihat seperti tidak menyadariku. ‘Oke! Aku harus lebih aktif!’ tekad batinku. Lalu menggeser dudukku ke pinggir bangku panjang yang kududuki agar bisa melihat apa yang ia lukis. Wow.. dia melukis langit indah di sana. “Wuaa.. lukisanmu sangat keren..” pujiku, lalu memandangnya karena tak memberikan respon. aku langsung kikuk. Apa yang harus kulakukan lagi? beberapa saat aku hanya duduk disana memikirkan apa yang akan kulakukan, “Mmm.. Kang Soyou, aku anak baru. Apa tidak ada yang ingin tanyakan padaku?” tanyaku memancing perhatiannya.

Soyou memberikan kuas warna biru tua dan kembali melukis kanvas berukuran sedang yang berdiri dihadpannya.

“Tidak ada?” tanyaku lagi tak menyerah.

“Bisakah kau pergi?” Tanya Soyou tanpa memalingkan wajahnya.

Aku langsung tersenyum lebar mendengarnya berbicara padaku, “Ne? keure.. aku akan membiarkanmu melukis..” ucapku riang, lalu bangkit dan berjalan riang meninggalkan tempat itu. namun aku ingat sesuatu dan kembali menghempirinya, “Sampai di kelas, Kang Soyou..” ucapku, tapi ia bahkan tak mengangkat wajahnya untuk memandangku. Rasa senangku luntur perlahan dan berbalik lesu. Sekarang rasanya aku seperti mengganggunya. Aku menendang kerikil di jalanan dan terus melangkah.

 

=Kelas Lukis=

Aku masuk bersama guru seni, Guru Min, ke ruang seni lukis yang sudah hampir di mulai. Hanya ada beberapa orang yang rata-rata perempuan disana, duduk di depan kanvas masing-masing. Aku tersenyum lebar pada mereka semua karena melihat Soyou duduk disisi kiri kelas. Naeun tersenyum sambil melambai padaku dari belakang Soyou.

“Anak-anak, Yang Yoseop dari kelas 2b akan ikut kelas kita mulai hari ini.” Ucap Guru Min memberitau.

“Annyeonghaseo.. Senang bertemu dengan kalian..” ucapku, lalu melangkah menuju sebuah kanvas yang kosong, tepat di sebelah Naeun dan kembali di belakang Soyou. Yuhuuu!!

“Mmm.. beberapa dari kalian masih pemula, jadi untuk hari ini kita mulai dengan pensil.” Ucap guru Min memberi instruksi.

Aku memandang ke alat lukis di depanku. Bentuknya sama semua, yang mana pensil untuk melukis?

“Oppa, yang ini..” ucap Naeun memberitauku sambil menunjuk pensil yang kecil.

Aku mengangguk mengerti dan mengambilnya, juga mengikuti bagaimana cara Naeun memegangnya.

“Kalian bisa memikirkan apa pun yang membuat kalian bahagia, lalu torehkan di kanvas kosong kalian.. Ini akan menjadi sketsa awalnya..” ucap Guru Min lagi.

Bahagia? Spontan kepalaku memandang ke arah Soyou, bibirku membentuk senyuman mengingat betapa manisnya ketika ia tersenyum. Berarti dia yang membuatku bahagia. Hahahaha.. dengan percaya diri aku menggerakkan pensilku di kanvas walaupun ini pertama kalinya aku melakukan ini. Aku tidak peduli, toh ini hari pertama. Hehehe.. keadaan hening karena semuanya serius dengan kanvas masing-masing. Yang terdengar hanya guratan pensil ke permukaan kanvas. Aku membuat sketsa sambil sesekali melirik kearah Soyou yang terlihat membuat sebuah pemandangan padang rumput yang di penuhi bunga-bunga.

Guru Min berkeliling sambil melihat hasil sketsa murid-muridnya. Sesekali ia memberi masukan dan mengajari mereka yang baru memulai. Ia wanita yang ramah dan hangat, pantas saja Naeun menyukai kelas ini. Ia berhenti di belakangku dan melihat hasil sketsaku.

Aku merasa aneh karena Guru Min berdiri cukup lama di belakangku, aku menoleh kearahnya. “Waeyo, sam?” tanyaku ingin tau.

Guru Min memandang sketsaku dan tersenyum memandangku, “Apa kau pernah membuat sketsa sebelumnya?”

Aku langsung tersenyum canggung, “Ini yang pertama kali sam.. Apa seburuk itu?”

“Aniya, kau membuatnya dengan baik, hanya saja masih terlihat berantakan..” ucapnya. Benarkan ia memang berhati baik. Jika guru lain tentu saja akan langsung mengusirku keluar karena aku tidak berbakat. Hahaha..

“Ne? oh.. saya akan memperbaikinya lagi, sam..” ucapku malu.

“Di sekitar sini harus di berikan bayangan, juga….” Ucapan Guru Min terhenti ketika menyadari sketsaku menyerupai apa yang ia lihat dari sini. Ia memandang kearah Soyou, lalu memandang kanvasku. Lalu melakukannya lagi. kemudian memandangku bingung.

Aku tersenyum kaku, “Itu yang pertama muncul di kepalaku, sam.” Ucapku malu sambil garuk-garuk kepala.

Guru Min menahan tawa, “Lanjutkan saja..” ucapnya, lalu melangkah ke anak lain lagi.

Naeun memandangku penasaran, “Oppa membuat apa?” tanyanya sambil melihat kanvasku.

“Selesaikan saja punyamu dulu..” ucapku sambil menutupi kanvasku.

Naeun menahan tawa, “Aku tau kok..” ucapnya, lalu menunjuk kedepan bermaksud menunjuk orang di depannya.

Mendadak kedua pipiku terasa panas dan tersenyum malu, “Sudah.. selesaikan punyamu..” ucapku malu.

Naeun menahan tawa dan kembali membuat sketsanya.

 

=Perjalanan Pulang=

“Oppa menyukai Soyou sanbae ya?” Tanya Naeun sambil memandangku lucu.

Aku tersenyum malu, “Hanya naksir kok..” ucapku pelan.

Naeun tertawa kecil, “Teman-teman Soyou sanbae sering menggodanya ketika melihatmu..”

Aku memandang Naeun kaget, “Mwo? Teman-teman siapa?”

“Teman-teman Soyou sanbae..” jawab Naeun, “Saat aku dan teman-temanku ke kafetaria. Kadang kami duduk di dekat mereka. Awalnya aku tidak begitu tertarik, tapi setelah mendengar namamu aku jadi sering menguping.. hehehee..”

Aku berhenti dan menatap Naeun serius, “Jeongmal? Mereka membicarakan tentangku? Apa kata mereka?” tanyaku ingin tau.

“Mmm.. teman-teman Soyou sanbae berkata oppa yang paling lama bertahan mendekati Soyou sanbae..” jawab Naeun, adikku benar-benar polos hingga mudah untuk mengorek informasi darinya.

Aku tersenyum senang, “Lalu, apa yang Soyou katakan?” ini yang paling penting.

“Soyou sanbae tidak mengatakan apa pun..” jawab Naeun.

Senyumanku luntur, “Tidak ada?”

Naeun mengangguk, “Ne..”

Aku menghela nafas dalam dan kembali melangkah.

Naeun mengikutiku dan memandangku bingung, “Oppa benar-benar menyukainya?”

Aku memandang Naeun sebal, lalu kembali memandang ke depan.

“Benar? Wuaa.. dia cinta pertamamu kan oppa?” Tanya Naeun tak percaya bercampur senang, kenapa dia senang sekali?

“Jangan katakan apa pun pada eomma dan appa, araso?” ucapku lesu.

Naeun tertawa kecil, “Kenapa oppa jadi lesu begitu? Oppa kan masih bisa berusaha.. Fighting oppa!!” ucapnya menyemangatiku.

Aku memandang Naeun dan tersenyum malu, “Sudah, jangan katakan apa pun. Aku malu..” ucapku.

Naeun tertawa kecil di sebelahku.

 

 

<<Back           Next>>

Advertisements

3 thoughts on “One Fun Day [Chapter 2]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s