Chapter · Cube

One Fun Day [Chapter 1]

1

—Yoseop’s Day 1—

Menjadi anak seorang profesor Fisika sejujurnya menyenangkan, karena ayahku pintar dan selalu mengajariku banyak hal. Tapi, ada satu hal yang tidak kusukai. Ketika ayahku pindah tugas ke Universitas lain, aku dan keluargaku harus ikut bersamanya. (-___-“)

Kota baru, rumah baru, lingkungan baru, sekolah baru dan juga teman baru. Sangat melelahkan untuk mulai berteman dan bergaul lagi.

Aku menghela nafas dalam melihat gedung sekolahku yang baru. Aku benci perasaan canggung ini. Sangat tidak suka.

“Wuaah.. Ini sekolah baru kita?” Tanya adik perempuanku, Naeun bersemangat.

Aku memandang adikku malas, “Ne..” Jawabku lesu.

Naeun tersenyum ceria sambil memandang sekolah baru kami. Aku tidak mengerti mengapa dia selalu bersemangat di tempat baru. “Khaja oppa..” Ucapnya dan langsung melangkah riang menuju sekolah.

Aku kembali menghela nafas dalam. Aku bukan tipe orang yang bisa dengan mudah bergaul. Bagaimana jika aku di bully sebagai anak baru? Bagaimana jika mereka tidak menyukaiku dan tidak mau berteman denganku? Ahhhh.. Ini benar-benar membuatku frustasi. Aku menghentak kakiku sebal, lalu melangkah menuju gedung sekolah. Begitu aku masuk ke gedung bertingkat itu beberapa orang memandangiku. Aku hanya tersenyum canggung dan menunduk malu, “Aisshh.. Menyebalkan..” Gumamku sendiri. Aku harus menemukan ruang guru. Ketika tiba di persimpangan jalan aku berhenti dan memandang ke kanan dan kiri sambil memutuskan kemana aku harus melangkah. Kepalaku kembali memandang ke depan dan terpaku melihat seorang gadis berambut panjang dan berwajah cantik di sebelah sana terlihat seperti sedang mencari seseorang. Deg! Ia memandang kearahku. Jantungku berdegup kencang dan menelan ludah gugup. Sekelilingku terasa berbunga-bunga ketika melihatnya tersenyum dan melambai. Spontan aku tersenyum lebar dan membalas lambaiannya. Aku terus melambai dengan senyuman lebar di wajahku saat ia melangkah ke arahku, juga berlalu begitu saja di sebelahku. Aku berbalik kebelakang dan memandangnya bingung. Ternyata bukan padaku? Aku memandang tanganku yang tadi melambai dan kembali memandang gadis cantik tadi yang ternyata melambai pada temannya di belakangku. Tapi hatiku masih terasa berbunga-bunga karena senyumannya tadi. Bibirku kembali membentuk senyuman dan melangkah dengan riang mencari dimana ruang gurunya.

Bel tanda jam pelajaran akan dimulai berbunyi, itu berarti aku harus segera masuk ke kelasku juga. Wali kelasku, Kim Hyunsoo sonsaengnim, berkata akan mengantarkanku. Aku mulai merasa gugup lagi. Seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di perutku.

Dan inilah hal yang paling tidak kusukai. Berdiri di depan kelas di depan teman-teman baruku. Semuanya hening menatapku.

“Jangan malu, mereka akan menjadi teman-temanmu. Ayo perkenalkan dirimu..” Ucap Kim sam sambil menepuk bahuku.

Aku tersenyum kaku dan mengedarkan pandangan sekilas. Oh! Tunggu! Di barisan kedua dari kiri, gadis cantik tadi duduk disana!! Dia ada di kelas yang sama denganku!! Wuaaaa.. Sepertinya Tuhan benar-benar memberkatiku masuk ke sekolah ini. Aku tersadar jika aku masih harus memperkenalkan diri ketika Kim sam menepuk bahuku lagi. “Oh.. Ne.. Annyeonghaseo, Yang Yoseop imnida..” Ucapku lantang, “Senang bertemu kalian..” Ucapku penuh percaya diri dengan senyuman ceria dan membungkuk sopan.

“Wuaa.. Semangatmu benar-benar bagus..” Ucap Kim sam, “Kau bisa duduk di kursi kosong itu..” Ucapnya sambil menunjuk kursi kosong di bagian belakang.

Aku membungkuk sopan pada Kim sam dan melangkah menuju kursiku. Mataku melirik gadis cantik yang memberiku semangat membara seperti ini, tapi sejak tadi ia hanya membaca bukunya dengan tenang. Aku merasa agak aneh, tapi paling tidak kami satu kelas kan. °\(^▽^)/°

Pria di depanku berbalik ketika aku duduk, “Annyeong.. Namaku Lee Gikwang..” Ucapnya dengan senyuman ramah, ia punya eye-smile yang lucu.

“Ne, senang bertemu denganmu..” Ucapku malu-malu.

Gikwang tertawa kecil dan mendekatkan wajahnya padaku, “Ya.. Matamu cukup jeli melihat gadis cantik..” Candanya setengah berbisik.

“Ne?” Ucapku tak mengerti.

“Yang kau pandangi tadi itu Kang Soyou. Dia salah satu gadis tercantik di sekolah kita..” Ucap Gikwang memberitau.

Mataku spontan melirik ke arah gadis yang ternyata bernama Soyou itu. Rambut panjang bergelombangnya tampak sangat indah dari belakang.

“Sejak tahun pertama hingga kelas dua ini dia tak pernah memperdulikan pria-pria yang mendekatinya. Yang ia pikirkan hanya belajar, belajar dan belajar..” Ucap Gikwang menjelaskan.

Aku menatap Gikwang kaget, “Ne? Ohh.. Dia pasti sangat pintar ya?”

Gikwang mengangguk, “Keurom, dia selalu nomor satu dari seluruh anak kelas satu dulu. Dan kurasa di kelas dua ini juga..”

Aku mengangguk mengerti dan kembali memandang Soyou. ‘Kenapa gadis secantik itu harus tipe pelajar pintar begitu ya?’ Pikirku kecewa.

 

=Istirahat=

“Ne? Jadi setiap siswa harus memilih extrakurikuller?” Tanyaku ketika Gikwang menceritakan apa yang harus kulakukan sebagai murid di sekolah ini.

Gikwang meminum jus kotak di tangannya melalui pipet sambil mengangguk, “Ne.. Jika tidak kau akan berurusan dengan guru BP..” Ucapnya.

Ini benar-benar aneh. Bukankah extrakurikuller seharusnya hanya di ikuti murid yang ingin? Ini benar-benar pemaksaan.

“Apa kau sudah memikirkan dimana kau akan masuk?” Tanya Gikwang.

Aku berpikir sejenak, “Mmm.. Memangnya apa saja extrakurikullernya?” Tanyaku sambil mengeluarkan buku panduan sekolah dari guru Kim Hyungsoo tadi dan melihat daftar extrakurikuller. Dahiku berkerut melihat daftar disana.

1. Musik

2. Melukis

3. Memasak

4. Basket

5. Futsal

Sejujurnya yang kutahu hanya bermain game di ponsel dan video game. Apa yang bisa kulakukan?

 

=Rumah Keluarga Yong=

Semua orang berkumpul di meja makan menikmati makan malam buatan ibuku.

“Apa kalian suka sekolah baru kalian?” Tanya ayahku.

“Aku suka appa.. Teman-temanku sangat baik. Mereka membawaku berkeliling sekolah..” Cerita Naeun bersemangat.

Sementara aku? Aku menopang kepala dengan tangan sambil mengaduk-aduk makananku.

Eomma memandangku karena tak kunjung menjawab, “Yoseop-a?”

Aku menghela nafas dalam dan memandang ayah dan ibuku bergantian. “Mereka tidak menggangguku..” Jawabku pelan, lalu kembali memandang makananku.

Ayah dan ibuku memandangku dan saling berpandangan. Aku memang paling berbakat membuat kondisi menjadi canggung. Mereka tentu yang paling tau kalau aku pernah di bully di beberapa sekolahku yang sebelumnya.

Naeun memandangku, lalu meletakkan potongan daging ke mangkukku.

Aku memandang adikku bingung.

Naeun tersenyum, “Makan yang banyak oppa, jadi saat ada yang mengganggumu kau bisa melawannya..” Ucapnya.

Aku diam sejenak, lalu tersenyum dan mengelus rambutnya. “Ne, gumawo..” Ucapku dan makan lagi.

Ayah dan ibuku tersenyum melihat kedekatan kami. Aku dan Naeun hanya selisih satu tahun. Kurasa karena ini kamu sangat dekat.

“Oppa, oppa sudah memilih extrakurikuller yang akan oppa ikuti?” Tanya Naeun.

Aku diam sejenak dan memandangnya, “Belum, kau?”

“Sudah.. Aku akan mengikuti kelas melukis..” Jawab Naeun ceria.

Dahiku berkerut, “Kau sudah memutuskannya? Cepat sekali..”

“Teman-teman baruku berkata itu sangat keren, jadi aku ingin ikut juga..” Cerita Naeun.

“Hmm.. Begitu..” Ucapku sambil mengangguk.

“Yoseop-a, kau juga harus memilih, pasti nenyenangkan..” Ucap eomma.

“Ne, eomma..” Jawabku pelan.

 

=Hari kedua=

Aku melangkah menuju kelasku sambil bersenandung kecil. Aku terkejut ketika hendak masuk ke pintu ada seseorang yang keluar. “Oh!!” Seruku kaget sebelum menabraknya. Dan yang lebih mengejutkan lagi, orang itu Soyou.

Soyou menghela nafas dalam sambil menatapku kesal, lalu melangkah ke sisiku.

“Cesonghamida..” Ucapku menyesal ketika ia berlalu. Namun ia tak mengatakan apa pun. Aku memperhatikan ia pergi. Rambutnya bergoyang ketika ia melangkah. Bibirku membentuk senyuman sambil memegang dadaku, entah mengapa aku merasa sangat senang ia menatapku. “Neomu yepeuta..” Gumamku senang, lalu masuk ke kelas.

Hingga istirahat, aku sering memperhatikan Soyou yang makan di meja lain bersama temannya.

Gikwang memandangku bingung, lalu memandang kemana aku memandang. Ia menahan tawa menatapku, “Ya, kau masih memandanginya? Apa kau benar-benar menyukainya?”

Aku tersenyum malu sambil mengelus belakang kepalaku.

Gikwang menatapku serius, “Kau tau? Sebelumnya belum ada pria yang berhasil menarik perhatiannya. Jika kau memang menyukainya, coba saja dekati dia..”

Aku tertarik mendengar ucapan Gikwang dan menatapnya serius, “Apa menurutmu aku bisa?”

“Keurom.. Kenapa tidak? Sebelumnya pria-pria yang mendekatinya selalu menyerah sebelum memulai. Kalau kau mau berjuang keras mungkin saja bisa..” Ucap Gikwang menyemangatiku.

Aku tersenyum lebar, “Jinja? Berapa kemungkinan aku bisa berhasil??”

“50:50..” Jawab Gikwang lalu tertawa.

Aku menatapnya sebal karena ia menipuku. “Aissh.. Kau ini..”

“Lagi pula kau hanya akan buang-buang waktu.. Sudahlah, masih banyak gadis cantik disini. Aku bisa mengenalkanmu dengan mereka..” Ucap Gikwang lucu.

Aku cemberut mendengar ucapannya dan kembali melirik ke arah Soyou. Omo! Dia tertawa bersama temannya!! ‘Aigoo.. Neomu yeppeuta..’ Batinku sambil tersenyum dan menopang daguku sambil memperhatikannya.

Akhirnya, aku menemukan sesuatu yang menarik di sekolahku. Sebelumnya aku hanya merasa bosan dan tidak begitu tertarik untuk melakukan sesuatu karena tau aku akan segera pindah lagi. Tapi kali ini, aku harus mendapatkan gadis ini. Kang Soyou!! Aku akan berjuang hingga tetes darah terakhirku. Hahahhaha..

 

=Sepulang Sekolah=

Aku setengah berlari keluar kelas dan melihat Soyou sudah cukup jauh melangkah. Dengan cepat aku mengikutinya, “Kang Soyou..” Sapaku sambil menyamakan langkah kami.

Soyou hanya memandangku sekilas dan kembali melangkah seperti tidak ada aku disebelahnya.

Aku memandangnya heran karena berlaku dingin seperti itu, tapi aku tak akan menyerah. Kakiku kembali mengejar langkahnya, “Kang Soyou, kau tau namaku kan?” Tanyaku, ia tetap tak menjawab. “Yang Yoseop.. Tau kan?” Tanyaku lagi sambil terus melangkah. Namun aku tak memperhatikan depanku dan menabrak tembok. Bruk!! “Ahhh…” Rintihku sambil mengelus dahi, ketika aku memandang sekitar, Soyou sudah jauh melangkah. Aku menghela nafas dalam memandanginya pergi begitu saja.

 

=Beberapa Saat Kemudian=

Aku duduk di tempatku sambil memperhatikan Soyou yang hanya diam membaca buku di mejanya. Aku berusaha menyusun rencana untuk mendekatinya.

Gikwang sejak tadi memperhatikanku bingung karena terus memperhatikan Soyou, “Ya.. Kau masih belum menyerah?”

Aku memandang Gikwang, “Bagaimana aku bisa berhenti? Senyumannya selalu berputar-putar di kepalaku..” Ucapku frustasi.

Gikwang memandangku bingung, “Jinja? Kupikir kau hanya tertarik karena dia pintar..”

Dahiku berkerut, “Waeyo?”

“Ani.. Karena dia memang pintar..” Ucap Gikwang menahan tawa, “Apa dia cinta pertamamu?”

Aku merasa kedua pipiku terasa panas karena malu, “Mmm.. Kurasa iya..” Ucapku sambil mengelus belakang kepala.

Gikwang melipat kedua tangannya di mejaku sambil tersenyum lucu, “Jadi kau benar-benar serius?”

“Keurom.. Aku tidak akan menyerah..” Ucapku tanpa ragu.

Gikwang menepuk bahuku kagum, “Daebak! Terus bersemangat!!” Ucapnya.

Aku tersenyum lebar dan memandang ke arah Soyou.

“Lalu, apa kau sudah memilih extrakurikulermu?” Tanya Gikwang yang langsung membuyarkan lamunanku.

“Ahhh.. Kenapa kau bertanya disaat seperti ini?” Tanyaku sebal.

 

=Perpustakaan=

Aku duduk di seberang meja yang di duduki Soyou yang sedang membaca buku. Aku juga membuka sebuah buku di hadapanku, namun mataku melirik Soyou. Bibirku membentuk senyuman lebar melihat betapa seriusnya ia. Aku semakin penasaran dan ingin mendekatinya. Aku mengangkat tangan dan melambai pada Soyou, berharap ia menyadari aku juga disana. Tapi ia tetap hanya memandang bukunya. Aku menghela nafas dalam dan menurunkan tanganku yang mulai terasa pegal. ‘Ahhh.. Ini tidak semudah yang kubayangkan..’ Batinku sambil mengelus bahuku. Tapi ini baru permulaan, paling tidak aku harus berjuang hingga dia memakiku untuk berhenti dulu. Hehehhee.. Aku melirik Soyou lagi. Ia membalik halaman dan kembali membaca. Aigoo.. Bagaimana mungkin ada gadis semanis dia? Bibirku kembali membentuk senyuman dan bangkit bersama buku di tanganku. Lalu melangkah pelan ke dekat jendela yang tak jauh darinya, kemudian menyandarkan pinggulku sambil berpura-pura serius membaca. Padahal mataku melirik ke arah Soyou yang juga tak menyadariku. Aku tak akan menyerah. Aku berpura-pura berdehem, mengubah gaya berdiriku, bergumam membahas isi buku yang kubaca, juga tertawa tak jelas. Tetap saja ia seperti berada di dunia lain.

Tak kehabisan ide, aku melangkah pelan menghampiri rak di belakang Soyou dan berpura-pura melihat-lihat buku sambil meliriknya. Aku terkejut ia tiba-tiba berdiri dan menghampiri rak. Di sebelahku!!! Bisa kau bayangkan betapa senangnya aku?? (>̯͡▼<̯͡) jantungku berdegup kencang dan berpura-pura memperhatikan buku-buku di depanku. Namun bisa sedekat ini dengannya benar-benar menyenangkan. Bibirku membentuk senyuman dan meliriknya. Ahhh.. Imut sekali… Aku hampir mencubit pipinya karena gemas. Hmm.. Dia setinggi telingaku, sangat cocok jika berjalan di depanku. Hihihi..

Soyou mengangkat dagunya tinggi untuk melihat buku di rak nomor dua paling atas, lalu mengulurkan tangannya ke sebuah buku.

Aku sadar ia kesulitan mencapai buku itu dan segera membantu, “Buku yang ini?” Tanyaku sambil memegang buku yang ingin ia ambil dan memandangnya. Saat itu… Tesss.. Sesuatu yang menyejukkan menetes di hatiku ketika tatapan kami bertemu. Aku tak bisa menahan senyumanku sambil menarik buku tadi.

Bukk!!!!

“Ahhhh…” Rintihku karena buku-buku menimpa kepalaku.

“Aaw..” Ucap Soyou pelan sambil mengelus kepalanya.

“Ooh.. Cesongeo, apa kau terluka?” Tanyaku panik sambil memandang kepalanya.

Soyou menatapku kesal, lalu berbalik pergi.

Aku mengulurkan tangan dan hendak mengejarnya, tapi aku berhenti dan hanya memandanginya pergi dengan mulut terbuka tak percaya. “Aissh..” gumamku sendiri. aku pasti telah membuatnya takut. Ahh.. eoteokhe?

 

<<Back           Next>>

Advertisements

3 thoughts on “One Fun Day [Chapter 1]

  1. Wuahhh lucu yoseob berjuang smapai titik drah penghabisan wkwkwk
    soyou nya dingan dan ya agak cuek , mungkin itu kalau org yg dia gk kenal dia akan dinginnn.
    wahhhh daebak
    next^^

  2. Wuahhh lucu yoseob berjuang smapai titik drah penghabisan wkwkwk
    soyou nya dingan dan ya agak cuek , mungkin itu kalau org yg dia gk kenal dia akan dinginnn. Fighting buat yoseob ^_^
    wahhhh daebak
    next^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s