Chapter · Cube

I Choose To Love You [Chapter 12]

12

—Again—

Hyuna memandang Hyunseung yang berbaring di tempat tidur dengan mata terpejam, pria itu terlihat sudah tertidur. Perlahan ia menarik tangannya dari genggaman pria itu, namun ia terkejut ketika pria itu menggenggam tangannya lebih erat.
Hyunseung membuka mata dan memandang Hyuna, “Odiga?”
“Oppa, aku harus pulang. Eomma pasti khawatir jika aku tidak kembali..” jawab Hyuna.
Hyunseung diam sejenak menatap Hyuna, “Aku akan mengantarkanmu besok.. Apa kau tidak bisa menemaniku malam ini?”
Hyuna diam sejenak dan memandang kebawah, “Mmm.. aku tidak bisa oppa.”
Hyunseung bergerak bangkit dan duduk sambil tetap menatap Hyuna, “Keure, aku akan mengantarkanmu.”
“Aniya, oppa terlihat lelah. Istirahatlah..” ucap Hyuna.
Hyunseung menatap kedua mata Hyuna dalam, “Jika aku membiarkanmu pergi sekarang, aku tidak akan bisa mendapatkanmu lagi..”
Hyuna tertegun mendengar ucapan Hyunseung, “Oppa..”
Hyunseung mengelus rambut Hyuna dan memajukan wajahnya dan mencium gadis itu sepenuh hatinya dengan mata terpejam.
Hyuna tidak tau mengapa jantungnya berdegup kencang seperti saat ini. Ia tau seharusnya ia menghentikan Hyunseung sebelum mereka terlalu jauh, tapi pikiran dan tubuhnya tak sejalan sekarang. Matanya perlahan terpejam dan membalas ciuman Hyunseung.
Setelah beberapa saat Hyunseung menarik wajahnya dan membuka mata, matanya dan Hyuna saling menatap dalam. “Kau tau kenapa aku tidak memilih Gayoon?”
Hyuna menggeleng pelan.
“Karena aku memilihmu..” ucap Hyunseung.
Hyuna terharu mendengar ucapan itu dari mulut Hyunseung, “Oppa memilihku? Tapi aku kan…” Dia bingung sendiri dengan ucapannya.
Hyunseung memegang kedua pipi Hyuna dan menatap kedua matanya dalam, “Siapa pun kau.. Hatiku telah memilihmu..”
Bibir Hyuna perlahan membentuk senyuman dengan mata penuh haru, “Oppa..” Ucapnya menahan tangis dan memeluk Hyunseung dengan satu tangannya.
Hyunseung dengan hati-hati memeluk Hyuna karena tak ingin menyakiti bahunya yang terluka.

=Rumah Hyuna+Dayom=
Orang-orang memandang ke arah mobil Hyunseung yang memasuki kawasan perkampungan tempat Hyuna tinggal. Begitu Hyunseung menghentikan mobilnya, Hyuna langsung turun dan melangkah cepat menuju pintu depan.
“Eomma..” panggil Hyuna dan masuk ke rumah. Namun ia langsung tertegun melihat ada Junsu disana yang berlutut di depan ibunya yang sedang menangis.
Dayom tertegun melihat Hyuna, “Hyuna-a..” ucapnya lega dan langsung menghampiri putrinya. “Apa yang terjadi padamu, sayang?! Kenapa ini?” tanyanya panic.
“Na gwenchana eomma..” ucap Hyuna menenangkan.
Junsu berdiri dan langsung menghampiri Hyuna dengan wajah khawatirnya, “Hyuna! Kenapa kau tidak langsung pulang kemarin?!” tanyanya sambil memegang pipi gadis itu.
Dayom mendorong tangan Junsu sambil menatap pria itu marah, “Siapa yang mengijinkanmu menyentuhnya!!” serunya.
Hyunseung yang muncul di belakang Hyuna bingung dengan keadaan di dalam rumah.
Junsu memandang Dayom menyesal, “Aku sangat menyesal Dayom, aku pengecut yang hanya memikirkan cara membalas apa yang kau lakukan padaku. Tapi aku tidak berpikir dampak apa yang akan kuterima nantinya.. Jeongmall mianata.. Aku tidak pernah sekali pun membenci Hyuna.. AKu menyayanginya seperti putriku sendiri.. AKu benar-benar menyayanginya..” ucapnya bersungguh-sungguh.
Hyuna tertegun mendengar ucapan Junsu, lalu memandang Dayom yang tampak menatap Junsu marah.
“Mwo?” ucap Dayom tak percaya. “Oppa, aku bisa mengerti jika kau hanya menyakitiku.. Tapi setelah air mata yang dikeluarkan putriku akibat perbuatanmu, aku tidak akan pernah memaafkanmu..” ucapnya penuh penekanan.
Hyuna tertegun mendengar ucapan ibunya, ia tau dirinya adalah luka yang tak akan pernah sembuh di hati ibunya.
Junsu terdiam mendengar ucapan Dayom dan menunduk penuh sesal. Lalu memandang Hyuna yang terlihat tidak tau harus mengatakan apa, “Hyuna.. appa miane..” ucapnya sepenuh hati.
Dayom menarik Hyuna ke belakang tubuhnya dan menatap Junsu marah, “Hyuna tidak pernah membencimu.. Mungkin dia bisa memaafkanmu, tapi aku tidak! Aku melahirkannya dan membesarkannya dengan harapan dia akan di cintai oleh orang-orang di sekitarnya. Tapi kau menghancurkan hatinya dan membuat semuanya seperti ini! Jangan temui kami lagi!” ucapnya, lalu memalingkan wajahnya.
Junsu menghela nafas dalam dan kembali menunduk menyesal, “Ne.. aku tau aku tidak mungkin bisa mengubah semuanya..” ucapnya pelan, lalu kembali memandang Dayom. “Tapi aku akan menebusnya.. AKu akan membuatmu dan Hyuna bahagia.. Jebal, percaya padaku..”
“Kubilang pergi!!” seru Dayom pada Junsu.
Junsu tertegun mendengar seruan Dayom. Saat ia hendak membuka mulutnya untuk berbicara, Hyunseung manahannya.
“Maaf abeunim, aku tau ini bukan urusanku. Tapi kurasa anda hanya akan memperkeruh semuanya jika terus disini..” ucap Hyunseung dengan nada datarnya.
Junsu tidak mengatakan apa pun lagi dan menatap Dayom sedih, “Keure, aku akan pergi sekarang Dayom..” ucapnya pelan, “Tapi aku tidak kan berhenti.. AKu akan membuktikan ucapanku padamu..” lanjutnya dan memandang Hyuna di belakang Dayom, “..juga Hyuna..” ia berbalik dan melangkah ke pintu.
Hyunseung memandang Hyuna dan mengikuti Junsu keluar.
Tangis Dayom pecah begitu Junsu keluar dari pintu dan jatuh terduduk di lantai.
“Eomma..” ucap Hyuna sambil berlutut di sebelah ibunya. “Eomma.. uljima..” ucapnya sambil merangkul sang ibu dengan satu tangan.
Dayom berusaha menahan air matanya dan memandang Hyuna, saat itu ia kembali teringat dengan tangan putrinya. “Oh… tanganmu kenapa Hyuna?” tanyanya khawatir.
“Mmm.. terjadi kecelakaan kecil saat aku di Seoul eomma, bahuku cedera. Tapi tidak apa-apa, seminggu sudah akan pulih lagi..” jawab Hyuna menenangkan.
Dayom menatap Hyuna kesal, “Eomma sudah berkata untuk tidak melakukannya kan? Kenapa kau tetap mengantarkan wanita gila itu?” tanyanya.
Hyuna menunduk menyesal, “Cesongeo eomma..”
Dayom menghela nafas dalam dan mengelus kepala putrinya, “Lalu kenapa kau bersama Hyunseung? Apa kau kemarin bersamanya?”
“Ne?” Hyuna bingung bagaimana menjelaskannya, “Mmm.. itu.. err.. Aku bertemu Hyunseung oppa dan dia merawatku selama di Seoul hingga mengantarkanku kemari..” jawabnya.
Dayom menatap Hyuna tak mengerti, “Waeyo?”
Hyuna tidak tau apa yang harus ia katakan pada ibunya, “Mmm.. aku… aku juga belum yakin eomma..” jawabnya.
Sementara itu..
Hyunseung mengikuti Junsu keluar rumah, “Sekretaris Kim..”
Junsu berhenti dan memandang Hyunseung, “Aku sudah bukan sekretaris ayahmu lagi..”
“Ne.. cesongeo, abeunim..” ucap Hyunseung memperbaiki.
Dahi Junsu berkerut mendengar panggilan Hyunseung padanya, “Abeunim?”
“Ne, jika aku bersama Hyuna tentu aku harus memanggilmu abeunim kan?” Tanya Hyunseung datar.
“Mwo? Kau bersama Hyuna?!” Tanya Junsu kesal.
“Aku tidak akan membahasnya sekarang..” ucap Hyunseung, “Anda bisa membuktikan ucapanmu jika anda memang tulus. Jika tidak, kumohon pergilah..”
Junsu menatap Hyunseung beberapa saat, lalu memalingkan wajahnya. “Perhatikan saja kelakuanmu, Tuan Muda..” ucapnya, lalu melangkah pergi.
Hyunseung membungkuk sopan ketika Junsu pergi, dan memperhatikannya sejenak. Setelah itu kembali ke dalam rumah.
Malamnya.
“Oppa, kau sudah memberitau ibumu? Kau semalaman tidak pulang.. Kenapa hari ini juga tidak pulang?” Tanya Hyuna tak mengerti.
Hyunseung menghela nafas dalam dan mengelus dahinya, lalu memandang Hyuna. “Apa kau mau kembali bersamaku?”
Hyuna tertegun mendengar pertanyaan Hyunseung, “Ne? oh.. aku tidak bisa oppa..” jawabnya sambil menunduk.
“Wae?” Tanya Hyunseung.
Hyuna menghela nafas dalam dan kembali memandang Hyunseung, “Mmm.. Karena disini tempatku..” ucapnya.
Hyunseung diam sejenak menatap wajah sendu Hyuna, lalu memandang kebawah.
“Oppa, paling tidak hubungi ibumu dulu untuk memberitau kau baik-baik saja..” Ucap Hyuna mengingatkan.
Hyunseung menghela nafas dalam dan mengeluarkan ponselnya, lalu memanggil nomor ibunya dan menempelkan ponsel ke telinga.
“Hyunseung!!! Dimana kau?!! Kenapa kau tidak mengangkat panggilan eomma?!!” Tanya Ran langsung diseberang dengan nada tinggi, bahkan Hyuna bisa mendengarnya.
Hyunseung diam sejenak sambil menghela nafas, “Eomma, aku bersama Hyuna..” Ucapnya langsung.
“…..”
Hyuna memperhatikan ekspresi Hyunseung.
“Kau bersama Hyuna?” Tanya Ran pelan.
“Ne..” Jawab Hyunseung pelan.
“Oh.. Gwenchana.. Gwenchana.. Berliburlah dulu.. Jangan lupa hubungi eomma lagi..” Ucap Ran dan memutuskan telepon.
Hyuna penasaran begitu Hyunseung menarik telepon dari telinganya. “Bagaimana oppa?”
Hyunseung memandang Hyuna, “Ibuku bilang aku bisa berlibur dulu..”
Hyuna tertegun, “Ne?”
Sementara itu di Mansion Keluarga Jang.
Sangwoo terkejut mendengar ucapan Ran, “Yobo! Kenapa kau malah menyuruhnya berlibur?!”
Ran tersenyum lebar dan memandang suaminya, “Yobo, Hyunseung sedang bersama Hyuna..” Ucapnya ceria.
Sangwoo tertegun, “Ne?”
Ran mengangguk dan bertepuk tangan girang, “Akhirnya..”
“Bagaimana dia tau dimana Hyuna?” Tanya Sangwoo tak mengerti.
Ran tersenyum bangga, “Tentu saja dariku..” Ucapnya, lalu bangkit. “Aku akan mengirimkan beberapa barang Hyunseung kesana..” Ucapnya sambil melangkah riang menuju tangga.
Sangwoo terkejut mendengar ucapan Ran, “Yobo.. Kau seperti membuang putra kita!” Ucapnya sebal.
Kembali ke rumah Hyuna+Dayom.
Hyuna mengintip ke jendela dan melihat Hyunseung di dalam mobil bersiap tidur.
Dayom menghampiri Hyuna dan ikut memperhatikan, “Apa dia tidak apa-apa jika tidur di luar?” Tanyanya khawatir.
“Mmm.. Dia bisa kedinginkan jika tidur di luar. Bagaimana jika dia tidur di ruang tengah saja?” Tanya Hyuna.
“Hmm.. Keure, eomma akan mengambil selimut cadangan..” Ucap Dayom sambil melangkah ke kamar.
Hyuna keluar dari rumah dan menghampiri mobil Hyunseung.
Tok! Tok! Tok!
Hyunseung yang duduk bersandar di kursi dengan mata terpejam membuka mata dan memandang ke jendela, terlihat Hyuna tersenyum padanya. Ia membuka pintu mobil dan keluar, “Wae?”
“Oppa, eomma berkata oppa bisa tidur di ruang tengah..” Ucap Hyuna memberitau.
Hyunseung diam sejenak, “Apa tidak apa-apa?”
“Ne.. Khaja..” Hyuna menarik Hyunseung masuk ke rumah.
Entah mengapa Hyunseung merasa apa yang Hyuna lakukan sekarang sangat menggemaskan, hal itu membuat bibirnya membentuk senyuman.
Keesokan paginya.
Hyunseung memandang sebuah koper dan kardus berisi barang-barangnya yang dikirimkan Ran dari Seoul di depan rumah dengan kedua tangan terlipat di dada.
Hyuna menghampiri Hyunseung dan ikut memandangi barang-barang itu, “Oppa, kenapa eommanim mengirimkan ini?”
Hyunseung menghela nafas dalam, “Karena aku berkata aku bersamamu..”
Hyuna tertegun, “Ne? Eommanim mengusirmu karena bersamaku?” tanyanya kaget.
Hyunseung memandang Hyuna bingung, “Tentu saja tidak..”
“Lalu, kenapa eommanim mengirimkan ini?” tanya Hyuna bingung.
“Eomma ingin aku berlama-lama disini..” jawab Hyunseung.
Dayom keluar rumah menghampiri kedua anak muda itu dan memandang barang tadi bingung, “Omo.. siapa yang di usir dari rumah?” tanyanya tak mengerti dan menatap Hyunseung kaget, “Kau?”
Hyunseung memandang Dayom, “Ne, eommanim..” jawabnya.
Hyuna bingung mendengar jawaban Hyunseung, “Hm? Tapi tadi oppa bilang…”
“Aku tidak boleh kembali kecuali jika aku sudah mendapatkan Hyuna lagi..” jawab Hyunseung.
Dayom dan Hyuna tertegun memandang pria itu, “Ne?”
“Cesonghamida eommanim, mungkin aku Terlalu cepat mengatakan ini. Tapi, bolehkah aku menikahi Hyuna?” tanya Hyunseung.
Mata Hyuna membesar mendengar ucapan Hyunseung, “Oppa?”
Dayom memandang Hyunseung tak percaya, lalu memandang Hyuna. “Mmm.. sebaiknya kita membicarakan ini lagi nanti.. Ayo kita sarapan dulu. Bawa barang-barangmu masuk..” ucapnya dan berbalik masuk.
Hyuna dan Hyunseung terdiam di tempat mereka beberapa saat dan saling memandang.
“Apa itu artinya iya?” tanya Hyunseung pada Hyuna.
“Oppa, kenapa tiba-tiba membahas itu?” tanya Hyuna bingung.
“Ani, aku hanya tidak ingin kehilangan momen..” jawab Hyunseung.
Hyuna tertawa kecil, “Aku tidak tau kau sangat lucu oppa..” ucapnya, “Ayo kita masuk, eomma pasti sudah menunggu..” ucapnya sambil melangkah masuk.
Hyunseung melangkah masuk sambil membawa koper dan kardus tadi.

=Beberapa Hari Kemudian=
Hyuna menghampiri Hyunseung yang sedang memasukkan barang-barang ke mobil.
Hyunseung menutup bagasi dan memandang Hyuna yang tersenyum padanya, “Apa kau tidak bisa pergi bersamaku?”
Hyuna memegang tangan Hyunseung dan tersenyum, “Aniya oppa, aku tidak ingin ibuku kesepian..”
Hyunseung menghela nafas dalam dan mengelus punggung tangan Hyuna yang memegang tangannya sambil menatap gadis itu dalam.
Hyuna tau Hyunseung sulit melepaskannya seperti ini, tapi ia tak bisa mengorbankan ibunya lagi. “Gwenchana oppa, jika kita memang di takdirkan bersama. Tidak ada yang bisa mengubahnya..” ucapnya pelan.
Hyunseung diam sejenak memikirkan ucapan Hyuna, “Mmm.. bisakah kau berjanji untuk kembali padaku apa pun yang terjadi?” pintanya.
Hyuna mengangguk, “Ne..”
Hyunseung tersenyum dan mengangkat satu tangannya untuk memegang belakang kepala Hyuna dan mencium dahi gadis itu.
Hyuna tertawa malu dan kembali memandang Hyunseung, “Nah.. pergilah oppa..”
“Keure..” jawab Hyunseung, “Aku pergi sekarang.” Ucapnya dan masuk ke mobil.
Hyuna melambai pada Hyunseung saat mobil pria itu bergerak pergi. Sebenarnya ia tak ingin membiarkan pria itu pergi sendiri, namun ia harus memilih ibunya.
Dayom melangkah menghampiri Hyuna sambil memperhatikan mobil Hyunseung yang terus pergi sambil tersenyum, “Eomma rasa kau masih menyukainya..”
Hyuna tersenyum malu, “Sepertinya begitu..”
Dayom memandang Hyuna, “Kenapa kau tidak menerima lamarannya?”
Hyuna memandang ibunya dalam, “Karena jika aku menikah, eomma akan sendiri..”
Dayom tertawa kecil, “Gwenchana.. Melihatmu bahagia adalah impian eomma, karena itu eomma membesarkanmu dengan penuh kasih sayang..” ucapnya sambil membelai rambut Hyuna.
Hyuna tersenyum dan memeluk ibunya dengan satu tangan, “Gumawoyo eomma..”
Dayom mengelus rambut putrinya lembut, “Aniya, eomma gumawo.. Eomma beruntung melahirkanmu Hyuna..” ucapnya.
Sorenya.
“Eomma, aku akan membawa…” Hyuna berhenti ketika melihat Junsu ada di kebun dengan pakaian santai sambil membersihkannya.
Junsu tersenyum melihat Hyuna, “Oh.. Hyuna-a, bagaimana tanganmu?”
“Hyuna, kau bilang apa?” tanya Dayom yang muncul di belakang Hyuna. Ia juga tertegun melihat Junsu ada disana.
Junsu tersenyum, “Yobo, jika memiliki sayuran sebagus ini kenapa kita tidak buka cafe vegetarian saja?”
Dayom menatap Junsu kesal, “Kenapa kau di kebunku?! Cepat pergi!!” serunya.
“Aku hanya ingin membantu, tangan Hyuna cedera. Jadi aku harus menggantikannya membantumu..” ucap Junsu.
“Aissh!! Aku tidak butuh bantuanmu!! Pergi!!” seru Dayom.
“Aigoo.. kau masih terlihat cantik saat marah..” rayu Junsu.
“Mwo?!!” ucap Dayom kesal, lalu mengambil keranjang di tangan Hyuna dan mengejar Junsu. “Apa kau bilang?”
Junsu tertawa dan berlari memutari kebun melihat ekspresi Dayom, “Aku hanya bercanda, kenapa kau marah benaran?” candanya.
Hyuna memperhatikan Dayom dan Junsu bingung, namun ia merasa kenangan seperti ini sangat manis jika tidak terjadi di situasi ini.

=Mansion Keluarga Jang=
“Aku pulang..” ucap Hyunseung sembari melangkah masuk bersama kopernya.
Ran dan Sangwoo yang sedang menonton tv langsung bangkit dan menghampiri putra mereka.
“Seung-i!!!” sorak Ran penuh haru dan memeluk putranya erat.
Hyunseung tersenyum dan membalas pelukan ibunya, “Aku merindukanmu, eomma..” ucapnya.
Sangwoo terpaku melihat ekspresi Hyunseung, pria itu juga terlihat lebih ceria.
Ran melepaskan pelukannya dan menatap Hyunseung bingung, namun melihat wajah ceria putranya, ia merasa ada hal baik yang terjadi. “Aigoo.. eomma sangat merindukan senyumanmu ini, Seung-i..” ucapnya sambil mengelus pipi putranya.
“Omona.. apa yang terjadi padamu, Hyunseung? Aniya.. apa kau benar-benar Hyunseung?” Tanya Sangwoo tak percaya.
Hyunseung memandang Sangwoo dan membungkuk sopan dengan senyuman tipis di wajahnya, “Annyeonghaseo, abeutji..”
Sangwoo tersenyum dan saling berpandangan dengan Ran, “Wuaa.. ada apa ini?”
Ran melirik Hyunseung jahil, “Apalagi kalau bukan karena Hyuna..” ledeknya.
Wajah Hyunseung tampak merona mendengar nama Hyuna, “Eomma..” protesnya malu.
“Oh.. mana Hyuna? Kau tidak membawanya kemari?” Tanya Ran sambil memandang ke belakang Hyunseung, berharap akan melihat Hyuna disana.
“Aniya, eomma.. Aku hanya sendiri..” ucap Hyunseung.
“Ne? wae?” Tanya Ran tak mengerti.
Hyunseung tersenyum dan menatap ibunya dalam, “Yang penting aku sudah mendapatkan hatinya, eomma..” ucapnya pelan. Lalu membungkuk sopan dan melangkah menuju tangga.
Ran tersenyum lebar dan kegirangan bersama Sangwoo karena perubahan Hyunseung.

 

<<Back           Next>>

Advertisements

10 thoughts on “I Choose To Love You [Chapter 12]

  1. Akhirnya di lanjut juga 🙂
    Setiap hari mampir ke wp ini untuk tunggu kelanjutannya 🙂
    Appa dan eomma nya Hyuna lucu..
    Di tunggu kelanjutanya ya author 🙂

  2. peribahasa nya bener yah “cinta bisa merubah seseorang” ecieeeeee “Yang penting aku sudah mendapatkan hatinya, eomma..” ecieee suka ama part ini

  3. Ahh hyuna jangan mikirin eomma nya terus lah mending nikah aja am seungie kl gg aq siap menggantikan mu hyuna , hohohohoho

    ahh bentar lgy mau ending , gg rrela 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s