Chapter · Cube

I Choose To Love You [Chapter 11]

11

I Miss You Too

Sangwoo duduk disebelah Ran yang asik menonton tv sambil membaca koran. Tangannya membalik lembaran koran dan membaca lagi. Dahinya berkerut karena satu berita dan tampak kaget. “Oh! Yobo.. Lihat ini..” Ucapnya sambil memperlihatkan halaman berita yang membuatnya terkejut.

Ran melihat berita itu dan membesarkan mata, “Omo!!” Serunya kaget, lalu berpandangan dengan suaminya tak percaya. Istri mantan perdana menteri Heo menghilang?!”

“Ohh.. wakeure?” Tanya Sangwoo bingung.

Seorang pelayan menghampiri kedua suami istri itu, “Nyonya, Tuan muda sudah kembali..”

Ran dan Sangwoo terkejut, “Ne?!” ucap mereka hampir bersamaan, lalu bangkit dan melangkah cepat menuju tangga.

Hyunseung melangkah menuju tangga sambil mengingat ekspresi Hyuna tadi. Ia tau seharusnya tidak pernah berpikir untuk datang ke kampung itu.

“Hyunseung!!!” panggil Ran.

Hyunseung yang baru menginjakkan kakinya di anak tangga pertama berhenti dan memandang orangtuanya yang terlihat melangkah cepat menghampirinya. Ia membungkuk sopan, “Aku pulang..”

“Ya! Darimana saja kau?! Pergi sejak subuh dan tidak bisa di hubungi! Apa yang kau lakukan?!!” Tanya Sangwoo mulai emosi.

Hyunseung menunduk, “Cesonghamida, abeutji.. Aku hanya ingin menyendiri beberapa saat..”

Ran memegang tangan Hyunseung dan menatapnya dalam, “Seung-I, apa kau pergi menemuinya?”

Hyunseung tertegun dan menatap ibunya.

Ran bisa melihat jawaban yang sebenarnya dari tatapan Hyunseung dan tersenyum lebar, “Kau sudah menemuinya? Bagaimana keadaannya?” tanyanya.

Sangwoo memandang Ran bingung, “Siapa yobo?”

Hyunseung memalingkan pandangannya, “Aku tidak mengerti apa yang eomma katakan.” Ucapnya sambil menarik tangannya, “Aku akan beristirahat..” ia membungkuk sopan dan segera menaiki tangga.

Sangwoo memandang Hyunseung bingung, lalu kembali memandang istrinya. “Siapa yang kalian bicarakan?”

Ran memperhatikan Hyunseung yang terus melangkah naik sedih, lalu memandang kebawah. “Aku tau dia sudah bertemu dengannya..”

Sangwoo semakin bingung, “Kalian membicarakan siapa sih? Aku tidak mengerti..”

Ran menatap suaminya sedih, “Kim Hyuna..”

Sangwoo tertegun, “Ne?”

Ran menghela nafas dalam dan menunduk sedih.

Kamar Ran dan Sangwoo.

Sangwoo tertegun setelah mendengar cerita Ran tentang Hyunseung yang sangat jelas terlihat menyukai Hyuna, “Mwo? Jadi perubahannya dulu dan sekarang karena Hyuna?”

Ran mengangguk, “Ne..”

Sangwoo mengerutkan dahinya bingung, “Tapi, jika karena Hyuna.. Kenapa dia tidak mencari gadis itu dan malah menjadi seperti orang tidak berperasaan seperti sekarang?”

Ran diam sejenak untuk memikirkan alasan yang tepat, “Mmm.. aku juga tidak tau. Tapi aku sangat ingin tau, karena itu aku mencari dimana Hyuna dan memberikannya pada Hyunseung. Karena itu dia kesana tadi. Aku tidak mengerti mengapa dia jadi seperti ini..” ucapnya bingung.

“Hmm.. kalau begitu, kita lihat saja bagaimana perkembangannya. Dia tidak mungkin menutupi hal ini selamanya kan..” ucap Sangwoo memberi jalan keluar.

Ran mengangguk dan menarik selimut menutupi tubuhnya.

 

=Rumah Hyuna+Dayom=

Minah menyodorkan makanan di sumpitnya ke mulut Hyuna dengan senyuman lebar, “Gayoon-a, ini favoritmu kan? Aaa..”

Hyuna tertegun melihat tangan Minah dan memandang wanita itu bingung. Ia tersenyum canggung dan memakan makanan itu.

Dayom merngerutkan dahi melihat Minah, “Ada apa dengannya? Apa dia benar-benar gila?”

Hyuna memandang ibunya kaget, “Eomma, jangan mengatakan itu..”

“Ne, miane.. Tapi aneh saja dia seperti tidak mengenali siapa pun dan hanya memanggilmu sebagai Gayoon..” ucap Dayom bingung.

“Dayom-ssi!! Dayom-ssi!!” panggil Kwangsoo dari depan rumah.

Dayom dan Hyuna tertegun, “Hm? Ada apa ya?” ucapnya bingung sambil bergerak bangkit. “Ne…” jawabnya sambil membuka pintu.

“Dayom-ssi, lihat ini..” ucap Kwangsoo sambil memperlihatkan sebuah halaman Koran pada Dayom.

“Waekeure Kwangsoo-ssi?” Tanya Dayom bingung dan membaca berita yang di tunjuk Kwangsoo. Dahinya berkerut melihat photo seorang wanita disana, “Omo.. ini wanita itu..” ucapnya kaget.

“Ne! aku membelinya tadi ketika ke Seoul dan menemukan berita ini.” Cerita Kwangsoo.

Dayom langsung melangkah masuk bersama Koran tadi, “Hyuna-a.. lihat ini..” ucapnya sambil memperlihatkan berita tadi pada Hyuna.

“Waeyo eomma?” Tanya Hyuna sambil membaca berita itu. “Ohh.. ini eommanim..” ucapnya sambil menunjuk photo Minah. Ia tertegun membaca beritanya, “Ne? Perdana Menteri Heo sudah berhenti?” ucapnya bingung.

“Eoteokhe Hyuna? Mereka pasti mencari wanita ini hingga kemari.. Ahhh..” ucap Dayom frustasi.

Hyuna memandang Minah yang kembali menyodorkan seseondok penuh nasi beserta sayuran yang mereka makan.

“Dayom-ssi, apa dia benar-benar istri mantan Perdana Menteri?” Tanya Kwangsoo tak percaya.

“Ahh!! Molla!!” ucap Dayom kesal.

Hyuna memandang ibunya sedih, lalu memandang Minah.

“Ayo makan Gayoon..” ucap Minah sambil menyodorkan sendok itu ke mulut Hyuna.

Hyuna membuka mulut dan memakan nasi itu, lalu kembali memandang ibunya yang terlihat frustasi. Ia tidak ingin ibunya terluka jika mengetahui Junsu dan Jina telah datang kemari.

“Lalu, bagaimana dengannya?” Tanya Kwangsoo sambil memandang Minah.

“Mmm.. kurasa aku punya ide..” jawab Hyuna.

 

=4 a.m=

Kwangsoo mengendarai mobilnya seperti biasa di temani Jaebom yang duduk di sebelahnya, mereka akan berjualan sayur hasil perkebunan dari warga kampung. Di belakang, di tempat barang-barang bawaan. Hyuna duduk bersama Minah.

Hyuna menyandarkan kepalanya ke dada Minah yang memeluknya dan mengelus kepalanya lembut.

Minah tersenyum lebar sambil terus mengelus rambut Hyuna, “Kita akan segera pulang.. Kau tidak perlu khawatir..” ucapnya pelan.

“Ne, eommanim..” jawab Hyuna.

Matahari sudah bersinar terang ketika mereka tiba si Seoul.

“Apa kau yakin untuk pergi sendiri Hyuna?” Tanya Kwangsoo saat mereka berhenti di pasar tempat ia akan berjualan.

Hyuna tersenyum, “Ne, ahjussi.. aku tau tempatnya. Aku tidak akan lama..” jawabnya.

“Hmm.. keure.. Antarkan saja wanita itu dan segera kembali.. Ahjussi akan mentraktirmu makan enak..” ucap Kwangsoo.

“Ne, aku pergi ahjussi..” ucap Hyuna sambil membungkuk sopan dan menghampiri Minah yang terlihat memilih-milih sayur. “Eommanim, ayo kita pulang..” ajaknya.

Minah tersenyum melihat Hyuna, “Gayoon-a, eomma akan membuatkanmu makanan yang kau suka.”

Hyuna mengangguk, “Ne, eommanim.. Tapi kita harus pulang sekarang.. khaja..” ucapnya sambil menarik Minah pergi.

 

=Rumah Keluarga Heo=

Hyuna turun bersama Minah di halte tak jauh dari rumah keluarga Heo, “Khaja eommanim..” ajaknya.

Minah tersenyum dan menggandeng tangan Hyuna berjalan pulang, “Hmm.. sudah lama kita tidak pergi seperti ini..” ucapnya.

Hyuna mengangguk, “Ne..”

Saat bersamaan Jinwoon masuk ke mobilnya dan memerintahkan sang supir mengendarai mobil pergi. Ia akan mendatangi kantor polisi karena sudah dua hari istrinya tidak kembali dan tidak ada yang tau kemana. Ia memandang keluar jendela dengan wajah risau.

Supir tertegun melihat dua orang wanita berbeda usia berjalan bersama berlawanan arah dengan mereka ketika melewatinya, “Oh.. Tuan, bukankah itu nyonya?” tanyanya sambil menghentikan mobil.

Jinwoon tertegun, “Ne? dimana?!”

“Itu.. yang bersama gadis muda itu..” ucap supir sambil memandang kebelakang.

Jinwoon memandang kebelakang, lalu segera keluar dari mobil. “Minah..” Panggilnya.

Hyuna berhenti dan memandang kebelakang, ia tertegun melihat Jinwoon dan menunduk.

Jinwoon tak percaya akhrinya menemukan Minah, “Yobo…”

Minah tampak terkejut melihat Jinwoon dan langsung memeluk Hyuna panic, “Jangan mendekat!!! Pergi!! Aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya lagi!! PERGI!!” teriaknya.

Jinwoon mengerutkan dahi mendengar ucapan Minah, lalu memandang Hyuna dan tertegun siapa gadis itu. “Neo?”

Hyuna tidak tau harus mengatakan apa, ia hanya berencana untuk mengantarkan Minah pulang dan pergi tanpa di ketahui siapa pu.

“Gwenchana.. gwenchana Gayoon-a..” ucap Minah sambil mengelus rambut Hyuna.

Jinwoon terkejut mendengar Minah memanggil Hyuna sebagai Gayoon dan menatap gadis muda itu marah. “Apa yang kau lakukan padanya?!”

“Apa yang kau lakukan?!! Jangan membentak putriku!!” seru Minah.

“Supir Jeon..” panggil Jinwoon.

“Ne, Tuan?” Tanya supir Jeon sambil menghampiri Jinwoon.

“Bawa istriku kembali ke rumah!” perintah Jinwoon.

“Ne..” jawab supir tadi dan langsung berjalan ke sisi Minah sambil memegang lengannya.

“Mwoya?!! Lepaskan!!” seru Minah panic.

Dengan kasar Jinwoon menarik tangan Hyuna hingga terlepas dari pelukan Minah.

“Andwae!! Gayoon-a!!” seru Minah sambil hendak menjangkau Hyuna, namun ia terus di tarik oleh supir Jeon.

Hyuna meringis karena pergelangan tanganya terasa sakit dan memandang kearah Minah yang sekarang menangis histeris karena di pisahkan darinya.

Jinwoon menatap Hyuna marah, “Kau tidak akan mendapat apa pun setelah menculik dan mengembalikan istiriku!”

Hyuna tertegun menatap Jinwoon, “A-aniya.. aku hanya ingin mengantarkan eommanim..”

“Tutup mulutmu! Kau akan mendapat apa yang pantas kau dapatkan!!” ucap Jinwoon dan menyeret Hyuna kedalam mobil.

 

=Sebuah Kantor Polisi=

Jina melangkah cepat menghampiri seorang polisi, “Cokiyo, saya datang untuk menjamin seseorang bernama Kim Hyuna..” Ucapnya cepat.

Polisi tadi memandang kearah sel sementara, begitu juga dengan Jina.

Jina menghela nafas lega melihat Hyuna duduk disana dengan kepala tertunduk.

Setelah menyelesaikan masalah disana, mereka berjalan bersama keluar dari kantor polisi itu.

Hyuna berhenti melangkah begitu tiba di depan kantor polisi dan memutar tubuhnya menghadap Jina tanpa mengangkat wajahnya, “Cesonghamida, aku tidak tau kau masih menggunakan nomor ini..” ucapnya pelan.

Jina tersenyum, “Aniya, saya justru senang anda memanggil saya agassi..”

Hyuna menghela nafas dalam mendengar Jina masih menggunakan panggilan itu padanya, “Tidak perlu memanggilku seperti itu lagi..” ucapnya, lalu membungkuk sopan. “Gamshamida, aku pergi sekarang..” ucapnya dan melangkah menuruni tangga.

Jina tertegun Hyuna pergi begitu saja, “Agassi..” panggilnya sambil menarik tangan gadis itu.

Hyuna menyentak tangan Jina dan menatap gadis itu dingin, “Anggap kau membantuku karena kesalahanmu pada keluargaku, bukan karena aku yang menginginkannya..” ucapnya, lalu melangkah cepat menuruni tangga.

Jina hanya bisa menatap Hyuna sedih, ia tau gadis itu tidak mungkin bisa memaafkannya.

Hyuna tertegun sebuah mobil berhenti di dekatnya setelah ia menuruni semua anak tangga dan melihat siapa yang turun.

Junsu keluar dari kursi kemudi dengan wajah cemasnya pada Hyuna dan langsung menghampiri gadis itu. “Hyuna-a, neo gwenchana?” tanyanya.

Hyuna memandang Junsu beberapa saat, lalu memalingkan wajahnya dan melangkah pergi begitu saja.

Junsu merasa tidak bisa berhenti begitu saja dan mengikuti langkah Hyuna, “Kenapa kau ada disini? Apa yang terjadi hingga kau masuk ke sini?” tanyanya.

Hyuna berhenti melangkah dan menatap Junsu, “Terima kasih sudah datang, Sekretaris Kim.. Tapi aku tidak butuh kau disini..” ucapnya, lalu kembali melangkah.

Junsu merasa hatinya seperti tersayat mendengar ucapan Hyuna, lalu kembali mengikuti gadis itu. “Kau akan kemana? Appa akan mengantarkanmu..” ucapnya sambil menahan tangan gadis itu.

Langkah Hyuna terhenti mendengar kata ‘appa’ keluar dari mulut Junsu. Hatinya terasa sangat sakit. Bahkan matanya langsung memerah menahan air mata.

Junsu menggunakan kesempatan itu untuk memutar tubuh Hyuna kearahnya dan menatap gadis itu, “Kau sudah makan? Khaja, appa akan mengantarkanmu pulang..” ucapnya sambil menarik tangan gadis itu ke mobilnya, namun gadis itu menarik tangannya. “Hyuna?”s

Hyuna masih memandang ke bawah menahan air matanya, “Sekretaris Kim, kau bukan ayahku..” ucapnya pelan.

Junsu terdiam mendengar ucapan Hyuna, hatinya kembali terasa seperti tersayat. “Hyuna.. appa..”

“Hajima(jangan)!!” potong Hyuna setelah berteriak, membuat Junsu tak sanggup berkata-kata lagi. Bulir air yang berusaha ia tahan sejak tadi akhirnya mengalir begitu saja dari matanya. “Jebal… jangan gunakan kata itu lagi..” pintanya dengan nada tertahan.

Junsu menatap Hyuna sedih, “Hyuna, appa sangat menyesal..” ucapnya sepenuh hati.

“kubilang jangan gunakan kata itu lagi!!!” teriak Hyuna sambil mendorong Junsu menjauh darinya. “Aku tidak punya ayah!! Aku anak haram dari pria yang akhirnya mati di penjara karena kau!!” teriaknya, lalu berbalik dan berlari pergi.

“Hyuna!!” panggil Junsu, namun gadis itu terus berlari pergi meninggalkannya. Ia hanya bisa berdiri disana memandangi Hyuna. Setelah beberapa saat ia menoleh ke belakang dan melihat Jina menyeka air mata di depan kantor polisi itu. Semuanya telah terjadi, ia tak bisa mundur sekarang jika ingin memperbaiki semuanya.

Sementara itu.

Hyunseung berjalan keluar dari hotel dan masuk ke mobil yang sudah di bukakan pintunya oleh supir.

“Kita akan langsung kembali ke rumah, Tuan Muda?” tanya supir.

“Ne..” jawab Hyunseung yang sudah sibuk dengan i-padnya.

Supir menghidupkan mesin dan menjalankan mobil perlahan. Begitu keluar dari kawasan hotel ia menginjak gas lebih dalam, membuat kecepatan juga bertambah. Matanya membesar melihat seseorang berlari dan langsung meginjak rem sedalam yang ia bisa, namun ini bukan hari keberuntungannya.

BRUKK!!!

Hyunseung terkejut tiba-tiba mobil berhenti mendadak, kepalanya hampir membentur sandaran kursi di depannya. I-padnya melayang jatuh ke kaki.

“Omo!! Cesonghamida tuan muda… Gwenchanaseyo?” tanya supir pada Hyunseung yang tampak memegang leher bagian belakangnya.

Hyunseung menatap supirnya kesal, “Apa-apaan kau? Kenapa berhenti mendadak seperti itu?!!”

“Ce-cesonghamida.. Sepertinya saya menabrak seseorang Tuan muda..” ucap sang supir menyesal.

Hyunseung tertegun, “Mwo?!”

“Saya akan melihat keadaannya..” ucap supir sambil melepaskan safety belt dan keluar dari mobil.

“Aissh.. kenapa hari ini sangat sial?” gumam Hyunseung sambil mengambil i-padnya di dekat kaki. Orang-orang sudah mulai berkumpul ketika iamembaca i-padnya. Ia mengangkat wajah dan melihat supirnya seperti menghubungi seseorang sambil memandang sekitar. ‘Tunggu, dia memanggil ambulance?’ batinnya, sekeras apa pun ia tidak ingin peduli, ia tak bisa menutupi perasaan risaunya. Ia meletakkan i-pad di kursi dan keluar dari mobil. “Kondisinya parah?” tanyanya sambil menerobos keramaian itu.

“Na gwenchanayo ahjussi!!” teriak Hyuna yang terduduk di aspal tepat di depan mobil sambil memegang bahunya. Juga terlihat darah mengalir dari pelipisnya.

“Aniya, kau harus mendapat perawatan medis. Sebentar lagi ambulance akan datang..” ucap supir sambil menahan Hyuna untuk tidak bangkit.

Hyunseung terpaku melihat siapa yang menjadi korban disana, ia tak percaya akan bertemu seperti ini.

Supir tertegun melihat Hyunseung sudah ada disana, “Ohh.. Tuan muda, kembalilah ke mobil. Saya akan mengurus hal ini..” ucapnya.

Hyuna mendongak melihat dengan siapa supir itu berbicara dan tertegun melihat Hyunseung menatapnya tanpa berkedip.

 

=Rumah Sakit=

“Bahumu hanya mengalami sedikit cedera, nona.. Biarkan tanganmu beristirahat selama seminggu dulu agar kembali pulih seperti semula. Juga, jika kau merasa mual dan sakit di bagian dalam kau harus segera memeriksakannya ke rumah sakit..” ucap sang dokter yang menangani Hyuna.

Hyuna mengangguk mengerti, “Ne, sonsaengnim.. Gamshamida..”

Dokter itu tersenyum dan melangkah pergi.

Hyuna memegang bahunya yang masih nyeri. Sekarang bahunya dipasang kain pembalut dan tangan kanannya menggunakan alat penahan agar tidak terlalu banyak bergerak. Di pelipisnya terlihat perban untuk menutupi lukanya tadi. Kepalanya menoleh ketika melihat Hyunseung melangkah masuk ke ruang kecil yang hanya di tutupi tirai itu.

Hyunseung berhenti di dekat Hyuna dan menatap gadis itu beberapa saat.

Hyuna menunduk tanpa mengatakan apa pun.

“Neo gwenchana?” akhirnya Hyunseung mengeluarkan suaranya.

“Ne..” jawab Hyuna pelan tanpa mengangkat wajahnya.

Hyunseung kembali diam, berusaha menahan diri agar tidak melepaskan kerinduannya pada Hyuna. “Kenapa kau disini? Kudengar kau dan ibumu sudah pindah dari Seoul..”

“Mmm.. aku hanya melakukan sesuatu tadi..” ucap Hyuna pelan.

“Kau datang bersama siapa?” tanya Hyunseung.

Hyuna tertegun mengingat ia harus kembali sebelum jam 4, lalu menatap Hyunseung kaget. “Oppa, pukul berapa sekarang?”

Hyunseung memandang jam tangannya, “Jam setengah 5..” jawabnya.

Mata Hyuna membesar, “Oh! Aku terlambat!!” ucapnya sambil meloncat turun dari tempat tidur, namun bahu kanannya langsung terasa nyeri luar biasa karena gerakan cepatnya. “Ahhh..” rintihnya sambil memegang bahu kanan.

Hyunseung terkejut dan spontan merangkul Hyuna, “Gwenchana? Kenapa kau meloncat seperti itu?!” tanyanya kesal.

Hyuna meringis menahan sakit, “Aku seharusnya kembali pukul 4, tapi sekarang sudah setengah 5..”

“Hmm.. begitu.. Aku akan mengantarmu. Ayo..” ucap Hyunseung dan membantu Hyuna melangkah.

“Tuan Muda, anda sudah akan pergi?” tanya supir pada Hyunseung.

Hyunseung berhenti sejenak memandang supirnya, “Berikan kunci mobilku..” ucapnya sambil mengulurkan satu tangan.

Supir tertegun, “Ne?”

“Cepat berikan..” ucap Hyunseung setengah memerintah.

Supir tadi mengeluarkan kunci mobil dan meletakkannya ke atas tangan Hyunseung.

“Ayo..” ucap Hyunseung pada Hyuna dan kembali melangkah.

 

=Mobil Hyunseung=

Hyuna merasa sangat canggung duduk di sebelah Hyunseung seperti ini. Sesekali matanya melirik pria itu yang hanya menatap ke depan serius.

“Kenakan sabuk pengamanmu..” ucap Hyunseung memecahkan keheningan.

Hyuna tertegun dan menatap Hyunseung kaget, “Ne?”

“Kenakan sabuk pengamanmu, kau tidak ingin kejadian waktu itu terjadi lagi kan?” tanya Hyunseung tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalanan.

Hyuna baru mengerti maksud Hyunseung dan memandang sabuk pengaman di sisi kirinya. Ia berusaha menarik sabuk itu namun cukup sulit karena tangan kanannya tidak bisa digerakkan.

Hyunseung menghentikan mobilnya di belakang sebuah mobil karena lampu merah dan diam sejenak hingga ia menyadari Hyuna kesulitan mengenakn sabuk pengaman.

Hyuna berusaha menarik sabuk pengaman, namun tangannya malah pegal karena posisi yang tidak nyaman.

Hyunseung melepaskan sabuk pengaman dan mengulurkan tangannya ke sabuk pengaman Hyuna.

Hyuna terkejut tiba-tiba wajah Hyunseung sangat dekat dengannya.

Hyunseung tidak sadar dengan keadaan itu dan hanya memasangkan sabuk pengaman Hyuna, “Sudah selesai..” ucapnya, lalu kembali memasang sabuk pengamannya sendiri.

Jantung Hyuna berdegup kencang mengingat sedekat apa wajah Hyunseung dengan wajahnya tadi. Wajahnya juga terasa panas sekarang. Ia mengalihkan pandangannya ke jendela agar Hyunseung tak menyadari apa yang ia rasakan.

Selama beberapa menit hanya keheningan yang memenuhi tempat itu.

Hyuna menghela nafas dalam dan memandang Hyunseung, “Oppa, bagaimana pernikahanmu?” tanyanya.

Hyunseung tertegun dan memandang Hyuna sebentar sebelum kembali memandang ke depan, “Apa maksudmu?”

Hyuna menghela nafas dalam dan memalingkan wajahnya ke jendela lagi, “Ani.. aku hanya ingin tau..” jawabnya pelan. Namun Hyunseung tidak mengatakan apa pun, “Cesongeo, seharusnya aku tidak bertanya..” ucapnya.

“Aku tidak menikahi Gayoon..” ucap Hyunseung.

Hyuna tertegun, lalu memandang Hyunseung tak mengerti. “Ne?”

Hyunseung memutar mobil ke jalan lain dengan hati-hati.

Hyuna masih menatap Hyunseung menunggu jawaban, “Kenapa oppa tidak menikahinya?”

Hyunseung menghela nafas dalam mengingat Gayoon, “Dia bunuh diri beberapa hari setelah hari pemilihan..” jawabnya pelan.

Hyuna tertegun, beruhasa mencerna ucapan Hyunseung dengan baik. “Ne?”

“Gayoon sudah meninggal..” ucap Hyunseung lagi.

Hyuna mengerutkan dahi dengan tatapan tak percaya, “Oppa, ini tidak lucu..”

Hyunseung menatap Hyuna, “Apa aku pernah membuat lelucon?”

Hyuna benar-benar tak percaya. Jadi karena ini Minah menjadi tertekan dan berlaku seperti kemarin padanya. “Wae? Eoteokhe?” ucapnya tak percaya. Bulir air matanya berjatuhan begitu saja memikirkan Minah dan Gayoon.

“Uljima.. Ini bukan salahmu..” ucap Hyunseung pelan, tangannya hendak terulur mengambil tisu ketika Hyuna berbicara.

“Kenapa oppa tidak memilihnya? Dia tidak perlu melakukan ini jika oppa memilihnya..” tangis Hyuna tak percaya.

Hyunseung terdiam mendengar pertanyaan Hyuna.

“Oppa wae?” tanya Hyuna dan menangis. Ia tertegun menyadari pria itu mengubah arah mobil dan sekarang mereka menjauh dari arah yang mereka tuju tadi. Ia memandang sekitarnya tak mengerti dan memandang Hyunseung bingungm “Oppa, kenapa kau memutar arah?”

Hyunseung menatap tajam ke depan tanpa mengatakan apa pun.

“Oppa!!” seru Hyuna, namun tetap tak mendapat jawaban. “Oppa!!!” teriaknya sambil mengguncang tangan pria itu. Ia terkejut ketika pria itu menyentak tangannya, “Oppa?”

Hyunseung menatap Hyuna tajam, “Diam atau kau bisa meloncat keluar dari mobil..” ucapnya dan kembali menatap kedepan.

Hyuna terpaku mendengar ucapan Hyunseung, seluruh tubuhnya gemetaran ketakutan. “Oppa, wae?” tanyanya tak mengerti. “Oppa…” panggilnya lagi. Ia terkejut melihat bulir-bulir air jatuh dari mata pria itu, “O-oppa..”

Hyunseung meminggirkan mobilnya dan berhenti. Ia masih berdiam diri di tempatnya dengan kedua tangan memegang stir mobil.

Hyuna tidak tau harus mengatakan apa melihat air mata Hyunseung. Satu tanganya membuka sabuk pengaman dan mengambil tisu. “Oppa, kenapa kau menangis?” tanyanya sambil menyeka air mata pria itu.

“Kenapa hanya aku yang tidak bisa menggunakan hatiku?” tanya Hyunseung pelan.

Hyuna tertegun, “Ne?”

Hyunseung menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi dengan tatapan kosong kedepan, “Bukankah aku manusia? Kenapa aku harus berlaku seolah-olah aku adalah robot?”

Hyuna seperti bisa merasakan rasa sedih Hyunseung. Ini adalah sisi yang tidak mungkin di lihat oleh orang lain sebelumnya. “Oppa..”

Hyunseung memejamkan matanya dan menunduk. Kali ini, saat bersama Hyuna ia tak bisa menahan semuanya lagi. Ia tidak bisa berpura-pura menjadi orang lain saat bersama gadis yang bisa membuatnya merasa tenang dan nyaman. Bulir air matanya berjatuhan begitu saja merasakan semua yang ia tahan selama ini.

Hati Hyuna terenyuh melihat Hyunseung menangis. Tangan kirinya melepaskan sabuk pengaman pria itu dan menarik pria itu ke pelukannya.

Hyunseung membenamkan wajahnya ke sudut leher Hyuna sambil terus menangis. Ia bisa merasakan tangan Hyuna mengelus punggungnya.

 

 

<<Back                Next>>

Advertisements

6 thoughts on “I Choose To Love You [Chapter 11]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s