Chapter · Cube

I Choose To Love You [Chapter 10]

10

Baby I Miss You

 

Hyunseung berdiri di depan makam Gayoon dengan pakaian serba hitamnya. Satu tangannya memegang sebuket bunga kesukaan gadis itu. “Gayoon-ssi, jeongmal cesonghamida..” ucapnya pelan, lalu meletakkan buket bunga di tangannya di depan batu nisan dengan photo Gayoon yang tersenyum manis kearahnya. Ia kembali berdiri tegap sambil menatap batu nisan itu. kepalanya menoleh ketika mendengar seseorang datang, ternyata ayah Gayoon, Heo Jinwoon. Ia langsung membungkuk sopan, “Annyeonghaseo Perdana Menteri Heo..” sapanya.

Jinwoon tersenyum tipis, “Aku sudah bukan Perdana Menteri lagi..” ucapnya, lalu memandang batu nisan Gayoon. Terlihat kesedihan dalam tatapannya.

Hyunseung kembali memandang batu nisan Gayoon. “Mmm.. Tuan Heo..” ucapnya sambil memandang Jinwoon, begitu juga dengan pria itu, “Mmm.. aku mendengar berita tentang istrimu.. Aku turut prihatin mengetahuinya..” ucapnya pelan.

Jinwoon mengangguk kecil, “Ne, gamshamida..” ucapnya, lalu memandang nisan putrinya. “Semua ini adalah hukuman untukku..” ucapnya sedih, “Aku telah menyia-nyiakan putriku dan membuatnya bunuh diri. Semua ini salahku.. Aku pantas mendapatkan ini..”

Hyunseung mengulurkan tangannya dan memegang bahu Jinwoon, “Yang terpenting anda sudah menyadarinya dan berusaha memperbaikinya..” ucapnya.

Jinwoon memandang Hyunseung dan tersenyum tipis, “Aku sempat salah menilaimu.. Kau benar-benar laki-laki sejati..” ucapnya.

Hyunseung mengangguk sopan dan melangkah pergi.

 

=Rumah Hyuna dan Dayom=

Hyuna memetik sayuran dan memasukkannya ke keranjang, ini adalah santapan makan malam yang sangat sehat. Ketika menyeka keringat di dahinya, ia tak sengaja memandang ke arah sebuah rumah tak jauh dari rumahnya. Disana, ia melihat Junsu. Berdiri memandanginya. Ia memalingkan wajah dan melanjutkan kegiatannya lebih cepat, lalu membawa keranjang itu masuk ke dalam rumah.

Junsu menunduk sedih, ia ingin sekali datang kesan dan berkumpul lagi bersama mereka. ia merasakan ada seseorang yang memegang bahunya dari belakang dan menoleh.

“Jika anda benar-benar mencintai mereka, anda seharusnya membuktikannya..” ucap Jina.

Junsu menghela nafas dalam dan kembali memandang kearah rumah itu, “Entahlah.. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan lagi..”

“Jika anda tidak melakukannya, lebih baik biarkan mereka hidup dengan tenang dan jangan pernah datang kemari lagi..” ucap Jina mengingatkan.

“Ne..” ucap Junsu, “Aku juga ingin melakukan itu.. Tapi aku selalu datang kemari lagi.” ucapnya tak mengerti.

Jina menarik tangannya dari bahu Junsu, “Saya tidak ingin mereka semakin terluka, Tuan Kim. Mereka sudah cukup menderita karena semuanya..” ucapnya, lalu berbalik dan berjalan pergi.

Junsu memandang kebawah sedih.

 

=Kamar Hyunseung=

Hyunseung berbaring menatap langit-langit kamarnya sambil mengenang masa lalu, saat Hyuna masih ada dirumahnya. Gadis itu pergi begitu saja. Bahkan tidak membawa barang-barang yang tertinggal disana. ‘Haruskah aku mencarinya?’ batinnya.

Ia memutar tubuhnya ke sisi kanan dan memasukkan tangannya kebawah bantal untuk menarik sesuatu keluar, sebuah buku. Matanya membaca sampul buku itu sesaat. Hyuna memaksakan dirinya mencari buku ini di taman belakang di saat hujan lebat turun. “Siapa pun kau, kau tetap Kim Hyuna kan?” gumamnya sendiri.

 

=Rumah Hyuna dan Dayom=

Hyuna masih terjaga di sebelah ibunya yang sudah terlelap. Ia berbaring dengan satu sisi tubuhnya sambil menatap dinding tanpa ekspresi. Sudah setahun ia pergi seperti ini. Memulai semuanya lagi dengan ceria. Tapi hatinya masih teringat pada seseorang yang seharusnya tidak pernah ia dekati. ‘Oppa, bagaimana kehidupanmu sekarang? Mungkin Gayoon-ssi sudah memberikanmu anak yang tampan atau cantik. Kuharap, jika suatu saat nanti kita bertemu, kita bisa tersenyum satu sama lain dan berteman seperti tidak terjadi apa pun di masa lalu..’ batinnya sedih, lalu memejamkan mata.

Saat matanya terpejam, ia justru melihat bayangan wajah Hyunseung yang tersenyum padanya. Pria itu selalu terlihat tampan bagaimana pun ekspresinya. Bibirnya membentuk senyuman tipis mengingat pria itu. air mata menyelinap keluar dari celah matanya tanpa sepengetahuan siapa pun. Saat ini ia hanya berpikir kalau paling tidak ia masih bisa mengingat sesuatu tentang Hyunseung.

 

=Suatu Hari=

Minah melangkah keluar dari kamar Gayoon sambil memeluk bonekanya. Ia tidak lagi terlihat seperti wanita berkelas yang berwibawa. Ia telah berubah menjadi wanita gila yang selalu merindukan putrinya.

Pelayan yang melihat Minah keluar sendiri dari kamar tersenyum dan menghampiri nyonyanya itu. “Nyonya, anda ingin sesuatu?”

Minah menunduk takut sambil memeluk boneka yang ia pikir Gayoon, “Ani! Aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya!” ucapnya.

Pelayan itu memandang Minah sedih, “Ne, nyonya.. Saya tidak akan menyakitinya.. Apa anda ingin makan sesuatu?” tanyanya.

Minah memandang pelayannya, lalu memandang sekitar. “Dimana Gayoon? Kenapa dia belum pulang juga? Wae??” tanyanya dan mulai menangis.

“Nyonya.. nyonya.. tenanglah.. Nona Gayoon akan segera kembali. Ayo duduk dulu..” ucap pelayan tadi sambil menarik Minah ke sofa, “Saya akan mengambilkan minum..” ucapnya.

“Minum?” tanya Minah sebelum pelayan itu pergi.

“Ne, nyonya..” jawab sang pelayan sambil tersenyum.

“Ohh.. buatkan jus jeruk kesukaan Gayoon. Dia pasti akan senang ketika pulang nanti..” ucap Minah dengan wajah berseri-seri.

Pelayan tadi mengangguk, “Ne, saya mengerti nyonya..” ucapnya, lalu melangkah kedapur.

Minah kegirangan sendiri dan memandang boneka di tangannya, “Aigoo.. neomu keyowa..” ucapnya gemas.

“Eomma…”

Minah tertegun dan menoleh ke arah pintu, ia seperti melihat Gayoon berdiri disana sambil tersenyum memanggilnya.

“Eomma..”

“Gayoon-a..” ucap Minah tak percaya. Kakinya bergerak bangkit tanpa mempedulikan boneka di pangkuannya terjatuh ke lantai. “Gayoon-a, tunggu..” ucapnya dan berlari mengejar bayangan Gayoon yang terus pergi.

Minah keluar dari rumah hingga ke halaman sambil mencari-cari dimana putrinya tadi, “Gayoon-a.. Gayoon-a.. ini eomma.. odiga?” panggilnya panik. Bulir air mata berjatuhan dari matanya mencari Gayoon. Ia terus mencari hingga keluar dari pekarangan rumah sambil tetap mencari dimana putrinya.

 

=Mansion Keluarga Jang=

Ran menghampiri Hyunseung yang sudah bersiap pergi ke kantor, “Hmm.. kau sudah rapi seperti biasa..” ucapnya sambil merapikan dasi putranya.

Hyunseung memandang ibunya dan memegang tangannya, “Ne, eomma..”

Ran tersenyum sambil memasukkan secarik kertas ke kantung blazer putranya.

Hyunseung melihat tangan Ran memasukkan sesuatu kesakunya, “Mwoya eomma?” tanyanya.

Ran tersenyum sedih, “Tempat dimana Hyuna tinggal sekarang..”

Hyunseung tertegun, “Ne?”

Ran memegang kedua pipi Hyunseung dan menatap kedua mata putranya dalam, “Jangan bohongi hatimu lagi. Temukan dia jika kau memang merindukannya..”

Hyunseung diam sejenak, lalu menarik tangan ibunya dari pipi sambil menunduk menghindari tatapan ibunya. “Aku pergi eomma..” ucapnya, lalu melangkah pergi.

Ran mengikuti Hyunseung dengan tatapan sedihnya.

Sangwoo menghampiri Ran dan memandang istrinya bingung, “Wae? Hyunseung melakukan sesuatu?”

Ran memandang Sangwoo dan tersenyum, “Aniya.. Kau sudah akan pergi?”

“Ne.. akan ada rapat siang ini..” ucap Sangwoo, “Keure, aku pergi..” ucapnya, ia mencium pipi Ran dan melangkah pergi.

Ran menghela nafas dalam dan bergerak duduk di sofa.

 

=Malam Di Perkampungan=

Hyuna dan Dayom melangkah menghampiri sebuah mobil yang baru saja kembali dari Seoul setelah menjual hasil sayur-sayuran segar dari kampung mereka.

“Ahjussi, bagaiman perjalananmu?” tanya Hyuna pada pria berusia 48 tahun yang turun dari kursi kemudi, Lee Kwangsoo.

Kwangsoo tersenyum, “Sangat menyenangkan, apalagi ketika membayangkan ketika tiba kau akan menyambutku..” candanya.

Hyuna tertawa kecil.

Dayom ikut tertawa mendengar lelucon Kwangsoo, “Kwangsoo-ssi, lalu bagaimana penjualan hari ini?”

“Sangat baik.. Sepertinya orang-orang di kota sangat menyukai sayuran kita. Pelanggan yang kemarin membeli datang lagi karena menyukai sayuran kita..” cerita Kwangsoo ceria.

“Ohh.. syukurlah..” ucap Dayom senang.

“Dan aku juga membeli beberapa kilo daging untuk warga disini. Kau tau, kita memang hidup sehat tapi tidak boleh terlalu kurus..” ucap kWangsoo.

“Wuaa.. gamshamida ahjussi..” ucap Hyuna girang.

“Oh! Abeutji! Abeutji!!” panggil Jaebom, putra Kwangsoo yang sedang membuka muatan mereka dari belakang mobil.

Kwangsoo memandang putranya bingung, “Wae?”

Jaebom menatap ayahnya dengan mata melotot sambil menunjuk kedalam tempat barang-barang, “Abeutji!! Lihat ini!”

Kwangsoo langsung melangkah kesana diikuti Hyuna dan Dayom. Mereka memandang kedalam tempat barang dan memperhatikan beberapa detik, lalu melotot karena melihat seorang wanita meringkuk disana dan terlihat tertidur.

“Omo! Siapa itu?!” tanya Kwangsoo kaget.

“Ahjussi, apa dia pelangganmu juga?” tanya Hyuna tak percaya.

“Aniya.. mana mungkin..” jawab Jaebom sambil menatap Hyuna aneh.

Hyuna garuk-garuk kepala, “Kan hanya bertanya oppa..” ucapnya.

“Hmm..” gumam wanita itu.

“Oh! Dia terbangun!!” ucap Kwangsoo sambil menunjuk wanita itu.

Semuanya menatap kedalam serius.

Wanita yang tak lain adalah Minah itu memandang sekitarnya bingung, hingga ia menyadari ada orang yang memandanginya.

Dayom memperhatikan wanita itu, “Ibayo.. Gwenchanaseyo?” tanyanya hati-hati.

Minah memandang orang-orang itu takut, “Gayoon odiso?” tanyanya dengan suara bergetar.

Hyuna, Dayom, Kwangsoo dan Jaebom saling berpandangan bingung. “Gayoon?” ucap mereka tak mengerti.

Hyuna mengerutkan dahi dan kembali memandang Minah karena menyebut Gayoon.

Minah mulai menangis ketakutan, “Gayoon-a..” tangisnya.

“Omo.. kenapa dia menangis?” Tanya Kwangsoo tak mengerti dan memandang Dayom.

Dayom menggeleng tak tau.

Hyuna memperhatikan Minah dan melangkah maju mendekati pintu belakang mobil itu.

“Hyuna-a..” panggil Dayom sambil menahan Hyuna.

“Sebentar eomma..” ucap Hyuna pada ibunya.

Minah tertegun mendengar suara Hyuna dan menatap gadis itu tak percaya. “Gayoon-a..” panggilnya.

Hyuna tertegun Minah memanggilnya Gayoon, “Ne? ohhh.. aku bukan Gayoon..” ucapnya.

Minah langsung bangkit dan menghampiri Hyuna sambil memegang kedua pipi gadis itu.

“Omo!! Apa yang kau lakukan?!” seru Dayom sambil menarik Hyuna menjauh dari Minah dan memeluk putrinya sambil menatap Minah ngeri.

“ohhh.. Gayoon-a..” panggil Minah sambil mengulurkan tangannya kearah Hyuna, “Gayoon-a..”

“Ibayo!! Ini putriku Hyuna!!” ucap Dayom kesal.

Hyuna tertegun setelah melihat wajah Minah dengan jelas, “Eo-eomma..” ucapnya sambil mengguncang tangan ibunya.

Dayom memandang putrinya kaget, “Wae? Waeyo?! Kau terluka?!” tanyanya panic.

Hyuna menggeleng sambil tetap menatap Minah tak percaya, “Wanita ini istri Perdana Menteri Heo..”

Mata Dayom melotot, “Ne?!” ucapnya dan menatap Dayom, begitu juga dengan Kwangsoo dan Jaebom.

“Omo! Bagaimana dia bisa masuk ke mobilku?” Tanya Kwangsoo tak percaya.

Rumah Hyuna dan Dayom.

Hyuna menghampiri Minah yang meringkuk di sudut ruangan sambil menatap sekitarnya ketakutan, “Eommanim… minum ini, tubuhmu membeku..” ucapnya sambil mengulurkan secangkir teh hangat pada wanita itu.

Minah memandang Hyuna, tatapannya terlihat putus asa. Satu tangannya terulur dan memegang pipi gadis itu.

Hyuna sempat mengelak ketika tangan Minah hampir menyentuh pipinya, namun ia tidak ingin wanita itu kecewa dan diam di tempatnya.

Minah menatap kedua mata Hyuna dalam, “Gayoon-a… kemana saja kau selama ini?”

Hyuna tertegun mendengar ucapan Minah, lalu meletakkan cangkir yang ia pegang ke meja di dekatnya dan memandang Minah lagi. “Eommanim, aku bukan Gayoon..” ucapnya pelan.

Minah memandang tangan Hyuna dan menggenggamnya dengan kedua tangannya, lalu menatap gadis itu dalam. “Eomma sangat merindukanmu, kenapa kau tidak pulang?”

Wajah Hyuna menunjukkan tanda Tanya besar, ia tak mengerti mengapa Minah seperti ini.

Dayom keluar dari kamar dan duduk di sebelah Hyuna, “Ibayo.. Dia bukan putrimu..” Ucapnya sambil melepaskan tangan Minah dari tangan Hyuna.

Minah terkejut Dayom memisahkan tangannya dan Hyuna, lalu menatap wanita itu takut. “Nu-nuguseyo?” Tanyanya dengan suara bergetar, lalu menarik Hyuna kepelukannya. “Jangan sakiti Gayoon!! Siapa kau?!!!” Teriaknya histeris.

Dayom terkejut Minah berteriak padanya, “Aissh.. Kau berseru padaku?!!” Serunya kesal.

Hyuna melepaskan pelukan Minah dan memegang kedua bahu wanita itu dan menatapnya, “Eommanim.. Eommanim.. Tenang.. Tidak ada yang akan menyakitiku..” Ucapnya menenangkan.

Minah tertegun menatap Hyuna dalam, lalu memperhatikan seluk beluk wajah gadis itu sambil membelai kepalanya. “Appo? Kau pasti terluka kan?”

Hyuna tertegun melihat mata Minah mulai memerah menahan air mata, “Aniya, eommanim. Na gwenchana..” Jawabnya pelan.

Minah memeriksa tubuh Hyuna dan kembali menatapnya, “Kau tidak perlu takut, eomma akan melindungimu..” Ucapnya dan menarik gadis itu ke pelukannya.

Hyuna tak tau harus melakukan apa selain membiarkan Minah memeluknya.

Dayom mengerutkan dahi menatap Minah bertingkah seperti orang tidak waras.

Malam itu.

Hyuna keluar kamar setelah memastikan Minah tertidur, lalu menghampiri ibunya yang duduk di depan rumah.

Dayom memandang Hyuna dan menarik putrinya duduk, “Hyuna-a, kenapa kau membiarkan dia tidur di rumah kita? Biarkan warga desa yang mengurusnya..”

Hyuna menatap ibunya sedih, “Aniya eomma, eommanim akan ketakutan jika tidak mengenal siapa pun yang ada di sekelilingnya..”

“Tapi dia juga tidak mengenalmu kan? Paling dia menganggap semua anak gadis itu seperti putrinya, dia itu gila Hyuna.” Ucap Dayom sebal. Lalu memegang bahu putrinya, “Jika dia bisa tiba disini, keluarganya juga pasti akan tiba disini untuk mencarinya. Lalu mereka akan menemukan kita juga..” Jelasnya khawatir.

Hyuna diam sejenak, karena Junsu dan Jina sudah tau dimana mereka. “Mmm.. Biarkan saja eommanim disini malam ini, besok kita pikirkan lagi apa yang harus kita lakukan..”

Dayom menghela nafas dalam sambil mengelus rambut Hyuna, “Keure..” Ucapnya.

Hyuna tersenyum, “Ayo masuk eomma..” Ajaknya sambil berdiri dan menarik Dayom masuk.

Sementara itu di Kamar Hyunseung.

Hyunseung duduk di pinggir tempat tidurnya memandangi buku cara menanam bunga yang baik di tangannya. Ia berpikir sejenak dan memandang lemari bajunya.

 

=Keesokan Paginya=

Ran menghidangkan sarapan ke meja makan dimana suaminya sudah duduk.

Sangwoo tersenyum lebar, “Gumawoyo yobo..” Ucapnya.

Ran tersenyum manis, lalu memandang ke arah pintu masuk dapur. “Hm? Kenapa Hyunseung belum turun juga?” Ucapnya bingung.

Pelayan yang membantu Ran memandang nyonyanya, “Maaf nyonya, Tuan Muda sudah berangkat sejak dini hari tadi..”

Ran dan Sangwoo menatap pelayan itu kaget, “Ne?”

“Kemana dia pergi? Kenapa tidak berpamitan?” Tanya Sangwoo tak habis pikir.

“Saya tidak tau Tuan Besar. Tadi pagi sekitar pukul 4 saya mendengar Tuan muda membuka pintu depan. Ketika saya melihat beliau sudah pergi bersama mobilnya..” Cerita pelayan itu.

Ran berpandangan dengan Sangwoo bingung, “Apa yang dia lakukan?” Tanyanya.

“Coba hubungi dia.. Kenapa dia jadi aneh begini?” Ucap Sangwoo kesal.

Ran mengeluarkan ponselnya dan memanggil nomor Hyunseung, lalu menempelkan ponsel ke telinganya. Ia tertegun ponsel putranya tidak aktif. “Omo.. Omo.. Waekeure? Ponselnya mati..” Ucapnya tak percaya sambil menatap layar ponselnya.

“Ne? Omo.. Kemana dia pergi??” Tanya Sangwoo bingung.

Ran diam sejenak untuk berpikir, sesuatu muncul di kepalanya. “Ohh.. Apa dia kesana?” Gumamnya tak yakin.

Sangwoo menatap Ran penasaran, “Kemana?”

Ran tertegun, “Ne? Ohh.. Aniya.. Hanya menebak, tapi kurasa tidak..” Jawabnya.

 

=Rumah Hyuna dan Dayom=

Hyunseung berhenti melangkah di sebelah sebuah rumah. Lalu menghela nafas dalam dan maju selangkah untuk mengintip ke sebuah rumah tak jauh dari sana. Jantungnya berdegup kencang menantikan apa yang akan ia lihat. Pertama kali, ia melihat Dayom berjalan menuju jemuran di depan kiri rumah dengan sebaskom kain.

“Hyuna-a, sudah selesai?” Tanya Dayom sambil mulai menjemur kain.

Hyuna berlari kecil keluar dari rumah menghampiri ibunya, “Ne eomma..” Ucapnya dan membantu ibunya.

Hyunseung tertegun melihat Hyuna disana. Tubuhnya terasa kaku. Bahkan kakinya bergetar hingga hampir jatuh berlutut. Melihat gadis yang ia rindukan ada disana sambil tersenyum ceria membuatnya gila. Ia segera berbalik sebelum dirinya menghampiri gadis itu dan melangkah pergi.

“Gayoon-a!! Gayoon-a!!” Panggil Minah panik dari dalam rumah.

Hyuna dan Dayom spontan memandang ke rumah.

“Omo.. Ada apa ya?” Tanya Hyuna bingung, lalu melangkah cepat masuk ke rumah. Ia tertegun menemukan Minah menangis ketakutan di sudut kamar dan segera menghampiri wanita itu. “Eommanim, waekeure?” tanyanya.

Minah terdiam ketika melihat Hyuna dan menatap gadis itu lega dan memegang kedua bahu sang gadis, “Gayoon-a, kenapa kau bermain terlalu jauh? Eomma mencarimu kemana-mana..” ucapnya khawatir.

Hyuna menatap Minah bingung. Sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, wanita itu langsung memeluknya. “Eo-eommanim?”

Minah mengelus punggung Hyuna lembut, “Gwenchana, eomma disini Gayoon-a..” ucapnya pelan.

Hyuna mengerutkan dahi, namun tak mengatakan apa pun selain diam di tempatnya.

 

 

<<Back                Next>>

Advertisements

6 thoughts on “I Choose To Love You [Chapter 10]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s