Chapter · Cube

I Choose To Love You [Chapter 9]

9

—This is What You Want?—

 

“Apa-apaan ini?! Mengapa Jang Hyunseung tidak memilih siapa pun disaat sudah sangat jelas Gayoon kandidat yang tepat!” ucap Perdana menteri Heo begitu tiba di rumah.

Gayoon berdiri dengan kepala tertunduk menyesal.

Minah menghampiri suaminya dan memegang lengannya, “Yobo, ini bukan tentang memenangkan pemilihan perdana menteri atau pun presiden.. ini tentang pernikahan. Untuk menikah mereka harus saling menyukai terlebih dulu, dengan begitu mereka akan bahagia..” ucapnya.

Perdana menteri Heo menatap istrinya marah, “Yobo, di dunia bisnis tidak ada yang dinamakan menikah karena cinta. Tapi menikah karena tuntutan pekerjaan! Kau mengerti?!!”

Minah menatap suaminya tak percaya, “Yobo, putri kita manusia.. Dia bukan kertas kerja yang bisa dengan mudah kau tanda tangani..” ucapnya.

Gayoon memandang ibunya, “Eomma, na gwenchana..” ucapnya, membuat ayah dan ibunya memandang dirinya. “Ini salahku karena tidak menarik perhatian Jang Hyunseung lebih serius..” ucapnya menyesal.

Minah menatap putrinya sedih, “Gayoon-a..”

Gayoon memandang ayahnya, “Maafkan aku appa, aku akan menerima melakukan apa yang harus kulakukan sebagai putrimu..” ucapnya sambil membungkuk sopan dan berjalan masuk ke kamarnya.

Minah mengikuti Gayoon dengan tatapan sedihnya.

Perdana menteri Heo tersenyum memandang istrinya, “Kau lihat? Putrimu saja mengerti apa yang harus dia lakukan..”

Minah memandang suaminya, “Paling tidak, dia masih bisa terhindar dari pernikahan seperti kita..”

Perdana Menteri Heo tertegun, “Apa maksudmu?”

“Kau tau? Aku menikah denganmu karena bisnis, aku melahirkan Gayoon karena bisnis. Aku membesarkannya dengan baik juga karena bisnis. Apa menurutmu aku bahagia?” tanya Minah kecewa, lalu melangkah menuju kamarnya.

Perdana Menteri Heo tertegun mendengar ucapan Minah.

 

=Mansion Keluarga Jang=

“JANG HYUNSEUNG!!” seru Sangwoo sambil membuka pintu kamar Hyunseung.

Saat itu Hyunseung sedang berlari di atas alat tread-mill dengan pakaian olahraga santai, terlihat juga keringat sudah memenuhi wajahnya. Ia mengurangi kecepatan alat itu dan melepaskan satu earphone di telinganya, “Waeyo abeutji?” tanyanya sambil turun dari alat itu.

“Mwo?! Kau bertanya ada apa?!!” tanya Sangwoo tak percaya.

Ran melangkah masuk dan langsung memegang lengan putranya, “Yobo-a.. Tenangkan dirimu dulu.. Kita dengarkan alasan Hyunseung sebelum kau memarahinya..” ucapnya menenangkan.

Sangwoo menatap Hyunseung sangar, “Keure! Apa penjelasanmu?!! Kenapa kau mempermalukan keluarga Heo seperti tadi?!!”

Hyunseung mengambil handuk kecil dan menyeka keringat di dahinya, lalu memandang Sangwoo. “Tugasku hanya memberi jawaban. Dan itu adalah jawabanku..”

“Mwo?!! Kau seharusnya memilih Gayoon! Dia calon yang tersisa!!” ucap Sangwoo kesal.

Ran menghampiri Hyunseung dan mengambil handuk kecil tadi dari tangan putranya, lalu menyeka keringat yang terus bercucuran dengan lembut. “Seharusnya kau tidak melakukan itu Hyunseung, kau sudah cukup dewasa untuk memilih gadis yang seharusnya menjadi pendampingmu di dunia bisnis..” ucapnya menjelaskan.

Hyunseung memandang ibunya tak mengerti, “Hanya untuk bisnis eomma? Apa aku dilahirkan hanya untuk bisnis?”

Ran tertegun mendengar ucapan Hyunseung, “A-ani.. Tentu saja tidak..” ucapnya.

“Hyunseung! Kau bukan anak-anak yang masih mempertanyakan hal sepele seperti ini! Ada apa denganmu?!” tanya Sangwoo kesal.

Hyunseung memandang ayahnya beberapa saat, lalu kembali memandang ibunya. “Jika begitu, kenapa tidak jodohkan saja aku sejak awal? Dengan begitu aku tidak punya pilihan..” ucapnya, lalu melangkah menuju kamar mandi.

“Ya! Aish!! Jang Hyunseung..” ucap Sangwoo kesal.

Ran tertegun memandang putranya berjalan pergi.

 

=Keesokan Harinya=

Keluarga Jang menikmati sarapan dengan ketegangan akibat kemarin.

Sangwoo menatap Hyunseung, “Jang Hyunseung, kau harus meminta maaf pada keluarga Heo dan tetap menikahi Gayoon..” ucapnya tegas.

Hyunseung memandang ayahnya dan mengangguk, “Keure..” jawabnya dan kembali makan.

Ran menatap putranya sedih. Sebagai ibu ia tau jika putranya merasa terluka.

Rumah Hyuna dan Dayom.

“Eomma, aku ingin ada sawi putih di kebun kita. Jadi aku bisa makan sawi putih setiap hari.. Juga lobak dan wortel..” ucap Hyuna pada ibunya saat mereka menikmati ubi rebus untuk sarapan.

Dayom tersenyum, “Ne, araso..” ucapnya senang. Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia melihat putrinya ceria seperti ini.

Rumah keluarga Heo.

Minah menghampiri pintu kamar Gayoon dan mengetuknya pelan, “Gayoon-a, ayo sarapan..” panggilnya. Lalu mengetuk lagi. Ia diam sejenak mendengarkan kedalam, tidak terdengar apa pun. Tangannya terulur dan membuka pintu, “Gayoon-a..” panggilnya sambil memandang kedalam. Tempat tidur putrinya terlihat seperti telah di pakai sebelumnya, tapi tidak ada siapa pun disana. “Gayoon-a..” panggilnya sambil melangkah masuk. Kepalanya menoleh ke seluruh ruangan dan terpaku melihat sepasang kaki tergantung di udara. Jantungnya berdegup kencang dan memandang siapa pemilik kaki itu. Matanya terbelalak melihat putri semata wayangnya tergantung dengan skraft di lehernya. “GAYOON-A!!!!” teriaknya histeris.

 

=Mansion Keluarga Jang=

“Aku tidak percaya Gayoon nekat menggantung dirinya seperti itu..” ucap Sangwoo tak percaya.

Ran menggenggam kedua tangannya cemas, “Ne.. Dia gadis pintar dan baik, kenapa dia melakukan ini?”

Hyunseung yang sedang membaca koran membalik lembaran tanpa mengatakan apa pun dan tetap membaca.

Sangwoo memandang Hyunseung, “Hyunseung, kau tidak merasa simpati sama sekali? Dia pasti merasa malu karena kau menolaknya di depan umum..” ucapnya kesal.

Hyunseung memandang ayahnya heran, “Kemarin kan aku sudah datang ke pemakamannya untuk menunjukkan rasa berkabungku, apa lagi?”

Sangwoo kesal mendengar jawaban putranya, “Aissh.. kau ini…”

Ran memandang Hyunseung tak mengerti, “Hyunseung-a, kenapa kau berbicara seperti tidak mempunyai hati seperti itu?”

Hyunseung memandang Ran bingung, “Jika aku menggunakan hatiku, aku juga melakukan hal yang sama seperti Gayoon..” ucapnya, lalu melipat koran dan bergerak bangkit.

Ran terpaku mendengar ucapan Hyunseung.

“Ya! Jang Hyunseung!!” panggil Sangwoo kesal.

Ran merasa bersalah. Karena idenya melakukan pemilihan jodoh itu, sekarang putranya terluka dan semakin dingin.

“Ada apa dengannya? Aku benar-benar tak habis pikir..” ucap Sangwoo kesal.

Ran memandang Sangwoo sedih, “Yobo, Hyunseung hanya ingin memberitau kita jika dia juga manusia yang memiliki hati. Karena itu jangan memaksanya lagi..” ucapnya.

Sangwoo menatap Ran sebal, “Aigoo.. kau mulai membelanya lagi..”

“Aku tidak membelanya, tapi menjelaskan apa yang ia rasakan..” ucap Ran.

“Yobo, Hyunseung itu pria. Dia tidak bisa selalu menggunakan hatinya untuk melakukan keputusan. Jadi biarkan saja dia belajar dari kesalahannya..” ucap Sangwoo dan bangkit.

Ran masih berdiam diri di tempatnya memikirkan Hyunseung. “Eomma eoteokhe, Seung-i?” gumamnya sendiri.

 

=Rumah Keluarga Heo=

Perdana Menteri Heo membuka pintu kamar Gayoon dan memandang sedih kedalam, Minah selalu mengurung diri dikamar itu menangisi kematian putri mereka. Perlahan kakinya melangkah masuk menghampiri istrinya yang duduk termenung memandangi sweater yang sering di kenakan putri mereka. Terlihat bulir air masih mengalir dari wanita yang telah belasan tahun ia nikahi.

Minah menyadari kedatangan suaminya, namun tidak mengalihkan pandangannya dari sweater ditangannya. “Makan malam sudah di siapkan pelayan..” ucapnya dingin.

Perdana Menteri Heo memegang bahu istrinya, “Aku ingin makan bersamamu..” ucapnya pelan.

“Tidak, kau saja yang makan..” ucap Minah.

“Yobo-a, jangan seperti ini.. Kau bisa jatuh sakit nanti..” ucap Perdana Menteri Heo pelan.

“Apa pedulimu? Kau bahkan sudah membunuh putrimu sendiri, apa bedanya jika aku mati juga?” tanya Minah.

Perdana Menteri Heo menghela nafas dan duduk di sebelah Minah dengan kepala tertunduk menyesal. “Ne, aku yang membunuh Gayoon. Seharusnya kau menghukumku, bukan menghukum dirimu sendiri..”

“Tuhan akan menghukummu hingga mati. Aku tidak peduli..” ucap Minah.

Perdana menteri Heo memandang Minah sedih, “Minah, kenapa kau berbicara seperti hanya kau yang menderita karena kematian Gayoon? Dia putriku juga, aku juga merasakan hal yang sama seperti apa yang kau rasakan..” ucapnya.

Minah menatap Perdana Menteri Heo dan tersenyum sinis, “Setelah Gayoon meninggal kau baru menyebutnya putrimu?”

“Apa maksudmu? Dia memang putriku!” tegas Perdana Menteri Heo.

Minah tertawa sinis, “Kau menyuruh putrimu sendiri bunuh diri? Apa itu masuk akal, Perdana Menteri Heo?”

Perdana Menteri Heo terdiam mendengar ucapan Minah, lalu menunduk sedih. “Aku bersalah, Minah.. Aku akan menderita seumur hidupku menyesali semuanya..” ucapnya pelan.

“Ne, kau akan menanggungnya seumur hidupmu!” ucap Minah, lalu kembali memandangi sweater putrinya.

Perdana Menteri Heo menghela nafas dalam mendengar ucapan Minah.

 

=Rumah Hyuna dan Dayom=

Hyuna yang mengenakan sweater tebal karena udara di kampung itu semakin dingin menjelang musim dingin bulan depan sehabis mengantarkan sayuran yang dibeli oleh nenek di sisi lain kampung kecil itu. Dalam waktu beberapa bulan sayur-sayuran mereka tumbuh dengan subur dan menjadi favorit di kampung itu. Ia melangkah riang sambil bersenandung kecil, namun kakinya berhenti melihat ada seorang pria yang berdiri di balik sebuah rumah memperhatikan ibunya yang sedang bertani di kebun kecil mereka.

Junsu menghela nafas sedih dan berbalik. Ia tertegun melihat Hyuna berdiri tak jauh darinya.

Hyuna menunduk dan melangkah cepat menuju rumahnya seperti tidak melihat Junsu disana.

“Hyuna..” panggil Junsu.

Hyuna berhenti namun tidak memandang Junsu.

Junsu menatap Hyuna sedih, “Bagaimana kabarmu?” tanyanya pelan.

Hyuna memutar tubuhnya menghadap Junsu namun tetap tak memandang pria itu, “Aku akan berpura-pura tidak melihatmu, Sekretaris Kim..” ucapnya, lalu membungkuk sopan dan melangkah pergi.

Junsu tertegun mendengar ucapan Hyuna dan memperhatikan gadis itu pergi. Hatinya terasa sakit karena gadis itu tidak memanggilnya ‘appa’ lagi. Ia memperhatikan Hyuna dengan ceria menghampiri ibunya dan membantu memanen beberapa sayur.

“Kita makan sup wortel untuk makan malam?” tanya Hyuna bersemangat karena melihat banyak wotel di keranjang ibunya.

“Ne, kau kan suka sekali sup wortel..” ucap Dayom sambil memegang dagu Hyuna gemas.

Hyuna tersenyum lebar, “Aku akan mencuci dan mengupasnya hingga bersih..” ucapnya.

Dayom mengangguk dan mengambil sebuah kubis berukuran sedang, “Khaja.. sudah semakin sore..” ucapnya.

Hyuna membawa keranjang itu dan melangkah masuk ke rumah bersama ibunya.

Junsu menghela nafas dalam dan berbalik. Melihat betapa bahagianya mereka, ia merasa sedih bukan bagian dari kebahagiaan itu.

 

=Setahun Kemudian=

Tidak ada yang berjalan sesuai rencana awal. Selama setahun berlalu. Tidak ada yang benar-benar berubah bagi Hyunseung. Kecuali kesibukannya di hotel karena sekarang ia menjabat sebagai manajer Utama di bawah pantauan ayahnya.

Sangwoo terkejut mendegar laporan Junhyung, “Mwo?! Hyunseung memecat karyawan lagi?!”

Junhyung mengangguk, “Ne, Presdir..” jawabnya.

“Aissh.. ada apa lagi sekarang?! Apa alasan Hyunseung kali ini?!” tanya Sangwoo tak habis pikir.

“Karyawan itu mengambil cuti dan menggunakan satu hari lebih karena ayahnya meninggal di luar kota..” jawab Junhyung.

Sangwoo menatap Junhyung tak percaya, “Mwo?! Anak itu benar-benar..” ucapnya sembari bangkit dan melangkah cepat keluar dari ruanganya.

Hyunseung yang saat itu sedang memeriksa laporan keuangan di ruangannya memandang ke pintu dan melihat ayahnya masuk. Ia bergerak bangkit dan membungkuk sopan, “Ada yang saya bantu Presdir?” tanyanya.

Sangwoo menatap Hyunseung tak mengerti, “Jang Hyunseung! Dimana hati nuranimu?! Karyawan kita mendapat musibah karena ayahnya meninggal dan kau memecatnya?!”

Hyunseung memandang ayahnya tak mengerti, “Abeutji, kita menjalankan bisnis. Bukan panti sosial. Apa kita juga harus mentolerir jika karyawan kita yang sudah di beri waktu untuk cuti tetap menggunakan hari kerja?”

Sangwoo menatap putranya tak percaya, “Jang Hyunseung, jika salah satu orangtuamu meninggal, apa kau masih bisa bekerja dengan tenang?”

“Keurom.. dunia bisnis tidak ada hubungannya dengan suasana hati abeutji..” ucap Hyunseung santai.

Sangwoo benar-benar tak bisa mengatakan apa pun untuk berbicara pada putranya.

Ran membuka pintu dan mengintip ke dalam, “Seung-i, kau sibuk?”

Hyunseung yang sedang mengerjakan sesuatu di laptopnya memandang Ran, “Aniya, masuklah eomma.” Ucapnya dan kembali fokus pada pekerjaannya.

Malamnya.

Ran melangkah mendekati Hyunseung dan merangkul putranya. “Sudah larut tapi putra eomma masih bekerja..” ucapnya.

“Ne eomma.. aku harus memberikan laporan ini pada abeutji hari Jum’at..” ucap Hyunseung.

“Hmm.. sekarang kan masih hari Selasa.. Santai sedikit kan tidak apa-apa..” ucap Ran sambil memandang Hyunseung.

“Aniya eomma.. Setelah menyelesaikan ini aku harus membuat proposal baru lagi. Jadi tidak mungkin untuk bersantai..” ucap Hyunseung.

Ran menatap putranya sedih, “Eomma miane..” ucapnya menyesal.

Jari-jari Hyunseung yang bergerak di keyboard berhenti dan memandang ibunya bingung, “Waeyo eomma?”

Ran mengelus rambut putranya lembut, “Seharusnya kau menikmati hidupmu, tapi kau malah harus berkutat dengan pekerjaan seperti ini..” ucapnya menyesal.

Hyunseung diam sejenak menatap ibunya, lalu memegang tangan sang ibu dan menggenggamnya beberapa saat. “Na gwenchana eomma..” ucapnya, “Istirahatlah.. Aku akan melanjutkannya sedikit lagi..”

Ran menatap Hyunseung sedih, “Kemana senyumanmu Seung-i? eomma sudah sangat lama tidak melihatnya..” ucapnya.

Hyunseung menghela nafas dalam dan melepaskan tangan ibunya, “Mian eomma, aku akan melanjutkan pekerjaanku..” ucapnya sambil kembali memandang layar laptop dan mengetik lagi.

Ran mengelus rambut Hyunseung, “Eomma sudah berhasil menemukannya, Hyunseung..”

“Hm? Nugu?” Tanya Hyunseung sambil tetap mengetik.

“Kim Hyuna..” jawab Ran.

Hyunseung terpaku mendengar nama Hyuna, lalu memandang ibunya tak percaya.

Ran tersenyum, “Eomma tau kau mencintainya Hyunseung..”

“Eomma, na….”

“Kau selalu tersenyum semenjak Hyuna ada disini Hyunseung.. eomma tau itu..” ucap Ran yang langsung mematahkan ucapan Hyunseung.

Hyunseung diam sejenak, lalu memalingkan wajahnya. “Aku akan melanjutkan ini, eomma..” ucapnya. Lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.

Ran mengelus bahu Hyunseung, “Keure, jika kau ingin bertemu dengannya lagi. kau bisa bertanya dimana dia..” ucapnya, lalu berbalik dan keluar dari kamar putra semata wayangnya.

Begitu pintu di tutup ibunya dari luar, Hyunseung duduk bersandar dan terdiam sesaat. Ia benar-benar tidak tau apa yang harus ia lakukan sekarang. Selama setahun ini ia tak tau apa ia masih memiliki perasaan atau tidak.

 

=Rumah Keluarga Heo=

Perdana Menteri Heo mengumumkan pengunduran dirinya hari ini, ia tidak lagi mengabdi sebagai pemimpin sementara ia sendiri telah gagal menjaga putrinya. Ketika kembali ke rumah adalah saat-saat paling berat baginya.

“Anda sudah pulang Tuan?” sapa pelayan sambil membungkuk sopan.

“Ne..” jawab Perdana Menteri Heo, “Bagaimana istriku? Sudah ada perkembangan?” tanyanya.

Pelayan itu menunduk menyesal, “Nyonya tetap tidak mau bertemu siapa pun. Bahkan perawat juga tidak bisa mendekatinya. Nyonya terus saja berteriak dan memanggil nama nona Gayoon..” ucapnya sedih.

Perdana Menteri Heo diam sejenak, “Hmm.. begitu.. Aku akan menemuinya..” ucapnya, lalu melangkah menuju kamar Gayoon, dimana Minah terus mengurung dirinya. Tangannya terulur dan membuka pintu, lalu melangkah ke dalam. Ia sempat berhenti beberapa saat ketika melihat Minah duduk di meja belajar Gayoon sambil memeluk sebuah boneka yang di pasangkan sweater putrid mereka. meskipun berat, ia melangkah menghampiri istrinya dan berlutut di depan wanita itu sambil menatapnya. “Yobo, aku kembali..”

Minah menatap boneka itu sambil mengelus kepalanya lembut, bibirnya membentuk senyuman. “Gayoon-i..” ucapnya gemas.

Perdana Menteri Heo menatap Minah sedih, “Minah..” panggilnya sambil memegang tangan wanita itu.

Minah tertegun seseorang memagang tangannya dan memandang siapa orang itu, beberapa saat ia hanya menatap suaminya tanpa ekspresi.

Perdana Menteri Heo tersenyum, “Aku sudah pulang..”

Minah menarik tangannya dari pegangan suaminya dan berdiri, lalu menatap boneka di tangannya dan kembali menatap suaminya.

Perdana Menteri Heo berdiri dengan tatapan bingungnya, “Minah.. tenang..”

“Neo!! Kau membunuh Gayoonku!! Kau pembunuh!! PEMBUNUH!!!” teriak Minah histeris. Lalu memeluk boneka di tangannya erat, “Aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya lagi! pergi!!! Pergi!!! Pergi kau pembunuh!!!” teriaknya.

Perdana Menteri Heo menatap Minah menyesal, “Minah..”

“Gayoon-a.. eomma miane.. Sssh.. uljima, eomma akan menjagamu.. ssssh..” ucap Minah sambil menimang boneka di tangannya.

 

=Kampung Halaman Dayom=

“Annyeonghaseo halmoni..” sapa Hyuna sambil berlalu.

“Aigoo.. Hyuna-a, mampirlah.. halmoni membuat kue beras..” ucap seorang nenek itu memanggil Hyuna.

Hyuna tersenyum lebar, “Aku harus segera pulang halmoni, lain kali aku akan mampir..” ucapnya sambil membungkuk sopan dan terus berjalan. Tak jauh dari rumahnya, ia berhenti melangkah karena melihat seseorang berdiri memandangnya canggung.

“Annyeonghaseo, Agassi..” sapa Jina canggung.

Hyuna diam sejenak sambil memandang kebawah, lalu kembali melangkah melewati Jina tanpa mengatakan apa pun.

Jina berbalik dan menahan tangan Hyuna, “Agassi..” ucapnya memohon.

Hyuna berhenti namun tak memandang Jina, lalu menarik tangannya perlahan. “Siapa yang kau panggil Agassi?” ucapnya, lalu melangkah pergi lagi.

“Agassi..” panggil Jina lagi.

Langkah Hyuna kembali terhenti, hatinya terasa sakit mengingat gadis yang sangat ia percayai itu telah menghancurkan hati ibunya.

Jina memandang Hyuna sedih, “Agassi, semuanya hanya salah paham.. Sekretaris Kim, aniya.. Kim Junsu-ssi tidak pernah mencintaiku.. dia mencintai ibumu dan kau.. Hanya kalian..” ucapnya berusaha menjelaskan.

Hyuna diam sejenak, “Aku tidak ingin mendengarnya lagi..” ucapnya, lalu berbalik menatap Jina. “Ibuku tidak tau kau adalah selingkuhan Sekretaris Kim, jangan pernah muncul di hadapannya…” ucapnya, lalu kembali berbalik dan melangkah pergi.

Jina menatap Hyuna penuh penyesalan, “Cesonghamida, Agassi..” gumamnya.

 

 

<<Back                Next>>

Advertisements

14 thoughts on “I Choose To Love You [Chapter 9]

  1. huhu.. gayoon.. knp kamu bunuh diri?? duuhh.. kayaknya setelah hyuna pergi makin banyak masalah deh.. :\ Hyunseung juga jadi dingin banget, kayak kagak punya perasaan 😦
    next author~~

  2. Kisahnya bikin penasaran banget, selalu nantiin FF hyuna hyunseung di blog ini lho , ♥♥♥♥ banget sama ffnya , next author~

  3. Gayoon nya bunuh diri,, kasian…
    Hyunseung jadi orang yang engga punya perasaan..

    Ran menatap Hyunseung sedih, “Kemana senyumanmu Seung-i? eomma sudah sangat lama tidak mendengarnya..” ucapnya.

    Dibagia yang ini kayaknya typo deh author |^
    Soalnya, emang senyuman bisa di dengar?

  4. Onnie,Daebak FFnyaaa!! Sama aku juga udah baca ff ini dari part1-9 jdi commentnya sekalian yaaaah:D,onnie cepat cepat lanjutin juseyoooo,aku udah dari dulu suka sama ff onnie dri jaman hannasong.blogspot hehehe,kalau nyari ff troublemaker pasti nyari langsung kesini hehehe:D

  5. Thor, next’nya dong dah penasaran bgt, setiap waktu visit visit blog ini, nunggu postingan baru wkwkkwkwks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s