Chapter · Cube

I Choose To Love You [Chapter 8]

8

I’m Broken—

 

Sepulang sekolah Hyuna memutuskan untuk tidak kembali ke mansion keluarga Jang. Ia merasa tak sanggup lagi bertemu Hyunseung dan Ran. Ia masuk ke pintu depan rumahnya dan melepaskan sepatu, lalu mengenakan sendal rumah dan melangkah masuk dengan wajah lesu, ia benar-benar tidak tau apa yang harus ia katakan pada ibunya. Namun begitu ia masuk ke ruang tengah, ia terkejut melihat Junsu melemparkan baju-baju Dayom ke lantai sementara ibunya menangis berlutut di lantai.

“Yobo.. kumohon jangan usir kami.. Aku tidak akan mengatakan apa pun tentang hubunganmu dengan gadis itu, aku sama sekali tidak akan membahasnya. Tapi kumohon jangan tendang aku dan Hyuna dari hidupmu..” mohon Dayom sambil memegang tangan Junsu.

Junsu menatap Dayom yang berlutut di lantai tajam, “Seharusnya aku melakukan ini sejak pertama aku mengetahui perkhianatanmu!!” ucapnya sambil menarik tangannya dengan kasar.

Dayom tetap mempertahankan genggaman tangannya, “Jebal, yobo.. Hyuna akan terluka jika kau melakukan ini.. Kumohon..”

Junsu menatap Dayom tajam dan tersenyum sinis, “Bagaimana rasanya Dayom? Sakit? Seperti ini yang kurasakan ketika mengetahui putri yang kucintai bukan darah dagingku!!” serunya sambil menyentak tangannya hingga Dayom terhempas ke karpet.

“Ahhhhk!!” erang Dayom ketika membentur karpet, saat itu ia baru menyadari Hyuna berdiri di sisi lain ruangan memperhatikan mereka dengan bulir air mata berjatuhan. “Hyu-Hyuna..” ucapnya sambil bergerak duduk.

Junsu tertegun melihat Hyuna. Hatinya terasa sangat sakit melihat gadis itu terluka.

Hyuna menatap ibunya sedih. Lalu melangkah menghampiri ibunya dan berlutut di hadapan ibunya, “Eomma gwenchana?” tanyanya pelan.

“Eo-eomma.. Eomma gwenchana Hyuna. Appa hanya sedang emosi.. Jangan dengarkan ucapannya… Kau mengerti?” ucap Dayom sambil mengelus kepala Hyuna.

Hyuna menatap ibunya sedih, lalu memaksakan bibirnya membentuk senyuman. ‘Eomma, ayo kita pergi..” ucapnya pelan.

Dayom tertegun mendengar ucapan Hyuna, “Hyuna-a?”

Junsu ikut tertegun mendengar ucapan Hyuna.

Hyuna berusaha menahan tangisnya sambil memunguti baju-baju ibunya di lantai.

Dayom menatap putrinya sedi dan menahan tangan putrinya, “Aniya, rumah kita disini.. Kita tidak perlu pergi kemana pun..” ucapnya.

Hyuna menghela nafas dalam dan memandang ibunya, “Eomma, disini bukan tempat kita. Kita harus pergi..”

Dayom menggeleng pelan, “Aniya..” ucapnya, lalu memandang Junsu. “Yobo.. katakan sesuatu. Kau melukai hati putri kita..” ucapnya memohon.

Junsu tidak tau harus mengatakan apa dan memalingkan wajahnya.

“Eomma, jangan memohon padanya.. Dia bukan ayahku..” ucap Hyuna pada ibunya.

Dayom menatap Hyuna tak percaya, “Hyuna-a..”

Junsu tertegun mendengar ucapan Hyuna dan menatap gadis itu tak percaya.

Hyuna memegang kedua tangan ibunya, “Khaja eomma..” ucapnya pelan.

Dayom menangis dan memeluk putrinya erat, “Eomma miane Hyuna-a..” ucapnya menyesal.

Malam itu.

Jina melangkah masuk ke ruang tengah dan melihat Junsu duduk disana seorang diri. “Sekretaris Kim..”

Junsu memandang Jina, “Kau sudah datang?”

Jina membungkuk sopan, “Aku kemari karena keluarga Jang menghubungiku. Mereka berkata tidak bisa menghubungi Hyuna. Apakah dia ada disini?”

Junsu memandang kebawah dan menghela nafas berat, “Dia pergi bersama Dayom..” ucapnya pelan.

Jina tertegun, “Ne? Dan anda membiarkannya begitu saja?” tanyanya tak percaya.

“Lalu aku harus memohon agar mereka tetap disini setelah mengusirnya seperti itu?” tanya Junsu tanpa memandang Jina.

Jina menatap Junsu kecewa, “Aku tidak tau kau seorang pengecut, Sekretaris Kim..” ucapnya.

Junsu mengangkat wajahnya memandang Jina, “Wae? Dayom sudah pergi, bukankah ini yang kita inginkan?”

Mata Jina menyipit, “Kita? Kau bahkan tidak pernah benar-benar mencintaiku dan kau mengatakan itu?!”

Junsu menatap Jina tak mengerti dan berdiri, “Apa maksudmu? Aku mencintaimu..”

“Ani.. Kau hanya cara untuk membalas apa yang telah istrimu lakukan padamu..” ucap Jina, ucapannya langsung membungkam Junsu. “Kau tidak pernah mencintaiku… Kau mencintai keluargamu. Hanya mereka..” ucapnya, lalu berbalik dan berjalan cepat menuju pintu.

“Pengawal Choi..” panggil Junsu.

Jina berhenti, namun tidak berbalik. Hatinya sangat sakit mengetahui Junsu membiarkan semuanya berjalan seperti ini.

“Jika kau mengetahuinya, kenapa kau membiarkanku melakukannya?” tanya Junsu tak mengerti.

Jina berbalik menatap Junsu, “Agar kau mengerti, kau tidak pernah akan bisa mencintai wanita lain selama kau masih merasa bersalah dan dendam pada istrimu.” Ucapnya, kemudian kembali melangkah pergi.

Junsu terpaku di tempatnya memikirkan ucapan Jina. Perlahan ia melangkah mundur dan kembali terduduk di sofa.

 

=Sebuah Bis menuju luar Kota=

Hyuna duduk tenang memandang keluar jendela bis, lalu menoleh pada ibunya yang terlihat masih shock dengan kejadian tadi. “Eomma..”

Dayom memandang Hyuna, tampak ia sangat menyesal dengan semua yang telah terjadi.

Hyuna memaksakan bibirnya membentuk senyuman, “Gwenchana eomma, aku tidak butuh apa pun saat eomma ada disisiku..”

Dayom tersentuh mendengar ucapan Hyuna, bibirnya membentuk senyuman dan mengangguk. “Ne..”

Hyuna menyandarkan kepalanya ke bahu Dayom dan menggenggam tangan ibunya, “Mulai sekarang kita akan memulai semuanya lagi. Hanya eomma dan aku..”

“Ne..” jaawb Dayom menahan kesedihannya, namun disisi lain ia merasa lega semuanya berjalan dengan baik.

 

=Hari Pemilihan=

Hyunseung berdiri di depan cermin dengan jas yang melapisi kemejanya, ia tidak tau harus melakukan apa untuk menghentikan semua ini. Namun sudah terlambat untuk membatalkannya. Ia menghela nafas dalam dan melangkah keluar dari kamarnya. Ia bahkan tidak bisa menjabarkan perasaanya saat ini.

Sebuah Hotel Mewah.

“Kau sudah siap, Hyunseung?” tanya Ran sesaat sebelum mereka memasuki ball room tempat yang dijadikan untuk mengumumkan keputusan Hyunseung. Di dalam sana sudah berkumpul rekan kerja dan wartawan untuk mengabadikan acara mereka.

Hyunseung mengangguk, “Ne, eomma..” ucapnya pelan.

Sangwoo tertawa kecil melihat ekspresi Hyunseung, “Jangan gugup Hyunseung, kau tidak datang untuk cabut gigi..” ucapnya lucu.

Hyunseung menatap ayahnya aneh.

Ran tertawa kecil dan memukul bahu suaminya pelan, “Yobo, itu saat dia masih kecil. Sekarang sudah tidak lagi..”

Hyunseung menghela nafas dalam dan memutar bola matanya kesal.

“Presdir Jang, anda bisa masuk sekarang..” ucap seorang gadis yang mengatur acara itu.

“Oh.. Ne..” ucap Sangwoo.

Ran berdiri diantara Sangwoo dan Hyunseung dengan tangan menggandeng putranya. Pintu kembar di depan mereka terbuka, terdengar alunan musik merdu dan tepuk tangan dari tamu undangan ketika mereka melangkah masuk. Kilatan blits kamera juga langsung menerpa mereka. Mereka langsung menempati sebuah meja bundar paling depan yang di diperuntukan untuk mereka.

Keluarga Heo yang duduk di meja bundar di sisi kiri berdiri dan membungkuk sopan pada keluarga Jang, begitu juga sebaliknya.

Ran memandang ke meja bundar disisi kanan dan tertegun tidak melihat seorang pun dari keluarga Sekretaris Kim.

Sangwoo juga tertegun melihat calon besan mereka tidak ada, “Hm? Mereka belum datang?” ucapnya bingung.

Hyunseung mengerutkan dahi melihat tidak seorang pun dari keluarga Hyuna muncul.

Sangwoo memandang Junhyung yang berdiri di pinggir ruangan dan memberi isyarat agar pria itu menghampirinya.

Junhyung melangkah cepat menghampiri Sangwoo dan membungkuk sopan, “Anda memanggil saya Presdir Jang?”

“Asisten Yong, bisakah kau menghubungi keluarga Kim? Tanyakan apakah mereka terkena macet atau bagaimana..” ucap Sangwoo.

“ne, Presdir Jang..” ucap Junhyung dan melangkah keluar ruangan itu.

“Sepertinya keluarga Kim masih belum muncul..” ucap pembawa acara sambil memandang keawah meja kosong itu. “Bagaimana Presdir Jang? Apakah kita teruskan saja acaranya?”

Sangwoo memandang ke pintu dan memandang istrinya yang terlihat risau, “Bagaimana yobo?” tanyanya pelan.

“Mmm.. eoteokhe? Apa kita bisa menunggu 10 menit lagi?” tanya Ran.

“Keure..” ucap Sangwoo dan memandang pembawa acara, “Tunda sampai 10 menit.. Mungkin mereka masih di perjalanan..” ucapnya.

“Baik Presdir Jang..” ucap pembawa acara dan mengumumkan keputusan Presdir Jang.

Perdana Menteri Heo mendengus kesal, “Apa menurut mereka waktuku bisa di habiskan begitu saja?” gumamnya.

Gayoon memandang ayahnya dan tersenyum, “Tunggu sebentar lagi, appa.. Mungkin mereka mendapat hambatan di jalan..” ucapnya.

Perdana menteri Heo mengambil gelas berkaki panjangnya dan meneguk air disana untuk menenangkan dirinya.

Minah yang duduk di sebelah Gayoon memandang putrinya, “Gayoon-a, apa kau tau kenapa mereka belum tiba?”

“Aniya eomma, bagaimana mungkin aku tau..” ucap Gayoon, lalu melirik Hyunseung yang terlihat duduk tanpa ekspresi.

Tak lama Junhyung kembali dan menghampiri Sangwoo, “Presdir Jang, Sekretaris Kim menyerahkan surat mengunduran dirinya tadi pagi..” bisiknya.

Sangwoo terkejut dan menatap Junhyung tak percaya, “Mwo?”

Junhyung mengangguk, “Ne, sajangnim..”

Ran menyadari perubahan ekspresi Sangwoo, “Waeyo yobo?” tanyanya.

“Lalu, bagaimana dengan Hyuna? Kenapa dia tidak datang?” tanya Sangwoo ingin tau.

“Mmm.. Hyuna-ssi dan ibunya pergi meninggalkan rumah mereka kemarin malam. Tidak ada yang tau kemana mereka pergi..” jawab Junhyung.

Sangwoo menatap Junhyung kaget, lalu mengangguk mengerti. “Ne, kau bisa pergi..” ucapnya.

Junhyung membungkuk sopan dan melangkah pergi.

“Yobo, ada apa? Apa terjadi sesuatu pada keluarga Kim?” tanya Ran ingin tau.

Sangwoo menghela nafas dalam dan memandang keluarganya, “Sepertinya keluarga Kim tidak akan datang. Kita mulai saja acaranya..”

Ran tertegun, “Ne? Wae? Hyuna bagaimana?”

Sangwoo memandang Ran sejenak.

“Presdir Jang, 10 menit sudah berlalu..” ucap pembawa acara.

Sangwoo memandang pembawa acara dan mengangguk, “Mulai acaranya..” ucapnya.

“Yobo?” ucap Ran tak mengerti.

Hyunseung menyadari ada sesuatu yang tidak benar terjadi dan memandang ayahnya, “Waeyo abeutji?” tanyanya.

Sangwoo memandang Hyunseung, “Hyunseung, Keluarga Kim tidak akan datang. Dengan kata lain, mereka mengundurkan diri dari pemilihan ini. Pilihanmu satu-satunya hanya pada Gayoon. Dia bisa menjadi pendampingmu yang baik..” ucapnya.

Hyunseung menatap ayahnya tak mengerti.

“Yobo, apa yang sebenarnya terjadi? Katakan padaku..” ucap Ran ingin tau.

Sangwoo memandang Ran dan Hyunseung bergantian, “Hyuna dan ibunya pergi dari rumah mereka semalam…” ucapnya memulai, membuat istri dan putranya terkejut. “Dan Sekretaris Kim menyerahkan surat pengunduran dirinya pagi ini..”

“Ne? Omona… eoteokhe? Apa yang terjadi?” tanya Ran tak mengerti.

“Sudah, kita fokuskan saja pada acara ini..” ucap Sangwoo.

“Tapi, bagaimana dengan pilihanmu Hyunseung?” tanya Ran pada Hyunseung.

Hyunseung tidak bisa berpikir lurus. Ia memang tidak tau akan memilih Hyuna atau tidak, tapi ia berharap melihat gadis itu pagi ini.

Sementara itu di sebuah tempat.

Hyuna dan Dayom pergi ke kampung tempat ibunya di besarkan dulu sebelum pindah ke Seoul. Mereka menempati rumah tua milik orangtua ibunya yang telah meninggal. Meskipun tidak besar, mereka senang bisa bersama disana.

Dayom keluar dari dapur tradisional di rumah itu dan melangkah ke ruang tengah, satu-satunya ruangan yang cukup besar disana, bersama nampan berisi makanan. “Hyuna-a, ayo makan..” panggilnya dan meletakkan makanan tadi ke meja. Ia tidak mendengar jawaban Hyuna dan memandang ke arah pintu yang terbuka. “Hyuna-a?” panggilnya sambil bangkit dan melangkah ke pintu. Ia memandang ke kanan dan kiri mencari putrinya hingga melihat gadis itu berdiri di dekat kebun sambil memandangi langit dengan ekspresi sedih. Ia tau putrinya pasti sedih tidak datang ke acara pemilihan itu. “Hyuna-a..” panggilnya.

Hyuna tersadar dari lamunannya dan memandang kearah Dayom.

Dayom tersenyum, “Ayo makan..” panggilnya.

Hyuna tersenyum dan melangkah menghampiri ibunya.

Mereka duduk berhadapan di tempat tanpa kursi itu dan mulai menikmati masakan sederhana buatan Dayom.

“Eomma akan mulai menanam sayur-sayuran di kebun kita, jadi kita bisa menikmati sayuran segar setiap saat..” ucap Dayom memberitau rencananya.

Hyuna tersenyum, “Hmm… pasti sehat seperti itu.. Mmm.. kupikir kita juga harus pelihara ayam. Jadi kita bisa makan ayam sekali-sekali..” ucapnya.

Dayon tertawa kecil, “Ne..”

Hyuna kembali melanjutkan makannya. Meskipun tidak ada daging mahal, sup ikan yang perekornya bisa sampai ratusan won, ia senang mereka bisa menikmatinya bersama.

Dayom memandang Hyuna sedih, “Hyuna-a, apa kau sedih tidak datang ke acara pemilihan itu?”

Hyuna tertegun sesaat, lalu memandang ibunya. Bibirnya bergerak membentuk senyuman, “Aniya eomma, lagi pula Hyunseung oppa tidak mungkin memilihku..”ucapnya.

Dayom bisa melihat kenyataan yang bertolak belakang melalui tatapan putrinya, namun ia tidak ingin putrinya bersedih. Tangannya terulur dan mengelus punggung tangan putrinya. “Gwenchana, disini juga banyak pria baik dan tampan..”

Hyuna tertawa kecil, “Eomma.. aku tidak datang untuk mencari pria..” ucapnya malu.

Dayom tersenyum lebar, “Makan yang banyak, Hyuna-a..” ucapnya sambil membelai rambut putri semata wayangnya.

Hyuna mengangguk dan melanjutkan makannya lagi.

Kembali ke tempat pemilihan.

Hyunseung sudah berdiri di podium untuk mengatakan siapa pilihannya. Kilatan blits tak henti-henti terlihat dari kejauhan. Ia menghela nafas dalam dan memandang Gayoon yang tersenyum kearahnya. Lalu mengedarkan pandangannya. “Hari ini saya, Jang Hyunseung, putra dan pewaris tunggal dari hotel Jang. Akan memilih siapa yang akan menjadi pendamping hidup saya..” ucapnya memulai. Terlihat semua orang disana menatapnya penasaran. Matanya memandang ayah dan ibunya yang terlihat risau akibat berita tentang keluarga Kim. Ia diam sejenak untuk berpikir, lalu kembali mengedarkan pandangannya. “Seperti yang kalian lihat, keluarga Kim tidak ada disini. Mereka secara tidak langsung telah mengundurkan diri dari pemilihan ini..”

Gayoon melirik kearah ayahnya yang sekarang tersenyum mendengar ucapan Hyunseung, itu membuatnya senang.

“Dan, hanya ada putri dari keluarga Heo yang tersisa..”lanjut Hyunseung, “Seharusnya aku memilihnya..”

Senyuman Perdana Menteri Heo perlahan luntur dan menatap Hyunseung tak mengerti.

Gayoon tertegun mendengar ucapan Hyunseung.

“Oh.. apa yang akan dia katakan?” tanya Sangwoo pada Ran.

Ran menatap Hyunseung tak percaya.

Hyunseung memandang Gayoon, “Tapi aku tidak akan memilih siapa pun hari ini..” ucapnya.

Terdengar kericuhan dari tamu undangan karena ucapan Hyunseung.

Gayoon menatap Hyunseung tak percaya.

“Apa-apaan ini?!” tanya Perdana Menteri Heo marah.

Sangwoo langsung berdiri, “Maafkan putraku, Perdana Menteri Heo. Sepertinya ia salah berbicara..” ucapnya menyesal, lalu memandang Hyunseung. “Jang Hyunseung!”

Hyunseung tetap terlihat kukuh pada jawabannya dan menatap Perdana Menteri Heo, “Perdana Menteri, Heo..” ucapnya, semua orang terdiam dan memandangnya. Termasuk keluarga Heo. “Putrimu, bukan alat untuk sukses..” ucapnya, lalu membungkuk sopan dan melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.

Perdana Menteri Heo menatap Hyunseung tak mengerti, lalu menatap Gayoon yang kini berlinangan air mata di tempatnya.

“Ya! Jang Hyunseung!!” panggil Sangwoo dan Ran yang langsung mengikuti Hyunseung.

 

 

<<Back                Next>>

Advertisements

5 thoughts on “I Choose To Love You [Chapter 8]

  1. huft.. untung seungie gak milih siapa2… tapi jadi kasian ama Gayoon.. 😦 *reader yg aneh -_-*
    apa bener tuh.. junsu emg cuman sengaja selingkuh ama jina?? terus.. appa aslinya Hyuna siapa donk??
    hmm.. next~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s