Chapter · Cube

I Choose To Love You [Chapter 7]

7

—We Are Broken—

 

Hyuna keluar dari taxi dan melangkah cepat menuju pintu depan, namun sebelum ia mencapai pintu, ia melihat ayahnya melangkah di parkiran. Dengan cepat ia berlari menghampiri ayahnya, “Appa..”

Junsu berhenti dan berbalik, dahinya berkerut melihat Hyuna. “Apa yang kau lakukan disini?”

Hyuna memegang jas yang di kenakan ayahnya dan menatapnya sedih, “Appa, kenapa appa melakukan ini pada eomma? Wae???” tanyanya, bulir air mulai berjatuhan dari matanya.

Junsu menghela nafas dalam dan melepaskan tangan Hyuna dari jasnya, “Jangan kekanak-kanakan, Hyuna.. Pulanglah..” ucapnya dingin, lalu melangkah pergi.

“Appa..” panggil Hyuna sambil menarik lengan Junsu, “Jika appa membenciku, jangan perlakukan eomma seperti ini.. Aku akan pergi! Aku akan menghilng hingga appa tidak perlu melihatku lagi!! Jika perlu aku akan mati hingga tidak akan ada yang mencariku!!”

Junsu terdiam sejenak, lalu memandang Hyuna. Melihat gadis itu menangis sejujurnya membuatnya terluka juga, namun pengkhianatan Dayom sangat menyakitkan baginya. “Lakukan apa pun yang kau inginkan..” ucapnya, lalu menyentak tangan gadis itu.

“Appa.. jebal..” mohon Hyuna sambil menangis dan kembali menarik tangan ayahnya.

Junsu berhenti ketika merasakan Hyuna memeluk lengannya, gadis itu juga berlutut sambil menggenggam tangannya.

“Jebal appa.. ini salahku.. semua ini salahku.. maafkan aku appa..” mohon Hyuna.

Junsu memejamkan matanya menahan emosi yang mulai menguasai dirinya. Tak lama ia kembali membuka matanya dan memandang Hyuna, kali ini ia tak bisa menahan dirinya lagi. Dengan lembut ia berlutut dengan satu kaki di hadapan gadis itu dan menatapnya dalam, “Bangunlah.. Ini bukan salahmu..” ucapnya sambil mengangkat Hyuna bangkit berdiri.

“Appa.. Eomma tidak bermaksud untuk mengkhianatimu.. eomma hanya ingin memberikanmu keturunan.. jebal appa..” mohon Hyuna.

Junsu diam sejenak menatap Hyuna, “Pulanglah..” ucapnya, lalu melangkah menuju mobilnya.

“Appa..” panggil Hyuna sambil mengikuti Junsu.

Junsu tiba di mobilnya dan langsung membuka pintu, lalu bergerak masuk.

Hyuna menahan pintu sebelum Junsu menutupnya, “Appa, aku…” ucapannya terputus melihat ada seorang gadis yang sudah duduk di sebelah ayahnya.

Junsu tertegun Hyuna melihat gadis itu, “Hyuna, kita bicara lain kali..” ucapnya sambil mendorong gadis itu agar melepaskan pintu.

Hyuna menatap gadis yang memalingkan wajah dari pandangannya itu, “Nuguseyo?” tanyanya.

“Hyuna!!” tegas Junsu.

“NUGUSEYO?!!!” seru Hyuna pada gadis itu.

Akhirnya gadis berambut panjang itu memutar tubuhnya menghadap Hyuna dan menatapnya menyesal.

Hyuna terpaku melihat siapa gadis itu. Ia berharap matanya salah melihat, namun setelah beberapa detik wajah itu tidak berganti menjadi wajah lainnya.

Junsu tak bisa mengatakan apa pun lagi setelah Hyuna melihat siapa gadis itu.

“Agassi..” ucap Jina pelan.

Hyuna menatap Jina tak percaya, lalu memandang ayahnya. “Appa..”

“Agassi, aku bisa menjelaskannya.” Ucap Jina sambil membuka pintu disisinya dan keluar.

Hyuna masih menatap ayahnya tak percaya.

Jina menghampiri Hyuna dan memegang kedua bahu gadis itu, “Agassi, dengarkan aku..”

Hyuna memandang Jina tak percaya. Hatinya terasa sangat sakit dan hancur karena orang-orang yang ia sayangi adalah orang-orang yang menghancurkan ibunya.

“Agassi..” Jina kehilangan kata-kata untuk menjelaskannya pada Hyuna melihat tatapan terluka gadis yang sudah ia jaga sejak kecil itu.

Hyuna memalingkan wajahnya dan melangkah pergi.

“Agassi, tunggu dulu…” ucap Jina sambil menahan tangan Hyuna.

Hyuna mendorong tangan Jina, “Jebal…” ucapnya pelan, “Aku tidak mau melihatmu lagi..” ucapnya tertahan, lalu melangkah pergi.

Jina hanya bisa memandangi nona mudanya menyesal.

 

=Mansion Keluarga Jang=

Mata Gayoon membesar membaca data yang ia temukan mengenai keluarga Hyuna. Tangannya dengan cepat mengambil ponsel dan menghubungi sekretaris ayahnya yang memberikannya berkas itu.

“Ne, Heo Gayoon-ssi..” sapa sekretaris Jeon.

“Sekretaris Jeon, apakah data yang kau berikan ini benar?” tanya Gayoon tak percaya.

“Ne.. Semuanya benar.. Itu adalah rahasia yang hanya di ketahui oleh beberapa orang tertentu..” jawab sekretaris Jeon.

“Apa Hyuna… dia sudah tau?” tanya Gayoon hati-hati.

“Ne, Heo Gayoon-ssi..” jawab sekretaris Jeon.

“Ne, aku mengerti. Terima kasih..” ucap Gayoon, lalu memutuskan telepon. Ia terdiam beberapa saat memikirkan apakah ia benar-benar akan melakukan apa yang ia rencanakan. Matanya menatap berkas di tangannya. Tangannya tampak gemetaran sekarang.

 

=Makan Malam=

Ran menyadari Hyunseung selalu melirik ke satu arah sembari menikmati makan, lalu memandang arah Hyuna. Ia tertegun menyadari gadis itu terlihat lesu dan pucat, juga tidak memakan makanannya. “Omo.. Hyuna-a, kau sakit?”

Hyuna memandang Ran, semua orang sekarang memandangnya. “Aniya eommanim..” jawabnya pelan dan tersenyum tipis.

“Tapi kau terlihat pucat sekali Hyuna..” ucap Sangwoo khawatir.

“Gwenchana abeunim..” ucap Hyuna dan memandang makanannya.

Gayoon tidak memandang Hyuna beberapa saat, lalu memandang Hyunseung yang terlihat memandang rivalnya khawatir. Ia menghela nafas dalam dan kembali memandang makanannya. Saat ini ia menyadari kalau kesempatannya sangat kecil untuk mendapatkan Hyunseung. Itu berarti ia harus melakukan sesuatu.

 

=Malamnya=

Hyuna berbaring miring di tempat tidurnya sambil memandang kosong ke depan. Ia benar-benar tak percaya orang yang selalu menjaganya adalah orang yang merusak kebahagiaan ibunya.

Gayoon keluar dari kamarnya dan melihat Hyunseung melangkah menuju kamar Hyuna, ia tau pasti pria itu khawatir pada rivalnya itu. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Dengan cepat ia melangkah maju, “Hyunseung-ssi?” panggilnya seperti tidak sengaja melihat pria itu.

Hyunseung berhenti dan memandang kebelakang. “Oh.. Gayoon-ssi..”

“Kau ingin melihat keadaan Hyuna?” tanya Gayoon.

“Mmm.. ne, sepertinya dia tidak sehat tadi..” jawab Hyunseung pelan.

Gayoon tersenyum, “Sebaiknya jangan sekarang. Tadi aku sudah memeriksanya, tapi dia tidur. Jadi biarkan saja dulu. Kau bisa bertemu dengannya besok pagi..”

Hyunseung tertegun, “Ne? ohh.. keure..” ucapnya, ia melirik kearah kamar Hyuna sekali lagi.

“Hyunseung-ssi, kau mau minum teh bersamaku?” tanya Gayoon dengan senyuman manisnya.

Hyunseung diam sejenak untuk berpikir, “Mmm.. keure..” jawabnya.

Gayoon melangkah duluan menuju tangga dengan perasaan riang.

Hyunseung duduk menunggu Gayoon yang menyiapkan dua cangkir teh untuk mereka. bibirnya membentuk senyuman ketika gadis itu menghampirinya sambil tersenyum.

“Ini..” ucap Gayoon sambil meletakkan cangkir di depan Hyunseung dan duduk di hadapan pria itu.

“Gamshamida, Gayoon-ssi..” ucap Hyunseung, lalu meminum teh di cangkirnya.

Gayoon ikut meminum teh di cangkirnya. Suasana terasa canggung beberapa saat karena tak ada pembicaraan yang dimulai. Akhirnya ia memberanikan diri untuk berbicara, “Mmm.. Hyunseung-ssi, hari pemilihan tinggal beberapa hari lagi..” ucapnya memulai.

“Ne..” ucap Hyunseung.

Gayoon memandang cangkirnya sambil tersenyum, “Kurasa kau sudah menentukan pilihanmu..”

Hyunseung memandang cangkirnya canggung.

Gayoon memandang Hyunseung yang terlihat tidak nyaman dengan pertanyaannya, “Cesonghamida, aku membuatmu tidak nyaman..” ucapnya.

Hyunseung memandang Gayoon dan tersenyum tipis, “Aniya, gwenchana..” ucapnya canggung.

“Mmm.. kuharap kau memilih orang yang memang kau inginkan, Hyunseung-ssi..” ucap Gayoon pelan.

Hyunseung mengangguk, “Ne..”

“Keurom, aku akan kembali ke kamarku..” ucap Gayoon sambil bangkit, lalu melangkah keluar dari dapur bersama cangkir teh-nya.

Hyunseung masih berdiam diri di tempatnya sambil memegang cangkir di tangannya. lalu meneguk isinya lagi dan memandang kearah jendela. Matanya menyipit memikirkan hari penentuan yang tinggal beberapa hari lagi.

 

=Dua Hari Sebelum Pemilihan=

Hyunseung melihat Hyuna yang melangkah menuju kamar dengan wajah lesu, ia memandang sekitar dan tak menemukan siapa pun. Lalu melangkah menghampiri gadis itu. “Hyuna-ssi..”

Hyuna berhenti dan memandang ke belakang, “Oh.. annyeonghaseo oppa..” ucapnya sambil membungkuk sopan.

Hyunseung memandang sekitar lagi, “Kau hanya sendiri? Dimana penyawal Choi?”

Hyuna menunduk sedih, mengingat Jina membuat hatinya semakin sakit. “Mmm.. pengawal Choi harus melakukan sesuatu..” jawabnya pelan.

“Hmm.. begitu..” ucap Hyunseung sambil mengangguk mengerti. Lalu memperhatikan wajah Hyuna, “Sepertinya kau tidak sehat beberapa hari ini, wae?”

“Hm? Ohh.. ani.. na gwenchana..” jawab Hyuna dan memaksakan bibirnya untuk tersenyum.

Hyunseung memandang Hyuna tak mengerti beberapa saat, lalu membukakan pintu kamar gadis itu. “Masuk dan beristirahatlah..” ucapnya.

Hyuna tersenyum karena sikap Hyunseung, “Gumawoyo oppa..”

Hyunseung tersenyum, “Ne..”

Hyuna melangkah masuk ke kamarnya, lalu menutup pintu.

Hyunseung merasa lebih baik setelah melihat Hyuna tersenyum. Ia berbalik dan melangkah menuju tangga.

“Naaah.. hari pemilihan di depan mata..” ucap Ran membuka pembicaraan ketika makan malam. ia tersenyum memandang kedua gadis di sisi lain meja, “Kalian pasti sudah tidak sabar ingin tau keputusannya kan?” ucapnya.

Hyuna dan Gayoon tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Ran.

Ran memandang Hyunseung, lalu kembali memandang gadis-gadis tadi. “Eomma harap siapa pun yang terpilih nanti akan menjadi istri dan menantu yang baik bagi Hyunseung,..” ucapnya.

“Ne, eommanim..” ucap Hyuna dan Gayoon hampir serentak.

Hyunseung memandang makanannya lagi. namun entah mengapa bibirnya membentuk senyuman ketika mengingat dua hari lagi ia akan memutuskan siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya.

Gayoon melirik Hyunseung tersenyum, bibirnya ikut membentuk senyuman melihatnya. Namun, senyuman itu memudar melihat pria itu melirik Hyuna. Ia kembali memandang makanannya dan menghela nafas dalam.

 

=Taman Belakang=

Hyunseung duduk bersama Hyuna sambil memandangi langit malam, ia memandang gadis di sebelahnya. “Kau gugup menjelang hari pemilihan itu?”

Hyuna memandang Hyunseung sambil tersenyum, “Ne..”

Hyunseung tersenyum dan memandang langit lagi, “Wae? Itu juga bukan penentuan hidupmu..”

Hyuna diam sejenak karena mengingat permintaan ibunya, lalu kembali memandang langit malam.

Hyunseung memandang Hyuna yang tidak menjawab, ia tertegun gadis itu terlihat sedih. “Wae? Apa menjadi bagian keluarga Jang sangat penting bagimu?” tanyanya heran.

Hyuna tersenyum sedih, “Ani.. Tapi ibuku ingin agar aku bisa menjalani hidup yang lebih baik jika menjadi menantu keluarga Jang..”

Hyunseung memandang Hyuna tak mengerti, “Wae?”

Hyuna tertawa kecil dan memandang Hyunseung, “Aku percaya padamu, oppa..” ucapnya.

Hyunseung mengerutkan dahi, “Kenapa tiba-tiba mengatakan itu?”

Hyuna menatap kedua mata Hyunseung bergantian, “Karena..” ia berhenti sejenak, “..disaat yang lainnya mengecewakanku, oppa memberikan celah untukku bernafas lagi..” ucapnya pelan.

Hyunseung tertegun mendengar ucapan Hyuna, perlahan bibirnya membentk senyuman. “Keurom, percayalah padaku..” ucapnya.

Saat itu, Gayoon menuruni tangga untuk menuju ke dapur. Ia berhenti melihat Ran berdiri di pintu belakang. Dahinya berkerut melihat wanita itu berbalik dengan senyuman lebar di wajahnya dan berjalan pergi tanpa menyadari dirinya berdiri disana. Ia melangkah turun dan menghampiri pintu. Ia tertegun melihat Hyunseung dan Hyuna duduk di sana sambil tersenyum satu sama lain. Dan baru saja, ia melihat Ran terlihat senang kedua orang itu bersama.

“Bagi pejuang Jepang, kegagalan dapat di bayar dengan harakiri. Kau ada di posisi itu..”

Gayoon menggeleng pelan mengingat ucapan ayahnya itu. ia segera berbalik dan melangkah cepat menuju tangga.

 

=Keesokan Harinya=

Tok! Tok! Tok!

Hyuna yang sudah bersiap dengan baju sekolahnya memandang pintu kamar, “Ne..” jawabnya sambil berlari kecil ke pintu, lalu membukanya. Ia sempat tertegun sesaat melihat Gayoon. “Oh, Gayoon-ssi..”

Gayoon tersenyum, “Bisakah aku berbicara denganmu sebentar?”

“Keure, masuklah..” ucap Hyuna sambil memberikan ruang agar Gayoon melangkah masuk, lalu kembali menutup pintu.

Gayoon berhenti di tengah ruangan dan memandang Hyuna, “Hyuna-ssi, besok adalah hari pemilihannya. Kuharap tidak ada dendam diantara kita..” ucapnya pelan.

Hyuna tersenyum, “Ne, Gayoon-ssi..”

Gayoon tersenyum manis, “Keurom, kurasa ada yang tidak adil di pemilihan ini..”

Hyuna memandang Gayoon bingung, “Ne? Tidak adil bagaimana?”

Gayoon mengeluarkan isi berkas yang ia pegang, lalu memberikannya pada Hyuna.

Hyuna mengambil kertas-kertas itu dan membacanya beberapa saat. Tak lama matanya membesar dan menatap Gayoon tak percaya, “Gayoon-ssi?”

“Aku menunjukkan diriku yang asli, keluarga Jang mengenal keluargaku luar dan dalam. Aku sama sekali tidak memiliki niat buruk pada mereka. Tapi kau yang muncul dengan drama-mu mendapat perhatian lebih karena tidak memperlihatkan dirimu yang sebenarnya. Itu tidak adil, Hyuna-ssi..” ucap Gayoon tenang.

Hyuna masih menatap Gayoon tak percaya, “Aku? Aku selalu memperlihatkan diriku apa adanya Gayoon-ssi..”ucapnya.

“Jeongmal? Apakah dengan berencana menyembunyikan fakta bahwa kau adalah anak Haram ibumu dan ayahmu berselingkuh bersama pengawal setiamu, adalah ‘apa adanya’?” tanya Gayoon.

Hyuna semakin terkejut mendengar ucapan Gayoon, “Ga-Gayoon-ssi? Darimana kau mengetahui semua itu?”

Gayoon tersenyum, “Aku hanya ingin memastikan aku kalah dari gadis yang lebih muda secara adil, jadi aku mencari tau tentang keluargamu. Dan aku menemukan ini..”

Hyuna memandang kertas-kertas itu dan kembali memandang Gayoon, “Aku hanya melakukan apa yang keluargaku inginkan.. Apakah itu salah? Kau juga melakukan apa yang keluargamu inginkan kan?”

“Ani.. sejak awal aku yang ingin mengikuti pemilihan ini. Karena aku sudah lama mengagumi Hyunseung yang seniorku di Universitas. Ayahku menyerahkan semuanya padaku.” Ucap Gayoon.

Hyuna sangat bingung, ia tak tau harus mengatakan apa. “Untuk apa kau memberikan ini padaku?”

“Katakan yang sejujurnya pada Hyunseung, kita lihat apa keputusannya besok. Jika dia tetap memilihmu, itu berarti dia memang menyukaimu dan aku akan mundur dengan tenang. Jika tidak, berarti kau benar-benar mempermainkan keluarganya..” ucap Gayoon.

“Ne? Ta-tapi… tapi aku tidak mungkin melakukannya.. Ibuku sangat menginginkan ini.. Ibuku tidak akan terluka karena ayahku lagi jika aku menjadi menantu keluarga Jang..” ucap Hyuna menjelaskan.

Gayoon menatap Hyuna tak percaya, “Hyuna-ssi, kita ada disini karena Jang Hyunseung. Bukan karena keluarga. Apa semua yang kau lakukan bersamanya hanya untuk menyelamatkan keluargamu?”

“A-ani… Bukan seperti itu maksudku..” ucap Hyuna cepat, “Aku.. Aku hanya tidak ingin ibuku terluka lagi karenaku.. Hanya itu..” jelasnya.

“Jadi maksudmu, semua ini hanya karena ibumu?” tanya Gayoon.

Hyuna menghela nafas dalam dan menunduk menyesal, “Ne..” jawabnya pelan.

“Kau memanfaatkan Hyunseung demi ibumu?” tanya Gayoon lagi.

Hyuna tak mampu menjawab lagi, karena walau bagaimanapun memang itu tujuannya disini.

Gayoon tersenyum sinis dan mengeluarkan ponselnya dari saku baju dan memperlihatkan layarnya pada Hyuna.

Hyuna memandang layar ponsel Gayoon dan melotot karena sejak tadi gadis itu terhubung dengan Hyunseung.

Gayoon memutuskan telepon dan kembali memasukkan ponselnya ke saku.

“Gayoon-ssi? Wae?” tanya Hyuna tak mengerti.

“Aku harus menyelamatkan diriku dari gadis sepertimu..” ucap Gayoon, lalu melangkah pergi.

Hyuna menatap Gayoon tak percaya. Ia langsung teringat tentang Hyunseung dan melangkah keluar pintu mengejar gadisitu.

Gayoon keluar dari pintu dan tertegun melihat Hyunseung berdiri tak jauh dari pintu kamar dengan ponsel di tangan.

Hyuna keluar dari kamar dan terkejut melihat Hyunseung, “O-oppa?”

Hyunseung menatap Hyuna dingin.

Gayoon menunduk dan melangkah menuju kamarnya.

Hyunseung menahan tangan Gayoon ketika gadis itu melewatinya, lalu menatap gadis itu dingin. “Kenapa kau melakukan ini?”

Gayoon menatap Hyunseung menyesal, “Agar kau tau siapa orang yang seharusnya kau pilih..” jawabnya dan menarik tangannya dari pegangan pria itu, lalu kembali melangkah pergi.

Hyunseung diam sejenak dan kembali menatap Hyuna.

Hyuna bisa melihat luka di tatapan Hyunseung. Ia hanya bisa menunduk menyesal.

“Kenapa kau tidak mengatakan apa pun?” tanya Hyunseung dingin.

Hyuna kembali memandang Hyunseung menyesal, matanya memerah menahan air mata. “Miane oppa..”

Hyunseung tampak kecewa hal itu yang di ucapkan Hyuna, “Miane? Hanya itu yang bisa kau katakan?”

“Apa yang bisa kukatakan lagi?” tanya Hyuna pelan.

Hyunseung menghela nafas dan mengepalkan kedua tangannya erat, “Enyah dari hadapanku..” ucapnya dingin, lalu berbalik dan berjalan pergi.

Bulir air mata Hyuna mulai berjatuhan dan kembali menunduk penuh sesal.

 

 

<<Back                Next>>

Advertisements

6 thoughts on “I Choose To Love You [Chapter 7]

  1. ahhh… ternyata bener selingkuhan ayahnya hyuna itu jina… dann.. hyuna itu ternyata bukan anak nya junsu.. 😥 sedih banget sih jadi hyuna… menderita mulu…
    ahhh terus jangan2 seungie entar milih gayon.?? gak rela.. 😦
    next~

  2. ternyata jina selingkuhan appa hyuna , dan eomma hyuna selingkuh , benar” ancur keluarga kim itu 😦

    gayoon kok gttu , kasian hyuna 😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s