Chapter · Cube

I Choose To Love You [Chapter 6]

6

I Love This Girl!

=Sebulan Sebelum pemilihan=

Makan malam kali ini berjalan lebih ceria. Hyuna mulai merasa nyaman berada di rumah itu dan tidak canggung untuk menjawab pertanyaan Ran atau pun Sangwoo dengan cerita panjang lebarnya yang lucu.

Disaat Hyuna sedang bercerita tentang dirinya yang tidak suka olahraga pada Ran, Gayoon memandang lurus ke arah Hyunseung yang terlihat menikmati makanannya sambil memperhatikan Hyuna. Bahkan sesekali pria itu tersenyum mendengar lelucon di cerita Hyuna. Ia berusaha tenang karena pria di depannya terbukti lebih menyukai Hyuna sekarang.

Ran menyadari Hyunseung tersenyum dan mengguncang tangan suaminya, “Aigoo.. yobo, lihat.. putra kita yang kaku bisa juga tersenyum mendengar lelucon..” candanya.

Hyunseung langsung menunduk malu, “A-ani..” jawabnya.

Sangwoo menatap Hyunseung jahil, “Hmm.. pasti karena selama dua bulan ini kau selalu di kelilingi gadis cantik kan? Kepribadianmu yang kaku itu jadi berkurang sedikit demi sedikit..”

Hyunseung memandang ayahnya sebal, “Wae? Sudahlah.. aku sedang makan..” ucapnya mengelakkan pembicaraan itu.

Ran dan Sangwoo tertawa kecil, sementara Gayoon dan Hyuna menunduk canggung.

Kamar Hyunseung.

Ran duduk disebelah Hyunseung yang duduk bersandar ke kepala tempat tidur, “Jadi, Hyuna atau Gayoon?” tanyanya ingin tau.

Hyunseung memandang ibunya bingung, “Eomma.. masih satu bulan lagi, kenapa sudah menanyakannya lagi?”

Ran cemberut, “Karena itu… Waktunya tinggal sebulan lagi, kau harus segera memutuskannya.. Awal dulu kau terlihat hanya menyukai Gayoon. Tapi sekarang kau juga memperhatikan Hyuna.. Jadi siapa yang akan kau pilih?” tanyanya ingin tau..”

“Siapa pun yang akan kupilih, pasti akan kuberitau padamu eomma..” ucap Hyunseung sebal.

“Ahhh.. kau ini.. Katakan saja, siapa yang membuat hatimu berdebar ketika berdekatan dengannya?” tanya Ran memancing.

Hyunseung tertegun mendengar pertanyaan ibunya. Pikirannya langsung mengingat mengapa dan karena siapa jantungnya berdegup kencang.

Ran menatap Hyunseung penasaran, “Cepat katakan.. Siapa?”

Tiba-tiba wajah Hyunseung terasa panas menahan malu dan segera memalingkan wajahnya. “Molla!” ucapnya dan berbaring membelakangi ibunya.

Ran menatap Hyunseung sebal, “Aigoo.. Seungie..” bujuknya sambil mengguncang tubuh Hyunseung.

Hyunseung memejamkan matanya dan tetap tak bergeming.

“Hyunseung-a..” bujuk Ran lagi, tapi putranya tetap tak mengatakan apa pun. “Aigoo.. kau ini..” ucapnya sebal. “Pokoknya, jika kau merasa jantungmu berdebar-debar ketika bersama salah satu gadis itu, kau harus mengejarnya hingga dapat. Araso?” Ucapnya, lalu bangkit dan berjalan pergi.

Hyunseung membuka matanya perlahan sambil memikirkan ucapan ibunya tadi.

 

=Sekolah Hyuna=

“Pengawal Choi, bagaimana jika kita beli ice cream dalam perjalanan pulang?” Tanya Hyuna sambil melangkah menuruni tangga di depan sekolahnya.

“Keure, saya akan mengatakannya pada supir nanti..” Ucap Jina setuju.

Hyuna menuruni anak tangga terakhir dan berhenti ketika melihat Hyunseung berdiri sambil menyandarkan pinggannya pada mobil sambil mengecek sesuatu di ponselnya.

Jina ikut berhenti dan berpandangan bingung dengan Hyuna, lalu kembali memandang Hyunseung yang terlihat belum menyadari mereka sudah disana.

“Pengawal Choi, kenapa dia disini?” bisik Hyuna pada Jina.

“Saya juga tidak tau Agassi, tapi mungkin dia kemari untuk menjemputmu..” bisik Jina balik.

Hyuna tertegun, “Ne? lalu apa yang harus kulakukan?” bisik Hyuna lagi.

“Apa maksudmu? Temui dia..” bisik Jina dan langsung mendorong Hyuna agar maju ke depan.

Hyuna terkejut dan langsung menahan langkahnya, tapi saat itu Hyunseung malah menyadari mereka sudah muncul.

Hyunseung memandang kearah Hyuna dan berdiri tegap, “Oh.. Kau sudah keluar?”

Hyuna langsung mematung dan menunduk canggung, “Ne..” Jawabnya pelan, lalu menyelipkan rambut ke belakang telinganya.

Hyunseung melangkah menghampiri Hyuna dan Jina.

“Annyeonghaseo..” Sapa Jina sambil membungkuk sopan.

“Oppa, kenapa ada disini?” Tanya Hyuna bingung.

“Aku datang untuk menjemputmu dan Pengawal Choi..” Jawab Hyunseung.

“Ne? Mmm.. Tapi aku di jemput supir..” Ucap Hyuna, lalu memandang sekitar mencari mobil yang biasa menjemputnya sepulang sekolah. “Sepertinya belum datang..” ucapnya bingung.

Hyunseung tersenyum tipis, “Aku memintanya untuk tidak menjemputmu. Ayo masuk..” ucapnya, lalu berbalik dan melangkah ke mobilnya.

Hyuna diam sejenak, lalu memandang Jina bingung.

Jina tersenyum, “Ayo Agassi..” ucapnya.

Hyuna tersenyum dan melangkah riang menuju mobil Hyunseung.

Perjalanan pulang.

Hyuna duduk di sebelah Hyunseung sedangkan Jina di belakang. “Oppa, kita akan menjemput Gayoon-ssi juga?” tanyanya.

Hyunseung memandang Hyuna bingung, “Ani, supir yang akan menjemputnya..”

Hyuna diam sejenak untuk berpikir, “Jadi oppa hanya menjemputku hari ini?”

Hyunseung membelokkan mobilnya ke kiri, “Wae? Kau tidak suka?”

“Hm? Ani.. tentu saja aku suka..” jawab Hyuna cepat, “Tapi, kan biasanya oppa pulang bersama Gayoon-ssi.”

Hyunseung tersenyum lucu, “Hari ini tidak ada jadwalku kuliah, aku juga tidak perlu ke hotel. Jadi aku menjemputmu..”

Jina melirik kedua anak itu bergantian, ia tau keberadaannya bisa mengganggu mereka. “Mmm.. Tuan muda, apa anda berencana membawa Hyuna pergi?”

Hyunseung memandang pantulan wajah Jina melalui spion, “Ne? ohh.. ne..” jawabnya pelan.

“Mmm.. saya tidak ingin mengganggu waktu kalian, anda bisa menurunkanku di sini..” ucap Jina sambil tersenyum.

Hyuna tertegun dan memandang Jina di belakang, “ne? waeyo?”

“Gwenchanayo Agassi, tuan muda pasti akan menjagamu dengan baik.” Ucap Jina.

“Kau yakin pengawal Choi?” Tanya Hyunseung memastikan.

“Ne, anda bisa menurunkanku.” Ucap Jina.

“Hmm.. keure..” ucap Hyunseung, lalu menepikan mobil dan menghentikannya di pinggir jalan.

Hyuna memandang Jina, “Pengawal Choi, kau yakin?”

Jina tersenyum, “Ne, gwenchana agassi.. Terima kasih tuan muda..” ucapnya pada Hyunseung dan keluar.

Hyunseung memperhatikan Hyuna yang terlihat sedih karena Jina turun. Ia kembali menginjak gas dan mengendarai dengan tenang di tengah jalan. Sebenarnya ia tidak ingin kejadian dulu terjadi lagi, saat Hyuna lebih memilih Jina dari pada dirinya.

Hyuna memandang Hyunseung, “Oppa, kita akan kemana?”

“Kau ingin ke suatu tempat?” tanya Hyunseung sambil tetap memandang jalan.

“Mmm…” Hyuna berpikir sejenak, “Tadi aku berencana ingin makan ice cream bersama pengawal Choi..”

Hyunseung memandang Hyuna sekilas dan kembali memandang jalanan. “Ice cream?”

“Ne..” jawab Hyuna.

Hyunseung diam sejenak untuk berpikir, “Keure.. Kita pergi makan ice cream..” ucapnya.

Hyuna tersenyum lebar, “Yeaay…” ucapnya riang.

 

=Kamar Hyunseung=

Ran duduk di pinggir tempat tidur Hyunseung, sementara putranya seperti biasa membaca buku sambil bersandar ke kepala tempat tidur. Ia tersenyum lebar memandang putranya, “Hyunseung, kau menghabiskan waktu bersama Hyuna? Bagaimana? Dia lebih menyenangkan daripada Gayoon? Atau sebaliknya?”

Hyunseung memandang ibunya aneh, “Kenapa eomma ingin tau tentang itu?”

“Tentu saja.. Waktumu memilih hanya tinggal 3 minggu lagi.. Jadi kau harus menentukan pilihanmu mulai dari sekarang..” ucap Ran.

Hyunseung menghela nafas dalam dan kembali membaca bukunya, “Aku akan mengatakannya saat hari pemilihan..”

Ran menatap Hyunseung sebal, “Aigoo.. kau ini.. tidak ada salahnya bercerita pada eomma..” ucapnya.

“Eomma bisa mengetahuinya 3 minggu lagi..” ucap Hyunseung santai.

Ran tidak menyerah, ia masih sangat penasaran karena putranya dekat dengan dua gadis itu sekarang. “Begini saja..” ucapnya kembali berusaha, “Sebutkan nilai untuk Gayoon antara 1-10..” ucapnya dan menatap putranya serius.

Hyunseung memandang ibunya sesaat, “9..”

Ran tertegun, “Ne? Setinggi itu? Lalu, Hyuna?”

Hyunseung kembali memandang bukunya, “1..”

Ran menatap Hyunseung tak percaya, “Hanya 1? Kau serius?”

“Hmm..” gumam Hyunseung menjawab pertanyaan ibunya.

Ran benar-benar tak habis pikir dengan jalan pemikiran putranya, “Jang Hyunseung, jika menurutmu Hyuna tidak masuk kualitasmu, kenapa kau malah bersikap seperti dia bagian pemilihan ini?”

Hyunseung memandang ibunya aneh, “Eomma kan bertanya padaku, dan aku sudah menjawabnya. Kenapa eomma malah marah?”

Ran menghela nafas dalam dan memalingkan wajahnya kecewa, “Seharusnya eomma tidak memilih Hyuna..” ucapnya pelan, lalu bangkit dan melangkah pergi.

Hyunseung tertegun mendengar ucapan ibunya dan terpaku melihat Ran melangkah pergi. Setelah pintu di tutup, ia masih memandangi pintu. “andwaeyo eomma.. terima kasih sudah memilih Hyuna..” gumamnya, lalu kembali membaca buku.

Bagi Hyunseung, Gayoon mendapat 9 karena gadis itu sangat sempurna dan bisa melakukan apa pun. Ia mengibaratkan dirinya adalah angka satu yang akan di dominasi oleh angka 9 untuk menjadi 10. Sedangkan Hyuna mendapat 1 karena gadis itu sangat berbeda. Ia mengibaratkan dirinya sebagai angka 9 yang tidak akan sempurna jika tidak ada 1 angka yang menyempurnakannya menjadi 10. Itulah Hyuna baginya.

 

=1 Minggu sebelum pemilihan=

Hyuna tidak bisa tidur karena memikirkan hari pemilihan yang semakin dekat. Jadi ia memutuskan untuk berjalan-jalan di taman belakang seorang diri. Ia menghela nafas dalam dam memandang bulan yang bersinar terang malam itu. ‘Jika aku terpilih, aku akan memanfaatkan Hyunseung oppa agar tidak ada yang curiga dengan keluargaku. Jika tidak terpilih, aku akan mengecewakan eomma..’ batinnya sedih. Ia terkejut merasakan sebuah selimut tipis membalut tubuhnya dari belakang dan menoleh, matanya membesar melihat Hyunseung. “O-oppa?”

Hyunseung memandang Hyuna bingung, “Kenapa kau disini? Udara sangat dingin..”

Hyuna menunduk malu, “A-ani.. aku hanya… mmm..”

“Pengawal Choi tidak ada?” tanya Hyunseung.

“Pengawal Choi berkata ada urusan dan tidak akan kembali malam ini..” jawab Hyuna.

Hyunseung mengangguk mengerti, “Hmm.. begitu..”

Hyuna memandang Hyunseung bingung, “Oppa sedang apa?”

“Aku memang biasa terbangun di malam hari untuk minum.. Tapi malam ini aku lupa mengisi gelasku, jadi aku turun ke dapur..” jawab Hyunseung.

Hyuna diam sejenak mendengar jawaban Hyunseung, lalu tersenyum lebar.

Hyunseung memandang Hyuna bingung, “Wae?”

“Aku senang saat oppa berbicara panjang lebar padaku..” ucap Hyuna jujur.

Hyunseung terdiam menatap Hyuna. Jantungnya kembali berdegup kencang menatap ke dalam mata Hyuna.

“Oh ya, hari pemilihan hanya tinggal seminggu lagi. Apa oppa sudah siap memilih?” Tanya Hyuna malu-malu.

Hyunseung kembali teringat tentang itu, “Ne? Ohh.. kau benar..” ucapnya bingung.

Hyuna memandang ke bawah, “Mmm.. akhir-akhir ini oppa selalu baik padaku, gumawo oppa..” ucapnya.

Hyunseung tertegun Hyuna malah berterima kasih di saat itu.

“Mmm.. aku tidak tau kenapa, tapi kurasa oppa akan memilih Gayoon-ssi..” ucap Hyuna lagi, lalu memandang Hyunseung dan tersenyum. “Keurom, aku akan ke kamarku..” ucapnya dan melangkah melewati Hyunseung.

Hyunseung menahan Hyuna dan menatapnya serius, “Bagaimana jika aku memilihmu?”

Hyuna tertegun, “Ne?”

Hyunseung menatap kedua mata Hyuna dalam, “Bagaimana, jika aku memilihmu?” tanyanya lebih jelas.

Hyuna tidak tau harus mengatakan apa mendengar ucapan Hyunseung. Perlahan bibirnya membentuk senyuman tulus, “Aku tidak akan menjanjikan apa pun, aku hanya akan memberikan diriku untuk mendukungmu..”

Hyunseung merasa ucapan Hyuna jauh lebih berarti dari semua janji yang pernah ia dengar, ia melangkah untuk berhadapan dengan gadis itu. “Keure, aku akan menjagamu hingga maut yang memisahkan kita..” ucapnya pelan. Tangannya bergerak memegang tengkuk gadis itu dan memajukan wajahnya ke wajah gadis itu.

Hyuna seperti terhipnotis oleh tatapan Hyunseung. Matanya terpejam ketika merasakan bibir lembut pria itu menyentuh bibirnya.

Dari dalam rumah. Gayoon menyaksikan apa yang dilakukan Hyunseung dan Hyuna di taman belakang tanpa ekspresi. Kedua tangannya saling tergenggam dan berusaha memikirkan apa yang bisa ia lakukan untuk mendapatkan perhatian Hyunseung lagi.

 

=Rumah Keluarga Kim=

Hyuna melangkah riang masuk ke rumahnya untuk memberitau Dayom tentang hubungannya dan Hyunseung. “Eomma, aku pulang..” ucapnya begitu masuk ruang tengah, tapi tidak terdengar jawaban ibunya. “Eomma?”

“Ssshh… agassi..” ucap pelayan sambil menghampiri Hyuna.

“Ahjumma, dimana ibuku?” tanya Hyuna.

Pelayan itu melirik ke pintu kamar Dayom dan kembali memandang Hyuna, terlihat kekhawatiran dari wajahnya. “Nyonya besar tidak keluar dari kamarnya sejak kemarin, masuklah dan berbicara dengannya..” ucapnya.

“Ne? Waeyo? Apa terjadi sesuatu lagi?” tanya Hyuna kaget.

Pelayan itu menghela nafas dalam, “Tuan besar memberitau nyonya besar siapa selingkuhannya dan membuat nyonya besar depresi..”

Hyuna memandang pintu kamar ibunya, “Aku akan menemui eomma..” ucapnya, lalu melangkah ke kamar ibunya.

Tok! Tok!

Hyuna mengetuk beberapa kali, namun tak ada jawaban dari dalam. Perlahan ia membuka pintu dan masuk. “Eomma.. ini aku..” ucapnya. Ia tertegun mencium asap rokok dan langsung mengibas-ngibas udara di sekitarnya agar bisa bernafas. Ia melihat ibunya duduk di lantai bersandar ke pingir tempat tidur dengan wajah kacau. “Eomma..” ucapnya sambil menghampiri wanita yang telah melahirkannya itu.

Dayom menghembuskan asap putih dar mulutnya, lalu kembali menghisap putung rokok di tangannya.

“Eomma!! Hentikan!!” seru Hyuna sambil menarik putung rokok dari mulut Dayom.

Dayom terbatuk-batuk sesaat dan memandang Hyuna. Tatapannya terlihat sangat menderita.

Hati Hyuna hancur berkeping-keping melihat tatapan ibunya, “Eomma..”

“Hyuna.. apa kau bisa percaya siapa yang mengambil ayahmu?” tanya Dayom.

“Eomma, jangan seperti ini..” ucap Hyuna, lalu mematikan rokok di asbak yang sudah di penuhi putung rokok dan membantu ibunya naik ke atas tempat tidur.

Dayom berbaring sambil menatap Hyuna iba, “Dulu dia menyayangimu, Hyuna.. Tapi kenapa dia melakukan ini sekarang?”

Hyuna menatap ibunya sedih, bulir air kembali berjatuhan dari matanya. “Eomma..”

Dayom memegang tangan Hyuna dan menatapnya dalam, “Dulu dia sangat mencintaimu.. Dia bahkan tidak mempedulikan apa pun jika sudah bersamamu. Tapi kenapa dia melakukan ini Hyuna?” ucapnya dan mulai menangis.

“Eomma, kemanhe..” ucap Hyuna pelan.

Dayom melepaskan kedua tangan Hyuna dan memegang kedua pipi putrinya itu, “Miane Hyuna.. Ini salah eomma..” ucapnya menyesal.

Hyuna ikut menangis dan menggeleng, “Aniya eomma.. Ini bukan salahmu..” ucapnya.

Dayom menarik Hyuna ke pelukannya dan menangis tersedu-sedu.

 

<<Back                Next>>

Advertisements

15 thoughts on “I Choose To Love You [Chapter 6]

  1. waahh.. 2hyun ciuman.. xD
    yahh.. gayoon kamu jangan jahat dulu yahhh…. :v
    ayoo.. siapa tuh kira2 selingkuhan ayah nya hyuna??

  2. Ouhhhhh slah slah pengertian ttg memanfaatkan , baru ngerti hyuna sedih karena jika ia terpilih maka ia akan memanfaatkan hyunseung agar tidak ada yg curiga masalah keluarga hyuna…
    hehehehehehhe baru paham ^^

  3. Aaaa 2hyun kiss 🙂
    Berarti hyunseung oppa udah bener2 cinta sama hyuna…
    Mudah2an aja sampai akhir yang dipilih tetep hyuna..

  4. waaah seneng banget sama cerita ini, kok aku jadi mikir kalo selingkuhanya papanya Hyuna itu pengawal Choi ya?. hmmm tunggu aja deh chap selanjutnya

    NExt Thor!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s