Chapter · Cube

I Choose To Love You [Chapter 5]

5

The Accident

 

“Annyeonghaseo, kami kembali..” sapa Gayoon sambil membungkuk sopan ketika bertemu Ran yang sedang menonton tv.

“Kami pulang eomma..” Hyunseung membungkuk sopan pada ibunya.

Ran tersenyum dan menghampiri mereka, “Bagaimana hari kalian?” tanyanya ingin tau.

Gayoon tersenyum lebar, “Sangat menyenangkan, eommanim..” jawabnya.

“Ahhh… syukurlah..” ucap Ran senang, namun ia menyadari ada seseorang yang tidak terlihat. “Hm? Mana Hyuna?”

Hyunseung tertegun menatap ibunya, begitu juga dengan Gayoon.

“Ne? Hyuna belum kembali kerumah?” Tanya Gayoon.

Ran memandang kedua anak itu bingung, “Ne? dia kan bersama kalian tadi, masa kembali terlebih dulu..”

“Mmm.. tapi tadi Hyuna-ssi pergi sendiri karena sesuatu terjadi di rumahnya..” jelas Gayoon, lalu memandang Hyunseung. “Benarkan, Hyunseung-ssi?”

Ran terkejut, “Mwo? Apa yang terjadi?!” tanyanya khawatir pada Hyunseung.

Hyunseung memandnag Ran dan Gayoon bergantian, “Aku akan menjemputnya..” ucapnya, lalu berbalik dan langsung melangkah pergi.

Sementara itu..

Hyuna yang terus menemani ibunya yang tertidur karena terlalu lelah menangis tertegun melihat ibunya terbangun, “Eomma.. eomma gwenchana?” tanyanya khawatir.

Dayom memegang dahinya dan bergerak duduk.

“Kepala eomma sakit?” Tanya Hyuna, lalu mengambil segelas air putih di meja, “Ini eomma, minum dulu..” ucapnya sambil menyodorkan gelas tadi ke mulut ibunya.

Dayom meneguk air itu dan memandang Hyuna menyesal.

Hyuna kembali meletakkan gelas dan memandang ibunya, ia sedih ibunya merasa bersalah. “Eomma, ini bukan salahmu..” ucapnya sambil memegang tangan ibunya.

Bulir air mata Dayom kembali berjatuhan memandang Hyuna, “Jika akan seperti ini, eomma lebih memilih untuk tidak melahirkanmu Hyuna..” ucapnya dengan bulir air mata berjatuhan.

Bulir air mata Hyuna juga ikut berjatuhan, “Eomma..”

Dayom mengelus rambut Hyuna dan menatap putrinya dalam, “Agar kau tidak perlu merasakan situasi seperti ini..” ucapnya pelan.

Hyuna menggeleng dan menyeka air mata ibunya, meskipun air matanya sendiri tak terbendung. “Aniya eomma.. Aku berterima kasih karena eomma telah melahirkanku.. Merawatku sepenuh hatimu, walaupun appa tidak pernah mempedulikanku…”

Dayom diam sejenak menatap putrinya, lalu menggenggam kedua tangan Hyuna. “Hyuna, kau harus terpilih menjadi calon istri Jang Hyunseung. Dengan begitu kau tidak lagi di kucilkan. Orang-orang akan menghargaimu..”

Hyuna sangat sedih mendengar ucapan ibunya, lalu menggeleng. “Aniya eomma.. Aku tidak menginginkannya..”

“Jebal Hyuna…” mohon Dayom, “Eomma tidak ingin kau diperlakukan seperti ini lagi..”

Hyuna menggeleng, “Ani.. Aku tidak butuh apa pun, eomma.. Aku hanya ingin dirimu.. Kita bisa hidup lebih baik jika kita hanya berdua eomma..”

Dayom tertegun mendengar ucapan Hyuna, “Maksudmu, eomma harus berpisah dengan ayahmu?”

Hyuna mengangguk, “Ne, aku tidak ingin eomma terluka karena melindungiku..”

Dayom menggeleng cepat dan memegang kedua pipi Hyuna, “Andwae! Jika eomma berpisah dari ayahmu, semua orang akan tau tentang dirimu.. Akan semakin banyak orang yang mengucilkanmu.. eomma tidak menyukainya! Eomma tidak akan meninggalkan ayahmu! Eomma tidak peduli apa yang akan dilakukan ayahmu, tapi eomma tidak akan mengorbankanmu begitu saja..”

“Eomma.. Berhentilah..” mohon Hyuna.

“Hyuna..” ucap Dayom pelan sambil menatap kedua mata putrinya dalam, “Dengarkan eomma, hanya ini caramu mendapatkan apa yang pantas kau dapatkan..” ucapnya pelan.

Hyuna tertegun mendengar ucapan ibunya, “Eomma..”

“Jangan beritau apa pun pada keluarga Jang tentang kejadian ini.. Mereka akan berpikir buruk jika tau yang sebenarnya. Kau mengerti?” ucap Dayom.

Hyuna menatap ibunya sedih, lalu menunduk dan mengangguk mengerti.

Setelah memastikan ibunya tidak apa-apa, Hyuna keluar dari rumah dan berencana akan kembali menggunakan taxi. Ia berhenti sejenak di tangga di depan pintu, lalu bergerak duduk untuk menenangkan dirinya. Tangannya mengeluarkan ponsel dan memanggil nama Jina, lalu menempelkan ponsel ke telinga.

Sementara itu, Hyunseung duduk di mobil di depan rumah Hyuna sambil memperhatikan gadis itu. ia tau seharusnya ia turun dan memanggil gadis itu untuk segera masuk ke mobil, tapi ia hanya duduk disana sambil memperhatikan Hyuna. Setelah beberapa saat, ia membuka pintu dan melangkah keluar.

Ne Agassi.. Bagaimana harimu?” Tanya Jina ceria diseberang.

Hyuna menghela nafas dalam dan menunduk lesu, “Pengawal Choi, kau masih di rumah ibumu?”

“Agassi? Kenapa dengan suaramu? Kenapa kau terdengar lesu begitu?” Tanya Jina khawatir.

“Aniya, aku hanya….” Ucapan Hyuna terhenti melihat sepasang kaki berhenti di depannya, lalu mengangkat wajah memandang siapa pemilik kaki itu. ia terpaku melihat Hyunseung.

“Agassi? Agassi?” panggil Jina.

Hyunseung membungkuk dan mengambil ponsel Hyuna, lalu menempelkannya ke telinga. “Jangan khawatir pengawal Choi, aku akan memastikan dia kembali ke rumahku dengan aman..” ucapnya pelan.

“Oh.. ne, tuan muda. Gamsamida..” ucap Jina.

“Keure, sampai jumpa.” Ucap Hyunseung dan memutuskan telepon.

Hyuna bergerak bangkit dan memandang Hyunseung bingung, “Oppa, kenapa ada disini?”

Hyunseung menghela nafas dalam, “Eomma khawatir kau belum kembali, jadi memintaku menjemputmu..” ucapnya berbohong dengan wajah tenang seperti biasa.

Hyuna menunduk menyesal, “Cesonghamida..”

Hyunseung memberikan ponsel Hyuna lagi, lalu melangkah naik. “Aku akan bertemu ibumu sejenak..”

Hyuna terkejut dan menahan Hyunseung, “A-ani.. eomma.. eomma sedang beristirahat..” ucapnya memberikan alasan.

“Apakah parah? Kau bilang tadi overdosis obat penenang. Apa yang terjadi?” Tanya Hyunseung ingin tau.

Hyuna tertegun. Ibunya tidak ingin keluarga Hyunseung tau tentang itu, “Ohh.. ternyata aku salah dengar.. Ibuku hanya salah minum obat dan muntah-muntah.. Hehehe.. cesonghamida, oppa..” ucapnya sambil tersenyum kaku.

Hyunseung diam sejenak menatap Hyuna, entah mengapa ia bisa membaca tatapan gadis itu jelas memperlihatkan kebohongan. “Hmm.. begitu.. Ayo kembali..” ucapnya sambil berbalik dan melangkah kembal ke mobilnya.

Hyuna segera mengikuti Hyunseung.

 

=Perjalanan Pulang=

Hyunseung menghentikan mobilnya di lampu merah dan menunggu beberapa saat. Kepalanya menoleh kearah Hyuna karena gadis itu sama sekali tidak berbicara. Ia sempat tertegun melihat wajah tenang Hyuna yang tertidur dengan kepala berat ke satu sisi bahu. Saat itu ia menyadari kalau ternyata gadis itu belum mengenakan sabuk pengaman. Ia melepaskan sabuk pengamannya dan mengulurkan tangan kearah sabuk pengaman Hyuna.

“Hmm…” gumam Hyuna sambil memutar kepalanya ke sisi lain bahunya, membuat wajahnya langsung berhadapan dengan Hyunseung.

Hyunseung terpaku wajah Hyuna hanya beberapa senti dari wajahnya. Bahkan ia bisa merasakan hembusan nafas gadis itu di wajahnya. Jantungnya berdegup kencang tanpa alasan, ia bahkan menahan nafas.

Dahi Hyuna berkerut dan membuka matanya perlahan. Namun ia langsung terpaku melihat betapa dekatnya wajah Hyunseung dengannya. Tubuhnya menjadi kaku dan menatap kedua mata Hyunseung tanpa berkedip.

Din! Diin!!!

Hyunseung tersadar dan segera menarik dirinya, lalu melepaskan rem dan menginjak gas.

Hyuna memandang kebawah dengan jantung yang masih berdegup kencang dan wajah terasa panas menahan malu. Tidak ada yang mengeluarkan suara ditengah kecanggungan itu, hingga Hyunseung menyadari dirinya tidak mengenakan sabuk pengaman. Dengan hati-hati ia menarik sabuk pengaman tadi ke sisi lain tempat duduknya, namun ia kesulitan untuk memasangnya ke tempat penahan karena tidak terlihat.

Hyuna menyadari kesulitan Hyunseung dan spontan membantu pria itu.

Hyunseung tertegun merasakan tangan Hyuna memegang tangannya dan memasukkan ujung sabuk pengaman ke tempat penahannya.

Hyuna sadar ia seharusnya meminta ijin Hyunseung dulu dan langsung duduk lurus dengan kepala tertunduk ketika pria itu memandangnya. Wajahnya semakin terasa panas karena hal itu. ia melirik Hyunseung yang masih menatapnya tanpa ekspresi, lalu memandang ke depan. Matanya membesar melihat mobil di depan mereka sudah berhenti di lampu merah, “OPPA!!!”

Hyunseung terkejut ketika menyadari mobil mereka akan menabrak mobil di depan dan spontan menginjak rem sedalam mungkin dan menarik rem tangan.

CKIIIIIT!!!!

Mobil berhenti beberapa senti sebelum membentur mobil di depan, namun semua yang ada di mobil terhentak ke depan. Tubuh Hyunseung terdorong ke depan namun terhempas ke kursi lagi akibat sabuk pengaman. “Ahh…” erangnya karena dadanya terasa nyeri. Ia memandang sekitar, barang-barang di mobil berantakan dan rata-rata berada di atas dashboard. Kepalanya menoleh ke sisi Hyuna dan terpaku melihat Hyuna terkulai lemah di kursi tak sadarkan diri. Darah terlihat mengalir dari kepala gadis itu.

 

=Mansion Keluarga Jang=

Semua orang tertegun melihat Hyuna yang masuk ke ruang makan dengan perban menutupi luka di dahinya.

Hyuna membungkuk sopan, lalu melangkah menuju tempat duduknya dengan Jina yang membantunya.

“Omo.. Hyuna-a.. kenapa kau turun? Istirahatlah di kamarmu.. pelayan akan mengantarkan makananmu kesana..” ucap Ran khawatir.

Hyuna tersenyum tipis dan bergerak duduk, “Gwenchanayo eommanim, aku tidak mendapat luka parah..” ucapnya.

Gayoon memandang Hyuna khawatir, “Kau masih terlihat pucat..”

“Tidak apa-apa..” jawab Hyuna, lalu memandang Hyunseung yang hanya memandang kebawah.

Ran menatap Hyunseung sebal, “Jang Hyunseung! Katakan sesuatu! Kau membuatnya seperti ini!”

“Yobo, dia sudah menyesal. Jangan seperti ini..” bujuk Sangwoo.

Ran memandang suaminya kesal, “Paling tidak dia harus meminta maaf pada Hyuna kan?”

Hyunseung memandang Ran.

“Gwenchana eomma..” ucap Hyuna, “Kemarin salahku tidak mengenakan sabuk pengaman.” Ucapnya.

Hyunseung memandang Hyuna.

“Tapi tetap saja Hyunseung yang tidak berhati-hati hingga hampir menabrak mobil di lampu merah!” ucap Ran dan menatap Hyunseung kesal.

“Eommanim, jangan marah dulu. Mungkin Hyunseung-ssi sedang tidak focus saja tadi malam..” ucap Gayoon.

“Ahh.. kenapa ada dua gadis yang membela Hyunseung?” ucap Ran sebal, lalu memandang Sangwoo. “Yobo, katakan pada Hyunseung untuk meminta maaf..” bujuknya.

“Ne.. ne.. araso..” ucap Sangwoo, lalu memandang Hyunseung. “Hyunseung-a..”

“Kecelakaan itu salahku..” ucap Hyuna, semuanya tertegun dan memandang kearahnya.

Hyunseung memandang Hyuna tak mengerti.

Hyuna memandang kebawah menyesal, “Sebenarnya saat itu Hyunseung oppa berusaha mengingatkanku karena tidak mengenakan sabuk pengaman, karena itu oppa tidak tau kalau lampu jalan sudah berubah menjadi merah. Dan terjadi begitu saja..” ucapnya menjelaskan, meskipun ia hanya ingin membela Hyunseung.

Hyunseung tertegun mendengar penjelasan Hyuna.

“Ne? Omo..” ucap Ran sambil memandang Hyunseung dan mengelus kepala putranya lega. “Syukurlah Seungie-ku tidak apa-apa..” ucapnya.

Hyunseung kembali menatap ibunya sebal, “Eomma, berhenti memanggilku seperti itu..” ucapnya, “Aku akan langsung pergi..” ucapnya sambil bangkit dan melangkah pergi meninggalkan ruang makan.

“Ya Hyunseung..” panggil Sangwoo bingung, namun putranya terus pergi.

“Omo… Dia tumben sekali membalas ucapanku..” ucap Ran tak mengerti.

“Dia sudah besar, jangan panggil seperti itu lagi..” ucap Sangwoo memberitau.

“Wae? Panggilan itu sangat cocok dengannya..” ucap Ran merasa tak bersalah.

“Maaf eommanim, abeunim..” potong Gayoon, membuat sepasang suami istri itu memandangnya. “Aku juga akan langsung pergi..” ucapnya sembari bangkit, “Annyeonghaseo..” ia membungkuk sopan dan memandang Hyuna, “Istirahatlah lagi Hyuna-ssi..”

Hyuna mengangguk, “Ne, Gayoon-ssi..” ucapnya.

Kamar Hyuna.

Jina menaikkan selimut menutupi tubuh Hyuna yang berbaring di tempat tidur dan duduk di pinggir tempat tidur, “Agassi, kepalamu masih sakit?”

Hyuna menggeleng pelan, “Sudah lebih baik eonni.. Gumopta..”

Jina tersenyum tipis, namun tak lama menatap Hyuna menyesal. “Maaf agassi, seharusnya saya menjemput anda kemarin..” ucapnya.

Hyuna tersenyum, “Aniya, aku baik-baik saja..”

“Mmm.. tapi, apa yang anda katakan tadi apakah benar?” tanya Jina, “Tentang kecelakaan tadi malam..”

Hyuna tertegun, “Ne? Ohh.. ne..” jawabnya pelan.

“Ani, itu tidak benar..” ucap Jina yang bisa membaca raut wajah Hyuna.

Hyuna tersenyum malu, “Hehehe.. sebenarnya tidak seperti itu semua.. Tapi memang awalnya karena itu..”

“Anda tidak perlu membelanya seperti itu. Itu bukan cara untuk mendapatkan hatinya..” canda Jina.

Hyuna tertawa kecil, “Ne, arasso eonni..” ucapnya.

“Istirahatlah.. saya akan tetap disini hingga anda terbangun..” ucap Jina.

“Ne..” jawab Hyuna dan memejamkan matanya.

 

=Halaman Belakang=

Hyunseung duduk seorang diri di taman belakang sambil membaca buku. Ia menghela nafas dalam dan mengelus dadanya yang dilapisi sweater tipis, lalu kembali membalik halaman bukunya. Ia tertegun melihat seseorang mengulurkan sebuah kompres hangat ke depan wajahnya, ia mendongak dan melihat Hyuna tersenyum tipis. Di dahi gadis itu masih terlihat perban yang menutupi luka akibat kecelakaan tempo hari. “Untuk apa ini?”

Hyuna bergerak duduk di sebelah Hyunseung, “Untuk mengompress memar di dadamu, oppa..”

Dahi Hyunseung berkerut, “Wae?”

Hyuna menatap Hyunseung menyesal, “Aku melihatmu selalu mengelus dada saat makan. Pasti karena kecelakaan itu kan? Pasti bekas sabuk pengamanmu masih berbekas dan terasa nyeri..” ucapnya menyimpulkan.

Hyunseung sempat terkesima dengan pemikiran Hyuna selama beberapa detik.

“Karena itu, kompres dengan ini..” ucap Hyuna sambil menempelkan kantung hangat itu ke dada Hyunseung.

Hyunseung memandang kantung itu di dadanya, lalu memandang kembali Hyuna.

Hyuna tersadar dan segera menarik tangannya bersama kantung hangat tadi, “Oh.. cesongeo, oppa..” ucapnya menyesal.

Hyunseung diam sejenak menatap Hyuna, ia tidak tau mengapa jantungnya berdebar sangat keras. Hatinya merasa nyaman mendapat perhatian seperti ini dari Hyuna. Namun sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, gadis itu langsung bergerak bangkit.

“I-ini, aku akan meletakkannya disini..” ucap Hyuna sambil meletakkan kantung hangat tadi di kursi dan segera melangkah pergi.

Hyunseung hanya bisa memandangi Hyuna yang terus melangkah pergi, ia tau seharusnya ia mengatakan sesuatu. Ia hanya menghela nafas dalam dan mengambil kantung hangat itu, juga mengompres dadanya. Pikirannya kembali membayangkan pemandangan saat Hyuna mengompres dadanya tadi.

Dari pintu samping, Gayoon memandang Hyunseung yang masih duduk di halaman belakang seorang diri.

 

=Rumah Keluarga Heo=

Gayoon duduk dengan kepala menunduk di depan meja kerja ayahnya yang berdiri membelakanginya.

“Seharusnya kau bisa lebih mudah menarik perhatian Jang Hyunseung! Kau pintar, elegan, cantik dan lebih dewasa! Bagaimana mungkin kau mengalah dari gadis ingusan seperti putri sekretaris Kim!” ucap Perdana Menteri Heo kecewa.

“Aniya, appa.. Aku tidak akan mengalah.. Aku akan berusaha lebih keras lagi..” ucpa Gayoon bersungguh-sungguh.

Perdana menteri Heo berbalik menatap Gayoon serius, “Buktikan jika kau memang putri yang membanggakan, maka aku akan mengakuinya..” ucapnya, lalu melangkah ke pintu.

Gayoon terdiam dengan ekspresi terluka di wajahnya, “Appa..” panggilnya dan memandang ayahnya.

Perdana Menteri Heo berhenti dan memandang Gayoon.

“Appa, jika aku tidak berhasil.. Apa yang harus kulakukan?” tanya Gayoon pelan.

Perdana Menteri Heo diam sejenak, “Bagi pejuang Jepang, kegagalan dapat di bayar dengan harakiri(bunuh diri secara terhormat). Kau ada di posisi itu..” ucapnya dingin, lalu membuka pintu dan keluar.

Gayoon terpaku menatap pintu yang terbuka itu, lalu menunduk dengan bulir air mata berjatuhan.

Minah melangkah masuk dan duduk disebelah putrinya, ia mengelus rambut putrinya dengan tatapan iba. “Gayoon-a..”

“Eomma..” ucap Gayoon pelan, “Kenapa sangat sulit menjadi putri appa?” tanyanya pelan.

Minah menyeka air mata Gayoon dan membuat gadis itu memandangnya, “Kau bisa berhenti.. Mungkin ayahmu akan kecewa, tapi dengan begitu dia akan tau kau bukan boneka ambisinya. Tapi kau putri kesayanganya..”

Gayoon diam menatap kedua mata ibunya, lalu tersenyum tipis. “Jika aku tidak melakukannya, aku tidak akan pernah mendapatkan ayahku..”

Minah menatap putrinya sedih, “Aniya, dia tetap ayahmu apa pun yang terjadi..” ucapnya dan memeluk sang putri.

 

<<Back                Next>>

Advertisements

5 thoughts on “I Choose To Love You [Chapter 5]

  1. appa nya gayoon sadis euyy -_-
    wah… ternyata hyuna pehatian juga ama seungie xD
    ciee seungie.. mulai berdebar-debar tuh 😀 xD

  2. ohhh pasti yang disembunyiin itu ternyata hyuna bukan anak sekretaris kim kan??? wah wah >< but hyuna ama hyunseung sama2 deg2an yeheeyyy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s