Uncategorized

I’m So Lonely

0

Cast:

– Hyuna

– Hyunseung

Aku ingin…

Ponselku berbunyi setiap saat dan tertera nama ‘eomma’ di layar. Lalu ketika aku mengangkatnya, akan terdengar suara khawatir ibuku. Atau ada seseorang yang berada disisiku ketika aku sakit dan membantuku mengurus semuanya.

Tapi…

Ponselku tidak pernah berbunyi disaat aku tidak pulang semalaman. Juga saat sakit, aku merawat diriku sendiri. Aku mengurus keperluan sekolahku sendiri. Saat ada hari orangtua di sekolahku, banyak ibu yang menatap iba padaku. Tapi mereka tidak melakukan apa pun. Aku berharap ada seseorang yang akan menghampiriku dan bertanya ‘Apakah kau baik-baik saja?’

Aku tidak melanjutkan kuliah, karena aku merasa tidak akan sanggup menjalaninya. Jadi aku memutuskan untuk bekerja apa saja untuk mengisi waktuku. Disaat malam, saat aku merasa sangat lelah dengan kesendirianku. Aku akan menangis hingga tertidur. Juga saat aku menatap wajahku di cermin, air mataku akan mengalir begitu saja mengetahui diriku tidak berarti. Tidak ada yang menginginkanku. Aku ada di dunia ini karena takdir. Hanya dua pilihan yang kumiliki, menggunakan segala cara untuk mendapatkan orang yang kucintai atau mati.

Aku memilih yang pertama. Menggunakan segala cara untuk mendapatkan orang yang kucintai agar aku tidak seorang diri.

Aku memberikan segalanya. Uangku, kerja kerasku, bahkan tubuhku. Memang terdengar memalukan, tapi tidak untukku. Saat pria ini ada disisiku, aku merasa tenang. Seperti tidak peduli jika aku hanya seorang diri, karena aku ada bersamanya.

Aku terbangun merasakan tempat tidur bergerak, lalu menoleh pada seorang pria yang sedang memasang celana. “Oppa, kau akan pergi?”

Pria bernama Jang Hyunseung itu memandangku sambil mengenakan sweaternya, “Ne, aku ada kelas pagi..” Ucapnya, lalu mengambil tas dan memasukkan peralatan memahatnya.

Aku bangkit duduk sambil mengelus mataku.

Hyunseung memandangku dan kembali duduk dipinggir tempat tidur, “Hyuna, kau ada uang?”

Aku tanpa ragu mengambil dompet di bawah bantal dan mengeluarkan uang beberapa ribu won, “Ini..” Ucapnya.

Hyunseung tersenyum ketika mengambil uang itu, lalu mencium bibirku lembut. “Gumawoyo..” Ucapnya manis, lalu bangkit dan berjalan keluar.

Aku tersenyum memperhatikan Hyunseung hingga menghilang dari pandanganku. Setelah pintu tertutup, senyumku perlahan memudar. Hidupku kembali abu-abu setelah dia meninggalkanku lagi.

 

=10.00 pm=

Aku membuka pintu kamar studio dan masuk. Tubuhku terasa sangat lelah seperti biasa setelah melakukan dua pekerjaan dalam sehari. Aku meletakkan tas di lantai dan membanting tubuhku ke tempat tidur dengan mata terpejam. Di pagi hari aku bekerja di sebuah restauran hingga pukul 2 siang, lalu dilanjutkan dengan menjadi pelayan di sebuah Klub hingga pukul 9 malam. Di Klub itulah pertama kali aku bertemu Hyunseung beberapa bulan lalu.

Dok! Dok! Dok!

Aku terkejut dan spontan bangkit sambil menatap ke arah pintu.

Dok! Dok! Dok!

Terdengar gedoran keras lagi. Aku bangkit dan melangkah untuk membuka pintu dan tertegun melihat Hyunseung di papah seorang gadis di depan pintu. “Oppa?”

Hyunseung dalam keadaan mabuk berat, “Kenapa kau lama sekali?!” Tanyanya, lalu melangkah masuk. Namun karena mabuk, ia hampir terjungkal jika aku tidak segera menangkap tubuhnya.

“Oh! Oppa!!” Ucapku kaget.

“Ini tasnya, aku pergi..” Ucap gadis tadi dan langsung pergi.

Aku mengambil tas Hyunseung dan memapah pria itu masuk. Lalu dengan hati-hati membaringkannya ke tempat tidur.

“Arrrgghh..” Erang Hyunseung sambil memegang kepalanya.

Aku membuka baju luar Hyunseung dan melepaskan sepatunya. Ini bukan kali pertamanya dia datang dalam keadaan mabuk, jadi aku sudah mulai terbiasa.

Hyunseung langsung tertidur akibat pengaruh alkohol.

Aku menghela nafas dalam dan menyelimuti Hyunseung. Perlahan bibirku membentuk senyuman dan mencium dahinya lembut, “Selamat tidur oppa..” Bisikku.

“Hmm..” Gumam Hyunseung dalam tidurnya.

Aku bangkit dan melangkah menuju kamar mandi.

 

=Suatu Pagi=

Aku mengerutkan dahi mendengar suara guratan kayu, mataku terbuka perlahan dan bergerak bangkit sambil memandang Hyunseung yang duduk di kursi sambil memahat sebuah bongkahan kayu berukuran sedang. Perlahan aku bangkit sambil mengelus mataku, “Oppa, kau sedang apa?”

Hyunseung memandangku dan tersenyum tipis, “Hei.. sudah bangun?” tanyanya, lalu melanjutkan apa yang ia lakukan. “Aku menyelesaikan pahatanku, jika beruntung aku bisa mendapat beasiswa untuk mendalami seni pahat..” jawabnya.

Aku turun dari tempat tidur sambil merenggangkan tubuhku, lalu menghampiri Hyunseung dan memeluknya dari belakang. Juga meletakkan daguku ke bahunya sambil memperhtikan apa yang ia buat. Aku selalu mengagumi bagaimana tangan dewanya bekerja. Hanya dengan alat pahatan itu, sebuah kayu bisa berubah menjadi bentuk baru yang luar biasa. Bibirku membentuk senyuman melihat di permukaan bongkahan kayu itu sudah terlihat ukiran indah.

Hyunseung memandang wajahku di bahunya, bibirnya ikut membentuk senyuman. Aku tidak tau apakah karena melihatku tersenyum, atau mungkin karena aku mengagumi karyanya. “Kau suka?”

Aku memandangnya sambil tersenyum dan mengangguk, “Ne…”

Hyunseung memandang pahatannya dan kembali memandangku, “Kau mau mencobanya?”

Aku tertegun, “Aku?”

“Ne… Ayo kemari..” ucap Hyunseung sambil menarikku duduk diantara dua kakinya, ternyata tubuhku sangat kecil. hihihi.. “Ini, genggam seperti ini..” ucapnya mengajari.

Aku mengangguk dan mengikuti ucapannya.

“Lalu tatap kayu itu dan bayangkan apa yang akan kau buat disana…”

Aku berusaha berkonsenterasi dan membayangkan apa yang akan ukirkan disana. “Mmm.. tapi oppa, bagaimana jika aku merusaknya?” tanyaku khawatir.

Hyunseung tertawa kecil, “Gwenchana, ini masih permulaan. Jadi fokus saja pada ukiran yang akan kau buat…”

“Tapi aku tidak tau harus melakukannya bagaimana…” ucapku binging.

Hyunseung tertawa kecil sambil mengambil alat pahat di tanganku, “Perhatikan ini…” ucapnya.

Aku tersenyum memperhatikan tangannya mencontohkan apa yang ia jelaskan. Mataku berpindah memandang wajahnya. Terkadang… aku merasa dia benar-benar tulus padaku. Aku tau seharusnya aku tidak bisa memikirlan hal itu, karena kami tidak pernah memiliki hubungan yang sah. Maksudku, hubungan kami hanya karena kami saling diuntungkan satu sama lain. Aku membutuhkannya untuk bersamaku, berakting dia memang akan ada untukku. Tapi sebagai imbalannya, aku harus memberikan apa yang ia inginkan. Aku hanya ingin berharap dia akan selalu disisiku, karena aku sudah lelah merasa tak diinginkan.

 

=Suatu Malam=

Aku melangkah menuju kamar studioku, malam sudah sangat larut. Beberapa menit lagi sudah tiba tengah malam. Aku mengeluarkan kunci dan hendak membuka pintu ketika aku menyadari pintu itu tidak terkunci. Dahiku berkerut sambil menebak-nebak siapa yang membukanya. Atau aku yang lupa menguncinya? Tanganku mendorong pintu dan melangkah masuk, aku langsung disambut desahan dan suara erotis dari tempat tidur. Beberapa detik kemudian, aku terpaku melihat dua orang yang bergumul dan bersetubuh di tempat tidurku. Hatiku terasa teriris dan tertusuk ribuan jarum melihat Hyunseung ada disana bersama seorang gadis. Meskipun disana tidak begitu banyak cahaya, aku bisa mendengar suara Hyunseung dari sini. Seharusnya aku langsung mengamuk dan menendang mereka keluar dari kamarku sekarang. Tapi…. aku memalingkan wajah dan kembali menutup pintu. Aku berdiri bersandar di dinding sebelah pintu, lalu duduk memeluk lutut di lantai. Bulir air mataku berjatuhan begitu saja. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Mungkin aku harus menerima takdirku yang terlahir seorang diri. Dan memang tidak ada orang yang menginginkanku.

Aku menghela nafas dalam dan menyeka air mataku, “Gwenchana, aku memang sendiri. Kenapa aku menangis?” gumamku sendiri. Tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Hatiku terasa sangat sakit. Sakit sekali hingga aku tak sanggup menahannya. Aku sudah lelah menangisi kesendirianku yang menyedihkan. Kupikir aku akan merasa lebih baik jika ada seaeorang disisiku, tapi aku salah.

Entah setelah berapa lama aku duduk di tempatku, pintu kamarku terbuka. Aku langsung berdiri dan melihat seorang gadis berpakaian sexy dengan high heels keluar.

Gadis itu berhenti memandangku sejenak. Aku yakin ia menyadari keberadaanku tadi. Ia menatapku jijik dan tersenyum sinis, “Katakan pada kekasihmu.. Terima kasih tips yang ia berikan sangat banyak..” ucapnya, lalu melangkah pergi.

Aku menatap gadis itu tak percaya. Seharusnya aku yang menatap jijik padanya, tapi kenapa dia yang melakukan itu? Aku menghela nafas dalam dan melangkah masuk. Aku berhenti sejenak setelah menutup pintu memandangi Hyunseung yang tertidur akibat pengaruh alkohol di atas tempat tidurku. Tidak ada yang bisa kulakukan, aku meletakkan tasku dan melangkah ke kamar mandi.

Keesokan paginya.

“Arrghhh….” erang Hyunseung sambil memegang kepalanya.

Aku menoleh kearahnya, lalu bergerak duduk di pinggir tempat tidur dengan secangkir teh hangat di tanganku. Mungkin seharusnya aku mengguyurnya dengan teh itu, tapi aku tak melakukannya. “Oppa, duduklah.. Aku membuatkanmu teh hangat..” ucapku.

Hyunseung mengerang menahan sakit di kepalanya ketika bergerak duduk, aku menyodorkan teh gelas teh ke mulutnya dan membantunya meneguk air di cangkir itu. “Arrrrghhh.. kepalaku..” erangnya lagi.

Aku menunduk memandang cangkir ditanganku sambil menghela nafas dalam.

Hyunseung memandangku dengan dahi berkerut, “Kepalamu tidak sakit?”

Aku memandang Hyunseung bingung, “Kepalaku?Ani.. Wae?”

hyunseung memejamkan mata sambil mengelus dahinya, “Hmm.. kurasa aku terlalu banyak minum semalam..”

Aku menghela nafas dalam dan meletakkan cangkir di tanganku ke meja, lalu memalingkan wajahku. “Gadis semalam berterima kasih kau memberinya banyak tips..” ucapku pelan, namun sangat jelas aku tidak suka akan hal itu.

Hyunseung kembali memandangku dengan dahi berkerut, “Mwo? Gadis yang mana?”

Aku menghela nafas dalam dan memandangnya, sepertinya dia tidak pernah memikirkan perasaanku sekali pun. Ne, kami tak pernah menggunakan perasaan dalam hubungan ini. Atau mungkin kami tidak memiliki hubungan apa pun. “Gadis yang kau bawa kemari semalam dan tidur denganmu disini..” ucapku dingin, lalu bergerak bangkit. Tapi ia menarikku hingga kembali terduduk di pinggir tempat tidur dengan tatapan serius padaku.

“Apa maksudmu gadis yang tidur denganku?” tanya Hyunseung. Aku yakin ia tidak cerdas untuk menanyakannya padaku.

Hatiku kembali terasa sakit mengingat gadis semalam. Aku melepaskan genggaman tangannya perlahan, “Aku akan pergi bekerja..” ucapku pelan. Tapi ia mempertahankan pegangannya di tanganku. Aku menatapnya kesal, air mataku bisa jatuh kapan saja jika ia meneruskan ini.

Hyunseung menatapku tak percaya, “Maksudmu, bukan kau yang tidur denganku semalam?”

Dahiku berkerut mendengar pertanyaan Hyunseung, “Tentu saja oppa.. Aku pulang larut semalam dan…..” aku menghela nafas dalam mengingat kejadian semalam.

Mata Hyunseung membesar, “Maksudmu….. aku tidur dengan wanita panggilan?”

Oke, dia atau aku yang punya masalah ingatan?

Hyunseung memejamkan matanya dan mengacak-acak rambutnya frustasi, “Aissshhh!!!”

Aku menatap Hyunseung bingung, “Oppa, waekeure?”

Hyunseung memandangku kesal, lalu memandang tubuh bagian bawah tubuhnya. Lalu mengacak-acak rambutnya lagi. “Aisshhh!!! Menjijikkan!!” serunya sendiri.

Dahiku berkerut mendengar ucapannya.

Hyunseung memandangku kesal, “Ya Hyuna! Kenapa kau membiarkanku tidur dengan gadis itu?!”

Mataku berkedip-kedip memandangnya bingung, “Ne?”

Hyunseung mengintip tubuh bagian bawahnya dibalik selimut, lalu kembali mengacak-acak rambutnya frustasi. Tak lama ia kembali menatapku kesal, “Apa yang kau lakukan ketika aku menyetubuhi gadis itu?! Seharusnya kau menyeret gadis itu keluar! Kenapa kau hanya membiarkanku saja?!”

Sekarang aku benar-benar tak mengerti apa yang terjadi, “Oppa.. kenapa kau marah padaku?”

“Aisshh.. semalam aku mabuk berat dan kupikir gadis itu kau! Karena itu aku… aaarrrrghhh!!!” serunya frustasi.

Aku tertegun sesaat, tiba-tiba kenangan buruk semalam berubah menjadi berita baik setelah mendengar ucapan Hyunseung. Bibirku membentuk senyuman, “Jadi oppa berpikir gadis semalam itu aku?”

Hyunseung menatapku kesal, “Memangnya aku pernah tidur dengan gadis lain?!” ucapnya, “Aisshh! Jika aku terkena penyakit kelamin aku akan menuntutnya!!” ucapnya sambil menyibak selimut dan berjalan ke kamar mandi tanpa mempedulikan tubuhnya yang telanjang.

Aku tersenyum lebar mengetahui itu semua. Pertama dia berpikir gadis semalam adalah aku, kedua ternyata dia hanya tidur denganku. ^^

Dia benar-benar ada disisiku kan? Aku tidak perlu berpikir lagi, aku tau dia ada untukku.

 

=Beberapa Saat Kemudian=

Aku kembali ke rumah setelah menyelesaikan pekerjaan terakhirku. Memiliki dua pekerjaan membutuhkan tenaga extra, itu benar. Begitu masuk ke kamarku, aku disambut kesunyian. Aku menghela nafas dalam, lalu menutup pintu dan melangkah pelan menghampiri tempat tidur. Tubuhku terduduk dipinggir tempat tidur sambil memandangi sekitarku. Hanya ada aku. Selalu begitu. Sejak aku dapat mengingat apa yang terjadi, aku selalu seorang diri. Bahkan aku tidak tau siapa nama lahirku yang sebenarnya. Kim Hyuna adalah nama yang diberikan ibu panti asuhan padaku. Sebelum ia memberikanku pada pemerintah dan membuatku berpindah dari rumah satu dan satunya lagi.

Bulir air mata jatuh begitu saja ke pipiku. Aku benar-benar tidak tau harus mengadu kemana. Aku bahkan tidak punya teman yang bisa kuajak bicara. Satu-satunya yang selalu setia mendengar kisahku hanya pena dan kertas. Ne, aku menulis buku harian sejak usiaku 16 tahun. Tapi aku tak pernah menyimpan semuanya. begitu buku yang satu habis, aku akan membakarnya. Kemudian menulis yang lainnya.

Aku ingin menghubungi Hyunseung dan memintanya datang untuk menemaniku, tapi kurasa aku tidak berhak melakukannya. Karena aku bukan kekasihnya. Aku sering ingin bertanya padanya, apa yang ia pikirkan tentang hubungan kami. Tapi aku takut dia malah tidak senang dan tidak akan kembali kemari lagi.

 

=Sebuah Studio Pahat=

Hyunseung tersenyum melihat hasil pahatannya diatas meja.

Dujun menghampiri Hyunseung sambil memperhatikan pahatan yang dibuat temannya itu, “Hmm… Karyamu mulai terlihat menarik. Sepertinya kau mendapat inpirasi lain..” candanya.

Hyunseung tertawa kecil, “Ani.. aku hanya mendapat tempat tenang untuk membuatnya..”

“Jadi benar kau keluar dari rumahmu?” tanya Dujun menahan tawa.

Hyunseung memutar bola matanya kesal, “Ne… Tertawalah selagi kau tidak memiliki ayah seperti ayahku!”

“Ani.. bukan seperti itu. Kau hebat bisa bertahan sendiri. Padahal ancaman ayahmu sangat mengerikan..” ucap Dujun.

Hyunseung menghela nafas dalam, “Ne.. Aku harus hidup seperti gelandangan selama tidak menuruti ayahku..”

“Jadi.. Dimana kau tinggal sekarang?” tanya Dujun ingin tau.

“Terkadang aku kembali kerumah.. Terkadang aku menginap dirumah gadis itu..” jawab Hyunseung sambil mengambil alat pahatnya, lalu memberikan ukiran di sisi pahatannya.

“Gadis? Maksudmu, gadis yang kau temui di klub waktu itu?” Tanya Dujun memastikan.

“Ne.. Wae?” Tanya Hyunseung sambil tetap serius dengan pahatannya.

“Kupikir kau hanya ingin bermalam dengannya..” ucap Dujun heran.

Hyunseung menatap Dujun kesal, “Memangnya aku sepertimu?” tanyanya, lalu kembali mengukir.

Dujun tertawa kecil, “Apa dia sangat hot di tempat tidur? Boleh aku meminjamnya semalam?” candanya.

Hyunseung menatap Dujun tajam, “Kau ingin aku mencongkel matamu?!”

Dujun semakin tertawa mendengar ucapan Hyunseung.

 

=Kamar Studio Hyuna=

Hyunseung bergerak bangkit dari pinggir tempat tidur dan melangkah menuju kamar mandi.

Aku yang sudah berbaring tempat tidur mendengar ponsel Hyunseung berbunyi, aku memandang ke arah pintu kamar mandi. Tapi tidak terlihat Hyunseung. Jadi aku mengulurkan tangannya mengambil ponsel pria itu dan melihat ada pesan masuk. Tanpa sengaja aku malah membuka pesan itu. ‘Ups..’ batinku. Namun aku tertegun melihat balasan pesan dari seseorang bernama Dujun itu.

Apa dia kekasihmu? Kau selalu datang ke tempatnya saat bertengkar dengan ayahmu. Jika ayahmu tau kau menginap ditempat seorang gadis, kau akan mati..

Dahiku berkerut. Aku sama sekali tidak tau apa pun tentang keluarga Hyunseung. Begitu juga sebaliknya, kami bahkan tidak perna benar-benar mengobrol tentang masalah pribadi. Aku segera meletakkan ponsel itu lagi ketika mendengar pintu kamar mandi terbuka dan berbaring di bantalku.

Hyunseung membuka baju kausnya dan naik ke tempat tidur.

“Tadi ponselmu berbunyi..” ucapku memberitau.

Hyunseung memandangku, lalu mengambil ponselnya dan melihat.

“Seseorang bernam Dujun mengirimimu pesan..” ucapku lagi, sebelum dia menyadari aku telah membaca pesannya.

Hyunseung memandangku lucu, “Kau curiga aku mengirim pesan pada seorang gadis?”

Aku tertawa malu, “Aniya.. Hanya kebetulan saja tadi aku melihatnya..”

Hyunseung tertawa kecil dan memandang ponselnya, “Aku tidak punya banyak kenalan gadis.” ucapnya sambil membalas pesan temannya tadi.

Aku tersenyum lebar, “Jinja? jadi aku satu-satunya gadis yang selalu bersamamu?”

Hyunseung tertawa kecil, “Itu memalukan. Jangan bahas lagi..” ucapnya, lalu meletakkan ponselnya kebawah bantal dan menarik selimut menutupi tubuhnya. “Keure, selamat malam..” ucapnya dan mencium pipiku sambil tersenyum. Kemudian berbaring disebelahku.

Aku tersenyum karena sifat manisnya. Mataku terpejam dan memerintahkan otakku untuk tidur. Tapi pikiranku tidak bisa tidur, aku penasaran dengan apa yang di balas Hyunseung pada temannya. Setelah hampir satu jam, aku membuka mata dan memperhatikan wajah Hyunseung. Memastikan dia sudah tidur atau belum. Jika melihat bagaimana tenangnya dia, kurasa dia sudah tidur. Tanganku meraba kebawah bantal mencari ponselnya perlahan. Yup! aku mendapatkannya. Perlahan juga aku menarik ponselnya keluar dan masuk ke bawah selimut. Aku sangat penasaran apa yang Hyunseung pikirkan tentang hubungan kami. Tapi… aku harus menelan kekecewaan ketika membaca apa yang dikirimkan Hyunseung pada temannya.

Hahaha.. aniya.. dia tidak mungkin kekasihku. Aku hanya menginap di tempatnya. Juga terkadang tidur dengannya. Tapi dia bukan kekasihku..

Hatiku yang tadi berbunga-bunga langsung menjadi gersang. Bahkan keropos dan pecah berantakan. Ne.. aku tidak mungkin menjadi kekasihnya. Sekarang mungkin dia memang ada disini dan hanya aku yang tidur dengannya, tapi aku tetap gadis sebatang kara.

 

=Studio Pahat=

“Gadis itu benar-benar bukan kekasihmu?” tanya Dujun pada Hyunseung yang sedang serius dengan pahatan di depannya.

“Ne..” jawab Hyunseung dengan nada bosan tanpa memalingkan perhatian dari pahatan di depannya.

Dujun mengerutkan dahi menatap Hyunseung, “Jadi kau hanya memanfaatkannya?”

Hyunseung mendengus kesal dan menatap Dujun, “Ne! Wae?!”

Dujun menatap Hyunseung tak percaya, “Ya… dia mungkin memang pelayan bar.. Tapi kau tetap tidak boleh melakukan ini padanya.. Kau yang menginap disana, tapi kau yang menghabiskan uangnya..”

“Ya.. Yoon Dujun. Selesaikan saja pahatanmu sebelum aku berpikir untuk membuat ukiran di wajahmu..” Ucap Hyunseung dingin, lalu kembali sibuk dengan pahatannya.

Dujun menghela nafas dalam dan memegang bahu pria itu, “Keure.. lakukanlah apa yang kau mau.. Tapi kau harus ingat, wanita adalah makhluk yang rapuh..” ucapnya, lalu melangkah pergi.

Hyunseung menghela nafas dalam. “Karena itu aku tidak ingin melukainya..” gumamnya pelan.

 

=Malam Tahun Baru=

Ini akan menjadi malam tahun baruku bersama Hyunseung. Tentu saja aku tidak akan melewatkannya. Aku ingin menghabiskan malam tahun baru bersamanya, agar aku bisa berkhayal aku tidak lagi seorang diri. Aku bahkan sudah menyiapkan semuanya. aku membeli dua karcis film romantis, memesan meja di restauran, bahkan akan menikmati sisa malam bersama di pinggir sungai Han. Yang perlu kulakukan sekarang adalah menghubunginya.

“Ehem..” dehemku untuk melancarkan tenggorokan, lalu memanggil nomor ponsel Hyinseung dan menempelkan ponselku ke telinga. Jantungku berdegap kencang menunggu ia mengangkat panggilanku.

“Yoboseyo…” jawab Hyunseung diseberang.

Tanpa sadar aku langsung tersenyim lebar mendengar suaranya, “Oppa.. Annyeonghaseo..”

“Ohh… Hyuna-a..” sapanya dengan nada ceria, sepertinya senang aku memanggil.

“Oppa, malam ini kau sudah memiliki acara?” tanyaku langsung. Kedua pipiku terasa panas mengatakannya.

“Nanti malam? hmm.. sebenarnya aku sudah memiliki janji bersama teman-teman kampiusku..” Jawab Hyunseunf.

Senyumanku langsung luntur mendengar ucapannya, “Hmm.. begitu ya..” ucapku kecewa sambil memandang dua tiket di tanganku.

“Waeyo?” tanya Hyunseung ingin tau.

“Ani.. Aku ingin menonton film tapi tidak ada yang bisa kuajak..” ucapku pelan, “Keure, sampai jumpa oppa..”

“Oh Hyuna!! Cangkaeman!!” Panggil Hyunseung cepat sebelum aku menutup telepon.

Aku tertegun mendengarnya memanggilku, “Ne…”

“Mmm.. Jam berapa filmnya?” tanya Hyunseung.

Aku memandang tiket di tanganku, “Pukul 11..” jawabku.

“Kurasa aku bisa pergi..” ucap Hyunseung.

Aku diam sejenak, “Ne? Lalu teman-temanmu?”

“Aku selalu menghabiskan waktu bersama mereka.. Gwenchana, lagi pula mereka akan tetap berpesta tanpa aku. Jadi… dimana tempatnya?” Tanya Hyunseung, jika mendengar nada bicaranya, kurasa dia tersenyum sekarang.

Aku langsung tersenyum lebar mendengar ucapannya. Tanpa pikir panjang aku langsung memberitaukan dimana tempat yang perlu ia datangi nanti.

“Keure… aku akan menemuimu disana..” ucap Hyunseung.

“Ne, oppa..” jawabku, lalu memutuskan telepon.

Dengan cepat aku bangkit dan mencari baju yang akan kukenakan nanti. Aku harus terlihat benar-benar cantik! Aku berencana memberitau Hyunseung tentang perasaanku. Mungkin dia berpikir aku tidak memiliki perasaan padanya, tapi malam ini aku akan memberitaunya kalau hatiku hanya untuknya. Dengan begitu aku bisa memintanya tetap disisiku.

 

=Rumah Keluarga Jang=

Hyunseung mengenakan jaketnya sambil memperhatikan pantulan dirinya di cermin. Bibirnya membentuk senyuman mengingat malam ini ia akan menghabiskan waktu bersama Hyuna. Setelah merasa puas dengan penampilannya, ia langsung melangkah keluar dari kamar dan melangkah turun ke lantai bawah.

“Jang Hyunseung!!”

Hyunseung berhenti melangkah sambil memutar bola matanya kesal, lalu berbalik menghadap ayahnya. “Ne, abeuji..” jawabnya datar.

Ayah Hyunseung menatap putranya tajam, “Kau bukan anggota keluarga lagi?! Kau pikir kau bisa pulang dan pergi sesukamu?! Kau pikir disini tidak ada siapa pun untuk kau pedulikan?!!”

Hyunseung menatap ayahnya dingin, “Aku tidak menggunakan fasilitasmu, aku kuliah dengan caraku sendiri. Apa aku harus mempedulikan yang lain juga?” tanyanya dingin.

Ayah Hyunseung menatap putranya marah, “Jang Hyunseung!!”

“Keurom, annyeonghaseo sajangnim..” ucap Hyunseung dingin sambil membungkuk sopan, lalu berbalik pergi.

“Ya Jang Hyunseung!! Kau tidak tau adikmu di rawat di rumah sakit kan?!”seru ayah Hyunseung.

Hyunseung tertegun dan spontan berhenti, lalu berbalik menatap ayahnya. “Mwo?!”

Ayah Hyunseung menatap putranya kecewa sambil menggeleng pelan, “Apa kau sudah merasa hebat telah melawanku?” tanyanya, lalu melangkah pergi.

 

=Rumah Sakit=

Hyunseung membuka sebuah pintu kamar perawatan dan melangkah masuk, ia sempat tertegun melihat seorang gadis yang duduk bersandar memandangnya.

Gadis cantik itu memandang Hyunseung bingung, “Oppa?”

Hyunseung melangkah maju menghampiri adiknya, “Ya! Jang Geurim! Kau seharusnya memberitauku tentang keadaanmu!” ucapnya kesal.

Gadis bernama Geurim itu menghela nafas dalam dan menatap kakak laki-lakinya aneh, “Apa oppa akan mendengarkanku saat oppa dan appa terus bertengkar?”

Hyunseung menghela nafas dalam dan menggenggam tangan adiknya erat sambil menatapnya dalam, “Oppa miane..”

Geurim diam sejenak mendengar ucapan Hyunseung sambil menatap kakaknya sedih, “Na gwenchana, oppa.. Hanya operasi usus buntu..”

Hyunseung bergerak duduk di kursi sambil tetap memandangi adiknya, “Seharusnya oppa lebih dewasa setelah eomma meninggalkan?”

Geurim membaringkan kepalanya ke bantal dan memejamkan mata tanpa melepaskan tangan Hyunseung yang menggenggam tangannya.

Hyunseung menyesal tidak memperhatikan adiknya, seharusnya dia ada di rumah sakit saat adiknya operasi. Ia merapatkan selimut adiknya, “Tidurlah.. Oppa akan menemanimu..” ucapnya pelan.

 

=10:45 pm=

Aku berdiri di depan pintu masuk studio tempat aku dan Hyunseung akan menonton. Sekali lagi aku memandang kesekitar mencari sosok Hyunseung. Tapi ia belum juga muncul. Aku memandang layar ponselku lagi untuk melihat jam, 15 menit tersisa sebelum film dimulai. Hatiku mulai merasa risau dan bertanya-tanya apakah dia benar-benar akan datang atau tidak. Tapi aku langsung menggeleng untuk menepis semua pemikiran itu. “Gwenchana, masih 15 menit lagi..” Gumamku sendiri dan menunggu lagi.

11.01 pm.

Orang-orang di sekitarku sudah masuk ke studio. Hanya aku yang masih berada disini. Seorang diri seperti orang bodoh menunggi seseorang yang tidak akan datang. Aku mengedarkan pandanganku lagi, berharap aku akan melihat Hyunseung muncul dengan wajah menyesalnya. Tapi aku harus benar-benar sadar kalau tidak akan ada yabg datang untukku. Tidak akan pernah ada.

Aku menghela nafas dalam dan melangkah menuju pintu masuk, lalu memberikan tiketku.

“Silahkan nona..” ucap gadis penjaga pintu sambil memberikan potongan tiketku.

Aku tersenyum tipis dan melangkah masuk. Di ruangan gelap itu, aku menyaksikan film yang ingin kutonton bersama Hyunseung. Di sekitarku, mereka pergi bersama orang-orang yang mereka kasihi. Menunggu pergantian tahun bersama orang spesial. Tapi aku… Selalu memulai semuanya sendiri. Bulir air mataku terus mengalir begitu saja ketika menyaksikan film itu. Meskipun aku tertawa ketika adegan comedy muncul, air mataku terus mengalir begitu saja.

Air mataku saat ini bukan karena Hyunseung tidak datang. Tapi karena aku akan menjalani tahun berikutnya seorang diri. Berusaha menemukan orang yang menginginkan kehadiranku. Atau orang yang akan melakukan apa pun untukku. Tapi setelah tahun ini berlalu, aku sadar kalau tidak akan ada yang menginginkanku. Aku orang terbuang sejak lahir, tidak berarti, tidak dibutuhkan, juga berada di dunia ini karena takdir. Sebanyak apa pun aku berharap, aku tetap seorang diri. Aku mengerti sekarang. Aku akan menerimanya, aku akan hidup seperti ini.

Jam sudah menunjukkan pukul 2.23 am saat aku melangkah kembali ke gedung kamar studioku. Disaat yang lain tidur dengan nyenyak dengan perasaan tenang, aku akan tidur dengan kesendirianku. aku menghela nafas dalam sambil memasukkan kedua tangan ke saku baju hangat dan memandang langit malam yang terlihat bertaburan bintang. Bibirku membentuk senyuman melihat betapa cerahnya langit di hari pertama tahun ini. “Gwenchana.. kau selalu melakukan semuanya sendiri, Kim Hyuna.. Kau bisa melakukannya lagi. Gwenchana..” mataku mulai di penuhi air mengatakan itu. “Jinja gwenchana..” dan bulir air mulai berjatuhan ke pipiku. Aku benar-benar tidak tau siapa yang kucoba bohongi sekarang. “Jinja gwenchana?” tanyaku pada diri sendiri. Kakiku kembali melangkah, namun tiba-tiba cahaya menyilaukan penglihatanku.

Diiiiiiin!! Bruk!!!!

 

=Keesokan Paginya=

Aku terbangun karena cahaya yang masuk ke bawah pelupuk mataku. Perlahan mataku terbuka dan memandang sekitar. Aku tau ini bukan kamarku. Setelah beberapa saat dahiku berkerut karena merasa nyeri di rusuk sebelah kiri, “Aahh…” rintihku menahan sakit. Apa yang terjadi?

Tirai pembatas dibagian depan tempat tidur terbuka, masuk seorang gadis yang sepertinya adalah perawat. “Anda sudah sadar nona?” tanyanya sembari menghampiriku.

Aku nemandangnya bingung, “Apa yang terjadi padaku?” pertanyaan klasik yang dilontarkan pasien ketika sadar.

Perawat itu tersenyum, “Gwenchana.. dini hari tadi kau dibawa kemari karena mengalami kecelakaan lalu lintas. Seorang pelajar mengemudi dalam keadaan mabuk dan tidak sengaja menyenggolmu, nona..”

Aku berusaha mengingat, tapi rasa sakit ini menggangguku. “Ahh…” rintihku lagi.

“Kau hanya mengalami cedera kecil di rusuk nomor tiga di sebelah kiri. Mungkin tubuhmu akan terasa lemas beberapa saat karena shock akibat kecelakaan itu. Tapi akan segera menghilang.. Kau tidak perlu khawatir..” jelas perawat itu.

Aku mengangguk mengerti, “Gamshamida..”

“Oh ya, nona.. Pihak rumah sakit tidak bisa menghubungi siapa pun. Apa anda ingin kami menghubungi seseorang sekarang?” tanya perawat itu.

Pertanyaan itu membuatku tertegun. Siapa yang akan datang? “Mmm.. gwenchana.. Aku akan menghubunginya..” jawabku sambil tersenyum tipis.

“Baiklah.. semoga anda lekas sembuh..” ucap perawat itu dan melangkah pergi.

Aku diam sejenak ditempatku. Aku sedang berpikir, apa aku bisa mengandalkan seseorang disaat seperti ini? Rusuk kiriku benar-benar terasa sakit, aku bisa berharap akan ada seseorang yang membantuku kan? Aku memandang ke meja disebelahku, disana terletak tas dan baju hangatku. Aku memegang rusuk kiriku dan menjangkau tasku dengan tangan yang lain. Arrgh! Sakit sekali!! Air mulai berkumpul di rongga mataku. Tapi aku berusaha menahannya dan mengambil tasku, lalu mengeluarkan ponselku. Aku diam sejenak memandang layarnya, sebenarnya aku tidak terlalu yakin untuk menghubungi seseorang. Tapi aku ingin mencobanya. Aku mencari nomor Hyunseung dan memanggilnya, lalu menempelkan ponsel ke telingaku dan menunggu. 1 detik.. 2 detik.. 3 detik… dia tidak mengangkatnya. Hatiku kembali terasa sangat sakit, bahkan rasa sakit di rusukku seperti teredam oleh sakit di hatiku. Tanganku menurunkan ponsel dari telinga dan menatap langit-langit putus asa. Seharusnya aku tau, aku tidak pantas mengharapkan siapa pun ada disisiku..

Aku berbaring di sana selama hampir 1 atau 2 jam. Setelah rasa sakit di rusukku berkurang, aku memutuskan kembali pulang. Menunggu pun tidak ada gunanya. Kurasa aku tidak bisa bekerja dengan tubuh seperti ini, jadi aku memutuskan untuk beristirahat di rumah saja. Begitu aku tiba di rumah dan bergerak duduk perlahan di pinggir tempat tidur sambil memegangi rusuk kiriku, ponselku berbunyi. Hyunseung memanggilku. Seperti orang bodoh, aku langsung mengambil ponsel dan mengangkatnya. “Yoboseo..”

“Ohh.. Hyuna-a.. Mian, aku lupa memberitaumu kalau aku tidak bisa datang semalam.. Apa kau menunggu lama?” Tanya Hyunseung menyesal.

Aku menghela nafas dalam, “Mmm.. Aniya, aku menunggumu sebentar. Tapi oppa tidak kunjung datang, jadi aku menonton sendiri..” jawabku.

“Mmm.. miane.. Aku akan menggantinya lain waktu..” jawab Hyunseung.

“Gwenchana.. Aku memang ingin menonton film itu..” ucapku, “Mmm.. kenapa oppa tidak datang?”

Terdengar Hyunseung menghela nafas dalam, “Adikku baru saja menjalani operasi usus buntu, jadi aku harus menemaninya.. Miane, seharusnya aku langsung memberitaumu..”

Aku tertegun mendengar jawabannya, seharusnya aku tidak bertanya.

“Hyuna, kau masih disana?” Tanya Hyunseung.

“Oh.. ne, aku masih disini..” jawabku pelan. Bulir air mataku berjatuhan begitu saja mengingat hanya aku yang tidak punya siapa pun disisiku. Hyunseung memiliki keluarga dan teman-teman yang ada untuknya, tapi aku tidak punya siapa pun. Tidak pernah.

“Mmm.. Keure, aku akan ke tempatmu begitu adikku membaik..” ucap Hyunseung.

“Ne, oppa..” jawabku berusaha terdengar biasa saja. Lalu telepon terputus. Aku mulai menangis menyadari betapa menyedihkannya diriku. Saat sakit seperti ini, aku selalu menjaga diriku sendiri. Aku bekerja untuk hidupku sendiri. Saat aku disalahkan, tidak ada yang datang untuk membelaku jika bukan aku yang melakukannya.

Selama beberapa hari aku hanya berbaring di tempat tidur. Jika banyak bergerak rusukku masih terasa sakit. Aku tidak peduli meskipun aku hanya makan mi instan karena memang tidak ada yang peduli padaku. Tapi, hatiku masih menunggu Hyunseung akan datang dan menemukanku seperti ini. Walaupun itu sangat tidak mungkin.

 

=Suatu Malam=

Kurasa aku benar-benar tiba di titik batas dimana aku tidak sanggup lagi merasakan semuanya. Aku membeli selusin botol soju dan meminumnya seorang diri di kamarku. Hanya satu tujuan yang kutuju, mengakhiri penderitaanku. Aku meneguk botol soju seperti air mineral, tidak peduli seberapa besar dampaknya nanti. Aku hanya ingin mengakhiri semuanya. Kepalaku mulai terasa pusing, pandanganku bergoyang dan tubuhku terasa lemah. Aku bergerak bangkit, namun dunia terasa bergoyang hingga aku hampir jatuh lagi. Aku memaksakan diriku melangkah ke meja dapur dan mengambil sebuah pisau. Bulir air mataku tak bisa berhenti sejak aku merencanakan semua ini. Aku menatap pisau itu, berharap dia akan mengambil semua rasa sakitku. Aku memejamkan mata dan mengarahkan ujung pisau itu ke leherku. Ne, satu tusukan dalam akan membuat pendarahan di urat besar leherku. Tidak akan ada yang menemukanku, mereka akan menyadari mayatku setelah menimbulkan bau busuk. Aku akan melakukannya dengan cepat. Tapi sebelum tanganku menusukkan pisau itu ke leherku, sebuah pemikiran muncul di kepalaku. Kupikir orang mabuk tidak berada di pikiran warasnya, tapi aku masih bisa memikirkannya. Saat ini, aku berpikir bahwa aku melakukan semuanya untuk diriku. Aku mengurus sekolahku, mengurus makanku, mengurus diriku sendiri. Jika aku mati, siapa yang akan mengurus pemakaman dan semuanya? Hal itu membuatku menangis lebih keras dan jatuh terduduk ke lantai, aku benar-benar muak dengan hidup seperti ini. Bahkan untuk mati aku harus memikirkan diriku. Tanpa kusadari aku tertidur di lantai.

Keesokan paginya.

Aku duduk bersandar di tempat tidurku sambil berpikir. Untuk mati tidak sulit lagi bagiku sekarang. Tapi yang kupikirkan, bagaimana dengan jasadku nanti? Aku menghela nafas dalam dan mengangguk sendiri, “Ne.. Kau mengurus semuanya sendiri Hyuna, kau juga harus mengatur pemakamanmu sendiri..” gumamku.

Mungkin aku satu-satunya orang gila yang melakukan ini.

Aku mencari jasa kremasi di Koran dan menghubunginya.

“Annyeongaseo, apa benar ini jasa kremasi Joseon?” tanyaku begitu telepon di angkat. Bibirku membentuk senyuman mengetahui itu nomor yang benar, “Ne, aku ingin menanyakan biaya untuk kremasi dan semuanya..” ucapku memberitau. Aku tertegun mendengar biaya yang cukup mahal untuk kremasi, “Ohh.. semahal itu?” tanyaku bingung.

“Apa anda ingin mengkremasi jasad kenalan anda nona?” Tanya gadis di seberang.

“Ne? ohh.. ne..” jawabku.

“Kapan kau ingin melakukannya?” Tanya gadis itu lagi.

“Mmm.. jujur saja, harga itu sangat mahal.. Tapi aku akan mengumpulkan biayanya. Mmm.. bisakah kau mengaturkannya satu bulan lagi?” tanyaku pelan.

“Satu bulan? Apa tidak terlalu lama nona?” Tanya Gadis itu heran.

“Aniya, gwenchana.. Jasadnya akan datang satu bulan lagi. Aku akan melunasi biayanya sebelum waktu yang di tentukan, bisakah kau menjadwalkannya dari sekarang?” tanyaku, berusaha terdengar ceria.

“Ohh.. tentu nona.. Siapa nama jasad yang akan di kremasikan?” Tanya gadis itu.

Aku diam sejenak, lalu tersenyum sedih. “Kim Hyuna..”

“Ne.. Anda tinggal menyelesaikan pembayarannya dan kami akan melakukannya..” ucap gadis diseberang.

“Ne, gamshamida..” ucapku, lalu telepon terputus. Aku menghela nafas dalam, lalu memandang kalender. Waktuku hanya sebulan untuk mengumpulkan uang, bahkan biaya sekolah lebih murah dari biaya kremasi. Tidak menunggu waktu lama, aku langsung bangkit dan mengganti baju. Aku harus bekerja keras mengumpulkan biayanya.

 

=Rumah Keluarga Jang=

“Oppa, apa kau harus berkeras dengan keinginanmu?” Tanya Geurim.

Hyunseung memandang adiknya sedih, “Geurim-a, eomma selalu berkata untuk mengejar apa pun yang kita inginkan. Keutji?”

Geurim menatap Hyunseung sedih, “Ne, oppa.. Tapi sampai kapan kau akan bertengkar dengan appa?”

Hyunseung memandang ke bawah menyesal.

“Oppa, melanjutkan perusahaan appa bukan berarti oppa harus melepaskan mimpimu kan?” ucap Geurim mencoba merubah keputusan kakaknya.

Hyunseung memandang Geurim dan tersenyum sedih, “Oppa akan memikirkannya, istirahatlah..” ucapnya, lalu bangkit dan berjalan keluar dari kamar adiknya. Ia kembali ke kamarnya dan duduk di pinggir tempat tidur, lalu mengambil tasnya di lantai dan mengeluarkan tas peralatan pahatnya. Ketika membuka benda itu, ia menyadari ada satu alat pahat yang tidak ada. Dahinya berkerut dan berusaha mengingat di mana ia meletakkannya. “Aku meninggalkannya di tempat Hyuna..” gumamnya, lalu mengambil ponsel dan menghubungi gadis itu. cukup lama ia menunggu hingga telepon itu diangkat.

“Ne, oppa..”jawabku setengah berteriak.

Hyunseung mengerutkan dahi mendengar suara ribut dari kejauhan, “Hyuna, dimana kau sekarang?”

“Aku ada di tempat bekerja oppa, ada apa?” Tanyaku.

“Kau bekerja di klub lagi?” Tanya Hyunseung bingung.

“Ne, mian oppa.. Aku tidak bisa berbicara terlalu lama.. Nanti kuhubungi lagi..” ucapku dan telepon terputus.

Hyunseung memandang ponselnya tak mengerti. Aku memang berkata tidak ingin bekerja di Klub lagi, tapi sekarang aku ada disana.

 

=Sebulan Kemudian=

Aku mengenakan pakaianku dan berjalan ke depan cermin, aku sempat tertegun melihat wajahku disana. Sangat tirus dan terlihat lelah. Bagaimana tidak, aku melakukan 3 pekerjaan dalam sehari. Pagi aku bekerja di Sebuah perpustakaan, siang aku bekerja di sebuah restaurant cepat saji, malam aku bekerja di Klub dimana aku pertama kali bertemu Hyunseung. Aku tidak memiliki waktu untuk tidur dan makan. Bibirku membentuk senyuman, “Sebentar lagi..” ucapku, lalu mengambil tas dan segera melangkah keluar. Aku berpapasan dengan Hyunseung ketika keluar dari pintu.

Hyunseung menatapku kaget, “Hyuna? Waekeure? Kau sakit?” tanyanya sambil memegang pipiku.

Aku menatapnya tak percaya, aku benar-benar merindukannya hingga ingin memeluknya erat saat ini. Tapi aku tidak ingin semakin sakit menyadari dia hanya angin berlalu yang akan meninggalkanku. Bibirku membentuk senyuman sambil memegang tangannya di pipiku, “Gwenchana oppa.. Aku harus pergi bekerja, sampai nanti..” ucapku, lalu langsung melangkah pergi sebelum dia menahanku.

Hyunseung memperhatikanku pergi. Sepertinya dia khawatir melihat kondisiku sekarang. Paling tidak masih ada orang yang memikirkanku, aku akan membiarkannya.

 

=Klub=

Dujun dan teman-temannya yang lain tertegun melihat Hyunseung muncul, “Ya.. Kau bilang tidak bisa datang..”

Hyunseung bergerak duduk sambil mengedarkan pandangannya, “Aku berubah pikiran..” ucapnya.

“Siapa yang kau cari?’ Tanya Jiyoon heran.

“Aniya..” jawab Hyunseung, tapi tetap mengedarkan pandangannya. Akhirnya ia melihatku berlalu di antara meja dengan nampan dan gelas bir. Ia terlihat khawatir.

“Ya.. ini.. minumlah..” ucap Dujun sambil memberikan sebotol bir ke tangan Hyunseung.

Hyunseung menghela nafas dalam dan meneguk botol bir itu, namun matanya masih memperhatikanku.

Di Klub seperti itu, semua pelayan harus mengenakan pakaian sexy, terutama untuk pelayan yang turun ke meja VIP. Dan itu aku.

Aku tersenyum pada pria-pria tampan di meja VIP, “Ini pesananmu..” ucapku sambil meletakkan dua gelas besar bir ke meja.

Seorang Pria tersenyum, “Hei, kau ada waktu menemani kami?”

“Mian, aku masih bekerja. Apa kau mau kupanggilkan seseorang?” tanyaku dengan senyum menggoda.

Pria yang lainnya menggeser duduknya mendekatiku, “Apa ada seseorang yang lebih sexy darimu..” tanyanya, satu tangannya bergerak meraba bokongku.

Aku tertawa kecil sambil mendorong tangannya, “Keurom.. Banyak gadis yang lebih sexy.. Tunggu sebentar..” ucapku, lalu berbalik pergi.

“Tunggu..” ucap pria tadi sambil menahan tanganku.

Aku berhenti dan tersenyum padanya, “Wae?”

Pria tadi tersenyum evil, “Apa aku perlu membayar untuk mendapat ciuman darimu, sexy?”

Aku diam sejenak, lalu tersenyum lebar. “Keurom.. itu sudah peraturannya..”

“Mmm.. jika bermalam denganku?” tanyanya menggodaku.

Aku tertawa lucu sambil memukul bahunya pelan, “Aku tidak menerima tawaran bermalam, sampai jumpa.” Ucapku dan melangkah pergi, tapi dia tetap menahan tanganku.

“Keure, aku akan memberikanmu tips jika kau memberikanku French kiss..” ucap pria tadi sambil tersenyum manis, memamerkan gigi rapinya.

Aku tersenyum mendengar ucapannya, “Mmm.. keure..” ucapku, lalu mendekat padanya. Tapi seseorang menarik bahuku dari belakang, aku menoleh dan tertegun melihat Hyunseung.

Hyunseung menatapku tajam, lalu menatap pria yang masih memegang tanganku. “Aku sudah menunggunya sejak tadi, jika kau ingin bersamanya. Tunggu dia selesai bersamaku..” ucapnya dingin, lalu menarikku pergi dari meja itu,

Aku seperti robot yang mengikuti Hyunseung masuk ke tengah-tengah keramaian orang yang menari mengikuti music.

Hyunseung berhenti dan menatapku, tangannya mengelus rambutku lembut dan bergerak maju untuk menciumku.

Aku terkejut merasakan bibirnya menyentuh bibirku, namun aku bisa mencium aroma alcohol darinya. Ia pasti mabuk. Terkadang saat mabuk ia akan melakukan hal-hal seperti ini. Mungkin saat itu ia berpikir gadis yang bersamanya adalah aku, tapi sekarang benar-benar aku. Aku memejamkan mata dan membalas ciumannya. Tangannya yang lain memeluk pinggangku dan menarik tubuhku merapat dengannya. Kedua tanganku bergerak memeluk lehernya.

Setelah beberapa saat Hyunseung menarik wajahnya dan menghela nafas dalam berkali-kali, kedua matanya terbuka perlahan dan menatap mataku dalam.

Aku tidak mengerti arti tatapannya, ia terlihat marah. Juga tidak focus akibat alcohol yang ia minum. Bibirku membentuk senyuman menatap kedalam matanya, ‘Bisakah aku menyimpanmu selamanya di sisiku, Jang Hyunseung? ‘ batinku.

Hyunseung memegang kedua pipiku, “Kau terlihat sakit Hyuna..” ucapnya ditengah dentuman music yang besar itu.

Mataku kembali terasa di penuhi air mendengar suaranya terdengar khawatir, aku tidak mengatakan apa pun dan kembali memeluk lehernya. Dia juga tidak mengatakan apa pun dan kembali memeluk pinggangku. Saat ini, malam ini… Aku tidak akan meminta banyak hal dan tidak akan mencoba menahanmu lagi Hyunseung. Kau bisa pergi dan melanjutkan hidupmu lagi, kau tinggal mengatakan selamat tinggal nanti. Aku tidak akan mengatakan apa pun dan jangan bertanya kenapa. Detik ini aku hanya memintamu untuk diam dan membiarkanku merasakan semuanya sendiri. Biarkan hatiku merasa seperti semuanya sangat nyata dan memang untukku. Aku berusaha menghentikan hatiku untuk percaya kalau kita memang ditakdirkan bersama. Tapi hatiku tak bisa melepaskanmu..

Hyunseung memperat pelukannya dan mengelus rambutku.

Aku memejamkan mata dan merasakan pelukan hangatnya. Satu tanganku mengelus rambutnya seiring bulir air yang berjatuhan dari mataku. Aku melepaskan pelukanku itu dan menatap kedua matanya dalam.

Hyunseung tertegun melihatku menangis, aku yakin ini pertama kalinya ia melihatku seperti ini. “Hyuna, kenapa kau menangis?” tanyanya sambil menyeka air mataku.

“Oppa.. Aku memang sakit..” ucapku pelan. Lalu menarik wajahnya kearahku dan memejamkan mata sambil kembali menciumnya dalam. Kumohon Hyunseung, katakan aku adalah satu-satunya gadis yang kau cintai. Atau berbohonglah, paling tidak untuk malam ini saja. Aku butuh pengobat kesendirianku. Aku sangat rapuh, meskipun aku akan hancur setelah kau mengatakannya, aku akan menahannya malam ini.

Hyunseung membalas ciumanku dengan lembut. Kurasakan kedua tangannya menahan wajahku agar tidak bergerak dan semakin memperdalam ciuman kami.

Bulir air mataku kembali berjatuhan merasakan betapa menyedihkannya aku. Mataku terbuka perlahan, menatap kedalam matanya yang terpejam. Kau sangat sempurna untuk mengobati lukaku, Hyunseung. Hanya itu yang kubutuhkan. Tapi aku sangat bodoh. Untuk berpikir aku bisa disisimu selamanya.

Hyunseung tertegun dan menatapku tak mengerti ketika aku mendorong tubuhnya, “Hyuna..”

Bibirku membentuk senyuman dan memegang kedua pipinya. “Gumopta oppa.. Aku harus kembali bekerja..” ucapku.

“Jika kau sakit, kenapa kau bekerja malam ini?” Tanya Hyunseung.

Aku berbalik dan melangkah keluar dari kerumunan itu. Aku tidak menyalahkanmu Hyunseung, kau sama sekali tidak salah. Aku yang telah salah untuk bertahan hidup seperti ini. Maafkan aku..

“Hyuna..” panggil Hyunseung, tapi aku tidak berhenti untuk mendengarkannya berbicara.

 

=Keesokan Harinya=

Aku melangkah di trotoar sambil memandangi buku tabunganku. Aku baru saja melunasi pembayaran jasa kremasi. Lusa adalah jadwal kremasinya, waktuku tidak banyak. Tapi masih ada uang yang tersisa di rekeningku. Aku tidak membutuhkannya lagi setelah aku mati. Kakiku berhenti melangkah dan memandang sekitar, apa yang akan kulakukan dengan uang ini? Mataku berhenti pada sebuah patung pahatan indah di balik etalase toko. Bibirku membentuk senyuman, “Aku akan memberikan hadiah pada Hyunseung oppa..” ucapku senang, lalu melangkah cepat menuju toko yang menjual alat pahatan. Aku berencana membelikan satu set alat pahat baru untuk Hyunseung. Ia menggunakan alat pahat usang, aku tau ia tidak akan berniat membelinya yang bahu hingga semua pahatannya rusak. Tapi aku ingin memberikan hadiah ini untuknya.

Di tempat lain.

Hyunseung sudah berada di dalam bus menuju ke tempat Hyuna ketika sebuah panggilan masuk ke ponselnya, ternyata Dujun. “Ne, Dujun..”

“Hyunseung-a, kau dimana? Professor ingin bertemu denganmu..” ucap Dujun.

Hyunseung tertegun, “Profesor? Wae?”

“Beliau melihat hasil pahatanmu, katanya kau bisa mengikutsertakan karyamu dalam pameran nanti..” ucap Dujun memberitau.

Hyunseung terdiam sesaat, “Ne?” ucapnya tak percaya, lalu tersenyum lebar. “Aku segera kesana!!” ucapnya, lalu bangkit dan menekan tombol berhenti. Ia harus turun di halte berikutnya dan segera ke studio pahat.

 

=Kamar Studio Hyuna=

Aku yang mengenakan kemeja besar pria berwarna putih untuk menutupi pakaian dalamku tersenyum setelah memasangkan pita pada satu set alat pahatan baru untuk Hyunseung dan meletakkannya ke meja di sebelah tempat tidur. Aku mengambil buku harianku dan mulai menulis untuk terakhir kalinya. Tidak ada penyesalan dihatiku, aku justru merasa bahagia akan segera terlepas dari penderitaanku. Setelah selesai aku meletakkan buku harianku di bawah bantal dan duduk bersandar di tempat tidur. Tanganku mengambil pahatan Hyunseung oppa yang saat itu tertinggal dan memandanginya. Lalu tanpa ragu aku menarik lengan kiri kemeja itu ke atas, lalu meletakkan tanganku ke atas lutut dan memulai misiku. Sebelumnya aku menyemprotkan cairan penahan sakit di kulit tanganku, lalu menggunakan alat pahat yang tajam itu, aku memahat namaku sendiri di lenganku. Dahiku berkerut merasakan alat pahat itu merobek kulitku, tapi aku tetap melanjutkannya. Darah mengalir dari luka dalam yang kubuat sendiri, tapi aku tidak akan berhenti. Aku menuliskan namaku. Nama yang mungkin hanya aku sendiri yang mengetahuinya. Tidak sampai disana, aku melanjutkan pahatanku ke kulit paha. Aku kembali menyemprotkan cairan penahan sakit, lalu mulai membuat namaku. Kim Hyuna. Darah mulai merembes ke kemeja dan selimutku. Tidak masalah, aku tidak akan memakainya lagi nanti.

Setelah selesai mengukir namaku, aku memandanginya sedih. Bulir air mata mulai menumpuk dan berjatuhan dari mataku. Aku akan membawa namaku pergi. Aku sama sekali tidak menyesalinya. Tangan kiri dan paha kiriku mulai terasa berdenyut, aku meletakkannya ke atas selimut dan menyandarkan kepalaku ke tumpukan bantal. Aku ingin melihat bagaimana darahku mengalir terus menerus dari kaki dan tanganku. Aku ingin melihat kematianku sendiri. bulir air mataku terus berjatuhan mengingat aku mati seorang diri. Menyedihkan. Dan tidak akan ada yang mengingat siapa aku nanti. Aku kembali teringat hadiah yang ingin kuberikan pada Hyunseung oppa, kepalaku bergerak menoleh ke meja. Aku kembali memikirkan sesuatu yang bodoh. Tangan kananku yang memegang pahatan melepaskan benda itu dan mengambil ponselku di sebelah bantal. Cukup menekan angka satu maka nomor Hyunseung akan terpanggil begitu saja. Aku menempelkan ponsel ke telinga dan menunggu.

“Hmm.. ne..” jawab Hyunseung dengan suara mengantuknya.

Dahiku berkerut, “Oppa, kau tidur?”

Hyunseung diam sejenak, “Hyuna, ini pukul 2 pagi. Kenapa kau bertanya?” tanyanya kesal.

Aku tertawa kecil, “Aku membelikanmu sesuatu..”

“Mwo?” Tanya Hyunseung dengan suara mengantuk.

“Jika kau mau tau, datanglah ambil hadiahmu.” Ucapku, dalam hati aku berharap dia akan datang sekarang dan menemukanku seperti ini. Tapi, untuk apa berangan-angan?

“Hmm.. aku akan mengambilnya besok. Tidurlah..” ucap Hyunseung.

“Oppa, jika kau datang besok. Aku tidak akan membukakan pintu..” ucapku berusaha terdengar sebal. Tapi maksudku disini, aku tidak mungkin membuka pintu jika aku sudah mati.

“Gwenchana, aku punya kunci cadangan..” ucapnya, aku mendengar ia menguap. “Apa yang kau lakukan di pagi buta seperti ini?”

Aku memandang tanganku yang sekarang sudah berdarah banyak, “Aku mengukir namaku.. Seperti yang kau ajarkan saat itu..”

“Hmm.. lanjutkan saja besok.. Segera tidur.. Aku sangat lelah..” ucap Hyunseung.

Bibirku membentuk senyuman pedih, “Oppa tidurlah.. Aku ingin menyaksikannya mengering dulu.. Setelah itu aku akan tidur dengan tenang..”

“Keure, Selamat tidur..” Hyunseung langsung memutuskan telepon.

Aku menghela nafas dalam dan memandang lenganku, lalu kakiku. Selimutku sudah berubah warna menjadi merah sekarang. Aku menurunkan ponsel dari telingaku dan menggenggamnya di atas dadaku.

 

=Paginya=

Hyunseung terbangun mendengar suara ponselnya, “Aissh.. siapa ini?!” erangnya kesal, lalu mengangkat panggilan itu. “Yoboseo!”

“Ya! Hyunseung!! Karyamu masuk kualifikasi dan akan masuk pameran!!!” seru Dujun di seberang.

Mata Hyunseung spontan terbuka dan bergerak bangkit, “MWO?!”

“Ya! Jangan berseru!! Sudah, siapkan dirimu menjadi terkenal!” ucap Dujun riang.

Hyunseung tersenyum lebar, “Ne!! gumopta Dujun-a!!” serunya riang dan telepon berakhir. Ia sama sekali tidak menyangka hari ini akhirnya tiba. Orang pertama yang terlintas di pikirannya adalah diriku. Ia segera memanggil nomorku dan menempelkan ponsel ke telinga. Tapi meskipun sudah mengulang berkali-kali, tidak ada jawaban. “Aissh.. pasti dia memahat hingga pagi..” ucapnya sebal, namun bibirnya membentuk senyuman lagi. “Aku akan kesana..” ucapnya sambil bangkit dan masuk ke kamar mandi.

 

=Kamar Studio Hyuna=

Aku tidak tau apakah aku masih hidup atau tidak. Meskipun mataku terbuka, aku tidak bisa melihat apa pun. Seluruh tubuhku terasa dingin. Pendengaranku seperti berada di dalam air.

Tok! Tok! Tok! “Hyuna..”

Aku mendengar namaku.

“Hyuna, aku Hyunseung.. Buka pintunya..”

Hyunseung? Jang Hyunseung? Bibirku bergerak lemah membentuk senyuman, mataku bergerak menutup dan aku benar-benar tidak tau apa yang terjadi lagi. mungkin, saat inilah kematianku.

Hyunseung yang berdiri di balik pintu menghela nafas dalam dan mengeluarkan kunci cadangan yang ia punya, “Aissh.. dia benar-benar..” gumamnya sambil memutar kunci, lalu membuka pintu. Ia melihatku berbaring dengan mata terpejam di tempat tidur sekilas, lalu bergerak masuk sambil menutup pintu. Ia masih belum menyadari apa yang terjadi hingga melangkah ke arahku. Tubuhnya mematung dengan mata melotot, “HYUNA!!!” serunya dan berlari menghampiriku. “Hyuna!!! Ya! Kim Hyuna!!!” serunya sambil memegang kedua pipiku. Dengan cepat ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi ambulance. Setelah itu ia kembali menatapku panic, “Hyuna..” panggilnya sambil menggenggam tangan kananku. Matanya menatap darah yang berada di sekelilingku panic, bulir air matanya mengalir begitu saja melihat kondisiku. Melihat ponselku di atas dadaku, ia kembali teringat saat aku menghubunginya.

 

=Rumah Sakit=

“Tuan, tolong tunggu di sini..” ucap seorang perawat sebelum masuk ke UGD.

Hyunseung berhenti di depan pintu UDG dan menatap tempat tidur yang membawahku masuk. Seluruh tubuhnya gemetaran. Bulir air matanya berjatuhan begitu saja tanpa ia sadari. Bajunya juga berlumuran darahku. Ia tertegun mendengar ponselku disakunya berbunyi, ia mengeluarkan ponselku dan menjawab panggilan yang masuk. Sebenarnya ia hanya menempelkan ponselku ke telinganya karena terlalu shock untuk berbicara.

“Nona, aku sudah menerima uang pelunasanmu. Lusa kau bisa membawa jasad kenalanmu itu kemari..” ucap gadis diseberang.

Dahi Hyunseung berkerut, “Siapa ini?”

“Hm? Nuguseyo?” Tanya gadis di seberang.

“Apa maksudmu dengan jasad?” Tanya Hyunseung tak mengerti.

“Oh.. nona Kim Jiwon sudah membayar pelayanan kami untuk mengkremasi jasad kenalannya lusa tuan..” jawab gadis itu.

“Kim Jiwon?” Tanya Hyunseung, “Siapa Kim jiwon?”

“Ne? nona yang menghubungiku dengan nomor ini tuan. Dia bahkan sudah membuat penjadwalan sejak sebulan yang lalu..” jawab gadis itu bingung.

“Siapa jasad yang dia maksud?” Tanya Hyunseung.

“Kim Jiwon-ssi mendaftarkan Kim Hyuna-ssi untuk di kremasi lusa..” jawab sang gadis.

Mata Hyunseung melotot, “Mwo?!! Ya!! Kim Hyuna masih hidup!! Jangan pernah menghubungi ke nomor ini lagi!!” serunya dan langsung memutuskan telepon. Kedua tangannya gemetaran hebat, ia tak percaya apa yang baru saja ia dengar. “Omong kosong apa ini?” gumamnya dengan bulir air berjatuhan.

…………………………………………………………………………………………………………………………………

“Jika melihat dari bentuk luka dan kedalamannya, kurasa dia melakukannya sendiri..” ucap Dokter yang menanganiku.

Dahi Hyunseung berkerut, “Maksudmu, dia sengaja melukai dirinya?”

“Mmm.. ini jelas sekali bunuh diri. Jang Hyunseung-ssi..” ucap dokter itu yakin.

Hyunseung memejamkan matanya dan mengelus wajahnya frustasi.

“Mmm.. kondisinya sangat kritis. Dia kehilangan banyak darah, juga tubuhnya kekurangan gizi dan lemah. Kondisi itu sangat berbahaya untuk orang hidup, apalagi dalam keadaan seperti ini..” lanjut sang dokter.

Hyunseung membuka matanya dan menatap dokter itu tajam, “Kau tau siapa aku kan?! Aku putra pengusaha Jang!! Lakukan apa pun untuk menyelamatkannya!! Jika kau tidak bisa menyelamatkannya, aku akan mengakhiri hidupmu!” ancamnya, lalu bangkit dan berjalan keluar.

Dokter itu bergidik mendengar ucapan Hyunseung.

Hyunseung melangkah ke ruang perawatan ICU-ku, namun ia hanya berdiri di luar memandangiku yang terbaring lemah. Hingga saat ini, aku sudah menghabiskan 5 kantung darah untuk diriku sendiri. tapi, sepertinya kematianku memang masih akan datang.

Seorang perawat datang menghampiri Hyunseung, “Maaf tuan, anda harus mengurus administrasinya dulu sebelum kami melakukan pertolongan lainnya..”

Hyunseung memandang perawat itu dan mengangguk. Tanpa mengatakan apa pun ia melangkah menuju bagian administrasi. Namun begitu melihat biaya yang harus ia bayar di muka, ia mulai panic karena semua fasilitasnya sudah ditarik oleh ayahnya. Termasuk kartu kredit dan ATM. Ia menghela nafas dalam dan memandang perawat itu, “Kapan terakhir aku bisa membayarnya?”

“Ne? ohh.. anda harus melunasinya paling tidak besok pagi, tuan..” ucap perawat itu.

Hyunseung diam sejenak untuk berpikir, lalu mengangguk. “Keure, aku akan segera kembali..” ucapnya, lalu berbalik dan berjalan cepat meninggalkan rumah sakit.

 

=Rumah Keluarga Jang=

Geurim terkejut melihat Hyunseung masuk ke rumah dengan pakaian bernoda darah, “Oppa! Apa yang terjadi?!”

Hyunseung menatap Geurim, “Guerim-a, dimana abeutji?”

“Ne? oh.. didalam.. Tapi kenapa denganmu oppa?” Tanya Geurim.

“Akan kujelaskan nanti..” jawab Hyunseung dan langsung melangkah masuk. Ia membuka pintu ruang kerja ayahnya dan melangkah masuk.

Ayah Hyunseung yang sedang bekerja memandang putranya dingin, “Kau tidak tau caranya mengetuk?”

“Keure abeutji.. Aku akan meneruskan perusahaan..” ucap Hyunseung langsung.

Ayah Hyunseung tertegun, “Apa maksudmu?”

“Aku akan berhenti memahat! Aku akan menuruti ucapanmu!! Aku akan meneruskan perusahaan..” ucap Hyunseung serius.

Ayah Hyunseung menatap putranya dingin, “Apa yang kau inginkan sekarang?”

“Aku ingin kau mengembalikan kartu kredit dan ATM-ku!! Aku membutuhkannya!! Jebal abeutji!!” mohon Hyunseung.

Dahi ayah Hyunseung berkerut, ia siap berteriak lagi jika tidak menyadari kedua mata putranya memerah menahan air mata.

Hyunseung berlutut dengan kepala tertunduk, “Jebal abeutji, aku akan menuruti ucapanmu.. Aku tidak akan membantah lagi..” pintanya dengan suara bergetar.

Geurim tertegun melihat Hyunseung yang keras kepala berlutut di depan ayah mereka.

Ayah Hyunseung memandang putranya tak mengerti, namun ia menghela nafas dalam. “Keure, kau akan mendapatkannya kembali. Tapi kau harus memegang kata-katamu..”

Hyunseung menatap ayahnya tak percaya dan berdiri, “Ne, abeutji!!”

 

=Disebuah Tempat=

Aku berada di sebuah tempat yang tidak nyata. Mungkin ini yang mereka katakan dengan alam lain. Tapi tetap hanya aku yang ada disini. Aku menangis dan menangis karena aku belum tebebas dari kesendirianku. Kenapa aku harus merasakan ini? Apa salahku? Aku berharap ada seseorang yang menemaniku disini. Aku tertegun merasakan sepasang tangan memelukku dari belakang, kepalaku menoleh kebelakang dan melihat Hyunseung tersenyum padaku.

“Kenapa kau menangis? Aku ada disini, Hyuna..” ucapnya lembut.

Ucapannya membuatku merasa tenang, aku tidak butuh apa pun lagi selain seseorang yang mengatakan itu padaku. Bibirku membentuk senyuman dan berbalik memeluknya, “Oppa…”

Hyunseung memelukku dan mengelus rambutku lembut, “Gwenchana.. aku disini..”

 

=Kamar Studio Hyuna=

Hyunseung berdiri di sebelah tempat tidur memandangi bekas darah mengering di selimut dan alas kasur. Hatinya terasa sakit mengingat apa yang telah kulakukan kemarin. Kepalanya memandang ke meja, dahinya berkerut melihat sebuah benda yang terikat oleh pita. Ia melangkah maju dan mengambil benda itu. Matanya memerah dan bulir air berjatuhan melihat itu adalah satu set alat pahat. “Ini yang akan kau berikan, Hyuna?” ucapnya dengan suara bergetar. Ia bergerak duduk di pinggir tempat tidur memandangi benda ditangannya, “Seharusnya aku datang kan?” ucapnya menyesal. Ia kembali meletakkan tempat alat pahat itu dan bangkit, lalu menyibak selimut dan alas kasur dengan satu sentakan. Ia ingin menghilangkan semua bekas darah itu. namun, darah yang ada di alas kasur dan selimut juga terlihat di permukaan kasur. Bulir air matanya kembali berjatuhan melihat itu. seperti kenyataan buruk yang sudah terjadi kemarin. Ia berbalik dan melangkah ke pintu, saat itu kakinya menginjak sesuatu dilantai. Ia berhenti dan melihat kebawah, ada sebuah buku. Tidak terlihat seperti buku biasa. Ia menyeka air matanya dan membungkuk mengambil buku itu, lalu melihat apa isinya. Ia tertegun itu adalah buku harianku.

 

=Ruang ICU Hyuna=

Hyunseung duduk di sebelah tubuhku yang masih dalam keadaan kritis sambil menangis. Tangannya menggenggam buku harianku. Kurasa ia telah membaca isinya. Sekarang ia tau bagaimana perasaanku padanya. Bagaimana bersyukurnya aku ketika berktemu dengannya. Bagaimana penderitaanku yang hidup seorang diri. Juga rencanaku tentang pemakamanku sendiri. ia memandangku dan mengulurkan satu tangannya untuk menggenggam tanganku, “Maafkan aku Hyuna, aku tidak bermaksud membuatmu terluka seperti ini.. Aku tidak pernah bermaksud sejauh ini..” ucapnya. “Semuanya nyata, sangat nyata.. Aku bersungguh-sungguh Hyuna..” ucapnya penuh penyesalan.

Setelah hari itu. Hyunseung sama sekali tidak meninggalkan sisiku. Ia hanya kembali pulang untuk mengganti baju, lalu kembali lagi ke rumah sakit. Bibirnya membentuk senyuman memandangku, lalu membungkuk dan mencium bibirku lembut. Ia menarik kursi dan duduk di dekatku sambil menatapku dalam, “Hyuna, aku tau kau mendengarkanku..” ucapnya pelan. Lalu menggenggam tanganku, “Aku menyesal hanya memberikanmu ingatan yang menyakitkan, juga memberikanmu waktu yang berat. Karena aku selalu bisa kembali ke sisimu, aku berpikir semua itu sudah cukup bagiku. Mungkin aku belum mengerti apa yang dimaksud dengan cinta. Seharusnya, saat aku tiba-tiba memikirkanmu, aku tau kalau aku merindukanmu. Dan itu berarti aku tidak ingin berpisah denganmu. Seharusnya aku mencintaimu lebih dalam agar aku segera menyadari pengorbananmu, seharusnya aku mempedulikanmu lebih banyak agar aku dapat melihat penderitaanmu. Maafkan aku, aku sangat menyesalinya Hyuna..” ucapnya, bulir-bulir air mulai berjatuhan dari matanya.

 

=Alam Bawah Sadar Hyuna=

Aku menatap Hyunseung sedih setelah mendengar ucapannya. Bibirku membentuk senyuman dan memegang kedua pipinya, “Gwenchana oppa.. Aku tidak sedih dan sendiri lagi sekarang.. Aku senang kau ada disini bersamaku…”

Hyunseung menatapku sedih, “Hyuna, kau harus segera kembali ke tubuhmu..”

Aku tertegun, “Mwo?”

Hyunseung memegang tanganku di pipinya dan menatapku dalam, “Aku hanya bayangan di bawah alam sadarmu. Aku tidak benar-benar nyata.. Kau tidak akan bahagia disini..”

Dahiku berkerut dan mataku mulai di penuhi air, “A-ani.. Aku tidak peduli ini nyata atau tidak.. Aku ingin disini saja bersamamu..” ucapku, lalu memeluknya erat.

Hyunseung memelukku, “Kau akan menemukan kebahagiaanmu yang nyata Hyuna, kau hanya perlu mengikutiku dan kembali ke tubuhmu..”

Aku mulai menangis di dadanya dan menggeleng, “Shiro! Aku ingin disini bersamamu..”

“Kau harus kembali Hyuna..” ucap Hyunseung pelan.

“Shiro! Aku akan disini bersamamu!” ucapku tak mau kalah.

Hyunseung melepaskan pelukanku dan menatapku dalam, “Dengar Hyuna, aku akan selalu ada disisimu. Kau hanya perlu membuka matamu lagi dan tetaplah disisiku..”

“Oppa..” ucapku memohon.

“Jebal Hyuna, sadarlah untukku..” mohon Hyunseung. “Aku akan membuktikan apa yang kau rasakan selama ini nyata. Kau tidak akan seorang diri lagi.. Aku ada disini..”

Aku tertegun mendengar ucapan tulus Hyunseung.

= Alam Bawah Sadar Hyuna end=

“Hyuna, kumohon.. sadarlah..” mohon Hyunseung dengan air mata berjatuhan.

Dokter yang menanganiku memegang bahu Hyunseung dari belakang, “Hyunseung-ssi, dia tidak akan bertahan lama.. Jadi, tabahkan hatimu..” ucapnya pelan.

Hyunseung mendorong tangan dokter itu, “Lepaskan! Aku tidak akan membiarkannya pergi begitu saja!” serunya, lalu kembali menatapku. “Hyuna.. aku tau kau mendengarku..” ucapnya pelan. Ia tertegun melihat bulir air menyelinap keluar dari sudut mataku. “Hyuna?” ucapnya, lalu memegang kedua pipiku. “Kim Hyuna! Kim Hyuna!!” ucapnya.

“Dokter, respon yang diberikan meningkat!” ucap seorang perawat.

“Ne?!” ucap dokter itu tak percaya, lalu menatapku serius.

Perlahan mataku terbuka dan langsung menatap kedua mata Hyunseung yang berada di depan wajahku. “Oppa?”

Hyunseung tersenyum lebar dengan bulir air mata haru berjatuhan, “Hyuna… Kim Hyuna..” ucapnya, lalu mencium bibirku seperti kami tidak akan bertemu lagi.

Aku terkejut dengan sambutan yang liar ini, tapi aku tidak menolaknya. Mataku terpejam dan membalas ciuman lembut itu.

Dokter dan perawat yang ada disana tertegun melihat kami berciuman, mereka menunduk canggung dan melangkah keluar.

 

=Sebulan Kemudian=

Hyunseung membantuku mengganti perban luka di kaki dan tanganku. Bibirku membentuk senyuman meihat Ia berlutut di lantai sementara aku duduk di pinggir tempat tidur.

“Oke, selesai..” ucap Hyunseung dan memandangku sambil tersenyum.

Aku menarik lengan baju menutupi perban dan tersenyum menatapnya, “Gumawo, oppa…”

Hyunseung tersenyum lebar, “Ani, na gomawo..”

Aku tertawa kecil, “Kau mulai lagi oppa..”

Hyunseung terlihat senang dengan ucapanku, “Aku mempunyai sesuatu untukmu..” ucapnya.

“Ne? apa?” tanyaku ingin tau.

Hyunseung menarik baju berleher V yang ia kenakan turun, menunjukkan dada kirinya padaku. “Kau lihat?”

Aku tertegun ada sebuah tato disana, bukan sembarangan. Tapi namaku. Aku menatapnya tak percaya, “Oppa, namaku?”

Hyunseung menggenggam tanganku dan mengangguk, lalu menarik tanganku kedada kirinya sambil tetap menatapku dalam. “Aku akan menyimpan namamu, dirimu dan hatimu selamanya..”

Mataku mulai dipenuhi air, “Oppa?”

“Jika kau pergi meninggalkanku, aku yang akan mengakiri hidupku. Araso?” Tanya Hyunseung, aku bisa melihat kesungguhan di matanya.

Bulir air mataku berjatuhan satu persatu, “Aku ingin mendengar kalimat ini sejak aku lahir. Sekali mendengarnya, aku tidak akan pernah melupakannya. Kau mengerti oppa?!”

Hyunseung tersenyum dan menganguk, “Ne..”

Aku memeluk lehernya dan memejamkan mataku. Kurasakan kedua tangannya memeluk tubuhku dan mengendus bahuku. Aku melonggarkan pelukanku dan memandangnya bingung, “Oppa, kenapa kau mengendusku seperti itu?”

Hyunseung tersenyum dan mengecup bibirku, lalu kembali menatapku dalam. “Kau ingin aku menjelaskannya atau aku melakukannya?”

Mendadak wajahku terasa panas dan tersenyum malu, “Oppa..”

Dengan lembut Hyunseung mengangkat tubuhku dan membaringkanku ke tengah tempat tidur. Ia melayangkan tubuhnya di atas tubuhku sambil menatapku dalam.

“Oppa, jika kau meneruskan perusahaan ayahmu. Bagaimana dengan mimpimu?” Tanyaku ingin tau.

Tangan Hyunseung bergerak turun mengelus pinggangku, “Gwenchana, aku punya sesuatu yang sangat indah. Bahkan tidak ada seorang pun pemahat di dunia yang bisa membuatnya..” ucapnya sambil tersenyum, lalu menunduk menciumku dalam.

Aku tersenyum dalam ciuman itu dan memeluk lehernya erat.

 

 

===The End===

 

 

Advertisements

14 thoughts on “I’m So Lonely

  1. DAEBAKKKKKK , aahhhh suka suka suka suka .<
    kasian hyuna slalu sendiri 😥
    tp hanna aq kepo bgt degh gmna mereka ketemu . maksud aq tuh awal.a gimana ahh aq pengen tau , bssa bikin before story.a gg aq pengen tau aja gimana hyuna bssa deket am seungi . tp ya udda kl gg bsa jga , aq ngekhayal sendiri aja degh , kekekeke
    ya ampun kebayang bgt degh bebep gw jd pemahat ahh pasti kece gttu trus cool lgy , aigoo aq sngat menyukai.a _<
    pokok.a ff km emang slalu kereennnnn (y)
    gg bosen" baca.a 🙂
    trus looonnggggg shoo jga lgy ahh km hebat hanna 😀
    kayk.a km bssa degh bikin novel , kenapa gg dicobain hanna 🙂
    gomawo udda bikin ff yg spesial nie hanna ^^
    ditunggu karya km selanjut.a ^_^
    FIGHTINGGGGG \^_^/

  2. ahhh sedih banget…. kasian Hyuna… selalu sendirian…. 😥 feelnya kerasa banget… ampe nangis aku…
    sebel ama hyunseung waktu dia tidur ama cewe laenn, tapi ternyata dia mikir itu cewe hyuna… awalnya aku pikir hyunseung tuh emg gak suka ama hyuna.. tapi untung akhirnya dia nyadar ama perasaannya sendiri.. 🙂
    Daebak thor!! Jinjja Daebak!!! suka banget aku ama FFmu!! 😀

  3. Akhirnya aku nemu ff Trouble Maker juga..
    Daaann, aku nge-fans bgt sama author-nya..
    Salam kenal, author-ssi..
    Feel-nya dapet bgt, aku bener2 nangis ngerasain penderitaan dlm kesendirian Hyuna..
    Disaat Hyuna berharap Hyunseung ada disisinya, selalu adaaa aja yg buat Hyunseung ga bs selalu ada disaat Hyuna butuh..
    Aaahh, pokoknya sukaa bgt sama ceritanya..
    Hyunseung juga manis bgt, cuma dy rada telat nyadarin perasaannya ke Hyuna..
    Dan ending-nya sweet, tapi bikin geregetaan..
    Kayaknya butuh sequel ini, author-ssi..
    Sequel yg manis, tentang hubungan hyuna-hyunseung dan keluarga kecil mereka *ngarep banget :D*
    Tapi kalo ga ada sequel gpp sih, tp berharap ada, hehee..
    Soalnya couple yg satu ini bikin gemes..
    Heheee, maaf jadi curcol..
    Terus berkarya dg cerita ttg Hyuna-Hyunseung..
    Karena aku akan selalu menunggu untuk cerita yg DAEBAK selanjutnya, Fighting!!!

  4. ff nie bener – bener bikin aku nangis. ff nie thu mencerminkan aku banget, tapi kalo hyuna emang bener – bener sendirian, sedangkan aku, aku dikelilingi banyak orang tapi tidak ada satupun yang tulus denganku, orang tuaku selalu sibuk dan temen – temenku cuman mau manfaatin aku aja,. karena aku anak orang kaya. 😥

    ff niee kereeen bangetzzzz. semangat yha bikin ff yang lain. fihgting!!

    1. semangat ya, jangan merasa kamu ngga punya siapa pun karena ada Tuhan yang selalu mengawasi kamu. Juga, kamu bisa mengejar mimpi kamu..
      Masih belum terlambat nemuin teman yang benar-benar ada untuk kamu.. 😀

  5. huaaaaaa finally ada FF 2hyun lagi.. meweeekk lagiii akh daebak!!!! >< please buat ff 2hyun lagi yah authornim trims ^^

  6. Huwaaaaaa….. Gue mewek bgt, ah gue suka deh sama hyunseung oppa disini dia setia, wlaupun dia kga tau prasaan dia sbenernya, tapi dia kaga mau tidur sma yg lain.. Dia tidur di jebak sama yeoja sialan itutuh mana waktu dia tidur dg yg lain dia lgsug mrasa jijik sama dirinya sndiri, ah hyuna aku yakin kalo cerita ini ada lanjutan, hyunseung akan menyayangimu sgt sgt

    Kesian Hyuna dlm kesendiriannya, yg plg sedih wktu dia ngelukain dirinya sendiri dan memesan kuburan aigoooo

    Ah kok gue jadi kek bercerita lagi, sorry unnie long coment nih hahaha
    Hanna eonni emg keren bgt ^^ love bgt sama ff buatanmu.. Smoga bisa jadi penulis yg trkenal di suatuhari, dan jgn lupa kalo rencana buat cerpen/novel yg mau di publikasikan tlg sertakan nama castnya hyuna hyunseung… Gomawo eonni, aku akan mencari n menunggu cerita yg lainnya!!! FF 2hyun daebakkkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s