Chapter · YG Family

Mr and Mrs Choi [Chapter 33]

33

—We’re The Agent—

Bom keluar dari kamar Seunghyun dengan kedua tangan terlipat ke belakang, satu tangannya memegang pistol yang diberikan Chaerin ketika itu. lengkap dengan peredam suara. Ia memandang Seunghyun yang sedang berada di balik meja dapur dengan senyumannya, “Sudah selesai?”

Seunghyun memandang Bom dan tersenyum, “Sedikit lagi..” jawabnya, sementara satu tangannya memegang senjata laras pendek beserta peredam suara di bawah meja.

Bom berhenti di seberang meja sambil menatap Seunghyun, “Aku lapar..” ucapnya.

“Sebentar lagi, bersabarlah..” ucap Seunghyun.

Bom dan Seunghyun saling menatap dengan senyuman menghiasi wajah mereka. 1.. 2.. 3.. serentak mereka mengeluarkan pistol dan saling mendorong satu sama lain dengan tatapan tajam. Meskipun begitu, mereka sama-sama tertegun.

Seunghyun menatap Bom tak percaya, “Kau benar-benar seorang agent?”

“Ne.. Dan kau juga, Choi Seunghyun..” ucap Bom.

“Kita berbicara..” ucap Seunghyun.

Bom diam sejenak tanpa menjawab, namun perlahan ia bergerak mundur sambil tetap menodongkan pistolnya.

Seunghyun bergerak keluar dari area dapur sambil tetap menodongkan pistolnya ke wajah Bom. Mereka bergerak memutar dengan jarak yang sama dan berhenti di ruang tengah. “Dengar, aku tidak ingin ada pertumpahan darah. Jadi bicarakan ini dengan tenang..”

Bom menatap Seunghyun tajam, “Apa yang perlu di bicarakan lagi? tentang kau dan aku yang ternyata adalah agent?”

“Ani..” jawab Seunghyun, “Teddy Park..”

Bom tersenyum sinis, “Wae? Kau masih ingin membela diri agar aku mempercayaimu?”

Seunghyun menghela nafas dalam, “Ani, dengar..” ia bergerak menurunkan pistolnya sambil melangkah maju, namun kakinya malah tersandung kaki sofa dan hampir terjungkal jatuh. Tanpa sadar ia menekan pelatuk pistolnya.

DOR!!

Bom terkejut dan meloncat ke sofa, meskipun begitu lengannya tetap terkena peluru Seunghyun. “Ahh..” rintihnya sambil memegang lengan kirinya yang terserempet peluru dari pistol Seunghyun.

Mata Seunghyun membesar, “Oh!! a-aku tidak bermaksud melakukan itu!!”

Bom menatap Seunghyun tajam, “Choi Seunghyun!!” serunya, lalu menodongkan pistolnya pada Seunghyun.

DOR!!

Seunghyun berhasil mengelak dan bersembunyi di bali sofa, “Bommi!! Aku tidak bermaksud melukaimu!!”

Bom mengambil vas bunga dan melemparkannya kearah sofa yang di jadikan Seunghyun tempat bersembunyi.

PRANKK!!

Seunghyun terkejut mendengar bunyi besar itu, “Bommi!!!” teriaknya kesal, lalu keluar dari persembunyiannya dan menatap kearah Bom tadi. Tapi gadis itu tak terlihat disana. Ia tertegun dan memperhatikan sekitar waspada.

“Choi Seunghyun!!”

Seunghyun menoleh dan sebuah vas lain terbang kearahnya, dengan cepat ia melindungi wajahnya dengan kedua tangan.

PRANKK!!

 

=Sebuah Gudang Tua=

“Ahjussi…”

Jiyong mendengar seseorang mengguncang tubuhnya, namun ia masih terlalu lemah untuk membuka mata.

“Ahjussi!!”

Dahi Jiyong berkerut mendengar gadis itu terdengar menahan tangisnya, dengan seluruh kekuatannya ia melawan rasa lemah itu dan bergerak sedikit.

“Ahjussi.. Kau sudah sadar?” Tanya gadis yang tak lain ada Hayi itu.

Jiyong membuka matanya perlahan, rasa sakit langsung menyergap kepala bagian belakangnya. “Arrrggh!!” erangnya sambil memegang tengkuk.

“Ahjussi, gwenchana?” Tanya Hayi khawatir.

Jiyong berusaha menahan rasa sakitnya dan memandang sekitar, mereka berada di sebuah ruangan kumuh. “Dimana ini?”

“Aku tidak tau, ahjussi.. Pria-pria tadi membawa kita kemari..” jawab Hayi.

Jiyong bangkit duduk sambil memegang belakang kepalanya, “Ahh.. mereka memukulku dengan keras..” gumamnya.

“Ahjussi gwenchana?” Tanya Hayi dengan tatapan khawatirnya.

Jiyong memandang Hayi dan mengangguk, lalu memperhatikan gadis itu yang tidak kurang sedikit pun. “Kau baik-baik saja?”

Hayi mengangguk, “Ne..” jawabnya, “Tadi setelah mereka memukulmu, mereka hanya mengancam akan melakukan hal yang sama jika aku melawan…”

Jiyong menghela nafas lega, “Syukurlah..” ucapnya, lalu kembali memperhatikan ruangan itu. tidak ada jendela ataupun ventilasi disana, hanya ada sebuah pintu di sudut sana.

“Ahjussi, kenapa mereka membawa kita?” Tanya Hayi tak mengerti.

Jiyong memandang Hayi iba, gadis itu tidak mengerti apa pun namun terjebak disini juga. “Tenang saja.. Aku akan mencari cara agar kita bisa keluar dari sini..” ucapnya sambil memegang bahu gadis muda itu.

Hayi mengangguk mengerti.

Jiyong kembali memperhatikan sekitar sambil mencari cara melarikan diri dari sana, tak lama ia memandang Hayi. “Apa kau lihat berapa orang yang ada disini?”

Hayi mencoba mengingat, “Ada banyak.. yang membawa kita enam orang. Begitu tiba ada sekitar 3 orang yang menunggu. Lalu ketika membawa kita kemari kurasa aku melihat ada 20 orang atau lebih..” jawabnya.

Jiyong mengangguk mengerti, ‘Sial, aku tidak membawa senjataku..’ batinnya kesal.

Hayi memandang sekitarnya ngeri, namun ia kembali teringat sesuatu. “Oh.. ahjussi, beberapa hari lalu ada perampok yang masuk ke rumahku. Apa mungkin mereka ini komplotannya?”

Jiyong tertegun mendengar ucapan Hayi, “Ne?”

“Benar, ahjussi.. ada seorang pria yang menyelinap masuk, Chaeroo eonni memukulnya hingga pingsan dan memanggil polisi..” jelas Hayi.

Jiyong mengerutkan dahi, “Pria? Apa dia mengatakan sesuatu?”

“Mmm…” Hayi kembali mengingat, “Aku tidak dengar jelas sih, tapi saat aku mengintip keluar dari kamarku. Pria itu berseru pada Chaeroo eonni. Dia terdengar sangat kaget dan berseru, ‘NEO!!’” ceritanya sambil memperagakan ekspresi Seungri malam itu.

Jiyong tertegun lagi, “Jinja? Chaeroo? Bisa kau ceritakan ciri-cirinya?”

“Rambutnya panjang, pirang, orangnya agak canggung, lalu sangat bossy..” cerita Hayi mendeskripsikan Chaerin.

Jiyong memejamkan mata sambil menepuk dahinya, ternyata Chaerin memang masih hidup dan menipu gadis kecil disebelahnya.

Hayi bingung melihat respon Jiyong, “Waeyo ahjussi?”

“Ne? oh.. aniya.. hanya… sudah, lupakan saja..” ucap Jiyong, lalu memegang kedua lengan Jiyong dan menatap Hayi tegas. “Dengar Hayi, sekarang hanya ada aku dan kau disini. Jadi kita harus bekerja sama untuk bisa keluar dari sini, arasso?”

Hayi memandang Jiyong tak mengerti, “Ne?”

“Sudah, dengarkan saja ucapanku. Dan ikuti aku.. Araso?” ucap Jiyong.

Hayi masih terlihat bingung, namun ia akhirnya mengangguk pelan. “Keure..”

Sementara itu diluar.

Mino melangkah masuk ke gudang tua dan menghampiri seorang pria, “Kalian sudah membawanya kemari?”

“Ne, hyungnim..” jawab pria itu.

“Bagus..” jawab Mino sambil tersenyum.

“Tapi, ternyata ada seorang pengantar pizza disana. Jadi kami membawanya juga agar tidak meninggalkan saksi..” jelas pria tadi.

Mino memandang pria itu sejenak, “Hmm.. yang kita butuhkan hanya gadis itu, pastikan dia tidak terluka sedikit pun. Bunuh saja pengantar pizza itu..” ucapnya, lalu berbalik. Namun langkahnya terhenti karena mendengar keributan dan menoleh ke arah ruangan di dalam.

BRAKKK!!!

“KYAAAA!!!” terdengar teriakan Hayi dari dalam.

BRAKKK!!!

Mata Mino membesar, begitu juga dengan pria tadi. “Pria bodoh itu menyakiti gadis itu!! cepat!!” serunya.

Didalam ruangan.

Jiyong melemparkan sebuah kursi tua terakhir yang masih berbentuk ke lantai, lalu berlari ke balik pintu dimana Hayi sudah berdiri. Ia mendengar langkah kaki mendekat.

Hayi menggenggam sebuah tongkat besi yang di berikan Jiyong untuk melindungi dirinya ngeri.

Jiyong mengambil sebuah kayu patahan kursi tadi di lantai dan bersiap untuk menyerang. Begitu pintu terbuka, ia langsung memukul siapa saja yang muncul.

BUKK!!

Jiyong tidak berhenti, ia bergerak ke depan pintu dan menyerang orang-orang yang muncul.

Mata Hayi membesar melihat Jiyong seperti petarung berpengalaman yang dengan sigap menghajar para pria itu.

Jiyong melakukan tendangan memutar hingga para pria yang tersisa terjungkal ke lantai. Dengan cepat ia menarik tangan Hayi dan membawa gadis itu keluar sambil menutup pintu dan kembali menguncinya, mengurung para pria tadi. “Hayi, tunjukkan padaku jalan yang mereka lalui tadi..” ucapnya pada gadis itu.

Hayi mengangguk, “Kesana..” ucapnya sambil menunjuk jalan masuk.

Jiyong memandang kesana, tidak terlihat ada orang disana, namun ia yakin masih banyak rintangan yang ada. Lalu menatap Hayi serius, “Apa pun yang terjadi, tetap dekat denganku! Araso!”

Hayi mengangguk mengerti.

Jiyong melangkah pelan menuju ruang selanjutnya dengan satu tangan memegang tangan Hayi dibelakang tubuhnya.

Satu tangan Hayi yang memegang tongkat besi di pegang oleh Jiyong, tangan satunya lagi memegang ujung baju pria itu sambil ikut melangkah pelan. Jantungnya berdegup kencang hingga gendang telinganya seperti mendengar dentuman keras dari tubuhnya sendiri.

Mino yang menunggu para anak buahnya kembali merasa aneh mendengar keributan tadi semakin ramai dari ruang tahan mereka, ketika ia melangkah menuju ruangan itu. seseorang keluar, Jiyong. Ia tertegun dan langsung bergerak mundur dengan posisi siaga.

Jiyong berhenti melangkah dan menahan Hayi tetap di belakang tubuhnya sambil menatap Mino tajam.

Mino tersenyum sinis, ketika itu beberapa pria langsung berlari masuk dan bersiap menyerang Jiyong, “Jangan menculik gadis yang kami culik, tuan pengantar pizza..” ucapnya.

Hayi mengintip Mino dari balik tubuh Jiyong ngeri.

“Begini saja..” ucap Mino sambil menyilangkan kedua tangannya di dada, “Aku akan memberi kesempatan untukmu. Berikan gadis itu, kau bisa pergi..” ucapnya.

Jiyong tersenyum sinis, “Mwo? Jangan bermimpi..”

“Keure..” ucap Mino, “Bawa gadis itu padaku..”

Semua pria tadi langsung menyerang Jiyong.

“Sial!!!” seru Jiyong. Sebuah tendangan melayang padanya, ia segera menangkisnya dan membalas pukulan mereka. Juga menghindari serangan lainnya.

“Kyaaa!!! Ahjussi!!!” teriak Hayi ketakutan ketika beberapa pria mendekatinya.

BUkk! Sebuah pukulan mengenai wajah Jiyong, tapi ia tidak punya waktu menahan sakit dan kembali membalas. “Gunakan tongkat itu!!” serunya dan melakukan tendangan berputar.

“Ne?” Ucap Hayi bingung.

“Gunakan tongkat itu!! pukul mereka!!” seru Jiyong sambil tetap melawan para pria tadi.

Hayi memandang tongkat di tangannya, lalu memandang para pria berwajah bengis itu. ia memejamkan mata dan melayang-layangkan tongkat itu kearah para pria tadi.

DUAKK!!

“Arrggh!!” erang pria yang terkena tongkat Hayi.

Hayi membuka matanya kaget, “OH! cesonghamida!!” serunya.

BRUK!! Jiyong tertendang di bagian dada dan jatuh ke lantai, namun ia tidak merasa sakit, melainkan kesal karena Hayi meminta maaf. “Jangan meminta maaf, Hayi!! Pukul saja!!!” serunya, lalu bergerak bangkit dan kembali menyerang.

Hayi mulai memukul pria yang mendekatinya ngeri.

“YA!!” seru seseorang di pintu masuk.

Semuanya terpaku dan memandang kesana. Para pria itu langsung berdiri tegap dan membungkuk sopan. Jiyong terkejut melihat pria yang baru datang adalah Teddy Park.

Hayi tertegun melihat Teddy, “Oppa..”

Jiyong terkejut mendengar Hayi memanggil Teddy dengan sebutan oppa.

Mino menunduk menyesal di depan Teddy.

Teddy menatap para pria disana marah, “Apa yang kalian lakukan?” tanyanya dingin. Lalu memandang Hayi yang terlihat ketakutan, satu tangannya terangkat kearah gadis itu. “Hayi, kemari..”

Hayi melepaskan tongkat besi ditangannya dan berlari menghampiri Teddy, juga langsung memeluknya takut.

Tangan Teddy yang tadi terulur merangkul Hayi dan menatap Mino, “Apa yang kau lakukan?”

“Ce-cesonghamida, hyungnim.. Tapi pria itu hendak menculik gadis ini..” jawab Mino sambil menunjuk Jiyong.

Jiyong terkejut, “Mwo?! Ya! Aku juga di culik!”

“Aniya, oppa.. ahjussi itu ingin membawaku kabur dari sini..” ucap Hayi membela Jiyong.

Teddy memandang Hayi iba dan mengelus rambutnya lembut, “Miane, kau pasti ketakutan.”

Hayi mengangguk dengan wajah seperti akan menangis.

Teddy memandang Mino, “Aku akan membawanya..” ucapnya dan membawa Hayi berbalik.

“Oh.. ahjussi..” panggil Hayi sambil menghentikan langkahnya.

Teddy berhenti dan menatap Jiyong.

“Ahjussi, ppaliwa..” panggil Hayi.

Jiyong tidak bisa bergerak karena pria-pria itu masih memeganginya.

Hayi memandang Teddy, “Oppa, mereka masih menahan ahjussi..” kadunya.

Teddy menatap para pria tadi, “Apa yang kalian lakukan? Lepaskan dia.”

Jiyong mendorong tangan para pria tadi dan melangkah mendekati Hayi. Ia tidak mengerti mengapa Teddy bersikap seperti malaikat sekarang, tapi yang ia tau, mereka belum aman bersama pria itu.

“Khaja, Hayi..” ajak Teddy dan melangkah lagi.

Hayi memandang Jiyong sudah semakin dekat dengannya dan mengulurkan tangannya pada pria itu, “Ahjussi, ayo pergi..”

Jiyong tertegun melihat Hayi mengulurkan tangannya, lalu melirik Teddy yang terlihat mengawasinya. Sepertinya gadis itu memiliki firasat buruk tanpa disadari dirinya sendiri, ia memegang tangan gadis itu dan berjalan bersama keluar.

 

 

<<Back           Next>>

Advertisements

3 thoughts on “Mr and Mrs Choi [Chapter 33]

  1. Ahh…… Itu gimana pertarungan antara Bom ama Seunghyun??? Duhhh!!! Ini semua gara2 si Teddy nih! -_- pake nyulik Hayi lagi… Untung ada Jiyong… Tapi itu Hayi polos banget.. Abis mukul langsung minta maaf wkwkwk
    cepett dilanjut author!! ><

  2. Arkh … Kenapa Seunghyun pake gak sengaja nembakin pistolnya? Kenapa Hayi diculik?? Lanjut ya author ..

  3. duhh . . . Seunghyun ma Bom gimana nih . . .?
    kNapa Hayi malah mendekati si muka dua *nunjuk Teddy
    lanjut —>

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s