Chapter · YG Family

Mr and Mrs Choi [Chapter 27]

27

—3 days

Bom merangkul Hayi di depan Chaerin begitu tiba di rumahnya, “Hayi-a, eonni ini akan menggantikan perawat Jung menjagamu dirumah selama kau masih dalam masa pemulihan..” ucapnya memperkenalkan.

Chaerin tersenyum, “Hayi annyeong..” sapanya sambil melambai pada Hayi.

Hayi tersenyum, “Annyeong, eonni.. Siapa namamu?”

Chaerin tertegun, lalu saling bertatapan dengan Bom bingung. Ia tidak ingin gadis kecil itu mengetahui tentang dirinya yang sudah dinyatakan mati. “Mmm.. kau bisa memanggilku… mmm..” ia berusaha menemukan sebuah nama yang bisa ia gunakan.

“Chaeroo..” ucap Bom langsung.

Hayi tertegun, lalu mulai tertawa. “Chaeroo?”

Chaerin tertawa, “ne, kau bisa memanggilku itu..”

“Apakah dari Pororo?” Tanya Hayi lucu.

Chaerin tertawa malu, “Kurasa..”

“Nah.. Hayi, bawa tabungmu ke kamar. Eonni akan berbicara dengan Cae….roo.. sebentar..” ucap Bom yang hampir menyebut nama asli Chaerin.

“Ne, eonni..” jawab Hayi sambil menarik tabung oksigen berukuran kecil itu ke kamarnya.

Chaerin dan Bom memperhatikan Hayi hingga hilang dari pandangan mereka, lalu langsung menuju ruang depan untuk berbicara. “Eonni, kau yakin membiarkaan Hayi mengenalku?”

Bom menghela nafas dalam, “Aku tidak tau harus bagaimana, kurasa ini yang terbaik. Lagi pula kau bisa menjaganya saat aku pergi, itu lebih baik..”

Chaerin mengangguk, “Ne.. aku akan berusaha menjadi baby sitter yang baik untuknya..” candanya.

Bom tersenyum, “Ne..”

Chaerin menyadari ekspresi Bom tidak secerah seperti biasa, “Waeyo eonni? Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?”

Bom menghela nafas dalam dan memandang kebawah, “Begitulah..”

“Waekeure?” Tanya Chaerin.

Bom memandang Chaerin sedih, lalu bergerak duduk ke sofa. “Kupikir aku tidak bisa bekerja disana lagi..”

Chaerin tertegun mendengar ucapan Bom dan duduk disebelah gadis itu, “Waeyo eonni? Terjadi sesuatu antara kau dan Teddy oppa dan kau?” tanyanya khawatir.

“Ani, ini bukan tentang teddy oppa..” jawab Bom.

“Lalu?” Tanya Chaerin ingin tau.

Bom memandang Chaerin, “Ini masalah pribadiku, maaf aku tidak cukup professional tentang hal ini..” ucapnya menyesal.

Chaerin tau Bom tidak bisa menceritakan masalahnya, namun sebagai teman ia bisa mengerti apa yang gadis itu rasakan. “Hmm.. keure eonni. Kita tidak perlu menyelidiki Kim Jungmo lagi, jadi kau bisa berhenti jika kau tidak ingin bekerja disana lagi..”

Bom mengangguk.

 

=Kantor=

Seunghyun dengan susah payah melangkah masuk ke gedung kantornya sambil memegangi bekas operasinya yang mendadak terasa seperti baru di belah oleh pisau operasi lagi. orang-orang memandangnya bingung karena melangkah gontai menuju lift, tapi ia tetap meneruskan niatnya. Tidak peduli rasa sakit di dadanya semakin menyiksa, ia terus melangkah menuju devisinya.

Jennie dan Mino sudah mulai bekerja saat mendengar pintu ruangan kerja mereka terbuka.

“Oh! hyung!!” ucap Mino senang sambil bangkit, namun senyumnya langsung menghilang melihat Seunghyun masuk dengan keringat dingin memenuhi wajahnya. “Hyung?!” serunya sambil menghampiri pria itu.

“Oppa! Apa yang terjadi?” Tanya Jennie sambil memapah Seunghyun.

“Ahhk… dimana Bom?” Tanya Seunghyun di tengah rasa sakitnya.

“Bom eonni? Ohh.. tadi dia berkata tidak bisa hadir..” jawab Jennie.

“Mwo?” Tanya Seunghyun tak percaya.

“Hyung, waekeure?” Tanya Mino mulai panic. Dahinya berkerut melihat kemeja Seunghyun di balik blazer terlihat dibasahi cairan merah, matanya melotot dan langsung menyibak blazer yang menutupi kemeja pria itu, “Hyung!! Kau berdarah!!!”

“Oppa!!” seru Jennie panic.

Seunghyun tak bisa menahan rasa sakit itu dan jatuh ke lantai.

“Oppa… oppa!!” panggil Jennie sambil menepuk pipi Seunghyun yang tak sadarkan diri.

Mino langsung mengeluarkan ponsel dan menghubungi 911.

Teddy yang mendengar keributan keluar dari ruangannya, ia terkejut melihat Seunghyun terbaring di lantai bersimbah darah. “Ada apa dengannya?!”

“Seunghyun oppa datang dengan keadaan seperti ini sajangnim..” jawab Jennie.

“Kau sudah memanggil ambulance?” Tanya Teddy pada Mino.

“Ne, ambulance sudah dalam perjalanan kemari sajangnim..” jawab Mino.

 

=Rumah Bom=

Bom duduk di sofa ruang tengah dengan laptop di pangkuannya, ia sedang membuat surat pengunduran diri. Dengan begitu ia bisa berhenti bertatap muka dengan Seunghyun.

Chaerin keluar dari kamar Hayi dan menghampiri Bom

Bom tersenyum melihat Chaerin duduk, “Hayi tidur?”

“Ne, ternyata efek obat yang dia minum sangat cepat..” jawab Chaerin kagum, ia diam sejenak memperhatikan Bom membuat surat pengunduran diri. “Eonni, tadi Hayi sempat bercerita padaku tentang mantan suamimu..”

Tangan Bom yang mengetik di keyboard berhenti, namun ia masih memandang layar laptopnya.

“Apa karena dia kau ingin berhenti?” Tanya Chaerin.

Bom memandang Chaerin dan mengangguk pelan. “Aku tau, seorang agent harus mengutamakan pekerjaannya. Tapi aku benar-benar tidak bisa bertatap muka dengannya..” ucapnya.

Chaerin mengangguk mengerti, “Ne, gwenchana eonni.. Aku mengerti perasaanmu..” ucapnya.

Bom tersenyum, “Gumawoyo, miss leader..”

Chaerin tersenyum, “Ne, paling tidak aku tau kau sudah pernah menikah.. hehehe..”

Bom tertawa malu, “Saat itu aku masih gadis naïf, tapi berkat kejadian itu aku jadi agent dan bisa menjadi anggotamu kan?”

Chaerin mengangguk, “Kau benar..”

Bom kembali menyelesaikan surat pengunduran dirinya, “Oke, selesai. Besok akan memberikannya pada Teddy oppa..” ponselnya di meja berbunyi, ia meletakkan laptop di meja dan mengambil ponselnya. Dahinya berkerut melihat nama Jennie muncul, lalu menjawab panggilan itu. “Ne, Jennie..” jawabnya dan mendengarkan gadis itu berbicara. Matanya langsung membesar kaget mendengar penjelasan gadis itu, “Ne?! dimana dia sekarang?!”

Chaerin memandang Bom bingung, “Waeyo eonni?”

Bom memutuskan telepon dan memandang Chaerin, “Chaerin, aku harus pergi sekarang. Tolong jaga Hayi..” ucapnya sambil bangkit dan melangkah cepat ke pintu.

 

=Medical Hospital=

Dongwook berlari ke UGD mendengar Seunghyun di bawa kesana, “Ini pasienku!” ucapnya sambil menghampiri Seunghyun. Ia terkejut melihat kondisi bekas luka operasi pria itu yang seharusnya sudah mengering setelah hampir seminggu berlalu malah infeksi dan terlihat membusuk. “Waekeure?” gumamnya tak percaya, lalu langsung memberikan pertolongan untuk pria itu.

Bom berlari masuk ke rumah sakit dan langsung mencari ruang UGD.

Jennie dan Mino yang menunggu di depan UGD tertegun melihat Bom, “Eonni..”

Bom mendengar panggilan Jennie dan segera menghampiri dua rekan kerjanya, “Bagaimana keadaannya?”

“Dokter masih memeriksanya, eonni.. Tapi keadaan Seunghyun oppa tadi sangat parah.. Darah mengalir deras dari bekas luka di dadanya..” jelas Jennie.

Bom terkejut mendengar penjelasan Jennie, ‘Ini pasti karena bakteri itu!’ batinnya.

“Bom-ssi, sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Seunghyun hyung mengambil cuti dan tiba-tiba seperti ini?” Tanya Mino tak mengerti.

Bom memandang Mino bingung, “Mmm.. aku tidak bisa menjelaskannya sekarang..”

Tak lama, Dongwook keluar dengan wajah marahnya. Apalagi ketika melihat Bom.

“Dokter, bagaimana keadaan pasien bernama Choi Seunghyun?!” Tanya Mino langsung.

Bom tau sesuatu terjadi melihat Dongwook menatapnya seperti itu.

“Dokter?” Tanya Jennie.

“Kondisi pasien sudah mulai stabil, pendarahannya sudah berhenti..” jawab Dongwook tanpa ekspresi, “Permisi..” ucapnya dan melangkah pergi. ketika melewati Bom ia langsung menarik tangan gadis itu agar ikut bersamanya.

Mino dan Jennie mengerutkan dahi melihat Dongwook menarik Bom, lalu saling memandang bingung.

Begitu tiba di lorong yang tidak banyak orang, Dongwook melepaskan tangan Bom dan berbalik menatap gadis itu. “Park Bom-ssi, bukankah aku sudah memintamu membuatnya merasa nyaman selama 10 hari?” tanyanya kecewa.

Bom memandang kebawah menyesal, “Maafkan aku dokter Choi..”

Dongwook mengelus dahinya frustasi sambil memejamkan matanya, lalu kembali menatap Bom. “Bakteri itu sudah semakin kuat! Anti-body Seunghyun harus melawannya, jika seperti ini bagaimana?! Apa kau merasa karena Seunghyun sudah menyelamatkan adikmu, dia sudah tidak berguna lagi jadi kau bisa membiarkannya mati?!”

Bom menatap Dongwook tak percaya, “Dokter Choi?”

“10 hari Park Bom-ssi, sekarang hanya tersisa 3 hari..” ucap Dongwook.

Bom tidak tau harus memberikan jawaban seperti apa. Ia menyesal Seunghyun terkena bakteri itu karena menyelamatkan adiknya, tapi ia juga kesal mengapa hanya dirinya yang disalahkan.

“Park Bom-ssi, hanya 3 hari lagi. kumohon.. bantu dia..” pinta Dongwook.

Bom tau dirinya tidak memiliki pilihan lain, akhirnya ia mengangguk berat. “Ne..”

 

=Ruang Perawatan Seunghyun=

Bom duduk disebelah Seunghyun sambil memandangi pria itu dalam. Perceraian yang sudah berlalu 10 tahun lalu itu masih terasa menyakitkan, terutama saat ia memandangi pria itu saat ini.‘Hanya 3 hari.. setelah kau terbukti baik-baik saja, aku akan mengakhiri semuanya..’ batinnya.

Beberapa jam kemudian.

Seunghyun mengerutkan dahi dan membuka mata perlahan, terasa seperti ada sesuatu yang menghimpit dadanya. Ia mencoba menghela nafas perlahan sambil mengedarkan pandangannya. Ia tertegun melihat Bom tertidur dengan kepala bertumpu diatas lipatan tangannya. Bibirnya membentuk senyuman melihat gadis itu ada disisinya. Tangannya bergerak perlahan untuk mengelus rambut hitam gadis itu.

Dahi Bom berkerut dan langsung terbangun merasakan elusan di rambutnya, ia tertegun melihat Seunghyun sudah sadar. “Kau sudah sadar?” tanyanya sambil mengangkat kepala.

Seunghyun menatap Bom dalam, “Apa aku membuatmu khawatir?”

Bom tertegun mendengar pertanyaan Seunghyun dan menunduk canggung, “Ne..” jawabnya pelan.

“Mian..” ucap Seunghyun menyesal.

Bom menghela nafas dalam untuk menetralkan emosinya dan kembali memandang Seunghyun, “Sudah, istirahatlah.. Kondisimu belum membaik..” ucapnya, ia tertegun merasakan tangan pria itu menggenggam tangannya.

“Kau akan terus disini kan?” Tanya Seunghyun.

Bom memandang Seunghyun sejenak, lalu mengangguk. “Ne..”

 

=Markas Bigbang=

“Kau sudah bisa menghubungi Seunghyun hyung?” Tanya Jiyong pada Daesung.

“Belum hyung, tapi aku menemukan sesuatu..” jawab Daesung.

Jiyong menatap Daesung serius, “Mwo?”

Daesung memperlihatkan layar laptopnya, “Aku menemukan tempat yang mungkin saja menjadi tempat persembunyian detektif Lee..”

Jiyong menatap Daesung tak percaya, “Ne?!”

 

=Rumah Bom=

Chaerin membuka matanya mendengar langkah seseorang di luar kamar. Ia segera bangkit dan melangkah ke pintu dengan satu tangan terulur untuk menghidupkan lampu. Namun tangannya berhenti mengingat Bom sudah berkata akan bermalam dirumah sakit tadi. Ia mengerutkan dahi dan menempelkan telinganya ke pintu. Jika Hayi yang berjalan diluar, pasti gadis itu akan memanggilnya. Tapi tidak ada. Diluar juga sangat gelap. Matanya memandang sekitar, meskipun gelap, ia sudah hafal dimana tempat barang-barang disana. Tangannya terulur ke buffet dan menemukan pajangan yang sama yang ia gunakan untuk melumpuhkan Seungyool saat itu. namun kali ini ia tidak bisa berdiam diri, bisa saja orang itu masuk ke kamar sebelah terlebih dulu. Ia membuka pintu perlahan dan mengintip keluar, kegelapan membuatnya tak bisa melihat apa pun. Namun ia sudah terlatih untuk berkelahi seperti ini. Ia membuka pintu dan berjalan dengan tubuh menunduk keluar dan bersembunyi di balik sofa.

Tak…

Chaerin memandang kebelakang dan mendengar suara tadi. Tapi ia tau, itu hanya umpan. Dengan cepat ia maju ke depan dan bangkit. DUAKK!!

“Aaaarrrghh!!” erang seorang pria yang terkena pukulan Chaerin.

Chaerin langsung bangkit dan menghidupkan lampu. Dahinya berkerut melihat orang asing yang sebenarnya adalah Seungri berguling-guling di lantai sambil memegang belakang kepala.

Seungri memandang orang yang memukulnya dan langsung melotot melihat Chaerin, “OH! kau benar-benar masih hidup!!” serunya.

“Aissh!!” Chaerin melempar pajangan di tangannya ke kepala Seungri karena telah melihatnya.

DUAKK!!

Seungri jatuh pingsan.

Hayi terbangun dan keluar dari kamarnya, “Eonni, waekeure?” tanyanya bingung, matanya langsung melotot melihat seorang pria tergeletak di lantai. “Omo!!”

“Gwenchana Hayi, masuk ke kamarmu. Dia hanya… err.. hanya perampok.” Jawab Chaerin cepat.

“Ne? apa dia tidak apa-apa?” Tanya Hayi.

“Gwenchana, dia hanya pingsan.. Eonni sudah menghubungi pihak berwajib, masuk ke kamarmu. Dia berbahaya..” ucap Chaerin.

Hayi mengangguk dan kembali masuk ke kamarnya.

Chaerin menghela nafas lega melihat Hayi kembali masuk ke kamar, ia menghampiri meja telepon dan menghubungi seseorang.

“Yoboseo?” jawab Dara dengan suara mengantuknya.

“Dara, hubungi Seungyool.” Ucap Chaerin sambil memandang Seungri yang masih pingsan. “Kita punya penjahat lain disini..”

 

<<Back           Next>>

 

Advertisements

2 thoughts on “Mr and Mrs Choi [Chapter 27]

  1. Yahh skrg waktunya tersisa 3 hari.. Apa seunghyun bakal baik2 aja?? Duh itu seungri mau diapain lagi ama chaerin?? >< Jangan digebukin ya chaerin wkwkwk xD

  2. Duhh . . . apa Bom setelah 3 hari kedepan akan meninggalkan Seunghyun. . . ?
    o…iya, Seungri mau diapain tuh ma Chaerin . . . ? 😀
    next (Penasaran Tingkat Dewa)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s