Chapter · YG Family

Mr and Mrs Choi [Chapter 24]

24

—Sleep Well—

Dongwook masuk kekamar perawatan Hayi untuk melihat perkembangan gadis itu. “Annyeonghaseo..” sapanya.

Bom yang ada disana langsung berdiri dan membungkuk sopan, “Annyeonghaseo..”

Dongwook menghampiri tempat tidur Hayi bersama seorang perawat dan tersenyum pada gadis itu, “Hallo, Hayi.. bagaimana perasaanmu sekarang?”

Hayi tersenyum, “Aku merasa lebih baik dokter.. Juga saat tidur aku tidak perlu menggunakan selang oksigen lagi..” jawabnya.

Dongwook mengelus rambut Hayi, “Itu bagus..” ucapnya. Ia mengambil file Hayi dari perawat dan menulis sesuatu disana. “Perkembangan Hayi sangat baik, bekas operasinya juga membaik dengan cepat. Setelah hampir dua minggu tidak ada keluhan tentang paru-parunya, kurasa tidak ada masalah akibat operasi..” ucapnya menyimpulkan.

Bom tersenyum pada Hayi, lalu kembali memandang Dongwook.

“Lalu, kapan aku bisa pulang dokter?” Tanya Hayi ingin tau.

Dongwook memandang Hayi sambil memberikan file tadi kembali pada perawat, “Wae? Kau sudah bosan disini?”

Hayi cemberut, “Ne.. sebelumnya hampir 10 tahun aku berada di rumah sakit. Sekarang saja sudah 3 bulan aku tinggal dirumah sakit.. Jika aku sudah sembuh aku bisa kembali kerumah, kan dokter?”

Dongwook tertawa kecil dan duduk di pinggir tempat tidur Hayi, “Keurom.. Kau juga sudah sehat sekarang.. Terserah kau saja kapan ingin pulang..”

Hayi langsung tersenyum lebar, “Jeongmalyeo?” tanyanya, lalu memandang Bom, “Eonni, dokter bilang aku sudah bisa pulang. Kapan aku akan pulang?”

Bom tersenyum, “Eonni akan mengurus kepulanganmu besok..”

Hayi terlihat sangat senang, “Yeaay!!”

Diluar ruangan Hayi.

Bom berdiri di depan Dongwook dengan wajah serius, “Dokter Choi, apakah kau tau keadaan Seunghyun sekarang?”

“Mmm.. jujur saja setelah ia kembali ke rumahnya kemarin dia belum menghubungiku. Waeyo?” Tanya Dongwook ingin tau.

“Ne? oh.. aniya.. aku hanya ingin tau..” jawab Bom cepat, “Mmm.. keure, gamshamida dokter Choi..” ucapnya sambil membungkuk sopan dan berbalik masuk ke kamar perawatan Hayi.

Dongwook tersenyum melihat Bom pergi, “Kalian benar-benar…” gumamnya lucu, lalu berbalik dan melangkah menuju ruangannya. Dilorong ia berpapasan dengan Haneul yang sepertinya memang ingin berbicara dengannya.

“Dokter Choi..” ucap Haneul dengan wajah serius.

Dongwook berhenti di depan Haneul, “Waeyo?”

Haneul menyodorkan sebuah berkas, “Hasil pemeriksaan darah Choi Seunghyun..”

Dongwook tertegun dan langsung mengambil berkas itu, lalu membacanya. Matanya membesar dan menatap Haneul tak percaya.

Haneul mengelus belakang kepalanya canggung, “Mmm.. terinfeksi, tapi tidak sebanyak pasien Park Hayi..” jelasnya.

Dongwook memejamkan mata dan memijat pangkal hidungnya.

“Mmm.. dokter Choi..” panggil Haneul yang membuat Dongwook kembali memandangnya. “Dari apa yang kupelajari saat masih trainee, bakteri ini akan mati dengan berjalannya waktu jika pengidapnya memiliki perasaan bahagia. Jika kita bahagia, tubuh akan melepaskan anti-body yang lebih banyak dan lebih kuat..” jelasnya.

Dongwook tertegun, “Jinja? Apakah itu pernah digunakan?”

“Profesorku pernah memberikan berkas pasien yang mengidap bakteri itu dulu, pasien dinyatakan bersih 100% setelah 10 hari dinyatakan teridap bakteri tersebut. Setelah di teliti, ternyata semua itu karena pasien selalu bahagia dengan orang di sekitarnya..” cerita Haneul, “Dan saat itu ada seorang prajurit yang juga terkena bakteri itu, lalu professor memintanya pulang dan berkumpul bersama keluarganya tanpa memberitau tentang bakterit itu sebelumnya. Lalu, 10 hari kemudian ketika dia kembali. Kami memeriksa darahnya dan benar-benar bersih..”

Dongwook berusaha mencerna apa yang disampaikan Haneul padanya.

“Keurom, sepertinya pasien Hayi juga selalu ceria. Tapi ini tidak berhasil padanya..” ucap Haneul bingung.

Dongwook tertegun, lalu memandang Haneul dengan senyuman mengembang. “Kau jenius!”

Haneul mengerutkan dahi. “Ne?”

“Kau benar! Hal itu tidak berhasil pada Hayi karena dia terus mendapat bakteri yang sama dalam waktu berkala. Pasti karena itu juga dia masih bertahan selama 10 tahun dengan penyakitnya, karena dia bahagia! Bakteri itu tidak bisa menggerogoti tubuhnya karena ia bahagia.. benar kan?” ucap Dongwook menyimpulkan.

Haneul diam sejenak, lalu mengangguk pasti. “Ne! benar dokter Choi! Anda jenius sekali!!”

“Ani! Kau yang jenius! Aku pergi dulu..” ucap Dongwook sambil berbalik kembali ke ruangan Hayi.

Bom bingung melihat Dongwook kembali, “Dokter Choi?”

“Bom-ssi, bisakah kita berbicara sebentar?” Tanya Dongwook.

Bom memandang Hayi, lalu kembali memandang Dongwook, “Oh.. ne..” ucapnya dan bangkit.

Dongwook berbalik dan menunggu Bom diluar.

Bom menutup pintu dan memandang Dongwook bingung, “Waekeure Dokter Choi?”

Dongwook menghela nafas dalam, “Mmm.. Park Bom-ssi, cesonghamida.. Aku ingin meminta bantuanmu..”

Bom terlihat penasaran, “Katakan saja Dokter Choi..”

 

=Apartemen Seunghyun=

Bom melangkah cepat keluar dari lift dan langsung menghampiri pintu apartemen Seunghyun. Tangannya dengan gusar menekan bel berkali-kali, namun tidak juga dibuka. Ia tertegun mengingat ucapan Dongwook tadi.

“Seunghyun terinfeksi bakteri yang sepertinya di tujukan pada Park Hayi. Menurut penelitian yang sudah dilakukan beberapa tahun terakhir, bakteri itu akan dikalahkan oleh anti-body manusia. Hal itu akan diperkuat dengan perasaan bahagia yang dirasakan pasien.Paling tidak, bakteri itu akan mati setelah 10 hari. Bisakah kau membuatnya bahagia selama 10 hari ini?”

‘Ini pasti karena bubur yang di habiskan Seunghyun..’ batin Bom, lalu kembali menekan bel. “Aissh.. kenapa dia tidak membuka pintu?” gumamnya gusar. Tiba-tiba pemikirannya melayang jauh membayangkan Seunghyun mungkin sedang sekarat didalam sana. “Choi Seunghyun!!” panggilnya sambil menggedor-gedor pintu apartemen itu, “Ya!!” serunya. Ia tertegun ketika pintu terbuka dan terlihat Seunghyun yang memandangnya bingung, “Seunghyun-a!”

Seunghyun yang mengenakan sweater dan celana santai mengerutkan dahi, “Waeyo? Kau membuatku terkejut..”

Bom sangat senang melihat Seunghyun baik-baik saja, hatinya langsung di penuhi haru dan maju memeluk pria itu. “Ahh.. kenapa kau lama sekali membuka pintu?!”

Seunghyun memandang Bom tak mengerti, “Bommi?”

Bom melepaskan pelukannya dan menatap Seunghyun, “Apa yang kau lakukan?! Aku panic setengah mati!! Kau tau?!!”

Seunghyun menatap Seunghyun bingung, lalu tersenyum lucu. “Waekeure? Tadi aku sedang mengganti perban penutup luka operasiku..”

Bom memandang dada Seunghyun yang tertutup sweater dan kembali memandang wajah pria itu. mengingat pria itu telah menyelamatkan nyawa adiknya dua kali membuatnya sangat berterima kasih pada pria didepannya.

Seunghyun masih tersenyum, menunjukkan ia baik-baik saja sambil memegang kedua pipi Bom dan menatap gadis itu hangat. “Kau yang membuatku khawatir..” ucapnya lucu, lalu melangkah kesamping agar Bom bisa masuk. “Masuklah..”

Bom melangkah masuk sambil tersenyum pada Seunghyun.

Seunghyun tidak tau apa yang terjadi tapi ia senang Bom datang ke apartemennya.

Bom melangkah masuk hingga ke ruang tengah, lalu berbalik memandang Seunghyun masih dengan wajah khawatirnya. “Neo gwenchana?”

Seunghyun tersenyum, “Apa aku terlihat tidak sehat?”

Bom menghela nafas dalam, “Mmm.. dokter Choi sudah menghubungimu?”

Seunghyun memandang Bom, “Waeyo?”

‘Berarti belum..’ batin Bom menjawab pertanyaannya tadi, “Ohh.. ani..” jawabnya sambil tersenyum, “Oh ya, kudengar Teddy oppa datang ke kamar perawatan Hayi dan kau bertemu dengannya?”

Seunghyun mengangguk, “Ne.. Apa dia berkata sesuatu padamu?”

“Aniya.. aku bahkan belum bertemu dengannya secara langsung..” jawab Bom.

“Hmm.. ayo duduk..” ucap Seunghyun mempersilahkan Bom duduk.

Bom bergerak duduk dan memandang Seunghyun yang juga duduk di sebelahnya, “Mmm.. Seunghyun-a, sepertinya kau mencurigai Teddy oppa..” ucapnya hati-hati.

Seunghyun tertegun, “Ne? ohh.. tentu saja, dia bersikap aneh padamu..” ucapnya memberi alasan.

Bom mengangguk mengerti, “Hmm.. pantas saja..” ucapnya pelan.

Seunghyun menatap Bom serius, “Apa dia mengatakan sesuatu padamu? Maksudku, sesuatu yang lebih serius?”

Dahi Bom berkerut, “Maksudmu?”

Seunghyun memandang ke bawah canggung sambil mengelus belakang kepalanya, “Mmm.. errr.. maksudku… mungkin saja… mmm.. dia.. mengatakan sesuatu tentang perasaannya.” Ucapnya pelan.

Bom diam sejenak, lalu tersenyum lebar. “Maksudmu, dia menyatakan perasaannya padaku?”

Seunghyun merasa kedua pipinya memanas, “Ne..” jawabnya singkat.

Bom tertawa kecil, “Dia sudah melamarku..”

Seunghyun menatap Bom kaget, “Mwo?! Lalu apa yang katakan padanya?!”

Bom berpura-pura berpikir, “Mmm.. aku belum menjawabnya, jadi dia masih menunggu..”

Seunghyun menelan ludah, “Apa…. Mmm.. apa yang akan kau jawab?”

Bom kembali berpikir, “Mmm.. entahlah.. Kurasa dia menyayangi Hayi..”

“ANDWAE!!” seru Seunghyun yang membuat Bom terperanjat kaget, “Andwaeyo!! Jika kau menerimanya karena Hayi, aku akan merawat Hayi!!” ucapnya cepat.

Bom awalnya sangat terkejut mendengar Seunghyun berseru, namun tak lama ia mulai tertawa karena mendengar kekonyolan pria itu. saat itu ia sadar, pria didepannya tidak pernah berubah, masih Choi Seunghyun yang ia kenal sejak pertama kali mereka bertemu.

“Aku serius!!” ucap Seunghyun kesal.

Bom berusaha menahan tawanya dan memandang Seunghyun lucu, “Aku belum menjawabnya, kenapa kau bersikap seperti itu?”

Seunghyun menghela nafas dalam, “Apa kau akan menerimanya?” Tanya hati-hati.

Bom masih mempertahankan senyumnya memandang Seunghyun, lalu menggeleng.

Seunghyun menatap Bom tak percaya, perlahan bibirnya mulai membentuk senyuman. “Jeongmal?”

Bom mengangguk.

Seunghyun berusaha menahan rasa senangnya, “Wae?”

“Mmm.. kupikir Hayi hanya menyukaimu..” jawab Bom.

Seunghyun cemberut, “Karena Hayi?”

“Lalu karena apa?” Tanya Bom heran.

Seunghyun memutar bola matanya sebal, “Lupakan saja..” ucapnya, lalu bergerak bangkit. “Kau mau minum sesuatu?” tanyanya dengan nada bosan.

Bom menatap Seunghyun bingung, “Ya.. kau tidak mengerti arti ucapanku tadi?”

Seunghyun menatap Bom sebal, “Arasso..” jawabnya, lalu melangkah ke dapur.

Bom mengerutkan dahinya, lalu bangkit dan mengikuti Seunghyun. “Pabo ya.. kau sama sekali tidak mengerti..” ucapnya aneh.

“Duduk saja disana, aku akan mengambilkan minum..” ucap Seunghyun sambil membuka kulkas.

Bom kesal dengan respon Seunghyun, “Aissh..” gumamnya, “Lupakan! Aku hanya mampir, aku akan kembali lagi ke rumah sakit! Pabo!!” ucapnya, lalu berbalik dan berjalan ke pintu. Namun ia berhenti karena merasa pria itu tidak mengikutinya, lalu berbalik menatap Seunghyun yang masih berdiri di depan kulkas. Dahinya berkerut melihat satu tangan pria itu mencengkeram pintu kulkas yang sudah terbuka dan satunya lagi memegang wajah. “Seunghyun-a..” panggilnya bingung sambil menghampiri pria itu.

“Jangan kesini! Tunggu saja disana!” ucap Seunghyun tanpa memandang Bom.

Hal itu justru membuat Bom semakin curiga, ia mendekati pria itu dan menarik bahu pria itu agar memandangnya.

Seunghyun tetap berusaha memalingkan wajahnya, “Tunggu saja disana..” ucapnya.

“Waekeure?” Tanya Bom sambil mendorong pipi Seunghyun dengan tangan agar memandangnya. Matanya membesar melihat darah mengalir dari hidung pria itu. “Oh! Seunghyun-a!”

“Gwenchana.. hanya mimisan..” ucap Seunghyun sambil menahan pendarahan itu.

Bom langsung mengambil beberapa helai tisu dan menahan pendarahan di hidung Seunghyun, “Ayo.. kau harus berbaring..” ucapnya sambil menarik pria itu kembali ke ruang tengah.

Seunghyun mengikuti tuntunan Bom untuk berbaring ke sofa dengan bantal di bawah kepalanya.

“Sebentar, aku akan mengambil es batu..” ucap Bom dan langsung berlari kecil kembali ke kulkas.

Seunghyun menahan tisu di hidungnya. Tak lama Bom kembali dan menempelkan sebongkah kecil es batu yang telah di lapisi kain ke hidungnya. Matanya memandangi wajah cemas gadis itu, ia ingat 10 tahun lalu ia pernah berada di posisi seperti ini.

=Flashback 10 tahun lalu=

Seunghyun berbaring di pangkuan Bom sambil memandangi wajah cantik gadis itu dari bawah.

Bom menahan kain yang berisi batu es ke hidung Seunghyun, pria itu belajar sangat keras hingga mimisan. Ia bingung melihat pria itu tersenyum, bibirnya spontan juga ikut membentuk senyuman. “Waeyo?”

Seunghyun tertawa kecil, “Ani.. Aku hanya menyadari kau sangat cantik di posisi ini..”

Bom tertawa kecil, “Keurom.. Aku selalu cantik dari sisi manapun..” candanya.

Seunghyun mengangguk, “Ne, kau benar..”

Wajah Bom merona merah, “Sudah, diamlah.. darah dari hidungmu belum berhenti..”

Seunghyun mengulurkan tangannya ke tangan Bom yang lain, lalu menggenggam tangan gadis itu erat dan hanya bertatapan dengan gadis yang baru beberapa bulan menjadi istrinya.

=Flashback end=

Bibir Seunghyun membentuk senyuman melihat wajah Bom saat ini jauh lebih cantik dari dulu karena terlihat semakin dewasa.

Bom memandang Seunghyun bingung, “Kenapa kau tersenyum?”

“Hmm.. aku merasa kau sangat cantik di posisi ini..” jawab Seunghyun mengulang apa yang ia ucapkan dulu.

Bom tertegun, perlahan bibirnya membentuk senyuman dengan kedua pipi merona. “Mwoya? Kau membuatku merasa de’javu..” candanya.

Seunghyun menatap kedua mata bom dalam, satu tangannya bergerak menggenggam tangan gadis itu. “Bommi, apakah kita masih mungkin kembali bersama?”

Bom terdiam mendengar pertanyaan Seunghyun.

“Aku berjanji akan menjagamu lebih baik..” ucap Seunghyun pelan, “Kali ini, aku tidak akan berhenti di tengah jalan. Aku akan berjuang hingga akhir. Apa kau bisa mempercayaiku lagi?”

Bom menatap kedua mata Seunghyun yang memancarkan ketulusan, “Apa kau masih menyimpan surat perceraian kita?”

Seunghyun tertegun, “Ne? ohh.. a-ani.. kurasa aku menghilangkannya..” jawabnya pelan.

“Aku masih menyimpan salinannya..” ucap Bom.

Seunghyun menatap Bom tak percaya, “Ne?”

Bom memandang kebawah sedih, “Agar aku yakin kalau kita benar-benar telah berpisah. Jadi aku tidak akan menghubungimu atau datang padamu lagi. aku memandanginya setiap hari setelah surat itu sampai ke tanganku. Aku benar-benar tidak percaya semuanya berakhir karena kertas itu. tapi aku tetap memandanginya. Membacanya dengan hati-hati dengan harapan akan ada kesalahan pada pengetikannya.” Ucapnya, lalu memandang Seunghyun yang terlihat sangat menyesal.

Tangan Seunghyun yang menggenggam tangan Bom berpindah ke pipi gadis itu dengan tatapan dalamnya, “Miane.. Aku belum dewasa dan sangat egois. Aku benar-benar menyesal..”

Bom tersenyum sambil memegang tangan Seunghyun di pipinya, “Tapi setelah apa yang kau lakukan demi Hayi dan aku.. Kurasa sudah saatnya membuang surat itu..”

Seunghyun menatap Bom tak mengerti.

“Pabo, kau masih tidak mengerti ucapanku?” Tanya Bom heran.

“Bommi, bisakah kau mengatakannya dengan jelas? Aku tidak mengerti kiasan yang kau ucapkan..” jawab Seunghyun bingung.

Bom memutar bola matanya sebal dan menatap Seunghyun kesal, “Aigoo.. pabo ya..” ucapnya.

Seunghyun tertawa kecil, “Aku mengerti..” ucapnya pelan, lalu menarik kepala Bom kearah wajahnya. Tapi sebelum bibirnya sempat menyentuh bibir gadis itu, sang gadis menahan tubuhnya.

“Apa yang kau mengerti?” Tanya Bom memastikan.

“Bahwa kau akan bersamaku karena Hayi menyukaiku, juga membuang surat perceraian itu karena kau akan selalu datang padaku. Apa aku salah?” Tanya Seunghyun dengan senyuman manisnya.

Bom tersenyum dan memajukan wajahnya.

 

 

<<Back           Next>>

Advertisements

3 thoughts on “Mr and Mrs Choi [Chapter 24]

  1. Aaah >< suka banget ama part yg ini.. Romantis! Apakah berarti seunghyun ama bom bisa kembali bersama?? Ayo Bom! Bikin seunghyun bahagia!! 😀 xD

  2. wahh 🙂 Seunghyun ma Bom romantis banget . . .
    next . . . kuharap Chapter” selanjutnya adegan romantisnya di tambah 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s