Chapter · YG Family

Mr and Mrs Choi [Chapter 20]

20

—Bad and Good—

=Markas Bigbang=

Semua anggota Bigbang merasa di permainkan oleh orang yang mencuri kalung yang mereka cari, karena mereka sudah bekerja keras untuk menemukannya, sang pencuri mengembalikannya begitu saja.

“Kurasa pencuri ini sudah tau kita mengincarnya..” ucap Jiyong yakin.

“Ne.. Jika tidak, bagaimana mungkin dia melakukan ini..” ucap Taeyang.

“Kira-kira siapa yang melakukannya? Dia pasti tau tentang kita..” ucap Seungri.

Seunghyun menyipitkan matanya sambil berpikir keras, “Kurasa kita punya target baru..”

Semuanya memandang Seunghyun, “Siapa hyung?”

Seunghyun memandang teman-temannya bergantian, “Teddy Park..”

 

=Medical Hospital=

Seunghyun melangkah menuju ruangan Dongwook dan membuka pintunya, ia tertegun melihat Bom ada didalam dan kembali menarik pintu agar mereka tidak menyadari kedatangannya sambil mendengarkan.

“Park Bom-ssi, aku tidak bisa melakukannya. Itu sama saja melanggar sumpah dokterku..” ucap Dongwook menyesal.

“Kumohon dokter, aku tidak akan mengatakan apa pun. Ambil saja satu paru-paruku dan berikan pada Hayi.. Jika semuanya berjalan lancar tidak akan ada yang tau..” pinta Bom.

Dongwook menghela nafas dalam, “Park Bom-ssi, bagaimana jika kau mengalami pendarahan saat operasi akibat darahmu tidak bisa mengental dengan normal? Lalu kau meninggal? Apa menurutmu ada yang bisa merawat adikmu sebaik dirimu?”

Bom menghela nafas dalam dan menutup wajahnya.

Dongwook menatap Bom prihatin, “Aku tau ini berat, Park Bom-ssi.. Tapi percayalah, pasti ada seseorang yang bisa menyelamatkan adikmu..”

Bom menarik tangannya dari wajah dan memandang Dongwook, “Ne, dokter Choi..” ucapnya berat.

Dibalik pintu, Seunghyun ikut menghela nafas dalam memikirkan betapa khawatirnya Bom dengan kondiai Hayi. Ia mendengar langkah kaki mendekati pintu dan segera bersembunyi di balik dinding. Setelah memastikan Bom pergi, ia masuk ke ruangan Dongwook.

“Oh.. Seunghyun-a, kau bertemu Park Bom-ssi tadi?” Tanya Dongwook.

Seunghyun menatap Dongwook serius, “Hyung..” ucapnya, “Apa aku bisa memberikan donor untuk Hayi?”

Dongwook tertegun mendengar pertanyaan Seunghyun, “Mworagu?”

“Aku masih bisa hidup dengan satu paru-paru kan?” Tanya Seunghyun lagi.

Dongwook menatap Seunghyun tak mengerti, “Apa yang kau bicarakan?”

Seunghyun bergerak duduk di hadapan Dongwook, “Aku serius hyung!”

Dongwook diam sejenak, “Seunghyun, operasi transplantasi itu tidak seperti operasi usus buntu..” ucapnya.

“Araso hyung, ayahku juga pernah menjalani transplantasi jantung dulu.. Jadi aku mengerti resikonya..” ucap Seunghyun meyakinkan.

“Pabo.. dan ayahmu meninggal di meja operasi..” ucap Dongwook sebal, “Aku sudah memasukkan nama Park Hayi kedalam daftar transplantasi, tidak lama lagi akan ada yang cocok untuknya..”

Seunghyun menatap Dongwook memohon, “Hyung, Hayi sudah masuk ke daftar itu selama hampir 10 tahun. Tapi tidak ada satu pun yang ditemukan. Jika aku bisa, kenapa kau tidak melakukannya?”

Dongwook menatap Seunghyun kesal, “Ya! Seharusnya kau mengerti.. Jika tidak ada hubungan darah dengan pasien akan lebih sulit menemukan kecocokan!”

“Mungkin saja cocok hyung! Kenapa kau tidak memeriksaku dulu? 10 tahun yang lalu aku pernah memberikan darahku untuk Hayi saat dia terkena demam berdarah dan membutuhkan donor darah..” ucap Seunghyun menggebu-gebu.

Dongwook tertegun dan menatap Seunghyun tak percaya, “Benarkah? 10 tahun lalu?”

Seunghyun mengangguk, “Ne! hyung, jebal.. Hayi tidak memiliki waktu lagi. periksa saja aku dan lihat hasilnya..”

Dongwook diam sejenak memikirkan ucapan Seunghyun, “Keure..”

Seunghyun tersenyum lebar dan memegang kedua tangan Dongwook, “Terima kasih hyung..”

 

=Devisi IT=

“Eonni, kau masih melanjutkan pekerjaanmu?” Tanya Jennie yang sudah bersiap pulang.

“Ne, aku hanya akan menyelesaikannya sedikit lagi.” jawab Bom.

“Keure, aku pergi eonni..” ucap Jennie.

“Ne..” ucap Bom dan memperhatikan Jennie keluar. Yang lainnya sudah pulang, jadi hanya dia yang masih disana. Ia ingin melakukan rencananya. Perlahan ia bangkit dan menghampiri pintu ruangan Teddy.

Tok! Tok! Tok!

“Ne..” jawab Teddy didalam.

Bom membuka pintu dan memandang kedalam, “Oppa, kau belum pulang?”

Teddy memandang Bom, “Oh, Bom-a.. masuklah..”

Bom melangkah masuk sambil menutup pintu di belakangnya, “Masih bekerja oppa?”

“Ne, aku masih memeriksa beberapa berkas..” ucap Teddy.

“Hmm.. begitu..” ucap Bom pelan.

Teddy tertegun mendengar suara Bom, “Waeyo?”

Mata Bom mulai berkaca-kaca, “Mmm.. aku hanya ingin membicarakan sesuatu, tapi sepertinya oppa sibuk.. Annyeonghaseo..” ucapnya sambil membungkuk sopan dan berbalik.

Teddy langsung berdiri, “Aniya, jangan pergi..” panggilnya dan menghampiri Bom.

Bom memandang Teddy.

Teddy merangkul Bom yang terlihat akan menangis dan membawanya duduk disofa, “Waeyo? Kau bisa menceritakannya padaku..”

Bom menunduk dengan bulir air mata berjatuhan.

Teddy menyeka air mata Bom, “Katakan saja Bom..” pintanya.

Bom memandang Teddy putus asa, “Oppa, aku tidak tau apa yang harus kulakukan lagi.. Aku tidak ingin kehilangan Hayi..”

Teddy menatap Bom sedih dan mengelus rambut gadis itu, “Kau tidak sendiri Bom.. Aku akan terus berada disisimu..”

Tangan Bom memegang tangan Teddy, “Aku tau oppa.. Tapi Hayi satu-satunya yang kumiliki sekarang, bagaimana jika dia tidak selamat?”

Teddy menggeleng dan menarik Bom ke pelukannya, “Aniya, dia akan baik-baik saja..” ucapnya sambil mengelus punggung gadis itu lembut, “Apa pun yang terjadi, aku akan menjagamu..”

Bom menangis dada Teddy sambil melingkarkan kedua tangannya ke tubuh pria itu, namun diam-diam bibirnya membentuk senyuman mengetahui rencananya berhasil.

Sementara itu.

Seunghyun sedang melangkah menuju mobilnya ketika ponselnya berbunyi, dari Dongwook. Dengan cepat ia mengangkatnya, “Ne hyung!”

“Aissh.. ya, tidak perlu berseru!” ucap Dongwook kesal.

“Bagaimana hasilnya hyung?” Tanya Seunghyun penasaran.

“Dasar tidak sabaran..” jawab Dongwook, “Ini sangat mengejutkan.. Tapi kau memenuhi syarat..”

Mata Seunghyun membesar, “Ne?!! jinja!! Wuaaaaaah!!!” soraknya girang, membuat orang-orang disekitar memandangnya aneh.

“Aissh! Sudah kubilang tidak perlu berseru!!” seru Dongwook kesal.

“Jadi, kapan operasinya bisa diadakan?” Tanya Seunghyun.

“Aku akan membicarakannya dengan Park Bom-ssi terlebih dulu..” jawab Dongwook.

Seunghyun langsung berbalik, “Aku akan memberitaunya sendiri!” ucapnya sambil melangkah kembali ke kantor, namun kakinya berhenti melihat Bom melangkah keluar dari kantor bersama Teddy. Seperti ada sebilah pedang tertancap ke hatinya melihat gadis itu bergandengan tangan dengan pria itu.

“Jadi kau akan memberitaunya?” Tanya Dongwook di telepon.

Seunghyun masih terpaku dengan pemandangan didepannya.

“Seunghyun?” panggil Dongwook.

“Ani hyung..” jawab Seunghyun pelan, “Kau saja yang memberitaunya..”

“Hm? Wae? Tadi kau sangat bersemangat dan sekarang langsung lesu..” ucap Dongwook heran.

“Beritau saja padanya ada pendonor untuk Hayi, tidak perlu menyebut namaku..” ucap Seunghyun dan memutuskan telepon, lalu berbalik dan menghampiri mobilnya.

 

=Rumah Hyeyoung=

Hyeyoung masuk ke ruang keluarga dengan sepiring buah pepaya di tangannya. Ia meletakkanya di meja dan duduk disebelah putranya yang terlihat lesu. “Waeyo? Kau tidak senang bertemu eomma?”

Seunghyun menghela nafas dalam dan mengambil sepotong buah dan memakannya, “Ani, bukan seperti itu eomma..”

“Lalu, ada apa dengan wajahmu?” Tanya Hyeyoung.

Seunghyun memandang ibunya, “Eomma, tidak lama lagi aku akan menjalani operasi transplantasi..” ucapnya memberitau.

Hyeyoung tertegun, “Mwo?”

Seunghyun menyandarkan punggungnya ke sofa, “Aku akan memberikan sebagian paru-paruku pada seseorang..”

Hyeyoung menatap Seunghyun tak percaya, “Ya! Micheoseo?!! Kau tau bagaimana bahayanya itu?!”

Seunghyun memandang ibunya tanpa ekspresi, “Arayo eomma.. Tapi, aku melakukan ini untuk menebus kesalahanmu pada seseorang..”

“Mwo?! Kesalahan apa yang sudah kuberbuat hingga kau harus memberikan paru-parumu?!” Tanya Hyeyoung marah.

Seunghyun menatap ibunya sebal, lalu duduk tegap. “Kesalahanmu karena telah menyakiti gadis baik dan sempurna seperti Park Bom, eomma..”

Hyeyoung semakin marah mendengar ucapan Seunghyun, “Siapa?! Kau masih menyebut gadis itu?!!”

“Eomma!!” seru Seunghyun dengan mata memerah menahan air mata, “Dengar.. aku akan memberikan sebagian paru-paruku pada adik Bom, Park Hayi. Anak yang bahkan tidak pernah kau tatap karena membenci kakaknya.. Aku akan menyelamatkan hidupnya karena eomma telah membuat hidupnya menderita. Aku tidak peduli jika nantinya aku akan mati di meja operasi, ini caraku menebus semua kesalahanku..” ucapnya.

“Choi Seunghyun!” seru Hyeyoung.

Seunghyun menghela nafas dalam dan memeluk ibunya dengan mata terpejam, “Eomma, aku selalu menyayangimu. Kumohon berhentilah menyakiti Bom..” pintanya.

Hyeyoung tertegun mendengar ucapan Seunghyun.

Seunghyun melepaskan pelukannya dan memandang Hyeyoung, “Aku pergi eomma..” ucapnya, lalu bangkit dan berjalan pergi.

Selama perjalanan pulang, ia hanya diam memandang kedepan. Melihat Bom dan Teddy tadi membuatnya merasa di khianati, tapi ia juga menyadari kalau semua yang terjadi sekarang adalah kesalahannya. Teleponnya berbunyi, ia mengambil earphone dan menjawabnya. “Yoboseo..”

“Seunghyun, aku sudah memberitau Park Bom-ssi. Dia sudah menyetujui jadwal operasi lusa malam. Persiapkan dirimu..” ucap Dongwook.

Seunghyun menghela nafas dalam, “Ne, hyung..”

 

=Apartemen Seunghyun=

Seunghyun sudah bersiap berangkat ke rumah sakit saat ponselnya berbunyi, ia menghela nafas dalam melihat nama Bom muncul. “Ne..”

“Seunghyun-a, kenapa kau tidak masuk?” Tanya Bom diseberang.

“Mmm.. aku harus pergi keluar kota. Jadi aku akan cuti selama dua minggu..” jawab Seunghyun.

“Ne? wae?” Tanya Bom.

“Mmmm.. tidak apa-apa, hanya… eomma ingin aku pergi bersamanya..” jawab Seunghyun memberi alasan.

“Oh…” ucap Bom.

“Waekeure?” Tanya Seunghyun.

“Mmm.. Seunghyun-a, Hayi sudah mendapatkan donor. Dia akan menjalani operasi mala mini..” ucap Bom penuh haru.

Seunghyun tersenyum sedih, “Jeongmal? Aku senang sekali mendengarnya..”

“Mmm.. apa kau bisa menemui Hayi setelah kembali dari cuti? Dia pasti senang bertemu denganmu..” ucap Bom.

“Tentu saja.. Aku akan menemuinya..” ucap Seunghyun.

“Seunghyun-a, kenapa suaramu lesu sekali? Kau sakit?” Tanya Bom khawatir.

“Ani.. Aku hanya sedang merasa tidak sehat sedikit. Tapi tidak apa-apa..” jawab Seunghyun.

“Ohh.. begitu..” ucap Bom.

“Mmm.. Bommi..” panggil Seunghyun pelan.

“Ne..” jawab Bom.

Seunghyun menghela nafas dalam sejenak, “Maafkan aku..” ucapnya tulus.

“Wae?” Tanya Bom tak mengerti.

“Karena tidak menepati ucapanku..” jawab Seunghyun penuh sesal, “Seharusnya aku berjuang hingga aku tidak sanggup lagi berdiri. Tapi aku menyerah hanya karena hal sepele..”

Bom diam sejenak, “Seunghyun, semua itu masa lalu. Lupakan saja..”

“Ne, aku hanya ingin mengatakannya.” Ucap Seunghyun, “Keure, aku harus pergi..”

“Ohh.. ne, sampai jumpa..” ucap Bom dan memutuskan telepon.

Seunghyun memandang layar ponselnya, “Jika ternyata aku mati, kuharap Hayi selamat..” ucapnya pelan.

 

<<Back           Next>>

Advertisements

One thought on “Mr and Mrs Choi [Chapter 20]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s