Chapter · YG Family

Mr and Mrs Choi [Chapter 19]

19

—The Beautiful Devil—

Chaerin, Minji dan Dara sudah kehabisan ide untuk membuat Seungyoon berbicara. Pria itu lebih tangguh dari dugaan mereka.

“Ahh!! Aku bisa gila!” ucap Chaerin kesal.

“Aissh!! Sudah! Bunuh saja dia!” ucap Dara emosi.

Minji duduk disofa sambil memandangi Seungyoon yang masih terikat di kursi, pria itu terlihat kelelahan karena siksaan teman-temannya tapi masih tetap bersikukuh. Ia berusaha menemukan cara yang benar-benar akan berhasil. Sebuah ide muncul di kepalanya, lalu memandang dua temannya yang lain. “Eonni..” panggilnya setengah berbisik karena Seungyoon tidak mengenakan headphone lagi.

Dara dan Chaerin memandang Minji, lalu menghampirinya. “Waeyo?” bisik mereka.

Minji membisikkan sebuah ide dan memandang teman-temannya.

Chaerin dan Dara menatap Minji kaget, tidak percaya maknae mereka bisa memberikan ide seperti itu. lalu tersenyum evil dan menatap Seunghyun. “Ayo lakukan..” ucap Caherin.

………………………………………………………………………………………………………………….

Seungyoon merasakan sebuah tangan memegang bahunya, lalu bajunya ditarik dan terdengar suara gunting. “Ya.. apa yang kau lakukan?” tanyanya sambil berusaha berontak.

“Aissh! Diam saja!” ucap Dara sambil terus menggunting baju Seungyoon hingga tubuh six-pack pria itu terekspose. Setelah selesai, ia bangkit dan membuka penutup mata Seungyoon.

Seungyoon mengerutkan dahinya karena tiba-tiba melihat cahaya, lalu membukanya perlahan. Awalnya terlihat blur, namun setelah mengerjapkan matanya beberapa kali ia bisa melihat dengan jelas. Namun matanya langsung membesar melihat Chaerin berdiri dihadapannya dengan kedua tangan tersembunyi dibelakang tubuh, “K-kau?!”

Chaerin tersenyum, “Waeyo? Kau terkejut? Kupikir kau tau aku tidak mati..”

Dara berjalan ke sisi Chaerin, “Sudah, jangan beri pembukaan. Nanti tidak seru lagi..”

Chaerin mengangguk, “Ne, arasso..”

Seungyoon tersenyum sinis, “Jika kau berpikir aku akan membuka mulut, kau salah besar..”

Chaerin memandang Seungyoon sambil tersenyum manis, “Ne, aku tau..” ucapnya dan melangkah maju.

Seungyoon tertegun melihat Chaerin maju.

“Karena itu, aku menyiapkan ini..” ucap Chaerin sambil mengeluarkan sebuah toples dari balik punggungnya.

Seungyoon melotot melihat toples itu berisi seekor tarantula besar, “M-Mwo?!”

Chaerin membungkuk menyamakan tingginya dengan Seungyoon, “Kau tau kan tarantula sedikit nakal?”

Seungyoon berusaha terlihat tenang, meskipun wajahnya terlihat sangat panic.

Chaerin membuka toples, “Sebaiknya kau mengatakannya sekarang sebelum aku meletakkan tarantula ini di kulitmu..” ancamnya sambil tersenyum.

Seungyoon tampak terkejut, namun tetap berusaha menutupinya. “Jangan bodoh!! Aku tidak akan takut dengan seekor binatang kecil seperti itu!!” serunya.

Dara tersenyum lebar, “Siapa bilang hanya seekor?”

Seungyoon semakin terkejut dan menatap Dara tak percaya.

Dara memperlihatkan toples yang lebih besar bersisi belasan tarantula besar, “Kau bisa memiliki semuanya jika kau mau..” ucapnya manis.

Seungyoon menelan ludah.

Satu jam kemudian.

Seungyoon memejamkan matanya ngeri karena belasan tarantula menjalari tubuhnya, tapi dia masih menolak untuk berbicara.

“Aissh!!! Keras kepala sekali!!” seru Dara kesal.

Chaerin menghela nafas dalam, lalu berlutut di depan kaki Seungyoon dan langsung membuka ikat pinggang pria itu. “Eonni, masukkan kecelananya!!!”

Seungyoon melotot dan menatap Chaerin yang sudah memberi ruang agar Dara bisa memasukkan tarantula ke celana dalamnya.

Dara mengambil seekor tarantula dan hendak memasukkannya ke celah celana dalam Seungyoon.

“Andwae!!!! Aku akan berbicara!!!! Hajima!!!” teriak Seungyoon panic.

 

=Markas Bigbang=

Dahi Daesung berkerut memandang layar laptopnya, lalu memandang Jiyong yang sedang makan mi instan. “Hyung, aku menadapatkan kabar dari klien kita..”

“Ne? apakah dia bertanya kenapa kita belum menemukan kalung itu?” Tanya Jiyong sebal.

“Ani..” jawab Daesung dan memperlihatkan layar laptopnya, “Dia berkata seseorang mengirim kalung itu ke rumahnya..”

Jiyong terpaku mendengar ucapan Daesung, “Mwo?”

 

=Medical Hospital=

Tok! Tok! Tok!

Dongwook yang sedang membaca file pasien di ruangannya menoleh ke pintu, “Ne..”

Pintu terbuka, muncul Bom dan membungku sopan.

“Oh.. Park Bom-ssi..” ucap Dongwook, “Silahkan duduk..”

Bom mengangguk dan bergerak duduk, “Mmm.. Dokter, maaf aku pergi begitu saja tadi..” ucapnya menyesal.

Dongwook tersenyum, “Gwenchana, apa yang bisa kubantu?”

“Mmm.. bisakah aku melihat hasil pemeriksaan Hayi?” Tanya Bom.

“Keurom.. Ini..” Dongwook memberikan berkas hasil pemeriksaan Hayi pada Bom.

Bom membuka berkas itu dan membaca kertas disana, setelah beberapa saat dahinya berkerut.

Dongwook memperhatikan wajah Bom bingung, “Waeyo Park Bom-ssi?”

Bom memandang Dongwook, “Dokter Choi.. Sepertinya ada yang salah disini..” ucapnya.

“Ne? yang mana?” Tanya Dongwook.

Bom menunjuk satu zat yang terdaftar terkandung dalam darah Hayi, “Ini, seharusnya ini tidak mungkin ada di tubuh adikku..”

Dongwook tertegun dan menatap Bom tak percaya, orang awam biasanya tidak akan semudah itu mengatakan apa yang gadis itu katakan. “Park Bom-ssi…”

“Dokter, apa karena ini kau berkata seseorang sengaja membuat adikku mengidap kanker?” Tanya Bom tak percaya.

Dongwook benar-benar terbungkam, “Mmm.. ne..”

Bom benar-benar shock mengetahuinya, “Tapi bagaimana?! Bagaimana mungkin adikku terkena bakteri mematikan ini?!”

Sekali lagi Dongwook terbungkam dengan pengetahuan Bom tentang bakteri yang hanya di ketahui kemiliteran itu, “Park Bom-ssi, apa kau seorang agent?”

Bom terdiam mendengar pertanyaan Dongwook.

Dongwook tertawa kecil, “Maaf, aku hanya bercanda,..” ucapnya mencairkan suasana, “Biasanya hanya orang kemiliteran yang mengetahui tentang itu..”

Bom menghela nafas lega, “Ohh.. ne, aku tau dari temanku yang juga…..” ia tertegun memikirkan kelanjutan ucapannya.

“Kau tau? Hari ini aku membuat sampel sebuah zat aneh. Ini disebut bakteri monster dari Rusia. Perhitungannya sama seperti program computer, jadi aku bisa dengan mudah mempelajarinya.. ternyata sangat menyenangkan bekerja disini..”

Itu adalah ucapan Teddy 10 tahun lalu setelah Bom tinggal di Amerika. Saat itu Teddy adalah seorang kemiliteran Korea yang bekerja di Amerika di bagian IT.

Dongwook memandang Bom bingung, “Juga apa Park Bom-ssi?”

Bom memandang Dongwook, “Mmm.. maksudku, temanku dulunya dokter yang bertugas di kemiliteran saat membantu Palestina..” jawabnya memberi alasan.

Dongwook mengangguk, “Hmm.. begitu..”

“Ne, terima kasih dokter.. Aku akan pergi sekarang..” ucap Bom sambil bangkit dan membungkuk sopan, lalu langsung melangkah pergi. ia masih memikirkan semua kemungkinan yang bertuju pada Teddy. ‘Apakah Teddy oppa dalang semua ini? Tapi kenapa? Kenapa dia melakukan ini padaku?’ batinnya tak mengerti.

Seunghyun yang sudah menunggu Bom di depan ruang ICU Hayi menoleh ketika mendengar langkah kaki, spontan Ia berdiri begitu melihat gadis itu datang. “Bommi..”

Bom tertegun melihat Seunghyun, semua kecurigaannya semakin jelas. Sebelumnya Teddy pernah bertanya tentang hubungannya dengan pria itu. sepertinya semua yang terjadi tertuju padanya.

Seunghyun menghampiri Bom, “Bommi, kau dari mana? Aku menunggumu sejak tadi..” ucapnya khawatir.

“Ne? ohh.. tadi aku menemui Dokter Choi untuk minta maaf tentang kejadian sebelumnya..” ucap Bom.

“Hmm.. begitu..” ucap Seunghyun.

“Mmm.. Seunghyun, bisakah aku meminta bantuanmu?” Tanya Bom.

Seunghyun tertegun, tidak percaya Bom mengatakannya sendiri. Bibirnya langsung membentuk senyuman lebar, “Keurom, katakan saja..”

“Aku harus kembali ke rumah, ada sesuatu yang harus kuurus. Bisakah kau menjaga Hayi sebentar?” Tanya Bom.

Seunghyun mengangguk, “Tentu saja.. dengan senang hati..”

Bom tersenyum. Sebenarnya ia juga merasa bersalah karena jika benar Teddy yang menyerang pria itu kemarin, berarti ia adalah penyebabnya. “Gumawoyo..”

“Ne, pergilah.. kau memang harus beristirahat..” ucap Seunghyun.

Bom mengangguk, “Ne.. sampai nanti..” ucapnya dan berbalik pergi.

Seunghyun senang Bom mempercayakan Hayi padanya, lalu berbalik dan menghampiri jendela kaca besar untuk melihat mantan adik iparnya itu. Ia diam sejenak memperhatikan gadis itu tidak sadarkan diri, “Hayi-a, hyeong-bu akan melakukan apa pun untuk kesembuhanmu..” ucapnya bertekad, “Agar Bom kembali ceria seperti dulu, agar kau bisa tumbuh dengan baik..”

 

=Rumah Bom=

Bom, Dara dan Chaerin duduk di sofa menatap Seungyoon yang masih terikat di kursi, sementara Minji bersembunyi di kamar agar identitasnya tidak terbuka. Ia mendengarkan dari celah pintu yang terbuka sedikit. Juga berkomunikasi dengan yang lain dengan forum chating ke Dara.

“Jangan sampai aku menggunakan tarantula lagi, cepat katakan yang sebenarnya!!” seru Dara.

Seungyoon menghela nafas dalam, “Sudah kubilang, aku tidak tau! Aku hanya membantu Teddy hyung menyembunyikan Detektif Lee! Selebihnya aku tidak tau!!”

Bom menatap Seungyoon marah, “Lalu, kenapa kau membantunya membuat berita kematian Chaerin?!”

“Aku hanya di suruh, oke? Aku tidak tau!!” Tegas Seungyoon kesal.

“Tunggu!” ucap Bom dan menatap Seungyoon, “Apa kau juga yang hampir menculik adikku?!”

Seungyoon tertegun, “Mwo? Gadis itu adikmu?”

Bom menggenggam tangannya dan hampir menyerang Seungyoon jika Dara dan Chaerin tidak segera menahannya.

“Eonni!! Tenangkan dirimu dulu!! Kita masih membutuhkan informasi darinya!” ucap Chaerin menenangkan Bom.

Seungyoon sendiri tampak bingung, “Teddy hyung tidak mengatakan jika gadis itu adik dari seorang agent..” ucapnya.

“Oke, jika kau memang tidak tau alasannya. Kenapa kau membantu Teddy? Bagaimana kau mengenalnya?!” Tanya Chaerin.

“Cepat jawab sebelum Bom benar-benar membunuhmu!!” seru Dara karena Seungyoon tampak tidak ingin menjawab.

Seungyoon menghela nafas dalam, “Baiklah..” ucapnya sebal, “Aku bertemu Teddy hyung dua tahun lalu. Saat itu ibuku sakit keras dan aku tidak punya siapa pun untuk membantu. Jadi aku melakukan tindak criminal untuk membayar pengobatan ibuku. Suatu malam aku bertemu Teddy hyung dan hendak melakukan kejahatan padanya, tapi dia dengan tenang menawarkanku bantuan lain. Meskipun aku tidak percaya pada awalnya, tapi dia benar-benar memberikanku pekerjaan dan membantu pengobatan ibuku. Meskipun akhirnya ibuku meninggal, paling tidak aku sudah berjuang keras untuknya..”

“Jadi kau merasa berhutang budi? Karena itu kau membantunya?” Tanya Dara.

“Itu salah satunya..” jawab Seungyoon.

Dahi Bom berkerut mendengar cerita Seungyoon, “Apa dulu ibumu di rawat di Seoul Hospital?”

“Ne..” jawab Seungyoon.

Bom semakin yakin dengan tuduhannya pada Teddy, matanya memerah menahan air mata. “Apa penyakit ibumu?”

“Ibuku mengidap kanker otak..” jawab Seungyoon.

“Apakah setelah kau bertemu Teddy, penyakit ibumu semakin parah?” Tanya Bom.

Seungyoon memandang kebawah sedih, “Ne.. beberapa bulan kemudian ibuku meninggal..”

Dara dan Chaerin menatap Bom kaget karena gadis itu menangis.

“Kang Seungyoon-ssi..” ucap Bom dengan suara bergetar.

Seungyoon memandang Bom tak mengerti.

“Kudengar Oh Sekyung adalah kekasihmu..” ucap Bom.

“Ne.. kami berkencan beberapa tahun terakhir hingga dia memutuskan untuk menjadi model. Tapi akhirnya dia meninggal karena bunuh diri..” ucap Seungyoon sedih.

Air mata Bom semakin deras berjatuhan, “Kang Seungyoon-ssi, apa aku tau kau telah membantu pembunuh ibu dan kekasihmu?”

Seungyoon mengerutkan dahinya, “Apa maksudmu?”

Bom menghela nafas dalam sambil menyeka air matanya, lalu memandang Chaerin. “Chaerin, tunjukkan bukti pembunuhan Oh Sekyung padanya..”

Seungyoon terkejut mendengar ucapan Bom, “Apa maksudmu? Sekyung bunuh diri!”

Chaerin mengeluarkan ponselnya dan memutar rekaman hasil sadapan saat itu.

Mata Seungyoon membesar dan menatap ketiga gadis itu tak percaya, “Se-Sekyung? Itu suara Sekyung?”

“Ne..” jawab Chaerin.

“Jadi dia dibunuh?!” Tanya Seungyoon tak percaya.

“Ne, dan Teddy pelakunya!” jawab Bom.

Dara memandang Bom bingung, “Kenapa kau sudah yakin seperti ini?”

Bom memandang dua temannya, “Kalian tau? Aku menemukan sesuatu yang mengejutkan hari ini..” ucapnya.

“Mwo?” Tanya Dara.

Bulir air mata Bom kembali berjatuhan, “Hayi, seharusnya tidak mengidap kanker paru-paru..”

Dahi Chaeirn berkerut, “Ne? apa maksudmu eonni?”

Bom menceritakan apa yang ia dengar dari Dongwook. Juga tentang bakteri Rusia itu. membuat teman-temannya terkejut dan merangkulnya yang mulai menangis.

“Jadi.. Teddy hyung melakukan itu juga pada ibuku?” Tanya Seungyoon dengan mata memerah.

Bom memandang Seungyoon, “Ne..” jawabnya, “Dia memiliki banyak cara untuk itu..”

Seungyoon memandang kebawah tak percaya, matanya bergerak-gerak panic. “Tidak mungkin..” gumamnya tak percaya, bulir air matanya mulai berjatuhan mengetahui selama ini ia hanya di manfaatkan Teddy.

Ketiga gadis tadi malah merasa sedih melihat Seungyoon menangis memikirkan dua orang yang berarti bagi pria itu.

“OH.. eonni, berarti Teddy oppa memang sengaja membuatmu masuk sebagai agent..” ucap Chaerin menyimpulkan.

“Ne! agar dia bisa menggunakanmu..” ucap Dara.

“Dan dia merasa kau akan mempersulitnya sekarang, karena itu ia hendak meracunimu.. Juga menculik Hayi untuk menekanmu..” ucap Chaerin lagi.

Bom benar-benar tidak tau harus mengatakan apa untuk mengungkapkan perasaannya saat itu.

Dara merangkul Bom dan menenangkan temannya itu, “Jangan khawatir Bom, sekarang Hayi sudah keluar dari tangan Teddy oppa. Kami akan membantumu..”

“Aku bisa menyimpulkan sekarang, penjahat yang kita cari bukan Kim Jungmo, tapi Teddy oppa. Benarkan?” ucap Chaerin.

“Ne, karena itu kita tidak bisa menyelesaikan kasus ini hingga setahun. Karena Teddy oppa terus berusaha menutupinya..” ucap Bom membenarkan.

Chaerin memandang Seungyoon, lalu bangkit dan menghampiri pria itu. “Seungyoon-ssi..”

Seungyoon yang masih meratapi kematian ibu dan kekasihnya memandang Chaerin.

Chaerin menatap Seungyoon prihatin, “Aku tau bagaimana perasaanmu. Jika kau ingin menghentikan Teddy oppa, bantulah kami.. Kita bisa menghentikannya bersama..”

Seungyoon diam sejenak memikirkan ucapan Chaerin.

Chaerin memegang bahu Seungyoon, “Dengar, kami tidak akan membunuhmu..” ucapnya, lalu berjalan ke belakang tubuh pria itu dan melepaskan ikatan tangannya. “Kau bisa pergi dan memberitau Teddy oppa tentang kami, atau kau bisa disini dan membantu kami menghancurkannya..” ucapnya.

Seungyoon mengelus pergelangan tangannya yang terasa sedikit nyeri, lalu memandang Chaerin dan kedua temannya bergantian.

Bom dan Dara menunggu jawaban Seungyoon.

Seungyoon kembali menatap Chaerin, “Jika aku membantu kalian, apa kalian juga akan membantuku?”

“Tentu saja.. Aku tidak pernah mengingkari ucapanku sendiri..” jawab Chaerin yakin.

Seungyoon mengangguk dan bergerak bangkit, “Keure..” ucapnya, namun ia lupa kakinya masih terikat pada kursi. “Aaaa…”

BRUK!!!

Chaerin, Bom dan Dara terkejut melihat Seungyoon tersungkur ke lantai.

“Ya.. ikatan kakimu belum dibuka..” ucap Dara bingung.

“Ahh… appo..” rintih Seungyoon.

“Kau ini..” ucap Chaerin sambil menarik Seungyoon kembali duduk di kursi.

Seungyoon melepaskan ikatan kakinya sambil meringis sakit, “Aku akan membantu kalian. Aku akan mengikuti rencana kalian..” ucapnya.

Chaerin, Dara dan Bom tersenyum mendengar ucapan Seungyoon.

Minji mengeluarkan kepalanya dari celah pintu, “Permisi, eonni..” panggilnya.

Semuanya memandang Minji, “Waekeure?” Tanya Chaerin bingung.

“Apakah aku bisa keluar sekarang? Aku benar-benar harus ke kamar mandi..” ucap Minji menahan air kecil.

Yang lain menahan tawa, “Ne.. pergilah..” ucap Chaerin.

Minji langsung keluar dari kamar dan berlari kecil ke kamar mandi.

Seungyoon tertegun melihat Minji, “Oh! aku bertemu dengannya di rumah sakit!”

“Ne, dia disana untuk menemukan ‘jasad’ku..” ucap Chaerin menahan tawa.

 

 

<<Back           Next>>

Advertisements

One thought on “Mr and Mrs Choi [Chapter 19]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s