Chapter · YG Family

Mr and Mrs Choi [Chapter 18]

18

—New Suspect—

Chaerin dan Dara berdiri di depan pria yang masih terikat di kursi dengan mata tertutup.

“Ya.. Cepat katakan siapa yang menyuruhmu!” Seru Chaerin.

Pria itu tersenyum tanpa mengatakan apa pun.

“Aissh!!” seru Chaerin frustasi.

“Ya! Jika tidak mau mati cepat jawab!” seru Dara kesal.

“Kalau begitu, bunuh saja aku..” ucap pria itu masih sambil tersenyum.

Dara dan Chaerin menahan kemarahan mereka pada pria didepan mereka.

Tok! Tok! Tok!

Chaerin dan Dara menoleh ke pintu, lalu saling memandang.

“Aku akan membukanya..” ucap Chaerin, lalu memberi israyat pada Dara agar menangani pria tadi. Mereka berdua tau Minji yang datang, jadi mereka harus tetap menutupi keanggotaan gadis muda itu.

Dara mengangguk dan mengambil headphone dari tasnya, lalu mendekati pria tadi dengan senyuman evil di wajahnya. “Kau suka music rock?” tanyanya manis sambil memasangkan headphone tadi.

Senyuman pria itu memudar dan terlihat bingung.

Dara menyambungkan earphone ke ponselnya dan mulai mencari music, “Mmm.. well, aku punya Linkin Park, Gun and roses, mmm.. sebaiknya apa ya?” gumamnya sendiri, “Aha!” ia langsung menghidupkan sebuah lagu metal rock dengan volume full.

Pria itu terkejut dan menggeleng-gelengkan kepalanya untuk melepaskan headphone itu.

Dara tertawa puas, “Hahaha.. nikmati saja music itu! siapa yang mengajarimu melawan wanita?!” serunya, meskipun ia tau pria itu tidak akan mendengarnya. Ia meletakkan ponsel di meja dan memandang kebelakang.

“Eonni, sedang bersenang-senang?” Tanya Minji yang masih mengenakan seragam SMAnya.

Dara tersenyum, “Tidak juga..”

“Nah.. Minji, lakukan pekerjaanmu. Aku akan membuat makanan..” ucap Chaerin sambil melangkah ke dapur.

“Ne, eonni..” ucap Minji sambil melepaskan tasnya dan mengeluarkan i-pad dan melangkah mendekati pria itu, ia sempat tertegun sesaat karena merasa mengenalnya. Dahinya berkerut memperhatikan bagian wajah pria itu yang terlihat, “Eonni, kurasa pria ini yang kulihat di rumah sakit..”

Dara tertegun, “Ne? jinja?”

Minji mengangguk yakin, “Ne, aku menabraknya dan memandang wajahnya.. Tapi aku akan membuktikannya lagi..” Ia langsung membuka sebuah halaman di internet, lalu berjalan ke belakang tubuh pria itu. perlahan ia menarik ibu jari pria itu dan langsung menempelkannya ke kolom sidik jari di i-pad.

Pria itu mengepalkan tangannya erat dan berusaha melepaskan diri meskipun sudah tidak ada gunanya.

Dara memperhatikan Minji yang kembali melangkah ke arahnya sambil memperhatikan I-pad, “Apa yang kau lakukan?”

“Aku menggunakan program untuk mengenali data penduduk menggunakan sidik jarinya..” jawab Minji sambil tetap serius dengan i-padnya, “Aku dapat!” ucapnya dan memperlihatkan layar pada Dara.

Dara langsung membaca data itu, matanya membesar mengetahui siapa pria itu. “Kang Seungyoon?”

“Kan! Dia benar-benar pria yang kulihat eonni!” ucap Minji yakin sambil menunjuk photo pria itu.

“Ya!! Miss leader!! Kemari!!” panggil Dara.

Chaerin keluar dari dapur dan menghampiri teman-temannya, “Waeyo?”

“Eonni, pria ini adalah Kang Seungyoon!” ucap Minji sambil memperlihatkan layar i-padnya pada Chaerin.

Chaerin terkejut dan langsung membaca keseluruhan data disana.

“Dan dia yang kulihat di rumah sakit eonni..” ucap Minji memberitau.

“Dia juga masuk ke mobil Teddy oppa..” ucap Dara.

Chaerin memandang kedua temannya bergantian, lalu tersenyum evil. “Kita menangkap orang yang benar..” ucapnya.

Minji dan Dara ikut tersenyum evil.

“Miss Leader, haruskah aku menyiapkan alat penyiksa?” Tanya Dara dengan mata berbinar.

Chaerin tertawa evil, “Ayo kita siapkan!”

“Yaaaay! Aku ingin sekali mencobanya!!” ucap Minji bersemangat.

 

=Medical Hospital=

Bom dan Seunghyun duduk di depan Dongwook untuk mendengarkan keterangan tentang keadaan Hayi.

“Mmm.. Park Bom-ssi, kapan pertama kali pasien Park Hayi di diagnosis menderita kanker?” Tanya Dongwook ingin tau.

“Setelah kami pindah ke Amerika untuk pengobatan paru-parunya, tak lama dokter mendiagnosis kalau ternyata sudah tumbuh sel kanker di paru-parunya..” jawab Bom.

Seunghyun tertegun dan menatap Bom tak percaya, hal pertama yang terpikir di kepalanya adalah Teddy.

“Mmm.. begitu..” ucap Dongwook sambil mengangguk mengerti, “Mmm.. Tapi Bom-ssi, apa kau pernah merasa curiga atau tidak nyaman tentang pengobatan adikmu?”

Dahi Bom berkerut, “Ne?”

“Mmm.. maksudku, mungkin mereka melakukan pengobatan yang tidak kau ketahui?” Tanya Dongwook hati-hati.

“Mmm..” Bom mengingat sejenak, “Aniya, mereka selalu menjelaskan padaku apa yang akan mereka lakukan untuk mengobatan Hayi..”

Dongwook mengangguk mengerti, “Begitu..” ucapnya, ia agak bingung bagaimana mengatakan kebenaran tanpa membuka status agentnya dulu.

Bom bingung melihat Dongwook terlihat risau, “Waeyo, Dokter Choi?”

“Mmm.. sebenarnya Park Bom-ssi..” ucap Dongwook pelan. “Aku sudah membaca rekam medis adikmu sebelumnya, disana hanya tertulis adikmu menderita kelainan paru-paru. Yang bermasalah hanya proses penyaringan udara yang masuk, aku tidak bisa menemukan hubungan antara sel kanker yang tumbuh akibat itu..”

Bom tertegun, “Apa maksudmu, Dokter Choi?”

Dongwook tidak tau harus mengatakan apa lagi dan memandang Seunghyun meminta bantuan.

Seunghyun memandang Bom, “Dokter Choi bermaksud..” ucapnya, membuat gadis itu memandangnya. “..Sepertinya ada seseorang yang sengaja membuat sel kanker itu tumbuh di paru-paru adikmu..”

Mata Bom membesar, “Ne?!”

“Maaf, Park Bom-ssi. Aku tau kau terkejut, tapi semua ini pasti ada alasannya..” ucap Dongwook menenangkan Bom.

“Siapa yang melakukannya? Mengapa dia melakukan ini pada adikku?!” Tanya Bom tak percaya.

“Aku tidak tau tentang itu Park Bom-ssi, tapi kurasa yang melakukannya masih berada di sekitarmu.” Ucap Dongwook.

Seunghyun menatap Bom yang terlihat shock sedih sambil merangkul gadis itu, “Jangan khawatir, aku akan membantumu..”

Bom memandang Seunghyun, lalu kembali memandang Dongwook. “Bagaimana keadaannya sekarang?”

“Mmm.. kondisi paru-paru adikmu sudah terlanjur parah Park Bom-ssi, aku tidak bisa mengatakan apa pun kecuali memberikannya donor paru-paru..” jawab Dongwook.

Bom terdiam mendengar ucapan Dongwook, matanya tampak memerah mendengar semua itu.

“Bommi..” ucap Seunghyun menenangkan.

Bom langsung bergerak bangkit dan menatap Seunghyun marah, “Untuk apa second opinion?!! Hasilnya tetap sama!!!” serunya pada pria itu.

Seunghyun tertegun mendengar seruan Bom dan ikut bangkit, “Bommi, tapi kau sekarang tau mengapa adikmu bisa mengidap kanker!”

Bom mendorong Seunghyun, “Aku tidak peduli itu sekarang, Choi Seunghyun!!! Aku butuh penyelamat untuk adikku!!!” serunya dengan bulir air berjatuhan dari mata indahnya.

Seunghyun seperti bisa merasakan bagaimana perasaan Bom saat ini, “Bommi…”

“Terima kasih sudah membantu..” ucap Bom dingin, lalu melangkah pergi sambil menyeka air matanya.

“Bommi..” panggil Seunghyun, tapi gadis itu tetap berjalan pergi.

Dongwook memperhatikan Bom pergi dan memandang Seunghyun, dahinya berkerut melihat ekspresi pria itu. “Ya, dia kekasihmu?”

Seunghyun memandang Dongwook sebal, “Hyung, tidak lihat situasinya?” tanyanya, lalu melangkah mengejar Bom.

Dongwook tersenyum lucu.

Ruang ICU.

Bom hanya bisa berdiri di depan jendela kaca transparan memandangi Hayi yang terbaring lemah didalam sana. ‘Eomma.. appa.. apa yang harus kulakukan sekarang? Bagaimana jika aku tidak bisa menyelamatkannya?’ batinnya, bulir air matanya kembali berjatuhan mengingat kedua orangtuanya.

Seunghyun merasa bersalah tidak bisa melakukan apa pun, kakinya melangkah menghampiri Bom dan berdiri disisinya. “Bommi..”

Bom memalingkan wajahnya dan menyeka air di pipinya, “Kembalilan ke kantor.. Aku masih ingin disini..”

Seunghyun menghela nafas dalam, “Keure, aku akan kembali.” Ucapnya, “Tapi aku ingin kau lebih berhati-hati pada Park sajangnim..”

Bom tertegun dan memandang Seunghyun tak mengerti.

“Aku tidak bermaksud mengatakan dia memiliki niat buruk, tapi cobalah kau pikirkan lagi..” pinta Seunghyun, “Apa Park sajangnim memang tulus padamu, atau hanya ingin sesuatu darimu..”

Dahi Bom berkerut.

Seunghyun melangkah sekali, namun kembali memandang Bom, “Kuharap kau benar-benar memikirkannya demi Hayi..” ucapnya lagi dan benar-benar pergi.

Bom langsung memikirkan apa yang di katakan Seunghyun tidak salah. ‘Apa Teddy oppa ada hubungan dengan semua ini?’ batinnya curiga. Matanya kembali memandang Hayi didalam ruang ICU itu. ‘Jika benar, aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri..’ batinnya penuh kemarahan.

 

=Devisi IT=

Bom kembali ke kantor tak lama setelah Seunghyun pergi, namun begitu ia masuk ke ruangan pria itu belum ada disana.

“Eonni, sudah kembali?” sapa Jennie.

Bom tersenyum tipis dan bergerak duduk, matanya kembali melirik kearah tempat duduk Seunghyun yang masih kosong. ‘Kemana dia?’ batinnya.

“Oh ya, eonni.. Tau tidak? Kemarin ada kejadian aneh di kantor kita..” ucap Jennie memberitau.

Bom memandang Jennie, “Apa?”

“Itu, ada seseorang yang menembaki Seunghyun oppa saat akan memasuki lift. Tapi untung saja Seunghyun oppa tidak apa-apa..” cerita Jennie.

Bom terkejut, “Jadi karena itu lift yang satu tidak di operasikan?” Tanyanya tak percaya.

“Ne, eonni. Aku jadi takut jika pergi seorang diri kantor. Bagaimana jika terjadi lagi?” Tanya Jennie khawatir.

“Apakah pelakunya tertangkap?” Tanya Bom.

Jennie menggeleng, “Anehnya lagi, bahkan tidak ada reporter yang datang untuk meliputnya eonni..”

Dahi Bom berkerut, ‘Siapa yang menyerang Seunghyun?’ batinnya tak mengerti.

“Hei semua..” sapa Mino sambil melangkah masuk.

“Hei oppa..” sapa Jennie.

“Fuuuh… sekarang lift yang satunya sedang di perbaiki, pasti akan memakan waktu lama..” ucap Mino sembari duduk di tempatnya. “Hyung.. baru tiba?” tanyanya pada Seunghyun yang melangkah masuk.

Bom memandang kebelakang, Seunghyun terlihat melangkah ke tempat duduknya.

“Oppa, dari mana saja?” Tanya Jennie.

“Hmm.. polisi ingin meminta keteranganku tentang penyerangan kemarin..” jawab Seunghyun dan duduk.

Bom memandang Seunghyun dan memandang kebawah menyesal. Kemarin pria itu mendapat penyerangan, tapi tetap datang kerumah sakit untuk membantunya membawa Hayi ke rumah sakit yang baru.

Beberpa jam kemudian.

Seunghyun melirik kolom obrolan di layar komputernya, lalu memandang Bom yang terlihat serius dengan pekerjaan.

Park Bom :Kenapa kau datang ke rumah sakit kemarin dan bersikap seperti tidak terjadi apa pun?

Bom memandang kolom obrolan yang muncul dan membacanya.

Choi Seunghyun :Gwenchana, aku tidak apa-apa..

Seunghyun kembali mendapatkan balasan.

Park Bom : Gumopta.. Maaf tadi aku berseru padamu..

Seunghyun tersenyum dan memandang Bom, gadis itu memandangnya sekilas dan kembali bekerja.

 

<<Back           Next>>

Advertisements

One thought on “Mr and Mrs Choi [Chapter 18]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s