Chapter · YG Family

Mr and Mrs Choi [Chapter 16]

16

—What If..—

Seunghyun sudah dalam perjalanan menuju apartemennya menggunakan taxi. Pikirannya masih berkutat tentang kejadian tadi. ‘Kenapa Park Sajangnim keluar disaat aku diserang?’ batinnya. Suara ponsel membuat lamunannya buyar, ia langsung mengeluarkan ponsel dari balik jas dan melihat siapa yang memanggil. Hanya nomor dan ia tidak tau siapa itu, ia menjawabnya dan menempelkannya ke telinga. “Yoboseyo..”

“Choi Seunghyun, ini Park Bom..” ucap Bom diseberang.

Seunghyun tertegun, “Oh.. Bommi, waeyo?” tanyanya penasaran.

“Tentang second opinion yang kau katakan..” ucap Bom, membuat Seunghyun menunggu dengan wajah ingin tau. “Aku sudah memikirkannya dan kupikir Hayi memang membutuhkannya..”

Mata Seunghyun membesar dan langsung tersenyum lebar, “Keure! Aku ke rumah sakit sekarang!” ucapnya, lalu telepon terputus. Ia sangat senang Bom menyetujuinya, lalu memandang supir taxi. “Ahjussi, tolong ke rumah sakit Seoul saja..” ucapnya.

“Ne..” jawab supir taxi dan memutar stir mobil.

Seunghyun mencari nomor Dongwook dan menghubungi pria itu.

“Ne, Seunghyun..” jawab Dongwook.

“Hyung, tentang pasien yang kubicarakan waktu itu. walinya setuju untuk menggunakan second opinion, bisakah kau mempersiapkan disana? Aku akan segera ke tempatmu.” Ucap Seunghyun bersemangat.

“keure, aku akan mempersiapkannya..” jawab Dongwook.

“Gumawoyo, hyung..” ucap Seunghyun dan memutuskan telepon.

 

=Rumah sakit=

Setelah berbicara dengan Bom, Seunghyun menghampiri meja informasi untuk mengurus pemindahan Hayi ke rumah sakit tempat Dongwook mengabdi. “Permisi, aku ingin mengurus rujukan pasien ke rumah sakit lain..”

Gadis di sana tersenyum, “Tentu tuan, siapa nama pasiennya?”

“Park Hayi. Dia pasien kanker paru-paru..” jawab Seunghyun.

Gadis itu tertegun dan memandang Seunghyun, “Waeyo tuan? Kenapa anda ingin memindahkan pasien?”

“Ani.. aku mengenal seorang dokter disana. Jadi kupikir akan lebih baik dia dirawat olehnya..” jawab Seunghyun.

Gadis itu tersenyum, “Tuan, anda sudah datang ke tempat yang tepat, kenapa anda harus ke rumah sakit lain?”

“Aku hanya ingin melakukannya.. Bisakah kau langsung melakukannya nona?” Tanya Seunghyun sopan.

“Tuan, pasien kanker sebaiknya di rawat oleh dokter yang sama. Dengan begitu proses penyembuhannya akan lebih baik..” jelas gadis itu.

Seunghyun mulai merasa muak dengan penjelasan gadis itu, “Nona, tolong buat saja suratnya..” ucapnya tegas.

“Tapi tuan…”

“Atau kau ingin aku masuk ke sana dan membuatnya sendiri..” potong Seunghyun dingin.

Gadis itu tertegun, “Oh.. n-ne..” ucapnya dan mulai menyiapkan surat yang di minta Seunghyun.

Seunghyun curiga dengan situasi ini, ‘Kenapa aku merasa ada sesuatu yang janggal?’ batinnya tak mengerti.

Setelah itu.

Bom menoleh ketika mendengar suara langkah kaki mendekat dan melihat Seunghyun dengan wajah tak tenang, “Waeyo?”

Seunghyun memandang Bom dan menarik gadis itu mendekat ke pintu ruang ICU Hayi, “Bommi, aku merasa ada Sesuatu yang aneh disini. Ayo kita langsung pergi saja..”

“Aneh bagaimana?” Tanya Bom bingung.

“Aku akan menjelaskannya nanti, ayo..” ajak Seunghyun.

 

=Perjalanan Menuju Rumah Sakit Lain=

Bom berada di ambulance bersama Hayi. Sementara Seunghyun membawa mobil Bom bersama perawat Jung.

Perawat Jung memandang Seunghyun yang serius pada jalanan agar tidak ketinggalan ambulance yang membawa Hayi, “Chio Seunghyun-ssi, Bom-ssi berkata kau adalah mantan suaminya. Benarkah?”

Seunghyun tertegun dan memandang perawat Jung sekilas, “Mmm.. Ne..” jawabnya canggung.

Perawat Jung tersenyum dan kembali memandang jalanan, “Jika aku melihat sekarang, sepertinya kau menyesal telah bercerai dengannya..”

“Mmm.. ne..” jawabnya pelan.

“Aku hanya ingin mengingatkanmu, anak muda..” ucap perawat Jung sambil kembali memandang Seunghyun. “Seorang wanita yang telah terluka, tidak lagi sama dengan gadis yang temui sebelum ia terluka.. Araso?”

Seunghyun tertegun dan memandang perawat Jung sebentar, lalu kembali memandang jalanan. “Ne, perawat Jung. Anda benar..” ucapnya berat.

Perawat Jung tersenyum, “Ini sama saja seperti kau telah menjatuhkan pajangan kristalmu dan pecah di beberapa sisi, lalu kau menempelnya lagi. Setelah itu kau harus lebih berhati-hati agar tidak pecah lagi.”

Seunghyun diam sejenak, “Perawat Jung, apa menurutmu Bom masih mencintaiku?” tanyanya ragu.

“Kau tau? Rasa cinta dan benci itu hanya di batasi selembar kertas..” ucap perawat Jung lucu.

“Aku tidak mengerti maksudmu, perawat Jung..” jawab Seunghyun jujur.

“Choi Seunghyun-ssi, jika Bom-ssi tidak mencintaimu. Kenapa dia masih merasa terluka saat melihatmu?” Tanya Perawat Jung.

Seunghyun tertegun, perlahan bibirnya membentuk senyuman lebar. “Benar juga.. Hahahaha..”

“Lihat, ambulance itu sudah jauh..” ucap perawat Jung.

Seunghyun langsung memacu mobil mengejar ambulance tadi dengan senyuman lebar diwajahnya.

Perawat Jung hanya geleng-geleng kepala melihat ekspresi Seunghyun.

Setibanya di Medical Hospital.

Seunghyun membawa Bom menemui Dongwook.

“Oh, Seunghyun-a.. Kalian sudah tiba?” sapa Dongwook.

Seunghyun membungkuk sopan, “Ne, hyung.. perkenalkan, ini Park Bom.. wali dari pasien yang datang itu..” ucapnya memperkenalkan Bom.

Dongwook tersenyum pada Bom, “Annyeonghaseo, Park Bom-ssi..”

Bom membungkuk sopan, “Annyeonghaseo..”

“Bommi, ini Dokter Choi Dongwook. Aku sudah lama mengenalnya dan aku percaya dia akan merawat Hayi dengan baik..” ucap Seunghyun memberitau.

Bom tersenyum, “Mohon bantuan anda Dokter Choi..” ucapnya.

“Ne, sebelumnya aku sudah meminta perawat untuk mengambil sampel darah adikmu. Mungkin sekarang mereka sedang memeriksanya. Aku akan memeriksa kondisi sel kankernya sekarang, tenangkan saja dirimu.” Ucap Dongwook.

“Ne, dokter Choi..” ucap Bom.

“Seunghyun, aku pergi..” ucap Dongwook dan berjalan pergi.

Seunghyun memperhatikan Dongwook pergi sejenak, lalu memandang Bom yang terlihat risau. “Mmm.. mungkin ini akan memakan waktu lama. Apa kau sudah makan?”

Bom memandang Seunghyun, “Sepertinya belum..” jawabnya.

Seunghyun tersenyum, “Ayo ajak perawat Jung makan..” ucapnya.

Bom tersenyum tipis dan mengangguk pelan.

 

=Markas Bigbang=

“Mwo?! Seseorang nyaris membunuhmu?” Tanya Jiyong.

“Ne.. aku hampir terkena rentetan peluru di kantorku..” jawab Seunghyun.

“Kau tau siapa yang melakukannya hyung? Atau orang yang kau curigai?” Tanya Daesung.

Seunghyun mengerutkan dahi untuk berpikir, “Mmm.. Ada seseorang…”

Semuanya menatap Seunghyun penasaran, “Nugu?”

“Aku belum yakin, tapi sepertinya seseorang bernama Teddy Park. Bosku sendiri..” jawab Seunghyun.

“Ne? bagaimana mungkin?” Tanya Seungri tak percaya.

“Teddy Park? Pria yang tinggal serumah dengan mantan istrimu itu?” Tanya Daesung dengan wajah polosnya.

Seunghyun langsung menatap Daesung kaget.

“MWO?!!” seru anggota Bigbang kaget.

Daesung langsung sadar ia tidak boleh memberitau yang lainnya tentang itu, “Omo.. seharusnya aku tidak mengatakannya..” ucapnya menyesal.

Seunghyun hanya bisa menatap Daesung kesal sekarang.

Setelah itu.

Seunghyun mengendarai mobilnya kembali ke rumah sakit Medical setelah bertemu dengan teman-temannya sambil memikirkan hasil pembicaraannya dengan mereka setelah menjelaskan tentang status duda yang ia sandang.

“Mendengar penjelasanmu tadi, hyung.. Sepertinya ini ada hubungannya dengan mantan istrimu. bisa jadi dia mengincar gadis itu tapi dia merasa kau menghalanginya, karena itu ia ingin melenyapkanmu..”

“Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh Bom..” gumamnya penuh tekad, lalu menginjak gas lebih dalam.

 

=Ruang ICU=

Seunghyun melangkah menuju ruang ICU Hayi sambil mengelus pundaknya, langkah kakinya terhenti melihat Bom duduk bersandar di kursi tunggu di depan kamar ICU Hayi dengan mata terpejam. Tidak ada yang bisa menginap di ruang ICU selain pasien, karena itu Bom menunggu disana hingga tertidur. Ia menghela nafas dalam dan menghampiri gadis itu, lalu melepaskan jaketnya dan duduk disebelah gadis itu tanpa menimbulkan suara. Perlahan juga ia menyelimuti gadis itu.

Bom benar-benar merasa lelah lahir dan batin. Kepalanya berat ke satu sisi dan bertumpu ke bahu Seunghyun.

Seunghyun tertegun dan memandang wajah Bom, gadis itu masih tertidur. Bibirnya membentuk senyuman dan menaikkan jaketnya yang melorot dari tubuh gadis itu. “Tidurlah..” ucapnya pelan.

“Hmmm…” gumam Bom dan terbangun.

Seunghyun tertegun dan langsung menyandarkan punggungnya sambil memejamkan mata agar terlihat tertidur juga.

Bom mengangkat kepalanya dan memandang sekitar hingga menyadari ada Seunghyun di sebelahnya, juga jaket pria itu menyelimuti tubuhnya. “Seunghyun-a..” panggilnya sambil mengguncang tubuh pria itu.

Seunghyun mengerutkan dahi dan membuka matanya perlahan, “Hm? Waekeure?” tanyanya pura-pura mengantuk.

“Kenapa kau disini?” Tanya Bom bingung sambil memberikan jaket Seunghyun lagi.

“Mmm.. kau ada disini, tentu saja aku akan menemanimu..” jawab Seunghyun.

Bom menarik tangan Seunghyun yang mengenakan jam tangan dan melihatnya, “Sudah pukul 2 pagi.. Pulanglah..”

Seunghyun mengerutkan dahinya menatap Bom, “Lalu bagaimana denganmu?”

“Aku akan bermalam disini..” jawab Bom.

“Disini?” Tanya Seunghyun sambil menunjuk kebawah, bermaksud menunjuk ruangan itu.

“Ne..” jawab Bom.

Seunghyun memutar bola matanya kesal, lalu kembali memandang Bom. “Apartemenku tidak jauh dari sini, istirahatlah di aparemenku. Besok pagi aku akan mengantarkanmu kemari lagi..”

Bom menggeleng, “Aniya, aku akan disini..” ucapnya.

Seunghyun menatap kedua mata Bom, “Bom, aku tau kau mengkhawatirkan Hayi. Tapi kau juga harus memperhatikan kesehatanmu. Jika kau sakit, Hayi akan merasa bersalah. Apa kau ingin dia merasa seperti itu?”

Bom diam sejenak mendengar ucapan Seunghyun.

“Sudahlah.. Jangan berpikir lagi. malam semakin larut. Khaja.. Apartemenku hanya 5 menit dari sini..” ucap Seunghyun sambil menarik Bom bangkit dan berjalan pergi. Diam-diam bibirnya membentuk senyuman karena berhasil membawa gadis itu bersamanya.

 

=Apartemen Seunghyun=

Seunghyun membuka pintu dan membiarkan Bom masuk terlebih dulu.

Bom melangkah masuk sambil memperhatikan apartemen Seunghyun, “Hmm.. rapi.” Komentarnya.

Seunghyun membuka jaketnya di sebelah Bom, “Ne, seseorang selalu mengomeliku jika rumah berantakan..” ucapnya sambil melirik Bom.

Bom tertegun dan tersenyum malu.

Seunghyun tersenyum dan melangkah menuju kamarnya, “Kau bisa tidur dikamarku..” ucapnya.

Bom memandang Seunghyun kaget, “Ne?”

Seunghyun membuka pintu kamarnya dan memandang Bom, lalu memberi isyarat dengan gerakan kepala agar gadis itu masuk ke kamarnya. “Masuklah.. aku akan tidur di sofa..”

“Oh.. Aniya, aku saja yang tidur disofa..” ucap Bom cepat.

Seunghyun menghela nafas dalam, “Bommi, tolong jangan berdebat. Aku lelah, kau juga. Jadi masuk saja ke kamar dan istirahat. Kita bisa berdebat besok pagi..” ucapnya, lalu masuk ke kamar untuk mengambil selimut dan bantal extra.

Bom garuk-garuk kepala bingung, lalu melangkah ke kamar Seunghyun.

“Tidurlah.. Jika kau merasa tidak nyaman, kau bisa mengunci pintu..” ucap Seunghyun sambil tersenyum, lalu melangkah keluar.

“Seunghyun..” panggil Bom sebelum Seunghyun keluar dari pintu.

Seunghyun berhenti dan memandang Bom, “Ne?”

“Mmm.. gumopta..” ucap Bom canggung.

Seunghyun tersenyum, “Ne..” jawabnya dan menutup pintu.

Bom tersenyum tipis, lalu melepaskan baju luarnya dan naik ke tempat tidur. Memang terasa lebih nyaman berbaring disana. Apalagi dengan selimut hangat itu. matanya terpejam dan berbalik ke sisi tempat tidur. Tidak sengaja tangannya membentur sesuatu yang keras di bawah bantal, dahinya berkerut dan menarik benda itu keluar. Lalu membuka mata dan melihat benda itu. ia langsung terpaku melihat itu adalah bingkai photo berukuran sedang berisi photo pernikahannya dan Seunghyun dulu. Ia sampai tidak tau harus berkata apa menemukan itu. ‘Kau masih menyimpan photo ini Seunghyun?’ batinnya tak percaya.

 

<<Back           Next>>

Advertisements

2 thoughts on “Mr and Mrs Choi [Chapter 16]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s