Chapter · YG Family

Mr and Mrs Choi [Chapter 15]

15

—Sudden Attact—

“Ne, aku mengerti eonni..” ucap Chaerin.

Bom menghela nafas dalam dan memandang pantulan wajahnya di cermin. Ia berada di toilet sambil berbicara pada Chaerin yang masih bersembunyi di rumahnya.

“Kami akan menyelediki mereka. Kau fokuskan saja dirimu pada adikmu..” ucap Chaerin menenangkan.

“Hmm.. gumopta..” ucap Bom.

“Ne..” ucap Chaerin, “Keure, sampai nanti eonni..” ucapnya.

“Ne..” ucap Bom dan memutuskan telepon. Ia keluar dari toilet dan kembali ke ruang perawatan adiknya.

Perawat Jung yang sudah bersiap pulang tersenyum melihat Bom kembali.

“Maaf, perawat Jung. Kau bisa pulang sekarang..” ucap Bom sambil tersenyum.

“Ne, Bom-ssi..” ucap perawat Jung sambil menyandang tasnya, “Hayi baru tertidur, mungkin dia akan terbangun karena tiba-tiba batuk. Tapi tidak apa-apa, kau bisa memberikannya air putih saja..” ucapnya.

Bom mengangguk, “Ne, perawat Jung..”

“Mmm… Bom-ssi, apa pria yang datang tadi suamimu? Aku tidak tau kau sudah menikah..” ucap Perawat Jung bingung.

Bom tertegun, “Ne? ohh.. aniya, dia mantan suamiku..” jawabnya canggung.

Perawat Jung tampak terkejut, “Mantan suami? Tapi dia terlihat benar-benar mengkhawatirkan Hayi..”

Bom tersenyum, “Ne, dia memang sejak dulu seperti itu..”

Perawat Jung tersenyum, “Pantas saja, Hayi terlihat ceria ketika bertemu pria itu.”

Bom tertegun, “Ne?”

“Keure, aku akan kembali besok pagi..” ucap perawat Jung sambil membungkuk sopan dan berjalan keluar.

Bom membungkuk sopan, namun pikirannya langsung tertuju pada Seunghyun. Ia memandang adiknya yang tidur dengan tempat tidur bagian atas terangkat 45 derajat agar adiknya bisa bernafas. Perlahan ia melangkah mendekati tempat tidur dan duduk di kursi di sebelahnya. Bibirnya membentuk senyuman melihat adiknya bisa tidur tenang tanpa terganggu rasa sakit seperti tadi. Tangannya terulur dan memegang tangan adiknya, “Hayi-a, kau senang bertemu Seunghyun?” tanyanya pelan, hingga adiknya tidak akan terganggu.

 

=Apartemen Seunghyun=

Seunghyun berbaring di tempat tidur sambil memikirkan keadaan Hayi. Bom terlihat sangat sedih dan itu membuatnya jauh berkali lipat sedih. Sebuah ide muncul di kepalanya. Ia segera mengambil ponsel dan menghubungi seseorang.

“Yoboseo..” sapa seorang pria di seberang.

“Hyung, ini aku.. Choi Seunghyun..” ucap Seunghyun.

“Oh.. Seunghyun-a, waekeure?” Tanya pria itu.

“Apa kau ada waktu? Aku ingin bertemu denganmu..” ucap Seunghyun.

“Hmm.. keure.. datanglah besok ke tempatku..” ucap pria itu lagi.

Seunghyun tersenyum, “Gamshamida hyung..” ucapnya dan memutuskan telepon.

 

=Keesokan Harinya=

Karena hari ini Minggu, Seunghyun bisa mendapatkan waktu senggangnya. Ia datang ke sebuah rumah sakit besar lainnya di Seoul untuk menemui seniornya dulu saat ia menjalani pelatihan untuk menjadi agent. Choi Dongwook. Seorang dokter penyakit dalam yang sangat mahir menggunakan senjata dan pembuat strategi yang baik.

Tok! Tok! Tok!

Dongwook memandang ke pintu, “Ne..”

Pintu terbuka, muncul Seunghyun dengan senyuman manisnya. “Hyung~~” ucapnya manis, ia tampak membawa minuman untuk pria itu.

Dongwook tersenyum, “Masuklah..”

Seunghyun masuk dan kembali menutup pintu, lalu berjalan menghampiri Dongwook. “Ini..” ia meletakkan dua minuman ke meja dan duduk dihadapan pria.

“Sudah lama sekali kau tidak menghubungiku. Apa kau tidak ingat lagi siapa aku karena aku sudah pensiun?” canda Dongwook.

Seunghyun tertawa kecil, “Aniya, hyung.. Kau tetap senior favoritku. Kau juga pensiun cepat sekali..”

Dongwook tertawa kecil, “Jadi, apa yang membawamu kemari?” tanyanya.

Seunghyun menjilat bibir bawahnya, “Mmm.. sebenarnya ini sedikit serius, hyung..”

Dongwook tampak tertarik, “Oke, katakan padaku..”

Seunghyun menghela nafas dalam, “Adik seseorang yang kukenal mengidap kanker paru-paru. Bisakah kau memeriksanya?”

“Stadium berapa?” Tanya Dongwook.

“mmm.. aku tidak begitu tau, tapi dia sering mengalami pendarahan di paru-paru dan batuk darah. Dara satu-satunya hanya dengan pencangkokan paru-paru. Tapi aku ingin mendengar second opinion. Apakah kau keberatan hyung?” Tanya Seunghyun.

Dongwook mengangguk, “Hmm.. berapa usianya?”

“Usianya?” Seunghyun berpikir sejenak, “Saat itu dia berusia 6 tahun… mmm.. berarti…” gumamnya, “Ah.. 16 tahun..” ucapnya yakin.

“Keure, kau bisa membawanya kemari. Apa perlu aku mengirimkan ambulance sekarang?” Tanya Dongwook.

Seunghyun tersenyum lebar, “Aniya, hyung.. aku akan membicarakannya dulu dengan walinya.”

Dongwook tersenyum dan mengangguk, “Ne.. Tinggal hubungi saja aku..” ucapnya.

 

=Kamar Perawatan Hayi=

Bom duduk disebelah Hayi yang terbaring lemah ditempat tidur. Adiknya sampai harus menerima transfuse darah. Lingkar di bawah mata adiknya tampak menghitam, bahkan untuk menggerakkan kepala saja adiknya tidak memiliki tenaga. Ia sama sekali tidak menangis ataupun menunjukkan wajah cemasnya karena Hayi terjaga dan sejak tadi memandangnya lemah. Ia terus tersenyum hangat pada adiknya. “Gwenchana, kau akan segera kembali membaik..”

Hayi tidak memberi respon apa pun. Hanya matanya yang berkedip membenarkan ucapan Bom.

Bom menoleh ketika mendengar pintu terbuka dan langsung tertegun melihat Seunghyun masuk.

Seunghyun tersenyum, “Annyeong, Hayi-a..” sapanya dan menghampiri tempat tidur.

Bom menatap Seunghyun bingung, “Kenapa kau kemari?”

“Aku ingin tau keadaan Hayi..” ucap Seunghyun dan kembali memandang Hayi, “Sudah merasa lebih baik?”

Bom memandang Hayi, ia sempat tertegun melihat tatapan adiknya terlihat lebih ceria begitu Seunghyun tiba. Ia menghela nafas dalam dan melirik pria disebelahnya yang terus berbicara pada adiknya meskipun tidak mendapat jawaban.

Seunghyun memandang Bom, “Mmm.. Bommi, sebenarnya ada yang ingin kubicarakan..”

“Mwo?” Tanya Bom.

Seunghyun bingung bagaimana menjelaskan maksudnya, ia takut Bom akan marah atau bahkan menendangnya keluar dari sana. “Mmm.. apa kau tidak berpikir untuk memeriksakan Hayi ke dokter lain..”

Bom mengerutkan dahinya, “Wae?”

“Mmm.. maksudku.. Kita boleh mencari Second opinion kan?” ucap Seunghyun gugup.

“Maksudmu dokter yang memeriksa Hayi sekarang tidak bagus?” Tanya Bom dengan nada terganggu.

“A-ani.. maksudku.. Mungkin saja dokter lain mempunyai metode yang berbeda untuk menyembuhkan Hayi. Kan ilmu kedokteran dimana-mana itu berbeda..” jawab Seunghyun memberi alasan.

“Choi Seunghyun, ini bukan urusanmu.. Jadi kurasa, kau tidak perlu memikirkannya..” ucap Bom.

“Ne, mungkin ini memang bukan urusanku. Tapi aku peduli pada Hayi.. Aku ingin dia mendapatkan pengobatan yang lebih baik..” ucap Seunghyun.

Bom menatap Seunghyun kesal, “Maksudmu, aku tidak memberikan pengobatan yang baik untuknya?”

Seunghyun terkejut Bom malah salah mengerti maksudnya, “Ani.. bukan begitu..”

“Jika kau tidak bisa berhenti mencampuri urusanku, kau bisa pergi..” ucap Bom tegas, lalu memalingkan wajahnya.

Seunghyun mengelus dahinya frustasi, “Bukan seperti itu maksudku, Park Bom.” Ucapnya sebal dan memandang gadis di sebelahnya. “Jika disini Hayi harus menunggu siapa yang akan memberikan donor paru-paru untuknya, mungkin disana sudah ada orang yang bersedia mendonorkan paru-parunya untuk Hayi..”

“Choi Seunghyun, tolong hentikan..” ucap Bom pelan.

Seunghyun menghela nafas dalam, “Keure..” ucapnya pelan.

Hening…

“Mmm.. aku hanya ingin memberitau..” ucap Seunghyun memecahkan keheningan. “Kuharap kau tidak berkeliaran di sekitar rumah sakit nanti sore, aku akan membawa ibuku pulang. Aku khawatir jika dia melihatmu lagi..”

Bom memandang Seunghyun, “Ne..”

Seunghyun menatap kedua mata Bom dan memegang tangan gadis itu, “Bommi, aku hanya ingin yang terbaik untuk Hayi. Tolong pikirkan tentang second opinion itu..” pintanya pelan.

Bom diam sejenak memikirkannya.

“Bommi..” pinta Seunghyun lagi.

Akhirnya Bom mengangguk pelan, “Aku akan memikirkannya..” ucapnya pelan.

Seunghyun tersenyum, “Terima kasih..”

 

=Keesokan Harinya=

Kondisi Hayi semakin buruk. Pagi ini gadis itu tidak tersadar sama sekali dan kembali dalam keadaan koma. Bom memilih ijin hari ini karena tidak bisa berkonsentrasi pada hal lain selain kondisi Hayi. Untuk kedua kalinya Hayi kembali ke ruang ICU.

Perawat Jung menghampiri Bom yang terlihat kalut dan duduk disebelah gadis itu sambil menyodorkan segelas minuman segar.

Bom memandang perawat Jung dan tersenyum, lalu mengambil minuman tadi. “Gamshamida.” Ucapnya pelan.

Perawat Jung menghela nafas dalam dan meminum minumannya.

Bom memandangi minuman itu, ia sama sekali tak merasa haus ataupun lapar saat itu. keadaan hening beberapa saat hingga ia memutuskan untuk berbicara, “Perawat Jung..”

“Ne..” jawab perawat Jung.

Bom menghela nafas dalam dan memandang perawat Jung, “Aku dan Hayi sudah tidak memiliki orang tua, apakah aku boleh meminta saranmu sebagai orangtua?”

Perawat Jung tersenyum dan mengangguk, “Dengan senang hati..”

“Mmm.. Seunghyun memberiku usul tentang second opinion dari dokter lain, bagaimana menurutmu?” Tanya Bom.

Perawat Jung berpikir sejenak, “Mmm.. Kurasa itu tidak ada salahnya. Karena setiap dokter memiliki cara yang berbeda dalam mengobati pasiennya..” ucapnya.

Bom memikirkan ucapan perawat Jung sejenak, lalu mengangguk mengerti. “Hmm.. begitu..”

“Mmm.. saranku, mungkin sebaiknya kau melakukan itu..” ucap perawat Jung.

Bom tersenyum tipis, “Ne, baiklah..”

 

=Kantor=

Jennie dan Mino bekerja seperti biasa, sementara Seunghyun hanya membolak-balik folder di layar komputernya. Ia tidak bisa tenang karena Bom tidak ada disana.

Teddy keluar dari ruangannya dan memandang Seunghyun, “Seunghyun-ssi..”

Seunghyun memandang Teddy, “ne..”

“Kemari..” panggil Teddy dan kembali masuk keruangannya.

Seunghyun bingung kenapa ia di panggil sepert itu. lalu memandang dua temannya bingung.

“Sudah oppa, temui saja dulu..” ucap Jennie.

Seunghyun bangkit dan melangkah ke ruangan Teddy. Ia mengetuk pelan dan menunggu hingga di perbolehkan masuk. Tangannya memutar pegangan pintu dan melangkah masuk. “Ne, sajangnim..”

Teddy yang sudah duduk di mejanya memandang Seunghyun, “Seunghyun-ssi, aku ingin kau memberikan ini pada kepala devisi perencanaan..” ucapnya sambil memberikan sebuah berkas.

Seunghyun memandang berkas itu tak mengerti, lalu kembali memandang Teddy, “Waeyo sajangnim?”

Teddy memajukan tubuhnya, “Ini proposal untuk membuat program baru yang akan di gunakan perusahaan. Kudengar dia tertarik padamu, jadi kemungkinan besar dia akan langsung menyetujuinya jika kau yang memberikannya…” ucapnya dan tersenyum.

Seunghyun tersenyum lucu, “Sajangnim, anda tidak serius kan?”

Teddy tertawa kecil, “Sudah, berikan saja.. Lihat bagaimana hasilnya nanti saja..” ucapnya pelan.

Seunghyun mengambil berkas itu dan membungkuk sopan, lalu melangkah ke pintu.

“Sampaikan salamku padanya..” ucap Teddy sebelum Seunghyun keluar.

“Hyung.. waeyo?” Tanya Mino ketika melihat Seunghyun keluar.

Seunghyun mengangkat berkas ditangannya, “Aku harus memberikan ini..” ucapnya dan berjalan kepintu. Ia tersenyum pada beberapa orang yang berpapasan dengannya dan berjalan ke lift. Saat itu tidak begitu banyak orang yang berkeliaran disekitar sana. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya lift tiba di lantainya. Ia sudah siap melangkah begitu pintu terbuka, namun Sesuatu menghentikannya, sebuah titik merah yang terlihat dari dinding lift. Matanya membesar dan langsung meloncat ke sisi kanan.

DOR!! DOR!! DORR!!! DORR!!!

Rentetan peluru mengenai dinding lift dan menimbulkan bunyi yang sangat besar.

Seunghyun berguling hingga ke balik tembok dan bersembunyi disana. Jantungnya berdegup kencang karena accident itu. Beberapa detik kemudian suara tembakan berhenti, dengan hati-hati dia mengintip kearah sang penembak tadi.

“Omo! Apa yang terjadi?!” seru orang-orang yang mulai berdatangan.

Seunghyun tak sempat melihat siapa yang menembakinya karena terlalu banyak orang berdatangan.

“Ohh.. Neo gwenchana?” Tanya seorang karyawan yang melihat wajah tegang Seunghyun.

“Ne..” jawab Seunghyun pelan.

Devisi IT.

Seunghyun duduk sambil mengelus dahinya. Ia harus terlihat shock atas kejadian tadi agar tidak di curigai.

“Hyung, kau tidak apa-apa?” Tanya Mino khawatir.

Seunghyun mengangguk pelan.

Jennie masuk ke ruangan dengan minuman dingin dan meletakkannya di depan Seunghyun, “Ini oppa, minumlah dulu..”

Seunghyun menghela nafas dalam dan mengambil cangkir kertas itu dan langsung meneguk isinya hingga habis.

Pintu terbuka dan Teddy masuk dengan wajah cemasnya, “Ya.. orang-orang berkata anggotaku nyaris terbunuh… Siapa?” tanyanya.

Seunghyun mengerutkan dahi melihat Teddy masuk dari luar, ‘Bukankah tadi dia berada diruanganny?’ batinnya.

“Seunghyun oppa, sajangnim..” ucap Jennie memberitahu.

“Ne? oh.. neo gwenchana?” Tanya Teddy pada Seunghyun.

“Oh.. ne, sajangnim.” Jawab Teddy pelan.

“Ahh.. ini tidak bisa dibiarkan!” ucap Teddy kesal dan keluar dari ruangan itu.

“Ohh.. sajangnim pasti akan mengamuk..” ucap Jennie khawatir.

“Mino, kapan sajangnim keluar dari ruangannya?” Tanya Seunghyun.

“Hm? Tak setelah kau pergi..” jawab Mino.

Seunghyun mulai curiga. Biasanya Teddy tidak pernah menyuruhnya melakukan sesuatu. Dan ketika pertama kalinya, ia mendapatkan serangan seperti ini. Ia tertegun sendiri mengingat di profil yang di kirimkan Daesung, Teddy sempat bekerja untuk kemiliteran. Itu berarti pria itu juga bisa menggunakan senjata. ‘Sial.. dia menjebakku..’ batinnya. Lalu mengelus wajahnya.

“Oppa, wajahmu pucat sekali.. Lebih baik kau pulang saja..” ucap Jennie.

“Kurasa begitu..” ucap Seunghyun pelan, lalu memandang Jennie. “Bisakah kau menelpon taxi untukku?”

“Keurom, oppa..” jawab Jennie dan langsung mengambil ponselnya.

 

 

<<Back           Next>>

Advertisements

3 thoughts on “Mr and Mrs Choi [Chapter 15]

  1. Duhh…. Seunghyun kamu perhatian banget yaa ama Hayi… 🙂
    untung deh Bom mau nerima saran dari Seunghyun 😀
    Wah! Jangan2 Teddy udah mulai curiga huga ama Seunghyun??!

  2. Woaah tunggu next chaap…

    Ak suka ßǝηбƺ† am ff topbom..
    Penasaran am kisah top am bom?tryz teddy nyebelin aw?

  3. gw bingung mau koment apa selain kata “DAEBAK buat AUTHOR nya”
    Seunghyun ternyata sangat perhatian ma Hayi . . .
    siapa yg hampir nembak Seunghyun itu? apakah Teddy Park . ..
    cepat next (Penasaran stadium akhir) 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s