Chapter · YG Family

Mr and Mrs Choi [Chapter 14]

14

—2ne1’s Mission—

=Markas Bigbang=

“Ini tidak masuk akal.. Bagaimana mungkin aku tidak bisa menemukan apa pun tentang kematian Lee Chaerin..” ucap Daesung tak percaya.

Jiyong mengerutkan dahi, “Apa tidak ada acara pemakaman? Aku tidak mendengar apa pun tentang itu. bukankah dia detektif yang di hormati?”

“Aku juga tidak mengerti hyung..” ucap Daesung.

“Ini hanya perasaanku saja atau sepertinya kematian Lee Chaerin seperti sudah direncanakan ya?” ucap Taeyang heran.

“Ahhh.. ini semakin rumit! Kita harus segera menemukan kalung itu!!” seru Jiyong frustasi.

 

=Kantor=

Bom sengaja menunggu Teddy di dalam mobilnya. Begitu melihat pria itu tiba, ia segera keluar dari mobil dan mengunci mobilnya dengan kunci otomatis.

Teddy mendengar suara mobil itu dan menoleh kearah Bom, “Oh, Bom..”

Bom berpura-pura seperti ia juga baru tiba dan memandang Teddy, “Oppa..”

Teddy memandang jam tangannya dan memandang Bom bingung, “Tumben kau baru tiba..”

Bom tersenyum tipis, “Ne, beberapa hari ini aku menginap di rumah sakit. Jadi aku tidak bisa pergi begitu pagi..” jawabnya sembari melangkah bersama Teddy.

Teddy tertegun, “Ohh.. Hayi masih di rumah sakit?”

“Ne, oppa.. Dokter berkata dia masih harus di rawat intensif..” ucap Bom dengan wajah sedih.

Teddy menatap Bom prihatin dan berhenti di depan lift, setelah menekan tombol ia kembali memandang gadis itu. “Apa kau berencana akan kembali ke Amerika?”

“Mmm.. aku belum tau oppa. Tapi jika pengobatan disini belum memberikan perkembangan, aku akan membawa Hayi kembali kesana.” Jawab Bom.

“Ayo masuk..” ajak Teddy ketika pintu lift terbuka. Mereka masuk ke dalam dan berdiri bersebelahan. “Pasti sangat berat bagimu sekarang. Chaerin meninggal, juga kondisi Hayi yang terus memburuk..”

Bom menghela nafas dalam dan menunduk sedih, “Ne.. Jika mengingat hal itu, rasanya kedua kakiku terasa lemas dan tidak sanggup bangkit lagi..” ucapnya putus asa.

Teddy merangkul Bom, “Jika kau membutuhkanku, aku ada untukmu..”

Bom memandang Teddy dengan mata berkaca-kaca, lalu tersenyum. “Gumawoyo oppa..”

Teddy tersenyum, “Jangan berterima kasih.. Khaja..” ia melepaskan rangkulannya dan melangkah keluar dari lift.

Bom menunggu Teddy keluar duluan, bibirnya langsung membentuk senyuman evil memandangi punggung pria itu. lalu melangkah mengikuti pria itu dengan wajah sedihnya lagi.

“Hei semuanya..” sapa Teddy begitu masuk pada Mino dan Seunghyun yang sudah ada disana.

Mino dan Seunghyun berdiri dan membungkuk sopan, “Annyeonghaseo sajangnim..”

“Selamat pagi semua..” sapa Bom sambil melangkah ke tempat duduknya.

Setelah Teddy masuk keruangannya, Mino dan Seunghyun kembali duduk.

Seunghyun memperhatikan Bom yang menghidupkan computer. Bibirnya membentuk senyuman kecil mengingat gadis itu masih sama seperti dulu.

“Annyeongaseo..” sapa Jennie sambil melangkah masuk dengan empat buat minuman di tangannya.

Mino tersenyum lebar, “Wuaa.. maknae kita sangat perhatian..”

Jennie tersipu, “Keurom, kita bekerja keras akhir-akhir ini. Americano untuk Seunghyun oppa..” ucapnya sambil memberikan minuman yang ia maksud, lalu mengambil yang lain. “Kopi dan vanilla untuk Mino oppa..” ucapnya sambil memberikan minuman tadi.

Mino tersenyum lebar menerima minuman itu, “Gumopta..”

Jennie memandang Bom sambil tersenyum, “Dan ini untuk Bom eonni..” ucapnya sambil memberikan minuman untuk gadis itu.

Bom tersenyum, “Gumopta..” ucapnya.

“Apa yang kau belikan untuk Bom-ssi?” Tanya Mino ingin tau.

“Mmm.. aku tidak tau apa yang disukai Bom eonni, tapi ketika mengingatmu aku langsung terpikir cappuccino. Jadi aku membelikan itu. gwenchana eonni?” Tanya Jennie.

Seunghyun tertegun dan menatap Jennie tak percaya, lalu memandang Bom yang juga tertegun menatap Jennie.

“Ne? ohh.. gwenchana..” jawab Bom canggung.

Jennie tersenyum senang, “Syukurlah..”

Seunghyun tiba-tiba merasa bersalah ketika mengingat Bom berkata sudah berhenti minum cappuccino karena ibunya. Ia memandang minumannya dan memandang wajah Bom yang terlihat terluka memandang minumannya sendiri. Ia menghela nafas dalam dan bergerak bangkit untuk mengganti minumannya dan minuman gadis itu.

Jennie, Mino dan Bom memandang Seunghyun bingung.

“Oppa, waekeure?” Tanya Jennie bingung.

Seunghyun kembali duduk dan memandang Jennie, “Bom tidak suka Cappucino, dia menyukai Mocca dengan sedikit cream dan serbuk coklat..” ucapnya dan memunim cappuccino ditangannya.

“Ne?” Jennie memandang Bom, “Jeongmal eonni?”

Bom tersenyum canggung, “Ne..”

“Ohh.. lain kali aku akan membeli itu..” ucap Jennie menyesal.

“Gwenchana..” ucap Bom dan meminum minumannya. Americano memang lebih menggigit dari kopi lainnya, tapi perasaannya lebih baik setelah meminumnya karena Seunghyun.

Seunghyun mulai bekerja dengan perasaan ringan. Tiba-tiba muncul kolom obrolan di layarnya, ia tertegun melihat pengirimnya Park Bom. Matanya melirik bom yang terlihat serius dengan layar computer. Bibirnya membentuk senyuman membaca pesan gadis itu.

Park Bom : Thank you, Seunghyun-ssi..

Bom memandang kolom obrolan yang muncul dan tersenyum tipis.

Choi Seunghyun : terima kasih sudah memperhatikan ibuku..

Bom melirik Seunghyun, pria itu juga melirik kearahnya dan membuatnya tersenyum. Ponselnya yang di letakkan diatas meja berbunyi, ia mengambil benda itu dan memandang layarnya. Dari perawat Jung. “Yoboseyo..” sapanya.

“Bom-ssi! Keadaan Hayi kembali memburuk! Dia muntah darah lagi!” ucap Perawat Jung.

Mata Bom membesar, “Apa maksudmu? Dia baik-baik saja tadi pagi..” ucapnya pelan agar tidak menganggu yang lainnya bekerja.

“Ne.. tapi setelah sarapan ia berkata dadanya sakit, lalu mulai batuk-batuk dan muntah darah lagi..” ucap perawat Jung memberitau.

“Bagaimana keadaannya sekarang?” Tanya Bom.

Seunghyun memandang Bom yang terlihat panic.

“Keure, aku akan segera kesana..” ucap Bom, lalu memutuskan telepon.

“Eonni, waekeure?” Tanya Jennie bingung.

“Aku harus ke rumah sakit..” ucap Bom sambil mengambil tasnya dan berjalan cepat keluar dari ruangan.

“Ne? omo.. apa terjadi sesuatu pada adiknya?” Tanya Jennie khawatir.

“Sepertinya darurat sekali..” ucap Mino.

Seunghyun ikut khawatir dan mengambil tasnya, “Semuanya, aku juga baru ingat ibuku di rawat dirumah sakit. Sampai nanti..” ucapnya dan langsung melangkah keluar mengejar Bom.

Jennie Mino mengerutkan dahi mereka bingung, lalu berpandangan tak mengerti.

Bom melangkah cepat ke lift dan menekan tombolnya. Kedua tangannya bergetar hebat dan saling menggenggam sambil memperhatikan layar kecil yang menunjukkan angka lantai.

Seunghyun menghampiri Bom dan ikut menunggu, “Aissh.. kenapa lama sekali?” gumamnya kesal.

Bom memandang Seunghyun bingung, “Sedang apa kau?”

Seunghyun memandang Bom bingung, “Apa maksudmu? Tentu saja menunggu lift..”

Bom melihat Seunghyun membawa tas, “Kau akan pergi?”

“Ne.. oh sudah terbuka, ayo..” Seunghyun menarik Bom masuk.

Setelah menunggu dengan perasaan gusar, akhirnya pintu lift kembali terbuka di lantai dasar. Bom langsung melangkah cepat keluar.

Seunghyun mengikuti Bom dan menarik gadis itu sebelum menghampiri mobilnya, “Ya.. kau akan mengemudi dengan perasaan seperti itu?”

Bom menatap Seunghyun kesal, “Jangan buang waktuku!” serunya, lalu melangkah menuju mobilnya sambil mengeluarkan kunci dan menekan tombol buka otomatis.

Seunghyun tau Bom yang sekarang lebih keras kepala dari yang dulu, jadi tidak ada gunanya bertengkar sekarang. Ia mengikuti gadis itu dan merebut kunci mobil, “Masuk ke kursi penumpang..” ucapnya sambil mendorong Bom ke sisi lain mobil.

Bom menatap Seunghyun tak mengerti, apalagi pria itu masuk ke kursi kemudi.

Seunghyun menghidupkan mesin, memasag sabuk pengaman dan memandang Bom bingung, lalu membuka jendela disisinya dan mengeluarkan kepalanya, “Ya! Cepat masuk!”

Bom tersadar dan langsung masuk, lalu mengenakan sabuk pengamannya.

Seunghyun melepaskan rem tangan dan menginjak gas meninggalkan area parkir kantor.

Bom memandang Seunghyun bingung, “Kenapa kau malah mengikutiku?”

“Memangnya kau mau kerumah sakit menggunakan ambulance?” Tanya Seunghyun sambil tetap memandang jalanan.

Bom menghela nafas dalam dan mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi perawat Jung. “Perawat Jung, bagaimana dengan Hayi?”

“Ia tak berhenti batuk dan memuntahkan darah. Hayi juga masih mengeluh dadanya sakit.. Perawat sudah memberikannya obat penahan sakit, tapi kupikir itu tidak begitu membantu..” jelas perawat Jung.

“Apa dia sudah di periksa dokter?” Tanya Bom.

“Sudah, dokter berkata beliau menunggumu. Bom-ssi..” jawab perawat Jung berat.

Bom mendapat firasat buruk, “Ne, arasso.. Aku sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit. Tolong jaga dia..” ucapnya dan memutuskan telepon.

Seunghyun melirik Bom, “Apa yang terjadi?”

Bom memandang Seunghyun, “Kondisi Hayi memburuk..” ucapnya pelan, kedua matanya terlihat memerah.

Seunghyun menatap Bom tenang, “Gwenchana, kita akan segera tiba disana..” ucapnya pelan.

Bom mengangguk pelan.

 

=Ruang Perawatan Hayi=

Seunghyun mengikuti Bom yang melangkah menuju ruang perawatan Hayi.

Bom membuka pintu dan masuk, “Hayi-a..” panggilnya sambil menghampiri tempat tidur adiknya.

Hayi duduk bersandar di tempat tidur sambil meringis menahan sakit, satu tangannya memegangi dadanya yang terasa sesak. Meskipun menggunakan selang oksigen, gadis itu tetap terlihat kesulitan bernafas. Ia memandang kakaknya, “Eonnihh..” ucapnya ditengah nafas yang sesak.

Bom duduk dipinggir tempat tidur dan mengelus rambut adiknya, “Gwenchana? Kenapa kau bisa seperti ini lagi?”

“Ahhhh.. eonni, appo..” ucap Hayi menahan tangis. “Uhuk.. uhukk..” darah kembali keluar dari mulutnya ketika terbatuk.

“Oh Hayi..” Perawat Jung segera membersihkan darah di bibir Hayi dengan kain lap.

Bom miris melihat adiknya menderita seperti itu, rasanya ia rela menggantikan adiknya dengan penyakit itu.

Seunghyun yang masih berdiri di tempatnya tertegun melihat Hayi batuk darah, gadis itu dulu memiliki pipi tembam seperti kakaknya, tapi sekarang terlihat sangat kurus dan lemah.

“Bom-ssi, dokter memintamu menemuinya.” Ucap perawat Jung memberitau.

Bom memandang perawat Jung dan mengangguk, lalu memandang Hayi cemas. “Hayi, eonni akan pergi sebentar..” ucapnya, lalu mencium dahi adiknya dan bergerak bangkit.

Seunghyun menatap Bom sedih, namun begitu gadis itu memandangnya, ia memberikan senyuman hangat untuk menyemangati gadis itu.

Bom mengangguk kecil dan melangkah keluar.

Setelah Bom pergi, Seunghyun duduk di pinggir tempat tidur dan tersenyum pada Hayi. “Hayi-a, kau masih mengingatku?”

Hayi memandang Seunghyun, “Hyeong-bu?”

Seunghyun tersenyum lebar, “Ne.. Kau sudah bertambah besar sekarang..” ucapnya sambil mengelus kepala Hayi.

Hayi masih merasa sakit, namun ia senang ada Seunghyun disini. Bibirnya membentuk senyuman tipis.

Seunghyun memegang tangan Hayi dan mengelus punggung tangan gadis itu. “Gwenchana.. semuanya akan baik-baik saja..”

Ruangan dokter.

Bom merasa hancur melihat bayangan hitam di hasil rontgen Hayi semakin besar.

“Park Bom-ssi, adikmu benar-benar membutuhkan donor paru-paru itu secepatnya..” ucap dokter itu pelan.

Bulir air mata Bom mulai berjatuhan dan memandang dokter itu, “Kumohon Dokter.. kau bisa mengambil punyaku.. Aku akan memberikannya pada adikku..”

Dokter itu menatap Bom menyesal, “Itu berarti melanggar ketentuan medis, Park Bom-ssi..”

“Dokter…” ucap Bom memohon dan mulai menangis pedih.

“Pihak medis harus mematuhi ketentuan yang sudah ada. Park Bom-ssi. Kami bertugas untuk menyelamatkan pasien. Kami tidak diperkenankan melakuan tindakan medis jika itu membahayakan seseorang..” jelas dokter itu menyesal.

Bom tidak tau harus melakukan apa. Kedua kakinya terasa lemas ketika berjalan keluar dari ruangan dokter. ia berhenti begitu tiba di depan ruangan Hayi, kedua tangannya gemetaran. Bagaimana ia bisa bertemu Hayi seperti ini? Ia memutuskan untuk menenangkan diri sejenak dengan duduk di kursi tunggu. ‘Eomma, appa.. apa yang harus kulakukan?’ batinnya putus asa. Bulir air matanya terus berjatuhan begitu saja.

Seunghyun keluar dari ruangan Hayi untuk mencari Bom yang pergi terlalu lama dan terkejut menemukan gadis itu menangis di depan ruangan adiknya, “Oh.. Bommi, gwenchana?” tanyanya sambil duduk di sebelah Bom.

Bom memandang Seunghyun, “Apa Hayi mencariku?”

“Ne..” jawab Seunghyun.

Bom menyeka air matanya dan hendak bangkit, tapi Seunghyun menahan tangannya.

Seunghyun menatap Bom dalam, “Apa yang terjadi padanya?”

Bom menghela nafas dalam dan memandang Seunghyun, “Aku harus masuk..” ucapnya.

“Kumohon beritau aku.. Aku juga sangat khawatir..” pinta Seunghyun.

Bom menatap Seunghyun sedih, “Seunghyun, ini bukan urusanmu. Terima kasih sudah menemaniku kemari. Tapi kau sebaiknya mengunjungi ibumu saja..” ucapnya dan bangkit.

Seunghyun ikut bangkit dan memblokir jalan Bom, “Bom, kau tau aku menyayangi Hayi seperti adikku sendiri. Tolong katakan padaku..” pintanya.

Bom bisa merasakan ketulusan Seunghyun, ia merasa bersalah jika tidak memberitau pria itu. “Keure.. Sel kanker Hayi sudah memakan hampir semua salah satu paru-parunya. Sering terjadi pendarahan di paru-parunya karena itu.”

Seunghyun tampak kaget, “Lalu, bagaimana cara penyembuhannya?”

“Jalan satu-satunya hanya donor paru-paru, tapi belum ada paru-paru yang cocok untuk Hayi hingga sekarang..” ucap Bom.

Seunghyun terlihat sangat terkejut mengetahuinya, “Apa kau… apa kau sudah mencoba ke dokter lain?” tanyanya panic.

“Dokter dan rumah sakit ini adalah rekomendasi dari rumah sakit yang menangani Hayi di Amerika, jadi kurasa aku akan terus disini..” jawab Bom, lalu melangkah masuk.

Seunghyun tidak bohong dengan ucapannya, dia memang menyayangi Hayi seperti adiknya sendiri. Gadis kecil itu memang masih kecil ketika mereka bertemu. Tanpa sadar ia memberikan sosok ayah pada gadis yang terlahir dengan status yatim piatu itu. Bom juga langsung mengambil peran sebagai ibu untuk adiknya.

 

<<Back           Next>>

Advertisements

One thought on “Mr and Mrs Choi [Chapter 14]

  1. Teddy “perhatian” banget nih ama bom xD
    aduhh. Hayi… 😥 siapa yah yg bakal ngasih donor paru2 untuk hayi??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s