Chapter · YG Family

Mr and Mrs Choi [Chapter 9]

9

—The Flashback—

Bom masuk ke lift dan berdiri di sebelah kanan, tak lama seseorang masuk. Ia tertegun melihat orang itu adalah Teddy.

Teddy tersenyum, “Oh.. kau sudah tiba?” tanyanya sambil berjalan ke sisi Bom.

Bom tersenyum, berusaha terlihat biasa. “Ne, oppa.. tumben sekali kau datang jam segini..” ucapnya,

Teddy tertawa kecil, “Aku juga ingin tiba lebih pagi.” Ucapnya, lalu memandang Bom. “Oh ya, kudengar Chaerin sudah menemukan bukti tentang kematian model Oh Sekyung. Benarkah?”

Bom tertegun dan menatap Teddy kaget, ia sendiri belum mendengar tentang hal itu. “Ne? molla.. Waeyo oppa?”

Teddy menghela nafas dalam, “Ahh.. kupikir benar, aku mendengarnya dari tetua yang lain. Kuharap itu benar tapi sepertinya tidak..” ucapnya kecewa.

“Memangnya jika benar kenapa oppa?” Tanya Bom.

“Aku yakin Oh Sekyung memiliki hubungan khusus dengan Kim Jungmo, pasti ada hubungan kematiannya dengan pria itu..” jawab Teddy curiga, lalu memandang Bom. “Bagaimana menurutmu?”

“Mmm.. aku tidak bisa membuat hasilnya dulu, tapi kurasa iya..” ucap Bom.

Teddy tertawa kecil, “Kau ini, seharusnya kemampuan menganalisamu semakin tajam setelah bertahun-tahun..”

Bom hanya tertawa lucu.

“Oh ya..” ucap Teddy kembali serius.

Bom memandang Teddy, “Ne?”

“Kudengar dari Choi Seunghyun, adikmu hampir di culik seseorang. Benarkah?” Tanya Teddy.

Bom tertegun mendengar ucapan Teddy, “Choi Seunghyun?”

“Ne, sepertinya hubungan kalian cukup dekat. Apa kau menjalin hubungan dengannya?” Tanya Teddy dengan nada menggoda.

Bom tidak bisa merasa hal itu lucu karena benar-benar terkejut dengan ucapan Teddy tadi. Ia hanya tersenyum kaku, “Aniya, oppa..” ucapnya.

Pintu lift terbuka.

“Khaja..” ajak Teddy sambil melangkah keluar duluan.

Bom menatap Teddy yang berjalan pergi tak percaya, lalu melangkah keluar. ‘Seunghyun? Wae?’ batinnya tak mengerti.

Devisi IT.

Seunghyun melirik Bom dengan dahi berkerut, ia merasa sepertinya gadis itu sesekali menatapnya marah. Ia tak mengerti mengapa, tapi ia merasa ada sesuatu yang salah.

Saat makan siang tiba.

Teddy keluar dari ruangannya, “Semuanya, selamat makan siang..” ucapnya dengan senyuman manis di wajahnya, lalu melangkah keluar.

“Omo.. kenapa sajangnim ceria sekali?” Tanya Jennie heran.

“Ahh.. aku tau, pasti dia akan makan siang dengan seseorang..” jawab Mino dengan senyuman lebar.

Seunghyun tertegun melihat Bom langsung bangkit sambil menyandang tas.

“Sampai nanti semuanya.” Ucap Bom dan langsung berjalan keluar.

Seunghyun mengerutkan dahi lagi dan ikut berdiri, “Bye semua..” ucapnya dan mengejar Bom.

Jennie dan Mino saling berpandangan bingung, “Sepertinya mereka menjadi dekat sekarang..”

“Sepertinya..” komentar Mino.

Seunghyun mengejar langkah Bom, “Bom.. Park Bom, tunggu..” panggilnya sambil menarik tangan gadis itu agar berhenti.

Bom berhenti dan menatap Seunghyun dingin, “Seunghyun-ssi, kumohon jangan sentuh aku.” Ucapnya sambil menarik tangannya.

Seunghyun menatap Bom tak mengerti, “Wae? Kenapa kau seperti ini?”

“Aku? Kau bertanya padaku?” Tanya Bom dingin, “Keure, akan kujelaskan padamu lagi..” ucapnya. “Kau dan aku sekarang hanya rekan kerja, jadi posisikan dirimuhanya sebagai rekan kerjaku..” ucapnya dan melangkah pergi.

Seunghyun tertegun di tempatnya tak mengerti, “Apa yang telah kulakukan?” gumamnya tak mengerti.

 

=Rumah Sakit=

“Aissh.. dia berlaku seolah-olah pahlawn tapi ternyata dia sama busuknya!” ucap Bom kesal. Langkahnya terhenti karena teringat sesuatu.

“Kudengar dari Choi Seunghyun, adikmu hampir di culik seseorang. Benarkah?”

Dahi Bom berkerut, “Apa Seunghyun juga termasuk dalam komplotan Kim Jungmo?” gumamnya ragu. “Ahh.. seharusnya aku tau tidak ada teman yang benar-benar nyata!” gumamnya kesal dan mempercepat langkahnya menuju ruangan Hayi yang sekarang sudah di rawat di perawatan biasa.

Seunghyun mengikuti Bom hingga kerumah sakit, namun ia tak berani menghampiri gadis itu. jadi dia datang ke kamar perawatan ibunya. “Eomma.. aku datang..” ucapnya lesu.

Hyeyoung yang saat itu sudah berderai air mata memandang putranya, “Seunghyun-a kemari..” panggilnya.

Seunghyun tertegun melihat ibunya menangis dan langsung menghampiri ibunya, “Eomma, waekeure?” tanyanya khawatir.

Hyeyoung memegang kedua lengan Seunghyun dan menatap putranya shcok, “Seunghyun-a, benarkah eomma terkena demensia?”

Seunghyun tertegun, “Mmm.. eomma, ini…”

“Benar atau tidak?!” seru Hyeyoung.

Seunghyun tidak bisa mengelak, “Ne, eomma..” ucapnya pelan.

Hyeyoung menangis pedih mengetahui itu.

“Eomma, uljima.. Kau akan baik-baik saja..” ucap Seunghyun sambil merangkul ibunya.

“Eomma akan mati, bagaimana eomma bisa tenang?” Tanya Hyeyoung ditengah tangisnya.

“Eomma, semua orang akan mati. kenapa kau berbicara seperti itu?” Ucap Seunghyun menenangkan ibunya,

Hyeyoung memandang Seunghyun, “Seunghyun-a, eomma akan mulai pikun kan? Keutji Seunghyun-a?”

Seunghyun menatap ibunya sedih, “Ani, eomma akan menjalani terapi untuk memperlambat penyakitmu.. Tenangkan saja dirimu eomma..”

Hyeyoung memegang kedua pipi Seunghyun dan menatap putranya serius, “Seunghyun-a, kau bisa menanyakan apa pun yang kau inginkan. Eomma akan menjawabnya sebelum eomma lupa segalanya..” ucapnya.

Seunghyun tertegun, “Eomma!” tegasnya kesal.

“Ppali.. eomma tidak ingin melupakan semuanya. Jika eomma sudah lupa semuanya, kau harus menceritakannya lagi pada eomma..” Paksa Hyeyoung.

Seunghyun mendengus kesal, ia benar-benar tidak suka pembahasan seperti itu. “Keure, katakan kenapa eomma menyiram Bom dengan cappuccino?!” tanyanya asal.

Hyeyoung mengingat sejenak, “Keure, eomma akan menjelaskannya..”

Seunghyun terkejut ibunya benar-benar serius.

=Flashback, 10 tahun lalu=

-Bom’s POV-

Aku duduk disebuah kafe tak jauh apartemen kecilku bersama Seunghyun, berhadpan dengan ibu mertua yang selalu mencaci makiku sejak mengenal putranya. Aku tidak bisa mengangkat wajahku atau pun menatapnya.

Eommanim menatapku seperti sesuatu yang menjijikkan, “Kuberi satu kesempatan lagi untukmu, tinggalkan putraku maka semuanya akan selesai!”

Aku menghela nafas dalam dan memandang eommanim, “Eommanim, kenapa anda tidak bisa memberikan restumu untuk kami?”

Eommanim tertawa sinis, “Restu?! Kau membuat putraku terus mendapat masalah, bagaimana aku bisa merestui kalian!”

Bulir air mataku mulai berjatuhan menatap ibu mertuaku ini, “Eommanim, usiaku dan Seunghyun memang masih muda. Tapi kami saling mencintai dan serius dengan pernikahan ini..”

“Cih… saling mencintai? Pabo ya! Apakah bertengkar setiap hari adalah cara kalian menunjukkan cinta satu sama lain? Waaah.. kau benar-benar berbeda Agassi..” sindir eommanim.

“Kami akan berhenti bertengkar dan bahagia saat anda memberikan restumu, eommanim.. Kumohon, aku akan menjadi menantu yang menurutimu..” pintaku memohon.

“Jika kau ingin menurutiku, tinggalkan Seunghyun dan enyahlah dari hidupnya!” tegas eommanim.

“Eommanim..” ucapku sedih, dia selalu membuatku merasa semakin sulit setiap harinya.

“Agassi dengarkan aku!” ucapnya sambil menunjuk wajahku, “Putraku tidak pernah mencintaimu! Dia hanya merasa iba padamu yang tidak memiliki orangtua!! Bahkan kau juga harus membesarkan adikmu yang sakit-sakitan itu! Oh.. atau kau memang sengaja mengejar putraku agar keluargaku yang membiayai pengobatan adikmu?! Kau licik sekali!!”

“Aniya eommanim..” jawabku sambil menggeleng, “Aku tidak pernah memikirkan itu.. Aku mencintai Seunghyun, aku benar-benar tulus menikah dengannya eommanim..”

Wajah Eommanim tampak memerah menahan amarah, tangannya langsung menyambar cangkir cappuccino dihadapanku dan menyiram isinya yang belum sempat kuminum sedikit pun kewajahku.

Aku terkejut merasakan cairan hangat itu mengenai wajahku.

Eommanim berdiri sambil menatapku marah, “Kau gadis murahan!! Tinggalkan putraku atau aku akan melakukan hal yang lebih parah dari ini!!!” serunya, membuat orang-orang disana menatap kami kaget. Ia langsung melangkah pergi begitu saja.

Aku hanya bisa menangis sambil membersihkan cairan cappuccino itu dari wajahku dengan tisu.

…………………………………………………………………………………………………………………..

Aku kembali kerumah setelah membersihkan rambutku dari cairan kopi itu. aku bahkan sampai membeli baju luar untuk menutupi bajuku yang basah. Aku berhenti di depan pintu dan merapikan rambutku lagi, aku tidak ingin Seunghyun mengetahui apa yang baru saja terjadi padaku. Meskipun kami selalu bertengkar akhir-akhir ini, aku yakin dia tetap khawatir tentangku. Aku membuka pintu dan melangkah masuk, tapi aku langsung disambut dengan pemandangan Seunghyun yang menarik kopernya bersama kardus ditangan.

“Kau akan pergi?” tanyaku bingung.

Seunghyun menatapku dingin, “Aku muak hidup denganmu, kau hanya bisa membuatku pusing dan menghabiskan waktuku! Kita bercerai!” ucapnya, lalu menarik kopernya menuju pintu depan.

Seluruh tubuhku terasa kaku, aku tidak melakukan apapun ketika Seunghyun berlalu disebelahku dan keluar dari apartemen kami. Bulir air mataku mengalir begitu saja. Hatiku terasa remuk dan hancur berantakan. Waeyo Seunghyun? Aku tetap mempertahankanmu hingga akhir, tapi kau mencampakkanku seperti ini? Kedua kakiku terasa bergetar dan jatuh terduduk dilantai.

-Bom’s POV end-

=Flashback end=

Mata Seunghyun membesar mendengar ucapan ibunya, “Eo-eomma?”

“Keure.. eomma sudah menceritakannya lagi. cepat, tanyakan yang lainnya..” ucap Hyeyoung dengan wajah tak bersalah.

Seunghyun menatap ibunya tak percaya, sesuatu terasa meremukkan hatinya. Kedua tangannya bergerak memegang kedua sisi lengan ibunya, “Eomma..” ucapnya dengan suara bergetar menahan air mata.

Hyeyoung tertegun melihat mata Seunghyun memerah, “Seunghyun-a, uljima..”

“Eomma…” ucap Seunghyun lagi, “Kenapa eomma melakukannya? Kenapa eomma tidak mengatakannya padaku?!!” serunya marah.

Hyeyoung tertegun Seunghyun berseru padanya, “Seung-Seunghyun-a?”

Sebulir air jatuh dari mata Seunghyun, “eomma…” ucapnya pelan, “Aku sudah menghancurkan hati gadis yang paling kucintai.. kenapa eomma tidak mengatakan apa pun padaku? Wae eomma?” tanyanya dan menunduk hingga kepalanya bertumpu ke pangkuan ibunya sambil menangis.

Hyeyoung tak bisa mengatakan apa pun melihat Seunghyun seperti ini. Ini pertama kalinya ia melihat sisi lemah putranya. Ia benar-benar tak mengerti apa yang terjadi selama ini.

Setelah itu.

Bom bergerak bangkit sambil membelai rambut Hayi, “Eonni akan kembali ke kantor sekarang.. Tunggu sebentar hingga eonni pulang..” ucapnya dan mencium pipi adiknya.

“Eonni, kapan aku bisa kembali pulang? Aku bosan disini..” ucap Hayi cemberut.

“Hayi-a, kau belum sembuh.. Jangan ingin pulang dulu..” ucap perawat Jung lucu.

Bom tertawa kecil, “Tunggu hingga seminggu lagi, ne?”

Hayi semakin cemberut, “Aku ingin dirawat dirumah saja..”

“Aniya, disini saja. Dokter bisa langsung membantumu jika kondisimu turun lagi..” ucap Bom memberi penjelasan.

Hayi masih cemberut karena jawaban Bom.

“Eonni akan pergi, turuti perwat Jung. Araso?” ucap Bom sambil mengelus rambut adiknya.

“Ne, eonni..” jawab Hayi lesu.

Bom memandang perawat Jung, “Perawat Jung, aku titip Hayi lagi padamu..” ucapnya.

“Ne, Bom-ssi.. Jangan khawatir..” ucap perawat Jung.

“Aku pergi..” ucap Bom dan melangkah keluar dari ruang perawatan Hayi. Ia melangkah pelan menuju pintu keluar. Ia sudah memengeluarkan kunci mobil ketika seseorang memanggilnya.

“Bommi!” panggil Seunghyun.

Bom berhenti dan berbalik, ia terkejut langsung disambut dengan dekapan erat Seunghyun. Matanya membesar dan terpaku di tempatnya.

Seunghyun mendekap Bom dengan mata terpejam, “Kenapa kau selalu menanggungnya sendiri? Wae? Bommi.. Maafkan aku.. Aku sangat menyesal..”

Bom mengerutkan dahi mendengar ucapan Seunghyun, “Seunghyun-ssi, ada apa denganmu?”

Seunghyun melepaskan dekapannya dan memegang kedua pipi Bom sambil menatap kedua mata gadis itu dalam. “Seharusnya kau menghentikanku.. Seharusnya kau menahanku agar tidak pergi.. Kenapa kau hanya membiarkanku pergi hari itu Bom?”

Bom menatap Seunghyun tak mengerti, “Seunghyun-ssi, aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau ucapkan..” ucapnya sambil melepaskan kedua tangan pria itu dari pipinya.

Seunghyun tetap menatap kedua mata Bom dan menggenggam kedua tangan gadis itu, “Saat eomma menyiram wajahmu dengan cappuccino, adalah sesaat sebelum aku pergi dari rumah kan?”

Bom tertegun mendengar ucapan Seunghyun.

Seunghyun menatap Bom penuh penyesalan, “Jeongmal mianata…”

Bom memalingkan pandangannya dan memandang sekitar sesaat, lalu kembali memandang Seunghyun sambil menarik tangannya dari genggaman pria itu. “Lupakan saja, semua itu sudah 10 tahun berlalu..” ucapnya pelan, lalu berbalik mendekati mobilnya.

“Jika kau tidak menanggung semuanya…” ucap Seunghyun, membuat Bom berhenti melangkah. “…kita tidak akan berpisah..”

Bom kembali merasakan rasa sakit ketika perpisahannya dan Seunghyun benar-benar terjadi.

Seunghyun menghela nafas dalam dan melangkah mendekati Bom yang masih membelakanginya. “Bommi…”

“Hajima..” Ucap Bom tanpa berbalik.

Langkah Seunghyun terhenti, “Bom, dengar…”

“Hajima!” Tegas Bom.

Seunghyun menatap Bom sedih.

“Aku sudah melupakan semuanya.. 10 tahun adalah waktu yang lama, tapi tetap terasa sakit saat aku mengingat hari itu..” Ucap Bom dengan suara bergetar, “Jadi, anggap semua itu hanya masa lalu dan lupakan semuanya..” Ia melangkah maju dan masuk ke mobilnya.

Seunghyun hanya bisa berdiri di tempatnya memandangi Bom yang terus pergi.

 

<<Back           Next>>

Advertisements

One thought on “Mr and Mrs Choi [Chapter 9]

  1. Ohh.. Jadi eomma nya seunghyun nyiram bom itu pas hari seunghyun pergi…
    Ahh.. Ternyata Oppa ku Seunghyun bisa nangis juga… 😥
    next~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s