Chapter · YG Family

Mr and Mrs Choi [Chapter 11]

11

—The Killer and The Box—

Seunghyun duduk di sofa sambil menggonta-ganti channel tv, ekspresinya menunjukkan ia sama sekali tak tertarik dengan siaran tv. Akhirnya ia berhenti di berita malam dan menatap tv tanpa ekspresi. Tak lama dahinya berkerut dan menatap tv kaget, “Mworagu?” Gumamnya tak percaya, lalu langsung mengeluarkan ponselnya dan mengetik sebuah nomor.Juga menempelkan ponsel ke telinga.

“Yoboseyo?”

“Ya.. Lee Chaerin dibunuh..”Ucap Seunghyun masih dengan wajah shocknya.

“Mwo?!!Kau serius?!!” Tanya pria yang tak lain adalah Jiyong itu.

“Ne..Sepertinya kita harus rapat!” Ucap Seunghyun.

 

=Markas Bigbang=

Jiyong duduk di sofa dengan shock melihat berita tentang pembunuhan Chaerin di laptop. Anggota Bigbang yang lain juga terlihat sama.

“Kenapa aku merasa shock seperti ini? Padahal yang meninggal bukan kenalanku..” ucap Daesung tak mengerti.

Taeyang dan Seungri memandang Daesung setuju.

“Ne, aku juga hyung..” ucap Seungri bingung.

“Nadoo..” ucap Taeyang, lalu memandang Jiyong dan Seunghyun yang masih berdiam diri.“Menurutmu, apa yang sedang terjadi disini?”

Jiyong mengelus dagunya sambil berpikir, “Pertama Oh Sekyung, kedua Lee Chaerin..” gumamnya, berusaha menemukan kesamaan diantara kedua gadis itu.

Seunghyun memandang Jiyong, “Entah mengapa aku merasa dua pembunuhan ini saling terkait..” ucapnya yakin.

“Kau juga berpikir begitu hyung?” Tanya Daesung tak percaya.

“Bisa saja..tapi kita harus memiliki alasan untuk menyelidikinya..” ucap Jiyong.

Seunghyun mengerutkan dahi mengingat sesuatu, “Saat kita menyelidiki Oh Sekyung malam itu, aku melihat Lee Chaerin diam-diam juga memperhatikan gadis itu.mungkin saja dia juga sedang menyelidiki tentang gadis itu kan?”

Jiyong mulai merasa ada kejanggalan dari dua pembunuhan itu, “Ne, mungkin saja..” ucapnya. “Mereka terbunuh dengan cara yang sama namun sistematis yang berbeda. Oh Sekyung gantung diri, Lee Chaerin di cekik..”

“Dan aku mendapat informasi kalau Detektif Lee Chaerin datang ke apartemen Oh Sekyung setelah tragedy bunuh diri itu..” ucap Daesung membenarkan.

“Aha! Pasti Lee Chaerin tau apa yang di ketahui Oh Sekyung, karena itu dia dibunuh juga. Dan dia tentu saja sedang menyelidiki Oh Sekyung..” ucap Seungri membenarkan.

“Atau orang yang membunuh mereka..” ucap Taeyang memberi opini lain.

Jiyong berusaha menemukan jawaban dari teka-teki ini.

“Tapi…” Daesung mengerutkan dahinya, membuat anggota lain menatapnya penasaran. “..orang yang membunuh Lee Chaerin pasti sangat hebat..”

“Wae?” Tanya Seungri tak mengerti.

“Kupikir semua orang sudah tau Detektif Lee Chaerin itu bukan sekedar gadis biasa, dia menerima pelatihan di militer sebelumnya dan sempat bekerja sebagai perwira selama beberapa tahun hingga ia memutuskan untuk menjadi detektif.Benarkan?” jelas Daesung mengungkapkan pemikirannya.

“Ne!kau benar.. pembunuh yang kita cari bukan sekedar orang biasa..” ucap Jiyong dengan mata menatap tajam kesatu sisi dan agak menyipitkan matanya, “Bisa saja orang yang membunuh dua gadis ini adalah orang yang memiliki kalung yang kita cari..”

“Jadi, kita akan menyelidiki kematian Lee Chaerin?” Tanya Taeyang.

Jiyong memandang teman-temannya bergantian, “Ne, caritau dimana rumah sakit tempat jasadnya berada. Kita harus mencari tau lebih lanjut..” ucapnya serius.

 

=2ne1’s Mission=

Bom menghentikan mobilnya di parkiran yang menghadap ke pintu masuk dan memperhatikan sebuah taxi berhenti di depan pintu masuk. Lalu turun Dara dengan jaket dan celana jeans.Gadis itu memandang kearah mobilnya, memastikan dirinya sudah disana.Lalu melangkah masuk. Kepalanya memandang ke jendela, melihat ke halte bis yang tak jauh dari sana. Sebuah bus berhenti dan beberapa orang turun.Salah satunya adalah Minji yang mengenakan baju hangat dan celana jeans, juga syal di leher.Gadis itu juga memandang kearah mobilnya sambil berlalu. Sekarang ia harus menunggu kedua temannya mencari informasi. Ini sudah rumah sakit ke 5 yang mereka datangi malam ini.Tangannya terulur dan mengambil ponsel, lalu melihat jamnya.Sudah pukul 11 malam.Mereka bahkan harus mencari alasan untuk Minji agar bisa menginap di markas pada pamannya.Setelah beberapa saat menunggu, ia kembali teringat dengan paket yang ia dapatkan di kantor. Kepalanya menoleh ke tasnya di kursi sebelah, lalu mengambil box yang ia masukkan sebelumnya. ‘Siapa yang mengirimkannya ya?’ batinnya penasaran sambil membuka bungkusan itu.begitu box terbuka, dahinya menemukan sebuah ponsel. Ia meletakkan box itu di pangkuannya dan mengambil ponsel tadi sambil memperhatikannya, tidak terlihat ada sesuatu yang aneh.Ia menghidupkan benda itu dan menunggu beberapa saat. Tak lama wallpaper ponsel itu muncul, ia tertegun melihat photo siapa yang ada disana. “Chaerin?” gumamnya pelan. Matanya kembali memandang box, ingin tau apakah ada sesuatu yang lain. Ia menemukan sebuah kertas dan langsung mengambilnya. Ia sempat kesulitan membacanya karena disana gelap.

Hanya itu pesan yang tertulis disana.“Audio?” ucap Bom bingung, lalu mencari folder audio di ponsel yang sepertinya milik Chaerin itu.hanya ada satu file, berjudul Oh Sekyung. Dahinya berkerut dan membuka file audio itu. juga mendengarkannya dengan cermat.

Terdengar suara pintu terbuka dari kejauhan, “Oh..oppa..” ucap seorang gadis ceria.

Langkah kaki terdengar mulai mendekat.

“Mmm.. waeyo oppa? Kenapa wajahmu sepert itu?” Tanya gadis tadi manja.

“Miane..” ucap seorang pria pelan.

“Wae?” Tanya gadis tadi bingung, “O-oppa?Waekeure? Oppa!! Aaahhkkkk!!!” terdengar seperti gadis itu tercekik dan audio berakhir.

Mata Bom membesar dan menatap ponsel Chaerin tak percaya, ia tau sekarang. Bukti ini yang membuat leader-nya di bunuh.Karena gadis tangguh itu sudah mengetahui siapa yang membunuh Oh Sekyung. Dan sepertinya Chaerin sudah menduga hal itu, kerena itu ia mengirimkan ponselnya pada Bom agar bukti tersebut tidak hilang.

Sementara itu.

Dara menghampiri meja informasi dengan wajah khawatir, “Permisi..”

Gadis di meja informasi berdiri, “Ne, ada yang bisa kubantu nona?”

“Mm.. itu, temanku menjadi korban pembunuhan. Kudengar sekarang jasadnya ada di rumah sakit ini. Apa aku bisa melihatnya?” Tanya Dara dengan mata berkaca-kaca.

Gadis itu langsung memandang computer di depannya, “Bisa anda sebutkan siapa nama teman anda nona?”

“Lee Chaerin..namanya Lee Chaerin..” jawab Dara.

Gadis tadi langsung terpaku, lalu memandang Dara. “Ohh..kami tidak punya nama pasien Lee Chaerin, nona..” ucapnya pelan.

Dara tertegun, “Ne?jeongmalyo?”

Gadis tadi mengangguk, “Ne, mungkin jasadnya langsung di bawa pihak keluarga nona. Anda bisa langsung kerumah duka..”

“Ohh..eoteokhe? Keluarganya ada diluar negeri..” ucap Dara panic, “Keurom, terima kasih..” ucapnya dengan wajah super sedih, lalu berbalik dan melangkah meninggalkan ruang informasi. Wajahnya berubah tanpa ekspresi dan melirik Minji yang duduk di bangku tunggu sambil bermain laptop seperti ia seorang penungu pasien. Ia terus berjalan hingga melewati gadis muda itu. satu tangannya terangkat dan memegang earphone tersembunyi di telinga kanannya. “Dia disini..” ucapnya pelan.

Minji mendengar ucapan Dara, begitu juga dengan Bom yang masih menunggu di mobil.Ia menutp laptopnya dan bergerak bangkit, lalu berjalan kearah ruang mayat. “Bom eonni, aku akan memanipulasi cctv di sekitar ruang mayat. Kau bisa masuk 10 menit lagi..” ucapnya pelan.

Diluar. Bom mendengar ucapan Minji dan menyimpan ponsel Chaerin kembali masuk ke tasnya, “Aku mengerti..” ucapnya pelan. Lalu memandang jam di ponselnya. Sekitar 9 menit kemudian, iamengambil tasnya dan keluar dari mobil. Dengan gaya arogan ia melangkah menuju ruang mayat tanpa di sadari siapa pun. Ketika itu ia berpapasan dengan Dara yang berdiri dengan punggung tersandar di lorong. Temannya itu sekarang bertugas mengawasi siapa saja yang melintas menuju kamar mayat. Beberapa langkah sebelum mencapai pintu ruang mayat, ia melihat Minji duduk dengan kaki bersila dengan laptop di pangkuannya.

Minji memandang Bom dan mengedipkan matanya tanda gadis itu sudah bisa masuk kesana.

Bom melangkah tenang menuju kamar mayat dan masuk.Ia memperhatikan kedalam beberapa saat memastikan tidak ada orang disana. Lalu melangkah masuk perlahan sambil memandang lemari penyimpanan mayat.Ia berusaha menebak dimana mereka menyimpan jasad Chaerin. Ia meletakkan tasnya di meja dan berjalan kesekitar lemari penyimpanan sambil membaca nama yang tertera di sudut kanan masing-masing cabinet. Tapi tidak ada satu pun yang bertuliskan Lee Chaerin.‘Apa mereka memindahkannya ke suatu tempat?’ batinnya.

Ia melangkah semakin dalam dan menemukan sebuah pintu, ia menghampiri pintu itu dan membukanya perlahan. Ia juga memperhatikan sesaat, memastikan tidak ada siapa pun disana. Tapi ada sesosok tubuh yang tertutup kain putih.Ia memandang tulisan di pintu, ternyata itu ruang otopsi. Ia melangkah masuk dan menghampiri sesosok tubuh itu. perlahan tangannya terulur dan membuka kain yang menutupi bagian kepala jasad itu. hatinya langsung terasa teremas sesuatu melihat gadis berambut pirang itu. pertahanannya hampir runtuh, namun ia langsung menahan air matanya dan menguatkan dirinya. “Aku menemukannya..” ucapnya pelan, memberitau Dara dan Minji.

Minji dan Dara diluar langsung tertegun.

“Apa kondisinya buruk?” Tanya Dara.

“Ani, ia masih terlihat seperti ketika ia masih hidup..” jawab Bom sambil memandangi wajah Chaerin. “Aku akan memeriksanya..” ucapnya, lalu mengambil sarung tangan karet dan mengenakannya. Ia membuka kain itu hingga memperlihatkan tubuh sempurna Chaerin. Ia mulai melakukan pemeriksaan. Setelah bertahun-tahun merawat Hayi, ia cukup mengerti soal medis sekarang. Tidak ada luka atau pun lecet dikulit leadernya itu.ia mengambil tangan kiri gadis itu berlahan dan memperhatikan kukunya, lalu beralih ke tangan yang lain. Dahinya berkerut melihat kuku di dua jari Chaerin patah.Gadis itu selalu menjaga keindahan kukunya, pasti ada alasan logis tentang ini.Ia memperhatikan patahan itu. ingatannya langsung tertuju pada jas Teddy yang tiba-tiba sobek di sisi kanan. Pertama, Teddy dicurigai Chaerin menjadi kaki tangan Kim Jungmo.Kedua, Oh Sekyung bunuh diri setelah terlihat bersama Kim Jungmo.Mungkin saja semua ini ada hubungannya.

“Eonni, kita tidak bisa terlalu lama disini..” ucap Minji pelan di telinga Bom.

Bom menghela nafas dalam, “Ne, aku mengerti..” ucapnya.

“Aku akan melihat situasi disekitar sini..” ucap Dara pelan dan melangkah pergi.

“Eonni, aku menunggumu di ruang tunggu..” ucap Minji dan menutup laptopnya, lalu berjalan pergi.Ia berjalan dengan wajah tertunduk sedih menuju ruang tunggu. Chaerin memberikannya motivasi yang positif untuk hidup. Jika tidak bertemu Chaerin, mungkin ia masih menjadi gadis biasa yang terus kesepian. DUK!! Ia menabrak seseorang. “Aww..” rintihnya sambil memegang bahu.

“Agassi, kau seharusnya berhati-hati..” ucap pria bertubuh tinggi dingin.

Minji membungkuk sopan, “Cesonghamida..” ucapnya menyesal dan memandang pria itu sekilas. Lalu bergerak duduk ke kursi ruang tunggu.

Pria tadi dihampiri seorang perawat pria, “Bagaimana dia?” tanyanya pelan.

“Semuanya berjalan lancar, tuan..” jawab perawat pria itu.

“Aku akan membawanya pagi ini, pastikan tidak ada yang mengetahui tentangnya hingga aku membawanya pergi.” Ucap pria tadi mengingatkan.

Perawat pria tadi mengangguk, “Arasso..”

“Tapi, dia tidak mati kan?” Tanya pria tadi serius.

“Aniya, ini hanya karena pengaruh obat.Jantungnya berdetak sangat lambat hingga membuatnya terlihat seperti meninggal. Asal dokter senior tidak memeriksanya, tidak akan ada masalah..” jawab perawat itu pelan.

Pria tadi tersenyum tipis dan memegang bahu sang perawat, “Aku akan mentransfer bayaranmu..” ucapnya sembari melangkah pergi.

Minji yang mendengar pembicaraan kedua pria itu berpura-pura sibuk dengan laptopnya, matanya melirik pria tinggi tadi.‘Siapa yang dia maksud?’ batinnya curiga.

Bom kembali meletakkan tangan Chaerin dan menyelimuti tubuh leadernya sambil menatap wajah cantik gadis itu, matanya mulai berair mengingat gadis itu kini sudah tiada.‘Aku berjanji akan mengungkapnya, Chaerin. Terima kasih atas keteguhanmu..’ batinnya, lalu menutup wajah gadis itu perlahan. Tapi, begitu beberapa detik menutup wajah leadernya itu, ia tertegun karena merasa ada sebuah kejanggalan.Tangannya kembali menarik kain tadi untuk melihat leher Chaerin, dahinya kembali berkerut. ‘Bukankah dia dicekik?’ batinnya tak mengerti, karena tidak ada bekas apa pun di leher gadis itu. ia menarik satu sarung tangan karetnya dan memegang urat nadi besar di leher Chaerin dengan permukaan jari telunjuk dan tengahnya. Tidak terasa ada denyutan.Ia memejamkan mata dan menekan lebih keras. Saat itu, matanya kembali terbuka dan menatap Chaerin tak percaya. “Chaerin-a.. Ya..Lee Chaerin!” panggilnya sambil mengguncang tubuh gadis itu.

Dara berdiri disebelah pilar besar di depan rumah sakit sambil menyeka air matanya, ia tak bisa menyembunyikan perasaan sedihnya mengetahui leadernya mati. sebuah mobil berlalu di tak jauh di depannya. Ia memandang mobil itu sambil menenangkan diri. Namun ia langsung tertegun melihat siapa yang duduk di kursi kemudi. Teddy. Ia langsung bersembunyi di balik pilar sambil memperhatikan pria itu.

Teddy menghentikan mobilnya di depan rumah sakit dna terlihat menunggu seseorang, sesekali pria itu memandang ke arah pintu.

Dara memperhatikan lebih serius, ‘Mencurigakan..’ batinnya. Akhirnya ia melihat seorang pria bertubuh tinggi dengan jubbah hitam keluar dan masuk ke mobil. Kedua pria itu berbicar sejenak, lalu tersenyum sinis dan pergi. Ia benar-benar tidak tau apa yang harus ia pikirkan saat itu, karena hanya satu yang ada dipikirannya. Teddy membunuh Chaerin.

“Ya!Aku butuh kalian sekarang!!” seru Bom diseberang.

Dara dan Minji tertegun mendengar seruan Bom, lalu kembali melangkah ke kamar mayat tadi. Mereka tiba di sana namun tetap bersikap seperti orang asing. Dara membuka pintu dan masuk duluan.

“Bom..” panggil Dara.

Minji masuk sambil menutup pintu.

Bom berlali keluar dari ruang otopsi dengan wajah panic, “Ya!Aku butuh pakaian kalian!”

Minji dan Dara menatap Bom kaget.

 

 

<<Back           Next>>

Advertisements

2 thoughts on “Mr and Mrs Choi [Chapter 11]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s