Chapter · YG Family

Mr and Mrs Choi [Chapter 8]

8

—I’m Not Jealous, Just….—

Seunghyun tertegun, “Mmm.. aniya, hanya ingin tau.. Kalian terlihat sangat akrab..” ucapnya memberitau, ia harus berhati-hati agar Bom tidak mengetahui status agentnya.

“Mmm.. aniya, Park sajangnim hanya seseorang yang membantku..” jawab Bom.

Seunghyun mengangguk mengerti, “Mm.. ohya, tadi aku tidak sengaja melihatmu bersamanya di balkon kantor.. Mmm.. apa dia yang memberikanmu minuman itu?”

“Mmm.. ne..” jawab Bom pelan, ia ingat Teddy sedang mengincarnya sekarang.

“Errr.. Bom, ini hanya perasaanku saja. Tapi sepertinya Park sajangnim memiliki niat buruk padamu..” ucap Seunghyun, berusaha memberikan pandangan secara umum.

Bom tertegun memandang Seunghyun.

“Mmm.. Aku tidak ingin berburuk sangka, tapi sebelumnya aku melihat Park sajangnim memasukkan sesuatu ke minuman yang akan ia berikan padamu..” ucap Seunghyun berbohong agar dia bisa melindungi Bom.

Mata Bom membesar, ternyata perasaannya tentang minuman itu tidak salah. Beruntung ia tak sempat meminumnya. “Eoeteokhe?” ucapnya bingung.

Seunghyun menggenggam tangan Bom, “Gwenchana, aku akan berusaha melindungimu. Mulai sekarang, jangan terlalu dekat dengan Park sajangnim. Arasso?”

Bom mengangguk mengerti, “Tapi.. apa menurutmu kejadian tadi ada hubungannya dengan Park sajangnim?”

Seunghyun diam sejenak, “Kau tenang saja, aku akan meminta orang menyelidikinya.”

Bom merasa aman karena Seunghyun ada bersamanya. Ia seperti kembali ke 10 tahun lalu, saat pertama kali ia merasa jatuh cinta pada pria di hadapannya.

Seunghyun tersenyum, “Aku juga akan meminta kemanan di rumah sakit lebih di tingkatkan untuk adikmu..”

Bom tersentuh mendengar perhatian Seunghyun pada adiknya, “Seunghyun, kau tau apa yang selalu aku sukai darimu?”

Seunghyun tertegun, “Ne? mwo?” tanyanya ingin tau.

Bom tersenyum dan menatap Seunghyun tulus, “Kau benar peduli pada adikku..”

Seunghyun merasa ada udara segar yang masuk ke dadanya dan membuat semuanya terasa ringan, perlahan bibirnya membentuk senyuman. “Keurom, kenapa aku tidak peduli padanya?”

“Mmm.. Pergilah temui ibumu.. Dia pasti mencarimu sejak tadi..” ucap Bom.

Seunghyun mengangguk pelan, “Ne..” ucapnya, “Aku pergi sekarang.” Ucapnya berat karena ia masih ingin disana.

Bom memperhatikan Seunghyun bangkit dan berjalan pergi. Bibirnya kembali membentuk senyuman karena hubungan mereka menjadi lebih baik sekarang.

 

=Markas 2ne1=

Terjadi pertemuan mendadak karena Chaerin menemukan bukti baru mengenai Teddy. Dirinya, Dara dan Minji berkumpul di markas sementara Bom yang harus menemani Hayi ikut menggunakan video call.

“Eonni, apa adikmu baik-baik saja?” Tanya Chaerin.

Bom menghela nafas dalam dan mengangguk, “Ne, seseorang berhasil menggagalkan penculikannya..”

“Jadi, Teddy oppa termasuk komplotan Kim Jungmo?” Tanya Dara tak percaya.

Chaerin memandang Dara, “Aku belum yakin, tapi sepertinya begitu..”

“Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang eonni?” Tanya Minji cemas.

Chaerin memandang Minji, “Teddy oppa tidak tau tentang kau yang bergabung dengan timku, dan jangan sampai dia mengetahuinya. Araso?”

Minji mengangguk.

“Tapi, jika Teddy oppa berkomplotan dengan penjahat itu. kenapa dulu dia membantuku untuk menjadi agent di Amerika?” Tanya Bom tak mengerti.

Chaerin memandang layar plasma besar di depannya, “Mmm.. aku belum tau eonni. Tapi kita benar-benar harus berhati-hati sekarang..” ucapnya.

“Ya miss leader.. Bagaimana dengan posisi Bom? Dia bekerja di perusahaan yang sama dengan Teddy oppa dan Kim Jungmo..” ucap Dara.

Chaerin diam sejenak untuk berpikir dan menatap Bom, “Teddy oppa bukan orang yang mudah di akali..” ucapnya, lalu tersenyum evil. “Tapi kita bisa mengikuti permainannya..”

 

=Kamar Perawatan Hyeyoung=

Seunghyun duduk di sebelah tempat tidur ibunya sambil memikirkan Bom, ‘Apa dia baik-baik saja seorang diri?’ batinnya khawatir.

Hyeyoung menatap Seunghyun sebal, “Ya.. kau pasti memikirkan gadis itu kan?”

Seunghyun memandang Hyeyoung aneh, “Nugu? Aku hanya memikirkan pekerjaanku eomma..” ucapnya.

“Aissh… selalu saja begitu. Sejak awal kalian menikah eomma sudah melarangmu kan?! Sekarang kau jadi banyak masalah karena gadis itu!” ucap Hyeyoung kesal.

Seunghyun berusaha menahan rasa kesalnya, “Eomma, memangnya apa kekurangan Bom? Dia cantik dan pintar, jika eomma tidak terus-terusan menekannya kami tidak akan bertengkar terus..”

“Pokoknya eomma tidak suka! Ya tidak suka!” ucap Hyeyoung kesal.

Seunghyun memutar bola matanya kesal, tiba-tiba ia teringat ucapan Bom sebelumnya. “Oh ya… eomma, apa eomma pernah menyiram Bom dengan cappuccino?”

Hyeyoung tampak kesal, “Aissh.. dia mengadu padamu? Dasar gadis cengeng!”

Seunghyun tertegun, “Eomma?!”

“Wae?! Eomma sudah berbicara dengan tenang, tapi dia tetap berkeras tidak ingin berpisah darimu!! Menurutmu, apa eomma bisa berdiam diri saja?! Ahh.. memuakkan..” ucap Hyeyoung kesal.

Seunghyun menatap ibunya tak percaya, “Eo-eomma.. kapan eomma melakukannya?”

“Apa itu penting sekarang? Yang penting kau sudah berpisah dengannya..” ucap Hyeyoung cuek.

“Eomma, kapan eomma melakukannya?!” Tanya Seunghyun tegas.

Hyeyoung menatap Seunghyun sebal, “Kenapa kau tidak bertanya padanya?!”

“Eomma!!” seru Seunghyun emosi.

Hyeyoung menatap Seunghyun kesal, lalu menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. “Lupakan!!”

“Eomma!!! Aisssh..” ucap Seunghyun kesal.

 

=Markas Bigbang=

Seunghyun duduk dengan dahi berkerut, ia berusaha menemukan hubungan antara Teddy yang berusaha mencelakai Bom. ‘Kenapa Park sajangnim ingin meracuni Bom?’ batinnya tak mengerti.

“Daesung, ada perkembangan dengan berita kematian Oh Sekyung?” Tanya Jiyong.

“Belum 100% pasti hyung, tapi dari penyelidikanku, sepertinya Oh Sekyung bukan bunuh diri..” ucap Daesung.

“Ne, bisa saja bunuh diri karena ini sangat mencurigakan..” ucap Jiyong.

“Aku akan tetap menyelidiki siapa yang kira-kira memiliki kalung yang kita cari, kalian tetap waspada.” Ucap Taeyang pada Seungri dan Daesung.

Setelah pertemuan itu. Seunghyun menghampiri Daesung yang sedang melakukan sesuatu dengan laptop. “Daesung, apa aku bisa meminta bantuanmu?”

Daesung memandang Seunghyun bingung karena pria itu terdengar sangat serius, “Mmm.. keurom..” jawabnya sambil mengangguk.

Seunghyun melirik yang lain, memastikan tidak ada yang mendengarnya. “Hmm.. ini hanya diantara kita berdua, araso?” bisiknya.

Daesung mengangguk, “Ne, hyung..”

“Aku ingin kau menyelidiki tentang orang bernama Teddy Park, begitu kau mendapatkan informasinya. Langsung kirimkan padaku..” ucap Seunghyun setengah berbisik.

Daeseung berusaha menghapal nama itu dan mengangguk mengerti, “Ne..”

“Dan satu lagi, ini yang paling rahasia.” Ucap Seunghyun serius.

Daesung menatap Seunghyun penasaran, “Siapa lagi hyung?”

“Cari informasi tentang Park Bom..” ucap Seunghyun, “Temukan jika ada hubungan mencurigakan diantara keduanya. Dan ingat! Jangan katakan apa pun pada yang lain!”

Daesung mengangguk mengerti, “Ne, hyung!”

 

=Kantor=

Seunghyun melirik Bom yang bekerja dengan tenang, ia benar-benar ingin tau kapan ibunya menyiramkan cappuccino kewajah Bom. Namun ia terlalu canggung untuk memulai membahas itu.

Jam istirahat.

Teddy keluar dari ruangannya dan memandang Bom, “Park Bom, aku ingin membahas pekerjaan kita minggu lalu. Kau bisa makan siang denganku?”

Bom tertegun mendengar pertanyaan Teddy, “Ne?”

Jennie dan Mino sudah tidak merasa aneh jika Teddy mengajak Bom makan siang bersama.

Seunghyun bergerak bangkit, “Maaf sajangnim, Bom-ssi sudah membuat janji denganku..” ucapnya sambil mengambil tas dan baju hangatanya, lalu berjalan menghampiri Bom.

Jennie dan Mino menatap Seunghyun yang langsung mengambil tas Bom dan menarik gadis itu pergi.

Seunghyun membungkuk sopan pada Teddy dan membawa Bom pergi.

Teddy mengerutkan dahi melihat Seunghyun membawa Bom.

Seunghyun berhenti di depan lift dan menekan tombolnya, lalu memandang Bom.

“Kenapa kau berkata sudah janji denganku?” Tanya Bom heran.

Seunghyun tersenyum dan memberikan tas Bom, “Aku sudah berkata untuk menjaga jarak dengannya..” ucapnya, lalu pintu lift terbuka. “Khaja..” ucapnya sambil melangkah masuk.

Bom tersenyum tipis dan melangkah masuk ke lift, lalu berdiri di sisi kiri lift. “Hmm.. kau terdengar seperti cemburu..” candanya.

Seunghyun tertawa kecil, “Cemburu apa? Aku hanya tidak ingin Park sajangnim melakukan sesuatu padamu..”

Bom tertawa, “Ya sudah, aku akan kerumah sakit..” ucapnya begitu pintu lift terbuka dan langsung melangkah keluar.

Seunghyun tertegun melihat Bom keluar begitu saja, “Ne? ya.. Seharusnya kau makan siang dulu..”

“Ne, aku akan membelinya di jalan dan makan di rumah sakit..” ucap Bom, “Sampai nanti Seunghyun-ssi..”

Seunghyun kehilangan akal agar Bom pergi makan siang bersamanya, tapi ia tidak bisa memaksa jika gadis itu memang ingin bersama adiknya.

 

=Ruang ICU Bom=

Bom melangkah di lorong menuju ruang perawatan adiknya, ia melirik beberapa orang yang duduk disekitar sana sambil terus berlalu. Orang-orang itu adalah orang yang di perintahkan Chaerin untuk menjaga adiknya. Ia cukup tenang sekarang. Tangannya terulur membuka pintu dan melangkah masuk, adiknya sudah tidak mengenakan selang oksigen melalui mulut lagi sekarang, namun tetap saja kesadaran adiknya belum sepenuhnya pulih. “Hayi-a.. eonni datang..” ucapnya sambil mengelus rambut adiknya.

Hayi membuka matanya perlahan dan menatap Bom lemah.

Bom tersenyum dan mengecup dahi adiknya, lalu bergerak duduk. “Eonni akan menemanimu selama makan siang ini..” ucapnya sambil membuka bungkusan makanan yang ia bawa.

“Hyeong-bu(panggilan untuk ipar laki-laki)…” gumam Hayi.

Bom menatap adiknya kaget, “Ne? Hayi, kau mengatakan sesuatu?” tanyanya tak percaya.

“Hyeong-bu..” ucap Hayi lagi.

Bom tersenyum lebar mendengar Hayi benar-benar berbicara, namun sedetik kemudian ia berubah bingung. “Hyeong-bu?”

Hayi mengangguk lemah.

Bom diam sejenak mencerna maksud adiknya, “Maksudmu, Choi Seunghyun?”

Hayi mengangguk lagi.

“Ohh.. kau tau dia yang menyelamatkanmu dari penculikan ya?” ucap Bom mulai mengerti. Lalu tersenyum dan memegang tangan adiknya, “Hayi-a, kami sudah bercerai. Kau tidak perlu memanggilnya hyeong-bu lagi..” ucapnya memberitau.

Hayi hanya memandang Bom tanpa mengatakan apa pun.

“Keure, kau bisa memanggilnya apa pun yang kau mau..” ucap Bom.

 

 

<<Back           Next>>

Advertisements

One thought on “Mr and Mrs Choi [Chapter 8]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s