Chapter · YG Family

Mr and Mrs Choi [Chapter 7]

7

—Poison—

Seunghyun menyodorkan sendok bubur ke mulut ibunya, “Eomma, ppaliwa.. kau belum makan sejak kemarin..” bujuknya.

“Shiro!! Eomma mau pulang saja!!” rengek Hyeyoung.

“Eomma!!” seru Seunghyun kesal.

Hyeyoung terdiam dan menatap Seunghyun dengan mata memerah, “Kenapa kau membentak eomma? Nappeun adeul!” ucapnya dan mulai menangis seperti anak kecil.

Seunghyun menghela nafas kesal, “Ahhh.. eomma, jeongmal!” ucapnya, “Berapa usiamu?!!”

“Hmm.. shiro!! Shiro!!” rengek Hyeyoung.

Seunghyun sangat geram melihat kelakuan ibunya, “Jung Hyeyoung-ssi!! Bertingkahlah seperti usiamu!”

Di ruang ICU.

Bom membaca berkas pekerjaannya di sebelah Hayi yang masih belum sadarkan diri. Sebenarnya pekerjaan itu bukan prioritasnya karena ia akan keluar dari pekerjaan itu setelah kasus ini selesai. Matanya berpindah memandang tangan Hayi yang tergeletak di depannya. Di jari telunjuk gadis itu ada alat pendeteksi detak jantung yang di jepitkan disana. Dahinya berkerut karena merasa melihat sesuatu. Dan saat itu, jemari Hayi bergerak. Matanya membesar dan langsung menatap adiknya tak percaya, “Hayi-a!” panggilnya sambil berdiri menatap adiknya.

Mata Hayi terbuka perlahan.

Bom tersenyum lebar dan langsung menekan tombol pemanggil perawat. Tak lama seorang perawat masuk dan memeriksa keadaan Hayi.

“Bagaimana perawat?” Tanya Bom.

“Sebentar nona, saya akan memanggil dokter..” jawab perawat itu dan berjalan cepat keluar ruangan.

Bom tersenyum pada Hayi yang terlihat belum benar-benar sadar sambil menggenggam tangannya, “Hayi-a, kau mendengar eonni?”

 

=Keesokan Harinya=

“Dia sudah mengenalimu?” Tanya Bom lega dengan senyuman lebar di wajahnya mendengar penjelasan perawat Jung. “Syukurlah.. Apa dia menanyakanku?”

Seunghyun yang baru kembali setelah makan siang melihat Bom sedang berbicara di dekat balkon, ia memandang sekitar dan melangkah kearah gadis itu diam-diam. Tapi langkahnya langsung terhenti melihat Teddy muncul.

“Dia sudah sadar?” Tanya Teddy sambil menyodorkan segelas mocha dingin pada Bom.

Bom tersenyum sambil mengambil gelas kertas itu, “Ne, aku senang sekali..”

Teddy tersenyum, “Mungkin aku akan mengunjunginya..”

Seunghyun semakin penasaran dan mengendap-endap di balik dinding.

“Oh ya, oppa.. Aku mendengar tentang model yang datang bersama pejabat Kim Jungmo itu, aku terkejut sekali mengetahui dia bunuh diri..” ucap Bom prihatin.

Teddy mengangguk, “Ne, aku juga terkejut. Saat itu dia tidak terlihat depresi sama sekali..” ucapnya heran.

“Ne, sayang sekali dia hanya mengakhiri hidupnya seperti itu..” ucap Bom dan hendak meminum mochanya. Tapi ponselnya berbunyi, “Oh.. ponselku..” ucapnya dan mengambil benda itu, ia tertegun hanya nomor yang muncul, “Hm? Nugu?’ gumamnya bingung, lalu mengangkat panggilan itu. “Yoboseyo..”

Teddy meminum kopinya sambil memperhatikan Bom.

Bom tertegun, “Ne? jinja? Ohh.. ne, aku akan segera kesana..” ucapnya dan memutuskan telepon.

“Waekeure?” Tanya Teddy.

“Ohh.. oppa, pihak rumah sakit memintaku datang. Hayi ketakutan karena aku tidak disana.. Sepertinya aku benar-benar harus pergi..” ucap Bom cemas.

Teddy mengangguk, “Oh.. Keurom.. Pergilah..” ucapnya.

Bom tersenyum, “Gumopta oppa..” ucapnya sambil mengangkat kopi yang ia pegang.

Teddy tersenyum dan mengangguk. “Titip salam untuk si lucu itu..”

Bom langsung melangkah cepat meninggalkan balkon.

Seunghyun bersembunyi di balik sebuah tanaman pohon, meskipun sebenarnya ia tetap terlihat dengan jelas karena tubuh jangkungnya. Tapi sepertinya Bom memang terburu-buru ketika melewatinya. Ia melirik kearah Teddy, pria itu masih berdiri di balkon. Ketika menoleh kearah Bom, ia mengerutkan dahi melihat Bom yang berhenti di depan lift tampak gemetaran. Satu tangan gadis itu membuang kopi yang bahkan belum diminum itu ketempat sampah di dekatnya, lalu masuk ke lift. ‘Waekeure?’ batinnya tak mengerti. Ia kembali memperhatikan Teddy, pria itu melangkah keluar dari balkon dan berjalan kearah yang berlawanan dengan Bom. Setelah pria itu cukup jauh, ia kearah lift dan memperhatikan tempat sampah tadi. Kepalanya menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada siapa pun disana, lalu mendorong tutupnya ke satu sisi untuk melihat kedalam. Dahinya berkerut karena terkejut melihat cairan yang keluar dari cangkir pelastik itu juga di lapisi cairan berwarna merah. Dengan kata lain, Teddy ingin meracuni Bom. “Bommi..” gumamnya dan langsung menekan tombol lift.

Sementara itu di dalam lift.

Bom menggenggam kedua tangannya bersama ponsel gugup. Ia tak percaya mengingat penjelasan dari Chaerin yang tadi menghubunginya. Ini berarti sangat darurat karena gadis itu selalu menjaga mereka agar tidak saling berhubungan satu sama lain.

“Eonni! Teddy oppa terlibat! Jangan percaya padanya! Dia sudah mulai mencurigaimu!!” seru Chaerin di seberang.

‘Karena itu Teddy oppa tau aku di ruangan Kim Jungmo? Dia juga terlibat dengan Kim Jungmo?’ batin Bom tak percaya. Ia tertegun mengingat Teddy sempat berkata akan mengunjungi adiknya. Kedua tangannya yang gemetaran langsung membuka kunci layar ponselnya dan mendial nomor Chaerin tadi, lalu menempelkannya ke telinga. “Chaerin, aku butuh perlindungan untuk adikku!! Dia tau tentang adikku!!” serunya, lalu langsung berlari keluar dari lift begitu pintu terbuka.

Seunghyun turun menggunakan tangga darurat dan keluar dari lantai satu, ketika ia melihat ke lantai dasar, ia melihat Bom berlari keluar dari kantor. “Bommi!” ucapnya dan berlari cepat ke tangga menuju lantai bawah. Tapi ia tidak menamukan gadis itu didepan kantor, “Ahh! Kemana dia?!” serunya panic. Ia berusaha mengingat percakapan Bom dan Teddy tadi, “Dia.. kerumah sakit?” ucapnya ragu, tapi tidak ada salahnya jika melihat.

 

=Rumah sakit=

Bom terus berusaha menghubungi perawat Jung selama mengendarai mobilnya, namun tidak da jawaban. Ia memarkirkan mobilnya di depan rumah sakit dan langsung melangkah cepat masuk ke dalam.

Seorang pria dengan pakaian perawat dan masker operasi masuk ke sebuah ruangan ketika Bom berlalu, lalu menarik seseorang yang duduk di kursi roda dengan masker yang juga menutupi sebagian wajahnya.

Hayi membuka matanya namun kondisinya belum terlalu baik untuk menyadari apa yang terjadi. Ia hanya bisa duduk diam saat seseorang membawanya pergi dengan kursi roda.

Bom masuk ruang ICU Hayi, namun tidak ada siapa pun disana, “Hayi!! Perawat Jung!”

“HMMPP!!!” duk duk!

Kepala Bom menoleh ke sebuah lemari di sudut ruangan dan langsung melangkah kesana, kedua tangannya membuka pintu dan terkejut melihat perawat Jung terikat disana.

“Hmmpp!! Hmmpp!!!” seru Perawat Jung pada Bom.

Bom berlutut dan melepaskan ikatan perawat Jung, “Dimana Hayi?!”

Perawat Jung membuka lakban di mulutnya, “Bom-ssi! Seorang dengan pakaian perawat membawanya!!”

Mata Bom membesar dan langsung bangkit untuk berlari ke pintu. Ia harus menemukan Hayi sebelum orang itu membawanya.

Seunghyun menghentikan mobilnya di parkiran, lalu segera turun dan setengah berlari masuk ke gedung rumah sakit. Saat itu ia berpapasan dengan seorang perawat pria yang membawa pasien dengan kursi roda keluar, kakinya perlahan berhenti dan memandang kebelakang dengan dahi berkerut. Agak aneh melihat perawat itu karena memliki tato di lehernya, insting agent-nya muncul. Ia melangkah cepat menghampiri perawat itu, “Cokiyo..”

Perawat tadi berhenti, lalu memandang kebelakang dengan tenang. “Ne, tuan?”

Seunghyun memperhatikan ekspresi perawat tadi, “Mmm.. maaf, sepertinya aku mengenal pasien. Boleh aku melihatnya sebentar?”

Perawat tadi diam sejenak, “Maaf, kami harus segera masuk ke ambulance..” ucapnya dan kemabli mendorong Hayi.

Seunghyun menahan tangan perawat itu dan menatapnya dingin, “Kubilang, aku ingin melihatnya..” ucapnya, lalu bergerak kedepan Hayi.

Dengan cepat perawat pria itu menendang Seunghyun dan mendorong Hayi pergi.

“Aissh!! Ya!!” seru Seunghyun dan langsung mengejar pria tadi.

Bom berlari keluar dari gedung rumah sakit dan mengedarkan pandangannya, lalu kembali berlari mencari di sekitar sana.

Seunghyun menarik bahu perawat palsu tadi dan melayangkan tinjunya, namun pria itu mengelak.

Pria menghadap Seunghyun dan memperlihatkan sikap siaga untuk berkelahi.

Seunghyun mengepalkan kedua tangannya di depan wajah dan menendang pria tadi, sekali, dua kali, gerakannya dapat terbaca. Namun ia tidak akan membuang waktu lagi. ia menangkap tangan pria itu ketika hendak memukul wajahnya, lalu memutar tangan pria itu kebelakang dan menendang punggung pria itu dengan lututnya.

“Aarrggh!!” erang pria itu menahan sakit.

Seunghyun tidak mememberikan waktu untuk pria itu bernafas, dengan cepat ia mendorong pria itu ke aspal dan mengingjak punggungnya dengan lutut. “Siapa yang membayarmu?!!” serunya.

“Oh! Ada apa ini?!” seru seorang wanita yang berlalu.

Seunghyun memandang wanita itu, “Gwenchana, aku seorang….aaaarrggh!!” Ia terlontar kebelakang karena pria tadi tiba-tiba bergerak bangkit. “Aissh!!! Yaa!!!” Ia langsung melempar tubuhnya untuk memeluk kaki pria itu sebelum membawa Hayi kabur lagi. Akibatnya, pria itu tertungkai dan membuat dirinya dan kursi roda Hayi terguling.

Brukk!!

Mata Seunghyun membesar, “Hayi!” Serunya.

Pria tadi menyadari orang-orang mulai berkumpul, dengan cepat ia menendang Seunghyun yang masih memeluk kakinya.

Duaak!! “Aarrghh!!!” Teriak Seunghyun sambil memegang wajahnya.

Pria tadi langsung bangkit dan melarikan diri.

Seunghyun memandang pria itu kesal, kepalanya menoleh ke arah Hayi yang sekarang terbaring di aspal. “Hayi..” Ucapnya sambil bangkit dan menghampiri gadis itu. “Hayi-a..” Panggilnya sambil melepaskan masker gadis itu dan mengangkat tubuh gadis itu ke lengannya. “Hayi-a..” Panggilnya sambil membelai rambut Hayi.

Hayi membuka matanya dan memandang Seunghyun lemah.

Seunghyun langsung menggendong Hayi dan membawanya kembali ke rumah sakit.

Bom bertemu Seunghyun yang menggendong Hayi, “Oh! Hayi-a!!” Ucapnya sambil mengelus kepala adiknya.

“Nanti Bom! Bawa dia kembali dulu..” Ucap Seunghyun dan melangkah cepat kedalam gedung rumah sakit.

Bom mengikuti Seunghyun kembali ke ruang perawatan Hayi, beberapa perawat juga mengikuti mereka.

“Perawat! Tolong kembali pasangkan alat-alat itu!” Seru Seunghyun.

“Ne!” Jawab para perawat itu dan langsung bergerak.

“Dia baik-baik saja Bom-ssi?” Tanya Perawat Jung.

“Kuharap, perawat Jung..” Jawab Bom khawatir.

Seunghyun bergerak mundur ke sisi Bom dan memandang gadis itu, gadis itu terlihat sangat khawatir. Tubuhnya juga terlihat gemetaran.

Seorang dokter bergerak masuk dan langsung memeriksa Hayi.

“Maaf, silahkan menunggu diluar. Dokter akan memeriksa pasien..” ucap seorangperawat.

“Ayo Bom-ssi, kita menunggu diluar..” ucap Perawat Jung sambil merangkul Bom keluar.

Ruang Tunggu.

Seunghyun berdiri bersandar ke dinding sambil memperhatikan Bom yang duduk di kursi dengan wajah shock. Perawat Jung pergi membelikan minuman agar gadis itu merasa lebih baik. Ia bergerak pelan dan menghampiri gadis itu.

Bom menoleh ketika Seunghyun duduk di sebelahnya.

“Gwenchana, dia akan baik-baik saja..” ucap Seunghyun.

Bom mengangguk pelan, “Ne..”

Hening..

“Mmm.. terima kasih tadi kau sudah membawa adikku kembali..” ucap Bom tulus.

Seunghyun tertegun mendengar ucapan Bom, lalu mengangguk. “Ne..”

“Tapi, bagaimana kau tau adikku di culik?” Tanya Bom.

Seunghyun tertegun lagi, kali ini karena kaget. “Ne? oh.. mmm.. tadi.. tadi aku ingin mengunjungi ibuku, lalu aku melihat orang mencurigakan. Begitu aku memanggilnya, dia membawa pasien di kursi roda kabur. Jadi aku tangkap saja, ternyata yang dia bawa Hayi..” jelasnya dengan sedikit perubahan versi.

“Oh.. eommanim masih di rawat disini?” Tanya Bom.

Seunghyun menghela nafas lega Bom tidak curiga dengan ceritanya, “Ne..”

“Hmm..” gumam Bom pelan, “Kau bisa pergi, eommanim pasti menunggumu..”

Seunghyun tertegun beberapa saat Bom malah menyuruhnya pergi, “Mmm.. gwenchana, eomma sedang menjalani pemeriksaan. Jadi aku bisa menunggu disini..”

Bom tertegun, “Pemeriksaan? Apa penyakitnya parah?”

Seunghyun terdiam mengingat penyakit ibunya, “Mmm.. sepertinya begitu..”

Bom menatap Seunghyun ingin tau, “Ne? apa penyakit eommanim?”

“Dokter berkata eomma menderita Demensia..” jawab Seunghyun.

Mata Bom membesar, “Demensia?”

“Ne, dan itu bukan gejala awal. Dokter memperkirakan eomma sudah mengidap demensia sejak 10 tahun lalu. Tapi baru terdeteksi sekarang..” jelas Seunghyun.

“Seunghyun-a..” ucap Bom prihatin, tanpa sadar tangannya bergerak memegang punggung tangan Seunghyun. “Karena itu eommanim tiba-tiba menyerangku?”

Seunghyun mengangguk berat, “Ne.. Aku benar-benar minta maaf padamu, pasti eomma berpikir kita masih menikah. Karena itu dia menyerangmu..”

Bom mengangguk mengerti, “Hmm.. begitu.. pantas saja..” ucapnya.

Seunghyun memandang tangan Bom yang memegang tangannya dan tersenyum tipis, tangannya yang lain memegang punggung tangan gadis itu dan memandangnya. “Gumwoyo.. kau masih memperhatikan eomma meskipun dia tidak pernah baik padamu..”

Bom baru menyadari Seunghyun memegang tangannya dan segera menarik tanganya sambil menunduk canggung, “Bagaimana pun kan eommanim pernah menjadi mertuaku..” ucapnya pelan.

“Mmm.. sejak kapan Hayi mengidap kanker?” Tanya Seunghyun.

Bom menatap Seunghyun kaget, “Bagaimana kau tau?”

Seunghyun mengelus belakang kepalanya canggung, “Mmm.. aku hanya penasaran kenapa kau disini, lalu Jennie memberitauku jika kau menjaga adikmu semalaman. Jadi aku bertanya pada bagian informasi dan mereka memberitauku..” jawabnya.

Bom menghela nafas dalam dan memandang kebawah sedih.

“Sejak kapan? Kupikir dulu dia hanya mengalami gangguan pernafasan..” Tanya Seunghyun ingin tau.

Bom menghela nafas dalam dan kembali memandang Seunghyun, “Sebenarnya, ada yang ingin kuberitau padamu sejak dulu. Tapi aku terlalu takut saat itu. sekarang status kita sudah berbeda, jadi kurasa aku bisa memberitaukannya sekarang agar aku tidak merasa bersalah lagi.”

Seunghyun menatap Bom ingin tau, “Mwo?”

“Sebenarnya, adikku tidak mengalami gangguan pernafasan..” ucap Bom memulai, “Tapi dia lahir dengan kelainan paru-paru akibat ibuku mengandungnya di usia tua..” lanjutnya, membuat Seunghyun tertegun di depannya. “Dan..10 tahun lalu, setelah perceraian kita, dia mulai muntah darah dan selalu mimisan, saat itu dokter memberitauku ada sel kanker di paru-parunya..”

Seunghyun menatap Bom tak percaya, tiba-tiba ia merasa bersalah dengan semua yang menimpa gadis di depannya. “Mmm.. Maaf Bom, aku hanya ingin tau.. Apa kau menjalin hubungan dengan Park sajangnim saat di Amerika?”

Bom memandang Seunghyun bingung, “Wae?”

 

 

<<Back           Next>>

Advertisements

One thought on “Mr and Mrs Choi [Chapter 7]

  1. Wah… Ternyata si Teddy mau ngeracunin Bom!! Tapi siapa tuh yg mau nyulik Hayi?? Teddy?? o_O
    Untung Seunghyun dateng… Fiuuhh….
    Tjiee Seunghyun megang tangan Bom tjiee.. xD :v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s