Chapter · YG Family

Mr and Mrs Choi [Chapter 5]

5

—Oh My God!—

=UGD=

“Aissh.. Ya! Aku baik-baik saja!! Tunggu hingga putraku tiba!!” seru Jung Hyeyoung, Ibu Seunghyun.

“Nyonya, saya mohon tenanglah.. Anda akan pingsan lagi jika detak jantung anda kembali meningkat..” pinta perawat disana pelan.

Perawat Jung yang bersama Hayi di tempat tidur sebelah memandang Hyeyoung sebal, gadis itu masih belum sadarkan diri dan menggunakan selang oksigen yang masuk melalui kerongkongannya untuk bernafas. Ia bergerak bangkit dan membuka tirai pembatas,“Cokiyo, ahjummanim.. Tolong tenang, disini ada pasien kritis..”

Hyeyoung menatap perawat Jung kesal, “Mworagu?!Ahjumma?!YA!!”

“Nyonya.. Tolong tenangkan dirimu..” ucap perawat tadi menenangkan Hyeyoung.

“Eomma!” panggil Seunghyun sambil menghampiri ibunya.

Hyeyoung memandang Seunghyun dan langsung memeluk putranya, “Seunghyun-a, bawa eomma pulang.. Mereka melarang eomma melakukan apa pun disini..” ucapnya manja.

“Ne, changkaeman..” ucap Seunghyun pada ibunya, lalu memandang para perawat tadi. “Maaf, apa yang terjadi pada ibuku?”

Perawat Jung kembali menutup tiran dan duduk di sebelah Hayi menunggu Bom tiba.

“Ibu anda mengalami serangan jantung ringan beberapa saat lalu karena tekanan, tapi ibu anda terus saja berteriak dan membuat detak jantungnya terus meningkat..” ucap perawat tadi menjelaskan.

Seunghyun tertegun, “Ne?” ia memandang ibunya tak percaya, “Eomma, kenapa eomma selalu seperti ini? Turuti saja mereka dan semuanya akan baik-baik saja..” ucapnya.

“Shiro! Eomma tidak suka disini.. Jibe khaja..” rengek Hyeyoung.

“Eomma..” bujuk Seunghyun.

“Maaf tuan, dokter berpesan agar wali nyonya ini menemuinya begitu tiba..” ucap perawat tadi memberitau.

Seunghyun mengangguk mengerti, “Ne..” ucapnya, lalu memandang Hyeyoung. “Eomma, tunggu disini sebentar. Aku akan menemui dokter..”

“Hmm.. waeyo? Mereka akan memaksa eomma lagi..” ucap Hyeyoung.

“Ani, gwenchanayo..Mereka orang baik, arasso?” ucap Seunghyun.

Saat itu, Bom berlari di ruang UGD untuk mencari dimana Hayi.

Seunghyun tertegun karena seperti melihat Bom berlalu, ‘Bom?’ batinnya tak yakin.

Bom akhirnya menemui Hayi dan langsung menghampiri adiknya, “Oh..apa yang terjadi padanya?”

Perawat Jung berdiri, “Maaf Bom-ssi, tadi tiba-tiba Hayi berkata ia sulit bernafas. Jadi aku memasangkan selang oksigen seperti biasa, tapi tiba-tiba ia terbatuk-batuk dan memuntahkan banyak darah..”

Bom benar-benar khawatir mendengar penjelasan perawat Jung dan mengelus pipi adiknya, “Hayi-a, eonni disini..” ucapnya. Meskipun ia tau adiknya tidak akan mendengarnya. Ia memegang tangan adiknya dan menggenggamnya erat.

“Bom-ssi, dokter berpesan agar kau menemuinya begitu datang..” ucap perawat Jung memberitau.

Seunghyun keluar dari area tempat tidur ibunya sambil memandang ke kanan dan kiri, tapi tidak terlihat gadis yang menyerupai Bom tadi.“Apa perasaanku saja?” gumamnya, lalu melangkah menuju ruangan dokter.

Bom keluar dari area tempat tidur adiknya dengan wajah sedih, lalu melangkah kearah berlawanan dengan Seunghyun untuk menemui dokter.

Diruang Dokter yang berbeda.Bom dan Seunghyun duduk mendengar penjelasan dokter tentang orang yang mereka kasihi.

“Choi Seunghyun-ssi, ibumu memberikan tanda-tanda demensia..” ucap dokter yang menangani Hyeyoung, membuat Seunghyun menatapnya kaget. “Dan, jika kulihat sepertinya ini bukan gejala awal lagi..Apa ibumu pernah melakukan hal yang tidak biasa ia lakukan?”

“Ne?mmm.. ibuku memang sering melakukan hal aneh, dokter.. jadi aku tidak begitu tau, juga sejak 10 tahun lalu aku sudah tidak tinggal bersama ibuku lagi..” jawab Seunghyun.

“Aneh bagaimana Seunghyun-ssi?” Tanya dokter tadi.

“Mmm.. ibuku sejak dulu selalu emosional, juga bersikap seperti anak kecil. Bahkan ia yang manja padaku, bukan sebaliknya..” jawab Seunghyun.

Dokter itu berpikir sejenak, lalu melihat rekam medis Hyeyoung, “Bisa saja itu memang sifatnya, tapi bisa saja ibumu sudah mengidap demensia sejak lama tapi tidak ada yang menyadarinya..”

“Ne?bagaimana bisa? Ibuku selalu baik-baik saja. Nafsu makannya baik, ingatannya juga..” ucap Seunghyun.

“Seunghyun-ssi, saat ini.. Demensia ditemukan pada wanita akhir 30-an dan tidak menimbulkan gejala seperti demensia yang dialami para wanita diusia tua..” ucap Dokter itu menjelaskan, “Usia ibumu sudah 56 tahun, bisa saja sebenarnya penyakit ini sudah ia idap sejak usianya 40 tahunan, tapi ia belum menunjukkan gejalanya..”

Seunghyun mengerutkan dahi, “Apa yang menyebabkan hal itu dokter?”

“Biasanya wanita di akhir 30-an atau awal 40-an mulai mengalami demensia karena tekanan hidup atau bisa saja trauma yang terjadi oleh otak..” jelas dokter itu.

Seunghyun mengangguk mengerti, “Apakah bisa di sembuhkan dokter?”

“Kami akan mencoba semampu kami, tapi saya minta bujuklah ibu anda agar mau tinggal di rumah sakit agar kami bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut..” pinta dokter itu.

Seunghyun mengangguk mengerti, “Ne, saya akan usahakan dokter..”

Sementara itu.

Bom memperhatikan hasil photo rontgen paru-paru adiknya, terlihat ada bayangan hitam besar di paru-paru kanan adiknya.

“Terjadi pendarahan di paru-paru adikmu, Bom-ssi..anda bisa melihatnya di sekitar sini..” ucap Dokter itu sambil menunjuk bayingan hitam yang terlihat.

Bom memandang dokter itu khawatir, “Apakah pendarahannya bisa dihentikan, Dokter?”

“Saya akan berusaha menghentikan pendarahannya, tapi kemungkinan untuk terjadi lagi sangat besar Bom-ssi.Paru-paru adikmu sudah sangat parah.Sel kankernya sudah berkembang terlalu cepat dan hampir menutupi semua paru-parunya. Ia benar-benar membutuhkan donor paru-paru yang bisa menggantikan paru-parunya yang rusak..” jelas dokter itu.

“Dokter, aku bisa mendonorkan satu paru-paruku. Benarkan dokter?” Tanya Bom.

Dokter itu diam sejenak, lalu memandang data di tangannya. Tak lama ia kembali memandang Bom, “Bom-ssi, anda mengidap hemophilia. Jika anda menjalani operasi besar, itu akan berbahaya untukmu..”

“Hanya hemophilia ringan dokter, aku tidak bermasalah dengan luka atau benturan..” ucap Bom berusaha meyakinkan dokter.

“Tapi operasi memiliki resiko yang lebih besar dibanding benturan ringan atau luka kecil Bom-ssi..” ucap Dokter itu, “Anda tenang saja, pihak rumah sakit akan berusaha menghubungi bank donor dunia dan mencari apakah pendonor yang bisa membantu adikmu..”

Bom menggigit bibir bawahnya, terlihat jelas ia sangat khawatir dengan kondisi Hayi. “Apa dia masih bisa bertahan hingga donor yang tepat untuknya datang dokter?”

“Mmm.. jika kondisinya tidak memburuk, dia akan baik-baik saja..” jawab dokter itu.

 

=Malamnya=

Bom dudukdi sebelah tempat tidur Hayi diruang ICU.Gadis berusia 16 tahun itu belum sadarkan diri dan masih bernafas menggunakan selang di mulutnya.Tangannya terus menggenggam tangan gadis itu sambil mengelus punggung tangannya lembut.“Hayi-a, eonni ada disini. Kau tenang saja..” ucapnya pelan. Ia meminta perawat Jung pulang dan kembali besok harinya untuk menggantikannya menjaga Hayi.

Bom menghela nafas dalam dan bergerak bangkit perlahan, lalu melangkah keluar dari ruang ICU.Ia ingin menenangkan diri sejenak dengan berjalan-jalan di lorong.

Saat itu, Hyeyoung yang di tinggal Seunghyun di ruang perawatannya, mengendap-endap keluar karena tidak ingin tinggal disana.Ia mengenakan jubbah panjangnya dan menyembunyikan wajahnya ditudung kepala sambil melirik ke kanan dan kiri memastikan putranya tidak terlihat. Ia berbelok ke lorong dan berjalan mengendap-endap, saat itu ia berpapasan dengan Bom, namun gadis itu tidak menyadarinya. Ia berhenti dan memandang kebelakang dengan dahi berkerut, setelah beberapa saat ia yakin dengan siapa yang ia lihat. “Aissh!! Nappeun gijibe! Dia belum jera juga?!” gumamnya, lalu membuka tudung kepalanya dan berjalan cepat karah Bom.“YA!!” teriaknya.

Bom tertegun mendengar seseorang berteriak, lalu memandang kebelakang.Matanya membesar melihat Hyeyoung, “Eo-eommanim?”

“Kau!! Gadis tak tau diri!!” seru Hyeyoung dan langsung menarik rambut panjang berwarna hitam legam Bom,

“Aaahhkk!! Eommanim!! Lepaskan!! Aaahkk!!” rintih Bom sambil berusaha melepaskan rambutnya dari genggaman Hyeyoung.

Beberapa perawat berlari menghampiri mereka, “Eommanim..eommanim.. jangan seperti ini..” ucap mereka menenangkan.

“Nappeun gijibe!!Aku akan menarik semua rambut di kepalamu!!” teriak Hyeyoung dan mempererat jambakannya.

“Aahhk!!Eommanim!!!” seru Bom kesakitan.

Seunghyun mencari-cari ibunya bingung, “Aissh..eomma..” gumamnya kesal. Kepalanya menoleh mendengar keributan, ia memperhatikan sebentar dan menyadari bahwa penyebab keributan itu adalah ibunya. “Eomma!” panggilnya sambil berlari menghampiri ibunya.

“Neo!!” seru Hyeyoung sambil terus menjambak rambut Bom.

“Eommanim..hentikan..” pinta para perawat tadi.

Seunghyun merangkul ibunya dan berusaha melepaskan jambakan ibunya, “Eomma!! Hajima!! Eomma!!” ucapnya.

Hyeyoung memandang Seunghyun dan spontan melepaskan rambut Bom, “Seunghyun-a!berapa kali eomma harus berkata?! Tinggalkan dia!! Kau tidak akan bahagia jika bersamanya!!” serunya marah.

Seunghyun menatap ibunya tak mengerti, “Ne?nugunde eomma?”

“Agassi, gwenchana?” Tanya perawat tadi pada Bom dan memegang kepalanya menahan sakit.

Seunghyun memandang Bom dan langsung melotot, “Bommi?!” ucapnya tak percaya.

“Ne, gwenchana..” ucap Bom pelan.

“Seunghyun!Kenapa kau tidak pernah mendengarkan eomma?!Dia tidak akan membawa kebaikan dalam hidupmu!” seru Hyeyoung.

Seunghyun memandang Hyeyoung tak percaya, “Eomma, apa yang kau lakukan?!” tanyanya kesal.

“Aku permisi..” ucap Bom, lalu berjalan pergi.

Seunghyun tertegun melihat Bom pergi, “Bom.. Bommi..” panggilnya.

“Sudah!Biarkan saja dia!!” seru Hyeyoung.

“Maaf, tolong bawa ibuku ke kamarnya..” ucap Seunghyun pada perawat tadi, lalu mengejar Bom.

“Ya! Choi Seunghyun! YA!!” panggil Hyeyoung kesal.

“Eommanim..tenangkan dirimu, ayo kembali ke kamarmu.” Ucap perawat tadi sambil menarik Hyeyoung.

Seunghyun menemukan Bom duduk di sebuah ruang tunggu sepi sambil merapikan rambut yang acak-acakan akibat jambakan ibunya, ia menghela nafas dalam dan menghampiri gadis itu.

Bom menoleh ketika Seunghyun duduk di sebelahnya.

“Miane, eomma masih berlebihan jika melihatmu..” ucap Seunghyun menyesal.

Bom menghela nafas dalam dan memandang kebawah tanpa ekspresi, “Gwenchana, ini sudah pernah terjadi. Aku tidak terkejut lagi..” ucapnya, lalu bangkit dan hendak berjalan pergi.

Seunghyun segera berdiri dan menahan tangan Bom dengan wajah kaget, “Mwo?Kapan eomma melakukannya?”

Bom menarik tangannya dari pegangan Seunghyun dan menatap pria itu, “Semuanya sudah berlalu, lupakan saja..” ucapnya, lalu berjalan pergi.

“Bommi, kapan eomma melakukannya?!” Tanya Seunghyun tak percaya.

Bom tertegun mendengar Seunghyun memanggilnya ‘Bommi’, ia menghela nafas dalam dan kembali berbalik menatap pria itu. “Kau benar-benar tidak tau apa pun, aku tidak heran kita berakhir begitu cepat..”

“Bom, jelaskan padaku..” pinta Seunghyun, “Pertama kau berkata eomma menyirammu dengan cappuccino, lalu eomma menjambakmu. Kapan itu semua terjadi?”

Mata Bom mulai memerah menahan air mata mengingat kenangan buruk itu, lalu memalingkan wajahnya.“Aku sudah melupakannya karena berpikir hidupku akan lebih baik setelah berpisah denganmu, aku bisa meneruskan hidupku tanpa tekanan dari keluargamu.Tapi kenapa aku masih mengalami ini? Aku bahkan sudah 10 tahun tidak bertemu ibumu..Tapi kenapa ini yang pertama kali kudapatkan?!” tanyanya dengan bulir air mata berjatuhan.

Seunghyun merasa bersalah melihat Bom menangis, “Bom..”

Bom segera menyeka air matanya dan kembali menatap Seunghyun, “Tapi kejadian ini kembali menyadarkanku kalau kenangan buruk itu pernah ada, jadi aku tidak akan melupakannya lagi..” ucapnya, lalu berbalik dan berjalan pergi.

Kaki Seunghyun hendak melangkah mengejar Bom, tapi ia mengurungkan niatnya karena takut gadis itu akan semakin terluka. “Bommi..” gumamnya sedih.

 

=Ruang VIP Hyeyoung=

Seunghyun duduk di sofa mengingat ucapan Bom tadi, ia sama sekali tidak tau jika ibunya pernah melakukan hal itu pada Bom. Matanya melirik ibunya yang sudah tertidur di tempat tidur, lalu memalingkan wajahnya sambil mengenang masa lalu.

=Flashback, 10 tahun lalu=

“Bommi! Kenapa baju-bajuku masih kusut seperti ini?!” Tanya Seunghyun kesal sambil membawa baju-bajunya keluar dari kamar.

Bom keluar dari dapur dan memandang baju Seunghyun, “Kan aku sudah bilang jangan mengambil bajumu dengan mengobrak-abriknya!”

“Aissh!Tapi aku harus mengenakan baju ini sekarang!!” seru Seunghyun marah.

Bom menatap Seunghyun kesal, “Memangnya aku pembantumu?! Aku juga harus mengurusi pekerjaan rumah dan semuanya! Kenapa aku juga yang harus mengurusi baju-bajumu di lemar?!”

“Ya!Itu yang dinamakan istri!!” seru Seunghyun.

“Mwo?!Jadi kau berpikir istri itu pembantu?!!” seru Bom.Ia tertegun mencium sesuatu gosong, “Omo! Masakanku!!” serunya dan kembali berlari ke dapur.

“YA!Kau menggosongkannya lagi?!!aissh!!” seru Seunghyun marah dan masuk ke kamar.

=Flashback end=

Seunghyun menghela nafas dalam mengingat hari itu, ia dan Bom belum dewasa namun sudah berani mengambil langkah untuk menikah. Tapi usia pernikahan mereka tidak berjalan lama.Hanya satu tahun. 8 bulan menjalani bersama, 4 bulan proses perceraian yang sangat menyakitkan.

 

<<Back           Next>>

Advertisements

One thought on “Mr and Mrs Choi [Chapter 5]

  1. Omo… Jadi emg udah pernah nikah….
    Duh Hayi.. Cepetan sembuh yaa nak… 😥
    eomma nya seunghyun kenapa kasar banget ama bom?? Emg bom punya salah apa??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s