Chapter

I’m So Sorry, I Love You Girl [Chapter 23]

23

—Why Not Me?—

Hyunseung berlari masuk ke rumah sakit dan langsung menghampiri ruang perawatan Hyuna. Meskipun Jongnam berkata keadaan gadis itu sudah tak mengkhawatirkan, ia tetap merasa tidak tenang sebelum melihat kondisinya sendiri. Ia membuka pintu kamar perawatan dan masuk.

Misuk dan Jongnam langsung berdiri ketika melihat Hyunseung, “Hyunseung-a..”

Hyunseung membungkuk sopan, “Cesonghamida eommanim, abeunim.. Aku tidak mendengar panggilan di ponselku..” Ucapnya menyesal.

Misuk memegang bahu Hyunseung, “Miane, kau pasti lelah..”

Hyunseung menggeleng pelan, “Animida, eommanim..” Ucapnya, lalu memandang ke arah tempat tidur. Tampak Hyuna terbaring disana dengan selang yang masuk melalui mulut, “Apa yang terjadi?” Tanyanya sambil menghampiri tempat tidur.

“Eunji berkata dia mengalami gagal pernafasan ringan..” Jawab Jongnam.

Hyunseung menatap Jongnam kaget, “Ne?” Ucapnya, lalu menatap Hyuna tak percaya. “Kenapa bisa sampai seperti ini?” Tanyanya, lalu memeriksa mata gadis itu dan memandang layar pendeteksi detak jantung.

“Mmm.. Dia mengurung dirinya sejak kalian bertengkar..” Jawab Misuk sambil mengelus belakang kepala.

Hyunseung tertegun dan memandang Misuk.

“Mungkin Hyuna merasa sangat menyesal hingga tak mau beranjak dari tempat tidurnya dan hanya menangis semalaman..” Ucap Misuk.

“Yobo, gwenchana.. Dia hanya butuh waktu untuk menjadi dewasa..” Ucap Jongnam menenangkan istrinya.

Hyunseung menatap Hyuna yang masih belum sadarkan diri, ‘Miane, Hyuna..’ Batinnya. Tangannya bergerak mengelus pipi gadis itu dan menggenggam tangannya.

Jongnam menyadari tatapan khawatir Hyunseung pada Hyuna, ia merasa bersalah karena membuat pria yang sudah seperti putranya sendiri itu terluka. Ia juga yakin putrinya seperti ini karena Hyunseung.

Eunji melangkah ke ruang perawatan Hyuna untuk melihat apakah gadis itu sudah sadar atau belum, karena dia hanya dokter di ruang UGD, dia tidak bisa menangani gadis itu setelah keluar dari ruang UGD. Namun begitu berbelok dari lorong, ia spontan berhenti melangkah melihat Hyunseung dan Jongnam sedang berbicara. Ia bisa merasakan dua pria itu membicarakan hal yang serius, jadi ia mundur dan kembali ke balik tembok.

Jongnam menghela nafas dalam dan memandang Hyunseung, “Kau masih memiliki perasaan itu untuk Hyuna?”

Hyunseung menunduk menyesal, “Aku akan tetap memperlakukannya seperti adikku abeunim…”

Jongnam menatap Hyunseung sedih, “Apa kau yakin?”

Hyunseung tertegun, lalu memandang Jongnam. “Abeunim, jika aku tidak bisa. Apa abeunim tidak keberatan?”

Jongnam diam sejenak menatap Hyunseung, lalu memandang kebawah sambil mengelus belakang kepalanya. Ia menghela nafas dalam dan kembali memandang Hyunseung, perlahan ia maju dan memegang bahu pria muda itu. “Suatu saat nanti, saat kau menjadi orang tua.. kau akan mengerti mengapa abeutji melakukan ini..” ucapnya pelan.

Hyunseung merasakan sesuatu yang berat menggantung di dadanya, lalu menundukkan kepalanya. Dengan berat hati kepalanya mengangguk mengerti, “Ne, abeunim..” ucapnya pelan.

Jongnam menepuk bahu Hyunseung perlahan, lalu berbalik dan melangkah pergi meninggalkan ruang perawatan Hyuna.

Hyunseung masih berdiri ditempatnya memikirkan dia dan Hyuna tidak mungkin bersama. Setelah beberapa saat, dia mendengar langkah seseorang dan menoleh.

Eunji tersenyum, “Masuklah.. Dia pasti akan mencarimu..” ucapnya.

Hyunseung memejamkan matanya dan memegang dahinya.

Eunji seperti bisa merasakan apa yang dirasakan Hyunseung saat ini, tangannya terangkat dan memegang bahu pria itu. membuat temannya kembali memandangnya, “Kalau begitu, pulanglah.. Jangan berikan harapan lagi untuknya..”

Hyunseung tidak tau apa yang harus ia lakukan sekarang, namun jalan satu-satunya untuk tidak menampakkan dirinya pada Hyuna sekarang. “Keure, aku pergi sekarang..” ucapnya, lalu melangkah pergi.

Eunji memperhatikan Hyunseung pergi beberapa saat, lalu menghampiri pintu dan masuk. Bibirnya membentuk senyuman melihat Misuk duduk di sebelah tempat tidur Hyuna, sementara gadis itu duduk di tempat tidurnya. “Annyeonghaseo..” sapanya.

Misuk tersenyum lebar, “Oh.. Eunji-a..”

Eunji menghampiri tempat tidur, “Annyeong Hyuna-a, bagaimana kondisimu?”

Hyuna menghela nafas kesal melihat Eunji muncul, namun ia tidak bisa membohongi dirinya untuk tidak berhutang budi pada gadis itu karena telah menyelamatkan nyawanya di ruang UGD.

“Mungkin tenggorokanmu akan terasa agak tidak nyaman beberapa saat karena selang yang dimasukkan sebelumnya, tapi tidak akan lama..” ucap Eunji menjelaskan.

“Ne..” jawab Hyuna pelan tanpa memandang Eunji.

Misuk tersenyum dan memandang Eunji, “Mmm.. Eunji-a, neomu gumawo..”

Eunji menggeleng pelan, “Aniya eommanim, aku hanya melakukan tugasku sebagai dokter. aku senang Hyuna sudah kembali membaik..”

Misuk memegang tangan Eunji dan mengelus punggung tangannya, “Eomma senang Hyunseung bertemu gadis sepertimu..”

Eunji tersipu, “Gamshamida, eommanim..”

Hyuna melirik ibunya kesal dan kembali memalingkan wajahnya.

“Keurom, jam kerjaku sudah selesai. Aku akan kembali ke rumah..” ucap Eunji.

“Ohh.. ne, lain kali mampirlah lagi kerumah kami..” ucap Misuk sambil tersenyum.

Eunji mengangguk, “Ne, eommanim.. Annyeonghaseo..” ucapnya sopan, lalu memandang Hyuna. “Hyuna-a, jika kondisimu terus membaik. Mungkin sore ini atau besok pagi kau sudah bisa pulang..” ucapnya. Lalu membungkuk sopan dan melangkah keluar.

Misuk menatap Eunji senang, lalu memandang Hyuna yang masih memalingkan wajah. Ia menghela nafas dalam dan mengelus rambut putrinya, “Hyuna-a, bukankah dia gadis yang baik untuk Hyunseung?”

Hyuna kembali merasa kesal dan sakit di hatinya. Bukan karena Eunji datang, tapi karena gadis itu memang sangat baik untuk Hyunseung.

Misuk memegang kedua pipi Hyuna dan menatapnya dalam, “Hyuna-a, oppa hanya menganggapmu adik. Kau harus menerimanya..” ucapnya pelan, “Jangan buat oppa merasa tidak nyaman dan bersalah.. Araso?”

Mata Hyuna mulai memerah menahan air mata, “Eomma, kenapa bukan aku?” tanyanya pelan.

Misuk menghela nafas dalam dan mengelus pipi putrinya, “Karena kau akan bersama pria yang lebih baik, sayang..”

“Tapi Hyunseung oppa yang paling baik eomma..” ucap Hyuna dan mulai menangis lagi.

“Ssshh.. uljima, Hyuna..” Misuk memeluk Hyuna dan mengelus punggungnya lembut.

 

=Cube High School=

Junhyung berdiri di depan sekolah dengan kedua tangan masuk ke saku. Ia tidak peduli orang-orang yang keluar memandangnya bingung karena sudah di keluarkan dari sekolah itu. ia hanya ingin menunggu seseorang karena tidak bisa berhenti merasa terganggu karena sikapnya, Kwon Sohyun.

Sohyun akhirnya keluar dari sekolah dan tertegun melihat Junhyung berdiri dengan berani di depan sekolah dengan seragam dari sekolah lain. Ia melangkah menghampiri pria itu karena tau pria itu pasti menunggunya.

“Aku harus berbicara padamu!” ucap Junhyung dan menarik tangan Sohyun.

Sohyun menarik tangannya dan memandang Junhyung, “Sanbae, Hyuna masuk rumah sakit kemarin. Kunjungilah dia..” ucapnya, lalu membungkuk sopan dan berjalan pergi.

Junhyung terkejut mendengar Hyuna masuk ke rumah sakit, namun ia tidak langsung pergi melainkan menatap Sohyun yang terus berjalan pergi. Ia mempercepat langkahnya dan menarik tangan Sohyun, “Ayo kita kunjungi Hyuna..”

Sohyun diam sejenak mendengar ucapan Junhyung, lalu menggeleng pelan. “Kau saja.. Aku menunggu dia kembali saja..”

Dahi Junhyung berkerut, “Kenapa kau seperti ini? Dia telah membantumu keluar dari masalah mengerikan kemarin, kau bahkan tidak memperlihatkan rasa simpatimu padanya?”

Sohyun menghela nafas dalam, lalu memandang Junhyung. “jika aku mengunjunginya. Aku hanya akan semakin terlihat menyedihkan..”

“Apa maksudmu?” Tanya Junhyung.

Sohyun menatap Junhyung tanpa sedih, “Sanbae, kenapa kau selalu membuang waktumu untukku? Kunjungi saja Hyuna, mungkin dia sudah menunggumu..” ucapnya pelan, lalu melepaskan pegangan tangan pria itu dari tangannya.

Junhyung merasakan sesuatu yang aneh mendengar ucapan Sohyun, ia diam sejenak memandang gadis itu. tangannya kembali terulur dan memegang tangan gadis itu.

Sohyun memandang Junhyung tak mengerti.

“Kalau begitu, ayo habiskan waktumu bersamaku..” ucap Junhyung dan menarik Sohyun pergi.

Sebuah kafe.

Sohyun memandang Junhyung tak mengerti, “Sanbae, kenapa kau melakukan ini?”

Junhyung memandang Sohyun, “Kau bilang jangan membuang waktuku untukmu, jadi aku yang kan membuang waktumu untukku..” jawabnya dan tersenyum.

Sohyun menatap Junhyung tak mengerti, “Waeyo?”

“Hanya ingin..” ucap Junhyung dan mengangkat tangan untuk memanggil pelayan.

“Karena aku gadis yang kau bantu demi menarik perhatian Hyuna?” Tanya Sohyun.

Junhyung terpaku dan memandang Sohyun.

Hati Sohyun terasa sangat sakit, matanya mulai memerah menahan air mata.

“Annyeonghaseo, kalian sudah akan memesan?” Tanya seorang pelayan yang datang.

Sohyun memalingkan wajahnya, “Ani, aku akan pergi..” ucapnya sembari bangkit dan melangkah pergi.

Junhyung berusaha mencerna ucapan Sohyun, lalu bangkit dan mengejar gadis itu keluar kafe.

Sohyun menyeka air matanya yang mulai berjatuhan.

“Kwon Sohyun..” panggil Junhyung.

Sohyun berhenti melangkah, namun tidak langsung berbalik.

Junhyung menghela nafas memandang gadis yang masih berdiri membelakanginya itu. ia menghela nafas dalam dan melangkah maju mendekati gadis itu.

Sohyun berbalik untuk memandang Junhyung, namun ia langsung di kejutkan dengan pelukan pria itu ke tubuhnya. Matanya membesar merasakan kedua tangan kekar pria itu. “S-sanbae?”

Junhyung sendiri tidak tau mengapa ia melakukan ini, tapi hatinya merasa ini akan mencairkan suasana tidak enak diantara mereka.

Sohyun terpaku di pelukan Junhyung.

Junhyung melepaskan pelukannya dan memandang Sohyun, “Aku tidak tau mengapa aku melakukan ini, tapi sepertinya aku harus memberikan waktuku untukmu..” ucapnya canggung.

Sohyun mengedipkan mata tak mengerti, lalu tersenyum.

Junhyung tersenyum dan menggenggam tangan Sohyun, lalu membawa gadis itu berjalan bersamanya.

 

=Beberapa Hari Kemudian=

Hyuna tetap mengurung dirinya di kamar dan tidak mau pergi kemana pun selain berbaring di tempat tidurnya. Ia menyadari dirinya belum dewasa dan membutuhkan waktu lama untuk mengerti apa yang sebenarnya harus dan tidak ia lakukan.

Sore itu, ia duduk di atas tempat tidur sambil memeluk lututnya. Hyunseung sama sekali tidak menghubunginya, dan itu membuat hatinya terasa hampa. Ia menghela nafas dalam dan mengambil ponselnya. Jarinya ragu-ragu membuka halaman pesan dan memasukkan kontak Hyunseung dalam kolom penerimanya. Ia sempat ragu beberapa saat dan memandang sekitar kamarnya beberapa saat, lalu kembali membulatkan tekadnya dan mengetikkan pesan untuk Hyunseung.

Ditempat lain.

Hyunseung masuk ke ruang loker sambil memperhatikan Dujun yang sedang membaca sesuatu di i-padnya. “Sudah bersiap pergi?” ledeknya karena melihat temannya sudah sangat rapi.

Dujun memandang Hyunseung dan tersenyum, “Aku punya janji special malam ini..” ucapnya, “Oke, bye..” ia melambai pada temannya itu dan melangkah keluar.

Hyunseung tertawa kecil dan membuka jas putihnya, lalu mengganti pakaiannya dengan sweater dan celana jeans santainya. Tidak lupa ia mengambil tas ranselnya dan melangkah keluar dari ruang ganti. Begitu ia keluar, ponselnya berbunyi menunjukkan ada pesan masuk. Ia mengeluarkan ponselnya dan melihat siapa yang mengiriminya pesan. Langkahnya terhenti membaca nama ‘Hyuna’ di kolom pengirim. Matanya bergerak membaca apa yang dikirimkan oleh gadis itu.

 

From: Hyuna

Oppa, apa kau masih marah padaku? Aku sama sekali tidak marah atau membencimu karena kau menamparku.. Aku mengerti sekarang, kau selalu menjagaku dan ingin yang terbaik untukku karena kau oppaku. Maafkan aku karena telah keras kepala untuk memaksamu menyukaiku juga. Aku tidak ingin kehilanganmu sebagai oppaku. Aku akan berusaha menjadi lebih dewasa sekarang oppa, kumohon jangan berhenti menghubungiku dan tetaplah membuatku kesal saat kau masih memiliki waktu untukku. Jeongmal mianeyo oppa…

Dari dongsaeng favoritmu, Kim Hyuna..

 

Hyunseung merasa dadanya tertusuk pedang panjang yang membuatnya kesulitan bernafas. Ia berusaha menghadapi semuanya sebagai seorang pria, tapi sangat sulit untuk menutupi perasaannya sendiri. “Keure.. Ini tidak akan terasa lebih sakit lagi kan?” gumamnya sendiri. Lalu menyimpan ponselnya dan melangkah pergi.

 

<<Back           Next>>

Advertisements

8 thoughts on “I’m So Sorry, I Love You Girl [Chapter 23]

  1. masi belum mengerti knpa appa hyuna susah banget sich tu ngerestuin..
    padahal liat anak2 ny yg sampe sakit gtoo..
    hyuna unni beneran tu udah ikhlas cuma jd dongsaeng kesayangan aja???

    ahhh seneng junhyung udah mulai deket ma sohyun..
    dya sampe ngabaiin berita kalo hyuna masuk rumah sakit..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s