Chapter

I’m So Sorry, I Love You Girl [Chapter 22]

22

—I Just Want You—

Hyunseung menelungkup di tengah kasur dengan wajah terbenam di bantalnya. Kedua tangannya terentang disisi kanan dan kiri tubuhnya, bahkan mencapai pinggiran tempat tidur besar itu. tak lama, ia mengangkat kepalanya dan membaringkan kepalanya dengan sisi kanan. Ia sendiri terluka karena ucapannya pada Hyuna. Ia hanya tidak bisa percaya gadis itu sudah melewati batas. Bayangan ketika gadis itu mencium Junhyung benar-benar mengganggu pikirannya.

 

=Cube High School=

Junhyung mencari-cari dimana Hyuna, gadis itu tak kunjung muncul hingga sekolah sepi.ia melihat Sohyun melangkah seorang diri meninggalkan sekolah. “Kwoon Sohyun..” panggilnya dan berlari kecil menghampiri gadis itu.

Sohyun berhenti dan memandang Junhyung.

“Sohyun-a, kau melihat Hyuna? Aku tidak melihatnya sejak tadi..” ucap Junhyung.

Sohyun diam sejenak dan memandang kebawah, “Aku tidak melihatnya seharian ini..” ucapnya, lalu kembali melangkah.

Dahi Junhyung berkerut melihat respon Sohyun dan segera menghadang langkah gadis itu, “Ya, ada apa denganmu?”

Sohyun memandang Junhyung tanpa ekspresi, “Tidak ada apa-apa..” jawabnya, lalu melangkah ke sisi kiri pria itu.

Junhyung menahan tubuh Sohyun dan menatap gadis itu dengan dahi berkerut, “Ini yang kau bilang tidak ada apa-apa?”

Sohyun menatap Junhyung, “Aku tidak tau dimana Hyuna, sanbae.. jadi biarkan aku pergi..” ucapnya datar, lalu mendorong tangan Junhyung. Tapi pria itu tetap mempertahannya. Ia kembali menatap pria itu, “Sanbae!”

“Apa kau bertengkar dengan Hyuna?” Tanya Junhyung curiga.

Sohyun menghela nafas dalam dan memalingkan wajahnya, “Aku harus pulang..” ucapnya dan berusaha mendorong tangan Junhyung.

“Kwon Sohyun!” tegas Junhyung.

Sohyun berhenti dan memandang Junhyung, “Wae sanbae?”

Junhyung menatap Sohyun tak mengerti, “Aku benar-benar tidak mengerti, ada apa denganmu?”

“Siapa yang memintamu mengerti aku?” Tanya Sohyun.

Junhyung mendengus kesal, “Aissh…” Gumamnya dan langsung melangkah pergi.

Sohyun diam di tempatnya sejenak, lalu memandang Junhyung yang terus pergi. Kakinya kembali melangkah pergi.

 

=Rumah Keluarga Kim=

Misuk membuka pintu kamar Hyuna dan mengintip ke dalam, ia menghela nafas dalam melihat putrinya masih berbaring membelakangi pintu dengan seluruh selimut menutupi seluruh tubuhnya. Ia melangkah masuk dan duduk di pinggir tempat tidur, ia memandangi selimut itu sesaat. “Hyuna-a..” panggilnya pelan, tidak ada jawaban. “Hyuna..” panggilnya lagi, tetap tidak ada jawaban. Ia mendengus kesal dan langsung membuka selimut.

Hyuna dengan mata bengkak terkejut tiba-tiba selimut di buka ibunya, “Eomma! Biarkan aku sendiri!!” serunya dan kembali menarik selimut menutupi kepalanya.

Misuk memutar bola matanya kesal, “Hyuna, eomma sudah bilang Hyunseung oppa hanya menganggapmu adik.”

Hyuna memejamkan matanya dibalik selimut dan menutup rapat bibirnya menahan tangis. Namun bulir air matanya tetap menyelinap keluar dari sudut matanya.

Misuk menghela nafas dalam lagi mendengar Hyuna kembali menangis, “Hyuna-a, kau berbaring terus seharian. Tidak pergi sekolah dan menangis terus menerus, untuk apa yang kau seperti ini? Oppa sudah memiliki kekasih, jangan seperti ini..” bujuknya. “Sayang, kau masih muda. Kau bisa menemukan banyak pria yang lebih tampan, lebih menawan, juga lebih mengerti dirimu..” ucapnya pelan.

Hyuna membuka selimut yang menutupi wajahnya dan bergerak duduk menatap ibunya, “Menurut eomma, apa ada pria yang lebih baik dari Hyunseung oppa?”

Misuk tertegun mendengar pertanyaan Hyuna, lalu menggaruk-garuk belakang kepalanya canggung. “Tidak sih..” ucapnya pelan.

Hyuna memukul permukaan kasur dan kembali menangis, “Karena itu eomma, kenapa oppa menjalin hubungan dengan gadis lain? Wae??” tangisnya.

Misuk melirik Hyuna sebal, “Ya.. kemanhera.. Paling tidak kau bisa menemukan pria yang mendekati Hyunseung..”

“Shiro!! Aku hanya mau Hyunseung oppa!!!” seru Hyuna sebal.

“Aigoo!! Kau ini..” Misuk memukul bahu Hyuna geram.

“Ahhk! Eomma! Appo!!” seru Hyuna sambil mengelus bahunya.

“Ya sudah, terserah kau saja!” ucap Misuk kesal, lalu bangkit dan berjalan ke pintu. Ia berhenti sejenak dan memandang Hyuna yang masih menangis, “Jika kau tidak keluar dari kamar, tidak akan ada makanan untukmu!” ucapnya, lalu keluar dan kembali menutup pintu.

Hyuna semakin menangis dan membanting tubuhnya ke tempat tidur. Hatinya masih terasa sangat sakit, tidak berkurang sedikit pun. Bahkan bertambah kali lipat ketika mengingat bagaimana Hyunseung tersenyum dan memandang Eunji, juga ucapan pria itu yang menyebut dirinya gadis murahan. “Aniya oppa… Aku bukan gadis murahan.. jebal oppa..” tangisnya. Matanya terasa pedih karena terus menangis, tapi ia belum mau berhenti menangis.

 

=Malamnya=

Rumah Hyunseung.

Hyunseung masuk ke kamar, lalu menghidupkan lampu dan menutup pintunya lagi. Ia melepaskan sweaternya, lalu melemparkannya ke tempat tidur. Ia memandang cermin besar di dinding sambil membuka kancing kemejanya, wajahnya tidak menampakkan kehidupan. Ia tidak tau apa yang terjadi padanya, tapi hatinya terasa sangat sakit. Terlalu sakit bahkan untuk memberitau apa yang ia rasakan. Tangannya melepaskan kemeja dari tubuhnya, lalu melemparkannya ke tempat tidur. Kepalanya terasa seperti mau pecah sekarang, tangannya terangkat dan memijat dahinya. “Arrrhhh..” erangnya, lalu melangkah ke kamar mandi.

Ia menutup pintu kamar mandi dan melepaskan ikat pinggangnya, lalu melepaskan celana jeansnya. Kakinya melangkah pelan ke bawah shower dan memutar keran air panas dan dingin bersamaan, matanya terpejam merasakan air hangat menyentuh kulitnya dan mengalir ke seluruh tubuhnya.

Sementara itu.

Jongnam mengambil sayur dengan sumpit dan memasukkan kedalam mulut, lalu memandang kursi Hyuna yang masih kosong. “Ahh.. dia belum keluar juga?”

Misuk menghela nafas kesal, “Aissh.. gadis itu!” gumamnya kesal.

Jongnam memandang Misuk, “Yobo, bujuklah dia lagi. Dia bisa sakit nanti..”

Misuk meletakkan sumpit ditangannya, “keure..” ucapnya sebal, lalu bangkit dan melangkah keluar dari ruang makan. Rasanya ia sudah muak dengan sikap kekanakan Hyuna. Dengan langkah Godzilla ia menaiki tangga dan menghampiri pintu kamar putrinya, “Hyuna!!” panggilnya, lalu menggedor pintu kamar putrinya. “Ya Kim Hyuna!! Keluar sekarang!!” panggilnya. Tapi tidak ada jawaban, ia membuka pintu dan menatap putrinya yang masih berkutat di bawah selimut dalam kegelapan. “Kim Hyuna!! Masih ada ribuan pria di luar sana! Hyunseung hanya satu dari ribuan mereka, kau bisa menemukan pria lain yang lebih baik!” ucapnya, namun ia langsung termenung dengan ucapannya sendiri. “Ada tidak ya?” gumamnya bingung, ia menggeleng untuk menghilangkan pemikiran itu dan kembali pada pokok permasalahan. “Ya!!” serunya lagi. Tapi putrinya tetap tak bergeming, “Aissh!! Gijibe!” gumamnya kesal, lalu menghidupkan lampu dan kembali menatap gundukan selimut. “Hyuna, eomma tidak kan bersikap baik lagi sekarang!” ucapnya penuh emosi, lalu menyibak selimut yang menutupi tubuh putrinya. Namun kemarahannya meredup melihat rambut gadis itu basah karena keringat. Juga wajahnya terlihat pucat. “Hyuna-a..” ucapnya pelan sambil memegang pipi Hyuna. Matanya membesar merasakan tubuh putrinya sangat dingin, “Hyu-Hyuna!” ucapnya, “HYUNA!!” serunya panic sambil mengguncang tubuh gadis itu. “YOBO!! YOBO!!” teriaknya memanggil Jongnam.

Jongnam terkejut mendengar teriakan Misuk dan segera berlari ke lantai atas, “Waeyo? Kenapa kau berteriak seperti itu?”

“Yobo! Tubuh Hyuna dingin sekali! Eotokhe?!” ucap Misuk panic.

Jongnam menatap Hyuna kaget dan menyentuh pipi putrinya, “Omona!” serunya kaget.

“Eoteokhe?! Eoteokhe yobo?!” ucap Misuk dengan bulir air mata berjatuhan.

“Hubungi ambulance!!” seru Jongnam dan mengeluarkan ponselnya.

 

=Seoul Hospital=

Eunji berjalan menghampiri perawat di UGD, “Bagaimana dengan pasien yang mengalami keracunan itu?” tanyanya.

“Pasien sudah membaik dan pulang bersama keluarganya sore tadi, Dokter magang Jung..” jawab perawat.

Eunji mengangguk mengerti, “Syukurlah..” ucapnya, kepalanya langsung menoleh ke pintu begitu mendengar keributan.

“Dokter magang Jung!” panggil seorang perawat lain.

Eunji langsung berlari menghampiri tempat tidur yang di dorong ke ruang pemeriksaan, “Apa yang terjadi padanya?” tanyanya. Namun ia langsung tertegun melihat siapa yang terbaring tak sadarkan diri dan mengenakan selang pernafasan dihadapannya.

“Pasien kehilangan kesadarannya dan tubuhnya sangat dingin.. tubuhnya tetap berkeringat dan tidak bernafas..” jelas perawat.

Eunji memeriksa bawah mata Hyuna dan mengenakan stetoskopnya untuk mendengarkan detak jantung gadis itu.

Sementara itu di depan UGD.

Misuk menatap Jongnam yang terus berusaha menghubungi Hyunseung, tapi pria itu tak kunjung menjawab panggilannya. “Eoteokhe yobo?”

Jongnam menarik ponsel dari telinganya dan memandang istrinya khawatir, “Dia tetap tidak mengangkat panggilanku..”

Misuk memegang dahinya, “Ahh.. eoteokhe?”

Jongnam merangkul Misuk dan membawanya duduk untuk lebih tenang.

Eunji keluar dari ruang UDG dan memandang sekitar untuk mencari keluarga Hyuna, ia melihat Jongnam dan Misuk, lalu langsung menghampiri mereka. “Eommanim, abeunim..”

Jongnam memandang Eunji, “Oh.. Eunji-a..”

Eunji membungkuk sopan, “Annyeonghaseo..” sapanya, “Aku dokter yang memeriksa Hyuna..”

Misuk langsung berdiri dan memegang tangan Eunji, “Eoteokhe Eunjia-a? bagaimana keadaannya?”

Eunji memandang Misuk dan Jongnam bergantian dan tersenyum, “Eommanim, abeunim.. tidak perlu khawatir, Hyuna tidak apa-apa. Dia hanya mengalami kegagalan pernafasan ringan.. Dan sekarang kondisinya sudah mulai membaik..”

Misuk dan Jongnam langsung menghela nafas lega, “Ahh… syukurlah..”

“Hyuna akan dipindahkan ke ruang perawatan biasa, kalian tidak perlu khawatir.. Kurasa dia hanya mengalami sedikit depresi..” ucap Eunji memberitau.

Misuk dan Jongnam tertegun, lalu saling berpandangan bingung.

 

=Kamar Hyunseung=

“KHAJIMA OPPA!!!”

Hyunseung tersentak dari tidurnya dan langsung terduduk sambil memandang sekitar dengan nafas terengah-engah, ia bisa menghela nafas lega menyadari hal yang terjadi tadi hanya mimpinya. Matanya terpejam dan mengelus dahinya yang di penuhi keringat. Matanya terbuka perlahan dan menoleh ke jam di meja, pukul 6:45 am. Ia mencari ponselnya di balik selimut, ternyata benda itu berada jauh dari tangannya. begitu mendapatkan benda itu, ia mengerutkan dahi menemukan ada banyak panggilan tak terjawab. Semuanya dari Jongnam. “Waekeure?” gumamnya tak mengerti, lalu memanggil nomor ayah angkatnya.

“Hyunseung, odiso?” ucap Jongnam diseberang.

“Abeunim, waekeure? Cesonghamida, aku tertidur dan tidak mendengar suara ponselku..” ucap Hyunseung menyesal.

“Hyunseung-a, semalam Hyuna dilarikan ke UGD..” ucap Jongnam.

Hyunseung tertetegun, “Ne?”

 

<<Back           Next>>

Advertisements

4 thoughts on “I’m So Sorry, I Love You Girl [Chapter 22]

  1. htuna unni nangis sampe sesek nafas gto..
    kasiannn…
    aduhhhhh 2hyun sama2 terlukaa…
    emang gga ada yg cocok selain hyun oppa tuk km hyuna unni…
    kkk jangan dengarkan ibu muu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s