Chapter

I’m So Sorry, I Love You Girl [Chapter 20]

20

—Because This is Love—

Hyunseung keluar dari ruang control dokter dan menghampiri sebuah kursi, lalu menjawab panggilan Hyuna. “Ne, dongsaeng favoritku.. Waeyo?”

Di seberang, Hyuna geram mendengar sapaan Hyunseung itu. “Dongsaeng aniyeo! Yeoja!” ucapnya kesal.

Hyunseung tertawa kecil, “Wae?”

Hyuna mendengus kesal, “Tidak jadi, tadinya aku mau bercerita padamu. Tapi kau membuat moodku rusak..”

Hyunseung tertawa lagi, “Keure, aku akan menghubungi lagi. Dongsaeng favoritku..”

“Oppa!” seru Hyuna kesal.

Hyunseung tertawa dan memutuskan telepon.

Hyuna menatap layar ponselnya kesal, “Aissh..”

Tok! Tok! Tok!

“Hyuna-a, boleh eomma masuk?” Tanya Misuk dari luar.

Hyuna memandang ke pintu, “Ne, eomma…”

Pintu terbuka, lalu muncul Misuk dengan senyuman hangatnya.

“Waeyo eomma?” Tanya Hyuna.

Misuk menghampiri tempat tidur Hyuna dan duduk di sebelah gadis itu, “Belum tidur Hyuna?” Tanya sambil membelai rambut putrinya.

“Aku akan tidur eomma, waeyo?” Tanya Hyuna ingin tau.

Misuk memandang Hyuna dalam, seperti ada sesuatu yang akan ia ucapkan. Bibirnya membentuk senyuman hangat sambil terus mengelus rambut putrinya. “Hyuna-a, sebelumnya kau bertanya pada eomma. Apakah salah jika menyukai oppa, keutji?”

Hyuna mengangguk dan menunggu jawaban ibunya, “Eothe eomma?”

Misuk menghela nafas dalam dan menatap Hyuna, “Hyuna, oppa hanya menganggapmu adik..”

Hyuna memperbaiki duduknya menghadap ibunya, “Aniya eomma, aku akan butikan kalau oppa menyukaiku.” Ucapnya yakin, lalu memegang tangan ibunya. “Eomma tenang saja, aku tidak akan membuat kekacauan lagi..”

Misuk menatap Hyuna dalam, “Hyuna-a, jangan membuat oppa merasa tidak nyaman.. Kau tidak bisa memaksanya untuk menyukaimu..”

“Ani eomma..” ucap Hyuna berusaha meyakinkan, “Aku tau oppa juga menyukaiku..”

“Hyuna, dengar eomma..” ucap Misuk lembut, lalu memegang kedua pipi Hyuna dan menatap kedua mata putrinya. “Jebal Hyuna, eomma tidak ingin oppa merasa bersalah padamu..”

“Eomma…” bujuk Hyuna.

Misuk memandang Hyuna sejenak, “Apa kau memang yakin dengan perasaan Hyunseung padamu?”

Hyuna langsung tersenyum lebar, “Keurom eomma, karena itu oppa selalu memperhatikanku. Juga selalu berlebihan padaku.. Keutji?”

Misuk tidak ingin mematahkan hati putrinya, namun ia juga tidak ingin putrinya terlalu berharap. Bibirnya membentuk senyuman, “Keure, tapi jangan paksa oppa jika dia memang hanya menganggapmu adik. Arasso?”

Hyuna mengangguk cepat dan memeluk ibunya, “Ne eomma!!” ucapnya senang.

 

=Seoul Hospital=

“Dokter magang Jang, ada seseorang yang mencarimu..” ucap seorang perawat begitu Hyunseung selesai menangani seorang pasien UGD.

Hyunseung memandang perawat itu, “Nuga?”

“Anda bisa langsung menemuinya, Dokter magang Jang. Ia berkata akan menunggumu di ruang tunggu..” jawab perawat itu lagi.

Hyunseung berusaha menebak-nebak siapa yang datang, “Apa Hyuna?” gumamnya penasaran. Lalu melangkah menuju ruang tunggu. Ia tertegun melihat Sohyun yang duduk disana.

Sohyun menoleh begitu mendengar seseorang mendekat dan langsung berdiri begitu melihat Hyunseung, “Annyeonghaseo, Dokter Jang..” sapanya sambil membungkuk sopan.

Hyunseung tersenyum sambil membungkuk kecil, “Ne, annyeonghaseo..”

Sohyun memandang Hyunseung canggung, “Dokter Jang, apa kau punya waktu sebentar?”

Hyunseung mengangguk, “Ne.. Ayo duduk..” ucapnya dan bergerak duduk di kursi.

Sohyun ikut duduk disebelah Hyunseung.

Hyunseung memandang Sohyun, “Jadi, ada yang ingin kau sampaikan?”

Sohyun memandang jemarinya, “Dokter Jang, kau pernah berkata akan berjuang untukku..” ucapnya pelan, “Apa sekarang masih berlaku?”

Hyunseung tertegun mendengar pertanyaan Sohyun, “Mmm.. tentu..”

Sohyun memandang Hyunseung, “Dokter Jang, apa menurutmu.. Gadis sepertiku tidak pantas menyukai seorang pria?”

Hyunseung diam sejenak, “Mwo? Apa maksudmu ‘gadis sepertimu’?”

Sohyun kembali memandang kebawah, “Gadis yang diperkosa tunangan ibunya, hamil dan mengalami keguguran..” gumamnya, namun cukup jelas bagi Hyunseung untuk mendengarnya.

Hyunseung menatap Sohyun iba, lalu mengulurkan tangannya untuk mengganggam tangan gadis itu.

Sohyun memandang Hyunseung sedih.

Hyunseung tersenyum hangat, “Semua orang memiliki hati yang bisa menyukai siapa pun yang kau anggap special. Tidak ada istilah pantas atau tidak. Karena hatimu tidak berpikir seperti logika, arasso?”

Sohyun kembali menunduk sedih beberapa saat, lalu kembali memandang Hyunseung. “Jika aku menyukaimu, apa yang kau katakan?”

Hyunseung tertegun lagi, “Ne? ohh.. jika kau menyukaiku, aku akan memikirkannya..”

Sohyun diammemandang Hyunseung beberapa saat, “Apa yang kau pikirkan?”

“Mmm.. tentu saa… mmm…” Hyunseung berusaha menemukan jawaban yang tepat.

“Kalimat apa yang tidak akan menyakitiku ketika kau menolak perasaanku?” Tanya Sohyun.

Hyunsueng tertegun, “A-aniya..”

Tatapan Sohyun memperlihatkan kesedihan mendalam, bibirnya perlahan membentuk senyuman tipis. “Mungkin gadis sepertiku masuk dalam pengecualian orang-orang yang kau sebut tadi, Dokter Jang..”

Hyunseung merasa bersalah mendengar ucapan Sohyun, “Aniya, tidak ada pengecualian. Jangan pernah berpikir seperti ini lagi, araso?”

Sohyun diam sejenak, lalu bergerak bangkit. “Keure, terima kasih waktumu. Dokter Jang..”

Hyunseung ikut bangkit dengan tatapan menyesalnya, “Sohyun-a, kau sama seperti gadis lainnya. Tidak ada yang berbeda dengan dirimu..” ucapnya berusaha meyakinkan.

Sohyun tersenyum, “Gamshamida, dokter.. sampai jumpa..” ucapnya sambil membungkuk sopan dan berbalik.

“Ahhh.. pabo, kenapa aku malah memperburuk suasana hatinya?!” gumam Hyunseung kesal sendiri.

 

=Kamar Hyuna=

Hyuna memutar bola matanya mendengar Hyunseung kembali membicarakan Sohyun ketika mereka berbicara di telepon, “Ya oppa! Apa kau tidak bisa membicarakan hal lain saat menghubungiku?!” tanyanya kesal.

“Wae? Sohyun kan temanmu.. Oppa ingin kau lebih memperhatikannya, disaat seperti ini dia akan merasa tidak diinginkan dan mungkin akan melakukan hal-hal aneh. Kau ingin dia ditemukan meninggal suatu saat?” Tanya Hyunseung balik.

Hyuna terkejut mendengar pertanyaan Hyunseung, “Mwo?! Tentu saja tidak!”

“Karena itu, pastikan dia tidak merasa sendiri. Kau mengerti kan?” Tanya Hyunseung.

Hyuna mendengus kesal, “Ne…”

Hyunseung diam sejenak untuk berpikir, “Mmm.. Hyuna-a, akhir minggu ini oppa akan datang lagi ke rumah..”

Hyuna langsung tersenyum lebar dengan mata berbinar, “Jeongmal?”

“Ne, kau tidak ada acara kan?” Tanya Hyunseung.

Hyuna merasa kedua pipinya memanas dan tersenyum lebar sambil memegang pipinya, “Keurom.. Aku kan ingin bertemu oppa..”

Hyunseung diseberang tersenyum sedih, “Keure, oppa harus kembali bekerja. Sampai nanti..”

“Ne, oppa.. Saranghae..” Ucap Hyuna malu-malu.

Hyunseung menahan tawa, “Ne..” Ucapnya dan memutuskan telepon.

 

=Akhir Minggu=

“Eomma, ada yang bisa kubantu?” Tanya Hyuna sembari masuk ke dapur.

Misuk memandang ke arah Hyuna dan langsung tertegun karena gadis itu mengenakan dress cantik selutut, juga pita yang menghiasi rambut. Bahkan make up tipis yang membuat putrinya terlihat sangat manis. “Hyuna-a?”

Hyuna menghampiri ibunya dengan senyuman di wajahnya, “Waeyo eomma?”

Misuk kembali memperhatikan penampilan Hyuna, “Kenapa kau berdandan seperti ini?”

Hyuna tersipu malu, “Mmm.. Oppa kan akan datang hari ini, jadi aku harus berpenampilan cantik..”

Misuk diam sejenak, lalu tertawa kecil. “Ya sudah.. Bawa ini ke meja makan..” Ucapnya sambil menunjuk sebuah piring.

“Ne, eomma..” Ucap Hyuna riang dan langsung membawa piring tadi ke meja makan.

“Annyeonghaseo..”

Radar Hyuna langsung menyala begitu mendengar suara Hyunseung, senyuman lebar terbentuk di bibirnya dan segera berlari keluar dari ruang makan. Sekelilingnya langsung tampak berbunga-bunga begitu melihat Hyunseung membungkuk sopan pada ayahnya, pria itu terlihat menawan seperti biasa dengan baju kasual itu. “Oppa!!!” serunya girang sambil memeluk pria itu.

Hyunseung tersenyum dan mengelus rambut Hyuna, “Hyuna, annyeong..” sapanya dan memperhatikan penampilan gadis itu, “Uuuu.. yepeuta..” pujinya.

Hyuna tersipu malu, “Keurom..”

Jongnam tersenyum melihat perhatian Hyunseung seperti seorang oppa pada Hyuna, lalu baru menyadari pria itu tidak datang sendiri. “Omona.. siapa gadis cantik ini?”

Hyuna tertegun dan memandang ke belakang Hyunseung, dahinya langsung berkerut melihat seorang gadis yang mengenakan dress cantik dengan gaya minimalis yang terlihat sangat manis.

Hyunseung tersenyum malu dan mengelus belakang kepalanya, “Mmm.. abeunim, ini Eunji..” ucapnya.

Eunji membungkuk sopan dengan senyuman manisnya, “Annyeonghaseo, abeunim.. Jung Eunji imnida..” ucapnya memperkenalkan diri.

“Ohh.. Hyunseung tiba?” Tanya Misuk sambil menghampiri Hyunseung.

Hyunseung memandang Misuk dan membungkuk sopan, “Annyeonghaseo, eommanim..”

Misuk tersenyum lebar, “Aigoo.. baru seminggu tapi rasanya sudah bertahun-tahun kita tidak bertemu..”

Hyunseung tertawa kecil.

“Yobo, lihat.. Hyunseung membawa temannya..” ucap Jongnam pada istrinya.

Misuk tertegun melihat Eunji.

Eunji membungkuk sopan, “Annyeonghaseo, eommanim..”

Misuk tersenyum kaku, “Oh.. ne..” ucapnya pelan, lalu melirik Hyuna yang tampak menatap Eunji sebal.

“Siapa Hyunseung?” Tanya Misuk pada Hyunseung.

Hyunseung tersenyum malu sambil mengelus belakang kepalanya, “Mmm.. oori chingu..” jawabnya malu-malu sambil melirik Eunji.

Jongnam menatap Hyunseung lucu, “Chingu? Atau Yeoja chingu?”

Hyuna menatap Jongnam kaget, lalu menatap Hyunseung serius. ‘Andwae! Jangan katakan itu benar oppa!’ batinnya.

Hyunseung merangkul bahu Eunji yang juga tersenyum malu, “Ne, abeunim…” jawabnya.

DUARRRR!!! Terdengar ledakan besar di telinga Hyuna. Seluruh dunianya terasa jatuh mendengar jawaban Hyunseung.

Jongnam tertawa kecil, “Omona.. kau sudah mengencani seorang gadis?”

Misuk bingung harus senang atau kaget mendengar berita dari Hyunseung, karena Hyuna menyukai pria itu.

“Chagiya, kenalkan.. Ini orangtua angkatku, tapi aku sudah menganggap mereka seperti orangtua kandungku sendiri..” ucap Hyunseung pada Eunji, lalu memegang bahu Hyuna yang masih terpaku di depannya. “Ini Hyuna, adikku..”

Eunji tersenyum pada Hyuna, “Annyeonghaseo, Hyuna-ssi..” sapanya.

Hati Hyuna terasa sangat sakit melihat Hyunseung tersenyum pada Eunji, lalu memandang gadis itu dan berusaha untuk tersenyum.

Misuk hanya bisa memandang Hyuna canggung, lalu tersenyum pada Hyunseung. “Keure, kenapa kita hanya berdiri disini.. Ayo.. eomma sudah menyiapkan makanan..” ajaknya.

“Ne, eommanim..” ucap Eunji.

“Khaja..” ajak Jongnam dan melangkah ke ruang makan bersama Misuk.

Hyunseung melangkah bersama Eunji.

Hyuna menatap Hyunseung yang terus pergi sedih, lalu menunduk dan ikut melangkah ke ruang makan.

Makan malam.

“Eunji-a, bagaimana masakan eomma?” Tanya Misuk pada Eunji.

Eunji tersenyum lebar, “Aku suka sekali, eommanim. Bahkan lebih baik dari masakan ibuku..” candanya.

Misuk tertawa kecil, “Ohh.. syukurlah jika kau suka..”

Hyunseung memandang Eunji, “Kau ingatkan aku sering membawa bekal dulu?”

Eunji mengangguk, “Ne..”

“Itu masakan eommanim..” ucap Hyunseung memberitau.

“Oh ya?” ucap Eunji dan menatap Misuk tak percaya, “Eommanim, Hyunseung terkadang membiarkanku memakan bekalnya. Pantas saja terasa tidak asing saat aku memakan masakanmu lagi..”

Misuk tersenyum malu, “Keure? Omo.. kenapa Hyunseung tidak pernah memberitaunya?”

“Yobo, Hyunseung tidak akan memberitau kita jika dia sendiri belum yakin. Keutji Hyunseung?” Tanya Jongnam degan nada menggoda.

Hyunseung tersenyum malu, “Ne, abeunim..”

“Oh ya, dimana kalian bertemu?” Tanya Jongnam.

“Kami magang di rumah sakit yang sama abeunim, kurasa karena sering bertemu aku jadi menyukainya..” jawab Hyunseung malu.

Eunji tersenyum malu, “Ne, abeunim, eommanim.. Hyunseung selalu membantuku dan tidak keberatan melakukan sesuatu untukku. Ternyata dia menyukaiku..” ucapnya.

Hyunseung tertawa kecil dan memandang Eunji, “Karena itu hanya kau yang kuperlakukan special..”

“Aigoo.. kalian manis sekali..” ucap Misuk senang.

“Tapi kalian harus ingat, kalian harus menyelesaikan magang dulu baru memikirkan pernikahan. Araso?” ucap Jongnam mengingatkan.

Hyunseung tertawa kecil, “Keurom abeunim, kami juga berencana untuk mengambil spesialis dulu.” Ucapnya, lalu memandang Eunji. “Keutji?”

Eunji mengangguk, “Ne..”

Jongnam memandang Hyuna yang sejak tadi hanya mengaduk-aduk makanannya, “Hyuna-a, waekeure?”

Hyuna tertegun dan memandang Jongnam, “Ne? oh.. gwenchana..” jawabnya.

“Kenapa kau diam saja? Oppa-mu membawa pacarnya kerumah, paling tidak ucapkan sesuatu..” ucap Jongnam.

Hyuna memandang Hyunseung yang juga memandangnya, kemudian kembali menunduk sambil meletakkan sumpit ditangannya. “Perutku tiba-tiba tidak enak.. Aku akan beristirahat di kamarku..” ucapnya sambil bangkit dan berjalan pergi.

“Hyuna-a..” panggil Misuk, namun putrinya tak berhenti. Lalu menatap Eunji menyesal, “Miane Eunji-a, remaja sekarang selalu bersikap tidak sopan..”

Eunji tersenyum, “Gwenchana eommanim, aku juga seperti itu dulu..” ucapnya.

“Ayo makan lagi..” ucap Jongnam menaikkan suasana.

Eunji mengangguk dan melanjutkan makannya, namun ia menyadari Hyunseung terlihat tidak seceria tadi. Bibirnya membentuk senyuman, “Hyunseung, kenapa kau tidak memeriksa adikmu?”

Hyunseung memandang Eunji, “Ne?”

“Dia kan bilang perutnya tidak enak, periksalah.. Bisa saja dia salah makan dan menyebabkan diare atau infeksi usus..” ucap Eunji.

Hyunseung melirik Jongnam dan Misuk, “Ohh.. Keure..” ucapnya, lalu bangkit. “Abeunim, eommanim. Aku akan melihat keadaan Hyuna sebentar..” ucapnya dan melangkah pergi.

Hyuna berbaring di tempat tidur membelakangi pintu kamar, ia tidak peduli lagi dengan bulir air mata yang akan merusak make-upnya. Ia benar-benar tidak percaya Hyunseung memiliki kekasih.

Tok! Tok! Tok!

“Hyuna-a, oppa masuk..” ucap Hyunseung dan membuka pintu.

Hyuna bergerak duduk dan menatap Hyunseung tajam, “Wae?!”

Hyunseung menghela nafas dalam melihat Hyuna menangis, lalu masuk sambil menutup pintu. “Kenapa kau menangis? Apa sakitmu parah?” tanyanya dan duduk di pinggir tempat tidur Hyuna.

“Apa pedulimu?! Keluar!!” seru Hyuna.

Hyunseung memandang Hyuna sedih, “Tentu saja oppa peduli, kau adikku..”

Hyuna mengambil bantal dan melemparkannya ke wajah Hyunseung.

Hyunseung memalingkan wajahnya hingga kepalanya yang terkena lembaran bantal Hyuna.

“Aku tidak mau menjadi adikmu!! Pergi!!” seru Hyuna sambil mendorong Hyunseung menjauh.

Hyunseung menahan tubuhnya sambil menatap Hyuna sedih, “Hyuna, jebal..”

“Shiro!” seru Hyuna, lalu memeluk lututnya dan menangis.

Hyunseung menghela nafas dalam, lalu mengambil bantal yang tadi dilemparkan Hyuna dan meletakkannya kembali ke tempat tidur. “Hyuna, dewasalah.. Kau dan aku tidak bisa bersama..” ucapnya pelan, “Kau sudah seperti adikku sendiri Hyuna, jebal..”

Hyuna menatap Hyunseung marah, “Aku tidak mau berbicara denganmu lagi!”

“Hyuna…” ucap Hyunseung sedih.

Hyuna berbaring sambil menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.

Hyunseung hanya bisa memandang selimut itu sedih. Tangannya terulur dan memegang lengan Hyuna, “Tidurlah..” ucapnya, lalu bangkit dan berjalan keluar.

 

 

<<Back           Next>>

Advertisements

7 thoughts on “I’m So Sorry, I Love You Girl [Chapter 20]

  1. uhhhhfff hyun oppa knpa harus dgn cara kayak gto sichh..
    kasian kn hyuna unni nyaa..
    km sendiri kn juga sakit oppa..
    hukshuks
    2hyun lg galau sohyun juga lg galau..
    d part nie edisi sedih dech..
    hukshuks TT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s