Chapter

I’m So Sorry, I Love You Girl [Chapter 19]

19

—My Favorite Boy—

Hyunseung, apa kau akan mengambil kelas spesialis? Kudengar pertengahan tahun ini aka nada kesempatan untuk golongan pertama..” ucap Eunji, ketika dia bersama dua temannya menikmati kopi di tangga darurat. Hanya itu tempat yang bisa mereka datangi tanpa mengganggu yang lainnya.

Dujun memandang Hyunseung menunggu jawaban.

Hyunseung menyeruput kopinya sambil berpikir, “Mmm.. entahlah.. aku masih memikirkannya..” ucapnya.

Eunji memandang Dujun, “Neo?”

Dujun tersenyum, “Keluargaku menyukai anak-anak, aku akan menjadi spesialis anak..” ucapnya.

“Wuaaa.. kau keren sekali..” puji Eunji dan tertawa kecil.

Hyunseung tersenyum, “Jinja? Pasti kau akan memiliki banyak anak..” candanya, lalu memandang Eunji, “neo?”

Eunji berpikir sejenak, “Mmm.. aku masih belum memikirkannya, tapi kupikir setelah menyelsaikan proses magangku, aku akan bekerja di desa terpencil dan membantu orang-orang disana…”

“Omona.. memangnya kau bisa tinggal tanpa ponsel dan pelembab wajahmu? Hhahaha..” canda Dujun.

“Aisshh.. tentu saja bisa.” Ucap Eunji sebal dan tertawa.

Hyunseung tertawa kecil mendengar cerita teman-temannya, ia kembali menyeruput kopinya dan memandang kedepan sambil berpikir lagi.

 

=Akhir Minggu=

Semuanya berkumpul di ruang makan menikmati masakan Misuk.

Jongnam memandang Hyunseung dan tersenyum, “Hyunseung-a, kapan kau akan menyelesaikan magangmu?”

Hyunseung tersenyum, “Sekitar 2 bulan lagi..” jawabnya.

“Aigoo.. setelah itu kau akan benar-benar menjadi seorang dokter..” ucap Jongnam bangga.

Hyunseung tersenyum malu, “Ne, abeunim..”

Misuk tersenyum bangga pada Hyunseung, “Apa kau ingin mengambil program spesialis?”

Hyunseung memandang Misuk, “Aku masih memikirkannya eomma..”

Hyuna memandang Hyunseung, “Oppa, berapa lama untuk mengambil spesialis?”

“Mmm.. tergantung, mungkin 2 tahun..” jawab Hyunseung.

Misuk tersenyum lebar dan mengulurkan satu tangannya memegang tangan Hyunseung.

Hyunseung memandang Misuk yang tersenyum penuh rasa bangga padanya, ia juga ikut tersenyum.

“Oori adeul(anakku), eomma bangga sekali padamu..” ucap Misuk sepenuh hati.

Hyunseung mengangguk dan mengelus punggung tangan Misuk, “Gamshamida, eommanim..”

Hyuna menatap ibunya sebal, “eomma, kenapa eomma tidak pernah mengatakan hal sepert itu padaku?”

Hyunseung dan Misuk memandang Hyuna, lalu tertawa kecil. Begitu juga dengan Jongnam.

Hyunseung mengelus kepala Hyuna dan menatap gadis itu lucu, “Maka belajarlah lebih giat dan jadi apa yang kau inginkan.. Araso?”

Hyuna cemberut dan memasukkan makanan ke mulutnya.

Setelah makan malam. Hyunseung dan Jongnam mengobrol di ruang tengah sementara Hyuna dan Misuk menyiapkan cemilan.

Hyuna melirik ke pintu, “Eomma, apa yang sedang di bicarakan oppa dan appa?”

Misuk tertawa kecil, “Wae? Kau sangat penasaran?”

Hyuna memandang Misuk dan mengangguk, “Ne..”

Misuk memandang Hyuna lucu, “Mereka tidak akan membicarakan hal yang aneh, ayo selesaikan ini..” ucapnya sambil melanjutkan apa yang mereka buat.

Hyuna cemberut karena tidak bisa mengetahui apa yang Hyunseung dan ayahnya bicarakan. Suasana hening sejenak hingga dia mendapatkan sesuatu untuk ditanyakan, lalu memandang ibunya ragu. “Mmm.. eomma..”

“Ne..” jawab Misuk.

Hyuna menggigit bibir bawahnya ragu, “Mmm.. eomma, apakah salah jika aku menyukai Hyunseung oppa?”

Misuk tertegun mendengar pertanyaan Hyuna, “Ne?”

Hyuna menatap Misuk ingin tau, “Eoteokhe eomma?” tanyanya hati-hati.

Misuk terdiam menatap Hyuna.

Hyuna menatap ibunya menunggu jawaban.

“Eommanim, apakah cemilannya sudah selesai?” Tanya Hyunseung saat Misuk membuka mulutnya untuk menjawab.

Misuk memandang Hyunseung kaget, “Ne? ohh.. cangkaeuman..” ucapnya dan mempercepat gerakannya.

Hyunseung memandang Misuk bingung karena ekspresi wanita itu terlihat canggung dan kaku, lalu memandang Hyuna yang juga tampak canggung.

Setelah itu.

Hyuna mengantarkan Hyunseung kedepan rumah dengan senyuman manis di wajahnya.

Hyunseung berhenti di depan pagar dan memandang Hyuna heran, “Kenapa kau tersenyum seperti itu?”

Hyuna mempertahankan senyuman manisnya dan memeluk lengan Hyunseung, “Aku harus terlihat cantik untuk menjadi gadis favoritmu, keutji?”

Hyunseung menatap Hyuna lucu, “Aigoo.. sepertinya aku harus segera menemukan kekasih..” candanya.

Senyuman Hyuna langsung menghilang dan cemberut menatap Hyunseung, “Mwo? Cobalah jika oppa berani!”

Hyunseung tertawa dan mencubi pipi Hyuna gemas, “Keyowa.. Masuklah, oppa akan pergi..”

Hyuna melepaskan pelukannya dari lengan Hyunseung, “Ne.. pergilah!” ucapnya dan berbalik, lalu berjalan cepat masuk ke dalam.

Senyuman Hyunseung memudar memandangi Hyuna berjalan menuju rumah, “Selamat malam..” ucapnya pelan, lalu membuka pintu pagar dan melangkah pergi.

 

=Perpustakaan=

Hyuna mengerutkan dahinya mengingat ucapan Hyunseung semalam, “Micheoso!” gumamnya geram.

Sohyun memandang Hyuna bingung, “Hyuna-a, waekeure?”

Hyuna memandang Sohyun, “Sohyun-a, jika pria yang kau sukai memiliki gadis yang ia sukai. Apa yang akan kau lakukan?”

“Ne?” Sohyun agak terkejut mendengar pertanyaan Hyuna, “Ohh.. aku… mmm.. akan membiarkannya dan melupakanya..”

Hyuna menatap Sohyun tak percaya, “Mwo? Memangnya hatimu bisa berhenti mencintainya begitu saja?”

Sohyun tertegun, ucapan Hyuna langsung membungkam mulutnya.

“Tidak kan?” Tanya Hyuna lagi, “Ahh.. micheoso!” gumamnya dan merebahkan kepalanya ke meja.

 

=Sorenya=

Seoul Hospital.

Eunji masuk ke ruangan tangga darurat dan menemukan Hyunseung duduk di anak tangga, ia mengerutan dahi dan menghampiri temannya itu. “Ya.. ada apa denganmu?”

Hyunseung mengelus dahinya dan memandang Eunji yang duduk disebelahnya, “Anira, hanya…” ia menghela nafas dalam dan memandang kebawah.

Eunji menatap Hyunseung penasaran, “Wae?”

Hyunseung diam sejenak, lalu kembali memandang Eunji. “Eunji-a, apa aku bisa meminta bantuanmu?”

Eunji memandang Hyunseung bingung, “Mwo?”

Cube High School.

Sohyun masih mendengarkan Hyuna mengeluh tentang seseorang yang gadis itu sukai hingga jam sekolah berakhir, “Hyuna-a, memangnya siapa yang kau bicarakan sejak tadi?”

Hyuna tertegun dan memandang Sohyun, “Ne? ohh.. dia.. mmm…” Ia garuk-garuk kepala bingung, lalu tertawa palsu. “Hanya seseorang yang kukenal..” jawabnya.

Sohyun mengerutkan dahi, lalu tertawa kecil. “Kau aneh sekali hari ini..”

Hyuna tertawa malu.

“Heihoo…” sapa Junhyung sambil merangkul Hyuna dan Sohyun dari belakang.

“Oh! Sanbae! Kau mengejutkanku!” seru Hyuna sambil memegang dadanya.

Junhyung tertawa melihat ekspresi Hyuna, “Aigoo.. Neomu keyowa..” ucapnya gemas sambil mencunit ujung hidung gadis itu.

Hyuna mendorong tangan Junhyung, “Sanbae!”

Junhyung tertawa geli dan memandang Sohyun, “Dia sangan lucu, kan?” ucapnya. Namun tawanya terhenti menyadari gadis itu bahkan tidak memandang mereka. dahinya berkerut dan memandang wajah gadis itu, “Ya, waekeure?”

Hyuna tertegun melihat ekspresi Sohyun. Mengingat pertanyaan temannya beberapa saat lalu, ia mengerti apa yang sebenarnya dirasakan temannya itu pada Junhyung.

Sohyun memandang Hyuna dan tersenyum, “Sepertinya Junyung sanbae ingin berbicara denganmu, aku pergi lebih dulu..” ucapnya dan memandang Junhyung, “Annyeonghaseo, sanbae..” ucapnya sambil membungkuk sopan, lalu berbalik dan berjalan pergi.

“Sohyun-a..” panggil Hyuna, namun Sohyun tetap melangkah pergi.

“Ya.. Kwon Sohyun..” panggil Junhyung tak mengerti.

Hyuna menatap Junhyung kesal, “Aissh.. sanbae!” ucap sambil memukul bahu pria itu, lalu melangkah mengejar Sohyun.

Junhyung mengelus bahunya sambil mengerutkan dahi, “Naega wae?” ucapnya bingung, lalu mengikuti kedua gadis itu. “Ya..”

 

=Mobil Junhyung=

Junhyung menghentikan mobilnya di depan rumah Hyuna dan memandang gadis itu yang duduk di belakang, sementara Sohyun duduk di sebelahnya.

Hyuna menyandang tasnya dan tersenyum pada Junhyung, “Gumawoyo, sanbae..” ucapnya, lalu memandang Sohyun. “Sohyun-a, sampai besok..”

Sohyun tersenyum tipis, “Ne..”

“Sanbae, antarkan Sohyun hingga rumah! Araso?!” ucap Hyuna dengan wajah sangarnya.

Junhyung tertawa kecil, “Araso..” ucapnya.

Hyuna kembali tersenyum dan membuka pintu mobil, sebelum melangkah menuju rumah ia sempat melambai pada Sohyun dan Junhyung, lalu melangkah menuju pintu rumah.

Junhyung kembali menginjak gas untuk meninggalkan kawasan rumah Hyuna. Setelah beberapa saat ia melirik Sohyun yang hanya dia disebelahnya, “Ya, waekeure? Sepertinya sejak tadi kau hanya diam saja..”

Sohyun menghle nafas dalam dan memandang Junhyung, “Sanbae, kupikir kau tidak bia mengenakan fasilitas dari ayahmu lagi..” ucapnya.

Junhyung tersenyum, “Aku hanya meminjamnya sebentar..”

Sohyun diam sejenak, lalu mengangguk dan kembali memandang jendela. “Hmm.. kau pasti ingin bertemu Hyuna..”

Junhyung tertawa kecil, “Begitulah..” ucapnya, “Oh ya, apa kau sudah lebih baik sekarang?”

“Ne..” jawab Sohyun tanpa memalingkan wajahnya dari jendela.

Junhyung mengerutkan dahi dan memandang Sohyun bingung, “Waekeure? Kau sangat aneh..”

“Gwenchana..” jawab Sohyun pelan, lalu memandang Junhyung. “Sanbae, aku turun disini saja..”

Junhyung menatap Sohyun kaget, lalu kembali memandang jalanan. “Waeyo? Rumahmu masih jauh..”

“Aniya, aku hanya ingin turun disini.. Lagi pula jika mengantarkanku kau akan berputar jauh..” jawab Sohyun, lalu memperhatikan keluar jendela. “Turunkan aku di dekat halte itu, sanbae..” ucapnya sambil menunjuk halte yang ia maksud.

Junhyung menatap Sohyun tak mengerti. Namun bukannya menepikan mobil, ia malah menginjak gas semakin dalam.

Sohyun tertegun menyadari mereka telah melewatkan halte bis dan menatap Junhyung tak mengerti, “Sanbae?!”

Junhyung terus mengendarai mobilnya tanpa menjawab Sohyun, hingga ia harus berhenti di lampu merah.

“Sanbae, waekeure?” Tanya Sohyun tak mengerti.

Junhyung menghela nafas dalam dan menatap Sohyun, “Aku tidak tau apa yang terjadi padamu, aku akan mengantarkanmu pulang!” tegasnya.

Sohyun terdiam mendengar ucapan Junhyung, “W-wae?! Hyuna sudah tiba di rumahnnya, untuk apa kau tetap melakukan ini? Aku bisa kembali dengan bis..”

Junhyung mengerutkan dahi mendengar ucapan Sohyun, “Mwo? Apa maksudmu? Memangnya kenapa jika Hyuna sudah tiba di rumahnya?!”

Sohyun diam sejenak, lalu melepas safety belt dan keluar dari mobil.

“Ya! YA!! KWON SOHYUN!!” seru Junhyung, namun Sohyun tetap melangkah pergi. Ketika ia hendak membuka safety belt-nya, lampu jalan berubah menjadi hijau. Matanya memandang Sohyun yang sudah berjalan di trotoar menjauh darinya. “Aissh!!” gumamnya kesal, lalu kembali menginjak gas mobilnya.

Sohyun melangkah cepat menghampiri halte karena melihat bus sudah mendekat ke sana, dengan cepat ia naik dan mencari tempat duduk dibelakang. Ia tidak tau mengapa hatinya terasa sakit, namun ia tau semua ini karena Junhyung. Entah sejak kapan pria itu menjadi special di hatinya. Ia memandang keluar jendela dan menempelkan kepalanya ke kaca. “Waekeure Sohyun? Dia membantumu karena Hyuna..” gumamnya.

 

<<Back           Next>>

Advertisements

5 thoughts on “I’m So Sorry, I Love You Girl [Chapter 19]

  1. pasti seungi minta bantuan eunji pura” jd pacar seungi degh !!!
    sohyun udda beneran suka am junhyung tp junhyung nya kelewat cuek gg peka banget -_-

  2. aduhhh junhyung..
    bukan ny dulu ny km suka ngegodain cewek..
    knpa jd gag peka gto kalo sohyun suka ma km…
    ishhhh gemes dechh..

    aduhhh hyun oppa jgn minta bantuan yg aneh2 yaa k eunji..
    jangan sampe tambah nyakoton hyuna unni..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s