Chapter

I’m So Sorry, I Love You Girl [Chapter 15]

15

—Guardian Angel—

=Sebuah Kafe=

Hyunseung melotot mendengar cerita Hyuna mengenai siapa yang bertanggung jawab atas kehamilan Sohyun, “Tunangan ibunya?”

Hyuna mengangguk pelan, “Ne, oppa..”

Hyunseung benar-benar tak percaya dengan berita ini, “Karena itu dia tidak mengatakan siapa yang melakukan itu padanya?”

Hyuna mengangguk, “Ne..” jawabnya, “Masalahnya, ibu Sohyun melahirkannya tanpa suami ketika SMA dan tidak begitu banyak orang yang tau tentang dirinya..”

Hyunseung mengerutkan dahi, “Karena itu?”

“Ne, oppa.. Jadi Sohyun merasa kalau jalan terbaiknya hanya bunuh diri, dengan begitu semua orang akan terlepas dari masalah yang ia buat..” jawab Hyuna menyesal.

Hyunseung menghela nafas dalam dan menatao Hyuna dalam, “Oppa mengerti bagaimana perasaanmu, tapi membantu seseorang melakukan percobaan bunuh diri itu sama saja kau membunuhnya Hyuna..”

Hyuna menatap Hyunseung kaget, “Ne?”

Hyunseung mengangguk, “Ne..”

Hyuna kembali menunduk menyesal, “Miane oppa..”

Hyunseung mengulurkan satu tangannya dan menggenggam tangan Hyuna, “Sudah, yang terpenting Sohyun tidak apa-apa.. Oppa akan membantunya..”

 

=Seoul of Hospital=

Hyunseung melangkah menuju ruang control dokter sambil memeriksa file-file ditangannya, langkahnya terhenti karena mendengar seseorang berbicara.

“Eomma tidak bisa pulang malam ini, ada beberapa hal yang harus eomma selesaikan. Kau tenang saja, Donghae ahjussi bersedia menemanimu di rumah..” ucap Jina di telepon.

Hyunseung tetap berdiri di tempatnya sambil mendengarkan.

“Wae? Bukankah dia sangat baik padamu? Kenapa kau seperti itu? Sohyun, eomma tidak ingin kau terus manja seperti itu! donghae ahjussi akan segera menjadi ayahmu!!” seru Jina.

Hyunseung tersentak, ‘Sohyun?’ batinnya. Dahinya berkerut dan berusaha menghubungkan semua kemungkinan yang muncul di kepalanya. Ia langsung keluar dari balik tembok dan mendekati Jina.

“Eomma harus pergi..” ucap Jina dan memutuskan telepon, ia terkejut melihat Hyunseung. “Dokter magang Jang?”

Hyunseung menatap Jina serius, “Maafkan aku Dokter Kepala Choi, tapi ini sangat penting. Bisakah aku tau siapa nama putrimu?”

Dahi Jina berkerut, “Mwo?”

“Ini memang tidak masuk akal, tapi sepertinya aku mengenal siapa putrimu..” ucap Hyunseung hati-hati.

Jina menatap Hyunseung kesal, “Kurasa ini bukan urusanmu, jadi jangan campuri urusanku!” tegasnya dan melangkah.

Hyunseung diam sejenak di tempatnya, namun mengingat Sohyun akan di dekati Donghae membuatnya tak bisa menahan dirinya. Ia langsung berbalik dan menatap Jina yang terus berjalan pergi, “Kwon Sohyun. Kelas 9 di Cube High School..” ucapnya.

Langkah Jina terhenti mendengar ucapan Hyunseung, perlahan ia berbalik dan menatap pria itu tak mengerti. “Bagaimana kau tau?”

Hyunseung lega tebakannya tidak salah, “Dokter Kepala!!! Anda harus pulang sekarang! Putrimu membutuhkanmu..”

Jina tampak semakin bingung, “Dokter magang Jang! Hentikan omong kosongmu!” serunya dan kembali berbalik.

Hyunseung mengikuti langkah Jina, “Putrimu menjadi budak nafsu tunanganmu, Dokter kepala Choi!”

Langkah Jina kembai terhenti dan menatap Hyunseung kaget, “Apa kau bilang?”

Hyunseung menatap Jina dalam, memohon agar wanita itu percaya pada ucapannya. “Jika kau tidak percaya padaku, anda benar-benar akan menyesalinya..” ucapnya pelan.

 

=Rumah Sohyun=

Tok! Tok! Tok!

Kepala Sohyun menoleh ke pintu kamarnya.

“Sohyun, kau sudah tidur?’ Tanya Donghae dari luar.

Sohyun tertegun, jantungnya mulai berdegup kencang. Tangannya bergerak kebawah bantal, memastikan pisau dapur yang ia simpan masih ada disana.

Klek..

Detak jantung Sohyun meningkat drastic mendengar suara pintu terbuka, lalu masuk Donghae dengan senyuman manisnya.

“Kau belum tidur?” Tanya Donghae sambil kembali menutup pintu.

Sohyun menunduk ketika Donghae melangkah mendekatinya, “Waeyo ahjussi?”

Donghae duduk di sebelah Sohyun sambil tersenyum lebar, “Aniya, aku hanya ingin memastikanmu sudah berada di tempat tidur..” ucapnya pelan sambil menelusuri tubuh gadis itu dengan tatapannya. Tangannya terangkat dan menyibakkan rambut gadis itu dari satu bahunya.

“Ahjussi, eomma bisa pulang kapan saja..” ucap Sohyun, berharap pria itu akan pergi.

Donghae tertawa kecil, “Aniya, kau tenang saja. Ibumu tidak akan kembali hingga besok pagi..” ucapnya, lalu memajukan wajahnya dan mencium rahang Sohyun.

Sohyun memejamkan matanya. Tangannya terkepal dan tampak gemetaran. Tangannya yang lain menggenggam pisau erat.

Donghae mengelus rambut Sohyun sambil memandang wajah cantik gadis itu, “Kau sangat cantik..” ucapnya, lalu menarik wajah gadis itu memandangnya dan bergerak maju untuk mencium bibir sang gadis.

Sohyun memejamkan matanya erat dan langsung menarik keluar pisau dari bawah bantal.

“Ahhk!!” seru Donghae kesakitan.

Sohyun terkejut dan membuka matanya, matanya melotot melihat lengan Donghae terluka akibat pisau yang ia pegang.

Donghae memegang lengannya dan menatap Sohyun marah, “Kau sudah berani melawan ha?!!” serunya.

PLAKK!!!

“Kyaaa!!” teriak Sohyun dan terbanting ke lantai akibat tamparan keras Donghae.

Donghae turun ke lantai dan langsung mendorong Sohyun berbaring dengan punggung, “Kau seharusnya tidak melawanku!!”

Sohyun berteriak histeris sambil hendak menusuk Donghae dengan pisau ditangannya. “Tidak!!! Lepaskan!!!”

Donghae menahan kedua tangan Sohyun dan mendorong tangan mulus itu ke lantai, terdengar dentingan besi ketika pisau tadi terlepas dari tangan gadis muda itu. “Bodoh! Seharusnya kau bersyukur bisa menemaniku! Hahahahaha…” ia membungkuk dan menciumi leher gadis itu.

Sohyun menangis karena perlakuan Donghae seperti ini, “Ahjussi.. lepaskan aku..” tangisnya. Ia tidak mampu melawan. Terakhir kali ia melawan, pria itu hampir menjatuhkannya dari lantai dua.

Klek…

Donghae tertegun dan mengangkat kepalanya memandang siapa yang membuka pintu.

Jina terpaku menatap Donghae di lantai, ia sampai tidak bisa mengatakan apa pun.

Donghae langsung melepaskan kedua tangan Sohyun dan bergerak bangkit, “Jina, aku bisa menjelaskannya..” ucapnya.

Hyunseung yang ikut bersama Jina memandang ke dalam dari bahu wanita itu. Ia melihat Sohyun bergerak bangkit dan mengambil pisau di lantai.

Mata Jina yang menatap Donghae marah memerah dan bulir air berjatuhan, “Aku mempercayaimu, Donghae..” ucapnya dengan suara bergetar.

Mata Hyunseung membesar melihat Sohyun mengarahkan pisaunya pada Donghae, “Jangan Sohyun!!” serunya sambil berlari masuk.

Sohyun bergerak maju untuk menusuk Donghae, namun Hyunseung menahan tangannya dan mendorongnya menjauh dari pria itu. “Lepaskan aku!! Aku harus membunuhnya!!!” teriaknya histeris.

Hyunseung berusaha menahan tangan Sohyun, “Sohyun!! Hentikan!!”

Jina menatap Sohyun, hatinya terasa tercabik-cabik mengetahui apa yang telah di lakukan pria yang ia cintai pada putrinya.

“Aku harus membunuhnya, dokter..” tangis Sohyun.

Hyunseung menatap kedua mata Sohyun dan menggeleng, “Ani, kau akan menghancurkan masa depanmu jika membunuhnya..”

Sohyun menangis tersedu-sedu, “Tapi dia menghancurkannya terlebih dulu..”

Hyunseung menarik Sohyun ke pelukannya dan mengelus rambut gadis itu, “Dan dia akan membayarnya..” ucapnya pelan, lalu memandang Jina.

Jina menatap Donghae, “Sejak kapan kau mulai melakukan ini?”

“A-aku… tunggu, aku bisa menjelaskan semuanya..” ucap Donghae.

Jina menghela nafas dalam dan mengangguk, “Ne, semua yang terjadi harus mempunyai penjelasan..” ucapnya pelan, lalu memandang Sohyun dan melangkah menghampiri putrinya.

Hyunseung tertegun mendengar ucapan tenang Jina, “Dokter kepala?”

Jina memandang Hyunseung, lalu memandang putrinya. “Sohyun, berikan pisau itu..” ucapnya sambil mengambil pisau tadi.

Hyunseung memandang Jina tak percaya, lalu menatap Donghae yang terlihat puas. Namun matanya langsung melotot melihat wanita itu yang menusuk tunangannya di perut.

“Ahhhk!!!” seru Donghae dan menatap Jina tak percaya.

Jina menatap Donghae penuh kebencian, “Tapi seorang ibu tidak memiliki pemikiran seperti itu, Donghae..” ucapnya, lalu mencabut lagi pisau yang ia tusukkan.

“Ji-Jina?” ucap Donghae menahan sakit, kedua tangannya menahan darah yang keluar dari perutnya dan jatuh ke lantai.

Hyunseung dan Sohyun menatap Donghae tak percaya, lalu menatap Jina. “Dokter kepala?”

Jina menghela nafas dalam dan menjatuhkan pisau di tangannya, “Dokter magang Jang, panggil ambulance..” ucapnya, lalu memandang Sohyun dengan mata basah. “Sohyun-a..” ucapnya dan menarik gadis itu ke pelukannya. “Miane Sohyun.. Jeongmall miane..”

Meskipun bingung, Hyunseung tetap menghubungi ambulance. Lalu memandang Jina, “Dokter kepala?”

Jina memandang Hyunseung, “Gwenchana, aku mempelajari anatomi manusia selama belasan tahun. Aku tau pisau itu tidak akan melukai organ dalamnya..” jelasnya tanpa melepaskan pelukannya pada Sohyun.

Hyunseung tertegun dan memandang Donghae yang masih merintih di lantai.

 

=Rumah Sakit=

Jina menatap Sohyun kaget, “K-kau hamil?”

Sohyun mengangguk dengan bulir air mata berjatuhan, “Ne, eomma..”

Hati Jina tidah hanya tercabik-cabik, juga hancur berkeping-keping mendapatkan hasil pemeriksaan Sohyun dari Hyunseung juga pengakuan putrinya. Bulir air matanya berjatuhan dan memegang kedua bahu putrinya, “Sejak kapan dia melakukan ini padamu?”

“Sejak eomma mengijinkannya menginap di rumah kita..” jawab Sohyun pelan.

Jina merasakan tusukan lain ke hatinya, kedua tangannya memegang pipi Sohyun dan menatap putrinya penuh penyesalan. “Kenapa kau tidak memberitau eomma Sohyun?”

Sohyun memandang ibunya, “Donghae ahjussi menyakitiku eomma.. Dia menjambak dan menamparku jika aku tidak menuruti ucapannya..”

Jina merasa tidak sanggup lagi hidup dengan semua yang menimpa putrinya, “Eomma jeongmall miane, Sohyun..” ucapnya dan mendekap putrinya sambil terus menangis.

Di depan ruangan Jina, Hyunseung berdiri bersandar ke dinding sambil mendengarkan kedua orang didalam. Ia lega Sohyun sudah terbebas dari Donghae dan ia mendapat perlindungan dari ibunya. Bibirnya membentuk senyuman dan melangkah pergi.

 

 

<<Back           Next>>

 

Advertisements

5 thoughts on “I’m So Sorry, I Love You Girl [Chapter 15]

  1. akirnyaaaaa masalah sohyunnkelar jugaaa…
    jina keren bangeettt…
    dya ngadepin semua tu dengan ketenangan..
    bahkan ketika nusuk donghae..
    masih nunggu momen manis 2hyun..
    lanjuutt ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s