Chapter

I’m So Sorry, I Love You Girl [Chapter 9]

9

—Hyunseung’s Feeling—

Hyuna berbaring di tempat tidurnya sambil memandangi langit-langit. Ia merasa aneh setelah mendengar pengakuan Junhyung tadi siang. Kepalanya menoleh mendengar langkah kaki menaiki tangga. Dengan cepat ia bangkit dan berjalan ke pintu.

Hyunseung menoleh ketika pintu kamar Hyuna terbuka, “Oh.. kau belum tidur?”

Hyuna tersenyum, “Belum, aku ingin menunggu oppa pulang dulu..” ucapnya sambil mendekati Hyunseung.

Dahi Hyunseung berkerut, “Wae?”

Hyuna memeluk lengan Hyunseung dan menarik pria itu ke kamar sang pria.

“waekeure?” Tanya Hyunseung bingung ketika Hyuna mendorongnya duduk di pinggir tempat tidur dan duduk dibelakangnya.

“Tenang dulu..” ucap Hyuna dan mulai memijat pundak Hyunseung.

Hyunseung tersenyum merasakan pijatan Hyuna dan memandang gadis di belakangnya, “Sejak kapan kau mulai memperhatikanku?”

Hyuna tersenyum manis sambil terus memijat, “Oppa kan sudah bekerja seharian, pasti lelah..” ucapnya.

Hyunseung tertawa kecil dan membiarkan Hyuna memijat pundak dan bahunya, “Mmm.. Pijatanmu cukup baik untuk orang berdada kecil..” candanya sambil menahan tawa.

Hyuna menatap Hyunseung kesal, “Aissh..” gumamnya, “Pantas saja kau mudah lelah, penismu kecil..” ucapnya membalas Hyunseung.

Hyunseung menatap Hyuna kesal. Namun tak lama mereka malah tertawa geli karena ejekan mereka.

“Kau hanya melihat sekilas, jangan asal berbicara..” ucap Hyunseung menahan tawa, “Cepat pijat lagi..” ucapnya.

Hyuna tertawa dan mulai memijat lengan Hyunseung.

Hyunseung diam menikmati pijatan Hyuna.

Hyuna memandang wajah Hyunseung dan senang sendiri ia melakukan hal yang benar. “Oppa..” panggilnya di tengah keheningan itu.

“Hmm..” gumam Hyunseung.

“Mmm.. apa oppa memiliki gadis yang kau sukai?” Tanya Hyuna hati-hati.

Hyunseung tertegun dan memandang Hyuna.

Hyuna memandang Hyunseung menunggu jawaban pria itu, “Ada atau tidak?”

Hyunseung memandang ke bawah, “Ani..” jawabnya pelan.

Hyuna tersenyum mendengarnya, “Jinja?”

Hyunseung kembali memandang Hyuna dan mengangguk sambil tersenyum. “Ne..”

Hyuna tidak tau kenapa ia sangat senang mengetahuinya, “Hmm.. syukurlah..” ucapnya dan kembali memijat.

Hyunseung tertawa kecil, “Wae? Kau takut oppa akan diambil orang?”

Hyuna tertawa malu, “Ani.. Hanya bertanya..” ucapnya.

“Sudah, tidurlah.. Sudah larut malam..” ucap Hyunseung sambil menahan tangan Hyuna.

Hyuna mengangguk, “Keure, selamat malam oppa..” ucapnya dan mencium pipi Hyunseung, lalu keluar dari kamat pria itu.

Hyunseung tertegun di tempatnya merasakan kecupan Hyuna di pipinya, matanya memandang gadis itu yang keluar dari kamarnya sambil tersenyum malu. Ia ingin merasa senang karena hal ini, tapi ia tidak bisa. Tangannya bergerak memegang pipinya sambil menghela nafas dalam.

=Flashback, Motel=

Hyunseung kembali merapikan pakaian Hyuna setelah memeriksa tubuh gadis itu, ia bisa menghela nafas lega karena gadis itu tidak cedera sedikit pun dan tidak mendapatkan kekerasan sexual. Tangannya menarik selimut dan menyelimuti tubuh gadis itu.

“Oppa..” gumam Hyuna.

Hyunseung tertegun dan memandang Hyuna yang terlihat mengigau.

“Oppa..” gumam Hyuna lebih jelas.

“Sssshh.. istirahatlah..” ucap Hyunseung pelan sambil mengelus rambut Hyuna.

Mata Hyuna terbuka dan langsung memandang Hyunseung, namun masih terlihat tidak focus.

“Wae?” Tanya Hyunseung.

Hyuna bergerak bangkit perlahan, namun ia seperti berada di atas kapal yang terombang-ambing.

Hyunseung menahan tubuh Hyuna sebelum gadis itu membanting diri ke kasur, “Ya.. berbaring saja..” ucapnya.

Hyuna yang mabuk berat memandang Hyunseung dan berusaha duduk lurus, “Oppa..”

“Ne..” jawab Hyunseung.

Kedua tangan Hyuna terangkat dan memegang kedua pipi Hyunseung dan menatap pria itu tepat dimatanya.

Hyunseung tertegun melihat wajah Hyuna mendekat, “W-waekeure?” tanyanya gugup.

“Oppa…” panggil Hyuna lagi, kali ini Hyunseung tidak sanggup menjawab. “…saranghae..” ucapnya pelan, lalu memejamkan mata dan mencium bibir Hyunseung.

Mata Hyunseung membesar mendengar ucapan dan perlakukan Hyuna ini padanya. Namun, ia juga tak memungkiri perasaannya pada gadis yang seharusnya menjadi adiknya ini. Matanya perlahan terpejam dan membalas ciuman manis itu.

=Flashback End=

Hyuna tersentak dari tidurnya dan langsung bergerak duduk sambil memegang kepala, “Ahhh.. mwoya?” gumamnya tak mengerti, baru saja ia bermimpi mencium Hyunseung, “hmmm.. untung hanya mimpi..” ucapnya dan kembali berbaring.

 

=Keesokan Paginya=

Hyunseung tidak pernah mengatakan kejadian malam itu pada siapa pun, hal itu hanya rahasia manis yang tidak di ingat bahkan oleh Hyuna sendiri. Tapi ia lega tidak ada yang mengetahuinya. Namun, masalah yang ia miliki sekarang. Hyuna sudah mulai terlihat tertarik padanya. Itu masalah yang sangat besar.

“Eomma, aku akan membawa bekal lagi.” ucap Hyuna sambil tersenyum.

Misuk tertegun mendengar ucapan Hyuna, “Ne? waeyo?”

“Aku hanya ingin..” jawab Hyuna ceria, lalu memandang Hyunseung yang juga memandangnya tak percaya. Saat itu ia menyadari ayahnya tidak ada, “Eomma, kenapa appa tidak sarapan juga?”

“Hm? Ohh… appa harus keluar kota, jadi pergi pagi sekali. Jangan khawatir..” jawab Misuk.

“Keluar kota? Kemana eomma?’ Tanya Hyuna.

Ekspresi Misuk berubah canggung dan memandang Hyunseung yang sekarang menunduk memandang makanannya.

Hyuna mengerutkan dahi, “Waeyo?”

“Mmm.. appa mengurus berkas-berkas orangtua Hyunseung..” jawab Misuk pelan.

Hyuna tertegun dan memandang Hyunseung, “Ohh..” jawabnya dan mulai makan tanpa berkomentar lagi.

Hyunseung menyelesaikan makannya dan meletakkan sumpit di meja, “Aku selesai.. Gamshamida eommanim..” ucapnya sambil bangkit dan membungkuk sopan, lalu melangkah pergi.

Misuk menatap Hyunseung sedih, ia bangkit perlahan dan mengikuti pria itu keluar dari ruang makan.

Hyuna memperhatikan ibunya dan ikut bangkit, namun ia hanya memperhatikan dari pintu ruang makan.

Misuk mengikuti Hyunseung ke ruang depan, “Hyunseung-a..”

Hyunseung berhenti dan memandang Misuk, “Ne, eommanim..”

Misuk menatap Hyunseung dengan senyuman hangatnya, lalu memegang bahu pria muda itu. “Kau tenang saja.. Abeunim akan menyelesaikannya..”

Hyunseung tersenyum dan mengangguk, “Ne, eommanim..”

Misuk menatap seluk beluk wajah Hyunseung sambil tetap tersenyum, Namun matanya mulai berkaca-kaca. “Oohh.. kenapa ini?” ucapnya sambil menyeka air mata yang sudah berkumpul hendak jatuh.

Hyunseung tersenyum sedih dan menggenggam tangan Misuk, “Gwenchana eommanim. Apa pun yang terjadi, aku tetap putramu..”

Misuk berusaha keras untuk tersenyum, tapi bulir air matanya tetap berjatuhan. Tangannya bergerak mengelus kepala Hyunseung, “Eomma tidak percaya waktu berjalan cengan cepat.. Dulu ketika datang kerumah kami kau masih anak kecil yang menggemaskan, sekarang kau sudah dewasa..”

Hyunseung menunduk agar Misuk tidak melihat matanya yang mulai berair dan mengangguk, “Ne, eommanim..” jawabnya.

Misuk menarik Hyunseung ke pelukannya dan mendekap pria itu sambil mengelus belakang kepala pria itu lembut.

Hyunseung memejamkan matanya dan memeluk Misuk, “Gamshamida, eommanim..” ucapnya tulus.

Misuk tersenyum, “Untuk apa berterima kasih? Seorang ibu tentu saja akan mencintai anak-anaknya..” ucapnya dan melepaskan pelukannya.

Hyunseung berusaha sekeras yang ia bisa untuk menahan air matanya ketika menatap Misuk lagi dan memberikan senyuman terbaiknya, “Eommanim, aku akan memberitau Hyuna sendiri. Jadi, jangan katakan apa pun dulu padanya..” pintanya.

Misuk mengelus pipi Hyunseung dan mengangguk, “Ne, sekarang pergilah.. Nanti kau terlambat..”

Hyunseung membungkuk sopan, lalu melangkah keluar dari rumah.

Hyuna mengerutkan dahi melihat ibunya kembali ke ruang makan dengan mata sembab, “Eomma, waekeure?” tanyanya.

Misuk tersenyum, “Aniya, sesuatu masuk ke mata eomma..” jawabnya.

Hyuna menatap ibunya aneh, “Ne?”

“Sudah, habiskan saja makananmu.. Nanti kau terlambat..” ucap Misuk sembari duduk ke tempatnya lagi.

 

=Cube High School=

Hyuna dan Sohyun menikmati makan siang di belakang sekolah, mereka memang sudah berencana untuk membawa bekal jadi bisa makan bersama seperti ini.

“Hyuna-a, apa ibumu yang menyiapkan bekalmu?” Tanya Sohyun.

Hyuna mengangguk, “Ne, ibuku selalu membuatkanku bekal. Tapi belakangan ini aku merasa itu kekanakan dan memintanya berhenti. Tapi hari ini aku sadar ini sangat menyenangkan..” ucapnya sambil tersenyum.

Wajah Sohyun tampak sedih, “Hmm.. begitu.. Kau beruntung sekali.. Ibuku selalu sibuk, jadi aku hanya diurusi pembantu..” ucapnya.

Hyuna tertegun, “Oh.. mianata Sohyun-a..”

Sohyun tersenyum, “Gwenchana.. Aku sudah terbiasa..”

Hyuna tersenyum tipis.

Sohyun merasakan ponselnya bergetar disaku dan mengeluarkannya, “Oh.. ibuku.. Sebentar..” ucapnya sambil bangkit dan melangkah menjauh.

Hyuna memperhatikan Sohyun sejenak dan kembali asik dengan makanannya.

Sohyun menempelkan ponsel itu ketelinganya, “Ne, eomma..”

“Sohyun-a, eomma tidak bisa pulang malam ini. Tetaplah dirumah.. Araso?”

Sohyun tertegun, “Tapi eomma sudah hampir seminggu tidak pulang..”

“Eomma hanya tidak bisa, Sohyun. Sampai nanti..”

“Eomma!” panggil Sohyun, tapi panggilan itu sudah berakhir. Ia menghela nafas dalam dan kembali ke tempat Hyuna tadi.

Hyuna bingung melihat ekspresi Sohyun, “Waeyo Sohyun-a?”

Sohyun tersenyum tipis, “Aniya..” jawabnya dan kembali makan.

 

=Seoul Hospital=

Hyunseung memangmemandang file pasien yang masuk ke gawat darurat hari ini, namun pikirannya tidak disana. Ia memikirkan hal yang membuat Jongnam pergi keluar kota. Ia tidak tau bagaimana caranya memberitau Hyuna tentang hal itu. Kepalanya menoleh ketika mendengar seseorang duduk. Ternyata Jina. “A-annyeonghaseo…” sapanya kaku.

Jina memandang Hyunseung, pria itu kembali memandang file pasien, “Kau mendengar pembicaraanku waktu itu kan?”

Hyunseung tertegun dan menatap Jina kaget, “N-ne?! a-aniya..”

“Aku tau kau mendengarnya..” ucap Jina.

Hyunseung tidak bisa mengelak lagi dan menunduk menyesal, “Cesonghamida..” ucapnya menyesal.

Jina menghela nafas dalam, “Eunkwang sudah memberitaumu?”

Hyunseung memandang Jina tak mengerti, “Ne?”

“Tentang putriku..” ucap Jina.

Hyunseung tersentak, “Ne?! ooh.. a-aku tidak tau Dokter Kepala Choi..” ucapnya pelan.

Jina mendengus kesal, “Anak itu! selalu saja membuat masalah..” gumamnya kesal.

Hyunseung memandang Jina bingung, “Ne?”

Jina menatap Hyunseung tajam, “Aku memang mempunyai putri saat SMA. Jika berita itu tersebar di sini, kau dan Eunkwang akan mati! Araso?!” ancamnya dengan suara tertahan.

Hyunseung menelan ludah dan mengangguk kaku.

“Bagus!” ucap Jina, lalu bangkit dan melangkah pergi.

Hyunseung mengerutkan dahinya memperhatikan Jina pergi, tak percaya apa yang dikatakan Eunkwang sebagai lelucon itu ternyata memang kenyataan.

 

 

<<Back           Next>>

Advertisements

4 thoughts on “I’m So Sorry, I Love You Girl [Chapter 9]

  1. ahhhh hyunhyun oppa ternyata punya kenangan manis yg d jadiin rahasia pribadi nya sendiri…
    aigoooo…

    apa sebenarnya yg terjadi ma hyunhyun oppa..
    apa dya mau pergi..
    knpa umma hyuna sampe seperti ituuu..
    penasaraaann…
    lanjuutt ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s