Chapter

I’m So Sorry, I Love You Girl [Chapter 6]

6

 

—New Friend—

Hyuna duduk di tempat tidurnya memandangi Hyunseung yang duduk disebelahnya sambil mengompres bawah mata, “Oppa..”

Hyunseung memandang Hyuna, “Ne…”

Hyuna tampak ragu untuk berbicara, “Mmm.. apa oppa akhir-akhir ini benar-benar menghindariku?”

Hyunseung diam sejenak memikirkan jawabannya, “Mmm.. ani..”

“Lalu, kenapa oppa tidak pernah berbicara padaku? Juga bersikap seperti memusuhiku..” ucap Hyuna tak mengerti.

Hyunseung menghela nafas dalam dan menurunkan kantung es dari matanya, “Oppa hanya….” Ia menggantung ucapannya sejenak dan memandang Hyuna, “..merasa tidak bisa menjagamu dengan baik..”

Hyuna tertegun mendengar ucapan Hyunseung.

Hyunseung memandang kebawah menyesal, “Jika kau benar-benar di perkosa malam itu, apa yang harus kulakukan?” tanyanya, “Bagaimana perasaan eommanim dan abeunim?”

Hyuna tersentuh mendengar ketulusan dalam nada bicara Hyunseung, “Oppa..”

Hyunseung memandang Hyuna dan tersenyum hangat, “Sudah, istirahatlah..” ucapnya, lalu bangkit sambil mengelus rambut Hyuna dan melangkah keluar.

Hyuna masih terdiam di tempatnya memperhatikan Hyunseung keluar. Ia tak percaya pria itu sangat memperhatikan dirinya dan keluarganya hingga seperti ini. “Miane oppa..” gumamnya menyesal.

Keesokan paginya.

“Oppa!!” panggil Hyuna sambil mengejar Hyunseung yang sudah keluar dari pagar.

Hyunseung berhenti dan memandang Hyuna, “Wae?”

Hyuna tersenyum lebar, “Oppa, eomma berkata rumah sakit tempatmu magang searah dengan sekolahku. Kenapa tidak mengantarkanku sekalian?”

Hyunseung tersenyum, “Keure..” ucapnya dan naik ke sepeda.

Hyuna senang Hyunseung setuju dan naik ke boncengan sepeda pria itu. Pria itu mulai mengayuh sepeda, membuat rambutnya berterbangan tertiup angin. Namun ia tidak peduli jika rambutnya akan kusut, ia terlalu senang bisa kembali dekat dengan Hyunseung.

 

=Cube High School=

Hyunseung menghentikan sepedanya di depan sekolah Hyuna dan memperhatikan gadis itu turun.

Hyuna tersenyum, “Gumawo oppa..” ucapnya.

Hyunseung menganguk sambil tersenyum, “Ne.. oppa pergi..” ucapnya dan kembali mengayuh sepedanya.

Hyuna melambai pada Hyunseung, lalu melangkah riang menuju kelasnya.

Gayoon dan Jiyoon tertegun melihat Hyuna masuk kelas dengan senyuman riang seperti biasa.

Hyuna duduk di tempatnya, “Annyeong..” sapanya.

Gayoon menatap Hyuna bingung, “Hyuna-a, gwenchana?”

Hyuna memandang Gayoon lebih bingung, “Memangnya aku kenapa?”

“Mmm.. kau sudah bisa menerima kejadian waktu itu?” Tanya Jiyoon.

Hyuna yang biasanya akan kesal mendengar tentang itu, sekarang merasa hal itu sangat lucu mengingat Hyunseung bahkan sampai memeriksa tubuhnya untuk memastikan. “Hahaha.. sudah kubilang itu tidak benar.. Hufftt.. kalian ini..” ucapnya lucu.

Gayoon dan Jiyoon tertegun dengan respon Hyuna kali ini, “Ne?”

“Sudah.. jangan dibahas lagi.. Hahahaha..” tawa Hyuna.

Hyuna melangkah seorang diri menuju perpustakaan untuk mencari buku, namun Junhyung muncul dan membuatnya berhenti.

Junhyung tersenyum lebar, “Ohh.. Hyuna-ku sangat ceria pagi ini. Wae? Kau memimpikan kejadian itu?”

Hyuna cemberut menatap Junhyung, “Ne! aku memimpikannya setiap malam! Kau puas?!” ucapnya, lalu menjulurkan lidah pada pria itu dan melangkah pergi.

Junhyung tertegun dengan respon Hyuna dan memandang gadis itu tak percaya.

Hyuna tidak akan terpengaruh dengan pembahasan tentang malam itu lagi karena ia sangat mempercayai Hyunseung. Ia masuk ke perpustakaan dan mulai mencari buku. Ia mengambil satu buku dan mencari yang lainnya lagi. Setelah mendapatkan beberapa buku, ia mencari tempat duduk kosong untuk membaca buku itu. ia duduk disebelah seorang gadis yang juga asik membaca. Beberapa menit membaca, ia menoleh pada gadis di sebelahnya. Ia merasa gadis itu tidak asing.

Gadis imut disebelah Hyuna memandang gadis itu bingung, “Waeyo?”

Hyuna tersenyum, “Aniya, aku hanya merasa kau tidak asing..”

Gadis itu tersenyum, “Kita pernah sekelas saat SMP..”

Hyuna tertegun, “Oh.. jinja?”

Gadis itu mengangguk, “Ne.. Tapi wajar saja kau tidak ingat padaku, kau selalu menjadi pusat perhatian dan aku hanya berada di kelas karena takdir..”

Hyuna menahan tawa mendengar ucapan gadis itu, “Ireumi mwoyeyo?”

“Sohyun.. Kwon Sohyun..” jawab gadis bernama Sohyun itu.

“Ohh.. Sohyun..” ucap Hyuna sambil mengangguk, “Kau tau namaku?”

“Ne, Kim Hyuna..” jawab Sohyun sambil tersenyum.

“Wuaa.. ternyata aku sangat terkenal..” canda Hyuna dan menahan tawa bersama Sohyun.

“Ne, ingatanku sangat kuat. Sekali bertemu seseorang aku bisa mengingat wajahnya terus, juga namanya.” Ucap Sohyun memberitau.

“Ahh.. kau pasti sangat pintar ya?” Tanya Hyuna.

“Mmm.. tidak juga. Aku hanya beruntung bisa mengingat apa yang ada di dalam buku.. hehehe..” jawab Sohyun.

Hyuna merasa senang berbicara dengan Sohyun seperti ini, apalagi ia tidak perlu memikirkan fashion, image maupun popularitas ketika sedang mengobrol bersama.

 

=Seoul Hospital=

Hyunseung masuk ke ruang control dokter sambil mengelus pundaknya, saat itu ia melihat Jina sedang berbicara di telepon dan tidak ada orang lain disana. Jadi dia kembali menarik pintu agar tidak menggangu kepala dokter itu.

“Eomma mengerti, jangan hubungi eomma seperti ini. Sudah.. sampai jumpa dirumah..” ucap Jina dan memutuskan telepon. Ia merasa ada seseorang dan memandang ke pintu, lalu bangkit dan berjalan kesana. Ketika menarik pintu terbuka, Hyunseung langsung terkejut dan menatapnya kaget.

“Oh! Ce-cesonghamida..” ucap Hyunseung kaget sambil membungkuk sopan dan langsung berbalik pergi.

Jina menghela nafas dalam dan kembali menutup pintu.

Hyunseung sendiri tidak tau mengapa ia jadi gugup seperti itu.

Eunji mengerutkan dahi melihat Hyunseung kembali ke ruang gawat darurat, “Kupikir tadi kau akan beristirahat..” ucapnya heran.

Hyunseung bergerak duduk, “Aku berubah pikiran..” ucapnya pelan dan kembali membuka file-file pasien.

“Aku akan membantu Han sanbae..” ucap Eunji, lalu melangkah pergi.

Hyunseung memandang Eunji sekilas, lalu kembali memandang file pasien.

“Yo.. Dokter magang Jang..” sapa Eunkwang, seorang dokter gawat darurat yang memiliki sifat friendly dan berjiwa muda meskipun sudah memiliki dua anak.

Hyunseung membungkuk sopan, “Annyeonghaseo, sanbaenim..” sapanya.

Eunkwang tersenyum, “Kudengar ada pasien kecelakaan parah hari ini..”

“Ne, sanbaenim.. Sekarang sedang di operasi. Kaki kanannya patah dan terjadi pendarahan di perut bawahnya..” jawab Hyunseung.

Eunkwang tertawa kecil dan menepuk bahu Hyunseung, “Santai saja, kau seperti sedang mengikuti ujian..” ucapnya lucu.

Hyunseung tersenyum malu, “Ne..” ucapnya. Setelah beberapa saat membaca file pasien lagi, ia kembali memandang Eunkwang. “Mmm.. sanbaenim..”

“Ne..” jawab Eunkwang.

“Mmm.. itu.. aku tau ini bukan urusanku.. Tapi, aku hanya ingin tau.. Apakah Dokter kepala Choi sudah mempunyai anak?” Tanya Hyunseung ragu.

Eunkwang memandang Hyunseung bingung sejenak, lalu tertawa kecil. “Dia saja belum menikah..”

Hyunseung mengerutkan dahinya, “Oh.. begitu.. Gamshamida..” ucapnya pelan dan kembali memandang file pasien, meskipun begitu ia masih memikirkan pembicaraan Jina yang tidak sengaja ia dengarkan tadi.

Eunkwang tersenyum melihat ekspresi Hyunseung yang masih terlihat bingung, ia membungkuk ke telinga pria itu dan berbisik. “Tapi dia memiliki putri ketika SMA…”

Hyunseung terperanjat dan menatap Eunkwang kaget, “M-Mwo?!”

Eunkwang tertawa melihat ekspresi Hyunseung, “Dasar kau polos sekali..” ejeknya, lalu bangkit dan berjalan pergi.

Hyunseung mendengus kesal, “Kupikir kau serius sanbaenim..” protesnya.

Eunkwang hanya tertawa.

Hyunseung geleng-geleng kepala dan kembali menatap file di tangannya.

 

=Beberapa Hari Kemudian=

Junhyung sengaja menunggu Hyuna di depan kelas gadis itu ketika istirahat, tepat ketika gadis itu keluar, ia langsung menariknya menuju kelas music yang kosong.

“Sanbae!! Lepaskan!!” seru Hyuna.

Junhyung melepaskan Hyuna dan menatapnya kesal, “Pabo ya?! Aku berkata sudah menidurimu!! Dan kau masih bisa tertawa seperti biasa!! Apa kau sudah tidak punya malu?!”

Hyuna menatap Junhyung marah, “Ne! aku sudah tidak punya malu! Wae?!”

Junhyung terbakar emosi, dengan cepat ia memegang kedua pipi Hyuna dan mencium bibirnya.

Mata Hyuna melotot dan langsung mendorong Junhyung, “Sanbae!!!” teriaknya marah.

Junhyung menatap Hyuna tajam, entah mengapa ia merasa sangat marah karena ucapan Hyuna. Ia benar-benar terbakar emosi. Rasanya kepalanya akan meledak. Satu tangannya terulur dan mencengkeram lengan gadis itu.

“Aahkk!!! Sanbae sakit! Lepaskan!!” seru Hyuna sambil memukul tangan Junhyung.

Satu tangan Junhyung yang lain memegang belakang kepala Hyuna dan kembali mencium bibir gadis itu.

“Hmmmp!! Hmmppp!!!” seru Hyuna sambil berontak. Tapi Junhyung terlalu kuat. Semakin keras perlawanannya, semakin keras pria itu menarik rambutnya. Akhirnya ia hanya memejamkan mata dan menutup rapat mulutnya. Ia merasa tak berdaya. Bulir air mengalir dari celah matanya, membasahi pipinya.

Junhyung mencengkeram rambut Hyuna lebih keras agar gadis itu membalas ciumannya, namun ia tertegun merasakan pipinya ikut basah karena air mata Hyuna. Matanya terbuka dan memandang gadis di depannya. Ia menarik wajahnya dan melepaskan rambut Hyuna.

Hyuna menangis karena perlakuan kasar Junhyung, “Kenapa kau melakukan ini sanbae?” gumamnya sambil terus menangis.

Untuk pertama kalinya dalam hidup Junhyung, ia benar-benar merasa menyesal telah melakukan ini. Melihat Hyuna menangis membuat hatinya bergetar.

BRAKK!! Pintu ruang music terbuka dengan paksa, muncul guru Kim yang langsung melotot melihat Junhyung masih memegang tangan Hyuna yang menangis.

“YONG JUNHYUNG!!!” seru Guru Kim marah.

Junhyung masih menatap Hyuna yang terus menangis, tangannya bisa merasakan tubuh gadis itu gemetaran. Pandangannya terputus ketika Guru Kim mendorongnya menjauh dari Hyuna.

Sohyun yang datang bersama Guru Kim langsung menghampiri Hyuna, “Hyuna-a, gwenchana?” tanyanya khawatir.

Hyuna menunduk dan menggeleng.

“Kwon Sohyun, bawa Kim Hyuna ke ruang kesehatan..” ucap Guru Kim.

“Ne, sam..” ucap Sohyun dan merangkul Hyuna keluar dari ruang music.

Guru Kim menatap Junhyung marah, “Dan kau!! Kuharap orang tuamu tidak punya penyakit jantung!” ucapnya, “Ikut aku!” ia menarik kerah baju pria itumenuju ruang guru.

Ruang kesehatan.

“Ini.. minumlah dulu..” ucap Sohyun sambil memberikan segelas air pada Hyuna.

Hyuna menyeka air matanya dan meminum air di gelas itu, ia merasa lebih baik sekarang.

“Gwenchana?” Tanya Sohyun.

Hyuna mengangguk dan tersenyum tipis, “Gumawoyo, Sohyun-a..”

Sohyun tersenyum, “Ne..”

“Oh ya, bagaimana kau bisa datang dengan Guru Kim?” Tanya Hyuna.

“Mmm.. tadi aku melihat Junhyung sanbae menarikmu ke ruang music, karena kau terlihat tidak suka, aku mengikuti kalian. Ketika aku melihat dari celah pintu, Junhyung sanbae menciummu secara paksa. Jadi aku langsung berlari ke ruang Guru..” jelas Sohyun.

Hyuna mengangguk mengerti dan kembali tersenyum, “Gumawoyo…”

Sohyun tersenyum dan duduk di sebelah Hyuna, “Mungkin orangtuamu akan datang sebentar lagi..”

Hyuna tertegun, “Ne? omo!”

Ruang Guru.

PLAKK!!

Wajah Junhyung menghadap kesatu sisi karena tamparan ayahnya, sudut bibirnya sampai mengeluarkan darah.

“Omo!! Abeunim, tenangkan dirimu.. Kekerasan tidak akan membantu apa pun..” ucap Guru Han, wali kelas Junhyung.

“Anak tidak tau diri!! Bagaimana mungkin kau melakukan hal seperti itu di sekolah!!” seru Tuan Yong marah.

Junhyung menunduk tanpa mengatakan pembelaannya.

Tok! Tok! Tok! Terdengar ketukan pintu dan pintu terbuka.

“Annyeonghaseo, wali Kim Hyuna sudah tiba. Guru Han..” ucap Guru Kim.

“Oh.. ne..” ucap Guru Han.

Jongnam masuk dengan wajah tegang, “Annyeonghaseo..” sapanya.

“Ne, Hyuna abeunim, silahkan masuk..” ucap Guru Han.

Jongnam melangkah masuk dan langsung menatap Junhyung tajam, “Apa kau yang melakukan pelecehan pada putriku?!”

Junhyung tetap hanya menunduk tanpa mengatakan apa pun.

Tuan Yong membungkuk sopan, “Cesonghamida, aku tidak mendidik putraku dengan baik hingga melakukan hal memalukan ini pada putrimu..”

Jongnam tertegun melihat Tuan Yong membungkuk sopan padanya, “Oh.. aniya.. aniya.. anda tidak salah..” ucapnya.

Tuan Yong menatap Junhyung dan mendorong belakang leher putranya agar membungkuk, “Katakan permintaan maafmu!!” serunya.

Junhyung menahan sakit dari cengkeraman ayahnya, “Cesonghamida..” ucapnya pelan.

Jongnam sekarang serba salah karena melihat ayah Junhyung sangat sopan, tidak mungkin ia memaki pria itu lagi jika sudah seperti ini.

 

 

<<Back           Next>>

Advertisements

8 thoughts on “I’m So Sorry, I Love You Girl [Chapter 6]

  1. nah nah bang jok akhirnya ketauan juga hahaaha xD
    ohh apa my seungi suka am jina ???????
    andweeeeeeeeee 😦 #LEBAY 😛
    asek hyuna ketemu temen lama 🙂
    next next next ^^
    #ppyong

  2. aduuhhh makin lama epep mu makin bikin penasaran unni..
    makin sulit ketebak…
    n penuh kejutan..
    langsung k next chap ya eon ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s