Chapter

I’m So Sorry, I Love You Girl [Chapter 11]

11

—Missing You—

Junhyung melangkah lagi di koridor sekolah menuju kelasnya. Semua orang memandangnya dan saling berbisik. Ia tidak peduli dan terus melangkah dengan dagu terangkat tinggi, meskipun namanya tidak sekeren dulu, ia masih harus menjunjung tinggi harga dirinya. Ia membuka pintu kelas di bagian belakang dan melangkah masuk, tidak peduli semua mata mengikuti gerak-geriknya. Ia melepaskan tas dan meletakkannya di meja, lalu duduk dengan tenang seperti tidak pernah terjadi apa pun.

Pelajaran pertama dimulai dengan tenang. Tidak ada yang mengusiknya sedikitpun. Kepalanya menoleh keluar jendela dan melihat anak kelas lain sedang berolahraga. Ia menghela nafas dalam dan kembali memandang bukunya, ‘Apa dia sekolah hari ini?’ batinnya.

Di kelas lain.

Sejak pelajaran dimulai, Hyuna hanya memandang lesu ke depan, ia tidak memiliki semangat belajar sama sekali saat ini. Hyunseung sudah hampir sepekan pergi, tapi tidak ada pesan ataupun panggilan dari pria itu.

“Hyuna-a, ayo ke kafetaria..” ajak Gayoon.

Hyuna menggeleng, lalu bergerak bangkit. “Aku akan ke perpustakaan..” ucapnya, lalu melangkah pergi.

Gayoon berpandangan dengan Jiyoon, “Ada apa lagi dengannya?”

Jiyoon mengangkat bahu, “Entahlah.. Sudah, ayo kita ke kafetaria..” ajaknya.

Gayoon mengangguk dan berjalan bersama Jiyoon keluar kelas.

Hyuna melangkah lesu menuju perpustakaan, ia lebih memilih duduk diam disana daripada berada di tengah keramaian orang.

Junhyung yang melangkah di koridor tertegun melihat Hyuna berlalu, ia diam sejenak memperhatikan gadis itu karena terlihat sedih. Ia melirik kanan kiri untuk memastikan tidak ada yang memperhatikannya, jika ada dia bisa dituduh akan melakukan hal buruk lagi pada gadis itu. ia melangkah pelan mengikuti gadis itu dengan tenang. Kedua tangan masuk ke saku celana dan sesekali melirik gadis itu.

Hyuna masuk ke perpustakaan dan mencari dimana Sohyun, ia melihat temannya itu sudah duduk disebuah meja dengan kapala bertumpu di lipatan tangan di meja. Ia duduk di hadapan temannya itu dan menopang dagu dengan tangan, “Sohyun-a..” panggilnya.

Junhyung masuk ke antara rak dan mengambil sebuah buku. Tangannya membuka buku itu, namun matanya melirik kearah Hyuna. Gadis itu sedang memanggil temannya yang terlihat tertidur.

Hyuna mengerutkan dahi karena Sohyun tidak pernah tertidur di perpustakaan, “Sohyun-a..” panggilnya lagi sambil memandang wajah gadis itu, “Ya Kwon Sohyun..” panggilnya sambil mengurlurkan tangan untuk memegang bahu temannya itu. matanya membesar merasakan suhu tubuh temannya panas, “Sohyun-a!” ucapnya mulai panic, ia langsung bangkit dan melangkah cepat ke belakang temannya itu. “Kwon Sohyun!!” panggilnya sambil mengguncang tubuh gadis itu.

Beberapa orang di perpustakaan memandang Hyuna bingung, begitu juga dengan penjaga disana. Ia bangkit dan menghampiri gadis itu. “Ada apa?” tanyanya.

“Ahjussi, dia sakit dan tidak sadarkan diri..” ucap Hyuna memberitau.

“Ne?” pria setengah baya itu mengulurkan tangannya untuk menyentuh dahi Sohyun dengan punggung tangannya, “Omona.. bawa dia ke ruang kesehatan..”

Hyuna menarik bahu Sohyun dan berusaha memapah temannya itu. ia terkejut seseorang menarik tangan temannya itu dan dengan mudah mengangkat tubuhnya. Apalagi melihat orang itu adalah Junhyung, “Sanbae?”

“Ayo cepat!!” ucap Junhyung dan langsung melangkah keluar dari perpustakaan.

“Ne? ohh.. sanbae, tunggu aku!” ucap Hyuna sambil mengikuti Junhyung.

Perawat di ruang kesehatan terkejut melihat Junhyung membawa Sohyun yang tak sadarkan diri masuk.

“Perawat, tubuhnya panas sekali!” ucap Junhyung memberitau.

“Baringkan dia disini..” ucap perawat itu pada Junhyung.

Hyuna ikut masuk dan menghampiri sisi tempat tidur dimana Junhyung membaringkan Sohyun. Ia menatap temannya itu khawatir.

Dahi Sohyun dipenuhi keringat, wajahnya pucat pasi.

Junhyung memperhatikan perawat memeriksa Sohyun, lalu memandang Hyuna yang menatap gadis itu cemas.

Guru Han masuk ke ruang kesehatan dengan wajah garangnya dan langsung melotot melihat Sohyun.

Junhyung memandang wali kelasnya heran, karena yang sakit bukan muridnya. “Waeyo sonsaengnim?” tanyanya.

Guru Han menatap Junhyung tajam, “Ya! Apa yang kau lakukan kali ini?!”

“Ne?” ucap Junhyung tak percaya.

Hyuna memandang Guru Han bingung, lalu memandang Junhyung yang terlihat sangat kesal.

“Sonsaengnim, apakah aku selalu bertanggung jawab dengan apa pun yang terjadi di sekolah ini?!” Tanya Junhyung tak percaya.

“Tapi semua orang melaporkan kau membawa gadis ini dalam keadaan pingsan! Apa yang kau lakukan?!” seru Guru Han.

“Sonsaengnim..” ucap Hyuna sambil menghampiri Guru Han, “Junhyung sanbae tadi membantuku membawa Sohyun dari perpustakaan..” ucapnya menjelaskan.

Guru Han tertegun memandang Hyuna, “Jinja?”

Hyuna mengangguk, “Ne, sonsaengnim..”

Guru Han tampak malu dengan tuduhannya tadi dan memandang Junhyung yang menatapnya kesal, ia berdehem dan memandang perawat. “Apa yang terjadi padanya, perawat Lim?”

Perawat Lim memandang Guru Han, “Han Sonsaengnim, sepertinya gadis ini tidak mendapat demam biasa. Dia harus melakukan pemeriksaan darah dan mendapat pertolongan medis di rumah sakit..”

“Ne? sohyun-a..” ucap Hyuna tak percaya.

“Ne? ohh.. kalau begitu aku akan menghubungi ambulance untuk membawanya…” ucap Guru Han sambil mengeluarkan ponselnya.

Junhyung menahan tangan Guru Han, membuat pria awal 30-an itu memandangnya. “Sam, jika memanggil ambulance, butuh 30 menit untuk tiba disini. Juga butuh 30 menit tiba lagi di rumah sakit. Tapi jika aku mengantarkanya dengan mobilku, mungkin hanya memakan waktu 15 menit..” ucapnya.

Guru Han mengerutkan dahi, “Mworagu?”

“Itu ide yang bagus sonsaengnim..” ucap perawat Lim membenarkan.

Guru Han menatap Junhyung, lalu memandang Hyuna yang menunggu jawabannya. “Ahh.. baiklah, tapi…”

“Keure, ayo bawa dia..” ucap Junhyung sambil langsung hendak menggendong Sohyun tanpa mendengarkan jawaban Guru Han.

Hyuna membungkuk sopan dan mengikuti Junhyung dan Perawat Lim keluar.

“Aissh.. berandalan itu!” gumam Guru Han kesal.

 

=Rumah Sakit=

Hyunseung yang duduk di ruang control dokter termenung memandangi ponselnya. Sejak ia keluar dari rumah keluarga Kim, ia hanya menghubungi Misuk untuk memberitau kabarnya. Ia juga tidak ingin keluar dari rumah itu, ia menyayangi semua orang disana seperti keluarganya sendiri. Dan dia tetap harus menjaga hal itu. jika tetap disana, ia takut akan lepas kendali pada Hyuna. Gadis yang seharusnya menjadi adiknya, tapi secara tidak pantas telah masuk ke hatinya sebagai seorang wanita.

“Dokter magang Jang! Pasien gawat darurat!” panggil seorang perawat.

Hyunseung langsung memasukkan ponsel ke saku dan melangkah cepat menuju ruang gawat darurat. Ia langsung menuju ke sebuah tempat tidur dimana perawat sudah mulai bekerja, namun kakinya berhenti ketika matanya menatap seseorang yang sudah terlebih dulu terpaku menatapnya. Hyuna.

Hyuna tidak percaya ia akan bertemu secara tak sengaja dengan Hyunseung seperti ini.

“Dokter magang Jang!” panggil perawat mengingatkan Hyunseung.

Hyunseung kembali tersadar, “Oh ne!” ucapnya dan langsung menghampiri Sohyun. Ia sudah di percaya untuk menangani pasien seperti ini karena ketekunan dan ketelitiannya pada pasien sangat dikagumi Jina sebagai dokter kepala.

Junhyung yang berdiri di sebelah Hyuna mengerutkan dahi memandang Hyunseung, “Sepertinya pria itu tidak asing..” ucapnya pelan.

“Dia orang yang memukulmu malam itu..” ucap Hyuna.

Junhyung tertegun dan menatap Hyuna tak percaya, “Ne?”

“Sampel darah sudah diambil?” Tanya Hyunseung, “Berikan ia infus dan biarkan obat berkerja beberapa saat..” ucapnya.

“Ne, dokter magang Jang..” ucap perawat dan melakukan apa yang dikatakan Hyunseung.

Setelah memeriksa Sohyun, Hyunseung melangkah menghampiri Hyuna dan Junhyung. Ia merasa canggung bertemu seperti ini dengan gadsi itu, “Mmm.. dia temanmu?”

Hyuna mengangguk, “Ne, apa yang terjadi padanya oppa?”

“Hasil pemeriksaan darahnya akan keluar sebentar lagi, biarkan dia istirahat sebentar. Jadi tenanglah..” ucap Hyunseung karena melihat Hyuna sangat khawatir.

Hyuna mengangguk, “Ne..”

Hyunseung memandang Junhyung, lalu memperhatikan wajah pria itu cukup lama karena merasa mengenalnya. “Sepertinya aku mengenalmu..”

Junhyung tertegun, “Ne?”

Hyuna melirik Junhyung dan menatap Hyunseung ngeri, “O-oppa, apa hasil pemeriksaan darahnya masih lama?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.

Hyunseung tertegun dan menatap Junhyung yakin, “Neo!” ucapnya sambil menunjuk pria itu.

Hyuna menarik tangan Hyunseung dan menarik pria itu menjauh dari Junhyung, “Oppa, ayo berbicara..” ucapnya sambil berusaha menyeret pria itu pergi.

Hyunseung menahan tubuhnya sambil menatap Junhyung marah, “Apa yang kau lakukan bersama Hyuna?” tangannya terulur dan mencengkeram kerah baju pria itu.

Junhyung terkejut dan berusaha untuk tidak terpancing, karena ia tau pria itu pasti akan membunuhnya jika mereka bertemu lagi.

“Oppa!! Hajima!! Hentikan oppa!!” ucap Hyuna sambil menarik tangan Hyunseung, “Oppa, ini rumah sakit..” ucapnya.

Hyunseung mendengus nafas kesal dan melepaskan kerah baju Junhyung.

Hyuna menarik Hyunseung meninggalkan ruang gawat darurat dan membawanya ke ruang tunggu.

Hyunseung berhenti dan menatap Hyuna marah, “Apa yang kau lakukan dengannya?!”

“Oppa, jangan marah dulu.. Junhyung sanbae hanya membantuku membawa temanku kemari. Jika tidak ada dia, mungkin aku tidak akan bisa membawa temanku..” jelas Hyuna.

“Tapi kenapa dia?! Di sekolahmu masih banyak anak yang lain! Juga ada banyak guru yang akan membantumu! Kenapa dia?!” Tanya Hyunseung tak mengerti.

Hyuna menunduk menyesal, “Karena aku panic, aku tidak tau apa yang kulakukan karena Sohyun sangat parah..” ucapnya.

“Jika begitu kenapa tidak menghubungiku?! Aku bisa langsung meminta ambulance datang untuk menjemput temanmu!” ucap Hyunseung kesal.

Hyuna diam sejenak dan kembali memandang Hyunseung dengan mata memerah menahan air mata, “Karena oppa tidak pernah menghubungiku sejak keluar dari rumah.. Kupikir oppa tidak mau lagi menghubungiku..” ucapnya dengan suara bergetar.

Hyunseung tertegun mendengar ucapan Hyuna, juga melihat tatapan gadis itu.

Bulir air mata Hyuna berjatuhan, “Apa oppa tidak mau lagi menghubungiku?”

Hyunseung berusaha menahan dirinya, kedua tangannya ingin langsung mendekap Hyuna, tapi ia berushaa keras menahannya. Ia menghela nafas dalam dan mengangkat satu tangannya mengelus kepala gadis itu, “Anira, tentu saja itu tidak benar Hyuna..”

“Lalu, kenapa oppa tidak menghubungiku?” Tanya Hyuna.

“Oppa pikir kau akan semakin marah jika oppa menghubungimu..” jawab Hyunseung dan tersenyum tipis. “Sudah, jangan menangis..” ucapnya sambil menyeka air mata Hyuna.

Hyuna langsung memegang tangan Hyunseung yang berhenti mengelus rambutnya dan menatap pria itu tepat dimatanya, “Apa oppa merindukanku?”

Hyunseung tertegun mendengar pertanyaan itu.

“Oppa?” Tanya Hyuna lagi.

‘Ne..’ batin Hyunseung, namun bibirnya tidak bisa bergerak menjawab itu.

“Dokter magang Jang, hasil pemeriksaannya sudah keluar..” ucap seorang perawat yang menghampiri Hyunseung.

Hyunseung memandang perawat itu dan menerima sebuah amplop putih, “Ne, gamshamida..”

Perawat itu menatap Hyunseung serius dan memajukan tubuhnya, “Dokter magang Jang, beritau kerabat pasien di ruangan..” bisiknya, lalu membungkuk sopan dan pergi.

Dahi Hyunseung berkerut dan memandang amplop itu.

“Apa hasilnya oppa?” Tanya Hyuna.

“Ne? ohh.. Panggil pria brengsek itu. aku akan menjelaskan ini..” jawab Hyunseung.

Sebuah ruangan.

Karena Hyunseung hanya dokter magang, ia hanya bisa menggunakan ruangan pertemuan yang biasa digunakan untuk rapat untuk lebih privasi.

Hyuna yang memperhatikan ekspresi Hyunseung membaca hasil tes darah Sohyun. Sementara Junhyung terpaksa duduk dua kursi darinya karena Hyunseung berkata tidak akan bisa menahan diri jika Junhyung terlalu dekat dengannya. “Jadi, bagaimana hasilnya oppa?”

Hyunseung terkejut membaca hasil tes darah itu, namun berusaha tetap tenang. Ia memandang Hyuna, “Berapa usia temanmu?”

“Usianya? Mmm.. 17, kurasa.. kami setingkat oppa..” jawab Hyuna.

“Apa dia punya kekasih atau pria yang dekat dengannya?” Tanya Hyunseung lagi.

Hyuna mengerutkan dahi, “Ne? na molla.. Waeyo oppa?”

“Ya.. apa itu penting untuk dokter?” Tanya Junhyung aneh.

Hyunseung menatap Junhyung kesal, “Jika kau tidak bisa diam, kau lebih baik keluar..” ucapnya.

“Oppa, memangnya apa yang terjadi pada Sohyun? Apa sakitnya parah?” Tanya Hyuna mengalihkan pembicaraan Hyunseung.

Hyunseung memandang Hyuna dan menggigit bibir bawahnya, “Apa kau sudah menghubungi keluarga Sohyun?”

“Aku sudah menghubungi nomor ibu Sohyun di ponselnya, tapi tidak aktif.. Sohyun bilang dia hanya memiliki ibunya..” jawab Hyuna.

Hyunseung menghela nafas dalam dan mengelus belakang kepalanya.

“Oppa?” ucap Hyuna bingung.

“Mmm.. sebaiknya aku berbicara langsung pada temanmu. Tetap disini..” ucap Hyunseung sambil bangkit, namun ketika menyadari keberadaan Junhyung, ia berubah pikiran. “Ikut aku, kau tetap disini!” ucapnya sambil menarik Hyuna dan menunjuk Junhyung.

“Ya!” ucap Junhyung kesal.

Hyuna hanya mengikuti Hyunseung keluar dari ruang pertemuan tadi, “Oppa, apa penyakit Sohyun parah?”

Hyunseung berhenti dan memandang Hyuna sambil tersenyum, “Kau tunggu disini, oppa harus berbicara dengannya..”

“Ne? tapi..”

“Sebentar..” Hyunseung berbalik dan langsung melangkah menuju ruang gawat darurat.

Dahi Hyuna berkerut, “Ada apa ya?” gumamnya penasaran, lalu bergerak duduk ke sebuah kursi.

Ketika Hyunseung tiba di ruang gawat darurat, ia melihat para perawat berusaha menahan Sohyun yang ingin pergi.

“Lepaskan, aku sudah baik-baik saja..” ucap Sohyun sambil berusaha melepaskan diri meskipun ia masih terlihat pucat dan lemah.

“Nona, berbaringlah dulu. Kondisimu belum membaik..” ucap seorang perawat.

“Aku baik-baik saja..” ucap Sohyun berkeras.

“Ada apa ini?” Tanya Hyunseung.

“Dokter magang Jang, pasien ini memaksa untuk pergi..” ucap perawat tadi.

Sohyun berhenti memberontak dan memandang Hyunseung, “Aku sudah baik-baik saja..”

Hyunseung menghela nafas dalam sejenak memandang Sohyun, “Gwenchana lepaskan dia..” ucapnya.

“Ne?” ucap perawat tadi bingung.

“Kau Kwon Sohyun kan?” Tanya Hyunseung.

Sohyun mengangguk, “Duduklah dulu, aku ingin berbicara sebentar..” ucapnya.

Para perawat melepaskan kedua tangan Sohyun dan membiarkan gadis itu kembali ke tempat tidur dan duduk dipinggirnya.

“Gamshamida..” ucap Hyunseung pada perawat itu dan mendekati Sohyun, lalu menutup tirai agar tidak ada yang menganggu mereka.

Sohyun berkerut melihat apa yang dilakukan Hyunseung, “Waeyo dokter?”

Hyunseung menarik sebuah kursi dan duduk di dekat Sohyun, bibirnya membentuk senyuman hangat. “Kau sudah merasa lebih baik?”

Sohyun mengangguk, “Ne..”

“Syukurlah..” ucap Hyunseung lega, “mmm.. Kwon Sohyun, berapa usiamu?”

Sohyun tertegun, “Ne?”

“Usiamu..” ucap Hyunseung lagi.

“Mmm.. 17..” jawab Sohyun pelan.

Hyunseung menghela nafas dalam dan menatap Sohyun, “Sohyun, aku ingin kau jujur padaku. Jika kau mempercayaiku, aku akan membantumu..” ucapnya pelan.

Sohyun mengerutkan dahinya, “Apa maksudmu Dokter?”

“Sohyun, apa kau sudah berhubungan sex dengan seseorang?” Tanya Hyunseung pelan.

Sohyun tertegun mendengar pertanyaan Hyunseung. Wajahnya yang sudah pucat semakin pucat sekarang.

Hyunseung sudah mendapatkan jawabanya melihat ekspresi Sohyun, “Siapa yang melakukannya? Kekasihmu?”

Kedua tangan Sohyun mulai gemetaran, matanya memerah dan bulir air berjatuhan. “Aku….” Ucapnya tergagu, “Aku… hamilkan?”

Hyunseung memandang kebawah menyesal dan mengangguk pelan, “Ne..”

Sohyun berusaha meredam suara tangisnya dengan menutup mulutnya dengan tangan.

Hyunseung memandang Sohyun iba, “Siapa yang melakukannya?”

Sohyun memandang Hyunseung, “Dokter.. tolong aku..”

Hyunseung bergerak bangkit dan menghampiri Sohyun, “Aku akan membantumu, aku akan menjelaskannya pada orangtuamu dengan baik. Katakan, siapa yang melakukannya..”

Sohyun mencengkeram ujung jubah dokter Hyunseung dan menatapnya dengan air mata bercucuran, “Dokter.. aku tidak ingin mengandung anak ini.. tolong aku..” mohonnya dengan suara bergetar.

Hyunseung tertegun, “Sohyun, aborsi bukan jalan keluarnya..” ucapnya.

Sohyun menggeleng, “Kumohon dokter! Aku tidak ingin mengandung anak ini! Lebih baik kau bunuh saja aku!!” ucapnya mulai histeris.

“Tenanglah.. aku akan membantumu! Jangan seperti ini..” ucap Hyunseung menenangkan.

“Ani!! Dokter!! Kumohon!!! Tolong aku!!” seru Sohyun sambil mengguncang-guncang tubuh Hyunseung.

“Kwon Sohyun! Tenangkan dirimu..” ucap Hyunseung sambil menyentak tubuh Sohyun.

“lebih baik aku mati!! Aku tidak mau dia ada didalam tubuhku!!” teriak Sohyun histeris.

“Kwon Sohyun!” seru Hyunseung sambil menahan tubuh Sohyun yang berusaha berontak.

Seorang perawat menyibak tirai pembatas, “Dokter, ada apa?”

“Perawat Kong! Ambil suntik penenang!” seru Hyunseung.

Hyuna dan Junhyung kembali ke ruang gawat darurat karena Hyunseung tak kunjung kembali. Matanya membesar melihat Sohyun berteriak histeris dan seorang perawat menyuntikkan sesuatu ketubuhnya.

“Sohyun-a?” ucap Hyuna tak mengerti.

“Apa yang terjadi padanya?” Tanya Junhyung tak mengerti.

Hyunseung masih memegangi kedua tangan Sohyun hingga gadis itu melemah dan tak sadarkan diri, lalu membaringkan gadis itu dan menyelimutinya.

“Oppa, apa yang terjadi?” Tanya Hyuna tak mengerti.

Hyunseung memandang Hyuna, “Kita harus berbicara..” ucapnya.

 

 

<<Back           Next>>

Advertisements

6 thoughts on “I’m So Sorry, I Love You Girl [Chapter 11]

  1. Omo omo omo.. hamil??
    Kok bisa??
    Haaashh…. btw, junhyung udah mulai luluh ciee ciee.. ehemm ㅋㅋㅋ
    Hyunseung jahat ahh, kalo suka blg aja keles -_-

    Lanjut lanjut 🙂

  2. fuuhhhh *tariknafas
    d akir2 harus tahan nafas..
    ternyata sohyun..
    bayangan aku sakit parah gto..
    sampe cek darah..
    pyuuuhhh..
    pi kasian sohyun..
    keliatan d bbrp chap sebelumnya keliatan tertekan…
    pi kalo sampe ibu nya tapi kalo hamil tambah kasian sohyun pasti tambah d tekan oleh ibu nya..
    ahh penasaran sapa yg hamilin sohyun..
    next ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s