Chapter

I’m So Sorry, I Love You Girl [Chapter 4]

4

 

—Please, Stay With Me—

Hyunseung duduk di kafetaria rumah sakit dan mulai membuka bekal makanannya.

Dujun dan Eunji memandang Hyunseung heran.

“Ya, kenapa kau selalu bawa bekal? Memangnya makanan di rumah sakit tidak enak? Kupikir baik-baik saja..” ucap Eunji sambil memandang makanan di nampannya.

“Ne, waekeure? Kau alergi makanan?” Tanya Dujun ingin tau.

Hyunseung tersenyum dan mengambil sumpit, “Karena aku senang dengan masakan rumah..” ucapnya.

Mata Eunji menyipit, “Memangnya siapa yang membuatkannya? Yeoja cingu?” godanya.

Hyunseung tertawa kecil, “Aniya…” jawabnya dan menatap makanan yang tertata rapi itu, “Makanan ini di buatkan oleh seseorang yang sudah kuanggap ibuku sendiri..” ucapnya, lalu memandang kedua temannya bergantian. “Sudah, ayo makan.. waktu kita tidak banyak..” ucapnya dan mulai makan.

“Ahhh.. aku iri sekali, ibuku tidak pernah membuatkanku bekal seperti ini.” Ucap Dujun iri, lalu mulai makan.

Hyunseung hanya tersenyum.

 

=Toilet Wanita=

Hyuna keluar dari toilet dan langsung berhenti ketika melihat Junhyung bersandar pada dinding dan terlihat seperti menunggunya, ia memandang ke bawah ketika pria itu memandangnya.

Junhyung tersenyum memandang Hyuna, lalu melangkah menghampiri pria itu. “Hei Hyuna..” sapanya.

Hyuna diam sejenak dan memandang Junhyung, “Sanbae, kenapa kau berkata aku tidur denganmu? Tidak terjadi apa pun semalam dan kau tau itu..” ucapnya tak mengerti.

Junhyung tetap tersenyum mendengar ucapan Hyuna, “Entahlah, mungkin karena orang-orang hanya akan percaya padaku..”

Hyuna tertegun mendengar ucapan Junhyung, “Sanbae?”

Junhyung memegang bahu Hyuna dan menatap gadis itu, “Kau tidak ingin ada orang yang mengetahui tentang malam pertama kita kan?” tanyanya dengan senyuman licik.

Mata Hyuna membesar, “Sanbae?!”

Junhyung menghela nafas dan melangkah mundur sambil memasukkan satu tangannya ke saku dan satu lagi menempelkan telunjuknya ke bibir, “Sssshh.. jangan sampai orang mengetahui rahasia kecil kita..” ucapnya dan tertawa kecil, lalu berbalik dan berjalan pergi.

Hyuna merasa sangat malu pada dirinya. Ia merasa seperti semua orang melihat saat Junhyung menidurinya. Tapi semua itu bohong. Dia tidak pernah tidur dengan pria itu, ia di jebak. Jika Hyunseung tidak tiba tepat waktu, ia mungkin akan membunuh dirinya sendiri setelah kejadian itu. bulir air matanya berjatuhan begitu saja. Ia kembali berbalik dan masuk ke kamar mandi.

 

=Rumah=

Hyuna pulang dengan perasaan kacau. Hari ini terasa sangat berat baginya. Siang itu, ia keluar dari kamarnya dan menghampiri pintu kamar Hyunseung. Tangannya bergerak pelan mengetuk pintu, “Oppa..” panggilnya pelan.

Tidak ada jawaban.

Hyuna kembali mengetuk, “Oppa..” panggilnya lagi, tetap tidak ada jawaban. Tangannya bergerak membuka pintu dan melihat ke dalam, tidak ada siapa pun. Ia menghela nafas dalam dan masuk sambil kembali menutup pintu. Saat ini ia benar-benar membutuhkan perhatian Hyunseung. Pria itu meskipun jahil, tapi selalu bisa membuatnya merasa lebih baik. Bulir air matanya kembali berjatuhan mengingat ia selalu kesal pria itu padahal ia melakukan hal yang salah.

8 p.m.

Hyunseung melangkah masuk ke rumah, “Aku pulang..” ucapnya.

Misuk yang sedang menonton tv memandang Hyunseung sambil tersenyum, “Hyunseung-a..”

Hyuseung membungkuk sopan, “Annyeonghaseo eommanim..”

“Istirahatlah sebentar, eomma sudah menyimpan makanan untukmu..” ucap Misuk.

Hyunseung tersenyum dan membungkuk sopan, “Ne, eommanim..” ucapnya, lalu melangkah menuju tangga.

“Oh.. Hyunseung, cangkaeman..” panggil Misuk.

Hyunseung berhenti dan memandang Misuk, “Ne, eommanim?”

Misuk menghela nafas dalam, “Sejak pulang sekolah Hyuna mengurung dirinya di kamar, sepertinya dia sedang memiliki masalah. Apa kau bisa berbicara dengannya?”

Hyunseung diam sejenak, lalu mengangguk. “Ne, eommanim..” ucapnya, lalu melangkah ke lantai atas. Ia berhenti di depan pintu kamar Hyuna. Tanganya mengelus pundak dan membuka pintu, namun tidak ada siapa pun. Dahinya berkerut sesaat dan berusaha menebak dimana gadis itu. kepalanya menoleh ke pintu kamarnya, lalu menarik pintu kamar Hyuna dan melangkah ke kamarnya. Seperti yang ada di pikirannya, Hyuna memang disana. Tidur di tempat tidurnya sambil memeluk selimut. Ia menghela nafas dalam dan masuk. Setelah menutup pintu, ia melepaskan tas dari bahu dan meletakkannya ke meja belajar. Kemudian menghampiri tempat tidur. Mata Hyuna terlihat sembab dan ia tau gadis itu pasti ketiduran setelah lelah menangis. Ia hanya menghela nafas dalam dan menarik selimut untuk menghangatkan gadis itu.

…………………………………………………………………………………………………………………….

Hyuna membuka matanya perlahan dan menggeliat sesaat, ia menyadari dirinya masih berada di kamar Hyunseung. “Hm? Oppa belum pulang?” gumamnya, lalu bergerak bangkit sambil mengelus matanya. Ketika tangannya menyibak selimut dan hendak turun, ia tertegun melihat seseorang tidur dilantai. Dahinya berkerut dan memperhatikan siapa yang ada dibawah, ternyata Hyunseung. “Oppa?”

Hyunseung tertidur lelap hanya dengan bantal yang mengalasi kepalanya.

Hyuna diam ditempatnya memandangi Hyunseung yang tidur dengan tenang di lantai. Priaitu selalu memperhatikannya, menjaganya sejak mereka kecil. Tapi ia selalu menjadi trouble maker, membuat masalah-masalah yang akan membuat ayah dan ibunya pusing. Sekarang ia mengerti mengapa Hyunseung selalu over-protectif­ padanya. Selalu melarang apa pun yang ingin ia lakukan. Bulir air matanya jatuh begitu saja memikirkan semuanya. Perlahan ia turun dari tempat tidur sambil menarik selimut bersamanya. Ia berlutut di sebelah tubuh Hyunseung dan menyelimutinya, lalu ikut masuk ke bawah selimut dan berbaring berhadapan dengan pria itu. matanya memperhatikan seluk beluk wajah pria itu. melihat bagaimana garis wajah tampan Hyunseung terbentuk dengan jelas di depan matanya. Tangannya bergerak menggenggam tangan Hyunseung dan memejamkan mata.

Hyunseung membuka matanya perlahan. Wajah Hyuna tepat berada di depan wajahnya. Ia tau gadis itu memerlukan sosoknya sebagai seorang oppa, tapi ia takut nantinya tidak bisa menahan perasaannya sendiri.

Hyuna terbangun karena mendengar jam weekernya berbunyi, dahinya berkerut dan mengulurkan tangannya untuk mematikan jam itu. lalu bergerak bangkit sambil memandang sekitar, ia tertegun berada di tempat tidurnya. “Hm? Kapan aku pindah kemari?” gumamnya.

Ruang makan.

Hyuna keluar dari kamarnya dan berhenti sejenak untuk memandang pintu kamar Hyunseung, kakinya melangkah ke sana dan membukanya perlahan. Kepalanya masuk ke celah pintu dan melihat tidak ada siapa pun disana. Ia kembali menutup pintu dan melangkah menuju tangga. Namun, ketika masuk ke ruang makan, ia tertegun tidak melihat Hyunseung disana.

Misuk tersenyum melihat Hyuna muncul dan tersenyum, “Hyuna-a, ayo sarapan..” panggilnya karena putrinya masih berdiri di ambang pintu sambil memandang ke tempat duduk Hyunseung.

“Hyuna-a?” panggil Jongnam.

Hyuna memandang Misuk, “Eomma, dimana Hyunseung oppa?”

“Oppa? Oh.. dia sudah pergi tadi, dia bilang sedang buru-buru.. ayo sarapan..” ucap Misuk.

Hyuna tertegun, “Ne?”

“Duduklah Hyuna, nanti kau terlambat sekolah.” Panggil Jongnam.

Hyuna semakin yakin, Hyunseung pasti menghindarinya. “Aku pergi..” ucapnya dan langsung berbalik dan melangkah cepat ke pintu.

Misuk berpandangan dengan Jongnam bingung, “Ada apa dengan anak-anak kita?”

Hyuna berlari keluar rumah sambil memandang kearah biasanya Hyunseung pergi, namun sudah tidak terlihat. Ia tidak menyerah dan terus berlari sekencang yang ia bisa untuk mengejar pria itu. tapi meskipun ia terus berlari dan mencari, Hyunseung tetap tidak terlihat. Ia sangat yakin pria itu benar-benar menghindarinya. Bulir air matanya berjatuhan begitu saja, “Oppa, waekeure?” gumamnya tak mengerti.

 

=Siangnya=

Hyuna hanya duduk di kelas ketika jam istirahat tiba sambil memandangi ponselnya, ia sudah mengirimkan pesan pada Hyunseung, tapi tidak juga dibalas. Ia menghela nafas dalam dan menunduk sedih.

Gayoon dan Jiyoon masuk ke kelas dan duduk di depan Hyuna sambil memandang teman mereka itu serius.

“Hyuna-a, jangan bersedih terus.. Kau akan segera melupakannya, jadi cerialah..” ucap Jiyoon sambil memegang punggung tangan Hyuna.

“Ne, Hyuna-a.. Junhyung sanbae khawatir melihatmu murung seperti ini..” Ucap Gayoon.

Hyuna memandang kedua temannya bergantian, lalu menarik tangannya dari pegangan Jiyoon. “Kenapa kalian tidak percaya padaku? Aku tidak melakukan apa pun dengan Junhyung sanbae..” ucapnya tak mengerti.

Gayoon dan Jiyoon berpandangan bingung, lalu kembali memandang Hyuna. “Lalu, kenapa kau terlihat sedih seperti ini?”

Hyuna menghela nafas dalam, “Aku hanya sedang punya masalah dengan Hyunseung oppa..”

Gayoon dan Jiyoon menatap Hyuna serius sambil memajukan tubuh mereka, “Apa karena kejadian malam itu?”

Hyuna memalingkan wajahnya, teman-temannya masih membahas tentang malam itu. “Sudahlah.. aku tidak ingin membahasnya..”

Sementara itu.

Hyunseung yang sudah duduk di kafetaria bersama teman-temannya memandang layar ponselnya tanpa ekspresi.

From: Hyuna

Oppa, kenapa kau menghindariku?

Hyunseung menghela nafas dalam dan memalingkan wajahnya dari layar ponsel. Ia diam beberapa saat dan kembali memandang ponselnya hanya untuk mematikan benda itu.

Dujun mengerutkan dahi melihat ekspresi Hyunseung, “Waeyo? Kau terlihat aneh sejak kemarin..” ucapnya.

“Gwenchana..” jawab Hyunseung tanpa memandang Dujun.

 

=Pulang Sekolah=

Hyuna melangkah menuju halte sambil berusaha menghubungi Hyunseung, tapi ponsel pria itu tak kunjung aktif. Ia sangat takut pria itu benar-benar menjauhinya. Matanya akan mulai di penuhi air lagi jika mengingat hal itu. Tiba-tiba seseorang merangkul bahunya, membuatnya terkejut dan memandang pria itu. Matanya membesar melihat Junhyung dan langsung mendorong pria itu, “Sanbae!!” serunya marah.

Junhyung tersenyum, “Annyeong.. Kenapa wajahmu terlihat murung akhir-akhir ini? Sudah kukatakan, jangan khawatir tentang malam itu..” ucapnya dengan nada menghina.

Hyuna benar-benar muak dengan seniornya yang dulu selalu terlihat keren di matanya, “Tidak ada apa pun malam itu sanbae!!” serunya.

Junhyung tertawa kecil, “Jika tidak ada malam itu, kita bisa membuatnya di malam lain..”

Kedua tangan Hyuna terkepal menahan marahnya, “Biarkan aku sendiri, sanbae!!!” teriaknya, lalu melangkah pergi.

Junhyung hanya tertawa di tempatnya sambil memperhatikan Hyuna yang terus melangkah pergi.

 

<<Back           Next>>

Advertisements

4 thoughts on “I’m So Sorry, I Love You Girl [Chapter 4]

  1. arghhhhh kesel ma junhyung oppa dechh disinii…
    evil bangeeeett…
    hyunhyun oppa udah mulai sukaa yaa ma hyuna unnni..
    tp kenapa harus jauhin oppa…
    kn kasian hyuna unni jd galau gto…
    next ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s