Uncategorized

CRUSH!! ~~ Come Back Home!

Come Back Home

Disaat kemajuan global menjadi dewa dan semua yang hidup diperbudak oleh pintarnya robot buatan mereka. Disaat kebahagiaan sudah terganti dengan obsesi dan kehancuran dunia. Disaat itulah tidak ada lagi yang sebut MANUSIA.

One, two, three

Neon nareul tteonatjiman

Eodingaeseo neoui sumsoriga deullyeowa

(2ne1 – Come Back Home)

Park Bom melangkah diantara orang-orang yang memenuhi trotoar sambil tersenyum cerah karena matahari bersinar seolah-olah tersenyum pada semua orang didunia. Langkahnya berhenti karena lampu penyeberangan jalan masih menyala merah. Selama menunggu ia mengedarkan pandangannya untuk melihat sekitarnya. Rata-rata orang-orang yang ada disana asik dengan ponsel mereka masing-masing. Namun ia merasa hal itu sangat wajar disini. Di kota sibuk Seoul, semuanya serba canggih dan hidup tidak sesulit ketika tidak ada Tv. Ia tertawa kecil ketika mengingat itu. lampu jalan menyala hijau, ia segera melangkahkan kakinya bersama orang-orang disana. Begitu tiba diseberang jalan, langkahnya kembali berhenti karena tiba-tiba ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Kepalanya menoleh kebelakang dan melihat sesuatu yang menyala di langit. sama seperti orang-orang disana, dahinya berkerut melihat benda aneh itu.

“Virtual World. Dimana manusia tidak perlu memikirkan kerusakan lingkungan. Pemanasan global. Juga bencana alam yang mengancam semuanya. Hidup nyaman tanpa memikirkan apa pun yang mengganggu keselarasan hidup kalian.. Bergabunglah bersama kami..”

Bom semakin mengerutkan dahi mendengar pengumuman dari gambar hologram yang memperlihatkan sebuah tempat hunian baru yang mereka sebut ‘Dunia Hologram’. Kepalanya memandang sekitar bingung ketika orang-orang mulai melangkah kearah gedung yang mengeluarkan hologram itu. namun ia memilih terus melangkah pergi karena ia sama sekali tidak tertarik untuk hidup di tempat seperti itu.

=Setahun Kemudian=

Bom duduk memeluk lututnya di sofa. Sekelilingnya tidak lagi terlihat seperti tempat hunian. Setahun lalu, ketika orang-orang memutuskan untuk hidup di Virtual World, ia tetap dengan keputusannya. Bahkan adik dan ibunya memilih untuk masuk ke dunia palsu itu.

=Flashback=

Bom menarik tangan ibu dan adiknya yang hendak pergi keluar rumah untuk memulai hidup di Virtual World. “Eomma!!! Berhenti!! Kalian tidak boleh masuk kesana!!” serunya.

“Bom-a, untuk apa kau hidup di dunia nyata jika kau bisa hidup di tempat yang lebih baik. Disana kita akan hidup bahagia tanpa perlu memikirkan apa pun lagi..” ucap ibu Bom.

Bom menatap ibunya tak percaya, “Eomma..” ucapnya dengan suara bergetar.

“Eonni, ayo kita pergi..” bujuk adik Bom sambil mengguncang tangannya. “Disana kita tidak akan hidup ditempat seperti ini. Kita bisa bahagia selamanya disana..”

Bom memandang adiknya dengan mata basah dan bulir air berjatuhan, “Kebahagiaan apa yang akan kita dapatkan jika semua itu hanya palsu?”

“Meskipun palsu, kita bisa selamanya disana. Kita tidak akan sakit atau pun mati Bom. Jebal, ayo kita pergi bersama..” minta ibu Bom.

Bom memandang ibu dan adiknya bergantian dengan bulir air mata berjatuhan, lalu melepaskan tangan kedua tangan orang yang sangat ia kasihi itu. “Aniya, aku tidak akan masuk ke tempat itu. Aku tidak ingin bahagia di tempat yang tidak nyata. Aku ingin merasakan bahagia disini.. Di dunia nyata ini…”

“Eonni..” ucap adik Bom sedih.

Ibu Bom menarik tangan putri bungsunya dan membawanya pergi dengan perasaan sedih karena putri sulungnya memilih tinggal.

Bom hanya bisa menangis melihat kedua orang yang sangat berarti baginya memutuskan pergi ke dunia maya itu.

=Flashback end=

Sudah setahun berlalu. Sebagian besar orang menghilang dari dunia nyata dan memilih hidup di Virtual World yang bisa mereka program sendiri sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Namun mereka tidak tau apa yang sudah terjadi di dunia nyata. Kota sibuk Seoul berubah menjadi dunia tak berpenghuni. Gedung-gedung pencakar langit menjadi tak terawat dan membuat beberapa tempat yang dulunya sangat terkenal seperti tempat kumuh. Kebahagiaan benar-benar telah hilang dari dunia ini. Kepala Bom menoleh mendengar sesuatu dari radio yang selalu ia hidupkan meskipun tak pernah lagi ada siaran yang terdengar. Tapi saat ini, ada sesuatu yang terdengar. Matanya menatap radio yang terletak diatas buffet tak percaya dan langsung melangkah cepat kesana. Ia memutar pencari frekuensi dan mendengarkan dengan seksama. Ternyata ia benar-benar mendengar suara seseorang.

“Bagi kalian yang masih ada diluar sana.. Kalian yang tidak punya tujuan dan hidup seorang diri. Aku menawarkan kalian untuk berkerja sama denganku. Aku akan menghancurkan Virtual World!! Siapa pun yang ingin bergabung denganku, datang ke basement Apartemen H nanti malam. Aku CL!! Yang akan mengembalikan dunia dengan bantuan kalian..”

Bom tertegun mendengar pengumuman dari seorang gadis bernama CL. Saat itu ia menyadari satu hal. Ia tidak bisa berdiam diri disaat orang-orang yang ia cintai terbuai dengan kepalsuan dan kebahagiaan maya. Ia segera melangkah cepat ke kamarnya, mengambil apa pun yang bisa ia masukkan ke tas ranselnya. Lalu mengganti bajunya dengan celana jeans, baju kaus dan jaket. Tidak perlu menunggu malam, ia akan datang sekarang juga kesana.

CBH2

=Markas 2ne1=

CL, gadis dengan eskpresi garang berambut pirang dan tatapan tajam seperti kucing, berdiri di sudut ruangan memandangi formula yang sudah ia kembangkan bersama temannya untuk menghancurkan Virtual World.

CBH1

TOP, pria berwajah tampan dan bertubuh tinggi yang duduk disofa memandang sang leader dari proyek penghancuran itu. “CL, kau yakin akan ada yang datang?”

CL memandang TOP, “Mereka akan datang..” ucapnya, lalu memalingkan wajahnya ke pintu masuk. “Aku yakin masih ada orang diluar sana yang menolak Virtual World itu.” ucapnya yakin.

TOP mengangguk, “Keure..” ucapnya, lalu bangkit perlahan sambil mengelus belakang kepalanya. “Aku akan beristirahat sejenak..” ucapnya dan melangkah masuk ke ruangan lain.

CL menghela nafas dalam memandang formula yang masih perlu perkembangan itu. lalu melangkah ke meja proyek dan meletakkan tube berisi cairan merah itu kedalam sebuah lemari penyimpanan steril.

Tok! Tok! Tok!

CL tertegun mendengar ketukan, lalu berbalik memandang ke pintu masuk. Matanya menyipit menebak-nebak siapa yang ada dibaliknya. Tangannya bergerak pelan ke belakang tubuhnya sambil melangkah ke pintu perlahan, tangannya menggenggam pistol laser yang lebih berbahaya dari pistol berpeluru besi.

Tok! Tok! Tok!

CL berhenti didepan pintu sambil memandang pegangan pintu. Tangannya yang lain bergerak ke benda besi itu dan memutar kunci dibawahnya, lalu memegang gagang pintu dan menariknya sedikit. Kepalanya mengintip keluar, tampak seorang gadis berambut panjang berwarna hitam dengan dagu panjang dan bermata indah berdiri di baliknya. “Nuguseo?”

Bom memandang CL, “Aku mendengar pengumumanmu di radio. Aku ingin membantumu menghancurkan Virtual World..”

CL menatap Bom serius, berusaha melihat kebenaran dalam ucapannya. Lalu membuka pintu dan menarik gadis itu masuk. Setelah itu ia kembali menutup  pintu dan menguncinya.

Bom terkejut tiba-tiba CL menariknya masuk dengan kasar dan menatap gadis itu aneh.

“Pabo ya?! Aku sudah berkata datang disaat malam! kenapa kau kemari diterik matahari seperti ini?!” seru CL marah.

Bom menatap CL kesal, “Apa bedanya malam atau pun siang saat kau akan menghancurkan Virtual World?!”

“YA! Aisssh!!” seru TOP yang muncul dari pintu. Namun ia langsung tertegun melihat Bom bertatapan dengan CL. Perlahan ia menghampiri kedua gadis itu sambil memperhatikan Bom, “Siapa ini?”

CL memalingkan wajahnya, “Anggota baru kita..” ucapnya sambil melangkah pergi.

TOP tertegun mendengar ucapan CL dan memandang Bom, “Noe? Kau datang saat siang seperti ini? Ya! Micheoseo?!”

Dahi Bom berkerut, “Memangnya ada apa sih?! Aku selalu keluar di siang hari seperti ini.. Memangnya kenapa?!”

TOP mengelus dahinya dan menatap Bom serius, “Apa kau tau Virtual Police?”

Dahi Bom berkerut, “Virtual Police?”

“Kau tidak akan mengenal mereka kau berpikir melawan Virtual World!” jelas TOP.

Bom tertegun, “Ne?”

TOP menghela nafas dalam, “Masuklah.. Masih ada kamar kosong disana, nanti aku akan menjelaskan tentang Virtual Police..” ucapnya.

Basement yang terlihat kecil itu sebenarnya memiliki ruangan-ruangan panjang kedalam. Malam itu, disebuah ruangan yang dilengkapi dengan proyektor. Di ruangan gelap itu, Bom mendengarkan penjelasan TOP tentang Virtual Police. Dari video yang dipantulkan proyektor ke dinding, terlihat bagaimana brutalnya VP menangkap dan menyiksa orang-orang yang berniat menghancurkan Virtual World. Mereka adalah orang-orang yang bekerja untuk Virtual World, membuat semua orang yang tersisa tidak punya pilihan lain selain masuk ke dunia palsu itu. mereka dapat dikenali dengan seragam serba hitam dan penutup wajah dari besi. Mereka tidak menggunakan pistol biasa, melainkan pistol laser.

Mata Bom membesar ketika di video itu terlihat seorang pria yang berada di tengah kerumunan pemberontak tertembak dari belakang dan menembus ke dada kirinya. Pria itu memuntahkan darah dan jatuh tak bergerak ke tanah. Disana terlihat juga CL dan TOP yang berlari untuk menyelamatkan diri bersama beberapa orang lain.

TOP melirik CL yang berdiri bersandar ke dinding dengan kedua tangan terlipat ke dada menatap pantulan proyektor tanpa ekspresi. Tak lama gadis itu memejamkan mata dan memalingkan wajahnya. Ia tau bagian apa yang membuat gadis itu memalingkan wajah, kepalanya kembali memandang pantulan proyeksi dan melihat CL yang berusaha memapah seorang pria yang terluka di bagian dada kirinya. Darah mengalir deras dari mulut dan bekas lukanya. Video itu berakhir begitu saja karena kamera yang digunakan terjatuh dan membentur tanah.

Bom memandang TOP tak percaya, “Apakah kejadian itu benar-benar terjadi?”

TOP mengangguk pelan dan melirik kearah CL yang melangkah keluar dari ruangan itu, kemudian kembal memandang Bom. “Setahun lalu. Saat kami membentuk pemberontakan dan melakukan perlawanan.”

“Lalu, dimana yang lainnya?” Tanya Bom.

TOP menghela nafas berat dan memandang kebawah, “Hanya ada aku dan CL sekarang..” jawabnya pelan.

Bom menatap TOP tak percaya, “Maksudmu, semua orang yang ada disana dibunuh oleh Virtual Police?”

TOP mengangguk berat.

Bom memandang kebawah tak percaya.

“VP memiliki sensor di helm mereka yang bisa mendeteksi orang-orang yang memiliki pemikiran negative pada Virtual World, mereka akan menjelajahi daerah-daerah di siang hari. Karena itu CL mengatakan untuk datang dimalam hari. Mereka tidak bergerak di malam hari.” Jelas TOP.

Bom mengangguk mengerti, “Aku mengerti, Cesongeo..” ucapnya pelan.

“Gwenchana..” ucap TOP, “Kau mengerti ilmiah?”

Bom memandang TOP bingung, “Aku mengajari Fisika dulu di sekolah menengah..”

TOP tersenyum, “Bagus, kau bisa membantu menyempurnakan formula penghancuran kita..”

Bom mengangguk.

=Beberapa Hari Kemudian=

TOP mengenakan kacamata ilmiah dan memeriksa sesuatu dengan mikroskop. Bom sedang melakukan percobaan dengan formula mereka. CL mencampur beberapa formula dan melihat reaksinya.

Bom berjalan mengelilingi meja panjang itu dan memasukkan formula yang ia buat ke dalam lemari penguji, saat itu matanya tidak sengaja memandang ke tv yang memperlihatkan 4 kamera CCTV yang di pasang TOP disekitar gedung. Dahinya berkerut melihat seorang gadis berlari diantara reruntuhan gedung dan terlihat ketakutan. “CL, sepertinya ada seseorang yang datang..” ucapnya.

CL memandang kearah CCTV dan memperhatikan sejenak. Dahinya berkerut melihat seorang gadis berambut pendek bersembunyi dibalik reruntuhan, lalu terlihat sesuatu yang melesat seperti cahaya dan meledakkan sisi reruntuhan. “TOP!!” serunya sambil berlari ke pintu.

TOP mengikuti CL sambil mengeluarkan pistol dari saku celana.

Bom tertegun dan spontan ikut berlari keluar.

Sementara itu.

DUAR!!

Gadis berambut pendek berwarna merah itu meringkuk ketika mendengar ledakan di dekatnya. Lalu kembali berlari untuk menyelamatkan dirinya. Keringat mengalir dari dahinya. Jantungnya berdegup kencang.

SLASH!!

“Aaarrrgghh!!!” teriak gadis itu sambil memegang lengannya yang terkena senjata laser itu. Ia memandang lengannya yang mulai berdarah, lalu memandang ke belakang. VP sudah semakin mendekat, ia melangkah cepat memasuki gedung.

DUARR!!!

Langkah gadis itu terhenti setelah peluru laser melewatinya dari belakang dan menabrak tembok di depannya. Matanya membesar karena nyaris saja terkena peluru laser itu. seluruh tubuhnya gemetaran dan dan bulir air berjatuhan begitu saja dari matanya.

“Berhenti!! Atau kau akan mati!!” seru seorang VP sambil menodongkan pistolnya dari ujung lorong.

Dari balik dinding, CL dan TOP bersandar sambil mendengarkan. Mereka saling bertatapan dan mengangguk, menandakan ini saatnya menyerang. Dengan cepat mereka berlari keluar dari persembunyian mereka dan menembakkan dua pistol laser ditangan mereka.

DUAAR!! SSSSUUK!! SSSUKK!!! DUARR!! DUARR!!

Dua VP itu langsung tumbang begitu peluru laser menembus tubuh mereka.

Gadis tadi langsung meringkuk dan memejamkan matanya ketakutan.

CL memandang gadis tadi dan memandang para VP yang bergerak kearah mereka setelah mendengar ledakan tadi. TOP langsung bersembunyi di balik dinding dan menembaki mereka semua. Beruntung dia dan pria itu sudah terlatih menggunakan senjata itu. ia mengarahkan senjatanya pada VP tadi dan menembaki mereka. “Bom!! Bawa dia!!” teriaknya sambil tetap menembaki para VP dengan kedua pistol ditangannya.

Bom berlari menghampiri gadis tadi dan langsung merangkulnya, kemudian membawa gadis itu ke balik dinding. “Jangan takut.. kau akan baik-baik saja..” ucapnya pada gadis itu.

Gadis itu mengangguk pelan.

“TOP! Mundur!!” seru CL dan mulai melangkah mundur.

TOP masih menembaki para VP untuk menjauhkan mereka, lalu berlari pergi bersama CL. Mereka harus menggunakan pintu rahasia agar tidak bisa ditemukan oleh VP. Begitu pintu rahasia tertutup, mereka bisa menghela nafas dalam dan melangkah menuju basement.

Bom memapah gadis berambut pendek berwarna merah itu masuk ke ruangan basement dan membantunya duduk ke sofa.

“Ahhh..” rintih gadis itu sambil memegang lengannya.

“Lenganmu terluka…” Ucap Bom, lalu mengambil kotak obat diatas lemari dan duduk di sebelah gadis tadi. “Aku akan melihatnya..”

Perlahan gadis itu membuka baju luarnya dengan bantuan Bom, “Ahhhhh…” erangnya dengan mata terpejam sambil melepaskan lengan baju di tangannya yang terluka.

CL dan TOP masuk, lalu mengunci pintu.

“Neo gwenchana?” Tanya CL langsung sambil menghampiri Bom dan gadis tadi.

Gadis tadi yang mengangguk, “Ne..”

Bom mengobati lukanya dan memasang perban.

CL menghela nafas dalam, “Syukurlah..”

TOP mengambil segelas air dan memberikannya pada gadis tadi, “Ini nona..”

Gadis tadi mengangguk sopan dan menerima gelas tadi, lalu meneguk airnya.

Bom menyelesaikan perban di tangan gadis tadi dan membersihkan tangannya dari darah menggunakan kain lap.

“Siapa namamu?” Tanya CL yang berdiri di depan gadis tadi.

“Gong Minji imnida..” ucap gadis bernama Minji itu.

“Apa yang kau lakukan disekitar sini?” Tanya Bom.

Minji memandang Bom dan CL bergantian, lalu menunduk. “Aku mendengar pengumuman diradio beberapa saat lalu. Aku langsung datang ke Seoul untuk bergabung dengan kalian. Karena tidak bisa menggunakan kendaraan apapun, aku terus berjalan dari pinggir kota kemari. Tapi tiba-tiba orang-orang tadi mengejarku.” Jelasnya.

CL menatap Minji iba, “Apa kau hanya sendiri?”

Minji mengangguk sedih tanpa mengangkat wajahnya, “Seluruh keluarga dan teman-temanku memilih Virtual World dari pada mati kelaparan..” jawabnya sedih.

“Sudah berapa lama kau seorang diri?” Tanya CL.

“Hampir setahun..” jawab Minji.

“Berapa usiamu?” Tanya Bom.

“17..” jawab Minji.

CL menghela nafas dalam dan memandang TOP dan juga Bom bergantian, “Keure, Minji bagian kita sekarang.. Dia akan mempelajari menggunakan senjata, pembuatan formula dan semua yang kita butuhkan.” Jelasnya.

“Ne..” jawab TOP.

Bom merangkul Minji dan tersenyum hangat, “Jangan khawatir, kau sudah berada ditempat yang tepat..”

Minji menganguk.

CBH4

Bom setuju untuk berbagi kamar dengan Minji, jadi dia bisa menjaga gadis muda itu dengan baik.

“Eonni, sudah berapa lama eonni disini?” Tanya Minji ketika Bom memeriksa lukanya lagi.

Bom tersenyum simpul sambil tetap berfokus pada lengan Minji, “Sudah hampir 2 bulan..”

“Apa eonni juga ditinggalkan orang-orang yang eonni sayangi?” Tanya Minji lagi.

Bom memandang Minji dan tersenyum sedih, “ne..”

Minji memandang kebawah sedih, “Eonni, aku mendengar jika kita menghancurkan Virtual World. Sama saja membunuh semua orang yang sudah ada disana..” ucapnya pelan.

Bom menghela nafas dalam dan menatap Minji sedih, “Ne.. kau benar..”

Minji menatap Bom sedih, tampak matanya berkaca-kaca menahan air mata. “Apa tidak ada cara untuk menyelamatkan mereka?”

“Mereka sudah terikat kedalam dunia mimpi. Tidak ada yang bisa menguasai alam bawah sadar manusia selain manusia itu sendiri. Jika mereka yang ingin masuk kesana, maka tidak ada cara untuk mengubahnya..” jelas Bom.

“Lalu, bagaimana dengan keluargamu? Orang-orang yang kau kenal?” Tanya Minji.

Bom menghela nafas dalam dan mengelus kepala Minji sambil tersenyum sedih, “Aku mungkin akan kesepian dan sangat sedih mereka tidak ada. Tapi setelah ini tidak akan ada lagi orang yang kehilangan orang yang dikasihinya karena dunia virtual yang tidak akan pernah menjadi nyata..”

Minji memandang kebawah.

“Anggap saja kau mengorbankan satu untuk seluruh dunia..” ucap Bom.

Minji mengangguk pelan, “ne, eonni..”

Sementara itu diluar kamar. CL berdiri disebelah pintu sambil bersandar kedinding dan kedua tangan terlipat di dada. Ia bukan orang yang bisa memaafkan dengan mudah, jadi ia benar-benar akan menumpas Virtual World hingga keakarnya. Ia bergerak pergi menuju kamarnya.

Tto dasi four, five, six

Ppalgan numnuri naeryeowa

Nareul andeon neoui hyanggiga geuripda

(2ne1 – Come Back Home)

=Beberapa waktu kemudian=

Bom, Minji, CL dan TOP sibuk di laboratorium mereka dengan formula yang sudah 70% selesai. Mereka tinggal menemukan sedikit tambahan hingga benar-benar sempurna.

Bom mengerutkan dahi membaca hasil fisika yang ia buat. Lalu menghapusnya dan mengulangnya lagi.

Minji sekarang sudah terampil mencampur formula dan memastikan tidak ada zat berbahaya yang tercipta akibat pencampurannya.

CL memeriksa kandungan dari formula baru dengan mikroskop dan mencatatnya di buku.

TOP mengaduk formula dengan hatu-hati sambil memperhatikan cairan di gelas ukur tercampur dengan baik.

Tok! Tok! Tok!

Semuanya tertegun dan menoleh ke pintu, namun tidak ada yang langsung bergerak.

Tok! Tok! Tok!

CL meletakkan peralatan ditangannya dan melangkah mendekati pintu dengan sikap siaga. Satu tangannya bergerak ke belakang tubuhnya dan menggenggam pistolnya erat.

TOP menatap pintu serius dan ikut mengeluarkan pistolnya untuk melindungi CL dari belakang.

Bom dan Minji menatap pintu serius.

CL membuka kunci pintu, lalu memutar gagang pintu. Seperti sebelumnya ia hanya memberikan celah pintu untuk mengintip keluar.

Seorang gadis berambut hitam yang terikat kebelakang memandang CL dengan wajah putus asanya.

Tanpa bertanya siapa gadis itu, CL sudah bisa menebak alasannya datang kesana. Ia membuka pintu lebih lebar dan menatap gadis itu, “Ireumi(nama)?”

“Park Sandara..” jawab gadis itu.

CL bergeser dan memberikan isyarat dengan gerakan kepalanya agar gadis bernama Dara itu masuk.

Dara mengangguk sopan dan melangkah masuk.

CL menutup pintu dan kembali menguncinya, lalu berjalan masuk bersama Dara. “Ini Sandara.. Dia anggota bagian kita sekarang..”

Dara memandang orang-orang yang ada disana bergantian, lalu membungkuk sopan. “Annyeonghaseo.. Kalian bisa memanggilku Dara..”

Minji tersenyum, “Annyeong eonni..” sapanya.

Bom tersenyum dan maju dengan kedua tangan terbuka lebar, lalu memeluk Dara. Melalui tatapan gadis itu, ia bisa mengetahui apa yang baru saja dialami gadis itu. kehilangan seseorang yang berarti karena Virtual World. “Kita akan menghentikan mereka..” ucapnya memberi semangat.

Dara mengangguk di bahu Bom. Lalu memandang gadis itu begitu melepaskan pelukan pada tubuhnya, matanya tampak berkaca-kaca dan bulir air berjatuhan. “Aku sudah melepas semuanya untuk hal ini, aku akan berusaha semampuku..”

Bom mengangguk dengan senyum hangatnya, “Ne..”

TOP melangkah maju, “Aku akan menunjukkan kamarmu..”

Nareul wihan geora haetdeon neoui mal

Geotjitmalcheorom chagapge doraseotdeon

Neoneun wae

Neoneun wae you’re gone away

(2ne1 – Come Back Home)

 CBH3

=Misi Dimulai=

CL berdiri didepan tiga gadis dan TOP yang duduk disofa sambil memperhatikan dirinya, “Formula yang kita rancang sudah 90% berhasil.” Ucapnya memulai. “Kita tidak bisa menyelesaikan semuanya disini. Kita harus masuk ke Virtual World…”

Dara, Minji dan Bom memandang CL serius.

CL memandang ketiga temannya bergantian, “TOP akan memantau pekerjaan kita selama di Virtual World. Semuanya sudah di persiapkan disana. Perjuangan kita akan sangat berat, tapi kita harus berjuang sampai mati. Araso?”

Ketiga gadis itu mengangguk mengerti, “Ne..”

CL memandang ke sisi kiri, seolah-olah sedang menatap Virtual World yang akan segera hancur. “Ini bertarungan nyata di dunia maya.” Ucapnya, “TOP..”

“Ne..” TOP bangkit dan berjalan ke sisi CL, lalu memandang ketiga gadis tadi. “Aku sudah membuat sebuah program untuk masuk ke Virtual World dengan aman. Kalian akan menjadi seseorang yang lain disana. Orang-orang yang sudah masuk ke Virtual World bisa mengenali kalian melalui barcode yang terdapat pada sensor dimata mereka. Hidup mereka juga sudah seperti computer yang terprogram. Sensor yang digunakan untuk membawa mereka ke Virtual World telah menguasai otak mereka seutuhnya, karena itu jika sensor itu dilepaskan otak mereka akan menjadi lumpuh dan membawa mereka pada kematian. Tapi…” ia berhenti sejenak untuk menatap ketiga gadis yang duduk disofa, “Aku hanya bisa memantau pergerakan kalian untuk waktu 2 jam, jadi selesaikan misi ini sebelum 2 jam. Jika kalian melewati batas itu, kalian tidak akan bisa kembali dan akan terjebak disana selamanya..” lanjutnya.

Bom, Dara dan Minji tetap memperlihatkan ekspresi tegas. Tidak tersirat rasa takut sedikit pun.

CL memandang ketiga gadis tadi, “Jika kami tidak kembali dalam waktu 2 jam..” ucapnya pelan, lalu memandang TOP. “Cabut semua alat Virtual World..” ucapnya tanpa ragu.

TOP memandang lurus ke mata CL, sama sekali tidak ada keraguan disana. Seperti batu karang yang akan tetap berdiri kokoh meskipun air laut terus mengikisnya perlahan. Lalu memandang para gadis yang lain, “Eoteokhe?” tanyanya.

Kali ini, Dara, Bom dan Minji tampak memandang ke bawah ragu.

CL memandang para gadis itu, lalu memandang kebawah. “Lakukan itu untukku..” ucapnya pelan, membuat semua yang ada disana memandangnya. Ia memalingkan wajahnya, “Aku akan mempersiapkan alat yang akan kita gunakan..” ucapnya, lalu melangkah pergi.

TOP menghela nafas dalam dan mengelus belakang kepalanya, “Aku akan memeriksa program untuk misi ini..” ucapnya dan melangkah pergi juga.

Igose yulhage nameun georagon neoui geurimja

Oeroumbodan geuriumi nal goerophinda

Sone japhil geotman gateun neoui useumsori

Moraeseongcheoreom himeobsi heuteojin sungandeuri

Maeil bam gawicheoreom nal nulleo

Kkumsogeojocha ne ireumeul tto bulleio

Modeun geol byeonhage haneun sigan apedo byeonhaji anneun geon

Naneun neuol queen, you’re my ruler

(2ne1 – Come Back Home)

=Meja Laboratorium=

CL membaca catatan hasil pembuatan formula mereka dengan cermat, ia harus mengingat semuanya agar bisa membuatnya dengan cepat di Virtual World.  Ia menyadari suasana bersama teman-temannya jadi tidak nyaman setelah pembicaraan kemarin, namun ia tidak memperlihatkannya. Ia menghela nafas dalam dan meletakkan catatannya, “Aku akan memeriksa sesuatu..” ucapnya dan berbalik, lalu melangkah pergi.

Ketiga gadis disana memandang CL dan menghela nafas dalam.

“Biarkan saja, kalian harus menguasai semua ini dengan baik..” ucap TOP.

“Ne, oppa..” jawab Minji.

“Tapi tidak perlu terlalu khawatir, aku akan memasukkan cara pembuatan formula ini kedalam program. Jadi kalian akan mengingatnya seperti memang kalian yang membuatnya.” Jelas TOP.

“Ne..” jawab Dara.

Bom memandang ke pintu menuju ruangan lain yang tadi dimasukkan CL. Gadis sangar itu menyimpan semuanya dengan rapi bersama ekspresi tegas diwajahnya. “Aku akan ke toilet sebentar..” ucapnya dan melangkah pergi.

CL berdiri ditengah ruangan gelap itu sambil menonton video pemberontakan yang terekam setahun lalu di dinding tanpa ekspresi. Semua yang terlihat di video itu masih sangat jelas diingatannya. Saat ia dan teman-temannya memulai pemberontakan, hingga semuanya berakhir dengan kehampaan seperti ini.

=Flashback setahun lalu=

“Ya! Lee Chaerin!!” seru seorang pria sebal.

CL tertawa melihat ekspresi pria itu, “Oppa, kemanhera. Kau tidak cute sama sekali..”

Pria itu cemberut, “Jinja? Wae? Mereka menyebutku aegyo-king..” candanya.

CL memegang perutnya sambil tertawa. Tiba-tiba ia dan teman prianya itu dikejutkan dengan suatu bunyi yang menarik perhatian mereka, lalu memandang kearah seatas sebuah gedung pencakar langit dengan dahi berkerut.

“Hm? Apa itu?” Tanya CL melihat layar hologram muncul.

“Molla..” jawab pria tadi tidak tau juga.

“Virtual World. Dimana manusia tidak perlu memikirkan kerusakan lingkungan. Pemanasan global. Juga bencana alam yang mengancam semuanya. Hidup nyaman tanpa memikirkan apa pun yang mengganggu keselarasan hidup kalian.. Bergabunglah bersama kami..”

CL dan teman prianya tertegun mendengar pengumuman itu. tak lama orang-orang seperti terhipnotis dan berjalan ke arah gedung itu. ia memandangi sekitarnya bingung. “Myoya?” gumamnya tak mengerti.

TOP berlari menghampiri kedua temannya, “Ya! Apa yang terjadi? Kenapa orang-orang pergi kesana?”

“Entahlah..” jawab pria tadi tak mengerti.

Dalam waktu beberapa har, tidak ada lagi orang-orang yang memenuhi jalanan. Menjalankan perusahaan ataupun kendaraan transportasi tidak ada yang beroperasi.

CL melangkah ketengah jalan yang seharusnya dipenuhi kendaraan berlalu lalang sambil memandang sekitar, tapi tidak ada satu pun orang atau pun kendaraan disana. Sampah berterbangan dimana-mana tertiup angin.

TOP melangkah ke sisi CL sambil ikut memandang sekitar, “Kemana semua orang? Mereka bergabung dengan dunia khayalan itu?!” tanyanya tak percaya.

Pria teman CL dan TOP muncul di tengah teman-temannya dengan wajah bingung, “Apa dunia virtual itu lebih baik dari pada dunia nyata? Kenapa mereka memilih untuk pergi kesana?”

CL memandang TOP, “Oppa, eomma dan appa juga masuk kesana?” tanyanya dengan nada terluka.

TOP memandang CL sedih dan mengangguk.

Mata CL tampak mulai basah, “Wae?”

TOP menunduk dan menggeleng, “Molla..”

CL memalingkan wajahnya seiring bulir air mata yang berjatuhan.

Pria tadi menghela nafas dalam dan menunduk sedih, “Orang-orang berpikir hidup dengan khayalan lebih baik dari pada kehidupan nyata, wae?” gumamnya tak mengerti.

“Karena mereka adalah orang-orang yang tidak peduli lagi pada sekitarnya, mereka tidak ingin mendapatkan masalah karena orang lain. Mereka hanya ingin hidupnya sendiri..” jelas TOP pelan.

Pria yang berdiri ditengah CL dan TOP itu menatap hologram Virtual World penuh kebencian, “Anira.. Jika ada seseorang yang harus menghentikan mesin palsu itu, maka aku orangnya!”

TOP dan CL memandang teman mereka kaget.

“Oppa?” ucap CL tak percaya.

“Jiyong-a?” ucap TOP.

Pria bernama Jiyong memandang kedua teman-temannya serius, “Apa kalian bersamaku?”

TOP dan CL saling berpandangan, lalu kembali memandang Jiyong dan mengangguk tanpa ragu.

…………………………………………………………………………………………………………………….

“Oppa!! Oppa!! Andwaeyo!! Jiyong oppa!!!” teriak CL histeris sambil memapah Jiyong yang tertembak peluru laser di bahu kanannya.

“Arrrgghh!!!!” rintih Jiyong sambil terus berusaha berlari bersama CL yang membantunya.

“Ppali!!” seru TOP dan memapah Jiyong disisi lain tubuhnya.

DUARR!!

Terdengar ledakan besar lagi dan beberapa pemberontak tumbah dengan luka parah.

Mata TOP melotot melihat temannya yang memegang kamera tertembak peluru laser tepat didada kirinya dan langsung tumbang.

Kekacauan itu tidak terkendali lagi, mereka terus melangkah cepat diantara kericuhan.

“Kita harus bersembunyi sementara waktu..” ucap TOP.

Ssseeekk!!!

Langkah CL terhenti dengan mata melotot menatap dada kiri Jiyong, baru saja sebuah peluru laser menembus dari sana. Matanya bergerak menatap wajah Jiyong, darah mengalir dari mulut pria itu. “Oppa?”

Jiyong memandang CL, kepalanya langsung lunglai tak bertenaga.

CL sangat shock hingga tanpa sadar melepaskan papahannya dari tubuh Jiyong, matanya yang melotot menyaksikan bagaimana pria itu jatuh terbaring ke tanah dengan bulir air berjatuhan.

TOP juga menatap Jiyong shock, namun mereka tidak bisa berlama disana. Dengan cepat ia mengambil kamera yang di pegang temannya tadi, lalu menarik CL berlari bersamanya.

=Flashback end=

Sebulir air mengalir dari sudut mata CL meskipun wajahnya tetap tidak memperlihatkan ekspresi sama sekali menyaksikan bagian di video ini. Matanya terpejam mengingat apa yang terjadi saat itu.

Bom berdiri dibelakang CL sambil ikut menyaksikan ulangan video itu, matanya bergerak memandang gadis yang berdiri membelakanginya itu.

CL merasakan keberadaan seseorang dan segera menyeka air matanya, lalu berbalik memandang Bom. “Apa yang kau lakukan?”

Bom menatap CL sedih, lalu tersenyum. “Kita semua memiliki masa pahit karena mesin palsu itu. orang-orang yang kita cintai ada disana. Tapi kita tidak punya cara untuk membawa kembali, kecuali membiarkan mereka pergi..” ucapnya, bulir air mulai berjatuhan dari matanya. “Mereka tidak akan kembali…” ucapnya lagi, “Tapi kuharap kau, Minji dan Dara akan kembali..”

CL menatap Bom masih dengan wajah tanpa ekspresinya, lalu mengangguk. “Ne..”

= Sehari sebelum Virtual time=

TOP membuka sebuah pintu dan melangkah masuk, keempat gadis itu mengikutinya.

Diruangan itu sudah dirancang seperti tempat masuk ke Virtual World. Disana ada 4 tempat tidur yang dilengkapi alat Virtual World. Masing-masing tempat tidur diletakkan diagonal dengan kepala orang yang berbaring disana saling bertemu di tengahnya.

“Kalian hanya perlu berbaring disana, kenakan sensor itu di kepala kalian..” ucap TOP menjelaskan, “Aku sudah memprogram diri kalian di Virtual World. Juga sudah memasukkan peta dan tempat-tempat yang harus kalian datangi nantinya..”

“Ne..” jawab keempat gadis itu tanpa ragu.

“Besok pagi kita akan memulai misi ini, sekarang siapkan diri kalian..” ucap TOP.

CL memandang teman-temannya, “Ayo..” ucapnya and melangkah keluar bersama yang lainnya.

Langkah Dara melambat sebelum keluar dari pintu, kepalanya kembali memandang TOP yang langsung sibuk dengan alat-alatnya. Ia memandang ketiga gadis lain sudah melangkah pergi, ia kembali berbalik dan menghampiri pria itu. “TOP…”

TOP berhenti dan memandang Dara, “Ne?”

Dara menghela nafas dalam, “Bisakah aku meminta sesuatu padamu?”

TOP memandang Dara penasaran, “Mwo?”

Dara menelan ludah untuk melancarkan tenggorokannya, “Tolong..” ucapnya pelan, “Tidak peduli aku kembali atau tidak selama 2 jam, cabut saja alat Virtual World itu…”

TOP tertegun, “Ne?”

Bibir Dara membentuk senyuman, “Aku akan berjuang hingga mati. Bagiku, tidak ada lagi yang harus kuperjuangkan selain menghancurkan Virtual World. Jadi, berhasil atau pun tidak, aku akan tetap mati untuk menyelesaikannya..” ucapnya yakin, “Bisakah kau melakukannya?”

TOP terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Keure..”

Dara membungkuk sopan dan berbalik, lalu keluar dari ruangan itu.

TOP memperhatikan Dara pergi sedih. Mereka semua memiliki luka hati yang tidak akan bisa terobati. Hanya mereka yang dapat mengerti tentang semua ini.

=Malam itu=

Tidak ada dari keempat gadis itu yang bisa memejamkan matanya untuk tidur.

Dara berbaring di tempat tidurnya sambil memandangi langit-langit. kehampaan masih terasa jelas dihatinya.

=Flashback=

Dara mengambil beberapa butir pil dan meletakkannya dalam sebuah piring kecil, lalu membawanya bersama segelas air putih. Bibirnya membentuk senyuman melihat kekasihnya, Woobin duduk didepan TV dengan ekspresi datar. “Woobin-a.. ini, minum obatmu..” ucapnya sambil duduk disebelah pria itu.

Woobin memandang gelas dan pil-pil itu, lalu memandang Dara sedih.

Dara tau apa yang dirasakan kekasihnya saat ini, namun bibirnya masih tetap membentuk senyuman. “Ayo..”

Woobin menghela nafas dalam dan mengambil piring juga gelas tadi, ia memasukkan pil-pil itu kemulutnya dan mendorong dengan air putih.

Dara mengambil gelas dan piring kosong tadi, lalu meletakkannya di meja. “Hei… tersenyumlah..” ucapnya sambil memegang kedua pipi Woobin sambil tersenyum manis. Tapi kekasihnya itu hanya memandangnya tanpa ekspresi. Ia menaikkan kedua kakinya ke atas pangkuan Woobin, lalu berbaring disofa sambil menarik pria itu agar menyandarkan kepala ke dadanya.

Woobin membaringkan kepalanya ke dada Dara dan menatap TV tanpa ekspresi seperti biasanya. Ia dapat merasakan tangan gadis itu mengelus rambutnya lembut. saat itu, kepalanya langsung bergerak bangkit melihat sebuah iklan. Virtual World.

…………………………………………………………………………………………………………

Dara dan Woobin duduk di meja makan untuk menikmati sarapan mereka, namun suasana disana terasa tidak enak.

Dara memperhatikan Woobin yang menghancurkan pil-pil yang seharusnya diminum pria itu diatas meja, “Woobin-a..”

Tangan Woobin berhenti, namun tidak memandang Dara.

“Kau harus meminum obat-obatan itu..” ucap Dara pelan.

Woobin menghela nafas dalam dan menatap Dara, “Aku lelah Dara..” ucapnya. “Aku akan bergabung dengan Virtual World..” ucapnya tanpa ragu.

Dara tertegun mendengar ucapan kekasihnya, “Mwo?”

“Aku tidak ingin hidup penuh penderitaan seperti ini, aku akan hidup nyaman di Virtual World.” Ucap Woobin tegas.

Mata Dara membesar mendengar ucapan Woobin, “Woobin…”

Woobin memalingkan wajahnya, lalu bergerak bangkit dan melangkah ke kamar.

Dara hanya bisa terdiam ditempatnya. Tak tau apa yang harus ia lakukan. Bulir-bulir air berjatuhan dari matanya mengingat kekasihnya akan meninggalkannya.

…………………………………………………………………………………………………………

Dara berdiri di pinggir tempat tidur sambil memandangi Woobin yang sekarang sudah masuk ke Virtual World. Pria itu mungkin sudah mendapatkan hidup yang lebih baik disana, didunia palsu itu. ia sangat sedih menyadari tak ada kekasihnya lagi. Dengan tekad bulat ia mengulurkan tangan kealat pemindai di satu telinga Woobin. Alat yang menggunakan sensor menuju otak. Tangannya menggenggam alat itu, lalu dengan satu sentakan menariknya hingga terlepas dari telinga kekasihnya. Semua alat yang menyala langsung mati. Begitu juga dengan kekasihnya. Bulir air matanya kembali mengalir begitu saja. Dengan langkah berat ia mengambil tas ranselnya dan berjalan ke pintu.

=Flashback end=

Siang itu, semua gadis duduk berkumpul untuk membicarakan rencana mereka begitu tiba di Virtual World nanti dengan serius. Tak jauh dari mereka, TOP yang sedang memeriksa senjatanya melirik kearah sang leader berkarisma itu. helaan nafas berat keluar dari mulutnya dan kembali memandang senjata di tangannya.

‘Kuharap kau akan tersenyum lagi setelah semua ini selesai, Chaerin..’ batin TOP.

Minji mendengarkan CL menjelaskan tentang rencana mereka. ia mengerti semua yang dibicarakan leader mereka. Saat yang lainnya masih serius memperhatikan CL, ia memandang kebawah sedih. Lalu melirik ketiga gadis lain. Keseriusan ini, kebersamaan mereka yang singkat namun berarti ini, mungkin tidak akan lagi setelah mereka menjalankan misi. Mereka memiliki ambisi dan kekuatan aura yang besar, ia sadar ia tidak seperti mereka yang mungkin bisa menyelesaikan misi dengan mudah.

=Flashback=

Minji yang masih mengenakan seragam sekolahnya ditarik oleh ibunya masuk ke gedung Virtual World. Lalu berhenti di antrian panjang orang yang menunggu gilirannya masuk. Ia memandang sekitarnya bingung, lalu memandang ibunya yang tersenyum lebar padanya.

Ibu Minji tersenyum lebar dan memegang pipi putrinya, “Setelah masuk ke Virtual World, kita akan hidup lebih baik.”

Minji memandang ibunya tak mengerti, namun tak tau harus mengatakan apa.

“Jangan khawatir, disana tidak ada yang akan mengganggumu lagi. Tidak ada yang menelantarkan kita, juga kita akan bahagia selamanya..” ucap ibu Minji lagi sambil menggenggam tangan Minji.

Minji memandang ke bawah bingung, lalu memandang sekitarnya. Orang-orang disana terlihat sama seperti ibunya, sangat senang. Ia kembali memandang ibunya, “Eomma, bukankah ini namanya lari dari kenyataan?”

Ibu Minji menatap putrinya dan memegang kedua bahu gadis itu, “Untuk apa menghadapi kenyataan yang akan selalu menyakitimu, Minji? Lebih baik seperti ini.. Kita akan terus bersama dan semuanya akan baik-baik saja.. Keutji?”

Minji menatap ibunya tidak yakin, “Tapi….” Ia mengedarkan pandangannya.

“Sudah Minji, kita akan baik-baik saja.. Khaja..” ajak ibu Minji.

Ruang ganti.

Minji memandang baju seperti seragam pasien di tangannya. ia harus mengenakan pakaian itu sebelum masuk ke Virtual World. Meskipun ibunya benar, tidak ada yang akan membahagiakan mereka didunia ini. Ia tetap ragu untuk masuk kedunia palsu itu. ia adalah putri penurut yang selalu mendengarkan ibunya, namun saat ini. Ia tidak bisa berdiam diri. Ia merasa ini bukanlah jalan yang harus ia lakukan. Tangannya meletakkan baju itu ke atas wastafel dan melangkah ke pintu.

Ibu Minji tertegun melihat putrinya keluar tanpa mengganti baju, “Minji-a? Waeyo?”

Minji menghampiri ibunya dengan wajah menunduk, lalu memandang ibunya. “Eomma, kita pergi saja.. Aku tidak suka disini..”

Ibu Minji menatap putrinya tak percaya, “Apa maksudmu, Minji? Cepat ganti bajumu, kita akan masuk ke Virtual World..”

Minji menggeleng, “Jebal eomma..” pintanya sambil memegang tangan ibunya, “Mungkin disini kita ditelantarkan appa, tidak diperhatikan siapa pun. Tapi kita saling memiliki. Kita bisa bahagia di dunia nyata, untuk apa berpura-pura semuanya baik-baik saja disana?”

Ibu Minji menatap putrinya marah, lalu memalingkan wajahnya sambil menarik tangan gadis itu menuju ruang Virtual World. “Tutup mulutmu, kita akan tetap melakukannya..”

Awalnya Minji hanya mengikuti langkah ibunya, tapi beberapa langkah sebelum masuk, ia menarik tangannya dengan kepala tertunduk.

Ibu Minji menatap putrinya tak percaya, “Minji-a?”

Bulir air mata Minji mulai berjatuhan dan memandang ibunya, “Eomma, kita tidak bahagia bukan karena appa menelantarkan kita.. Tapi karena eomma selalu merasa kita ini menyedihkan. Jika eomma membuka hatimu sedikit untuk melepaskan semua perasaan seperti itu, kita bisa memulai hidup yang baru lagi dan benar-benar bahagia..”

Mata ibu Minji tampak memerah dan memalingkan wajahnya, lalu berbalik membelakangi Minji. “Ayo masuk, Minji!” ucapnya dan melangkah.

Minji masih berdiri ditempatnya sambil memandangi ibunya, bulir air matanya berjatuhan begitu saja.

Langkah ibu Minji berhenti karena menyadari putrinya tidak ikut masuk, ia kembali memandang kebelakang dan melihat putrinya sama sekali tidak bergerak. “Gong Minji!” tegasnya.

Minji menggeleng, “Eomma, ayo pergi..” ajaknya.

Bulir air mata ibu Minji ikut berjatuhan dan langsung memalingkan wajahnya sambil menyeka air matanya.

“Eomma…” panggil Minji dengan suara bergetar.

Ibu Minji menghela nafas dalam dan menatap Minji, “Ikut eomma jika kau memang ingin kita tetap bersama..” ucapnya dan melangkah masuk tanpa memandang kebelakang lagi.

Minji menunduk dengan bulir air mata terus berjatuhan. Tak lama ia kembali mengangkat wajahnya, namun tidak terlihat lagi ibunya disana. Ia menghela nafas dalam dan berbalik pergi dengan langkah berat.

=Flashback end=

Minji menghela nafas dalam dan berusaha mengumpulkan semua keberaniannya. Ia akan membantu menghancurkan Virtual World semampunya. Meskipun ia tak sanggup bertahan, ia akan tetap berjuang.

Come back home..

Can you come back home?

Chagaun sesang kkeute nal beoriji malgo nae gyeoteuro

Come back home..

Can you come back home?

Modeun apeumeun dwiro hae

Yeojeonhi neol gidaryeo ireoke

Now you gotta do what you gotta do

(2ne1 – Come Back Home)

= Virtual World=

“Girls, semuanya akan dimulai..” ucap TOP.

CL, Minji, Bom dan Dara sudah berbaring di tempat tidur khusus itu dengan alat Virtual.

CL menatap lurus ke langit-langit, ‘Oppa, aku akan menghentikannya. Semuanya tidak akan menjadi seperti ini lagi. Aku berjanji..’ batinnya. Lalu memejamkan mata.

Minji menatap lurus ke langit-langit sambil membayangkan wajah ibunya, ‘Eomma, maafkan aku. Mungkin ini bukan kebahagiaan yang eomma inginkan, tapi aku akan mewujudkannya..’ batinnya dan memejamkan mata.

Bom memandang langit-langit dengan perasaan hampa, ‘Ini bukan kematian, tapi caraku membangunkan kalian dari mimpi. Mianeyo..’ batinnya dan memejamkan mata.

Dara memandang langit-langit sesaat, ‘Woobin-a, kuharap semua ini benar-benar mimpi dan kita akan bertemu lagi.’ Batinnya dan memejamkan mata.

TOP menekan enter di keyboard. Proses pengiriman keempat gadis itu ke Virtual World sedang berlangsung. Tak sampai 10 menit mereka tiba di dunia itu.

……………………………………………………………………………………………………………

CL membuka  matanya dan mendapati dirinya berdiri di sebuah ruangan. Ruangan yang tidak asing, itu adalah ruang laboratorium mereka. Sama seperti yang di dunia nyata, hanya saja terlihat lebih canggih. Ia mengenakan pakaian motif leopard dan riasan tajam, perlahan ia melangkah masuk sambil memperhatikan beberapa orang yang mengenakan pakaian pelindung sedang mengerjakan formula. Tiga gadis lainnya tidak ada disana, itu berarti mereka langsung tiba di tempat misi masing-masing.

“CL, formulamu sudah hamper 100% berkat bantuan dua virtual-people itu..”

Terdengar suara TOP dikepala CL. Ia memandang dua orang itu, lalu menghampiri meja laboratorium untuk ikut menyempurnakan formulanya.

Di tempat lain.

Minji membuka matanya dan menyadari dirinya dipinggir sebuah jalanan ramai. Ia mengenakan pakaian glamor dengan rambut merahnya yang sekarang terkuncir panjang ke belakang. Ia mengedarkan pandangannya, memperhatikan mobil-mobil yang berlalu lalang di hadapannya. Itu adalah jalanan kota Seoul yang ia kenal, namun di penuhi kecanggihan yang luar biasa. Mobil tidak lagi menggunakan roda. Ia memandang mobil merah di dekatnya.

“Minji, kau tau harus membawanya kemana..”

Minji mendengar suara TOP di kepalanya. Ia membuka pintu mobil dan masuk. Di kursi belakang, terlihat bom waktu yang siap menghancurkan Virtual World pada waktunya nanti.

Di tempat lainnya lagi.

Dara membuka matanya dan menyadari dirinya ada disebuah dapur. Pakaiannya jelas terlihat berbeda dengan para koki disana. Ia memperhatikan sekitar sejenak.

“Dara, temukan dimana ruangan para petinggi Virtual World akan berkumpul..”

Terdengar suara TOP di kepala Dara. Ia mengedarkan pandangannya dan melihat pintu keluar, lalu melangkah kesana.

Ditempat yang tidak jauh dari Dara.

Bom membuka matanya dan menyadari ia berdiri di sebuah panggung kecil di depan orang-orang berpakaian putih yang sedang menikmati makanan. Ia bisa menebak dirinya adalah penyanyi yang menghibur orang-orang disana.

“Bom, menyanyilah.. kau harus mengulur waktu mereka hingga CL dan Minji datang..”

Terdengar suara TOP di kepala Bom. Saat itu piano di dekatnya berbunyi. Mendentingkan melodi indah untuknya. Ia langsung bernyanyi mengikuti alunan music yang indah itu.

Sementara itu.

Minji menghentikan mobilnya di depan gedung tempat markas mereka, lalu turun. Tampak CL sudah menunggunya dengan tas ransel besar di punggung.

CL mengangguk pada Minji dan langsung masuk ke mobil.

Minji kembali masuk ke mobil dan mengendarainya pergi, “Kemana kita akan pergi eonni?” tanyanya.

CL memandang Minji dan mengeluarkan ponsel dari saku, lalu menghubungi Dara.

“Ne, CL..” jawab Dara diseberang.

“Dimana tempatnya?” Tanya CL.

“Gedung Virtual World, seluruh gedung berwarna putih. Aku sudah menemukan di ruangan mana mereka akan berkumpul. Sekarang Bom menyamar menjadi penyanyi, kalian siap?” Tanya Dara.

“Ne, kami tiba 5 menit lagi..” ucap CL dan memutuskan telepon, lalu memandang Minji. “Gedung Virtual World..” ucapnya.

Minji mengangguk dan menambah kecepatan mobil.

=Gedung Virtual World=

Dara melihat mobil yang dinaiki CL dan Minji tiba, lalu langsung menghampiri mereka.

CL dan Minji keluar bersama tas ransel besar di punggung mereka.

“Eothekhe? Kita hanya berempat, mereka sangat banyak..” ucap Dara.

CL diam sejenak untuk berpikir, “TOP.. berikan kami prajurit..” gumamnya.

Di dunia nyata, TOP langsung mengetik sesuatu dan mengirimkannya ke Virtual World.

Disekeliling Dara, CL dan Minji muncul gadis-gadis yang mengekan masker dan berpakaian serba hitam.

“Ayo masuk..” ucap CL sambil memimpin jalan.

Tak lama.

CL berhenti di depan ruangan yang di gunakan para petinggi Virtual World. Ia memandang jam tangannya. Disana terlihat sisa waktu mereka. 49 menit. “Kita hamper kehabisan waktu..” ucapnya sambil menurunkan tas di bahunya, “Ayo bergerak!” ia mengambil sebuah formula beserta bom waktu. Begitu juga dengan dua temannya dan para prajurit Virtual itu. Dengan satu tangan ia mendorong pintu itu terbuka dan berjalan cepat masuk ke dalam sambil melempar botol berisi formulanya. Itu akan menghancurkan Virtual World untuk selamanya.

DUAARR!! Botol itu meledak begitu mengenai seorang petinggi.

Keadaan disana mulai ricuh dengan Minji dan Dara yang juga ikut melemparkan bom mereka. Bom berlari turun dari panggung dan mengambil sebuah formula, lalu ikut menghancurkan orang-orang disana. Api biru terlihat muncul membakar setiap petinggi yang terkena formula itu dan menghilang seperti kertas yang habis terbakar.

“Minji!! Hidupkan bom itu!!” seru CL, lalu menyerang petinggi lain dengan formulanya.

Minji segera membuka tas ranselnya dan mengeluarkan bom waktu tadi, namun belum sempat ia menekan tombol aktif, seseorang merebut benda itu. Ia terkejut menyadari itu adalah ibunya. “Eomma?”

Ibu Minji menatap putrinya tak percaya, “Minji?! Apa yang kau lakukan?”

Minji menunduk menyesal, “Aku harus menghancurkan Virtual World eomma..”

“Jika kau menghancurkannya, semua orang yang ada disini akan mati. Begitu juga dengan eomma! Dimana hati nuranimu?!” seru ibu Minji tak percaya.

Minji menggigit bibir bawahnya ragu.

CL mulai kehabisan formula dan VP sudah menyerang mereka, “Minji!!!” teriaknya sambil melawan seorang VP.

Minji memandang sekitar dan menyadari tiga temannya berjuang melawan VP, ia sadar waktu tidak akan berhenti jika ia ragu seperti itu.

Ibu Minji memegang bahu putrinya, “Dengar Minji, jangan lakukan ini. Jika kau mau, kita bisa hidup disini. Dunia ini sangat menyenangkan Minji..”

Minji menatap ibunya sedih, “Eomma, dunia seperti ini tidak nyata. Semuanya hanya tipuan..” ucapnya. Tatapannya berubah tajam, “Aku tidak mengijinkan tipuan ini terus berlangsung!” ucapnya dan langsung merebut bom waktu tad dan menekan tombol aktif.

“Minji!!” teriak ibu Minji.

Minji melemparkan bom ke tengah ruangan dan berlari ke pintu, “Eonni!!!” teriaknya memanggil yang lain. Namun ternyata ketiga temannya masih berjuang melepaskan diri dari VP. “Lepaskan!!!” teriaknya sambil membantu Bom.

“Arrgh!! VP busuk!!!” teriak Bom sambil memukuli VP yang menahan tangannya.

KLEK…

Dara dan Bom tertegun melihat tangan mereka berhasil di pasangkan borgol Virtual World oleh para VP.

“Andwae!!” teriak Minji sambil berusaha melepaskan borgol di tangan Bom.

CL memandang jam tangannya. 1 menit 21 detik. Ia mengangkat wajah dan melihat Bom dan Dara tidak akan bisa melepaskan diri dari borgol itu. Saat itu ia juga menyadari tidak ada cukup waktu untuk mereka semua melepaskan diri. Dengan cepat ia menendang VP yang berusaha menariknya, lalu berlari kearah Minji. “Minji!!!” serunya sambil menarik gadis itu itu menjauh dari kericuhan.

“Eonni, eotheokhe? Sebentar lagi bom waktu akan meledak..” ucap Minji panic.

“Ne.. Pergilah!” ucap CL sambil melepaskan jam tangannya dan memasangkannya ke tangan Minji.

Minji menatap CL kaget, “Eonni?!”

“Kubilang pergi!!!” seru CL sambil mendorong Minji keluar dari ruangan itu.

Begitu punggung Minji membentur pintu dan keluar dari ruangan itu, cahaya menyilaukan mata langsung muncul. Membuatnya memejamkan matanya erat dan meraskan punggungkan kembali mendarat di sesuatu yang keras. Matanya langsung terbuka dan menyadari dirinya sudah kembali ke dunia nyata.

“Minji?” ucap TOP sambil menghampiri gadis itu.

Minji langsung melepaskan alat Virtual World­ di kepalanya dan bangkit, “Oppa! Mereka tidak bisa keluar!! Cepat bantu mereka! Bom eonni dan Dara eonni berhasil di borgol oleh VP!!” ceritanya panic.

“Ne?!” seru TOP panic, lalu langsung berlari ke komputernya dan berusaha masuk ke program Virtual World. Ia harus mengirim ketiga gadis itu kembali.

Minji menghampiri TOP dan menatap layar computer panic. “Oppa! Ppali!!” ucapnya.

Pick.. pick..

Minji tertegun mendengar bunyi itu dari tangannya. Perlahan ia mengangkat tangan kirinya dan melihat jam yang tadi di pasangkan CL masih ada disana. Disana detik dari 3 menghitung mundur hingga ke 0.

TOP menekan enter tepat saat jam ditangan Minji menunjukkan angka 0.

Bulir air mata Minji berjatuhan begitu saja melihat semua angka disana 00:00:00. Waktu 2 jam mereka sudah habis dan ketiga gadis lain masih terjebak disana.

“Oh Tidak!!” seru TOP sambil bangkit dan melindung Minji.

DUAAARRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRRR!!!!!!!!!!

“Kyaaaaa!!!!!” teriak Minji ketika mendengar ledakan besar yang membuat sekelilingkan terasa gempa. Langit-langit berjatuhan dan debu langsung memenuhi ruangan itu.

Bom waktu sudah meledak. Begitu juga dengan Virtual World dan se-isinya.

“uhuk.. uhuk..” batuk Minji karena debu yang berterbangan.

TOP mengibaskan tangannya untuk menghilangkan debu yang berterbangan, lalu memandang sekitar. Lampu di langit-langit berkedip-kedip dan beberapa ada yang mati. Disana, ketiga gadis yang tersisa masih terbaring.

Minji memandang tiga teman-temannya tak percaya, bulir air matanya perlahan berjatuhan menyadari hanya ia yang berhasil keluar. “Eonni..” gumamnya.

TOP menatap CL sedih, lalu merangkul Minji yang mulai menangis.

Dahi CL, Dara dan Bom berkerut, lalu perlahan mereka membuka mata.

“Ahhh…” erang CL sambil memegang kepalanya dan melepaskan alat Virtual World.

“Ahhh.. kepalaku..” rintih Dara sambil melepaskan alat Virtual World.

“Ahhh… appo..” rintih Bom juga.

Minji dan TOP tertegun menatap ketiga gadis itu yang perlahan bergerak bangkit.

“Eonni!!!” teriak Minji sambil berlari menghampiri ketiga gadis itu. “Eonni!! Kupikir kalian tidak akan keluar!!” serunya sambil memeluk Bom.

Bom tersenyum sambil mengelus rambut Minji, “Ini semua karena kau, kau dengan berani memberitau TOP untuk menolong kami..”

Minji tak bisa menghentikan air matanya dan langsung memeluk Dara.

“Gumawoyo, dongsaeng..” ucap Dara.

TOP memeluk CL erat sambil memejamkan matanya seperti tidak akan memelepaskan gadis itu lagi.

CL tersenyum dan membalas pelukan TOP.

TOP melepaskan pelukannya dan memegang kedua pipi CL sambil menatap kedua mata gadis itu dalam, “Kau kembali..” ucapnya penuh haru.

CL tersenyum, matanya terlihat berkaca-kaca. “Ne, oppa..”

“Eonni..” panggil Minji dengan suara bergetar.

CL memandang Minji dan tersenyum pada anggota termuda mereka, lalu melebarkan tangannya memanggil sang gadis muda kepelukannya.

Minji langsung memeluk CL dan menangis di bahu leader mereka itu.

CL tersenyum dan mengelus rambut Minji, “Kau sangat berani Minji..” ucapnya pelan. Lalu memandang Bom dan Dara yang sekarang juga tersenyum kearahnya.

=Seoul City=

CL, TOP, Minji, Dara dan Bom berjalan keluar dari markas mereka dan melihat banyak reruntuhan gedung di jalanan. Gedung Virtual World sudah hancur tak berbentuk lagi. Meskipun sekarang Seoul benar-benar terlihat seperti kota mati, tapi matahari terlihat bersinar lebih terang.

Dari sisi berbeda, tampak beberapa orang yang masih bertahan keluar dari persembunyian mereka karena menyadari Virtual World sudah berakhir.

CL tersenyum memandang sekitar, juga berpandangan dengan teman-temannya.

“Eonni.. disana masih ada beberapa orang lagi..” ucap Minji bersemangat sambil berlari menghampiri orang-orang itu, “Annyeonghaseo..”

“Minji-a, tunggu aku!!” ucap Bom sambil berlari mengejar Minji.

CL tertawa melihat kekonyolan teman-temannya.

TOP memandang CL yang kembali seperti dulu senang.

Dara melangkah menghampiri TOP, “TOP…” panggilnya.

TOP memandang Dara, “Ne?”

Dara tersenyum, “Terima kasih sudah membuatku kembali..”

TOP tertegun, “Oh.. Cesongeo.. aku tidak menepati janjiku waktu itu.” Ucapnya menyesal.

Dara menggeleng masih tetap sambil tersenyum, “Gwenchana, aku justru senang kau tidak menepati janjimu..” ucapnya.

TOP terdiam beberapa saat, lalu tersenyum tipis. “Ne..”

Dara menghela nafas dalam, “Meskipun aku tidak akan pernah bertemu lagi dengan kekasihku, aku senang bisa tetap hidup bersama teman-teman yang luar biasa seperti mereka..” ucapnya sambil memandang tiga temannya yang lain.

TOP ikut memandang tiga gadis lain dan tersenyum.

“Oh iya..” ucap Dara yang kembali memandang TOP, “Kau dan CL ada hubungan khusus?” tanyanya ingin tau.

TOP memandang Dara sambil tersenyum lucu, “Sebenarnya, aku dan CL adalah kakak adik..”

Dara tertegun, “Ne?”

TOP melangkah menghampiri tiga gadis lain sambil tersenyum lucu, meninggalkan Dara yang masih kebingungan sendiri.

“Oh jinja? Apakah benar?” Tanya Dara sambil mengikuti TOP.

Semua orang berusaha membangun Seoul kembali. Berjuang bersama-sama demi kebahagiaan nyata yang mereka inginkan. Keempat gadis luar biasa itu menjadi saudari yang tak terpisahkan, mereka memiliki satu sama lain sekarang.

=Beberapa Bulan Kemudian=

TOP melihat Bom menghidangkan makanan di meja. Bibirnya membentuk senyuman dan menghampiri gadis itu dari belakang.

Bom terkejut tiba-tiba TOP memeluknya, “Omo!”

TOP tersenyum dan memandang wajah kaget Bom, “Kenapa kau terkejut?”

“Ya.. siapa yang tidak terkejut jika kau tiba-tiba memelukku seperti ini?” protes Bom.

TOP tertawa kecil, “Kau sangat cantik, kau tau?”

Wajah Bom merona, “Mwo?”

TOP menyandarkan pipinya ke bahu Bom.

“Ya.. apa-apaan kau.. nanti yang lain melihat..” ucap Bom malu.

“Kupikir kita harus memperbanyak manusia di bumi sekarang..” ucap TOP.

Bom tertegun, “Ne?”

TOP mengangkat wajahnya dan memandang Bom, “Apa kau mau memperbanyaknya bersamaku?”

Wajah Bom terasa merah padam, “Ya!!” serunya sambil melepaskan pelukan TOP dan menendang kaki pria itu.

“Ahhkk!!!” jerit TOP sambil memegang kakinya.

“UGH!!” Bom menghentak kakinya dan berjalan pergi.

“Ya..” panggil TOP tak mengerti.

Bom berhenti dan menatap TOP kesal, “Pabo ya? Kau seharusnya melamarku dulu baru mengatakan itu! Aissh!!” serunya dan langsung pergi.

TOP tertegun sesaat, lalu tertawa sendiri. “Dasar kau..”

=5 tahun kemudian=

“Eunchae-a.. eodiga?” panggil Minji disekitar pekarangan rumah.

“Eunchae-a..” panggil Dara.

“Ahh.. bagaimana mungkin anak 5 tahun bisa menghilang begitu saja?!” geram CL kesal.

“Ya! Temukan anakku!!” seru Bom pada TOP.

“Araso! Araso!!” ucap TOP sebal dan kembali mencari.

“Eunchae-a!!” panggil Bom.

“Ya!! Choi Eunchae!!” panggil TOP.

Minji tertegun melihat sesuatu yang terlihat muncul di langit, lalu mengerutkan dahi setelah menyadari itu adalah hologram. “Eonni..” panggilnya sambil menarik bahu CL.

CL berhenti dan memandang Minji, lalu memandang ke arah gadis itu memandang. Ia tertegun mendengar sebuah hologram di langit.

“Apa itu?” Tanya Dara.

Bom dan TOP menghampiri yang lainnya.

“Itu seperti Virtual World?” Tanya Bom tak percaya.

“Virtual Zone.. Tempat bermain dan belajar untuk anak-anak manusia. Tidak perlu memikirkan masalah mengenai biaya sekolah lagi karena disini semuanya bisa terwujud dengan mudah. Bergabunglah bersama kami untuk masa depan putra dan putri anda..”

CL, Minji, Dara dan Bom menatap hologram itu tajam.

CL memandang teman-temannya, “Saatnya beraksi..”

Ketiga gadis lainnya mengangguk dan langsung berlari masuk ke rumah.

“Ya.. lalu Eunchae bagaimana?” Tanya TOP bingung.

“Eunchae ada disana oppa! Ppalli!!” panggil Minji sambil berlari ke rumah.

“Mwo?! Aissh!! Tidak putraku!!” ucap TOP sambil ikut berlari ke rumah.

Come back home..

Can you come back home?

Chagaun sesang kkeute nal beoriji malgo nae gyeoteuro

Come back home..

Can you come back home?

Modeun apeumeun dwiro hae

Yeojeonhi neol gidaryeo ireoke

Now you gotta do what you gotta do

(2ne1 – Come Back Home)

====THE END====

Advertisements

4 thoughts on “CRUSH!! ~~ Come Back Home!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s