Part

CRUSH!!! ~~ Gotta Be You

Gotta Be You

Apakah kau tau ada kehidupan normal yang selalu terlihat sempurna? Aku memiliki kehidupan seperti itu. maksudku, bukan benar-benar sempurna seperti tidak memiliki masalah. Tapi aku terlahir dari keluarga harmonis. Ayah dan ibuku adalah orangtua paling sempurna didunia bagiku. Sebagai anak mereka satu-satunya, aku berusaha menjadi putri yang membanggakan mereka. Belajar giat hingga selalu menjadi yang terbaik, mengikuti berbagai les hingga aku mahir bermain piano, memasak, bahkan Yoga. Namun aku harusnya tau tidak ada yang akan berjalan sempurna di dunia ini. Meskipun aku sudah bertemu pria istimewa yang hanya mencintaiku. Kim Woobin. Dia punya karisma dan sikap yang membuat semua gadis rela menjadi yang kedua baginya. Beruntung, dia hanya mencintaiku..

Saat masa sekolah, aku bukan anak aktif yang selalu muncul disekolah. Aku hanya gadis pemalu yang selalu ingin menjadi yang terbaik. Begitu juga ketika di Universitas.

Aku melangkah menuruni tangga sambil membaca kertas-kertas nada yang kutulis tadi malam, aku mempelajari musik sebagai mata kuliahku, jadi aku harus benar-benar serius mempelajarinya. Telingaku mendengar dentuman bass dari musik hip hop dari kejauhan, kepalaku menoleh dan melihat sekumpulan pria dan wanita sedang beraksi di halaman kampus. Well, ini tontonan umum si kampusku saat jam kosong. Mereka pasti dari jurusan dance. Tidak heran. Tapi aku suka melihat mereka melakukan gerakan sulit yang terlihat keren itu. entah mengapa aku menghentikan langkahku dan memperhatikan mereka sejenak. Karena ada seorang pria tampan yang sedang memperhatikan temannya melakukan break dance dan tertawa seru bersama teman-temannya. ‘Hmm.. anak dance memang seru..’ batinku. Setelah itu aku kembali melangkah sambil melanjutkan membaca kertas nadaku.

Setelah hari itu. aku tidak tau mengapa, tapi aku jadi sering berpapasan dengan pria yang kulihat itu. memang dia tidak menyadari siapa aku, ia hanya berlalu bersama teman-temannya. Semakin sering kami berpapasan, aku semakin penasaran dengannya. Ada apa denganku? Pria sama tampannya seperti pria-pria yang mengejarku, tapi kenapa dia menarik perhatianku?

Saeroun mannameun shireo waenji mollado

Yeojeonhi nega manhi miwo ajikdo

Unmyeong gatdeon mannami

Ijen nimeseo nami

Doeeo tteonagasseo ajikdo maemdoneun neoui hyanggi

We used to be all turnt up

Urin meoreojyeosseo jeomjeom

Neon anira haetjiman dugo bwa

Sarangui yeokjeon

Oneuldo eochyeo

Geujeoncheoreom let’s go

Apeuro rewind

Cheoeumeuro x o

(2ne1- Gotta Be You)

Suatu hari, aku duduk di bangku taman kampus sambil membaca kertas musik. Dibelakangku ada kolam air mancur yang sangat bagus. Terkadang aku kemari untuk mendengarkan deburan air mancur itu, karena dapat membuatku merasa lebih nyaman. Tiba-tiba angin bertiup sangat kencang hingga menerbangkan kertas-kertas musikku, “OH!” seruku sambil berusaha menahan yang tersisa di bangku taman, mataku membesar melihat yang berterbangan malah masuk ke kolam air mancur. “Omo!!” seruku sambil bangkit dan memasukkan yang selamat ke dalam tas, lalu dengan cepat menghampiri kolam air untuk mengambil kertas-kertasku. Namun, begitu beberapa kertas yang kuambil, aku menyadari kalau not-not nada yang kutulis luntur. Hatiku terasa ikut luntur melihatnya. Aku tidak tau harus melakukan apa dan hanya menatap kertas basah ditanganku tak percaya. Aku menulis mereka semua selama hampir seminggu, bahkan aku sampai terjaga hingga pagi. Bagaimana ini?

Ketika air mataku mulai berjatuhan, aku menyadari ada seseorang yang datang dan segera memunguti kertas-kertasku yang lain. Aku memperhatikan tangannya terulur untuk menjangkau kertasku, hingga semuanya terkumpul dan ia kembali berdiri tegap sambil memandangku.

“Maaf, semuanya luntur..” ucap pria itu. pria yang selalu berpapasan denganku.

Aku memandang kertas-kertas basah itu sedih, lalu mengulurkan tangan mengambilnya. Aku hanya bisa menghela nafas melihat semuanya luntur, “Gamshamida..” ucapku pelan sambil membungkuk.

Pria itu masih berdiri didepanku dengan wajah canggung, mungkin karena melihat ekspresiku dan air mata yang tadi mengalir di pipiku. “Mmm.. apa itu tugas kuliahmu?”

Aku memandangnya dan mengangguk pelan, “Ne..”

Pria itu tersenyum simpul, “Gwenchana, kau sudah pernah memainkannya. Pasti tidak sulit memainkannya lagi..” ucapnya menghiburku.

Ah! Senyumannya membuat kedua pipiku terasa panas, bibirku perlahan membentuk senyuman. “Ne..”

Pria itu mengambil kertas-kertas ditanganku sambil tersenyum, “Aku bisa membantumu mengeringkannya.” Ucapnya.

“Bagaimana?” tanyaku ingin tau.

“Ayo ikut aku..” ajaknya sambil tersenyum, lalu melangkah pergi.

Aku segera mengambil tasku di bangku dan mengikutinya. Dia membawaku ke ruang praktek dance. ‘Kenapa dia membawaku kemari?’ pikirku bingung sebelum masuk.

“Ayo, jangan canggung bertemu mereka.” Ucapnya padaku, aku mengangguk pelan. Ia membuka pintu dan melangkah masuk. “Hei semuanya..” sapanya.

“Ohh.. Woobin..” sapa pria-pria disana.

Oh.. namanya Woobin. Hehehe..

“Maaf, aku membawa temanku.” Ucap pria bernama Woobin itu sambil memandangku.

Aku menunduk malu ketika mereka memandangku, aku tersenyum dan membungkuk sopan. “Annyeonghaseo..” sapaku.

“Aku hanya ingin membantunya mengeringkan ini.. Lanjutkan saja latihan kalian..” ucap Woobin, lalu melangkah ke sudut ruangan. Dimana ada sebuah setrika dan alasnya.

Ia sungguh baik. Aku hanya perlu duduk memperhatikannya mengeringkan kertas-kertasku. Bibirku membentuk senyuman melihat dia dengan telaten menyetrika setiap kertas disana. Setelah selesai, aku dan dia berjalan keluar dari ruang praktek.

“Kau tidak perlu pergi bersamaku, kau bisa berlatih bersama teman-temanmu..” ucapku padanya karena tidak ingin ia merasa tidak nyaman.

Woobin memandangku lucu, “Kau pasti berpikir aku jurusan dance kan?”

Aku memandangnya bingung, “Tentu saja, aku sering melihatmu menampilkan dance di halaman kampus..” ucapku.

Woobin tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang rapi . “Begitu?”

Aku mengangguk.

Woobin menunduk dan mengelus belakang kepalanya sambil tetap tersenyum lebar.

“Wae?” tanyaku bingung.

Woobin memandangku masih dengan senyumannya, “Mmm.. sebenarnya aku jurusan informatika..”

Langkahku langsung berhenti dan menatapnya tak percaya, “Jinja? Tapi aku melihatmu melakukan dance itu..”

Woobin tertawa kecil karena respon bodoh yang kuberikan, “Aku menyukai dance, tapi juga menyukai informatika.”

“Jadi maksudmu, kau bergabung dengan anak-anak dari jurusan dance hanya untuk bermain-main?” tanyaku menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Woobin mengangguk, “Ne..”

“Oh.. begitu..” ucapku dan jadi malu sendiri.

Kami terdiam beberapa saat.

“Oh ya, aku belum menyebutkan namaku..” ucapnya sambil mengulurkan tangan, “Kim Woobin..”

Aku tersenyum dan membalas uluran tangannya, “Park Sandara..”

Woobin kembali tersenyum dengan memperlihatkan senyuman menawannya padaku. “Nama yang unik..”

Aku tersipu malu. Padahal aku tau itu hanya membahas namaku. Memang aneh. Hihihi…

Setelah hari itu. hubunganku dan Woobin semakin akrab, tidak hanya dikampus. Dia juga mulai mengantar dan jemputku. Menghabiskan waktu bersama dan berlaku seperti kami sepasang kekasih. Meskipun belum ada yang mengungkapkan perasaan masing-masing. Hingga disuatu malam tahun baru.

Aku dan Woobin ikut menghadiri acara tahun baru di kampus. Di detik-detik pergantian tahun, semua orang bersiap sambil menghitung waktu mundur bersama.

“10.. 9.. 8.. 7.. 6.. 5.. 4.. 3.. 2.. 1!! HAPPY NEW YEAR!!” sorak mereka dan terdengar tiupan terompet seiring kembang api yang bertaburan dilangit.

Aku tersenyum memandangi langit malam yang berkelap kelip karena kembang api. Sebuah tangan merangkul bahuku, aku menoleh dan tersenyum lebar pada Woobin yang juga tersenyum memandangku. Tatapannya terasa sangat nyaman. Ia bergerak berhadapan denganku tanpa memutuskan tatapan mata kami. Dengan lembut kedua tangannya memegang pipiku dan mendekatkan wajahnya padaku. Aku memejamkan mata dan tanpa sadar mengangkat tanganku memegang kedua sisi bajunya. Jantungku berdegup kencang ketika merasakan bibir lembut Woobin menyentuh bibirku. Ini ciuman pertamaku. Terasa sangat canggung namun aku menyukainya. Karena aku melakukannya bersama Woobin. Tak lama dia menarik wajahnya, aku kembali membuka mata dan saling bertatapan dengannya sambil tersenyum.

“I love you..” ucap Woobin pelan.

Ucapan singkat itu cukup membuat jantungku berdegup kencang seperti sedang berlari di turnamen, “I love you too..” jawabku.

Woobin tersenyum senang dan memelukku erat.

Aku merasa malam ini sangat sempurna. Dibawah taburan kembang api yang indah, aku mendapatkan ciuman pertama dan kekasih pertamaku. Bagaimana aku tidak merasa bahagia?

Neoui sarangi nal manghcyeodo nal apeuge handaedo

Naegen ojik neo hanappun

Nae sarangeun neoro sijakhae neoro kkeutna

I jarie waiting for you.

(2ne1-Gotta Be You)

Hubunganku dan Woobin terus berjalan baik hingga 5 tahun berlalu. Bahkan kedua orangtuaku sudah mempercayakanku padanya. Jadi, tidak heran jika kami sekarang tinggal serumah.

Aku bekerja sebagai guru musik di sebuah sekolah seni, ini adalah caraku mengeluarkan kecintaanku pada musik. Sedangkan Woobin bekerja di sebuah perusahaan IT terkenal di Korea. Meskipun masih berstatus pacaran, kami sudah seperti suami istri yang menyelesaikan semuanya bersama.

Malam itu, aku menoleh kepintu ketika mendengar seseorang masuk. Bibirku membentuk senyuman dan langsung menghampiri Woobin, “Hei.. kenapa malam sekali kau pulang?”

Wajah Woobin terlihat lelah, namun ia tetap tersenyum sambil melonggarkan dasi dilehernya.

Aku memberikan kecupan manis di pipinya dan membawakan tas kerjanya.

“Ahh.. pekerjaanku semakin banyak karena ada beberapa orang yang mengambil cuti bekerja..” cerita Woobin sambil melangkah ke kamar.

Aku mengikutinya dan meletakkan tasnya di tempat tidur, lalu membantunya melepaskan jas. “Wae?”

Woobin melepaskan jasnya dan berbalik memandangku sambil melepaskan kancing bajunya, “Mereka sedang pergi berbulan madu..” ucapnya sambil tersenyum.

Aku tertawa kecil mendengarnya, “Oh ya?”

Woobin tersenyum dan menatapku dalam.

Aku tersenyum melihat tatapannya sambil membuka kancing kemejanya, namun tangannya menahan tanganku dan menggenggamnya erat sambil tetap menatapku.

“Dara, apa kau mau menjadi istriku?” tanya Woobin penuh arti.

Aku terdiam mendengar pertanyaannya, “Wo-Woobin?”

Woobin tersenyum, “Aku ingin tinggal dirumah ini bersamamu, menjadi suami yang baik dan akan terus mendukungmu.” Ucapnya, tangannya berpindah ke lenganku. “Juga memiliki anak-anak yang akan berlarian disekitar rumah dengan gembira..”

Aku pernah menonton film drama dengan adegan seperti ini. Tokoh utama gadis akan menangis haru ketika mendengar ucapan seperti ini, kupikir itu hanya berlebihan karena mereka ada di drama. Tapi sekarang aku merasakannya. Air mataku langsung berkumpul hendak berjatuhan. Aku ingin tersenyum dan menangis disaat bersamaan kali ini.

“Hei.. jangan menangis..” ucap Woobin lucu.

Aku tersenyum lebar, namun bulir air tetap berjatuhan dari mataku. “Aku sangat bahagia Woobin..” ucapku pelan.

Woobin mengelus rambutku dan memelukku erat, “Ayo penuhi rumah ini dengan cinta..” ucapnya lembut.

Kepalaku mengangguk dan merasa sangat bahagia. Sangat-sangat-sangat bahagia.

Ketika aku mengatakan rencanaku dan Woobin untuk segera menikah, kedua orangtuaku sangat setuju. Bahkan ibu Woobin tidak sabar untuk melihatku di hari pernikahan. Kami mulai membicarakan ini dengan serius. Juga mulai mempersiapkan semuanya dengan matang.

Tapi seperti yang kuucapkan sebelumnya. Tidak ada hidup yang sempurna. Begitu juga denganku.

Suatu pagi, ketika aku masih terlelap bersama Woobin. Aku bahkan bisa merasakan kehangatan tubuhnya memelukku dari belakang. Tiba-tiba perutku terasa mual. Aku langsung terduduk dan menutup mulutku karena hampir muntah.

Woobin ikut terbangun dan menatapku kaget, “Dara, ada apa?” tanyanya kaget.

Aku tidak sempat menjawab pertanyaan Woobin karena rasa mual yang sangat mengganggu ini. Dengan cepat tanganku menyibak selimut dan melangkah cepat ke kamar mandi. Lalu muntah di toilet. Sekarang kepalaku malah terasa pusing.

Woobin mengikutiku dan memijat kedua bahuku, “Waeyo? Kau sakit?”

Aku memegang kepalaku sambil memandang Woobin, “Aku tidak tau.. Akhir-akhir ini aku sering merasa mual di pagi hari. Tapi tidak pernah sampai muntah seperti ini..” jawabku.

Woobin tampak sangat khawatir, “Ayo..” ia membilas toilet dan merangkulku keluar dari kamar mandi. Ia mendudukkanku ke pinggir tempat tidur dan dengan lembut memijat pundak dan punggungku.

Aku tersenyum karena perlakuannya, lalu memandang kearahnya yang duduk dibelakangku.

“Lebih baik?” tanya Woobin sambil tersenyum.

Aku mengangguk, “Ne..” ucapku, lalu memutar tubuhku kearahnya. Aku merasa sangat beruntung memilikinya disisiku. Dia benar-benar pria terbaik yang diberikan tuhan padaku. Kedua tanganku menggantung di lehernya sambil menatap kedua matanya dalam, “Terima kasih kau sangat memperhatikanku..” ucapku tulus.

Woobin tersenyum dan bergerak maju untuk mencium bibirku.

Tapi rasa mual itu terus berlanjut di pagi berikutnya. Aku bahkan sampai tidak bisa mengajar karena kepalaku terasa sangat sakit.

Woobin menatapku khawatir sambil membelai rambutku, “Apa tidak sebaiknya kau memeriksakan diri ke rumah sakit?”

Aku menghela nafas dalam, “Mungkin sebaiknya begitu..” jawabku lesu.

Woobin diam sejenak sambil mengelus perutku, “Mmm.. aku tidak begitu yakin. Tapi apa kau sudah menstruasi bulan ini?”

Aku tertegun mendengar pertanyaan Woobin, aku juga baru mengingat hal itu. “Woobin, maksudmu.. Aku hamil?”

Woobin tersenyum, “Kenapa tidak mungkin?”

Seperti ada sekumpulan energi dari tubuhku yang langsung menyebar ke semua sisi tubuhku, membuatku kembali bersemangat dan bergerak duduk sambil tersenyum lebar. “Mungkin aku memang hamil..” jawabku.

Woobin tersenyum lebar sambil mengelus perutku.

“Aku akan memeriksakan diri besok..” ucapku dan memeluk lehernya.

“Semoga memang berita baik..” ucap Woobin ditelingaku.

Aku juga berharap itu berita baik. Tapi, ternyata bukan.

“Anda tidak hamil, nona Park..” ucap dokter yang memeriksaku dua minggu lalu.

Dahiku berkerut, “Ne? Lalu kenapa aku terus mual disetiap pagi? Juga menstruasiku belum datang..” ucapku tak mengerti.

Dokter itu menghela nafas dalam dan memberikan hasil pemeriksaanku, “Anda bisa melihatnya, anda tidak hamil..”

Aku melihat kertas itu dan membacanya baik-baik, mataku membesar perlahan membaca diagnosa yang tertulis disana. Lalu menatap dokter itu tak percaya.

“Maaf, anda mengidap kanker empedu.” Ucap dokter itu memberitau.

Dahiku berkerut, “Tapi, aku tidak pernah merasakan ada penyakit ini sebelumnya dokter..”

“Memang nona Park, kanker empedu jarang memberikan tanda-tanda awal. Dan ketika anda sudah merasakan efeknya, berarti kanker anda sudah masuk ke stadium lanjut..” ucap dokter itu memberitau.

Aku kehilangan kata-kataku sekarang. Aku mengidap kanker. Rasanya sangat tidak bisa dipercaya. “Jadi maksudmu..” ucapku pelan, “Aku mengidap kanker empedu dan sudah masuk stadium lanjut?”

Dokter itu menatapku menyesal, “Ne, nona Park..”

Petir menyambar-nyambar di telingaku. Dan sekarang hujan badai mulai menyerang mataku. Aku menunduk memandang kertas itu, bulir air mataku perlahan berjatuhan. “Apakah bisa disembuhkan dengan pengobatan dokter?”

Dokter itu menghela nadas dalam, “Kanker empedu sepertimu, hanya bisa di perlambat nona Park..”

Aku memandang dokter itu, “Seberapa parah kondisiku sekarang, dokter?”

Dokter itu menatapku iba, “Keadaanmu akan terus memburuk hingga 6 bulan ini..”

Aku tertegun, “6 bulan?”

“Tapi jika anda mengikuti kemoterapy dan pengobatan yang diberikan, anda bisa hidup lebih lama..” ucap dokter itu.

Hidup lebih lama. Aku harus hidup lebih lama. Bagaimana mungkin aku meninggal 6 bulan lagi saat pernikahanku dan Woobin sudah di depan mata? Aku juga harus melahirkan anak-anak kami dan membesarkannya dengan baik. Saat ini, aku merasa hidupku berputar 180o.

Setibanya dirumah, aku hanya bisa berbaring di tempat tidur memikirkan nasibku. Kenapa aku tidak hamil saja? Kenapa harus kanker empedu? Bukankah aku si gadis beruntung yang memiliki hidup sempurna? Kenapa harus aku?!!

Sekitar pukul 7 Woobin kembali kerumah, ia pasti sangat penasaran dengan hasil pemeriksaanku. “Hei.. bagaimana hasilnya?” tanyanya sambil duduk di pinggir tempat tidur.

Aku memandangnya sedih dan bergerak duduk, apa yang harus kukatakan?

Woobin memandangku bingung, “Wae?” tanyanya sambil memegang pipiku.

Hatiku terasa sangat sakit mengetahui aku mengidap penyakit mematikan saat Woobin ingin membangun keluarga bersamaku. Aku merasa bersalah padanya. Bulir air mataku berjatuhan memandang cinta dimatanya.

“Hei.. ayo katakan, kau membuatku khawatir..” ucap Woobin sambil menyeka air mataku.

“Aku tidak hamil..” jawabku pelan.

Woobin menghela nafas dalam dan tersenyum tipis, “Sudah, kita bisa memilikinya nanti. Jangan terlalu dipikirkan..” ucapnya menghiburku. Mungkin jika hanya itu berita yang aku punya, aku tidak akan merasa sesedih ini. “Lalu, kenapa kau selalu merasa mual dipagi hari?” tanyanya ingin tau.

Mendengar pertanyaan itu, bulir air semakin deras berjatuhan dari mataku. Aku menunduk dan terus menangis.

Woobin menatapku cemas, “Dara, katakan sesuatu..” ucapnya.

Aku mengangkat wajahku memandang Woobin, “Woobin, aku tidak bisa menikah denganmu..” ucapku sambil menggeleng.

Woobin membesarkan mata mendengar ucapanku, “Mwo? Dara, apa yang kau katakan sekarang?”

“Aku tidak bisa menikah denganmu, Woobin.. Aku akan segera mati..” ucapku sambil terus menangis.

Woobin tertegun sesaat, “Tunggu, aku masih belum mengerti. Jelaskan padaku..” pintanya sambil menggenggam kedua tanganku.

Aku menarik kedua tanganku dari genggaman Woobin dan memalingkan wajahku.

“Dara, kumohon.. Jelaskan padaku..” pinta Woobin tak mengerti.

Dengan berat hati aku kembali memandangnya, ia benar-benar sangat khawatir padaku. “Woobin…”

“Ne.. katakan..” pinta Woobin dan menungguku menjawab.

“Aku mengidap kanker empedu..” jawabku pelan.

Woobin terdiam begitu mendengar ucapanku, “Mwo?” tanyanya dengan dahi berkerut.

“Aku akan mati Woobin..” ucapku lagi.

Woobin tampak tak percaya, namun aku tau ia sangat terkejut. Kedua tangannya memegang pipiku dan menatapku serius, “Kau serius Dara?”

Kepalaku mengangguk pelan, “Ne..”

Pertama kalinya setelah kami mulai berhubungan, aku melihat kedua matanya memerah menahan air mata. “Tapi, bagaimana bisa?”

Aku menggeleng, “Aku tidak tau..” ucapku.

Woobin menarikku kedalam pelukannya, mendekapku erat seperti tidak akan melepaskanku lagi. Aku sangat percaya ia mencintaiku. Ia akan melakukan apa pun untukku.

Setelah seluruh keluargaku tau tentang keadaanku, juga keluarga Woobin. Mereka memutuskan untuk mempercepat pernikahan agar aku bisa menjalani pengobatan tanpa memikirkan apa pun lagi. Tapi aku terlalu mencintainya untuk membebaninya dengan penyakitku, jadi aku memutuskan untuk membatalkan pernikahan itu.

Aku menatap Woobin yang duduk di sofa di sebelahku sambil melihat-lihat photo tempat yang akan digunakan untuk acara resepsinya. Melihatnya sangat bahagia membuatku merasa semakin bersalah. Ia pria hebat yang berhak mendapatkan gadis lebih baik dariku. Kenapa dia harus bertemu denganku? “Woobin..” panggilku pelan.

Woobin memandangku sambil tersenyum, “Ne?”

Aku menatapnya sedih, “Apa kita harus menikah?”

Senyuman Woobin memudar perlahan, “Ne? Kenapa kau bertanya seperti itu?”

Aku menunduk sedih, “Aku ini sakit, Woobin..” ucapku pelan.

Woobin meletakkan photo-photo di meja dan menggenggam tanganku, “Aku akan mendampingimu melewati masa sulitmu dan akan mendukungmu ketika menjalani pengobatan..” ucapnya pelan.

Air mataku kembali berjatuhan, apa yang harus kulakukan?

Woobin menarikku ke dadanya, juga memelukku dengan kedua tangan kekarnya. Dengan lembut ia mengelus rambutku dan membiarkanku menangis di dadanya. “Aku tidak peduli meskipun kau akan meninggal besok, aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu. Aku ingin berada disisimu dan tetap menjalani hidupku sebagai suamimu.”

Tangisku semakin deras mendengar ucapannya, kedua tanganku bergerak memeluk Woobin. Bagaimana aku bisa menjalani hidup tanpa dia? Apa yang akan terjadi jika dia tidak pernah ada dihidupku? “Maafkan aku, Woobin..” tangisku.

“Ani, kau tidak perlu meminta maaf.. Aku akan selalu berada disinimu dan mendukungmu dengan baik..” ucap Woobin sepenuh hati.

Aku sangat beruntung bertemu dengannya. Aku tidak menyesali apa pun lagi sekarang, karena dia ada disisiku. Selama dia tersenyum padaku, aku akan terus hidup dan berjuang untuknya.

It ain’t over till it’s over

It ain’t over till it’s over

It ain’t over till it’s over

(2ne1-Gotta Be You)

Pernikahan kami berlangsung dengan sangat indah. Sesuai dengan yang kuinginkan. Tapi, aku tidak tau apakah karena terlalu senang atau memang fase sakitku memang harus tiba, sesuatu terjadi setelah pengucapan janji setia.

Aku sudah berdiri berhadapan dengan Woobin dan mendengarkan pendeta mengucapkan janji yang akan kami setujui. Woobin tak berhenti tersenyum lebar padaku, memperlihatkan deretan giginya. Awalnya aku juga begitu, hingga aku mulai merasakan sakit di perutku. Keringat mulai memenuhi dahiku, namun aku berusaha keras menahannya dan tetap tersenyum memandang pria yang akan segera menjadi suamiku. Aku tidak ingin merusak moment terpenting di dalam hidupku ini.

“Aku bersedia..” ucap Woobin menjawab pertanyaan pendeta sambil tetap menatap kedua mataku dalam.

Aku mendengar pendeta membaca janji untukku, rasa sakitku semakin menyiksa. Tapi aku harus menahannya sedikit lagi. “Aku bersedia..” ucapku pelan.

“Kalian kunyatakan menjadi suami dan istri. Kau bisa mencium pengantinmu..” ucap pendeta pada Woobin.

Saat mendengar pendeta mengatakan itu, buket bunga ditanganku terjatuh. Aku langsung membungkuk dan memegang perutku. Aku juga hampir terhuyung jatuh.

“Dara!!” seru Woobin sambil merangkulku dan menahan tubuhku.

Mataku terpejam menahan sakit diperutku. Terdengar kericuhan diantara tamu yang hadir. Tapi aku terlalu menderita karena sakitku hingga tak bisa memikirkan mereka.

Woobin menatapku sedih dan langsung menggendongku dengan kedua tangannya, “Aku akan membawamu ke rumah sakit..” ucapnya dan langsung berjalan cepat meninggalkan altar.

Aku merasa sakit itu menghilang setelah beberapa saat dirawat dirumah sakit, aku lega Woobin ada disisiku sekarang. Ia menggenggam tanganku dan menatapku sambil tersenyum.

“Bagaimana perasaanmu?” tanya Woobin.

Aku tersenyum dan mengulurkan tanganku ke pipinya, “Sangat baik..”

Woobin menunduk dan mencium dahiku, “Aku sudah menyetujui jadwal kemoterapi dan pengobatan yang akan kau jalani mulai minggu ini..”

Aku mengangguk, “Terima kasih kau tetap ada disisiku..”

Woobin tersenyum tulus, “Aku akan melakukan apa pun demi orang yang kucintai..”

Kehidupanku setelah menikah tidak berbeda dari para wanita lainnya. Bahkan mungkin terlihat lebih baik. Namun masalah utamanya ada padaku. Dokter berkata akan sulit bagiku melahirkan anak kami dengan kondisiku. Janin tidak akan bertahan dengan cairan kimia yang terus masuk ke tubuhku ketika kemoterapi, meskipun bertahan kemungkinan besar akan cacat. Itu mematahkan hatiku lebih banyak.

Woobin mengulurkan tangannya memegang tanganku, membuatku menatapnya sedih. Tapi dia tersenyum padaku, itu justru membuatku semakin merasa sakit. Aku wanita sakit, tidak bisa memberikannya keturunan. Tapi dia masih tersenyum penuh cinta padaku. “Gwenchana, bagiku kesehatanmu sangat penting..”

Aku tau kalau aku terlalu cengeng sekarang, bulir air mataku mudah terjatuh ketika memikirkan betapa tak pantasnya aku bersama Woobin. “Bagaimana dengan mimpimu memiliki anak-anak yang akan berlarian dirumah?”

Woobin terlihat sedih, namun ia tetap tersenyum. “Mungkin aku bisa mengubahnya sekarang..” ucapnya.

Aku benar-benar tak berguna. Rasa bersalahku kembali berkali lipat. Kedua tanganku bergerak memeluk lehernya dan menangis, “Maafkan aku..”

Woobin mengelus punggungku lembut, “Gwenchana.. aku mencintai dirimu apa adanya. Apa pun yang ada pada dirimu, aku kan menerimanya dengan lapang dada..”

Aku melepaskan pelukanku dan memandangnya penuh penyesalan, “Kenapa kau bertemu gadis sepertiku? Kau bisa mendapatkan gadis yang lebih baik dan normal daripadaku..”

Woobin mengelus pipiku dan menyeka air mataku dengan ibu jarinya sambil tersenyum, “Karena aku tidak akan bahagia jika bukan kau yang menjadi pendamping hidupku..”

Woobin selalu penuh cinta. Aku tidak bisa memberikan apa pun selain keadaanku yang menyedihkan. Ini tidak adil baginya. Bahkan, ketika aku melakukan tugasku sebagai istri ditempat tidur, penyakit itu juga membuatku tak bisa melakukan apa pun.

Neo anim andwae oh

My one and only oh oh oh

Neo anim andwae oh oh

Nae gyeoten neo animyeon andwae nan

(2ne1-Gotta Be You)

Aku berbaring ditempat tidur dengan Woobin berada diatas tubuhku dan berciuman lembut degannya, tangannya bergerak ke pahaku. Kedua tanganku bergerak menarik kaus yang ia kenakan keatas. Namun tiba-tiba rasa sakit diperutku datang, membuatku mengerang menahan sakit dan memegang perutku.

Woobin bergerak duduk dan langsung mengambil obat penahan rasa sakitku di meja, lalu membantuku meminunya. Setelah beberapa saat rasa sakitku memudar. Ia tersenyum dan berbaring disebelahku, “Istirahatlah.. rasa sakitmu akan segera menghilang..” ucapnya sambil membelai rambutku.

Aku menatapnya menyesal, “Maafkan aku..”

Woobin mengelus pipiku, “Sudahlah, ayo tidur..” ucapnya sambil menarikku ke dadanya.

Aku menghela nafas dalam dan menyandarkan pipiku kedada bidang Woobin. Aku semakin merasa bersalah. Apa lagi yang akan kulakukan sebagai istrinya? Apa dia akan mencintai wanita tak berguna sepertiku?

Setelah jadwal kemoterapiku selanjutnya, aku mulai berpikir untuk mengalah dan membiarkannya pergi. Aku tau dia tidak akan menyetujuinya, tapi apa yang bisa kulakukan lagi?

“Hei.. ini, minum obatmu dulu..” ucap Woobin sambil memberikan obat dan segelas air padaku.

Aku tersenyum tipis dan mengambil obat itu, lalu meminumnya dengan bantuan air.

“Keure, kau bisa beristirahat sebentar. Aku akan melanjutkan pekerjaanku..” ucap Woobin sambil tersenyum, lalu mencium dahiku dan bergerak bangkit.

“Woobin..” panggilku sambil menahan tangannya.

Woobin kembali duduk dan memandangku, “Ne?”

Aku menghela nafas dalam dan menatapnya tetap dimata, “Aku ingin membicarakan sesuatu..”

“Apa?” Tanya Woobin.

Aku mengulurkan tangan dan mengambil gelas dari tangannya, lalu meletakkannya di meja. Kemudian menggenggam tangannya dan kembali menatap matanya, “Ini tentang kita..”

Ekspresi Woobin berubah, sepertinya ia sudah tau apa yang akan kukatakan. “Dara, aku tidak mau kita membicarakannya lagi..” ucapnya dan kembali bergerak bangkit.

Aku tetap menggenggam kedua tangannya hingga ia kembali memandangku, “Woobin, kau pria yang sangat baik. Hidupmu terlalu sempurna untuk kau habiskan bersama wanita sepertiku..” ucapku pelan.

Woobin menatapku tak mengerti, lalu menggeleng. “Hidupku justru tidak berarti jika bukan kau yang bersamaku, Dara..”

Ucapan manis dari mulut Woobin terasa merobek hatiku. Bagaimana mungkin aku telah menjerat pria sebaik dirinya, “Woobin…” ucapku tertahan, air kembali memenuhi rongga mataku.

Woobin memegang pipiku dan menatapku dalam, “Jangan pikirkan tentang ini lagi.. Buang jauh pikiranmu, aku tidak akan mengubah keputusanku. Tidak hingga aku mati..” ucapnya bersungguh-sungguh.

Bulir air mata mulai berjatuhan dari mataku, kepalaku menggelang pelan. “Kumohon.. pergilah.. Kau bisa menemukan gadis yang lebih sempurna dariku..” pintaku.

Dahi Woobin tampak berkerut, matanya juga terlihat memerah menahan air mata. “Kenapa kau selalu mengatakan itu?” tanyanya dengan suara terluka.

“Kau tidak akan bahagia hidup seperti ini, Woobin.. Aku hanya akan menjadi bebanmu. Setelah aku meninggal tidak akan ada yang tersisa untukmu selain kepergianku..” ucapku memberi penjelasan padanya meskipun air mataku tak bisa berhenti mengalir.

“Dara, aku mencintaimu lebih dari apa pun didunia ini. Bagaimana mungkin kau mengatakan itu padaku. Aku rela memberikan hidupku padamu, aku akan melakukan apa pun demi dirimu. Tak bisakah kau hanya menghargai pengorbananku?” Tanya Woobin dengan suara bergetar.

Aku tau dia terluka karena ucapanku. Aku lebih terluka telah mengatakannya. “Maafkan aku..” ucapku sambil menunduk.

“Aku tidak butuh kata maafmu, aku hanya ingin kepercayaanmu Dara. Kumohon jangan pernah bahas ini lagi..” pinta Woobin sepenuh hati. Bulir air terjatuh dari satu matanya.

Aku menatapnya menyesal, “Jangan buat aku merasa bersalah, Woobin..” pintaku. “Melihatmu berkorban untuku, melakukan semuanya untukku, juga berusaha mengerti keadaanku justru membuatku merasa bersalah padamu. Aku tidak bisa melakukan apa pun lagi sebagai istrimu. untuk apa kau menghabiskan waktumu bersamaku? Wanita lain bisa menjadi istri yang lebih baik. Mereka sehat, bisa memberikanmu anak-anak yang akan berlarian dirumah dan tertawa ceria. Aku tidak bisa..” suaraku terdengar pecah di kalimat terakhir. Hatiku terasa sakit melihat pria yang kucintai menangis karena diriku. Aku juga tidak ingin melakukan ini, tapi kondisi membuatku menjadi jahat.

“Aku tidak butuh itu semua jika wanita itu bukan kau, Dara..” ucap Woobin dengan bulir air mata berjatuhan.

“Tapi aku tidak bisa memberikan itu semua, aku sekarat Woobin. Cepat atau lambat aku pasti mati..” ucapku meyakinkannya.

“Semua orang akan mati! Aku juga akan mati!! Kenapa kau membuat semuanya menjadi sulit?” Tanya Woobin tak mengerti.

Pertanyaan Woobin kembali menusuk hatiku. Mataku menatap kedua matanya dalam, “Karena aku mencintaimu.. Aku tidak ingin kau membuang waktumu dengan wanita sekarat sepertiku..”

Woobin terlihat sangat sedih, tangannya bergerak mengelus rambutku tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya.

“Jika kau mencintaiku, pergilah Woobin..” pintaku sepenuh hati.

Woobin menunduk tanpa mengatakan apa pun. Aku tau ini hal yang sangat berat. Wajahnya kembali terangkat memandangku, “Kenapa kita tidak mencoba menjalaninya dengan perasaan bahagia? Ini kehidupan yang kita inginkan, Dara. Kita memimpikannya dulu.. kenapa kau harus melepaskannya?”

“Karena aku tidak seperti gadis yang kau temui dulu..” jawabku.

“Dara, hanya karena ada sel kanker itu didalam tubuhmu. Bukan berarti akan mempengaruhi rasa cintamu padaku. Benarkan?” Tanya Woobin.

Aku menatapnya memelas, berharap dia akan mengerti dan menyetujui permintaanku. “Woobin..”

“Dengar..” potong Woobin sambil menatap kedua mataku penuh keyakinan, “Meskipun aku melepaskanmu. Lalu melanjutkan hidupku sendiri. Apa aku bisa bahagia melihatmu menjalani kehidupanmu yang berat seorang diri? Apa aku bisa tersenyum pada wanita lain dan hidup bersamanya saat kau menderita melawan penyakitmu?” tanyanya.

Aku hanya bisa memandang kebawah sedih.

Woobin menyeka air matanya dengan satu tangan, lalu memegang kedua pipiku dan kembali menatap mataku. “Jawab pertanyaanku..” ucapnya pelan, “Apa menurutmu aku bisa tersenyum memikirkanmu menjalani pengobatan seorang diri?”

Tentu saja tidak. Aku tau jawabannya. Tanganku terangkat dan memegang pipi Woobin, “Aku benar-benar menyesal, Woobin..”

Woobin menggenggam tanganku di pipinya dan mencium jemariku, “Jika kau menyesal, tetap disisiku. Hilangkan semua pikiranmu tentangku. Kau harus menanamkan pemikiran kalau aku tidak akan kecewa ataupun bersedih selama kau bersamaku. Itu yang paling penting.. Araso?”

Aku menggigit bibir bawahku ragu, namun tatapan Woobin membuatku yakin. Dia benar-benar mencintaiku. Apa lagi yang kuinginkan dipenghujung usiaku ini? Bukankah ini akan menjadi hidupku yang sempurna juga? Bibirku membentuk senyuman di tengah tangisku yang tidak bisa berhenti, “Aku mencintaimu, Woobin..” ucapku, lalu bergerak maju dan memeluk lehernya.

Woobin memejamkan matanya dan memelukku erat.

Kupikir itu akan menjadi akhir bahagiaku bersama Woobin, ternyata belum.

Nuneul gamado saenggangna

Ni eogul pyojeong hanahana

Neon naul cheomija majimak sarangiya

Don’t say good bye

(2ne1-Gotta Be YouI)

 

Pagi itu aku terbangun karena rasa mual yang kembali menggangguku. Aku langsung menyibak selimut dan melangkah cepat ke kamar mandi untuk muntah di toilet.

Woobin ikut terbangun dan langsung mengikutiku, dengan lembut ia memijat pundakku ketika aku masih memuntahkan isi perutku. Tubuhku kembali terasa sakit. “Sudah selesai?” tanyanya pelan.

Aku menyeka bibirku dengan punggung tanganku, lalu mengangguk pelan.

Woobin merangkulku dan membawaku keluar dari kamar mandi. Ia juga mendudukkanku ke pinggir tempat tidur dan duduk dibelakangku. Kedua tangannya memijat pundakku, membuatku merasa lebih baik.

Aku menahan tangannya dan memandang kebelakang, “Gwenchana, aku sudah lebih baik.. Kau bisa bersiap bekerja.” Ucapku.

Woobin menatapku sedih, lalu tersenyum sambil mengelus pipiku. “Ne..” ucapnya, perlahan ia bangkit dan mencium dahiku. Lalu melangkah ke kamar mandi.

Aku mengikutinya dengan pandanganku, bibirku membentuk senyuman mengetahui pengorbanannya. Kuharap ia mendapatkan seseorang yang lebih baik setelah aku meninggal nanti. Tapi karena rasa mual itu tak kunjung menghilang juga, Woobin meminta pihak rumah sakit melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Mengejutkan dan mengkhawatirkan, ternyata aku hamil. Benar-benar hamil!

Aku dan Woobin duduk di sofa ruang tengah tanpa mengatakan apa pun. Aku ingin dia menyelamatiku atas kehamilanku, juga merayakannya dengan menghubungi semua keluarga kami. Tapi suasana yang terasa malah sebaliknya. Karena aku tidak bisa mempertahankan kandunganku. Artinya aku harus segera menggugurkannya sebelum janin itu berkembang.

Tangan Woobin terulur dan memegang tanganku, aku menoleh kearahnya. Kupikir ia akan tersenyum, tapi ia sama sekali tidak tersenyum. Ia menatapku sedih. Aku yakin dia merasa senang karena kehamilanku, tapi juga sedih karena tidak bisa melihat bayinya lahir.

Kami hanya saling bertatapan tanpa mengatakan apapun untuk waktu yang lama. Hingga aku menarik bibirku untuk tersenyum padanya, “Akhirnya aku benar-benar hamil..” ucapku, berusaha terdengar ceria meskipun nada bicaraku terdengar sedih.

Woobin memaksa bibirnya untuk tersenyum juga, lalu mengangguk. “Ne.. Cukae..” ucapnya.

Aku menghela nafas dalam dan memandang lurus kedepan. Mungkin kami satu-satunya pasangan yang terlihat seperti ini ketika mengetahui sang istri hamil.

“Dara..” akhirnya Woobin kembali berbicara.

Aku memandangnya, “Ne..”

Woobin menatapku sedih, “Kau harus menggugurkannya..” ucapnya berat.

Aku tau dia akan mengatakan itu. aku menghela nafas dalam dan menyandarkan kepalaku ke bahunya.

Woobin mengaitkan jari-jari kami dan tangannya yang lain merangkulku sambil menyisir rambutku dengan jarinya, “Aku akan membuat janji dengan dokter kandungan besok..” ucapnya.

Aku tak mengatakan apa pun. Perasaanku benar-benar hampa saat ini. Hingga malam aku tetap tak mengatakan apa apun. Woobin tidak memaksaku berbicara karena ia tau bagaimana perasaanku sekarang. Malam itu, aku sama sekali tidak bisa memejamkan mataku. Meskipun aku berbaring di tempat tidur bersamanya, aku tetap memandangi jendela kamar. Dia sudah terlelap dan memelukku dari belakang. Aku sedang berpikir. Apakah sekarang Tuhan sedang berlaku tidak adil padaku? Atau aku memang tidak berhak hidup sempurna seperti yang telah kulalui selama ini?

Keesokan harinya. Ketika aku dan Woobin duduk di meja makan untuk sarapan, aku membuatkan sarapan tanpa berbicara. Begitu juga dengan dia.

Woobin memandangku, “Aku akan menjemputmu saat makan siang dan mengantarkanmu ke rumah sakit..” ucapnya.

Aku berhenti mengunyah dan memandangnya, lalu mengangguk pelan. Saat menunggu waktunya makan siang, aku kembali berpikir. Apakah aku harus menggugurkan kandunganku? Aku duduk bersandar di sofa sambil mengelus perutku. Aku memimpikan hari ini tiba begitu Woobin menyatakan keseriusannya padaku.

Siangnya. Woobin kembali kerumah untuk menjemputku, namun aku sama sekali tidak bersiap.

“Wae? Kau merasa tidak baik hari ini?” Tanya Woobin sambil membelai rambutku.

Aku tersenyum dan memandangnya, “Woobin, bisakah aku menikmati kehamilanku sebentar?”

Woobin tertegun mendengar ucapanku, lalu menghela nafas dalam seiring wajahnya yang terlihat sedih. Namun perlahan bibirnya membentuk senyuman dan mengangguk, “Keure, kita temui dokter kandungan minggu depan..”

Aku tersenyum lebar dan memeluk lehernya. Aku sangat bahagia mendengarnya. Aku bisa tersenyum sambil mengelus perutku beberapa hari ini, hingga aku menggugurkannya. Tapi… kenapa justru terasa lebih sakit seperti ini?

“Woobin..” panggilku sesaat setelah aku dan Woobin berbaring di tempat tidur.

Woobin yang sedang memeriksa ponselnya memandangku sambil tersenyum, “Ne..”

“Woobin, bagaimana jika aku tidak menggugurkan kandunganku?” tanyaku.

Woobin mengerutkan dahi, “Dara, ini tidak lucu.”

Aku tersenyum dan membaringkan pipiku ke dadanya sambil memejamkan mata. Tangannya mengelus kepalaku dan mencium dahiku lembut. setelah beberapa saat, aku kembali membuka mataku. Aku hanya berdiam diri di dadanya. Sebuah ide terlintas di kepalaku. Mungkinkah kehamilanku adalah caraku membalas semua yang telah dilakukan Woobin untukku? Maksudku, aku pasti akan mati. Tapi paling tidak aku bisa melahirkan anak ini. Dia akan menemani suamiku. Pria yang sangat kucintai. Benarkan?

Dengan tekad bulat, aku menemui dokterku tanpa sepengetahuan Woobin dan memberitaunya tentang apa yang kupikirkan.

“Dokter Kim, apakah aku bisa bertahan paling tidak hingga bayiku lahir?” tanyaku pada dokter Kim.

Dokter Kim memandangku bingung, “Dara-ssi, kupikir bukan seperti itu rencana awal kita..”

Bibirku membentuk senyuman tipis, “Aku ingin melahirkan bayiku, dokter..”

Dokter Kim menatapku tak mengerti, “Wae?”

“Aku ingin merasakan menjadi wanita seutuhnya. Bukankah menjadi seorang ibu adalah mimpi semua wanita di dunia ini?” tanyaku sambil tetap tersenyum, meskipun air sudah mulai berkumpul di pelupuk mataku.

“Dara-ssi, kondisimu tidak cukup baik untuk melahirkan bayimu..” ucap Dokter Kim.

“Bisakah kau membantuku, Dokter Kim?” tanyaku penuh harap.

Dokter Kim menatapku tanpa mengatakan apa pun beberapa saat, aku tau apa yang dia pikirkan.

Bulir air mata jatuh ke pipiku. Namun bibirku masih membentuk senyuman pada Dokter Kim, “Ini keinginan terakhirku, Dokter Kim..”

Dokter Kim menghela nafas dalam, “Apakah suamimu tau tentang ini?”

Aku menunduk sedih, “Aku akan membicarakan ini padanya perlahan..”

“Dara-ssi, aku tau kau ingin menjadi seorang istri yang sempurna. Tapi pikirkan lebih matang lagi..” ucap Dokter Kim berusaha mengubah pikiranku.

Aku kembali memandang Dokter Kim, “Tolong bantu aku Dokter Kim..”

Dokter Kim kembali menghela nafas dalam, “Baiklah..” ucapnya, membuatku tersenyum lebar mendengarnya. “Tapi setelah suamimu menyetujuinya..”

Senyumku menghilang dan menatapnya sebal, “Dokter Kim..”

Dokter Kim tersenyum, “Hanya itu yang bisa kulakukan..”

Ucapanya membuatku kembali tersenyum, “Ne..”

Ini dia masalah utamanya. Harus memberitau Woobin tentang keinginanku ini. Aku menunggu waktu yang tepat setelah ia pulang bekerja, aku membiarkannya beristirahat sejenak dan memulai pembicaraan serius.

Aku bergerak duduk ke sebelah Woobin dan memeluk lengannya manja.

Woobin tersenyum memandangku, “Wae?”

Aku berusaha memberikan senyuman terbaikku untuknya, “Woobin, aku berpikir untuk melahirkan anak ini..”

Senyuman Woobin langsung menghilang, “Ne?”

Aku mengangguk yakin, “Ne..”

Perlahan dahi Woobin berkerut, “Apa yang baru kau katakan?”

“Aku akan melahirkan anak ini..” jelasku lagi.

Woobin terlihat tak percaya mendengar ucapanku, “Dara, kenapa kau terus seperti ini?”

Aku menghela nafas dalam dan menunduk sedih, “Aku akan tetap melahirkannya..” ucapku tanpa ragu.

Woobin memegang tanganku dan menatapku dalam, “Kumohon jangan katakan omong kosong lagi.”

Aku menatapnya tak percaya, “Omong kosong? Woobin, ini anakmu..” ucapku.

“Aku tau, yang kau kandung adalah anakku.. Darah dagingku. Tapi kau tidak bisa mempertahankannya. Kau harus tetap mengikuti kemoterapi. Itu tidak baik untuk janinmu..” ucap Woobin berusaha menjelaskan.

“Aku mengerti..” ucapku, “Karena itu aku akan berhenti kemoterapi..”

Woobin langsung terpaku, matanya membesar seperti baru saja mendengar petir di malam tenang ini. “Dara…”

“Hanya ini yang bisa kulakukan untukmu, Woobin..” ucapku sepenuh hati, mataku kembali di penuhi air. “Aku akan segera pergi, tapi anak ini bisa tumbuh dan menggantikanku disisimu..”

Woobin tampak terluka mendengar ucapanku, tangannya terangkat dan memegang pipiku, “Kumohon Dara, aku lebih membutuhkanmu. Aku tidak peduli meskipun aku tidak pernah memiliki anak-anak seperti yang kuimpikan, asalkan kau selalu disisiku..”

Bulir air mataku mulai berjatuhan, “Woobin, anak kita bisa tumbuh dengan sehat. Dia akan memenuhi rumah ini dengan tawa. Tapi aku tidak bisa selalu ceria. Tidak lama lagi fisikku akan berubah dan mungkin aku tidak akan bisa bangun dari tempat tidur..”

Woobin menunduk dan terlihat bulir air berjatuhan, “Kumohon Dara..” ucapnya dengan suara bergetar.

Aku tau ini sangat berat untuknya, aku mencintainya sepenuh hatiku. Kedua tanganku memegang pipinya dan membuatnya kembali memandangku, “Aku juga ingin memiliki keluarga utuh bersamamu. Paling tidak, aku bisa merasakan menjadi ibu meskipun hanya beberapa saat. Ini permintaan terakhirku, Woobin..” ini dia! Aku mengatakannya. Kalimat ini sudah seperti surat wasiat yang sudah kutulis sebelum kematianku.

Woobin terlihat bingung, juga tidak tau harus mengatakan apa.

Bibirku membentuk senyuman menatap kedua matanya, “Maafkan aku, tapi kehadiran anak ini sama seperti kehadiranmu bagiku..”

Woobin menatapku sedih, lalu mengelus rambutku sambil tersenyum. “Keure..” jawabnya pelan.

Aku memejamkan mata dan memajukan wajahku, menciumnya sepenuh hatiku dan berharap tidak akan pernah berpisah dengannya. Semoga kami bisa bertemu lagi di masa lainnya.

Dengan tekad bulat itu aku bersemangat menyiapkan diriku menjadi seorang ibu. Woobin mendampingiku dengan baik. Namun, karena janin dikandunganku, aku harus berhati-hati dengan obat yang kuminum. Termasuk obat penahan sakit.

Keringat memenuhi dahiku, perutku terasa sangat sakit dan air mataku tak bisa berhenti mengalir. Satu tanganku mencengkeram perutku dan satu lagi menggenggam tangan Woobin yang memelukku. Ia terus membisikkan kalimat positif ditelingaku hingga fase sakitku menghilang. Ini memang menyiksa, tapi aku harus melakukan ini demi bayiku.

Ketika kehamilanku masuk bulan ketiga, tubuhku sudah berubah menjadi tengkorak hidup. Aku tidak bisa makan dengan benar karena perutku terasa mual, juga tidak bisa menjalani pengobatan karena janinku. Woobin tampak benar-benar tersiksa menyaksikanku menderita, ia sama sekali tidak tersenyum manis seperti biasa. Sekarang akulah yang memberikannya.

“Aku baik-baik saja..” ucapku pelan sambil tersenyum.

Woobin tampak seperti ingin menangis, namun terus menahannya. Perlahan ia maju dan memelukku.

Tapi kondisiku terus memburuk hingga satu hari aku jatuh pingsan. Woobin tidak punya pilihan lain selain membawaku kerumah sakit. Saat itulah, Dokter Kim memberikan angin segar untukku dan suamiku.

“Di Amerika sudah ditemukan pengobatan baru untuk kanker empedu. Sebelumnya pasien yang mengikuti metode pengobatan ini juga sedang mengandung. Meskipun begitu dia tetap bisa melakukan pengobatan dan sekarang masih hidup dengan baik bersama keluarganya..” Cerita Dokter Kim.

Woobin tertegun mendengar ucapan Dokter Kim, begitu juga denganku. “Benarkah Dokter Kim? Apa istriku bisa mencoba pengobatan itu?”

Dokter Kim tersenyum, “Aku akan mencoba sebaik mungkin..”

Bibirku langsung membentuk senyuman mendengarnya, lalu saling berpandangan dengan Woobin. Mungkinkah ini jawaban Tuhan tentang hidup sempurnaku? Bahwa penyakitku hanya cobaan dalam hidupku yang baik-baik saja?

Dengan persetujuan Woobin, aku mulai mengikuti pengobatan itu. meskipun tidak menampakkan hasil secepat seperti ketika aku mengikuti kemoterapi, aku senang mengetahui ini memberikan efek baik untuk janinku.

Aku berbaring ditempat tidur sambil tersenyum memandangi Woobin yang menempelkan telinganya ke perutku, kehamilanku sudah masuk bulan ketujuh dan sekarang perutku cukup besar untuk disembunyikan.

Woobin tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya yang menawan, “Dia bergerak-gerak..” ucapnya senang.

Satu tanganku bergerak mengelus perutku dan mengelus kepala Woobin, “2 bulan lagi aku akan melahirkannya..” ucapku pelan.

Woobin mengangkat kepalanya dan berbaring disebelahku, “Ne, dan kita akan merawatnya bersamanya..”

Senyumanku memudar mendengar ucapan Woobin, “Woobin, bagaimana jika aku tidak bisa bertahan setelah melahirkannya?”

Woobin mengelus pipiku dengan punggung jarinya, “Kau akan baik-baik saja setelah melakukan pengobatan ini, jadi jangan khawatir..”

Aku tidak ingin dia khawatir, jadi aku hanya tersenyum dan memeluknya. Jika aku memang tidak akan bertahan, aku telah melahirkan anaknya. Anak dari pria yang sangat kucintai.

Tuhan masih memberikan kehidupan sempurnaku. Bahkan setelah bertahun-tahun kemudian, aku masih bisa menjalani hidupku berkat pengobatan yang sangat membantu itu. aku beruntung Woobin tidak pernah mendengarkanku untuk meninggalkanku, jika tidak aku tidak mungkin melihatnya bermain bersama putra kami.

“Eomma, kenapa duduk disana dan menulis terus? Bukankah kita akan pergi piknik?” tanya Woobin yang duduk disofa sambil memangku Jiyong, putra kami yang sekarang sudah berusia 5 tahun.

“Eomma, ppaliwa..” panggil Jiyong sebal.

Aku tertawa kecil, “Ne, araso.. araso..” ucapku sambil mematikan komputer. Lalu bangkit dan melangkah menghampiri mereka.

Woobin dan Jiyong ikut berdiri.

“Khaja..” ajakku sambil menggandeng Jiyong dan melangkah ke pintu bersama Woobin. Sebelum benar-benar keluar, aku sempat memandang ke komputerku. Bibirku membentuk senyuman dan melang keluar bersama keluarga kecilku.

Neoui sarangi nal manghcyeodo nal apeuge handaedo

Naegen ojik neo hanappun

Nae sarangeun neoro sijakhae neoro kkeutna

I jarie waiting for you.

Neo anim andwae oh

My one and only oh oh oh

Neo anim andwae oh oh

Nae gyeoten neo animyeon andwae nan

(2ne1-Gotta Be You)

===THE END===

Advertisements

4 thoughts on “CRUSH!!! ~~ Gotta Be You

  1. aigoo daddy (jiyongmaksudaq)
    km jd anak nya mommy am woobin >__<
    *maafkanaqdaddyaqmengkhianatimu #lebay :p
    ahhh joahhhh joahhhhhhh (y)
    padahal cast nya dara but tetep yg kebayang waktu baca ny tetep 2hyun ^^V

  2. Aaaaa dara ama woobin >///<
    eonnie!!? ff mu memang daebak!! Feelnya tuh selalu kerasa!!!
    Bikin ff yang cast nya Dara lagi ya eon!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s